- Beranda
- Stories from the Heart
HIlangnya Dusun Lengger
...
TS
ribkarewang
HIlangnya Dusun Lengger

HILANGNYA DUSUN LENGGER
#Kematian_sang_penari
Malam ini di desa Kermon ada acara, anak Pak Kadus habis disunat. Tadi siang sudah nanggap kuda lumping, malamnya ada lengger. Sudah dipastikan orang-orang dari kampung sebelah pun berdatangan. Para bandar judi pun pasti banyak yang gelar lapak. Belum lagi penjual kacang dan jagung rebus.
Jam delapan, gamelan sudah mulai berbunyi, beberapa wanita muda dengan dandanan tebal sudah mulai menari dengan gemulai. Sekitar sepuluh menit, istirahat sebentar dan jam setengah sembilan biasanya sang idola akan keluar.
Arum, nama penari lengger yang sedang digandrungi para lelaki. Hampir tiap malam dia ditanggap dari kampung ke kampung. Umurnya masih dua puluh tahun, tapi dia sudah punya satu anak. Baru berapa bulan ini dia mulai menari, sejak Wahyu suaminya pergi merantau dan tak ada kabar.
Pesona Arum mengalahkan dua pendahulunya, Mbak Sur dan Mbak Lami. Biasanya dulu Mbak Lami yang jadi idola, tapi sejak Arum masuk, pesona Mbak Lami pun memudar.

Jam sembilan Mbak Sur mulai menari, sepuluh menit, tapi sawerannya kurang. Dilanjutkan Mbak Lami, entah kenapa, mungkin pesonanya tiba-tiba muncul, karena banyak pria yang memberinya saweran. Dengan kemulai ia mulai menggoda beberapa pria dengan selendangnya. Sepuluh menit dia harus bergantian lagi dengan Mbak Sur, sebelum Arum muncul.
Bahkan beberapa lelaki malah sudah kesurupan, mereka para pemain kuda lumping. Jadi banyak yang tidak kaget, tapi malah senang. Karena saat kesurupan, berbagai atraksi yang tidak masuk akal akan dipertontonkan.
Namun Mbak Sur tak kunjung muncul, sampai hampir tiga puluh menit, ia terus menari. Akhirnya salah satu pawang mencari Mbak Sur. Sementara di area tengah, orang-orang yang kesurupan semakin banyak.
Barongan yang jarang muncul saat malam, entah dari mana datangnya, tiba-tiba masuk ke tengah lapangan. Rumadi yang berbadan tinggi besar, dia pemain barong legendaris, sudah lama tidak menari. Malam ini dia dengan gesit menggerakkan barongannya. Bahkan Harjo si penari topeng yang sudah pensiun pun muncul.
Di lapangan banyak yang heboh dengan munculnya pemain-pemain lawas, sementara di dalam jeritan Arum mengagetkan semua orang. Mbak Sur tergeletak darah keluar dari mulutnya. Nyawanya sudah tidak tertolong, semua pandangan tertuju pada Arum. Hanya dia satu-satunya saksi.

Sementara keributan lain terjadi, mereka yang kesurupan tambah banyak. Bahkan ada pemain kendang yang kesurupan, akhirnya yang lain menggantikan. Musik pun terdengar semakin kencang, seakan mengajak semua orang menari.
Dari surau, Abah Khuri dan beberapa bapak lainnya kencang berdzikir. Suasana sepertinya semakin tidak terkendali, seperti ada kekuatan gelap yang menutupi kampung Kermon. Terlebih para penduduk dari kampung lain yang mendengar suara lengger, tapi tidak menemukan jalan ke kampung itu.
Beberapa anak muda yang sudah kena tuak, hanya berputar-putar di ujung kampung. Tapi jalan masuk desa seperti lenyap tiba-tiba. Tapi musik yang didengan semakin kencang, bahkan seperti ada beberapa grup gamelan yang bermain.
Suara gamelan seperti bersahut-sahutan terdengar sampai kampung sebelah. Sedangkan di area acara, orang-orang mulai berjatuhan satu persatu. Beberapa anak kecil pun sudah mulai mengeluarkan darah dari hidungnya. Kepanikan terjadi, tapi seakan mereka tak bisa berbuat apa-apa.
Di dalam rumah Arum makin berteriak saat tubuh Mbak Sur menghilang dan tinggal ular hitam sebesar lengan yang seperti terengah-engah mau keluar. Warga panik, ada sebagian yang langsung memukul dan memotong ular itu dengan parang.

Suasana mencekam itu tiba-tiba mulai menghilang. Bunyi gamelan pun melambat, para pemain yang kesurupan sepertinya mulai tersadar, bahkan tanpa tiupan pawang.
Sementara bau kemenyan makin menyengat, Mbak Lami yang dari tadi menghilang tiba-tiba muncul. Dia menuduh Mbak Sur sudah memakai ilmu hitam, dan mewariskannya pada Arum. Karena saat kematian hanya Arum yang ada di sana.
"Bunuh dia! Sebelum dia mengadakan perjanjian dengan sang penguasa!" teriak Lami.
"Jangan, ampuun, saya tidak tahu apa-apa. Sumpah, demi Allah, saya hanya lihat Mbak Sur tiba-tiba tergeletak. Bahkan kami tidak saling bicara!" jawab Arum histeris. Karena beberapa orang yang masih kesurupan menyeretnya keluar rumah. Gamelan yang tadi sudah berhenti, tiba-tiba mulai berbunyi. Dimulai dari gambang, bonang dan bonang penerus. Kemudian pemain kenong dan demung pun menyusul, lanjut pemain saron, peking dan slentem terakhir gong dan kendang masuk.

Musik pelan, dan Arum yang tadinya berontak pun mulai menari pelan. Orang-orang mulai mundur. Sementara Mbak Lami tampak ketakutan. Pandangan Arum berubah, matanya sekarang tertutup, dia menari sendiri. Tubuhnya meliuk seperti menghipnotis semua yang melihat. Dari surau Abah Khuri pun makin kencang berdzikir.
Seluruh kampung seperti terhipnotis oleh suara gamelan. Yang kuat iman, mereka memilih ke surau dan berdzikir. Tapi banyak juga yang memilih ke area Lengger.
"Jangan Rum, jangan, aku minta maap!" teriak Mbak Lami. Tapi semua penonton tak ada yang menghiraukannya. Ia pun menyalakan kemenyan lebih banyak dan menggores tangannya sampai darah itu keluar dan ditaruh di atas kemenyan yang dibakar tadi.
"Siapa yang membangunkanku!" teriak seorang wanita tua. Suaranya terdengar dari mulut Mbak Lami. Wajahnya pun mulai berubah, sorot matanya jadi merah.
Ia pun mulai menari, seakan ada pertarungan antara Lami dan Arum. Tapi itu bukan tarian lengger yang biasa mereka lihat, gerakan keduanya pun terasa sangat menghipnotis. Mereka berputar dan tanah di sekitar area lengger seperti turun ke bawah, menyeret orang-orang yang larut dalam alunan gamelan.
Bahkan para pemain gamelan pun seperti bermain tanpa sadar, mata mereka tertutup semua. Rumadi dan Harjo yang sering kesurupan, rupanya mereka melihat ada yang salah. Keduanya sadar dan merapal doa yang mereka tahu, perlahan mundur dan menjauh dari area lengger.
Satu persatu rumah yang ada di sekitaan itu ikut masuk ke bawah, tarian Arum dan Lami pun makin mengerikan, mulai mengeluarkan aroma busuk, kematian.
Rumadi segera mengajak Harjo lari, di depan mata mereka ada empat puluh atau lima puluh rumah tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi. Hanya Surau yang ada di ujung kampung satu-satunya yang masih berdiri.
Rumadi dan Harjo pun dengan terengah-engah tiba di surau. Abah Khuri yang tau akan kedatangan mereka segera memberi air pada keduanya. Mereka pun langsung pingsan, karena banyak sekali makhluk gelap yang mengelilingi kampung mereka.
Ada sekitar dua puluh orang dewasa dan delapan anak-anak berhimpitan dalam surau kecil itu. Berdzikir dan bersholawat sampai pagi. Hingga jam empat terdengar lengkingan panjang, entah suara Arum atau Lami, karena gamelan itu masih terdengar sampai subuh.
Jam lima, akhirnya Abah Khuri mengajak pergi ke area lengger, ternyata sudah rata dengan tanah. Tak ada satu pun yang tertinggal. Hanya sisa Mbak Sur yang kepalanya terpotong. Lami yang darahnya mengering dan Arum yang masih hidup, tapi napasnya tinggal satu-satu.
"Menarilah karena ingin menghibur, bukan menggoda. Menarilah untuk mengajarkan kelemah lembutan, bukan persaingan. Jangan adakan perjanjian dengan makhluk apapun. Ingatlah Allah Dia satu-satunya yang menjamin hidup kalian."
Pesan yang disampaikan Arum sebelum mengembuskan napasnya. Tak lama orang-orang dari kampung sebelah berdatangan.
"Abah, kami mau buat pengakuan," kata Rumadi dan Harjo barengan.
Mereka meminta tolong mencabut beberapa barang yang dipakai. Konon katanya agar jadi berani dan disegani. Dari mereka juga Abah Khuri tahu, kalau para penari lengger, biasanya memakai susuk. Bahkan yang lebih menyeramkan, adakan perjanjian dengan ratu ular seperti Mbak Sur. Konon kalau menari akan menghipnotis para laki-laki.
Sudah berbulan-bulan lalu, Mbak Sur ingin membatalkan perjanjiannya, tapi tidak bisa. Ia pun sempat terbersit untuk bunuh diri. Namun siapa sangka, dia malah mati karena diracun. Harjo sendiri yang melihat Lami menuangkan racun ke minuman Mbak Sur.
Sedangkan menghilangnya dusun Kermon, diduga karena amarah dari sang ratu ular karena anaknya yang merasuki tubuh Mbak Sur dipotong oleh warga.
Sekarang dusun itu lebih dikenal dengan nama dusun lengger.
Tamat
Bumi Amungsa 16 Juli 2020

aan1984 dan 17 lainnya memberi reputasi
16
4.2K
49
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ribkarewang
#24
PEMBANTAIAN

PEMBANTAIAN
Hari ini tepat ulang tahunku ke-25 tahun, Ibu membuatkan tumpeng. Bertepatan aku diterima kerja di salah satu perusahaan asing, yang bergerak di bisnis ekspor- impor.
"Semoga habis ini kamu nggak akan lagi berhubungan sama kematian-kematian, ya, Pras. Ibu harap kamu bisa segera menikah," kata Ibu mendoakanku. Hanya ada kami berdua, rasanya trauma punya teman lagi. Mengingat bagaimana aku harus kehilangan mereka satu persatu.
Rusdi, Bram, Heru, ketiga teman yang mati satu persatu di hadapanku. Ada yang kecelakaan, bunuh diri, dibunuh orang, rasanya itu cukup. Entah kenapa setiap aku dekat dengan teman, selalu berujung pada kematian. Dan sudah berapa bulan ini aku benar-benar menutup diri untuk sebuah pertemanan. Hanya berteman di dunia maya dengan akun baru. Tidak ada lagi Jenar Prastetya.
Tak terasa sudah delapan bulan kerja, dengan gaji yang bagus tapi jam kerja yang tak menentu. Kadang pulang pun malam baru sampai rumah. Seperti malam ini, jam sebelas aku baru mau masuk komplek, tampak beberapa laki-laki turun dari mobil.
"Mas-Mas ... mau tanya, tahu rumahnya Pak Pras?" tanya salah satu dari mereka.
"Saya?" jawabku sedikit heran.
Merasa tidak kenal dengan mereka satu pun, aku jawab jujur. Baru selesai bicara, tiba-tiba ada yang memukul kepalaku sambil mengumpat, "Bajingan, asuuu kowe," makinya keras. Tiga pukulan mendarat di tengkuk dan wajahku, sakit sekali.
"Woi! kalian salah orang, jangan main pukul, dong. Orang yang kita cari sudah tua, bapak-bapak!" teriak salah satu dari mereka. Tanpa ada kata maaf mereka langsung pergi, huuuh bener-bener apes malam ini.
Paginya baru terasa sekali sakit di tengkuk, Ibu yang melihat wajahku bengkak pun kaget dan menangis. Waktu kuceritakan kejadiannya, eh, malah ditertawakan. Tapi Ibu malah punya cerita yang hampir sama. Kemarin ada yang mencari rumah Pras, ditunjuklah rumah kami, dan lagi-lagi salah orang. Entah Pak Pras yang mana yang mereka cari.
Malam ini aku kembali pulang malam, saat itu kulihat lagi mobil yang kemarin. Tampak seperti buru-buru sampai hampir menabrak gapura komplek. Ada sedikit rasa cemas juga curiga dengan perbuatan mereka. Cepat-cepat aku pulang, syukurlah di rumah aman. Ibu baik-baik saja.
Namun sepertinya ada yang aneh, saat mau masuk rumah tadi. Tetangga depan, Pak Faisal, tampak berdiri di depan rumahnya, tapi tatapannya kosong.
"Malam, Pak, tumben masih di luar?"
Teguranku tak dijawabnya, karena sudah malam, aku pun segera mengunci pagar dan masuk. Paginya Ibu bilang semalam ada suara heboh di rumah depan, tapi Ibu tidak berani melihat. Hanya mengintip, ada beberapa pria berbadan besar bertamu di rumah Pak Faisal. Aku hanya mengiyakan karena buru-buru berangkat kerja, tak begitu mendengar ucapan Ibu.
Setelah beberapa minggu lembur, akhirnya besok aku dapat cuti kerja tiga hari. Bos baruku sangat pengertian, katanya ada proyek besar jadi aku disuruh istirahat dulu. Malam ini aku masih pulang telat, jam sepuluh malam, lagi-lagi Pak Faisal berdiri di depan rumahnya. Kusapa, tapi masih tak menjawab.
Hari ini pun libur, aku sengaja ingin bangun siang. Tapi pagi itu Ibu sudah teriak-teriak karena ada potongan tangan di halaman rumah kami. Spontan aku telepon polisi, kami semua dimintai keterangan bahkan semua tetangga. Tapi rumah Pak Faisal tertutup rapat, dipanggil-panggil tidak ada yang jawab. Komplek kami heboh, masih penuh tanya itu tangan milik siapa, karena sudah berbau busuk.
Besok aku harus masuk kerja, jadi malam ini aku tidur cepat. Tapi rasanya ada yang aneh. Jam dua belas malam Pak Faisal tampak berdiri di dekat jendela kamarku, wajahnya pucat. Aku hampir keluar, hanya ada suara yang mengingatkanku, suara wanita tua itu.
"Pras, nggak usah keluar. Lihat saja dari sini," bisiknya. Tapi di kamar tidak ada siapa-siapa, ah ... perasaan ini muncul lagi. Setiap suara wanita itu muncul, pasti akan ada berita kematian, dan biasanya orang yang kukenal dekat.
Aku tetap diam di kamar, tampak mobil yang pernah kulihat malam-malam itu berhenti di depan rumah Pak Faisal. Lima pria turun dan membongkar paksa pagar. Pak Faisal hanya melihat mereka, tanpa perlawanan, ini sungguh aneh.
Hampir satu jam mobil itu parkir, dan tiba-tiba mereka buru-buru keluar dari rumah itu. Kulihat Pak Faisal sepertinya menyeringai. Aku pun mencoba tidur karena ingat pesan wanita tua. Paginya kami dihebohkan oleh kejadian kecelakaan di gapura komplek. Mobil itu menabrak salah satu tugu gapura hingga hancur. Kata mereka, semalaman mencari jalan keluar komplek ini sampai muter berkali-kali tapi tidak ketemu.
Hari keempat setelah cuti, harusnya mulai masuk kerja, dan sudah di kantor. Tapi tidak, aku masih di rumah. Ada uang lembaran merah dan biru di dalam koper yang terongok di teras rumahku. Ibu pun terdiam. Mobil polisi terdengar meraung-raung suara sirinenya, memasuki komplek. Berhenti tepat di depan rumah Pak Faisal.
Berita yang sungguh membuat aku syok. Pak Faisal alias Prasojo, adalah orang yang selama ini dicari pria-pria tegap itu. Menurut pengakuan mereka, ia menggelapkan uang senilai dua milyar.
Uang yang satu milyar sudah didapatkan empat hari yang lalu. Di dalam mobil Pak Faisal, dan mereka langsung menghabisi pria bertubuh gempal itu. Dan memotong-motong tubuhnya untuk menghilangkan jejak.
Namun uang yang satu milyar belum ketemu, sementara keluarga Pak Pras sudah menghilang selama empat hari ini.
Selidik punya selidik, Pak Faisal menyembunyikan anak dan istrinya di salah satu hotel, membawa uang yang lima ratus juta. Sementara uang yang lima ratus juta lagi entah di mana.
Pria-pria tegap itu selama berapa hari ini berkali-kali ke rumah Pak Faisal kalau malam, mencari uang yang satu milyar sisanya, juga keluarga Pak Faisal.
Semalam, karena sang istri khawatir dengan suaminya, ia pulang berharap ketemu suaminya yang sudah empat hari tak ada kabar. Nasib buruk, sampai rumah mereka malah dihabisi oleh pria-pria tegap itu saat ditanya sisa uang hanya tinggal tiga ratus juta.
Polisi masih sibuk mengeluarkan jenazah ketiga anak dan istri Pak Faisal. Sementara aku dan Ibu masih terdiam di dalam rumah. Sisi jahatku ingin menguasai uang dalam tas itu, sementara hatiku berkali-kali bilang uang nggak berkah. Sekelebat muncul wajah wanita tua iyu, ia tampak marah. Sampai jam enam sore sehabis maghrib, kuputuskan membawa uang itu ke kantor polisi. Saat pulang tampak Pak Faisal masih berdiri di depan rumahnya, wajahnya tak berubah. Aku pun merasa bingung, apalagi ya salah ini.
Masuk dalam rumah, Ibu tampak memamerkan perhiasan baru.
"Ibu, itu apa? Siapa punya? Dapat dari mana?"
"Sttt, diam saja, Ndi. Ini Ibu dapat di halaman. Ada yang baik hati membuang emasnya di teras rumah kita. Emas lho ini, Pras."
"Ibu, itu bukan milik kita, mending jangan dipakai."
"Nggak apa-apa, ini namanya rejeki," jawab Ibu dan beranjak ke dapur. Tak lama teriakan Ibu terdengar melengking. Buru-buru aku ke dapur, tampak Pak Faisal, istri dan tiga anaknya ada di sana. Berdiri melihat ke arah Ibu dengan pandangan marah.
Bumi Amungsa 2020

Susilowatijihan dan cattleyaonly memberi reputasi
2
Tutup