Chapter 1
Quote:
*Tring….*Tring…, sebuah koin melompat-lompat di udara.
Seseorang menangkapnya, “Hmm…jalanan ini selalu ramai, apa mereka tidak merasa bosan?” ucapnya. “setiap hari aku melewati jalan ini, orang-orang bodoh berpakaian kemeja ini membuatku muak!” ucapannya kali ini membuat orang didepannya terhenti.
Orang itu memakai setelah kemeja putih di dalam dan tentunya jas hitam di luar, “Apa katamu?” tanya orang itu.
“Kalian membuatku muak!” ia melempar koinnya, tepat mengenai dahi orang didepannya, lalu sebuah tinju keras melayang mengenai hidung orang itu. “jangan jadi jagoan di sini!” berbicara lantang, korban pukulannya tersungkur ke tanah.
“Hahaha….,” orang yang terkena pukulan itu malah tertawa. “aku suka denganmu.”
“Eh?!...,” orang itu terdiam. “cih!” meludah ke samping, “kau bodoh hah?!”
“Hehe…,” ia sudah kembali berdiri tegak. “bagus! Sekarang jalanan ini sudah kosong, saatnya makan malam.”
Jalanan yang tadinya ramai mendadak kosong, bahkan saat terjadi insiden pemukulan barusan. Orang-orang masih berlalu-lalang, hanya saja mereka tidak perduli dengan kejadian itu. Yang menemai mereka hanyalah lampu jalan yang bersinar malam ini.
“Makan malam? Sial! jadi rumor murahan itu benar?” tanpa ia sadari jantungnya berdetak kencang.
Djohan Akie, seorang pemuda berusia 23 tahun yang kini menjabat sebagai pengangguran akut. Tinggal di kota Surban, sebuah kota metropolitan yang biasa disebut juga surganya pekerja kantoran. Betapa tidak, setidaknya hampir 100 perusahaan mendirikan bangunan di sini. Jangan lupa perusahaan mikro yang jumlahnya lebih banyak.
3 tahun ini ia habiskan hidupnya dengan berdiam diri di apartemen, yang layaknya disebut dengan tempat sampah. Sampah berserakan di mana-mana, belum lagi botol bir yang jumlahnya tidak terhitung banyak. Orang tuanya sudah melepas Djohan, apalagi ayahnya yang sudah menganggap anaknya sebagai orang dewasa yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
Ketika datang pertama kali ke kota Surban, Djohan yang baru saja lulus kuliah di bidang manajemen bisnis dengan kepala tegak. Sangat yakin akan kemampuannya sendiri, tentunya di bidang akademik. Namun kenyataannya jauh berbeda, karena sebagai pusat perkantoran. Maka seluruh pencari kerja dalam negeri datang semua ke kota Surban. Naasnya Djohan tidak bisa bersaing dan selalu gagal tes, bahkan ke pekerjaan yang paling rendah menurutnya yaitu sebagai kasir mini market. Bayangkan seorang lulusan universitas sepertinya gagal meraih pekerjaan kecil seperti itu.
Semenjak itulah Djohan mulai kehilangan kepercayaan dirinya, tiap hari ia habiskan dengan membeli sebuah botol bir. Keadaan diperparah saat orang tuanya tidak mengirimkan lagi uang padanya. Djohan ingat kata-kata terakhir ayahnya, “Terimalah uang pemberianku ini, ketika kamu kehabisannya. Mintalah uang dari hasil pekerjaanmu itu.”
Uang terakhir yang ia terima ditukar menjadi sebuah recehan. Cara ini ia lakukan agar hidupnya lebih hemat. Membeli makanan dari mesin vending jauh lebih murah dibandingkan membelinya di mini market. Djohan tidak sepenuhnya menyerah, 3 tahun ini juga ia serius mencari lowongan pekerjaan. Walaupun niatnya agar waktu berjalan terasa cepat. Saat mencari info inilah ia menemukan sebuah forum, dalam forum itu menyebar kabar bahwa ada sebuah monster pemakan manusia yang berkeliaran di kota Surban.
Djohan tertawa membaca postingan orang-orang anonim di forum itu, bahkan ia rela membuat akun hanya untuk mengejek orang-orang di forum dengan perkataan menghina dan kasar. Bahkan ada salah satu bukti rekaman cctv yang didapat setelah filenya berhasil dipulihkan, disitu terlihat samar bahwa sosok ini memilih tanduk panjang menjulang seperti kumbang tanduk. Balasan Djohan hanyalah, “Meh...mereka bisa membuat itu melalui efek komputer, bodoh!”
Setelah membalas postingan itu Djohan mendapatkan sebuah pesan private, yang isinya memberi peringatan padanya, siapa tahu korban berikutnya adalah Djohan. Lagi-lagi Djohan membalasnya dengan makian. Ini bukan tanpa alasan, selama 3 tahun ini rumor monster pemakan manusia ini tidak pernah sekalipun ada yang melaporkan. Masuk majalah misteri lokal saja pun tidak, maka dari itu Djohan menganggapnya sebagai lelucon.
Tapi, kali ini mungkin saja berbeda. Orang didepannya bergelagat sangat aneh, tubuhnya kini kejang-kejang hebat.
“Kuharap darahmu selezat pukulanmu…,” orang ini memberikan senyum yang aneh.
“Sekali lagi kau mengucap….,” kulit kepala orang didepannya terkelupas, lalu muncul sebuah tanduk yang menjulang panjang. Mata besar berwarna hitam pekat, dan gigi-gigi tajam seperti gergaji. “aku tidak terlalu banyak minum kan….,” dengan sekejab mata Djohan merasakan sesuatu yang keras menghujam dadanya. Seketika semuanya hitam.
Sesosok monster berukuran 2 meter, yang memiliki ciri fisik seperti sebuah kumbang tanduk berwarna abu kehitaman berdiri dengan menggantungkan tubuh Djohan dengan tangan yang menembus dadanya. Djohan hanya bisa menganga, matanya membelalak, pikirannya tidak sanggup menerima kejadian yang berlangsung sangat cepat itu.
Sosok itu melempar tubuh Djohan ke tanah, darah berwarna merah menyala masih banyak menempel ditangannya itu.
“Slurpp…ahh…sudah kuduga, mana mungkin sosok manusia yang bisa memukulku sampai terjatuh tidak memiliki darah yang lezat,” sosok ini menjilati tangannya. Lalu ia berjalan mendekati tubuh Djohan yang terbaring kaku di atas kubangan darahnya sendiri.
“Ah…padahal darahnya begitu lezat, tetapi kalau kena jalan begini menjadi tidak higienis. Sayang sekali,” sepasang sayap transparan keluar dari pundaknya, monster itu terbang cepat.
Malam ini begitu indah, bahkan ukuran bulannya bisa dipasangkan ke dada Djohan yang berlubang, “Apa aku sudah mati?”