- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.5K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#270
Spoiler for Part 95:
Part 95
"Eh, mbak, ayangmu udah dateng tuh"
Viny langsung menoleh ke arah seorang laki-laki yang saat ini sedang berdiri di belakangnya.
"Eh, ngagetin aja kamu mas"
Senyuman mereka langsung sama-sama mengembang sesaat setelah pandangan mata mereka saling bertemu.
"Udah selesai?"
Viny langsung melebarkan senyumannya setelah mendengar sebuah pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh kekasihnya.
"Udah selesai kok, barusan aja, mas mau langsung pulang?"
Laki-laki itu hanya menjawab pertanyaan viny dengan sebuah anggukan kecil tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya ke bawah.
"Eh, nat, aku sama pak rio pulang dulu ya, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi"
Viny kembali menolehkan kepalanya ke arahku sembari berpamitan setelah pak rio menjawab pertanyaannya.
"Iya mbak, nanti kabar-kabar aja"
Senyuman itu, kedua matanya yang hilang akibat kedua sudut bibirnya yang tertarik keatas, pemandangan yang beberapa bulan lalu masih cukup sering kutemui.
Entah lah, rasanya sudah cukup lama aku tidak melihat viny menyunggingkan senyuman itu kepadaku.
Huuuuuh....
Semenjak viny menjalin hubungan dengan pak rio beberapa bulan yang lalu, intensitas pertemuan kami memang menurun drastis.
"Kita pulang dulu ya mas"
Aku hanya menanggapi sapaan pak rio dengan sebuah anggukan dan senyuman kecil.
Tanpa membuang waktu, tangan pak rio langsung merangkul pundak viny, lalu mereka mulai sama-sama melangkahkan kaki untuk berjalan meninggalkanku.
Sementara itu, aku hanya bisa tersenyum sambil terus memandang punggung mereka yang semakin menjauh dari hadapanku.
Jika kalian tanya apa aku merindukan viny, jawabannya adalah IYA. Yap, siapa sih yang tidak merindukan hal-hal yang sebelumnya sempat dia miliki?.
Sama seperti kalian, aku juga sangat merindukan momen-momen kebersamaan yang sebelumnya sangat sering terjadi di antara kami, seperti saat aku menjemputnya setiap pulang kuliah, menemaninya makan siang bersama, bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat dimana kami beradu argumen karena hal-hal kecil.
Huuuuuuuh....
Mungkin, memang seharusnya kami seperti ini. Yap, sekarang kami sudah memiliki kekasih masing-masing, aku memiliki beby, viny memiliki pak rio, sudah seharusnya kami tidak sering bertemu atau jalan berduaan untuk menjaga perasaan pasangan kami.
Lagi pula, aku rasa, dengan adanya jarak di antara kami seperti saat ini, aku dapat meminimalisir ketakutanku akan pesona viny yang sebelumnya selalu menghantui perasaanku.
Yap, aku rasa keputusan yang ku ambil siang itu sudah tepat. Yap, siang itu, saat dimana kami duduk berdua di salah satu cafe setelah mengantarkan kepulangan beby.
Yap, jujur, kedekatan yang sebelumnya selalu terjalin di antara kami menjadi salah satu alasan mengapa aku menyarankan viny untuk menerima pak rio sebagai pacarnya siang itu.
Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya.
Setidaknya, kemungkinanku jatuh pada pesona viny akan sangat berkurang jika dia memiliki seorang kekasih.
Huuuuuuh....
Entah lah, aku tidak tahu apa tindakan yang ku ambil saat itu akan berdampak baik atau tidak untuk kedepannya, mungkin akan berdampak baik untuk hubunganku dan beby, tapi bagaimana dengan viny?.
Jujur aku sempat khawatir jika viny akan merasa tidak bahagia dengan pilihan yang saat itu ku ambil.
Tapi, sekarang aku sudah merasa cukup lega, sampai saat ini aku masih belum mendapat kelihan apapun dari viny tentang hubungannya dengan pak rio, apalagi setelah aku melihat mereka yang saat ini sedang saling merangkul dengan mesra sambil terus menjauh dari hadapanku, sepertinya mereka menjalani hubungan itu benar-benar bahagia.
Sudah lah, dari pada aku terus memikirkan hubungan viny dan pak rio yang jelas terlihat baik-baik saja, lebih baik aku memikirkan bagaimana cara membujuk beby yang sedang ngambek karena aku sama sekali tidak memberi respon saat dia mengirim pesan dan menelponku kemaren malam.
Triiiiiiiiing.... Triiiiiiiiing....
Tuh kan, pasti ini telpon dari beby.
Tanpa membuang waktu, aku langsung mengangkat telpon yang baru saja masuk ke handphoneku.
"Halo mbak"
Sebuah kekehan kecil berhasil lolos dari mulutku setelah mengangkat telpon dari beby. Beby selalu bertingkah lucu setiap kali dia melancarkan jurus ngambeknya, seperti sekarang ini, dia menelponku setelah dia tidak membalas pesan dan mengangkat telponku sejak tadi pagi, tapi setelah aku mengangkatnya, dia malah diam seribu bahasa, seolah-olah ingin meminta penjelasan tentang kesalahan yang sebelumnya aku lakukan, tapi dia tidak ingin mengatakan itu.
"Maaf ya mbak, tadi malem aku ngerjain tugas sama anak-anak di lab sampe subuh, jadi gak sempet liat HP"
Beby masih memilih untuk diam, seolah-olah ingin aku menjelaskan lebih detail tentang apa yang ku lakukan kemaren malam.
"Iya mbak, sebenarnya aku bisa aja kalau mau ngecek HP tadi malem, tapi takut gak fokus aja, soalnya tugasnya banyak, nanti gak selesai"
"Lagian kan aku udah bilang sama kamu kemaren kalau aku mau nugas"
Hasilnya tetap sama, beby sama sekali masih belum menanggapi semua penjelasan yang sudah ku terangkan panjang lebar kepadanya.
"Mbak?"
Aku memanggilnya untuk memastikan bahwa beby masih mendengar suaraku dari seberang sana.
"Apa susahnya sih, tinggal jawab 'udah' doang kan?"
"Aku kan cuma nanya kamu udah mulai nugas atau belum doang"
"Aku gak akan nelpon kamu kok kalau kemaren kamu bales chat aku"
Aku langsung menghela nafas panjang setelah mendengar rentetan pertanyaan dan pernyataan yang baru saja dilontarkan beby dengan nada sendu.
"Mbak, ini aku masih di kampus, aku pulang dulu ya, nanti kita lanjutin waktu aku udah sampai di kos"
Tanpa menunggu jawaban dari beby, aku langsung memutuskan sambungan telpon kami sesaat setelah aku menyelesaikan kalimatku.
Huuuuuuh....
Let it flow.
Yap, sesuai tekad yang beberapa bulan lalu sudah ku bulatkan, aku berusaha menjalani hubungan ini tanpa menghiraukan masalah-masalah dari luar yang ku anggap tidak terlalu penting.
Dan, aku rasa prinsip itu sudah cukup berhasil membuat hubungan kami masih terus mengalir sampai saat ini.
Tapi, ternyata hambatan itu tidak selalu datang dari luar. Yap, kalian bisa lihat sendiri sekarang, hambatan-hambatan itu bisa juga datang dari diri kami sendiri.
Sudah hampir 5 bulan kami menjalin hubungan ini, tapi masalah kecil seperti ini saja masih selalu berhasil membuat kami bertengkar.
Entah lah, sudah beribu-ribu kali aku menjelaskan kepadanya, aku memang orang yang jarang membalas pesan ketika menurutku pesan itu tidak perlu di balas.
Yap, seperti pesannya kemaren malam. Aku tidak paham, kenapa dia masih menunggu jawaban yang sebenarnya dia sudah tahu, padahal kemaren siang aku sudah mengabarinya bahwa mulai jam 8 malam aku akan mengerjakan tugas bersama teman-temanku, tapi dia masih bertanya apakah aku sudah memulai kegiatan mengerjakan tugasku atau belum pada saat waktu sudah menunjukan pukul 8 malam lebih.
Sungguh tidak penting bukan?.
Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, sudah beberapa kali kami bertengkar kecil karena masalah seperti ini, tapi pertengkaran kami selalu berakhir dengan permintaan maaf yang selalu ku ucakan dengan sedikit terpaksa.
Jujur sikap beby yang satu ini membuatku merasa sangat terganggu, bagaimana tidak, dia selalu menuntutku agar aku bisa mengeri sikapnya ini, tapi dia terkesan sama sekali tidak mau mengerti sikapku untuk masalah kabar-kabaran ini.
Dan kenapa harus selalu aku yang meminta maaf?!.
Arrrrrrrggggggghhhhh.....
Sudah lah, lebih baik aku pulang agar aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan segera.
"Eh, mbak, ayangmu udah dateng tuh"
Viny langsung menoleh ke arah seorang laki-laki yang saat ini sedang berdiri di belakangnya.
"Eh, ngagetin aja kamu mas"
Senyuman mereka langsung sama-sama mengembang sesaat setelah pandangan mata mereka saling bertemu.
"Udah selesai?"
Viny langsung melebarkan senyumannya setelah mendengar sebuah pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh kekasihnya.
"Udah selesai kok, barusan aja, mas mau langsung pulang?"
Laki-laki itu hanya menjawab pertanyaan viny dengan sebuah anggukan kecil tanpa menurunkan kedua sudut bibirnya ke bawah.
"Eh, nat, aku sama pak rio pulang dulu ya, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi"
Viny kembali menolehkan kepalanya ke arahku sembari berpamitan setelah pak rio menjawab pertanyaannya.
"Iya mbak, nanti kabar-kabar aja"
Senyuman itu, kedua matanya yang hilang akibat kedua sudut bibirnya yang tertarik keatas, pemandangan yang beberapa bulan lalu masih cukup sering kutemui.
Entah lah, rasanya sudah cukup lama aku tidak melihat viny menyunggingkan senyuman itu kepadaku.
Huuuuuh....
Semenjak viny menjalin hubungan dengan pak rio beberapa bulan yang lalu, intensitas pertemuan kami memang menurun drastis.
"Kita pulang dulu ya mas"
Aku hanya menanggapi sapaan pak rio dengan sebuah anggukan dan senyuman kecil.
Tanpa membuang waktu, tangan pak rio langsung merangkul pundak viny, lalu mereka mulai sama-sama melangkahkan kaki untuk berjalan meninggalkanku.
Sementara itu, aku hanya bisa tersenyum sambil terus memandang punggung mereka yang semakin menjauh dari hadapanku.
Jika kalian tanya apa aku merindukan viny, jawabannya adalah IYA. Yap, siapa sih yang tidak merindukan hal-hal yang sebelumnya sempat dia miliki?.
Sama seperti kalian, aku juga sangat merindukan momen-momen kebersamaan yang sebelumnya sangat sering terjadi di antara kami, seperti saat aku menjemputnya setiap pulang kuliah, menemaninya makan siang bersama, bahkan, aku juga sangat merindukan saat-saat dimana kami beradu argumen karena hal-hal kecil.
Huuuuuuuh....
Mungkin, memang seharusnya kami seperti ini. Yap, sekarang kami sudah memiliki kekasih masing-masing, aku memiliki beby, viny memiliki pak rio, sudah seharusnya kami tidak sering bertemu atau jalan berduaan untuk menjaga perasaan pasangan kami.
Lagi pula, aku rasa, dengan adanya jarak di antara kami seperti saat ini, aku dapat meminimalisir ketakutanku akan pesona viny yang sebelumnya selalu menghantui perasaanku.
Yap, aku rasa keputusan yang ku ambil siang itu sudah tepat. Yap, siang itu, saat dimana kami duduk berdua di salah satu cafe setelah mengantarkan kepulangan beby.
Spoiler for Flashback:
"Menurut kamu, kalo aku pacaran sama pak rio gimana nat?"
Deeeeeeg....
Jujur, pertanyaan yang baru saja dilontarkan viny berhasil membuatku merasa sangat terkejut.
"Pak rio nembak kamu mbak?"
Viny hanya menjawab pertanyaanku dengan sebuah anggukan kecil, dia juga langsung membuang pandangannya kearah bawah.
"Kapan?"
Aku langsung menegakan posisi duduku sembari kembali melontarkan sebuah pertanyaan kepada viny.
"K k kemaren nat"
Viny menjawab pertanyaanku sambil terus menatap kosong ke arah bawah.
"Terus, kalo mbak sendiri gimana?"
Viny mulai kembali mengalihkan pandangannya ke arahku secara perlahan-lahan seraya menggeleng kecil setelah aku kembali melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya.
"Mbak gak mau?"
Viny kembali menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan lanjutan yang baru saja ku lontarkan.
"Bukan gitu nat...."
Viny memberi sedikit jeda pada kalimatnya sambil terus mengetuk-ngetukan jari tangannya pada gelas capuccino yang ada di hadapannya.
"Aku masih bingung sama perasaan aku nat"
Aku menaikan kedua alisku ke atas untuk memberi kode kepada viny agar dia mau memperjelas jawabannya.
"Kamu inget kan, beberapa hari yang lalu aku udah cerita, aku masih belum bisa nemuin kenyamanan di pak rio?"
"Sebelumnya lagi, aku juga pernah cerita sama kamu kan, kalau sebenarnya aku juga udah lumayan suka sama dia?"
Helaan nafas panjang berhasil lolos begitu saja dari mulut viny setelah dia menyelesaikan pertanyaannya.
Sementara itu, aku langsung menganggukan kepalaku sesaat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja viny lontarkan.
"Di satu sisi, aku sama sekali gak punya alasan untuk nerima dia"
"Tapi, di sisi lain, aku juga gak punya alasan yang bener-bener kuat untuk nolak dia nat"
Aku memilih untuk berpikir sejenak sembari meminum cappuccino yang ada di hadapanku sebelum menanggapi kebingungan viny yang baru saja dia jabarkan.
"Berarti, yang aku tangkep dari penjelasan mbak tadi, mbak masih butuh waktu buat mastiin perasaan mbak ke dia yang sebenarnya itu kayak gimana ya?"
Aku kembali melontarkan sebuah pertanyaan kearah viny sesaat setelah meletakan kembali gelas cappuccino yang ada di tanganku ke atas meja.
Sementara itu, viny langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sandaran kursi sembari mengusap-usap wajahnya dengan kasar.
"Mungkin sih nat, tapi...."
Helaan nafas kasar yang baru saja keluar dari mulutnya berhasil membuat kalimatnya kembali terjeda.
"Gini aja deh nat...."
Sekarang viny mulai kembali menegakan posisi duduknya.
"Kalau misalnya kamu aku suruh pilih, kamu milih aku nerima pak rio atau enggak?"
Sontak pertanyaan yang baru saja viny lontarkan berhasil membuatku terheran-heran, bagaimana tidak, yang mau pacaran siapa, yang disuruh jawab siapa.
"Masa aku yang milih sih mbak?, yang mau pacaran kan kamu"
Senyuman tipis langsung terbentuk di wajahnya setelah melihat responku atas permintaannya.
"Kamu kan adek aku nat, aku yakin kok, adek itu pasti pengen yang terbaik buat kakaknya?"
Sebuah deheman kecil langsung lolos begitu saja dari mulutku sesaat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja viny lontarkan.
"A a a apaan sih mbak, enggak ah, masa gitu sih, pasti kamu lebih tau apa yang terbaik buat kamu dari pada aku"
Bukannya berpikir, viny malah melebarkan senyumannya sambil terus melempar tatapan memohon yang biasa dia lemparkan kearahku.
"Enggak, aku tetep minta kamu buat milih nat"
Aku langsung membuang pandanganku ke sembarang arah setelah viny mempertegas keinginannnya.
Jujur aku merasa sangat bingung, aku benar-benar tidak mengerti kenapa viny terus memaksaku untuk menentukan pilihannya.
Selain itu, entah kenapa, ada perasaan tidak rela yang merasuk ke dalam hati dan pikiranku secara tiba-tiba juga menjadi kebingungan yang mulai mengganggu pikiranku. Yap, entah kenapa aku menjadi tidak rela jika viny harus menjalin hubungan spesial dengan laki-laki lain, padahal aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.
Ini bukan soal pak rio, sama sekali bukan. Bahkan, jika laki-laki yang meminta viny menjadi kekasihnya bukan lah seorang pak rio, mungkin perasaanku akan tetap sama seperti sekarang.
Tapi....
"Nat"
Panggilan yang baru saja keluar dari mulut viny berhasil membuatku tersadar dari lamunanku.
"Gimana?"
Aku kembali mengalihkan pandanganku kearah viny setelah dia kembali menanyakan keputusan tentang 2 pilihan yang sudah dia berikan sebelumnya.
"Kalo aku sih gini...."
Aku memilih untuk membenarkan posisi duduku terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimatku.
"terima aja mbak"
Suasana langsung mendadak hening sesaat setelah aku mengutarakan pilihanku.
"Kenapa?"
Pertanyaan yang baru saja viny lontarkan berhasil memecah keheningan yang sebelumnya menyelimuti kami.
"Yang pertama, kamu cewek, pak rio cowok"
"Yang kedua, kalian sama-sama jomblo"
"Yang ketiga, kamu suka pak rio, dan pak rio udah pasti juga suka sama kamu, dan mungkin, dia juga udah sayang sama kamu"
"Bener kata kamu mbak, kamu gak punya alasan yang bener-bener kuat buat nolak pak rio"
"Tapi, 'mencoba' bisa jadi salah satu alasan kalau kamu mau nerima pak rio"
Viny langsung mengalihkan pandangannya ke arah samping setelah mendengar semua alasan yang baru saja ku berikan atas pilihan yang sebelumnya juga sudah ku utarakan kepadanya.
"Tapi, menurut kamu, kalau aku masih belum bisa menganggap pak rio itu lebih dari seorang dosen dan teman gimana nat?"
Viny kembali melontarkan sebuah pertanyaan sambil terus menatap kendaraan yang berlalu lalang melalui jendela yang berada tepat di sampingnya.
"Aku rasa, jawabannya hampir sama kayak alasan-alasan yang tadi aku sebutin mbak"
"Intinya, kalo mbak emang pengen, mending kamu coba dulu aja, toh, kalo aku liat-liat kalian itu cocok kok"
Viny tidak langsung menanggapi jawabanku, dia masih asyik memandangi kendaraan yang sedang lalu-lalang melalui jendela yang ada di sampingnya.
"Ya...., selain itu, kamu gak ada deket atau suka sama laki-laki lain kan selain pak rio?"
Dengan gerakan cepat, viny kembali menolehkan kepalanya kearahku sesaat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja ku lontarkan.
Untuk yang kesekian kalinya, suasana hening kembali menyelimuti kebersamaan kami siang ini. Dan selama keheningan itu pandangan kami juga saling beradu dalam waktu yang bisa dibilang cukup lama.
"Gak ada kan mbak?"
Aku memilih menanyakan kembali pertanyaan yang sebelumnya sempat kutanyakan kepadanya untuk memecah keheningan yang kembali menyelimuti kebersamaan kami siang ini.
"Iya, gak ada kok nat"
Sebuah senyuman tipis kembali tersungging di bibirnya setelah viny menjawab pertanyaanku.
"Nah, yaudah, kalo gitu mbak coba dulu aja"
"Siapa tau, suatu saat nanti mbak bisa nemuin kenyamanan di pak rio, bahkan, mungkin nanti mbak juga bisa cinta mati sama dia"
Viny langsung menghembuskan nafas dengan kasar setelah mendengar rentetan kalimat yang baru saja ku lontarkan ke arahnya.
"Ya gitu mbak, itu jawaban aku"
"Tapi, semua saranku tadi bukan suatu ketetapan yang harus mbak lakuin kok"
"Toh, alesan yang aku jabarin atas pilihan aku tadi juga gak kuat-kuat banget"
Aku kembali meminum cappuccino yang ada di hadapanku setelah menyelesaikan kalimatku.
"Yaudah deh, kalo gitu, besok aku bakal nerima pak rio, sesuai saran kamu"
Aku terkejut bukan kepalang setelah mendengar pilihan yang baru saja ditetapkan. Apa-apaan ini, bisa-bisanya viny mengambil sebuah keputusan besar hanya karena saran yang baru saja ku berikan.
Bagaimana tidak, aku saja membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk meyakinkan diriku saat ingin menjalin hubungan bersama beby.
Tapi, viny malah dengan gampangnya mengambil keputusan untuk menerima pak rio sebagai kekasihnya hanya karena menerima saran dariku untuk melakukan itu.
"T t t t tapi mbak, mending mbak tanya diri mbak sendiri dulu"
"J j j j jangan langsung ngambil keputusan kayak gini mbak"
Tentu saja keputusan yang baru saja viny tetapkan berhasil membuatku takut. Yap, aku takut jika saran yang tadi ku berikan ternyata bukan lah jalan yang terbaik untuk viny.
Siapa yang tahu, bisa saja suatu saat nanti pak rio akan mengecewakan viny, aku tidak mau menjadi salah satu orang yang bersalah karena telah memberi saran kepada viny untuk menerima pak rio sebagai kekasihnya, sudah pasti aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika suatu saat nanti hal itu benar-benar terjadi pada viny.
"Gak perlu nat, jawaban dari kamu udah lebih dari cukup kok"
Senyumannya kembali mengembang setelah dia kembali berusaha meyakinkan ku.
"Tapi mbak, aku kan cuma...."
Sssssssssstttttt....
Viny menghentikan kalimatku dengan cara menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.
"Pulang yuk"
Deeeeeeg....
Jujur, pertanyaan yang baru saja dilontarkan viny berhasil membuatku merasa sangat terkejut.
"Pak rio nembak kamu mbak?"
Viny hanya menjawab pertanyaanku dengan sebuah anggukan kecil, dia juga langsung membuang pandangannya kearah bawah.
"Kapan?"
Aku langsung menegakan posisi duduku sembari kembali melontarkan sebuah pertanyaan kepada viny.
"K k kemaren nat"
Viny menjawab pertanyaanku sambil terus menatap kosong ke arah bawah.
"Terus, kalo mbak sendiri gimana?"
Viny mulai kembali mengalihkan pandangannya ke arahku secara perlahan-lahan seraya menggeleng kecil setelah aku kembali melontarkan sebuah pertanyaan kepadanya.
"Mbak gak mau?"
Viny kembali menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan lanjutan yang baru saja ku lontarkan.
"Bukan gitu nat...."
Viny memberi sedikit jeda pada kalimatnya sambil terus mengetuk-ngetukan jari tangannya pada gelas capuccino yang ada di hadapannya.
"Aku masih bingung sama perasaan aku nat"
Aku menaikan kedua alisku ke atas untuk memberi kode kepada viny agar dia mau memperjelas jawabannya.
"Kamu inget kan, beberapa hari yang lalu aku udah cerita, aku masih belum bisa nemuin kenyamanan di pak rio?"
"Sebelumnya lagi, aku juga pernah cerita sama kamu kan, kalau sebenarnya aku juga udah lumayan suka sama dia?"
Helaan nafas panjang berhasil lolos begitu saja dari mulut viny setelah dia menyelesaikan pertanyaannya.
Sementara itu, aku langsung menganggukan kepalaku sesaat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja viny lontarkan.
"Di satu sisi, aku sama sekali gak punya alasan untuk nerima dia"
"Tapi, di sisi lain, aku juga gak punya alasan yang bener-bener kuat untuk nolak dia nat"
Aku memilih untuk berpikir sejenak sembari meminum cappuccino yang ada di hadapanku sebelum menanggapi kebingungan viny yang baru saja dia jabarkan.
"Berarti, yang aku tangkep dari penjelasan mbak tadi, mbak masih butuh waktu buat mastiin perasaan mbak ke dia yang sebenarnya itu kayak gimana ya?"
Aku kembali melontarkan sebuah pertanyaan kearah viny sesaat setelah meletakan kembali gelas cappuccino yang ada di tanganku ke atas meja.
Sementara itu, viny langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sandaran kursi sembari mengusap-usap wajahnya dengan kasar.
"Mungkin sih nat, tapi...."
Helaan nafas kasar yang baru saja keluar dari mulutnya berhasil membuat kalimatnya kembali terjeda.
"Gini aja deh nat...."
Sekarang viny mulai kembali menegakan posisi duduknya.
"Kalau misalnya kamu aku suruh pilih, kamu milih aku nerima pak rio atau enggak?"
Sontak pertanyaan yang baru saja viny lontarkan berhasil membuatku terheran-heran, bagaimana tidak, yang mau pacaran siapa, yang disuruh jawab siapa.
"Masa aku yang milih sih mbak?, yang mau pacaran kan kamu"
Senyuman tipis langsung terbentuk di wajahnya setelah melihat responku atas permintaannya.
"Kamu kan adek aku nat, aku yakin kok, adek itu pasti pengen yang terbaik buat kakaknya?"
Sebuah deheman kecil langsung lolos begitu saja dari mulutku sesaat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja viny lontarkan.
"A a a apaan sih mbak, enggak ah, masa gitu sih, pasti kamu lebih tau apa yang terbaik buat kamu dari pada aku"
Bukannya berpikir, viny malah melebarkan senyumannya sambil terus melempar tatapan memohon yang biasa dia lemparkan kearahku.
"Enggak, aku tetep minta kamu buat milih nat"
Aku langsung membuang pandanganku ke sembarang arah setelah viny mempertegas keinginannnya.
Jujur aku merasa sangat bingung, aku benar-benar tidak mengerti kenapa viny terus memaksaku untuk menentukan pilihannya.
Selain itu, entah kenapa, ada perasaan tidak rela yang merasuk ke dalam hati dan pikiranku secara tiba-tiba juga menjadi kebingungan yang mulai mengganggu pikiranku. Yap, entah kenapa aku menjadi tidak rela jika viny harus menjalin hubungan spesial dengan laki-laki lain, padahal aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya.
Ini bukan soal pak rio, sama sekali bukan. Bahkan, jika laki-laki yang meminta viny menjadi kekasihnya bukan lah seorang pak rio, mungkin perasaanku akan tetap sama seperti sekarang.
Tapi....
"Nat"
Panggilan yang baru saja keluar dari mulut viny berhasil membuatku tersadar dari lamunanku.
"Gimana?"
Aku kembali mengalihkan pandanganku kearah viny setelah dia kembali menanyakan keputusan tentang 2 pilihan yang sudah dia berikan sebelumnya.
"Kalo aku sih gini...."
Aku memilih untuk membenarkan posisi duduku terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimatku.
"terima aja mbak"
Suasana langsung mendadak hening sesaat setelah aku mengutarakan pilihanku.
"Kenapa?"
Pertanyaan yang baru saja viny lontarkan berhasil memecah keheningan yang sebelumnya menyelimuti kami.
"Yang pertama, kamu cewek, pak rio cowok"
"Yang kedua, kalian sama-sama jomblo"
"Yang ketiga, kamu suka pak rio, dan pak rio udah pasti juga suka sama kamu, dan mungkin, dia juga udah sayang sama kamu"
"Bener kata kamu mbak, kamu gak punya alasan yang bener-bener kuat buat nolak pak rio"
"Tapi, 'mencoba' bisa jadi salah satu alasan kalau kamu mau nerima pak rio"
Viny langsung mengalihkan pandangannya ke arah samping setelah mendengar semua alasan yang baru saja ku berikan atas pilihan yang sebelumnya juga sudah ku utarakan kepadanya.
"Tapi, menurut kamu, kalau aku masih belum bisa menganggap pak rio itu lebih dari seorang dosen dan teman gimana nat?"
Viny kembali melontarkan sebuah pertanyaan sambil terus menatap kendaraan yang berlalu lalang melalui jendela yang berada tepat di sampingnya.
"Aku rasa, jawabannya hampir sama kayak alasan-alasan yang tadi aku sebutin mbak"
"Intinya, kalo mbak emang pengen, mending kamu coba dulu aja, toh, kalo aku liat-liat kalian itu cocok kok"
Viny tidak langsung menanggapi jawabanku, dia masih asyik memandangi kendaraan yang sedang lalu-lalang melalui jendela yang ada di sampingnya.
"Ya...., selain itu, kamu gak ada deket atau suka sama laki-laki lain kan selain pak rio?"
Dengan gerakan cepat, viny kembali menolehkan kepalanya kearahku sesaat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja ku lontarkan.
Untuk yang kesekian kalinya, suasana hening kembali menyelimuti kebersamaan kami siang ini. Dan selama keheningan itu pandangan kami juga saling beradu dalam waktu yang bisa dibilang cukup lama.
"Gak ada kan mbak?"
Aku memilih menanyakan kembali pertanyaan yang sebelumnya sempat kutanyakan kepadanya untuk memecah keheningan yang kembali menyelimuti kebersamaan kami siang ini.
"Iya, gak ada kok nat"
Sebuah senyuman tipis kembali tersungging di bibirnya setelah viny menjawab pertanyaanku.
"Nah, yaudah, kalo gitu mbak coba dulu aja"
"Siapa tau, suatu saat nanti mbak bisa nemuin kenyamanan di pak rio, bahkan, mungkin nanti mbak juga bisa cinta mati sama dia"
Viny langsung menghembuskan nafas dengan kasar setelah mendengar rentetan kalimat yang baru saja ku lontarkan ke arahnya.
"Ya gitu mbak, itu jawaban aku"
"Tapi, semua saranku tadi bukan suatu ketetapan yang harus mbak lakuin kok"
"Toh, alesan yang aku jabarin atas pilihan aku tadi juga gak kuat-kuat banget"
Aku kembali meminum cappuccino yang ada di hadapanku setelah menyelesaikan kalimatku.
"Yaudah deh, kalo gitu, besok aku bakal nerima pak rio, sesuai saran kamu"
Aku terkejut bukan kepalang setelah mendengar pilihan yang baru saja ditetapkan. Apa-apaan ini, bisa-bisanya viny mengambil sebuah keputusan besar hanya karena saran yang baru saja ku berikan.
Bagaimana tidak, aku saja membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk meyakinkan diriku saat ingin menjalin hubungan bersama beby.
Tapi, viny malah dengan gampangnya mengambil keputusan untuk menerima pak rio sebagai kekasihnya hanya karena menerima saran dariku untuk melakukan itu.
"T t t t tapi mbak, mending mbak tanya diri mbak sendiri dulu"
"J j j j jangan langsung ngambil keputusan kayak gini mbak"
Tentu saja keputusan yang baru saja viny tetapkan berhasil membuatku takut. Yap, aku takut jika saran yang tadi ku berikan ternyata bukan lah jalan yang terbaik untuk viny.
Siapa yang tahu, bisa saja suatu saat nanti pak rio akan mengecewakan viny, aku tidak mau menjadi salah satu orang yang bersalah karena telah memberi saran kepada viny untuk menerima pak rio sebagai kekasihnya, sudah pasti aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika suatu saat nanti hal itu benar-benar terjadi pada viny.
"Gak perlu nat, jawaban dari kamu udah lebih dari cukup kok"
Senyumannya kembali mengembang setelah dia kembali berusaha meyakinkan ku.
"Tapi mbak, aku kan cuma...."
Sssssssssstttttt....
Viny menghentikan kalimatku dengan cara menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.
"Pulang yuk"
Yap, jujur, kedekatan yang sebelumnya selalu terjalin di antara kami menjadi salah satu alasan mengapa aku menyarankan viny untuk menerima pak rio sebagai pacarnya siang itu.
Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya.
Setidaknya, kemungkinanku jatuh pada pesona viny akan sangat berkurang jika dia memiliki seorang kekasih.
Huuuuuuh....
Entah lah, aku tidak tahu apa tindakan yang ku ambil saat itu akan berdampak baik atau tidak untuk kedepannya, mungkin akan berdampak baik untuk hubunganku dan beby, tapi bagaimana dengan viny?.
Jujur aku sempat khawatir jika viny akan merasa tidak bahagia dengan pilihan yang saat itu ku ambil.
Tapi, sekarang aku sudah merasa cukup lega, sampai saat ini aku masih belum mendapat kelihan apapun dari viny tentang hubungannya dengan pak rio, apalagi setelah aku melihat mereka yang saat ini sedang saling merangkul dengan mesra sambil terus menjauh dari hadapanku, sepertinya mereka menjalani hubungan itu benar-benar bahagia.
Sudah lah, dari pada aku terus memikirkan hubungan viny dan pak rio yang jelas terlihat baik-baik saja, lebih baik aku memikirkan bagaimana cara membujuk beby yang sedang ngambek karena aku sama sekali tidak memberi respon saat dia mengirim pesan dan menelponku kemaren malam.
Triiiiiiiiing.... Triiiiiiiiing....
Tuh kan, pasti ini telpon dari beby.
Tanpa membuang waktu, aku langsung mengangkat telpon yang baru saja masuk ke handphoneku.
"Halo mbak"
Sebuah kekehan kecil berhasil lolos dari mulutku setelah mengangkat telpon dari beby. Beby selalu bertingkah lucu setiap kali dia melancarkan jurus ngambeknya, seperti sekarang ini, dia menelponku setelah dia tidak membalas pesan dan mengangkat telponku sejak tadi pagi, tapi setelah aku mengangkatnya, dia malah diam seribu bahasa, seolah-olah ingin meminta penjelasan tentang kesalahan yang sebelumnya aku lakukan, tapi dia tidak ingin mengatakan itu.
"Maaf ya mbak, tadi malem aku ngerjain tugas sama anak-anak di lab sampe subuh, jadi gak sempet liat HP"
Beby masih memilih untuk diam, seolah-olah ingin aku menjelaskan lebih detail tentang apa yang ku lakukan kemaren malam.
"Iya mbak, sebenarnya aku bisa aja kalau mau ngecek HP tadi malem, tapi takut gak fokus aja, soalnya tugasnya banyak, nanti gak selesai"
"Lagian kan aku udah bilang sama kamu kemaren kalau aku mau nugas"
Hasilnya tetap sama, beby sama sekali masih belum menanggapi semua penjelasan yang sudah ku terangkan panjang lebar kepadanya.
"Mbak?"
Aku memanggilnya untuk memastikan bahwa beby masih mendengar suaraku dari seberang sana.
"Apa susahnya sih, tinggal jawab 'udah' doang kan?"
"Aku kan cuma nanya kamu udah mulai nugas atau belum doang"
"Aku gak akan nelpon kamu kok kalau kemaren kamu bales chat aku"
Aku langsung menghela nafas panjang setelah mendengar rentetan pertanyaan dan pernyataan yang baru saja dilontarkan beby dengan nada sendu.
"Mbak, ini aku masih di kampus, aku pulang dulu ya, nanti kita lanjutin waktu aku udah sampai di kos"
Tanpa menunggu jawaban dari beby, aku langsung memutuskan sambungan telpon kami sesaat setelah aku menyelesaikan kalimatku.
Huuuuuuh....
Let it flow.
Yap, sesuai tekad yang beberapa bulan lalu sudah ku bulatkan, aku berusaha menjalani hubungan ini tanpa menghiraukan masalah-masalah dari luar yang ku anggap tidak terlalu penting.
Dan, aku rasa prinsip itu sudah cukup berhasil membuat hubungan kami masih terus mengalir sampai saat ini.
Tapi, ternyata hambatan itu tidak selalu datang dari luar. Yap, kalian bisa lihat sendiri sekarang, hambatan-hambatan itu bisa juga datang dari diri kami sendiri.
Sudah hampir 5 bulan kami menjalin hubungan ini, tapi masalah kecil seperti ini saja masih selalu berhasil membuat kami bertengkar.
Entah lah, sudah beribu-ribu kali aku menjelaskan kepadanya, aku memang orang yang jarang membalas pesan ketika menurutku pesan itu tidak perlu di balas.
Yap, seperti pesannya kemaren malam. Aku tidak paham, kenapa dia masih menunggu jawaban yang sebenarnya dia sudah tahu, padahal kemaren siang aku sudah mengabarinya bahwa mulai jam 8 malam aku akan mengerjakan tugas bersama teman-temanku, tapi dia masih bertanya apakah aku sudah memulai kegiatan mengerjakan tugasku atau belum pada saat waktu sudah menunjukan pukul 8 malam lebih.
Sungguh tidak penting bukan?.
Sebenarnya ini bukan yang pertama kali, sudah beberapa kali kami bertengkar kecil karena masalah seperti ini, tapi pertengkaran kami selalu berakhir dengan permintaan maaf yang selalu ku ucakan dengan sedikit terpaksa.
Jujur sikap beby yang satu ini membuatku merasa sangat terganggu, bagaimana tidak, dia selalu menuntutku agar aku bisa mengeri sikapnya ini, tapi dia terkesan sama sekali tidak mau mengerti sikapku untuk masalah kabar-kabaran ini.
Dan kenapa harus selalu aku yang meminta maaf?!.
Arrrrrrrggggggghhhhh.....
Sudah lah, lebih baik aku pulang agar aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan segera.
situmeang96 dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas
