Kaskus

Story

cattleyaonlyAvatar border
TS
cattleyaonly
Dendam Arwah dari Masa Lalu
Cerbung ini telah tamat ya. Terima kasih untuk semua pembaca setia cerbung ini

Konten Sensitif
Dendam Arwah dari Masa Lalu


Prolog

Nimas menatap Barata dengan perasaan sedih. Kekasihnya itu benar-benar melupakan apa yang telah dia korbankan dulu. Bahkan, dia meninggalkan keluarga yang memanjakan dan mencintainya untuk mengikuti lelaki itu. Semua ini karena gadis bernama Salindri itu. Dia tahu, dirinya tak lagi seperti yang dulu, tetapi apakah cinta bisa lenyap karena perubahan fisik semata?

Ya, kini dia tahu, lelaki hanya memuja kecantikan semata. Sementara dia menyerahkan segalanya, bahkan nyawanya.

Matanya memerah, memancarkan kemarahan. Tubuhnya yang hampir saja kembali sempurna, kini luruh dan mencair. Melesap dalam tanah bersama gerimis malam itu.

Sungguh, ini bukan sakit yang bisa ditahan oleh wanita itu. Kini dia akan benar-benar mati, tetapi tidak dengan jiwanya. Dia bersumpah, akan hadir untuk jiwa-jiwa yang terbakar dendam.

Tawa Nimas melengking, membuat bulu kuduk semua orang yang ada di tempat itu merinding.

Dendam Arwah dari Masa Lalu

Ambar turun dari angkot dan menyewa ojek untuk sampai ke Desa Wonosukmo. Desa itu sangat jauh dan jalannya tidak bisa dilalui mobil. Entah kenapa, dia memilih desa itu sebgai tempat untuk mengabdikan ilmunya pada masyaarakat. Seperti apakah masyarakat di sana? Apakah mereka terbuka menerima pendatang?

Berbagai pikiran sempat terlintas dalam benaknya, tetapi ada yang lebih menguasai benak itu, yaitu rasa patah hatinya karena putus cinta. Dia berharap, tempat itu bisa menghapus kenangan sedihnya.

“Mbak, Mbak’e ini tinggal di Wonosukmo?” tanya tukang ojek sambil sedikit menoleh ke samping supaya Ambar mendengar pertaanyaannya.

“Nggak, Mas. Saya baru mau tinggal di sana.”

“Serius, Mbak?”

“Lha memangnya kenapa tho?”

“Gadis secantik dan semodern Mbak ini apa betah tinggal di desa terpencil seperti itu. Bahkan di sana sinyal internet saja susah.

“Wah, gitu ya?”

“Iya, Mbak.” Tukang Ojek memelankan laju kendaraannya melewati jalan berbatu. “Mbak’e ini kenapa mau tinggal di sana?”

“Saya bidan baru Mas, baru lulus. Harus mengabdi dulu selama tiga tahun.”

“Wah, semoga betah ya Mbak. Denger-denger sih, nggak ada bidan yang betah tinggal di sana. Paling lama tahan seminggu saja,” kata tukang ojek.

“Lha kenapa tho, Mas?” Kening Ambar berkerut, hatinya sangat penasaran.

“Nggak tahu, Mbak. Nggak jelas alasannya. Mereka pergi begitu saja,’ jawab si tukang ojek. “Mudah-mudahan Mbak’e kerasan di sana. Dokter nggak ada, puskesmas pembantu hanya dijaga perawat dan mantri, Mbak. Puskesmas itu sepi, jarang ada pasiennya.”

“Kenapa bisa begitu, Mas?”

“Maklum, Mbak, masyarakat sini masih percaya klenik.”

Deg! Ada yang berdentam dalam dada Ambar. Semacam ketakutan yang diam-diam muncul tanpa permisi. Gadis itu memandang sekeliling, hanya kebun tebu di sisi kiri, sementara di sisi kanan berupa semak belukar dan semacam hutan kecil. Pohon-pohonnya tinggi dan beragam jenis. Tiba-tiba Ambar merasa ada yang mengawasinya. Pandangannya memindai sekeliling. Hanya ada hijau tanaman. Namun entah mengapa firasatnya mengatakan hal buruk sedang mengintainya. Bulu kuduknya meremang. Dia memandang sang tukang ojek. Hatinya tenang ketika memandang spion, wajah itu masih wajah yang tadi dilihatnya.

“Berhenti di Puskesmas Pembantu, ya, Mas,” pinta Ambar ketika melihat tempat yang dituju sudah terlihat dari jauh.

“Baik, Mbak. O, iya, nama Mbak siapa?”

“Ambar, Mas.”

“Bidan Ambar. Ya, ya, harusnya saya memanggil dengan panggilan bisan Ambar,” kata tukang ojek. “Nama saya, Rahmat, Bu Bidan.”

“Oh, iya Mas Rahmat, terima kasih banyak informasinya.”

“Sama-sama, Bu,” kata Rahmat seraya menghentikan motornya di depan sebuah puskesmas pembantu. Ambar turun dan Rahmat membawakan tas besar Ambar hingga sampai di pintu puskesmas. Ambar memberikan ongkos kepada Rahmat dan pria itu mengucapkan berkali-kali terima kasih karena Ambar memberinya tip.

“Bu Bidan Ambar?” sambut perempuan yang papan namanya tertulis Yustini.

“Iya, Mbak, saya Ambar.”

“Selamat datang di Puskesmas Pembantu Wonosukmo,” kata Yustini, sang perawat. “O, ya, mau langsung saya antar ke rumah dinas?”

Ambar mengangguk. Gadis itu kemudian mengikuti langkah Yustini menuju sebuah bangunan kecil di belakang puskesmas pembantu. Sebuah rumah berukuran 6x4 meter, terlalu kecil untuk diseebut rumah. Konon itu sumbangan seseorang dermawaan untuk bidan di sana agar tak perlu mencari tempat kos.

Ambar memasuki rumah mungil yang dibuka Yustini. Tercium aroma bunga kenangan yang menyebar. Mungkin Yustini telah menyemprot pengharum ruangan, pikir Ambar. Sepertinya perawat iru sangat ramah dan menyenangkan. Semoga dia akan kerasan di sana.

Rumah itu hanya terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi dan dapur, yang kesemuanya serba mini. Namun, ruangannya sangat bersih. Di halamannya pun telah ditumbungi beberapa tanaman bunga. Tak jauh dari rumah dinas situ ada rumah Yustini, yang hanya terlihat bilaa Ambar berdiri di sisi selatan rumah itu. Setidaknya, dia tak jauh dari tetangga. Hatinya tenang. Meskipun lain dengan yang dirasa Yustini. Dia tak menyemprot ruangan itu dengan apapun. Dari mana harum kenanga itu bisa menyeruk indera penciumannya? Bulu kuduk Yustini mernding. Dia berharap, semoga Ambar tak kenapa-napa.

Bersambung di sini

Written by @cattleyaonly



Dendam Arwah dari Masa Lalu
Diubah oleh cattleyaonly 30-07-2020 20:52
Lailahr88Avatar border
pepenionAvatar border
69banditosAvatar border
69banditos dan 31 lainnya memberi reputasi
32
15.3K
159
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
cattleyaonlyAvatar border
TS
cattleyaonly
#15
Dendam Arwah Dari Masa Lalu (Part 3)
kaskus-image

Ki Barata memandang tubuh Ambar yang melayang ke dalam jurang dengan keputusasaan dan amarah. Dia tak bisa meraih tubuh itu dengan mantranya. Kekuatan yang dimiliki telah terkuras selama empat puluh hari ritualnya. Di malam purnama itulah kesempatannya mengembalikan jiwa Nimas. Namun kesempatan itu kini musnah.

“Arrrggghhh!!!” Pria itu berteriak frustasi. Suaranya menggema dan membuat binatang-binatang malam berhenti berbunyi. Bahkan anjing-anjing hutan meringkuk ketakutan.

kaskus-image

Ki Barata menancapkan pedangnya dengan kasar ke tanah. Napasnya memburu. Sedangkan Seno berdiri dengan wajah datar dan mata yang mati. Sebentar lagi, bersama dengan munculnya sinar mentari, tubuh seno akan menghilang, sementara Nimas, akan kembali menjadi kerangka. Usaha Ki Barata sekian lama akan menjadi sia-sia.

Betapa tidak, lelaki tua itu telah memulai usaha dengan menakut-nakuti para bidan desa, agar bidan-bidan itu segera berganti dengan Ambar. Target yang diketahui dari penerawangannya. Bahkan, dia juga harus membunuh istri Seno ketika melahirkan, dengan mengirim guna-guna. Menciptakan kebetulan-kebetulan antara Seno dan Ambar, membuat dua orang itu saling jatuh cinta, serta membuat mereka tertarik untuk masuk tokonya.

Ki Barata terduduk di tanah. Peluhnya bercucuran meskipun udara sangat dingin. Dari ufuk timur muncur fajar. Tubuh Semo perlahan raib, sedangkan Nimas limbung ke tanah. Satu per satu otot Nimas menghilang. Menciptakan jerit kesakitan pada makhluk itu. Ki Barata menangis keras. Suaranya terdengar mirip lolongan serigala yang terluka. Bagaimana dia bisa melihat kekasih yang dicintainya menderita seperti itu?

Lelaki lima puluh tahunan itu memeluk tubuh istrinya yang telah kembali menjadi kerangka. Dia melepaskan sarung yang dikalungkan di lehernya kemudian memakaikan ke kerangka Nimas. Berjaga-jaga agar tak ada yang melihat kerangka Nimas. Siapa tahu ada warga desa yang berkeliaran di sekitar rumahnya.

“Nimas, maafkan aku,” bisik lelaki tua itu. Perasaan bersalah yang teramat besar pada Nimaslah yang membuatnya terjatuh dalam perbuatan Syirik. Mempelajari ilmu-ilmu sihir pada seorang pertapa dan bersekutu dengan iblis. Perjanjian yang tak pernah disesali, menghambakan diri pada makhluk yang diusir Tuhan dari syurga itu dengan imbalan istrinya dapat hidup kembali.

***

25 tahun yang lalu.
Nimas, gadis yang sangat cantik kala itu. Bahkan dialah gadis tercantik di desanya. Gadis itu memiliki hidung mancung, mata indah, rambut ikal dan panjang. Dia anak seorang tuan tanah di desanya. Ayahnya memiliki pegawai yang banyak untuk mengerjakan sawah. Termasuk Barata muda dan emaknya . Mereka telah lama menjadi buruh tani yang mengabdi pada Pak Jumadi, ayah Nimas.

Kala itu, musim panen tiba. Nimas dengan riang berjalan di pematang sawah. Melihat-lihat para pegawai ayahnya memetik padi yang telah menguning. Mata gadis itu membulat indah ketika melihat sosok yang dicarinya.

“Mas Barata!” teriaknya.

Barata yang sedang memotong padi dengan ani-aninya mendongak, kemudian melemparkan seulas senyum. Lelaki muda itu bergegas menuju Nimas.

“Jangan temui dia, Le, kalau juragan Jumadi tahu, dia bisa marah.” Emak Barata yang berada tak jauh dari situ mengingatkan anaknya.

Barata hanya nyengir. Lelaki berumur dua puluh lima tahun itu baru sekali itu jatuh cinta. Untuk ukuran kampung, dia termasuk bujang lapuk. Sebenarnya banyak gadis yang menginginkannya, karena wajahnya cukup tampan, tapi dia hanya menyukai anak sang majikan yang baru berusia delapan belas tahun.

Barata telah berada di depan Nimas. Gadis itu tersenyum manis. Senyum yang membuat jantung lelaki muda itu berdegup lebih kencang.

“Kita ke sungai, yuk?” ajak Nimas.

“Ayo.”

Dari jauh, Mak Maesaroh--wanita yang melahirkan Barata-- menjadi gelisah. Dia tahu, ayah Nimas tak suka pada anaknya. Tidak sederajat, itulah alasan Pak Jumadi menolak kehadiran Barata dalam kehidupan Nimas. Wanita tua itu memaklumi sikap juragannya. Mungkin anaknya saja yang tidak tahu diri. Bagaimana mungkin anak orang miskin seperti dirinya bermimpi mempersunting anak seorang juragan? Emak Barata mendesah. Wanita itu merasakan firasat buruk, meski mencoba menepisnya dengan pikiran positif.

“Astaghfirullah ...,” desahnya sambil kembali memetik tangkai-tangkai yang dipenuhi bulir-bulir padi menguning. Barata dan Nimas telah hilang di balik jajaran pohon pisang yang memisahkan dua petak tanah beda pemilik.

Barata melihat ke sekitar. Tidak terlihat orang lain selain mereka berdua. Lelaki itu mencoba menyentuh tangan sang kekasih dan menggenggamnya erat. Degub jantungnya bertalu. Apalagi ketika Nimas tersipu menyambut genggaman tangannya. Bujang lapuk itu ingin segera bisa memiliki gadis itu. Gadis yang selalu diimpikannya setiap malam.

Sungai yang membelah Desa Salam dan desa sebelahnya telah tampak. Air mengalir cukup tinggi karena beberapa hari ini turun hujan.

“Duduk di situ, yuk!” Nimas menunjuk sebuah batu cukup besar dan datar. Tangan lembutnya menarik Barata dengan mesra.
Sepasang insan yang sedang kasmaran itu duduk berdampingan, kaki mereka menjuntai ke air. Sejenak mereka terdiam, merasakan arus yang membelai kaki. Barata memandang batu-batu di tengah sungai yang tetap tegak berdiri meski terus-menerus diterpa arus. Ingin sekali dirinya bisa setegar batu-batu itu.

“Nimas ....” Nimas menatap wajah kekasihnya. “Tak malukah dirmu memiliki kekasih seperti aku?”

Nimas tersenyum. Senyuman yang membuat Barata rela melakukan apa saja untuk gadis itu.

“Untuk apa malu?” tanya Nimas lembut.

“Aku hanya seorang buruh.”

“Namun kamu pria lembut, penyayang, dan bertanggung jawab. Wanita manapun mendambakan pendamping seperti itu.”

“Aku takut tak bisa membahagiakanmu.” Wajah Barata tampak murung. Memandang kecipak air yang dimainkan oleh seekor ikan. “Sedari kecil dirimu dimanjakan oleh segala kemudahan. Bersamaku, apa engkau bisa bertahan?”

Nimas memandang wajah kekasihnya dengan lembut kemudian memeluknya. Merebahkan kepala di dada lelaki itu dan mendengar genderang bertalu di dalamnya.

“Aku sangat mencintaimu, apakah itu tidak cukup untuk membuat kita bahagia?”

Barata tidak menjawab. Tangannya yang kasar oleh kerasnya hidup membelai rambut Nimas yang lebut. Indra penciumannya menghirup wangi tubuh gadis itu yang membuatnya semakin dimabuk asmara. Dengan lembut diciumnya pipi putih merona gadis itu dengan lembut. Tubuh Nimas menggeletar oleh sentuhan itu. Namun tiba-tiba, sebuah tangan menampar Barata dengan cukup keras, sehingga pria itu tersentak. Pipinya terasa pedih. Pria itu mendongak. Dilihatnya Pak Jumadi berdiri dengan wajah merah padam.

“Kurang ajar kamu! Berani-beraninya mendekati anakku!” Dengan kasar Pak Jumadi menarik tangan anaknya. “Jangan coba-coba dekati anakku lagi, atau kamu akan terima akibatnya!”

Barata meringis, menahan pedih di pipi dan di hatinya. Lelaki itu tak menjawab, dia hanya memandang sendu kekasihnya yang mulai menangis.

“Kamu ini anak tidak tahu malu! Bukankah bapak sudah bilang, jangan pernah lagi berhubungan dengan lelaki gembel itu! Mau dikasih makan apa kamu sama dia? Rumput? Buat hidupnya saja dia kesusahan. Bagaimana dia bisa membahagiakan kamu?” Jumadi mengomel panjang lebar. Tangis Nimas semakin keras ketika tangan bapaknya menariknya pulang. Gadis itu menoleh ke belakang, melihat pria yang dicintainya dengan pandangan menyesal. Barata mencoba tersenyum padanya, walau bibir terasa kaku. Mata pria itu menyiratkan kesedihan dan amarah yang tak terkatakan.

Dengan gontai Barata melangkah turun ke sungai. Menceburkan dirinya di sana. Menenggelamkan kepala berkali-kali. Berharap dingin air sungai bisa meredam panas dalam hatinya. Pria itu bertekad untuk mendapatkan Nimas walau bagaimanapun caranya.
Senja mulai turun. Barata masih kuyup di tepi sungai. Pikirannya kalut. Tak mungkin dia bisa hidup tanpa Nimas. Gadis itu seperti udara dalam nafasnya.

Dengan nanar, dipandangnya mentari jingga di ufuk barat. Sinarnya berkilat-kilat menerpa wajahnya yang basah. Barata kemudian berdiri, berjalan gontai menuju rumah. Dia belum tahu apa yang akan dilakukannya besok.

***

Mak Maesaroh bangun dari tidurnya ketika terdengar adzan Shubuh berkumandang. Bergegas wanita tua itu kebelakang, menuju tempayan besar yang memiliki lubang pancuran. Dibasuhnya wajah, mengambil air wudlu. Dingin air tempayan membuat kantuknya hilang. Dengan langkah tergesa dia menuju kamar anaknya. Dilihatnya, sang anak masih tidur melingkar berselimutkan sarung.

“Bangun, Nak, sholat Shubuh,” kata Mak Maesaroh lembut.
Anaknya bergeming. Tangan keriputnya mengguncangkan tubuh pria dua puuh ima tahun itu.

Barata menggeliat. “Ada apa, sih, Mak?”

“Shubuh, Nak, sholat dulu.”

“Ah, malas, Mak.”

“Nak, sholat kok malas.”

Barata menarik sarungnya menutupi wajah. “Iya, Mak, sebentar lagi. Emak sholat saja dulu.”

Mak Maesaroh geleng-geleng kepala. Sudah beberapa lama Barata menjadi malas dan jarang sholat. Entah apa sebabnya. Wanita tua itu menjadi resah. Dia berdiri dan segera melangkah ke kamarnya.
Sepeninggal emaknya, Barata duduk. Matanya menatap kosong ke depan. Pikirannya kembali dirasuki segala hal tentang Nimas. Semalaman dia telah menyusun rencana, akan membawa lari Nimas. Walaupun nyawa taruhannya.

Bergegas Barata melangkah ke luar. ‘Untuk apa sholat? Tuhan tak pernah ada untuknya,’ batin pria itu.

Sejak kecil, kesedihan selalu menjadi teman setianya. Sang Bapak pergi meninggalkan Emak dan dirinya, ketika Barata baru berumur lima tahun. Entah ke mana perginya lelaki tidak bertanggung jawab itu. Dengan segala kemiskinan, Mak Maesaroh membesarkannya. Berbagai penderitaan pernah dialaminya, tapi dia dan Emak berhasil melaluinya dengan tabah. Namun sekarang? Ketegarannya perlahan mulai runtuh. Pikirannya keruh. Menurutnya, Tuhan tak lagi bisa diandalkan. Karena itu, mulai sekarang, pria itu akan berhenti memuja Tuhan. Jika saja iblis bisa meluluskan permohonannya untuk bisa mendapatkan Nimas, dia akan memujanya!

***
Sinar mentari baru saja menyembul dari ufuk timur, tapi Barata telah berjalan di tengah pematang sawah. Dia terus melangkah hingga di pinggir sungai yang airnya deras dan keruh oleh hujan semalam. Lelaki itu mendesah dan terus berjalan menuju sebuah air terjun kecil dekat hulu sungai. Tempat yang sering didatanginya jika perasaannya gundah.

Ketika sampai di dekat air terjun, lelaki itu tertegun sejenak. Dia melihat sosok yang begitu dikenal telah berada di sana dan berdiri menyambut kedatangannya.

“Mas ....” Nimas menghambur dalam pelukannya. “Maafkan bapakku,” katanya.

Dada Barata dipenuhi gemuruh. Lelaki miskin itu memeluk tubuh kekasihnya dengan penuh haru. “Tak apa, aku mengerti keinginan bapakmu. Tapi ....” Kalimat Barata menggantung.

“Tapi apa?”

“Aku tetap ingin menikahimu!”

“Aku juga ingin menikah denganmu, tapi ....” Nimas tak melanjutkan kalimatnya. Ditatapnya wajah sang kekasih.

“Katakan, Nimas. Tapi apa?” Barata menjadi gusar.

“Bapak mau menjodohkanku dengan Agung.”

Barata melepaskan pelukannya. Terduduk di tanah dengan rasa sedih.

“Namun, aku tidak mau.” Lirih Nimas menjawab. Gadis cantik itu duduk di sebelah Barata. “Bagaimana kalau kita kimpoi lari?” Dipandangnya wajah lelaki pujaan hatinya itu dengan mata memohon. Hanya dengan lelaki itulah dia ingin hidup. Lelaki lembut yang membuatnya rela kehilangan segalanya.

“Kamu serius?” Mata Barata berbinar.

“Tentu saja!”

Mereka pun menyusun rencara. Hari ini Nimas akan menjual perhisan yang dimilikinya untuk bekal pelarian. Mereka tak akan menemui satu sama lain sebelum hari pelarian, tiga hari lagi. Agar bapak Nimas merasa mereka telah menuruti perkataannya dan membuat penjagaan pada diri Nimas melonggar.

Barata memandang air sungai yang keruh dan berarus deras. Kemudian berpaling pada gadis di sebelahnya. Sebuah ciuman penuh hasrat mendarat di bibir gadis yang baru mekar itu. Mereka saling tatap. Menahan gemuruh keinginan yang ingin dituntaskan.

“Pu-pulanglah dulu, Nimas,” kata Barata mengusir rasa grogi dalam dirinya. “Pulanglah dulu, agar tak ada yang curiga kita bertemu di sini.”

Nimas mengangguk. Melingkarkan pelukannya ke leher lelaki di sampingnya. Wajahnya menengadah, memandang sosok tampan itu. Barata mencium kekasihnya sekali lagi, sebelum gadis itu melangkah pergi. Lelaki itu tak tahu, apakah besok dia bisa bertemu lagi dengan gadis impiannya.

Nimas bergegas melangkah pulang. Senyum manis tersungging di bibirnya. Gadis itu mungkin telah dibutakan oleh cinta. Tapi menurutnya, cinta memang harus diperjuangkan.

***
Langit tampak gelap. Hujan rintik di malam itu membuat suasanya Desa Salam menjadi sangat sepi. Para penduduk memilih bergulung sarung di dalam rumah, sambil menghadap tungku dan meminum secangkir wedang jahe. Namun, di malam itulah, Nimas dan Barata menentukan pelariannya.

Lelaki dua puluh lima tahun itu mengendap-endap di samping jendela kamar Nimas, dengan pelan diketuknya jendela itu dengan ujung jari. Barata menunggu sejenak. Terdengar langkah pelan dari dalam. Nimas membuka jendela kamarnya. Wajah gadis itu tampak senang namun gelisah. Dengan dibantu Barata dia melompat dari jendela. Meninggalkan kamarnya yang gelap.

“Ayo, cepat,” bisik Barata. Mereka pun berjalan mengendap-endap menuju batas desa. Di sana, Barata telah menyiapkan sepeda kumbang tua miliknya. Dengan sepeda itu dia bisa membawa Nimas lebih cepat. Sepanjang malam Barata terus mengayuh sepedanya di jalanan yang becek dengan penerangan cahaya bulan. Ketika fajar tiba, mereka sampai di batas Desa Wonosukmo. Barata meninggalkan jalanan desa. Mencari tempat bersembunyi yang tak mungkin ditemukan bapak Nimas.
Kayuhan sepeda Barata mengantarkan mereka di pinggir sebuah hutan. Mereka beristirahat di sebuah gubuk satu kali dua meter persegi beratap rumbia. Mungkin itu gubuk tempat istirahat para pencari kayu atau madu di hutan. Tak jauh dari sana, ada mata air kecil yang mengalir dari sela-sela bebatuan.

“Nimas, tidurlah. Kita sudah cukup jauh dari desa kita. Kurasa mereka tidak akan menemukan kita.” Barata mengusap lembut rambut kekasihnya. “Aku akan ke pasar desa, mencari makanan untuk kita.

Nimas mengangguk, dan membiarkan lelaki itu pergi.

Mereka tidak tahu, ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik mereka.

Bersambung
Ditulis oleh @cattleyaonly


kaskus-image
indrag057
winehsuka
69banditos
69banditos dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.