Kaskus

Story

suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
ESA Yang Kurindukan
Sahabat Jadi Cinta

ESA Yang Kurindukan

ESA Yang Kurindukan

Sumber gambar: Di sini

ESA Yang Kurindukan

ESA, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya (num) tunggal; satu;-- (https://kbbi.web.id/esa.html). ESA juga berarti satu kata yang diambil dari huruf awal nama depan kami, Ervan, Sisil (aku), dan Arni. Kami bersahabat sejak SMP. Walau kami belum pernah satu kelas di SMP, tapi kami dekat satu sama lain.

Persahabatan kami bermula saat kami bertiga sepulang sekolah, secara tidak sengaja pernah satu angkot bersama, hingga ngobrol ngalor-ngidul. Dari situ, kami merasa nyambung dan nyaman satu sama lain, sehingga kedekatan kami berlanjut dan lama-kelamaan kami semakin akrab. Walaupun Ervan satu-satunya cowok di lingkaran pertemanan kami, namun dia tak merasa canggung. Malah, dia pasang badan, bila ada yang menggangguku dan Arni. Dia sudah seperti bodyguard bagi kami.

Kami bertiga tak segan-segan saling membantu satu sama lain, karena kami mengacu pada arti kata esa yang berarti satu atau tunggal. Walau kami ini terdiri dari tiga orang, tetapi, kita saling memiliki satu sama lain. Begitulah kami memandang persahabatan itu.

Waktu terus berputar. Tak terasa, aku dan kedua sahabatku itu pun beranjak remaja. Takdir kembali mempertemukan kami di satu SMA yang sama. Aku satu kelas dengan Arni, namun Ervan beda kelas dengan kami. Dari sinilah mulanya persahabatan kami mengalami perubahan ....

***

Sebuah bola basket menggelinding keluar dari arah lapangan sekolah ke koridor. Bola itu berhenti tepat di bawah kakiku yang hendak melangkah menuju kantin bersama Arni. Kupungut bola itu dan melayangkan pandangan ke lapangan itu. Sekelompok anak-anak cowok yang tergabung dengan ekskul basket, tengah berkerumun di dekat ring basket. Mereka memang selalu menghabiskan waktu istirahat, dengan menguasai area lapang sekolah yang luas dan mengisinya dengan mendribble bola bulat berwarna oranye itu dan memasukkannya ke dalam ring, persis seperti Michael Jordan.

"Hei, buruan oper ke sini bolanya! Kita masih mau main lagi, khawatir keburu masuk!" teriak seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi di telingaku.

"Nih, nggak bakal aku bawa kabur, kok, Er. Posesif amat sama bolanya, kayak ke pacar aja," balasku sembari melempar bola itu ke arah Ervan. Dengan sigap, dia menangkap bola itu.

"Mau ke kantin ya?"

"Iya, kamu mau nitip, Er?"

"Nggak, deh. Wakilin aku aja makan yang banyak. Melihat kamu sama Arni makan, perutku otomatis langsung kenyang," ujarnya sambil berlalu dan berbaur kembali dengan teman-temannya yang sudah menunggu di tengah lapang. Tak berapa lama, ekor mataku menangkap, dia sudah terlihat asyik kembali bermain basket.

"Si Ervan itu, nggak berubah, ya? Dari SMP senengnya sama basket melulu," ucap Arni sambil memasukkan sepotong batagor ke dalam mulutnya.

"Iya, dan sejak SMP, kita yang paling setia nontonin dia main sampai selesai."

"Bener, Sil. Tapi, feeling aku bilang, dia lagi suka, deh sama seseorang."

Aku melebarkan pandangan ke arah Arni. Heran, deh, mengapa hal ini bisa luput dari perhatianku? "Siapa gebetan dia sekarang?"

Sebelum Arni sempat menjawab pertanyaanku, Ervan keburu datang menyusul kami ke kantin.

"Capek, nih," ujarnya dengan napas terengah-engah sembari sesekali mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir gerah. Lalu, dia duduk di hadapan aku dan Arni.

"Bagi ya." Ervan mencomot sepotong batagor dari piring punyaku, kemudian menyeruput es jeruk milikku.

"Huh, kebiasaan!" Aku memelotot ke arahnya sambil menepuk tangannya. Kebiasaan Ervan memang begini sejak SMP, selalu tak segan mencomot makanan atau menyeruput minuman pesananku. Kenapa bukan punya Arni yang dia ambil? Kuamati wajahnya lekat. Terlintas sebuah pikiran dalam benakku. Mungkinkah Ervan menyukai Arni? Sebab, kuperhatikan, dia lebih segan kepada Arni dibandingkan dengan kepadaku. Contohnya saja, dari hal mencomot makanan tadi. Kalau ternyata benar, mengapa sisi lain hatiku sedikit tak rela?

"Kenapa lihatin aku terus? Baru nyadar ya, sohibmu ini ganteng?" tanyanya sambil menaikkan kedua alis.

"Ge-er, siapa juga yang lihatin kamu?" Buru-buru kualihkan pandangan ke arah lain untuk menutupi ketekejutanku karena ketahuan mengamati wajahnya barusan. "Oh, iya, kata Arni, kamu lagi naksir seseorang, ya? Kasih tahu, dong, siapa? Kita juga ingin kenalan sama gebetan kamu itu, iya nggak, Arni?"

Arni hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaanku. Namun, aku bisa membaca dari raut wajah Arni, dia juga penasaran dengan jawaban Ervan.

"Ada, deh. Sebentar lagi kalian bakal tahu, kok," katanya sembari mengerling padaku dan juga Arni. "Bagi lagi, ya." Kembali tangannya mencomot sepotong batagor dari piringku dan langsung aku tepuk tangannya. Ervan membalas dengan senyuman, lalu melangkah meninggalkan aku dan Arni dengan rasa penasaran dan sejumlah tanya di benak kami berdua tentang sosok gebetan Ervan. Tapi, aku berprasangka kalau cewek itu adalah Arni, entah mengapa, aku berpikiran demikian.

***

Seminggu berlalu sejak Ervan berkata jujur kalau dia punya gebetan, hubungan persahabatan kami tetap berjalan seperti biasanya. Namun, suatu hari, tiba-tiba saja Ervan mengajakku pulang bareng, tanpa Arni. Ini yang membuatku heran, padahal, dia ke sekolah bawa mobil Suzuki Katana, pikirku, kalau ngajak Arni pun, dengan mobil ini masih muat, 'kan?

"Kenapa nggak ngajak Arni, sih? Kan aku jadi nggak enak sama dia."

"Justru kalau ada dia lebih nggak enak, Sil. Soalnya ada hal serius yang mau aku omongin sama kamu."

"Soal apa? Soal gebetan kamu itu? Jangan-jangan orangnya Arni, ya?" tebakku tanpa tedeng aling-aling membuat tawa dia pecah.

"Bukan, justru orang itu adalah kamu."

"Ah, bercanda kamu, jangan buat aku kegeeran, Er. Mana mungkin? Kita, 'kan udah sahabatan sejak lama," elakku sambil berusaha meredakan debaran di dada.

"Aku serius, Sil. Aku sendiri nggak ngerti kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul. Semakin aku menepisnya, aku malah semakin suka sama kamu."

Aku melirik ke arahnya, memandangi wajah Ervan yang masih fokus memusatkan perhatiannya ke jalanan. Rasanya sungguh campur aduk, ditembak oleh sahabat sendiri. Ada rasa senang, tak percaya, dan sedikit keraguan.

"Arni gimana kalau tahu kita pacaran?"

"Biar ESA tetap nggak bubar, kita backstreet aja. Jangan sampai dia tahu, gimana?"

"Oke, setuju. Aku pun nggak enak sama Arni."

Sejak hari ini, statusku dan Ervan berubah, dari bersahabat menjadi berpacaran.

Enam bulan berlalu, sejak Ervan menyatakan perasaannya, kami masih menyembunyikan status baru kami. Di sekolah, aku dan Ervan bersikap seolah kami ini sahabat seperti biasanya. Termasuk di depan Arni.

Namun, sepandai-pandainya menyimpan bangkai, baunya akan tetap tercium juga. Akhirnya, Arni tahu kalau aku dan Ervan berpacaran.

"Kamu, kenapa, sih, tega nggak cerita sama aku kalau kamu sama Ervan pacaran?" tanya Arni dengan nada ketus saat kami makan di kantin.

"Kata siapa aku sama dia pacaran? Kita masih tetap bersahabat, kok." Aku berusaha mengelak.

"Jangan bohong, kamu! Aku tahu dari mulut Ervan sendiri! Kalian benar-benar tega, aku nggak mau temenan lagi sama kamu juga Ervan!" Arni memandang tajam ke arahku sambil menudingkan telunjuk tepat di wajahku. "Mulai hari ini dan selamanya, nggak ada lagi nama ESA!" Dia bangkit dari tempat duduknya dan mengentakkan kaki kanannya ke lantai kantin lalu berlari meninggalkanku dengan perasaan sedih dan juga bingung.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengirim chat pada Ervan untuk segera menemuiku di kantin. Tak lama berselang, dia muncul di hadapanku lengkap dengan senyuman manisnya.

"Kamu kenapa, sih? Tega-teganya bilang kita pacaran sama Arni! Kamu tahu, nggak reaksi dia gimana? Dia marah sama aku dan mengancam kalau dia nggak mau temenan lagi sama kita!" omelku setelah dia duduk tepat di depanku.

"Tenang, Sil, sabar. Aku ngasih tahu dia, karena sudah nggak tahan, terus berpura-pura di depan dia, terus membohongi dia kalau kita hanya sekedar sahabat. Toh, cepat atau lambat, dia pasti akan tahu tentang hubungan kita."

"Iya, tapi dia bakal menjauh dari aku, dari kita. Malah tadi dia bilang kalau ESA itu bubar aja!" Aku geram sekaligus merasa hancur, karena persahabatan yang sudah kami jalin sejak SMP, rusak dengan sekejap saja hanya karena munculnya rasa cinta.

"Tenang, dia bicara begitu hanya karena sedang emosi. Aku yakin, Arni lama-lama akan menerima hubungan kita dengan lapang dada."

Aku menghela napas berat. Perlahan, amarah yang sempat memuncak tadi pun sedikit reda. Di satu sisi, aku ingin ESA utuh kembali, tetapi di sisi lain, aku mulai merasa nyaman dengan keberadaan Ervan sebagai pacarku. Jujur, kuakui, aku telah mulai jatuh cinta pada sahabat cowokku itu.

Nyatanya, ucapan Ervan tak terbukti. Arni semakin menjauh dari aku dan juga Ervan. Malah, di kelas, dia sudah tak mau duduk satu bangku lagi denganku. Bahkan, dia sama sekali tak mau berbicara denganku. Hal ini, membuat perasaanku semakin tersiksa. Hubunganku dan Ervan akhir-akhir ini pun kerap diwarnai pertengkaran apabila membahas tentang Arni.

"Er, aku rindu kebersamaan ESA yang seperti dulu. Kebersamaan yang penuh canda tawa, aku rindu kembali ESA bersatu," curhatku ketika kami dalam peejalanan pulang di dalam Suzuki Katananya Ervan.

"Ya, habisnya mau gimana lagi, Arni sudah menutup akses pertemanan dengan kita."

"Kayaknya kalau kita putus, ESA bisa utuh kembali, Er," ucapku pelan dan ragu-ragu khawatir Ervan tak terima dengan ucapanku.

Tiba-tiba saja, Ervan mengerem mobilnya mendadak, hingga hampir saja membuatku terjengkang ke depan. Dia memandang tajam ke arahku. Tatapan lembut dan teduhnya berganti dengan bara amarah, membuatku bergidik ngeri.

"Kamu! Teganya menganggap perasaan tulus cintaku ini lebih berharga dari persahabatan! Kamu beneran mau putus? Baik! Aku terima!" Ervan kembali melajukan mobilnya dan mengantarku sampai ke depan rumah tanpa berucap sepatah kata pun.

"Er, kuharap kamu mengerti dengan keputusan ini. Aku hanya ingin persahabatan kita kembali seperti dulu. Maafkan aku, Er. Kamu sahabat sekaligus pacar yang baik buatku." Aku tak buru-buru turun dari mobil, masih menunggu reaksi darinya. Namun, dia tetap bergeming, diam seribu bahasa, bahkan tak mau menatap wajahku.

Kuputuskan untuk turun dari mobilnya. Tak lama aku turun, Ervan melajukan mobilnya dengan kencang. Aku menatap kepergiannya dengan perasaan hancur berkeping-keping. Aku masuk ke dalam kamar dengan bulir bening yang sudah membanjiri pipi, sebab sedari tadi aku berusaha menahannya untuk tak jatuh di depan Ervan. Lalu, kuputuskan mengirim chat pada Ervan, hal yang tak mampu kuungkapkan saat aku bersamanya di dalam mobil tadi.

Terima kasih, Er, atas semua yang pernah kamu berikan untukku. Aku tak akan pernah lupa, dan akan menjadi kenangan terindah yang kusimpan selamanya. Karena, walau bagaimana pun, kehadiranmu memberi warna dalam perjalanan hidupku. Semoga suatu saat, kamu menemukan cewek yang lebih baik segalanya dariku, karena cowok sebaik kamu, pantas mendapatkan yang terbaik.

Ada notifikasi terkirim di layar ponselku, tetapi tak juga kunjung balasan darinya, membuat hatiku semakin pilu. Aku yakin, semuanya tak akan lagi sama. Benar saja, hari demi hari yang kulalui di sekolah, hingga menjelang lulus SMA, merupakan hal yang tak lagi kujalani dengan penuh semangat. Sebab, nyatanya, ESA tak pernah lagi utuh seperti dulu. Ervan dan Arni semakin menjaga jarak denganku. Persahabatan yang kami rawat sejak SMP itu, kini tinggal kenangan. Hingga aku lulus SMA pun, tak pernah lagi kudengar kabar tentang Ervan dan juga Arni. Kami bertiga benar-benar loose contact, seperti layaknya orang asing yang tak pernah saling mengenal satu sama lain sebelumnya.

***

Tahun 2011, saat aku berselancar di facebook, iseng-iseng aku mencari dua nama sahabatku itu di kolom pencarian. Betapa terperanjatnya aku melihat foto profil Ervan dan Arni di facebook itu. Mereka memasang foto profil yang sama, dan mengenakan baju batik yang sama alias sarimbit. Ada tiga orang di foto itu dengan posisi duduk, yaitu Ervan, Arni, dan seorang anak kecil laki-laki berusia kira-kira tiga tahunan yang dipangku oleh Ervan. Sepertinya, mereka berfoto di studio foto. Penasaran, aku klik nama profil Ervan untuk mengetahui lebih lanjut. Dari info profil Ervan, dia menikah dengan Arni sejak tahun 2010. Dan kini, mereka tinggal di Jakarta.

Aku tersenyum getir melihat mereka tertawa bahagia di beberapa foto yang Ervan bagikan di beranda fb nya. Tak terasa, bulir bening meluncur bebas di kedua pipiku. Bukan, aku bukannya cemburu melihat mereka bersatu sebagai sepasang suami istri. Namun, aku sedikit kecewa, karena mereka tak mengundangku pada hari pernikahan mereka.

Apakah Ervan merasa sangat sakit hati karena aku telah memutuskan hubungan dengannya? Apakah Arni juga ikut sakit hati karena mungkin ketika SMA dia memendam rasa pada Ervan tapi Ervan malah memilihku menjadi pacarnya? Apakah mereka benar-benar sangat membenciku, hingga tak menganggapku lagi sebagai salah satu sahabat mereka? Sejumlah tanya berkecamuk di benakku. Namun, aku merasa lega, karena menyaksikan dua sahabat karibku itu bahagia dan baik-baik saja, walau hanya melalui facebook saja.

Ciwidey, 28 April 2020
Diubah oleh suciasdhan 30-06-2020 09:38
081364246972Avatar border
novalr16Avatar border
rainydwiAvatar border
rainydwi dan 75 lainnya memberi reputasi
76
3.8K
227
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
#90
Apa Kabar Mantan?
Masa Lalu Biarlah Berlalu dan Menjadi Kenangan


kaskus-image

kaskus-image

Sumber Gambar: Klik


Betapa indah taman yang ditumbuhi berbagai bunga warna-warni. Harum semerbak mewangi memenuhi indera penciumanku. Seolah sedang berada di surga.

Suasana semakin syahdu, ketika samar dari kejauhan tampak bayangan seseorang yang begitu kukenal menghampiri. Perlahan semakin mendekat, ia ulurkan tangannya, menggenggam jemariku. Kini tampak jelas raut wajahnya, ia tersenyum manis padaku. Sorot matanya yang teduh tepat menghujam retina mataku. Ia menuntunku ke suatu tempat yang nyaman dan damai.


Sudah beberapa hari ini aku selalu bermimpi seperti ini, membuatku terjaga, tak bisa lagi memejamkan mata. Kulirik jam beker di atas nakas, pukul 03.00 dini hari. Mimpi yang sama, seperti malam-malam sebelumnya, dengan seseorang di masa laluku. Sosok yang sudah nyaris aku lupakan. Kutatap wajah suami yang tengah terlelap, wajahnya begitu damai, sesekali ia tersenyum. Apakah ia juga tengah bermimpi dengan seseorang di masa lalunya?

Lima tahun aku menjalani rumah tangga dengan suamiku. Banyak orang berpendapat kami pasangan yang serasi, selalu tampak bahagia. Tak sedikit kaum wanita yang merasa iri karena aku yang berasal dari keluarga sederhana, kini bergelimangan harta karena telah dipilih sang pengusaha muda ini untuk mendampingi hidupnya. Benarkah aku bahagia? Aku rasa tidak.

***

Sebenarnya sudah lama aku tak berkumpul dengan teman-teman semasa SMA. Namun, entah siapa yang memasukkan aku ke dalam grup whatsapp alumni yang chat-nya selalu ramai, saling sapa, bercerita, bercanda tawa. Seru.

Suatu ketika ia menyapa di chat pribadi. Hatiku tak karuan. Kami tidak pernah berjumpa lagi sejak sama-sama menikah. Aku sudah hampir lupa padanya.

Sejak menerima chat pribadinya, timbul rasa ingin tahu. Kucari info di akun sosmed-nya. Ia masih terlihat menarik seperti dulu. Kulihat foto keluarganya. Rupanya ia sudah punya satu anak perempuan yang cantik, secantik istrinya. Terlihat seperti keluarga bahagia pada umumnya. Apakah ia benar-benar bahagia? Ataukah semu semata seperti yang sedang kualami?

Hai sudah bangun?

Muncul sebuah sapaan hangat di whatsapp, saat kubuka layar gawaiku.

Sudah, sedang menunggu subuh. Kamu juga sudah?

Sudah. Aku tidak bisa tidur, semalam bermimpi. Istriku masih tidur. Memangnya kamu biasa bangun sepagi ini?

Hatiku berdebar. Apakah ia memimpikan aku seperti aku memimpikannya?

Iya.

Hanya itu yang mampu kutulis. Padahal ingin rasanya aku bertanya tentang mimpi yang membuat ia tak bisa tidur.

Sudah dulu, ya, istriku sudah bangun. Selamat menunggu subuh.

Kuurungkan niat untuk menjawab karena dikejutkan oleh emoticon love yang dikirimkannya. Kututup layar whatsapp bertuliskan namanya, Harsa. Hatiku berdesir.

“Nay, sudah bangun?”

Suara dari arah belakang membuyarkanku, menyadarkan diri ini dari lamunan, serta mengembalikanku ke alam nyata.

“Sudah, lagi nunggu azan subuh.”

Suamiku beranjak ke kamar mandi. Aku sudah tahu apa yang akan dilakukannya. Salat subuh, sarapan, baca koran, lalu berangkat kerja. Tak ada kabar seharian, pulang jelang tengah malam, sampai di rumah, ke kamar mandi, lalu tidur.

Ketika awal-awal menikah, kami sering menikmati waktu berdua. Nonton, jalan-jalan, travelling, wisata kuliner, atau apa saja. Seiring berjalannya waktu, ia semakin sibuk. Akhir pekan pun kadang tak punya waktu untukku. Pernah sih, beberapa kali akhir pekan ia ada di rumah. Untuk menghangatkan suasana, aku ajak ia bercerita. Namun ia kadang tak fokus mendengarkan, kalau pun “dipaksa” mendengarkan, ia hanya menjawab singkat saja, seolah tak tertarik dengan ceritaku. Hingga pada akhirnya, aku malas bercerita lagi padanya.

Kami hanya bicara seperlunya saja, itu pun jika penting. Padahal dulu, Narendra adalah pribadi yang hangat juga humoris. Entah apa yang membuat ia berubah menjadi sosok yang dingin. Apakah karena aku tidak bisa memberinya keturunan? Hidupku terasa hampa, walau pun orang bilang betapa enaknya menjadi diriku yang punya suami pengusaha tampan juga kaya raya.

***

Aku tertawa mendengar cerita Harsa. Ya Allah, kapan terakhir aku tertawa lepas seperti ini? Rasanya aku lupa, bahagia itu seperti apa? Restoran dengan konsep alam terbuka ini menambah hangat suasana. Tak menyesal aku menerima ajakan makan siang kali ini.

“Waktu itu, kenapa kita putus, ya, Nay?” tanya Harsa riba-tiba.

Aku termenung, mencoba mengingat.
“Dulu kamu tega, ninggalin aku tanpa kabar, memutuskan kuliah ke luar negeri. Itu pun aku dengar kabarnya dari orang lain. Ya sudah, life must go on, aku anggap kita putus, walau pun sulit sebenarnya buat move on.”

“Oh, jadi kamu mutusin hubungan secara sepihak, ya? Kamu juga tega, hiks,” ucapnya dengan mimik memelas, tetapi jadi tampak lucu.

“Mungkin kita memang bukan jodoh.”

“Nay, apakah kamu bahagia?” aku hanya terdiam, tak mengira dengan pertanyaannya.

“Harusnya aku bahagia, Nay. Sejak istriku memutuskan terjun ke dunia politik, ia menjadi sosok yang super sibuk, hingga mengorbankan waktunya bersama keluarga. Entah apa yang dia kejar.”

Kembali aku termenung. “Suamiku juga sibuk sejak jadi pengusaha sukses, nyaris tak ada waktu untukku.”

Aku terkejut mendengar kalimat yang meluncur begitu saja dari mulutku. Keadaan rumah tanggaku yang selama ini kusembunyikan, bahkan pada keluarga sendiri.

“Ternyata, nasib kita sama ....” Harsa menatapku lekat. Tatapan itu, masih seindah masa SMA, membuat hatiku berdebar tak menentu.

“Nayla, kamu masih cantik. Sama sekali tak berubah,” lanjutnya.

Hatiku semakin tak karuan dibuatnya. Aku tersipu, salah tingkah. Lidah pun kelu, tak sanggup berkata-kata.

“Siapa nama suamimu?”

“Narendra.”

Ia tampak terkejut saat kusebut nama itu. Aku sudah tak heran dengan reaksi demikian. Semua orang pasti mengenal pengusaha sukses sekelas suamiku.

“Suamimu saat ini sedang naik daun. Oh, ya, kamu punya anak?”

Aku menggeleng sedih. Mataku berkaca-kaca. Harsa meraih jemariku, menggenggamnya erat.

“Kita sama-sama manusia yang kesepian. Ikutlah denganku, kita bangun kebahagiaan berdua. Kita berhak untuk bahagia, Nay, menumbuhkan kembali rasa yang dulu pernah ada. Rasa yang terpaksa layu sebelum berkembang. Aku dan kamu pasti bisa."

Aku tersentak, buru-buru kutarik tanganku, melepaskan dari genggamannya.

“Maaf, Harsa, aku tidak bisa ....”
Air mataku mulai menetes. Aku berlari meninggalkannya dengan perasaan yang tak karuan. Kebahagiaan seperti apa yang hendak aku dan Harsa bangun di atas luka yang akan kami ciptakan di hati pasangan kami masing-masing?


***

Sudah larut malam, tetapi mata ini belum juga bisa terpejam. Sejak pertemuan dengan Harsa beberapa hari yang lalu, aku menghindarinya. Kuputuskan untuk keluar dari grup alumni. Kumatikan data ponsel, agar tak membaca pesan whatsapp yang masuk.

Beberapa hari ini, aku memikirkan semuanya. Segala yang kuingat adalah masa-masa indah dan manis bersama Narendra. Ia yang memperjuangkanku, berusaha meyakinkan orang tuanya yang tidak merestui hubungan kami, sebab aku berasal dari keluarga sederhana dan ia dari keluarga berada.

Dengan kegigihannya, ia mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya, hingga mereka mau menerimaku dan yakin bahwa akulah pilihan yang tepat. Perempuan yang akan selalu setia mendampingi Narendra hingga maut memisahkan. Narendra yang menerimaku apa adanya, tidak mudah berpaling pada wanita lain, walau pun di antara kami belum hadir buah hati yang menemani hari-hari sepi kami di rumah.

Penyesalan memenuhi rongga dada. Aku merasa berdosa telah membiarkan lelaki lain memasuki hatiku bahkan menyentuh tanganku
Nyaris saja aku mengorbankan rumah tanggaku. Astagfirullah.

Kuambil ponsel dan menyalakan datanya. Serentak saja semua pesan whatsapp masuk, salah satunya dari Harsa. Rupanya ia menghubungiku hampir setiap saat. Mulai dari menanyakan kabar, meminta maaf, menyatakan perasaan, hingga ajakan untuk menjalin hubungan kembali.

Harsa, maaf. Bagaimana pun keadaan rumah tangga, kita harus berusaha memperbaikinya dengan pasangan masing-masing, bukan malah menjalin hubungan dengan yang lain. Aku mencintai suamiku, begitu pun denganmu. Buka lebar-lebar hatimu, di sana akan kau temukan cinta untuk istri dan putrimu. Kumohon, jauhi aku. Lupakan kisah kita yang dulu.

Kukirimkan pesan itu pada Harsa. Setelah tanda centang dua berwarna biru muncul, dan dia terlihat sedang msngetik, aku menekan tombol blokir. Kuhapus semua chat dengannya.

Naylaaa ....

Kudengar suami menyebut namaku. Ia sedang tertidur pulas dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Ternyata, tetaplah aku perempuan yang selalu ada dalam mimpi-mimpinya, walau pun hubungan kami tak semesra dulu. Kuambil lengannya, kucium, dan kuletakkan di dada. Tak terasa, bulir bening yang mengkristal di pelupuk mata mulai terjun bebas membasahi pipi.

Maafkan aku, Mas ....

Baca cerpen lainnya: Klik

#BelajarBersamaBisa
Diubah oleh suciasdhan 17-07-2020 18:09
ummusaliha
embunsuci
lurika
lurika dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.