Quote:
“udah, jangan nangis” kata gue mengusap usap rambut sela, air matanya membasahin baju dan pundak gue….
“maafin aku…….” Kata sela
Ya saat itu gue kaget banget mendengar sebuah kenyataan pahit. Rasanya hati gue sakit untuk yang kedua kalinya, yang pertama saat sela keguguran, yang kedua saat itu.
“aku ga benar benar melakukannya, kamu dengerin aku dulu. Jangan sampai aku nekat lagi kaya dulu!” kata sela memegang kepala gue untuk menatapnya
“ya ada apa sel? Ngomong aja biar jelas” kata gue melepaskan tangannya
“ehh gue sama devi keluar dulu ya kali…” kata farrel tapi gue potong omongannya
“engga, lu berdua disini, gue mau semua clear dan ga ada yang ditutup tutupi” kata gue pada mereka saat mau memakai sepatu
“oke oke deh, tenang san tenang udah jangan emosi dulu” kata farrel kemudian duduk lagi disana, devi mengikuti dengan diam
“udah kalian disini aja, ga usah kemana kemana” kata gue lagi pada farrel dan devi
“iya san” kata devi
Gue lalu duduk membelakangi farrel dan devi sambil melihat pemandangan kota bandung malam itu. Gemerlap lampu dan udara malam disana tidak akan pernah gue lupakan, sela memegang tangan kiri gue dengan erat. Sekali lagi dia menangis disamping gue dan lama lama meletakan kepalanya dipundak gue. jiwa laki laki gue saat itu berontak, walau gue sedang marah tapi tetap gue coba menenangkan sela. Gue coba usap usap kepala dan rambutnya yang panjang.
“udah belum nangisnya?” kata gue mengecek air mata sela, gue bersihkan dengan kain yang gue bawa di tas kecil
“udah ko” kata sela mengelap air matanya, suaranya jadi agak manja
“sayang maafin aku dulu” sela sambil mengoyang goyangkan badan gue, tingkah sela jadi seperti anak kecil
“hahaha kenapa sih? Ko jadi manja gini sih?” kata gue
“janji dulu jangan marah” kata sela manyun
“iya engga” kata gue singkat
“ya sayang, sebenarnya aku memang ……. Kaya gitu, aku kadang mabok disini” kata sela, kali ini wajahnya tertunduk kelantai, saat gue melihat farrel, farrel langsung memalingkan mukanya sama gue. senyum gue saat itu palsu, ya gue berusaha tetap tegar
“tapi aku ga bener bener ko, itu Cuma pelampiasan aja, aku ga ada cowo, aku ga ada yang temenin disini, aku juga ga bisa move on dari kamu. Aku bingung mesti gimana. Maaf sayang aku nakal” kata sela menatap gue
“yaaa mau gimana lagi sel” kata gue
“aku dimaafin ga?” kata sela, mukanya seolah tanpa dosa sama gue
Gue lalu bangun dari tempat lesehan itu. “yu cabut udah malem ini” kata gue sambil melihat jam, padahal masih sekitar jam 8an kalau tidak salah.
“sandiiii dengerin aku dulu” kata sela menarik tangan gue, jadi gue saat itu duduk lagi disebelah sela
“ada apa lagi sel?” kata gue
“kamu janji ga akan marah” kata sela
“iya aku ga marah sel” kata gue
“terus kenapa mau pulang?” kata sela
“ya suasananya ga enak, mendingan cabut aja hayu” kata gue
“udah udah san, gini ya gue tau sela” kata farrel
“yaa terus” kata gue
“sela Cuma cari pelampiasan, dia ga pake sayangnya ke cowo cowo itu” kata farrel
“ouh berarti lebih dari 1 dong sel?” kata gue
“rell!” kata sela ke farrel
“sel, kita harus buka bukaan, ga boleh ada yang ditutup tutupi, sorry sel ini demi hubungan kalian kedepan” kata farrel bijak, gue Cuma menanggukan kepala
“gini, sela pernah curhat sama gue san, dia ga bisa move on sama lu, gue gatau kenapa, padahal gue sebagai temannya udah sering comblangin dia sama temen temen gue, jujur aja gue kasihan sama dia yang ga ada arah tujuan” kata farrel
“kita semua udah gede, oke sela udah ML sama beberapa laki laki, gue tau itu dan gue tau sama siapa aja” kata farrel
“gue tau sela cantik, sexy, setiap temen gue yang gue comblangin pasti dia mau sama sela ga pernah nolak njir” kata farrel
“sekarang gini san, sela kesini (bandung) memang niatnya buat lupain lu, dia banyak minum gitu dan gituan sama orang lain itu buat lupain lu, tapi siapa sangka dia sekarang ketemu lagi sama lu. Ga ada yang mengira. Coba tanya dia, kalau memang dijodohin sama lu, pasti sela ga akan macem macem sama orang lain” kata farrel
“lu bakalan berhubungan sama dia kan? Bukan sama masa lalunya? Mungkin bodynya udah terlihat sama orang lain, tapi hatinya tetep sama lu” kata farrel. Omongannya buat gue sedikit terenyuh tapi tetap saja sakit hati
“iya betul san” kata devi menimpali
“….” Gue diam, gue sebenernya males tanggapin mereka saat itu
“yaudah mau gimana lagi, udah kejadian” kata gue
“gue sih jujur aja sakit ya denger kenyataan ini, tapi nasi udah jadi lontong, udah ga bisa diapa apain lagi selain dimakan atau dibuang” kata gue
“ya itu tergantung lu san, lu mau makan apa buang itu lontongnya” kata devi
“gue lagi pikirin” kata gue
Sela diam sedari tadi sambil terisak, gue tau dia sangat sedih mendengar ini. Gue tau sela seperti ini karena gue juga. karena gue cuek dan loss kontak sama dia. tapi cara dia salah buat lupain gue dengan seperti itu. Sekali lagi gue sayang sama sela tapi sela yang membuat gue menjauh dari dia. apakah ini artinya sela bukan jodoh gue? hemmmm gue mikirin saat itu.
Gue bangun dan memakai sepatu
“mau kemana sayang?” kata sela pelan
“keluar dulu ya sebentar, cari angin” kata gue ke sela sambil senyum, sela hanya diam sambil menangis
Gue lalu keluar warung coba melihat sekitar, saat itu masih cukup gelap suasana lingkungan disana, kalau ga salah dibelakang warung itu hutan atau apa gitu gue lupa. Sambil berkeliling melihat lihat, gue duduk dibatu besar dekat sana. Gue merenungkan nasib gue yang begitu sial, udah dapet lagi sama sela, udah nemu feel nya tapi dia ternyata seperti itu. Gue berpikir antara gue mau kabur atau loncat aja dari sana dan gamau ketemu lagi sama sela dan lainnya. Sambil merungkan nasib gue, Tak lama rahayu muncul disamping gue
“lagi galau nih ye” kata ayu
“iya nih ayu” kata gue
“udah udah jangan sedih” kata ayu
“haha iya ayu” kata gue senyum
“besok jadi kan?” kata ayu
“gue udah males ayu” kata gue
“lah kenapa?” kata ayu
“ya kemarin ada sela, dia jadi semangat gue, walau gue masih sebel sama dia karena masa lalunya tapi gue sebenernya sayang, tapi barusan gue mendapatkan kenyataan pahit tentang sela” kata gue
“yaaahh jangan gitu dong bro sandi, kita harus tetep ambil mbah purwo” kata ayu
“ya palingan gue aja dah sendiri” kata gue
“yakin berani? Disana serem serem loh” kata ayu
“kan ada ayu temenin” kata gue
“lahh engga, saya ga temenin” kata ayu
“lahhh ko ga temenin sih” kata gue
“saya kan Cuma menyampaikan saja pesan dari mbah purwo bro sandi” kata ayu
“saya juga takut kalau kesana, penunggunya macan sama kera semua, ihh ogah deh” kata ayu
“setan ko takut setan, heran” kata gue dalam hati
“macan sama kera beneran?” kata gue
“macan dan kera jin atuh” kata ayu
“duhhh gimana dong, ya gue juga ga bawa apa apa” kata gue
“ya kamu harus dengan mereka, kesampingkan dulu masalahmu dari pada menambah masalah dikemudian hari” kata ayu
“baik deh ayu, nanti saya sama mereka, terima kasih ya” kata gue, lalu ayu menghilang
Gue lalu melihat sela keluar dari warung dan berjalan menuju gue, sela senyum tertahan melihat gue…
“sayang hayu ke warung lagi, disini dingin” kata sela menarik tangan gue
“ah ntar aja sel, gue masih mau disini” kata gue menahan tarikan tangan sela
“sayang, aku minta maaf, aku benar benar menyesal, aku ga akan melakukan itu lagi aku janji, aku pulang nanti ke jakarta, aku nanti sama kamu disana ya, kita mulai lagi dari 0 ya sayang. Aku mohon” kata sela memohon
“apa aku harus sujud didepan kamu?” kata sela sedikit menunduk
“ehhh engga, engga boleh sujud depan orang selain sama yang di Atas” kata gue membangunkan sela
Sela lalu duduk disamping gue sambil memeluk gue, saat itu kami hanya diam saja tak lama ada suara dari arah belakang gue
“sreeeekk sreeekkk” suara itu, seperti suara saat gue mendorong motor ketika bensin habis
“ehhh ayuuu udah jangan nakut nakutin lagi deh” kata gue
“ada siapa yang?” kata sela
“coba lihat kebelakang ada apa? Palingan si ayu bercanda lagi” kata gue
Sela menoleh kebelakang…
“ahhh engga ada apa apa tuh” kata sela
“coba kamu yang lihat” kata sela
Lalu gue coba menoleh kebelakang,
“wooooow” kata gue kaget sekaligus kagum, melihat ular putih bersinar yang besar. Seperti wujud mbah tam.
“ada apa sayang?” kata sela melihat sekitar
“ada ular, jin ular berwarna putih, dan dia sedang melihat kearah sini” kata gue sambil menunjuk ular itu
“ular putih???” kata sela
“tunggu disini, jangan ikutin gue” kata gue ke sela, sela hanya mengangukan kepalanya.
Lalu gue menghampiri ular itu, samar samar (saat gue berjalan ke arah ular putih) gue mendengar seperti langkah kaki yang mendekat dari kegelapan. Ular putih itu mundur perlahan dari hadapan gue, semakin gue maju ular itu semakin mundur
“heyy tunggu, jangan kemana kemana” kata gue, gue lihat ular putih itu seperti malu sama gue
“tenang, saya tidak akan menyakitimu” kata gue
Ular putih itu diam, tapi tak lama ada seseorang yang datang dari arah pepohonan. Wujudnya tinggi besar dengan pakaian tempur jaman dulu, memakai perisai dan pedang yang panjang.
“ehhhh siapa anda?” kata gue kaget, gue yang jadi mundur beberapa langkah melihat sosok itu
“perkenalkan, Nama saya Raden jaya kusuma (namanya memang ada radennya tapi nama belakangnya gue ganti dicerita ini) saya adalah PANGLIMA TEMPUR KERAJAAN GAIBmbah purwo” kata wujud tersebut sambil menunduk ke arah gue
“lahhh ada apa ini?” kata gue bingung….
Nantikan kelanjutnnya di
Part 122 : Petualangan di hutan Bandung, maaf gue sekarang udah mulai sibuk jadi tidak bisa update setiap hari seperti ketika PSBB, perut butuh diisi dan cicilan perlu dibayar
~~~~~~~~~
Terima kasih bagi yang sudah membaca, jangan lupa follow IG gue ya : supermansistem dan subscribe channel youtube gue :
Youtube Gue
untuk bantu support gue di link :
https://saweria.co/donate/supermansistem
Atau bisa via
BCA : 5420-4410-71 (sahabat gue)
Terima kasih
