- Beranda
- Stories from the Heart
Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh
...
TS
dchantique
Cintaku Terhalang Bentuk Tubuh

[Event Kaskus Kreator] Benarkah cinta itu harus selalu sempurna?

Ini kisahku 2 tahun lalu, saat pertama dan terakhir kalinya berhubungan dengan seorang lawan jenis. Sebut saja Yudo, yang dikenalkan oleh sepupu nenekku padaku atas permintaan sahabatnya.
Nenek Shofia dan Dedeh, ibu kandung Yudo merupakan sahabat lama yang sudah menjalin kedekatan sejak 4 tahun lalu. Bu Dedeh merasa khawatir pada Yudo, karena setiap punya kekasih tak pernah sesuai dengan keinginannya.
Ada yang matre, suka pakai baju ketat sampai hobi peluk-peluk Yudo dengan mesra. Wajarlah yang berpacaran begitu, tapi entah apa yang diinginkan Bu Dedeh untuk calon pasangan anaknya.
Nenek Shofi yang sangat ingin membantu, tiba-tiba saja ingat aku, yang dikenal masih jomlo. Bukan karena pemilih atau merasa diri ini lebih mulia dari yang lain. Aku merasa takut saja, bila harus memulai hubungan dengan seseorang.
Latar belakangku yang merupakan orang tak punya, ditambah punya paman dan bibi yang mempunyai kelainan sejak lahir, membuat diri ini mustahil ada yang naksir.
Singkat cerita, tiba-tiba suatu sore Nek Shofia dan Yudo datang ke tempat kerjaku, tanpa sempat memberi tahu. Kebetulan saat itu, aku sedang beres-beres di kantor bagian dalam, tak tahu kedatangan mereka.
Sampai akhirnya, seorang teman memberi tahu dan langsung saja ku temui mereka. Nek Shofia yang ku kenal sebagai wanita yang heboh, teramat antusias mengenalkan kami.
Aku berusaha menghormati, dengan mengulurkan tangan pada Yudo, yang melirikku dari ujung kaki hingga kepala. Jujur, aku risih juga kesal, sadar kok kalau badan ini melar dan enggak ada bentuknya!
Pandangannya seolah meremehkan entah takjub, membuat aku mempunyai pemikiran jika hubungan ini bakal ada kendala.
Segera saja ku tegur, eh dia sepertinya terkejut dan terkesan geragapan, mungkin menyesal karena gadis ini tak sebahenol bayangannya.
Namun jangan salah, biarpun gemuk begini, badanku termasuk tinggi dan pas untuk ukuran orang gendut normal.
Awalnya, aku kira dia merasa jijik dan setelah itu tak mau menghubungiku lagi tapi ternyata tidak. Dia masih sering ngobrol lewat WA, meskipun tak pernah memberi tahu alamat jejaring sosialnya yang lain.
Dari cara bicaranya, aku sudah merasa yakin dan ingin menjadikan dia pasanganku. Meskipun aku kesal juga, karena harus terus memancing dia untuk mengobrol tanpa ada inisiatif dari Yudo.
Seminggu sudah, kami saling menyapa lewat whatsapp, hingga suatu hari dia berencana datang ke rumahku.
Ibuku yang teramat girang karena anaknya didatangi seorang pria, mendadak membuat pecel dan makanan lainnya. Aku maklumi saja, mungkin itu rasa bahagianya karena aku akan segera memiliki pasangan hidup.
Sayang, Ibuku enggak tahu jika sebenarnya ada yang masih mengganjal di hati. Terlebih sikap Yudo yang seperti terpaksa bertemu denganku, tapi kuabaikan demi kebahagiaan ibu dan keluarga.
Pagi itu, sekitar jam 09 pagi dia pun tiba di rumahku, membuatku mendadak berganti baju dan pakai kerudung.
Ternyata saat bertemu langsung, kita berdua justru lebih menyambung, setidaknya paham ap yang sedang ku bicarakan.
Tiba-tiba di tengah asyiknya berbicara, dia meminta satu hal yang membuatku terperenyak, bertemu orang tuanya.
Entah kenapa, mendadak ada perasaan tak enak dalam hati, seolah ini adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengan keluarga Yudo. Berbekal ucapan basmalah, berangkatlah kami menuju rumah Yudo yang hanya berbeda kecamatan denganku.
Sambil membawa makanan buatan ibuku, aku harap ibunda Yudo persis seperti yang diceritakan Nek Shofia, baik dan ramah. Sampailah kami di rumahnya, tapi sebelum itu aku dikenalkan pada sanak saudara lain Yudo.
Dari cara mereka merespon dan tak memandangku rendah, cukup membuktikan bahwa diri ini sudah sangat diterima dengan baik. Namun uwaknya Yudo mewanti-wanti agar aku berdoa, supaya diterima oleh ibunya Yudo.
Melihat sepak terjang ibunya Yudo yang sering menolak calon menantunya membuatku pesimis.
Pakai baju seksi saja, kata Nek Shofia dia menolak mentah-mentah, gimana aku yang tak ada bentuk ini? Lagi-lagi para ipar sepupunya meyakinkanku untuk berani, bukannya membantu menemukan cara untuk menaklukan sang wanita.
Minta bantuan Yudo? Rasanya tak mungkin, mengingat dia itu anak Mami yang luar biasa penurut. Akhirnya, aku hanya bisa pasrah pada Allah semata. Yudo mulai mengajakku ke rumahnya, lalu beruluk salam pada penghuni rumah.
Terdengar suara seorang ibu, yang aku yakin adalah ibunya Yudo. Begitu dibuka, wajah wanita itu mendadak cemas dan mencium kedua pipi anaknya.
Bahkan menanyakan apakah sudah makan atau belum, membuat aku syok menyaksikan kejadian itu.
Seorang berumur 29 tahun diperlakukan layaknya anak-anak? Enggak salah? Seketika aku sadar dan paham, mengapa hati ini tak berhenti berkecamuk.
Ternyata Yudo seorang anak yang terlampau dimanja ibunya, apapun yang perintahkan sudah pasti dituruti. Kalau aku jadi istrinya, alamat harus berbagi Yudo dan banyak-banyak bersabar.
“Udo, darimana saja? Ayo cepet sholat dan makan, nanti perutmu sakit,” begitulah kira-kira yang diucapkan Bu Dede, ibunya Yudo.
“Iya Mah, Udo bentar lagi sholat dan makan, kok. Pan Udo teh habis dari rumahnya Devi, untuk ajak dia kesini,” terdengar suara Yudo menyebut namaku, tak pelak membuatku bergetar karena akan bertemu calon mertua.
“Mana, kenapa enggak diajak masuk?”, sambutan Ibu Yudo cukup baik, saat ku lihat senyum tulus disana.
“Ada ini, Mah. Neng, ayo kesini,” tiba-tiba Yudo memanggilku dengan sebutan Eneng lalu menyuruhku menyalami Bu Dede.
Apakah wajah Bu Dede masih sama? Sikapnya juga apakah tetap heboh, setelah melihat wujud asliku?
Ternyata tidak, seketika raut wajahnya berubah masam dan tak seramah tadi, meski tetap mengajakku masuk.
Saat ku berikan makanan buatan ibuku, dengan agak ketus dia menjawab,” Aduh tak usah repot-repot atuh, kasihan Mamanya. Enggak bawa bingkisan juga tak apa.”
Kalau orang biasa mungkin menganggap biasa kalimat itu, tapi aku tidak. Dari kalimatnya, ku akui ada ketidaksetujuan dalam diri Bu Dede.
Mulai dari duduk berjauhan, hingga sikapnya yang mengambil salep otot, makin menambah rasa tak enak di hati.
Dia pun mulai bertanya-tanya tentang diriku dan keluarga, yang apesnya membuat mulut ini berkata polos.
Menceritakan semua keadaan keluargaku tanpa terkecuali, di saat itulah Bu Dede langsung menjauhiku.
Dari mendadak membelakangi, hingga berkali-kali mengoleskan salep pada kakinya.
Saat itu, aku terlalu naif, berpikir penampilan tak masalah, yang penting saling cinta. Setelah Yudo makan, tiba-tiba dia dipanggil dan disuruh menemu ibunya. Aku pun memilih diluar menunggu.
Tiba-tiba setelah berbincang ibunya, Yudo meminta aku pulang dengan alasan takut kesorean.
Meskipun curiga, aku lagi-lagi tak ingin banyak bertanya. Seminggu kemudian, Yudo tak ada tanda-tanda memghubungiku kembali.
Setiap aku mengirim pesan tak pernah direspon. Tanteku berinisiatif menghubunginya di whatssap, menanyakan mengapa Yudo tak lagi datang.
Pernyataannya sungguh membuatku sakit hati juga sedih, ibunya tak suka wanita gendut mirip tempayan air. Ditambah ketakutan ibunya yang takut keturunan kami, ada yang mirip saudara-saudara ibuku yang autis.
Astaghfirullah, ku lafadzkan dzikir, kala mendengar kejujuran Yudo pada Uwak. Kenapa dia tak mengabariku? Apakah diriku ini teramat menjijikan, hingga tak layak untuk diberi tahu.
Lalu ku beranikan menanyakan lewat Yudo, tapi jawabannnya sungguh di luar ekspetasi. Dia berpikir aku mau banget, minta akses darinya tanpa terkecuali, padahal niat hati menghubunginya secara baik tanpa ada maksud tertentu.
Akhirnya ku luapkan emosi, berkata jika dia tak tahu tatakrama, terhadap hubungan kami hingga ku putuskan menghapus nama pria itu selamanya dari hidup ini.
Hingga sekarang, aku belum bisa menemukan pria sejati yang bisa ku jadikan teman sampai surgaku. Rasa takut akan penghinaan pada tubuhku, keluargaku dan kondisi ekonomi tak begitu bagus, menjadi penyebabnya.
Mungkin Yudo bukan pria yang pantas untukku, kedatangan dia dalam kehidupanku adalah ujian hidup yang paling berat.
Tak terbayang, bila aku benar-benar harus hidup dengan mertua bermulut kasar dan tajam, plus suka body shamming.
Semoga ceritaku, bisa membuat yang membaca terinspirasi dan tetap semangat mencari calon pasangan hidup.
***Tamat***
Ciamis, 03 Mei 2020
Dephie

Sumber Gambar : Kompasiana
Diubah oleh dchantique 30-07-2020 13:11
vanilla_91rl dan 62 lainnya memberi reputasi
61
5.4K
201
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dchantique
#55
[Cerpen] Getar Rindu
Saat getaran rindu bertemu penyembuhnya

Sesosok gadis berhasil melewati pagar pembatas sekolah yang terkenal tajam. Tak seorang pun mampu melewatinya, itupun perlu latihan yang panjang.
Nampaknya, hari ini dirinya tak beruntung, karena sebuah langkah kaki. Mendadak sekujur tubuh mengigil saat menyadari jika itu suara salah satu guru.
"Devita Nur Amanah, Kamu itu perempuan atau laki-laki, hobi kok meloncati pagar?" ketus seorang bersuara berat.
"Aduh, Pak Jilan, maafin Saya, ini darurat. Pintu gerbang sudah digembok, jadi Saya berinisiatif melompatinya,"ucap Devita atau Devi seraya.
"Ya aku maafkan, Dev. Asalkan jangan seperti ini lagi, masa calon istri penerus pondok begitu,"jawab seseorang yang membuat Devi geram
"Yudo!! Nggak sopan ih, buat ku kaget saja," seru Devi seraya memukul pria itu, dengan map miliknya.
"Maaf, lagipula kamu kenapa, harus naik ke pagar segala?"tanya Yudo, pria yang baru saja berpura-pura jadi guru BK.
"Kepepet alias madharat, daripada aku, ketahuan Pak Jilan. Dia kan sakti tuh, setelah berhasil keluar dari Desa Igel,” ujar Devi.
"Terus kamu percaya, dia bakal mengguna-guna kamu? Astagfirullah, kamu harus percaya pada Allah kalau pertolongan-NYA, akan menyertaimu," nasehat Yudo.
"Iya, aku tahu tapi tetep saja, cerita itu seram. Buktinya Pak Jilan berhasil menemukannya terus ngilmu,"timpal Devi.
"Sudahlah, mending kita cepetan masuk ke kelas, nanti Pak Dilan keburu tahu," ajak Yudo yang diangguki Devi.
Devi dan Yudo merupakan siswa teladan, yang selalu menempati posisi 1 dan 2, menyisakan Nuraliya Puspita di tempat ketiga.
Hubungan keduanya begitu akrab, sehingga banyak menduga mereka berpacaran. Hingga kini, tak ada kebuktiaan dari dugaan itu.
Sayangnya, kebiasaan Devi yang sering telat masuk, membuat seluruh temannya mencibirnya. Aliya selalu menghasut beberapa orang, agar semua menjauhi Devi.
Bahkan menyebarkan isu, jika gadis yang mirip Ayana Moon itu, adalah anak haram yang dibuang.
Hal itu, membuat Devi merasa lemah, dan mogok pergi ke sekolah. Membuat Umma Nagita, sang ibu heran karena biasanya, si bungsu begitu semangat.
“Neng, kamu kok belum mandi sih? Emangnya, kamu nggak mau pergi sekolah?” tanya Umma Nagita.
“Devi sakit, Umma. Ijinkan aku, istirahat di rumah hari ini, ya?” pinta Devi memohon ijin, membuat Umma Nagita curiga.
“Mana yang sakit, sini Umma pegang,” tangan Umma Nagita memegang dahinya," dingin begini, pake alasan nggak mau masuk sekolah."
“Umma nggak tahu sih, mereka mengatakan aku ini anak pungut, yang dibuang oleh para tukang zina. Aku tuh sedih, pas tahu aku bukan anak Umma,” luka tak kasat mata, dapat Umma Nagita rasakan, kala mendengar ucapan itu.
“Neng, jangan bilang begitu, biarlah orang berkata apa. Neng itu kesayangan kita semua,” ucap Umma Nagita seraya meneteskan air mata, membuat Devi merasa bersalah..
“Umma, maafin aku, sudah buat Umma sedih,” Devi menghambur ke arah Umma Nagita, memohon maaf atas segala kesalahan.
“Makanya, neng itu jangan suka terhasut omongan orang, percayalah tak ada, yang tak sayang kamu,"kata Alkindi, sang kakak sulung yang baru saja pulang dari kliniknya.
"Bener kata Bang Kindi, masa Devi mungil kita dibilang anak pungut, kasih tahu Bang Abi orangnya,Neng," seru Alfarabi, kakak keduanya yang juga baru datang dari mengajar silat.
“Kalian ini, bukannya berganti kostum, malah ngerecokin si Neng,” Omel Umma Nagita membuat kedua lelaki itu tersenyum malu.
"Jangan dicontoh ya, Dev. Kamu mending contoh saja Abang , sudah sholeh terus pinter cari duit lagi," Alfarizi alias Izzie, kakak ketiganya ikut bergabung setelah mendapat berita adiknya menangis.
“Devi, meskipun wajahmu berbeda dari kami semua, tapi kamu adalah kebanggaan kami, sumber kebahagiaan di hidup Abba. Walapun orang lain mencaci, Abba tetap membelamu jadi jangan pernah, kamu meragukan kami,” seketika semua yang ada disana, menangis haru.
“Oh ya, Dev. Tadi Nak Yudo mencarimu, katanya anak-anak diniyah kurang pengajar jadi kamu disuruh kesana,” Abba Raffi, menyampaikan pesan dari anak pimpinan pesantren kepada Devi.
“Baik Abba, Devi bakal datang kesana sore nanti,” jawab Devi.
Setiap sore, di Pesantren As-Salam, Devi membantu mengajar ngaji di sekolah TPA. Meskipun banyak yang tak menyukai latar belakangnya, tapi rekan wanitanya mengakui, jika kemampuan mengaji Devi lebih baik dari mereka.
Kordinator Pengajar yakni Yudo alias Yudoyono Atharrazka, sering menegur mereka untuk tidak berbuat demikian, karena takut akan diikuti anak-anak yang sedang diajarnya.
Lain halnya dengan pengajar lelaki, mereka menganggap Devi sebagai jelmaan nyata sang selebgram cantik berhijab. Konon Ayana yang asli korea ini, menjadi inspirasi para wanita muslimah kini.

Bahkan mereka pun berharap, bisa menikahi Devi agar keturunan mereka manis. Sayangnya, pesona Devi tak bisa menggugah hati Nyai Hajjah Ferial Fatimatizzahra dan Kiai Haji Fathurrahman Gustiawan.
Mereka menganggap latar belakangnya, tak sepadan dengan Yudo. Bukan Yudo namanya, jika harus mengikuti keinginan orangtua dengan menjaga jarak. Pria itu tetap berteman dengan Devi, hingga sekarang.
Baginya, selama orang itu tak membawanya pada keburukan, maka itu artinya dia pantas didekati. Hal itu akhirnya menimbulkan sebuah gunjingan, jika Devi sengaja mengajar di pesantren, karena ingin menggoda Yudo.
Akhirnya masalah ini sampai ke telinga Ferial, lalu meminta Devi untuk segera menemuinya. Gelisah pun melanda diri Devi, meski ia dan Yudo tak ada hubungan apapun, selain persahabatan.
Saat tiba di kediaman Yudo, jantung Devi bergetar kala memandang Nyai, yang memasang wajah serius, lalu menyuruhnya duduk.
“Ustadzah, ayo silakan duduk, jangan termenung seperti itu, nanti syetan mudah masuk,” ucap Ferial.
Devi tersadar dari termenungnya, lalu mengangguk dan segera dudul di kursi yang telah disediakan.
“ Terima kasih, Bu Nyai,” ucapnya.
“Apakah kamu yang bernama, Devita Nur Amanah, yang satu sekolah dengan Yudo?” tanya Ferial, seraya meneliti Devi, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Devi perlahan mengangguk, lalu terdiam seribu bahasa, menyisakan keheranan di diri Ferial.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya saat melihat sang gadis terdiam.
“Iya Bu Nyai, saya baik-baik saja,” ucap Devi, yang mendadak hilang tenaga.
Tak pernah terbayangkan olehnya, jika dirinya harus menemui ibu paling bersahaja di pesantren, juga ditakuti para bakal calon menantunya.
“Ustadzah Devi, mohon maaf jika permintaanku untuk menemuimu, menganggu aktivitas mengajarmu,” ujar Ferial, yang merasa gadis di hadapannya ini seperti kurang nyaman.
Devi memberanikan diri mengangkat wajah, lalu menggeleng seraya menampilkan sebuah senyuman.
“Saya kebetulan memang sudah selesai mengajar,” jawab Devi.
“Baiklah jika begitu, jadi maksudku itu, hanya ingin bertanya tentang hubunganmu dengan anakku,” ungkap Ferial yang ternyata sudah dapat diterka oleh Devi.
“Bu Nyai, jika boleh jujur kami itu hanya bersahabat,” sahut Devi seraya menghela napas. “Benarkah, tapi aku merasa, kau begitu istimewa?” tanya Ferial.
"Saya tak tahu apa yang bisa dilakukan, untuk membuat Bu Nyai percaya tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam, kami berdua tak lebih dari seorang sahabat,"ucap Devi.
Tanpa disadari, Ferial tersenyum simpul, tak menyangka baru kali ini ia menghadapi seorang wanita, yang tak terkena pesona putranya.
"Kamu yakin, bukankah anakku begitu tampan, tampak serupa dengan Hamas Syahid?" tanya Ferial yang penasaran, dengan kejujuran Devi.

"Bu Nyai, mungkin Ustadz Yudo berwajah yang elok, tetapi tak pantas bagi saya, untuk mengaguminya karena itu berdosa," jawab Devi membuat Ferial semakin yakin, jika gadis ini memang baik.
“Wah, ternyata ketampanan Yudo, tak menggoyahkanmu, Masya Allah,” tambahnya lagi, kali ini sambil tersenyum tipis.
"Saya tak bermaksud begitu, hanya rasanya tak pantas, dua orang yang berkumpul bersama tanpa ikatan sah. Sebab, mereka belum mahram, takutnya ada syetan, yang menjadi pihak ketiga," jelas Devi.
Ferial mengangguk, lalu menyuruh Devi untuk kembali. Investigasinya berhasil, ia tak akan lagi percaya, jika ada yang mengatakan hal buruk tentang Devi.
Beberapa ustadzah nampak berkerumun, rasa penasaran akan apa yang bakal diterima Devi dari Ferial, karena tahu sikap tegas Ibu Pengasuh Pondok Wanita itu.
Sampai Devi muncul di dekat mereka, para rekannya segera menyingkir, mengabaikan rasa penasaran di hati. Meski heran tapi diputuskan untuk pulang.
***
“ Joo Hyun-Ah, akhirnya Eomma menemukanmu, Terima kasih Tuhan,” tiba-tiba sesosok wanita paruh baya memeluknya erat, membuat tubuhnya sedikit limbung.
Hatinya bertanya-tanya, siapakah orang-orang berwajah asia timur ini?
“Maaf, Ibu ini siapa, kenapa tiba-tiba peluk saya?” tanya Devi heran.
“Joo Hyun-Ah, kami ini keluarga kandungmu,” ucap Jung So Min, wanita yang memeluknya.
“Tunggu, Bu. Saya belum paham hal ini, saya mau bertanya dulu dengan Umma saya,” pinta Devi, membuat So Min merasa sedih, anak kandungnya tak percaya.
“Umma siap, menjawab apapun yang jadi tanya di benakmu,” ucap Umma Nagita, berusaha menahan kesedihan, menyadari jika Devi, pasti harus kembali ke keluarga kandungnya.
“Umma, jelaskan padaku, siapa mereka sebenarnya?” tanya Devi, seraya memandang orang tuanya dan sepasang suami istri, berwajah mirip dengannya.
“Mereka orang tua kandungmu, kedatangannya kesini, adalah untuk menjemputmu,”Abba Raffi akhirnya menyahuti ucapan putrinya, saat sadar jika sang istri, sudah tak mampu menahan tangis.
“Raffi-ssi benar, kami adalah orang tua kandungmu. Namaku Bae Yong Joon dan istriku Jung So Min, dulu kami kehilanganmu, saat kabut melanda tanah Andalas, 18 tahun yang lalu,” jelas Yong Joon, sang ayah kandung, menjelaskan kisah mereka, saat berpisah dengannya.
Sementara So Min, ibunya masih menangis haru, akhirnya ia bisa bertemu putrinya.
“Kenapa kalian baru mencariku sekarang? Seharusnya kalian langsung mencariku, beberapa jam setelah kabut berhenti,” seru Devi marah, merasa dirinya barang yang bisa dititipkan, lalu setelah urusan selesai harus dikembalikan.
“Ceritanya tidak seperti itu, Neng. Ada baiknya, kamu dengarkan penjelasan mereka,”nasehat Abba Raffi.
"Neng, mana kamu yang bijak? Kenapa kami merasa, kehilangan seorang adik yang biasa kami kenal?" tanya Izzie dan Abi.
"Neng sayang kan, sama Abi dan Ummi?" Devi mengangguk meski raganya, masih tak ingin beranjak,"Dengarkan penjelasan Appamu, setelah itu semua terserah padamu."
"Abbamu benar, Appa tak ingin memaksamu, melihatmu baik-baik saja adalah kebahagiaan untuk kami,"ujar Yong Joon yang sadar, Devi menuruni sifat keras kepala istrinya.
"Nak, pokoknya kamu harus ikut kami ke korea, Eomma tak ingin kehilanganmu lagi,"bujuk So Min yang ingin sang anak mengikutinya
Devi merespon permintaan ibu kandungnya dengan sebuah syarat, kedua orangtua kandungnya, harus menceritakan kisah yang sebenarnya.
Akhirnya diceritakanlah, detik-detik Yong Joon dan So Min saat kehilangan Devi, saat gempa bumi melanda.
Mereka tak sadar saat beberapa orang sedang mengikuti mereka lalu menculik Devi secara diam-diam. Tanpa perasaan, penjahat yang disewa kakek neneknya itu menjual sang bayi ke penyalur organ tubuh.
Akhirnya setelah kejahatan itu terbongkar, para bayi diserahkan ke dinas sosial, dan disanalah Devi kecil bertemu Abba Raffi. Kalau bukan karena kebaikan hatinya, mereka pasti tak bertemu kembali dengan Devi.
“Aku mengerti, ini semua bukan salah kalian. Untuk itu, dari lubuk hatiku terdalam, aku mohon maaf,” Devi memandang Yong Joon dan So Min," Maafkan aku juga, karena aku tak bisa ikut dengan kalian.”
Jawaban Devi membuat semua terhenyak, terutama Abba Raffi, Yong Joon dan So Min.
"Tak bisa ikut kami ke korea, kenapa nak?” suara So Min mendadak hilang, mendengar ucapan putri kandungnya.
“Ya, Eomma juga Appa, Devi harap kalian menerima keputusan ini,”ucap Devi akhirnya, membuat Umma Nagita lega tapi So Min tak terima.
Dia terus mendesak, bahkan meminta gadis itu untuk tetap pergi bersamanya, membuat Devi kesal. Rasa marah, membuatnya muak dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
SoMin kaget, karena tak menyangka reaksi sang anak seperti itu, hingga Umma Nagita membujuknya untuk membiarkan Devi sendiri.
Pagi harinya, Fuad membelalakan matanya, menatap sosok wanita yang tak biasanya, terlihat di pagi hari.
Devi hanya memberikan senyum terbaiknya, tanpa peduli jika sikapnya menimbulkan pertanyaan di benak satpam 45 tahun itu.
Pak Jilan, ikut heran melihat murid wanita terpandai di sekolahnya, mendadak rajin.
Ada apakah ini, keajaiban kah? Mungkin itu adalah pemikiran orang-orang, saat berpapasan dengan Devi.
Saat tiba di kelasnya, sang musuh bebuyutan, Aliya kembali mengibarkan bendera perang.
“Tumben, anak pungut datangnya pagi. Wah, jangan-jangan buat naikin pamornya itu. Secara namanya sudah tercemar, di sekolah ini,” ucap Aliya seraya berpura-pura berbicara, bersama temannya, Mimin.
“Wah bener kayaknya, si anak pungut lagi sedih tuh, sadar kali dia, kalau darahnya berasal dari keturunan tak jelas,”timpal Mimin, membuat Devi meradang, seraya memukul meja di depannya.
Kemudian langkahnya mengayun, menuju Aliya dan Mimin yang mengkeret, merasa waswas dengan perubahan mimik muka Devi.
“Lain kali, sebelum bicara pikirkan lebih dulu. Apa yang terlihat bukan berarti yang sesungguhnya,” ucapan Anuy begitu dingin.
Membuat kedua wanita itu sadar jika tak sepantasnya, mereka meremehkan wanita ahli beladiri itu.
Beberapa bulan kemudian, tibalah hari dimana anak-anak SMA Gaharu, merayakan kelulusannya. Semua menyambut gembira, begitu juga Devi dan Yudo.
Tak berapa lama Devi resah, karena setelah kelulusannya, dia harus meninggalkan Indonesia, kendati hanya sementara.
Meski awalnya menolak, tapi permintaan Umma Nagita, membuat Ayana Moon kw ini setuju untuk pergi.
“Devita Nur Amanah alias Bae Joo Hyun, kamu kenapa bengong?”tegur Yudo, seraya menepuk kepala cantiķ itu dengan ijazahnya.
“Aduh, perbuatanmu barusan hampir merusak tatanan hijabku tahu, ada apa memangnya?” tanya Devi kesal.
"Aku lihat dari tadi, kamu bengòng terus, mungkin ada yang bisa aku bantu,"tawar Yudo.
"Sebenarnya.....”akhirnya Devi menceritakan tentang kegelisahannya, mengenai keraguannya untuk mengikuti orangtua kandung ke Korea.
“Terus keputusan final kamu, apa?” tanya Yudo.
“Entahlah, di satu sisi aku nggak mau tinggalkan Abba, Umma dan ketiga abangku. Namun di sisi lain kedua orangtua kandungku juga tak boleh diabaikan.” Devi mulai mengeluarkan segala unek-uneknya.
“Maksudmu, kamu ingin ada yang menahanmu, supaya bisa kembali lagi kesini?” Yudo bertanya, lalu merubah posisi, menjadi di depan Devi.
“Iya, tapi kamu tahu sendiri, sikapku tomboy dan tak ada satupun yang menyukaiku. Bagaimana bisa, aku punya alasan untuk kembali?” Devi merasa bingung.
Hati kecilnya ingin berada di indonesia saja, bersama keluarga yang telah membesarkannya.
“Kamu tak usah khawatir, aku akan membantumu, supaya kamu bisa kembali kesini dan kita menikah,” jawab Yudo, membuat Devi kaget.
Bagaimana mungkin, yang ia rasakan selama ini, mereka murni sahabat, kendati Devi sempat merasakan rasa itu.
“Ngawur kamu, kaya Pak Kyai bakal kasih restu saja. Kamu sadar nggak sih, kita ini baru lulus sma,”seru Devi seraya menggelengkan kepala, lalu meninggalkan Yudo yang terlihat kesal. Sesuatu yang ingin diucapkannya, tak sempat didengarkan.
Ketika Devi berbalik, sosok kedua orangtuanya tampak tersenyum, tanpa sadar dirinya menghampiri sosok tersebut.
“Eomma, Appa, ba...bagaimana bisa?“ Devi terbata-bata, seraya memeluk tubuh sang wanita, yang menurunkan kecantikan juga kelembutan, pada dirinya.
Tak lupa pelukan pria paruh baya di depannya, semakin membuatnya terperengah.
“Devi, Joo Hyunku sayang. Maafkan Eomma, jika sudah memaksamu beberapa bulan lalu”, ucap So Min seraya menahan haru lalu melanjutkan, “Umma kamu sudah mengatakan, jika kita ini sama-sama keras kepala. Ada baiknya, salah satu harus mengalah dan akhirnya aku melakukannya.”
Mendengar perkataan ibunya, Devi melepaskan pelukan lalu meminta sebuah penjelasan. So Min mengajak Devi untuk duduk, lalu mengisahkan apa yang ia dan suaminya alami. Sejak Devi memutuskan menghindar, demi menata hati.
Wajah sang gadis menangis haru, tak menyangka Allah mendengar doanya, bahkan mengabulkannya dengan cara yang istimewa.
Bahkan lebih, dari yang ia harapkan. Yong Joon meraih tubuh putrinya. sungguh baru kali ini, ia merasakan dekat dengan anaknya. Tak seperti beberapa bulan lalu, ia dan So Min merasa, bagaikan orang lain di hadapan Devi.
”Sudah jangan menangis, Appa tak ingin anak gadisku terus bersedih. Biarlah tanah terbelah yang menguji manusia, telah memisahkan kita hingga membuat getaran rindu ini. Jangan sampai jiwamu menjadi terbelah dua,"ucapan Yong Joon membuat Devi mengangguk.
Umma, Abba dan ketiga kakaknya, mulai menghambur ke arahnya. Mereka bangga, karena Devi menjadi satu-satunya peraih beasiswa dari SMA Gaharu, untuk berangkat ke korea.
Mendadak Devi sedih, itu artinya selama 4 tahun, ia akan kehilangan kehangatan dari Abba Raffi Azhari dan Ummi Nagita Medina.
Tiba-tiba sosok Kyai Gustiawan dan Nyai Ferial datang, membuat Devi terkejut bukan main. Tak menyangka kedatangannya kedua sesepuh pesantren itu.
“Devita, kenapa menangis, harusnya senang dong karena kamulah yang mendapat beasiswanya?” tanya Gustiawan.
“Tak kenapa-napa Pak Kyai, Devi cuma sedih karena akan berpisah dengan Abba dan Umma,” jawab Devi nelangsa.
Ferial segera meraih tubuhnya, memberikan kenyamanan pada Devi.
"Ikhlas nak, jika semua kamu lakukan demikian, maka akan terasa mudah,” tambahnya kemudian.
“Maksud Bu Nyai?” Devi merasa bingung, tak paham perkataan ibunda Yudo tersebut.
“Maknanya adalah suatu saat solusi akan hadir, asalkan kamu mau membuka segala ketidakmungkinan menjadi mungkin.
Sepertinya halnya, gempa bumi sudah memisahkan kamu dan orangtua kandungmu. Ternyata dibalik itu ada sebuah asa hingga kalian bisa bertemu kembali,” jelas Gustiawan.
Meskipun Devi tak sepenuhnya paham, tapi ia percaya jika apa yang diungkapkan merupakan sebuah petuah kebaikan untuknya. Sebait doa terucap, agar dirinya selalu istiqomah.
****
Akhirnya, Debi kembali setelah sekian lama menghirup udara negeri ginseng.
“Indonesia, aku pulang,” ucapnya seraya mengenang masa lalu, serta satu sosok yang diam-diam dirindukannya.
“Tentu kamu harus pulang, karena banyak yang merindukanmu nak,” ucap satu sosok manis keibuan berhijab ungu, So Min.
"Iya Eomma, aku sudah kangen pada Abba-Umma dan para abang," ucap Devi.
"Yudoyono, apakah kau tak merindukannya, nak?" tanya Yong Joon.
"Tentu Appa, kami bersahabat, bagaimana mungkin aku tak rindu padanya?" jawab Devi, membuat Yong Joon dan So Min tersenyum.
Devi merindukan Yudo, tapi sangsi jika pria itu belum ada yang memiliki. Jika boleh meminta, ia ingin asanya menjadi nyata, mendampingi Yudo dalam selamanya.
“Akhirnya, getaran rinduku berkurang karena penenangnya telah kembali,”perkataan seseorang yakni Yudoyono Atharrazka, yang melayangkan senyum, membuat Devi tersipu.
Takdir Allah tak ada yang tahu, begitu kalimat kun diucapkan maka fayakun jawabannya, artinya hal itu akan benar-benar terjadi. Sekeras apapun getaran bumi, yang memisahkan, maka Allah akan mempertemukan mereka kembali.
Tamat
Belajar Bersama Bisa
Sumber Gambar :
Buka We Didie
Buka We Di Dieu
Buka We Di Diru

Sesosok gadis berhasil melewati pagar pembatas sekolah yang terkenal tajam. Tak seorang pun mampu melewatinya, itupun perlu latihan yang panjang.
Nampaknya, hari ini dirinya tak beruntung, karena sebuah langkah kaki. Mendadak sekujur tubuh mengigil saat menyadari jika itu suara salah satu guru.
"Devita Nur Amanah, Kamu itu perempuan atau laki-laki, hobi kok meloncati pagar?" ketus seorang bersuara berat.
"Aduh, Pak Jilan, maafin Saya, ini darurat. Pintu gerbang sudah digembok, jadi Saya berinisiatif melompatinya,"ucap Devita atau Devi seraya.
"Ya aku maafkan, Dev. Asalkan jangan seperti ini lagi, masa calon istri penerus pondok begitu,"jawab seseorang yang membuat Devi geram
"Yudo!! Nggak sopan ih, buat ku kaget saja," seru Devi seraya memukul pria itu, dengan map miliknya.
"Maaf, lagipula kamu kenapa, harus naik ke pagar segala?"tanya Yudo, pria yang baru saja berpura-pura jadi guru BK.
"Kepepet alias madharat, daripada aku, ketahuan Pak Jilan. Dia kan sakti tuh, setelah berhasil keluar dari Desa Igel,” ujar Devi.
"Terus kamu percaya, dia bakal mengguna-guna kamu? Astagfirullah, kamu harus percaya pada Allah kalau pertolongan-NYA, akan menyertaimu," nasehat Yudo.
"Iya, aku tahu tapi tetep saja, cerita itu seram. Buktinya Pak Jilan berhasil menemukannya terus ngilmu,"timpal Devi.
"Sudahlah, mending kita cepetan masuk ke kelas, nanti Pak Dilan keburu tahu," ajak Yudo yang diangguki Devi.
Devi dan Yudo merupakan siswa teladan, yang selalu menempati posisi 1 dan 2, menyisakan Nuraliya Puspita di tempat ketiga.
Hubungan keduanya begitu akrab, sehingga banyak menduga mereka berpacaran. Hingga kini, tak ada kebuktiaan dari dugaan itu.
Sayangnya, kebiasaan Devi yang sering telat masuk, membuat seluruh temannya mencibirnya. Aliya selalu menghasut beberapa orang, agar semua menjauhi Devi.
Bahkan menyebarkan isu, jika gadis yang mirip Ayana Moon itu, adalah anak haram yang dibuang.
Hal itu, membuat Devi merasa lemah, dan mogok pergi ke sekolah. Membuat Umma Nagita, sang ibu heran karena biasanya, si bungsu begitu semangat.
“Neng, kamu kok belum mandi sih? Emangnya, kamu nggak mau pergi sekolah?” tanya Umma Nagita.
“Devi sakit, Umma. Ijinkan aku, istirahat di rumah hari ini, ya?” pinta Devi memohon ijin, membuat Umma Nagita curiga.
“Mana yang sakit, sini Umma pegang,” tangan Umma Nagita memegang dahinya," dingin begini, pake alasan nggak mau masuk sekolah."
“Umma nggak tahu sih, mereka mengatakan aku ini anak pungut, yang dibuang oleh para tukang zina. Aku tuh sedih, pas tahu aku bukan anak Umma,” luka tak kasat mata, dapat Umma Nagita rasakan, kala mendengar ucapan itu.
“Neng, jangan bilang begitu, biarlah orang berkata apa. Neng itu kesayangan kita semua,” ucap Umma Nagita seraya meneteskan air mata, membuat Devi merasa bersalah..
“Umma, maafin aku, sudah buat Umma sedih,” Devi menghambur ke arah Umma Nagita, memohon maaf atas segala kesalahan.
“Makanya, neng itu jangan suka terhasut omongan orang, percayalah tak ada, yang tak sayang kamu,"kata Alkindi, sang kakak sulung yang baru saja pulang dari kliniknya.
"Bener kata Bang Kindi, masa Devi mungil kita dibilang anak pungut, kasih tahu Bang Abi orangnya,Neng," seru Alfarabi, kakak keduanya yang juga baru datang dari mengajar silat.
“Kalian ini, bukannya berganti kostum, malah ngerecokin si Neng,” Omel Umma Nagita membuat kedua lelaki itu tersenyum malu.
"Jangan dicontoh ya, Dev. Kamu mending contoh saja Abang , sudah sholeh terus pinter cari duit lagi," Alfarizi alias Izzie, kakak ketiganya ikut bergabung setelah mendapat berita adiknya menangis.
“Devi, meskipun wajahmu berbeda dari kami semua, tapi kamu adalah kebanggaan kami, sumber kebahagiaan di hidup Abba. Walapun orang lain mencaci, Abba tetap membelamu jadi jangan pernah, kamu meragukan kami,” seketika semua yang ada disana, menangis haru.
“Oh ya, Dev. Tadi Nak Yudo mencarimu, katanya anak-anak diniyah kurang pengajar jadi kamu disuruh kesana,” Abba Raffi, menyampaikan pesan dari anak pimpinan pesantren kepada Devi.
“Baik Abba, Devi bakal datang kesana sore nanti,” jawab Devi.
Setiap sore, di Pesantren As-Salam, Devi membantu mengajar ngaji di sekolah TPA. Meskipun banyak yang tak menyukai latar belakangnya, tapi rekan wanitanya mengakui, jika kemampuan mengaji Devi lebih baik dari mereka.
Kordinator Pengajar yakni Yudo alias Yudoyono Atharrazka, sering menegur mereka untuk tidak berbuat demikian, karena takut akan diikuti anak-anak yang sedang diajarnya.
Lain halnya dengan pengajar lelaki, mereka menganggap Devi sebagai jelmaan nyata sang selebgram cantik berhijab. Konon Ayana yang asli korea ini, menjadi inspirasi para wanita muslimah kini.

Bahkan mereka pun berharap, bisa menikahi Devi agar keturunan mereka manis. Sayangnya, pesona Devi tak bisa menggugah hati Nyai Hajjah Ferial Fatimatizzahra dan Kiai Haji Fathurrahman Gustiawan.
Mereka menganggap latar belakangnya, tak sepadan dengan Yudo. Bukan Yudo namanya, jika harus mengikuti keinginan orangtua dengan menjaga jarak. Pria itu tetap berteman dengan Devi, hingga sekarang.
Baginya, selama orang itu tak membawanya pada keburukan, maka itu artinya dia pantas didekati. Hal itu akhirnya menimbulkan sebuah gunjingan, jika Devi sengaja mengajar di pesantren, karena ingin menggoda Yudo.
Akhirnya masalah ini sampai ke telinga Ferial, lalu meminta Devi untuk segera menemuinya. Gelisah pun melanda diri Devi, meski ia dan Yudo tak ada hubungan apapun, selain persahabatan.
Saat tiba di kediaman Yudo, jantung Devi bergetar kala memandang Nyai, yang memasang wajah serius, lalu menyuruhnya duduk.
“Ustadzah, ayo silakan duduk, jangan termenung seperti itu, nanti syetan mudah masuk,” ucap Ferial.
Devi tersadar dari termenungnya, lalu mengangguk dan segera dudul di kursi yang telah disediakan.
“ Terima kasih, Bu Nyai,” ucapnya.
“Apakah kamu yang bernama, Devita Nur Amanah, yang satu sekolah dengan Yudo?” tanya Ferial, seraya meneliti Devi, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Devi perlahan mengangguk, lalu terdiam seribu bahasa, menyisakan keheranan di diri Ferial.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya saat melihat sang gadis terdiam.
“Iya Bu Nyai, saya baik-baik saja,” ucap Devi, yang mendadak hilang tenaga.
Tak pernah terbayangkan olehnya, jika dirinya harus menemui ibu paling bersahaja di pesantren, juga ditakuti para bakal calon menantunya.
“Ustadzah Devi, mohon maaf jika permintaanku untuk menemuimu, menganggu aktivitas mengajarmu,” ujar Ferial, yang merasa gadis di hadapannya ini seperti kurang nyaman.
Devi memberanikan diri mengangkat wajah, lalu menggeleng seraya menampilkan sebuah senyuman.
“Saya kebetulan memang sudah selesai mengajar,” jawab Devi.
“Baiklah jika begitu, jadi maksudku itu, hanya ingin bertanya tentang hubunganmu dengan anakku,” ungkap Ferial yang ternyata sudah dapat diterka oleh Devi.
“Bu Nyai, jika boleh jujur kami itu hanya bersahabat,” sahut Devi seraya menghela napas. “Benarkah, tapi aku merasa, kau begitu istimewa?” tanya Ferial.
"Saya tak tahu apa yang bisa dilakukan, untuk membuat Bu Nyai percaya tapi dari lubuk hatiku yang paling dalam, kami berdua tak lebih dari seorang sahabat,"ucap Devi.
Tanpa disadari, Ferial tersenyum simpul, tak menyangka baru kali ini ia menghadapi seorang wanita, yang tak terkena pesona putranya.
"Kamu yakin, bukankah anakku begitu tampan, tampak serupa dengan Hamas Syahid?" tanya Ferial yang penasaran, dengan kejujuran Devi.

"Bu Nyai, mungkin Ustadz Yudo berwajah yang elok, tetapi tak pantas bagi saya, untuk mengaguminya karena itu berdosa," jawab Devi membuat Ferial semakin yakin, jika gadis ini memang baik.
“Wah, ternyata ketampanan Yudo, tak menggoyahkanmu, Masya Allah,” tambahnya lagi, kali ini sambil tersenyum tipis.
"Saya tak bermaksud begitu, hanya rasanya tak pantas, dua orang yang berkumpul bersama tanpa ikatan sah. Sebab, mereka belum mahram, takutnya ada syetan, yang menjadi pihak ketiga," jelas Devi.
Ferial mengangguk, lalu menyuruh Devi untuk kembali. Investigasinya berhasil, ia tak akan lagi percaya, jika ada yang mengatakan hal buruk tentang Devi.
Beberapa ustadzah nampak berkerumun, rasa penasaran akan apa yang bakal diterima Devi dari Ferial, karena tahu sikap tegas Ibu Pengasuh Pondok Wanita itu.
Sampai Devi muncul di dekat mereka, para rekannya segera menyingkir, mengabaikan rasa penasaran di hati. Meski heran tapi diputuskan untuk pulang.
***
“ Joo Hyun-Ah, akhirnya Eomma menemukanmu, Terima kasih Tuhan,” tiba-tiba sesosok wanita paruh baya memeluknya erat, membuat tubuhnya sedikit limbung.
Hatinya bertanya-tanya, siapakah orang-orang berwajah asia timur ini?
“Maaf, Ibu ini siapa, kenapa tiba-tiba peluk saya?” tanya Devi heran.
“Joo Hyun-Ah, kami ini keluarga kandungmu,” ucap Jung So Min, wanita yang memeluknya.
“Tunggu, Bu. Saya belum paham hal ini, saya mau bertanya dulu dengan Umma saya,” pinta Devi, membuat So Min merasa sedih, anak kandungnya tak percaya.
“Umma siap, menjawab apapun yang jadi tanya di benakmu,” ucap Umma Nagita, berusaha menahan kesedihan, menyadari jika Devi, pasti harus kembali ke keluarga kandungnya.
“Umma, jelaskan padaku, siapa mereka sebenarnya?” tanya Devi, seraya memandang orang tuanya dan sepasang suami istri, berwajah mirip dengannya.
“Mereka orang tua kandungmu, kedatangannya kesini, adalah untuk menjemputmu,”Abba Raffi akhirnya menyahuti ucapan putrinya, saat sadar jika sang istri, sudah tak mampu menahan tangis.
“Raffi-ssi benar, kami adalah orang tua kandungmu. Namaku Bae Yong Joon dan istriku Jung So Min, dulu kami kehilanganmu, saat kabut melanda tanah Andalas, 18 tahun yang lalu,” jelas Yong Joon, sang ayah kandung, menjelaskan kisah mereka, saat berpisah dengannya.
Sementara So Min, ibunya masih menangis haru, akhirnya ia bisa bertemu putrinya.
“Kenapa kalian baru mencariku sekarang? Seharusnya kalian langsung mencariku, beberapa jam setelah kabut berhenti,” seru Devi marah, merasa dirinya barang yang bisa dititipkan, lalu setelah urusan selesai harus dikembalikan.
“Ceritanya tidak seperti itu, Neng. Ada baiknya, kamu dengarkan penjelasan mereka,”nasehat Abba Raffi.
"Neng, mana kamu yang bijak? Kenapa kami merasa, kehilangan seorang adik yang biasa kami kenal?" tanya Izzie dan Abi.
"Neng sayang kan, sama Abi dan Ummi?" Devi mengangguk meski raganya, masih tak ingin beranjak,"Dengarkan penjelasan Appamu, setelah itu semua terserah padamu."
"Abbamu benar, Appa tak ingin memaksamu, melihatmu baik-baik saja adalah kebahagiaan untuk kami,"ujar Yong Joon yang sadar, Devi menuruni sifat keras kepala istrinya.
"Nak, pokoknya kamu harus ikut kami ke korea, Eomma tak ingin kehilanganmu lagi,"bujuk So Min yang ingin sang anak mengikutinya
Devi merespon permintaan ibu kandungnya dengan sebuah syarat, kedua orangtua kandungnya, harus menceritakan kisah yang sebenarnya.
Akhirnya diceritakanlah, detik-detik Yong Joon dan So Min saat kehilangan Devi, saat gempa bumi melanda.
Mereka tak sadar saat beberapa orang sedang mengikuti mereka lalu menculik Devi secara diam-diam. Tanpa perasaan, penjahat yang disewa kakek neneknya itu menjual sang bayi ke penyalur organ tubuh.
Akhirnya setelah kejahatan itu terbongkar, para bayi diserahkan ke dinas sosial, dan disanalah Devi kecil bertemu Abba Raffi. Kalau bukan karena kebaikan hatinya, mereka pasti tak bertemu kembali dengan Devi.
“Aku mengerti, ini semua bukan salah kalian. Untuk itu, dari lubuk hatiku terdalam, aku mohon maaf,” Devi memandang Yong Joon dan So Min," Maafkan aku juga, karena aku tak bisa ikut dengan kalian.”
Jawaban Devi membuat semua terhenyak, terutama Abba Raffi, Yong Joon dan So Min.
"Tak bisa ikut kami ke korea, kenapa nak?” suara So Min mendadak hilang, mendengar ucapan putri kandungnya.
“Ya, Eomma juga Appa, Devi harap kalian menerima keputusan ini,”ucap Devi akhirnya, membuat Umma Nagita lega tapi So Min tak terima.
Dia terus mendesak, bahkan meminta gadis itu untuk tetap pergi bersamanya, membuat Devi kesal. Rasa marah, membuatnya muak dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.
SoMin kaget, karena tak menyangka reaksi sang anak seperti itu, hingga Umma Nagita membujuknya untuk membiarkan Devi sendiri.
Pagi harinya, Fuad membelalakan matanya, menatap sosok wanita yang tak biasanya, terlihat di pagi hari.
Devi hanya memberikan senyum terbaiknya, tanpa peduli jika sikapnya menimbulkan pertanyaan di benak satpam 45 tahun itu.
Pak Jilan, ikut heran melihat murid wanita terpandai di sekolahnya, mendadak rajin.
Ada apakah ini, keajaiban kah? Mungkin itu adalah pemikiran orang-orang, saat berpapasan dengan Devi.
Saat tiba di kelasnya, sang musuh bebuyutan, Aliya kembali mengibarkan bendera perang.
“Tumben, anak pungut datangnya pagi. Wah, jangan-jangan buat naikin pamornya itu. Secara namanya sudah tercemar, di sekolah ini,” ucap Aliya seraya berpura-pura berbicara, bersama temannya, Mimin.
“Wah bener kayaknya, si anak pungut lagi sedih tuh, sadar kali dia, kalau darahnya berasal dari keturunan tak jelas,”timpal Mimin, membuat Devi meradang, seraya memukul meja di depannya.
Kemudian langkahnya mengayun, menuju Aliya dan Mimin yang mengkeret, merasa waswas dengan perubahan mimik muka Devi.
“Lain kali, sebelum bicara pikirkan lebih dulu. Apa yang terlihat bukan berarti yang sesungguhnya,” ucapan Anuy begitu dingin.
Membuat kedua wanita itu sadar jika tak sepantasnya, mereka meremehkan wanita ahli beladiri itu.
Beberapa bulan kemudian, tibalah hari dimana anak-anak SMA Gaharu, merayakan kelulusannya. Semua menyambut gembira, begitu juga Devi dan Yudo.
Tak berapa lama Devi resah, karena setelah kelulusannya, dia harus meninggalkan Indonesia, kendati hanya sementara.
Meski awalnya menolak, tapi permintaan Umma Nagita, membuat Ayana Moon kw ini setuju untuk pergi.
“Devita Nur Amanah alias Bae Joo Hyun, kamu kenapa bengong?”tegur Yudo, seraya menepuk kepala cantiķ itu dengan ijazahnya.
“Aduh, perbuatanmu barusan hampir merusak tatanan hijabku tahu, ada apa memangnya?” tanya Devi kesal.
"Aku lihat dari tadi, kamu bengòng terus, mungkin ada yang bisa aku bantu,"tawar Yudo.
"Sebenarnya.....”akhirnya Devi menceritakan tentang kegelisahannya, mengenai keraguannya untuk mengikuti orangtua kandung ke Korea.
“Terus keputusan final kamu, apa?” tanya Yudo.
“Entahlah, di satu sisi aku nggak mau tinggalkan Abba, Umma dan ketiga abangku. Namun di sisi lain kedua orangtua kandungku juga tak boleh diabaikan.” Devi mulai mengeluarkan segala unek-uneknya.
“Maksudmu, kamu ingin ada yang menahanmu, supaya bisa kembali lagi kesini?” Yudo bertanya, lalu merubah posisi, menjadi di depan Devi.
“Iya, tapi kamu tahu sendiri, sikapku tomboy dan tak ada satupun yang menyukaiku. Bagaimana bisa, aku punya alasan untuk kembali?” Devi merasa bingung.
Hati kecilnya ingin berada di indonesia saja, bersama keluarga yang telah membesarkannya.
“Kamu tak usah khawatir, aku akan membantumu, supaya kamu bisa kembali kesini dan kita menikah,” jawab Yudo, membuat Devi kaget.
Bagaimana mungkin, yang ia rasakan selama ini, mereka murni sahabat, kendati Devi sempat merasakan rasa itu.
“Ngawur kamu, kaya Pak Kyai bakal kasih restu saja. Kamu sadar nggak sih, kita ini baru lulus sma,”seru Devi seraya menggelengkan kepala, lalu meninggalkan Yudo yang terlihat kesal. Sesuatu yang ingin diucapkannya, tak sempat didengarkan.
Ketika Devi berbalik, sosok kedua orangtuanya tampak tersenyum, tanpa sadar dirinya menghampiri sosok tersebut.
“Eomma, Appa, ba...bagaimana bisa?“ Devi terbata-bata, seraya memeluk tubuh sang wanita, yang menurunkan kecantikan juga kelembutan, pada dirinya.
Tak lupa pelukan pria paruh baya di depannya, semakin membuatnya terperengah.
“Devi, Joo Hyunku sayang. Maafkan Eomma, jika sudah memaksamu beberapa bulan lalu”, ucap So Min seraya menahan haru lalu melanjutkan, “Umma kamu sudah mengatakan, jika kita ini sama-sama keras kepala. Ada baiknya, salah satu harus mengalah dan akhirnya aku melakukannya.”
Mendengar perkataan ibunya, Devi melepaskan pelukan lalu meminta sebuah penjelasan. So Min mengajak Devi untuk duduk, lalu mengisahkan apa yang ia dan suaminya alami. Sejak Devi memutuskan menghindar, demi menata hati.
Wajah sang gadis menangis haru, tak menyangka Allah mendengar doanya, bahkan mengabulkannya dengan cara yang istimewa.
Bahkan lebih, dari yang ia harapkan. Yong Joon meraih tubuh putrinya. sungguh baru kali ini, ia merasakan dekat dengan anaknya. Tak seperti beberapa bulan lalu, ia dan So Min merasa, bagaikan orang lain di hadapan Devi.
”Sudah jangan menangis, Appa tak ingin anak gadisku terus bersedih. Biarlah tanah terbelah yang menguji manusia, telah memisahkan kita hingga membuat getaran rindu ini. Jangan sampai jiwamu menjadi terbelah dua,"ucapan Yong Joon membuat Devi mengangguk.
Umma, Abba dan ketiga kakaknya, mulai menghambur ke arahnya. Mereka bangga, karena Devi menjadi satu-satunya peraih beasiswa dari SMA Gaharu, untuk berangkat ke korea.
Mendadak Devi sedih, itu artinya selama 4 tahun, ia akan kehilangan kehangatan dari Abba Raffi Azhari dan Ummi Nagita Medina.
Tiba-tiba sosok Kyai Gustiawan dan Nyai Ferial datang, membuat Devi terkejut bukan main. Tak menyangka kedatangannya kedua sesepuh pesantren itu.
“Devita, kenapa menangis, harusnya senang dong karena kamulah yang mendapat beasiswanya?” tanya Gustiawan.
“Tak kenapa-napa Pak Kyai, Devi cuma sedih karena akan berpisah dengan Abba dan Umma,” jawab Devi nelangsa.
Ferial segera meraih tubuhnya, memberikan kenyamanan pada Devi.
"Ikhlas nak, jika semua kamu lakukan demikian, maka akan terasa mudah,” tambahnya kemudian.
“Maksud Bu Nyai?” Devi merasa bingung, tak paham perkataan ibunda Yudo tersebut.
“Maknanya adalah suatu saat solusi akan hadir, asalkan kamu mau membuka segala ketidakmungkinan menjadi mungkin.
Sepertinya halnya, gempa bumi sudah memisahkan kamu dan orangtua kandungmu. Ternyata dibalik itu ada sebuah asa hingga kalian bisa bertemu kembali,” jelas Gustiawan.
Meskipun Devi tak sepenuhnya paham, tapi ia percaya jika apa yang diungkapkan merupakan sebuah petuah kebaikan untuknya. Sebait doa terucap, agar dirinya selalu istiqomah.
****
Akhirnya, Debi kembali setelah sekian lama menghirup udara negeri ginseng.
“Indonesia, aku pulang,” ucapnya seraya mengenang masa lalu, serta satu sosok yang diam-diam dirindukannya.
“Tentu kamu harus pulang, karena banyak yang merindukanmu nak,” ucap satu sosok manis keibuan berhijab ungu, So Min.
"Iya Eomma, aku sudah kangen pada Abba-Umma dan para abang," ucap Devi.
"Yudoyono, apakah kau tak merindukannya, nak?" tanya Yong Joon.
"Tentu Appa, kami bersahabat, bagaimana mungkin aku tak rindu padanya?" jawab Devi, membuat Yong Joon dan So Min tersenyum.
Devi merindukan Yudo, tapi sangsi jika pria itu belum ada yang memiliki. Jika boleh meminta, ia ingin asanya menjadi nyata, mendampingi Yudo dalam selamanya.
“Akhirnya, getaran rinduku berkurang karena penenangnya telah kembali,”perkataan seseorang yakni Yudoyono Atharrazka, yang melayangkan senyum, membuat Devi tersipu.
Takdir Allah tak ada yang tahu, begitu kalimat kun diucapkan maka fayakun jawabannya, artinya hal itu akan benar-benar terjadi. Sekeras apapun getaran bumi, yang memisahkan, maka Allah akan mempertemukan mereka kembali.
Tamat
Belajar Bersama Bisa
Sumber Gambar :
Buka We Didie
Buka We Di Dieu
Buka We Di Diru
betiatina dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup