- Beranda
- Stories from the Heart
Little things called "You" [18+] [Based on true Story]
...
TS
exoluris
Little things called "You" [18+] [Based on true Story]
Spoiler for sinopsis:
![Little things called "You" [18+] [Based on true Story]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/27/8684002_20200527081347.jpg)
Sebenernya gw udah pernah posting tentang cerita ini, tapi gw mau tulis ulang dengan gaya baru, dan lupain cerita yang lama. Gw bakal posting disini aja semuanya mulai dari awal lagi. and please don't you ever call me with my other name, my name is LEO, okay?
Sekali lagi, gw ingatkan bagi yang dibawah umur segera close tab ini dan jangan pernah kembali. You've been warned!
Satu lagi, yg ngerasa kenal dengan setting lokasi tolong keep silent dan dm gw aja, siapa tau kita kenal

Quote:
Spoiler for index:
Bingung dengan alur cerita dari gw? Sedikit gw kasih pencerahan ya, Cerita beda timeline adalah cerita yg baru aja kejadian belakangan ini, dan gak mungkin flashback cerita tahun lalu disitu, pastinya apa yg baru kejadian langsung gw tulis. Dan main story adalah yg pake fase, karena gw pengen share lebih cepat tentang kejadian yg baru aja terjadi, makanya gw bikin cerita beda timeline. Padahal harusnya itu diceritakan jauh banget, masih teramat jauh untuk diceritain kalo ngikut di main story.
Udah paham? Oke thank you, love you all 😘
Wkwkwk
Gimana lanjutan cerita cinta antara gw, Melz dan Isna? Alright let's start over!
Spoiler for Ilustrasi Tokoh Dalam Cerita:
Spoiler for SOML (Soundtrack Of My Life):
Dengerin dulu nih lagu kaporit gw 

Jadwal update jam kerja biar gak ketauan bini dan kalo lagi gak sibuk 
Sedikit pesan dari gw, bantu lahh di rate atau isi poll atau kasih komen biar gw tau mana yg mesti gw benerin dari cara nulis gw yg aur-auran ini

Sedikit pesan dari gw, bantu lahh di rate atau isi poll atau kasih komen biar gw tau mana yg mesti gw benerin dari cara nulis gw yg aur-auran ini

FLASH NEWS!
Judul ini gw tulis lagi di wattpad dengan judul
Things Called Us, mungkin bakal ada chapter bonus disana nanti, so stay tune yaa

Polling
Poll ini sudah ditutup. - 37 suara
Apa yang kalian suka dari trit ini?
Ceritanya
11%
Gaya Penulisannya
16%
Soundtracknya
5%
Adegan ++ nya
41%
Karena diangkat dari True Story
27%
Diubah oleh exoluris 24-04-2021 19:45
RevoLetch dan 59 lainnya memberi reputasi
58
76.7K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
exoluris
#210
Part 41 - Sesuatu Dari Masa Lalu
Melancong kesana kemari bersama Melz, memasuki mall besar, nikmatin makan siang di foodcourt sampai main di wahana permainan anak. Lah gw kok malah demen main di tempat ginian daripada wahana permainan yg kayak jatim park tadi ya, aneh. Gw yg sedang asik mainkan permainan time crisis, menengok arah kanan, terlihat sepintas orang-orang bergerombol, memutari satu mesin permainan. Itu lho mainan yg mengharuskan kita dance diatasnya, menginjak tombol berupa arah-arah dan menyesuaikan dengan tampilan dilayar. Kalau gak salah namanya "pump".
"Rame banget disitu", ucap gw ke Melz.
"Iyah, itu paling anak klub, kan disini ada semacam klub penggemar game itu, paling lagi kumpul bareng", sahutnya.
Mendadak gw ingat akan mantan gw, Riri. Doi kan kuliah disini juga, dan doi demen banget main game itu. Bahkan dulu pernah ijin ke gw ikut kompetisi dan gabung di klub penggemar game pump itu. Lho jangan-jangan ada Riri disitu, batin gw. Halah! Ngapain gw mikirin orang itu lagi, lagian apa yg udah doi lakuin ke gw itu, jahat!
Sedikit flashback bagi pemirsa baru yg gak ngikutin trit awal gw, akan gw ceritain tentang Riri ya.
Riri, sosok yg penyayang, sabar tapi kalo udah marah luar biasa pedes kata-katanya. Doi berasal dari keluarga yg cukup berada, Ibunya asli kalimantan sedang bapaknya perantau dari Bandung. Anjir kok gw inget banget, mungkin karena gw dan Riri teramat lama bersama kali ya.
Gw menjalin hubungan dengan Riri sejak kelas 1 SMA, walau beberapa kali putus nyambung, tapi akhir-akhirnya selalu balikan lagi. Hubungan yg gw bina bersama Riri, menghasilkan sebuah kecelakaan besar, Riri pernah hamil anak gw di kelas 2 atau 3 SMA, dan anak hasil cinta kita berdua itu harus dikeluarkan dengan paksa di usia kandungan 2 bulan. Insting seorang Riri mengatakan bahwa bayi tak berdosa itu berjenis kelamin perempuan, dan kami sepakat menamainya, "Aleya". Ia dikuburkan secara gak layak di hutan yg ada danaunya, tepat diseberang rumah Riri. Mungkin sekarang tempat itu udah jadi bangunan. Hanya seonggok batu besar yg jadi penanda bahwa disitu terbaring sebuah janin, diatas batu itu gw tulis dengan cat, Aleya.
Nama itu, adalah hasil penggabungan dari nama depan Riri dan nama belakang gw. Sengaja kita ambil nama itu dengan pertimbangan ini itu dan macam-macam.
Kita berdua kemudian sempat putus selama beberapa tahun, lalu gw menjalin cinta bersama Isna, sampai ke jenjang pertunangan di tahun 2011, lalu setelah ikatan tunagan itu berakhir, gw balikan lagi dengan Riri. Singkat kata, balikannya gw dan Riri tidak berujung baik, gw diselingkuhin, dan memaksa kita untuk putus, lagi. Baru setelahnya gw menemukan, atau lebih tepat nya, pelarian selama masa gw dicuekin Riri tu adalah Melz.
Oke? You got it?
"Yang… kok ngelamun? Itu lho musuh nya gak ditembak-tembak?!", Melz mengagetkan gw dari lamunan sambil natapin kerumunan di mesin pump.
"Astaga, sorry sorry, yahh mati dah gw", gw taruh pistol mainan yg dipake buat main tadi ditempatnya semula.
"Hihihi, ayang rek, ngeliatin cewe tah? Ku cubit lho!"
"Enggak enggak, aduuh duh, penasaran aja gw, gimana sih maennya itu kok pada rame"
"Hmmm… kirain, mau liat tah? Yuuk kesana", ajaknya menarik tangan gw mendekati mesin permainan yg ramai itu.
Menghampiri mesin permainan yg banyak dikerumuni orang bersama Melz, ditariknya terus tangan gw sampe akhirnya kami bergabung bersama kerumunan itu. Terlihat seorang cowo, mungkin umur belasan sedang asik bermain dengan lihai nya, melenggak lenggok sana-sini bak penari profesional. Wah asik juga nih mainan, batin gw.
"Seru ya, kayak idol street", ucap Melz.
"Beda lah yang, kalo idol street cepet-cepetan mencet keyboard doang, lah ini sama badan-badannya gerak, capek",
"Hahaha, belum juga nyoba udah bilang capek aja"
Gw asik memperhatikan tuh cowo yg lagi main, setiap gerakannya keliatan enak banget buat diliat dan jadi bahan tontonan yg gak membosankan, ditambah lagi lagu pengiring yg asik banget.
Dari seberang mesin gw lihat wajah gak asing, sosok berhijab dengan bentuk muka agak bulat dan pipi agak chubby. Anjir, mantan gw, gumam gw dalam hati, moga aja doi gak lihat gw disini.
"Yang, pindah yuuk, gerah disini kebanyakan orang", pinta gw seraya menggenggam jari jemari Melz, gw berhasil evakuasi Melz dari kerumunan itu dan berlalu pergi meniggalkan area bermain anak itu.
"Kok buru-buru? Katanya tadi pengen liat?", Tanya Melz.
"Gak papa, susah nafas gw kebanyakan orang"
"Owhh, yaudah ni mau kemana lagi kita?"
"Jalan-jalan aja yuk, liat-liat barangkali ada sesuatu yg menarik di mall segede ini"
"Hahaha ayang rek, mau jadi AGM tah?"
"AGM apaan?"
"Anak Gaul Malang, hahaha"
Anjir, bisa ae si Melz, yaudah, buat menghindari ketemu ama tuh orang yg gw udah males banget, bahkan liat mukanya aja males. Gak papalah gw jadi AGM, muter sana sini liat-liat barang dagangan di toko sepanjang pusat perbelanjaan.
Menjelang sore, kami keluar dari mall dengan kondisi udah capek banget hasil jalan-jalan gak karuan, tanpa beli barang apapun. Bagi kita berdua tuh, yg penting bisa bersama dan yg penting bisa makan makanan enak. Karena kita berdua sama-sama suka banget makan, tapi kok badan kami gak gendutan ya? (belum, 5 tahun kemudian lu gendutan Yo!).
"BNS sekarang tah yang?", Tanya Melz, hari menjelang senja.
"Lho katanya malam baru buka?"
"Yoo ini kan udah senja, sampe sana juga bakal malam"
"Ohh oke, meluncur dehh, tapi puter sekali dulu di kota yaa", gw kendarai motor Melz menuju arah yg gw gak tau kemana, tebak-tebak aja gw belok kiri, kanan, stop di lampu merah, jalan lurus dan belok-belok lagi. Entah, bingung gw dengan jalan kota ini yg kebanyakan jalan satu arah.
Gemerlap lampu warna-warni mulai menyinari kota, seluruh pemandangan berubah saat lampu mulai menyala dan matahari semakin menghilang dari pandangan. Sukses bikin gw terpesona dengan indahnya apa yg gw lihat disini, gak ada yg kayak gini di kalimantan!.
Kami memasuki satu kawasan, bertulisan besar diatasnya, BNS.

"Gimana yang? Bagus tah?"
"Luar biasa ini mah, kereeen"
"Yuuks masuk ah", digandengnya tangan gw usai parkir motor ditempat yg udah disediakan. Kami berjalan bergandengan menuju pintu masuk, mengurus administrasi pembayaran, hingga akhirnya melingkarlah sebuah gelang berbahan kertas di tangan kami.
"Seneeng?", Tanya nya.
"Banget lah, sebenernya pemandangan nya sih biasa aja yang"
"Lho? Terus?"
"Sama kamu yg bikin semua jadi luar biasa indah", ucap gw, gombal.
"Ahhh ayaaaang", dipeluknya gw. Dah gw mah udah bodo amat dengan pandangan orang kepada kami. Yg penting gw happy dan Melz juga pasti merasakan hal yg sama.
Kita berdua kemudian disuguhkan dengan susunan lampion dengan lampu warna-warni yg amat memanjakan mata, sempat foto-foto dibeberapa spot, lalu lanjut jalan lagi menikmati waktu bersama.
"Sayang… sayang…", Melz mendekatkan bibirnya ke telinga gw.
"Hmmm.???"
"Love you, makasih ya udah datang di hidup ku, you are my everything", bisiknya manja.
"Love you more baby", gw usap pipinya, lalu berhenti disebuah lampion cukup gede yg berbentuk twin tower, replika dari yg ada di Malaysia, petronas tower?.
Gw keluarkan sony experia dari kantong kiri celana jeans gw, lalu mengambil pose buat foto bareng dengan latar belakangnya tower itu.
Sebuah kecupan mendarat di bibir gw, tepat banget ditengah-tengah bibir, bikin foto yg dihasilkan luar biasa indah. Yaa gini-gini juga gw pernah belajar dikit tentang fotografi sama si Hendri, jadi gw tau lahh sedikit banyaknya tentang komposisi.
"Ya... yang", gw yg kaget dengan kecupan barusan terbata.
"Hihihi, kaget tah?"
"Iya lah, gila kamu, banyak orang gini apa gak malu?"
"Biarin, kan gak ada yg tau gimana perasaan ku ke kamu"
"Aku pengen ngomong sesuatu deh ke kamu", sambungnya.
"Hmmm… ngomong apa sayang?"
"Besok kayaknya kita bakal ke kampus ku, gak papa ya? Dan…"
"Dan…?"
"Bapak sama Ibuk kayaknya besok juga mampir disini deh, mereka mau ke rumah mbak di mojokerto, jadi mampir sini dulu, aku mau ajak kamu ketemu mereka",
Gleg! Gw cuman bisa nelen ludah. Gak salah nih? Emang sih gw seriusan sayang ke doi, apakah gw udah siap ketemu dengan sosok calon mertua ini. Apa pandangan mereka ke gw? Secara kan gw dan mereka berbeda… segala aspek kehidupan kami berbeda, bertolak belakang.
"Okee…", sahut gw.
"Oke apa? Mau kan?"
"I… i… iya mau, kok mendadak kamu bilangnya?"
"Hihihi sengaja, mau kasih surprise ke kamuuu", dijulurkan nya lidah ke arah gw, gemas.
"Jantungan gw tuh, ya ampun"
"Lho kenapa?"
"Gak papa, gw gak nyangka aja bakal ketemu sama Bapak Ibu mu secepat ini"
"Kalo gak sekarang, kapan lagi? It's now or never you know!", Sahutnya.
Ada benarnya, kalo bukan sekarang, lalu kapan lagi kesempatan gw buat ketemu dan ambil hati calon mertua. Mumpung gw ada disini nih. Yaudahlah, apapun yg terjadi, whatever it takes, i was born to be ready, mark my words!.
"Nahh gitu dong, yukk ah jalan lagi", ucapnya setelah gw anggukan kepala tadi.
"Yuk yuk",
Kami berjalan lagi, kali ini ke wahana permainan yg bejibun dan bermacam-macam jenis. Dari kejauhan sih gw udah liat ada semacam wahana kursi gantung yg diputer-puter gitu mainnya, dan itu digantungnya tinggi banget, secara gw fobia ketinggian kan. Gak mungkin gw naik itu.
"Naik itu yuuk sayang", pintanya menunjuk kursi gantung yg barusan gw sebut.
"Mmm… yg lain aja boleh?", Sahut gw
"Hahaha kamu takut yaaa?"
"Sorry yaa bukannya takut, gw tuh pasti mual kalo diputer-puter gitu, mana kenceng banget pula putarannya", coba mengelak.
"Yaudah kalo gitu yg ini aja gimana?", Menunjuk lagi wahana berbentuk kapal.
"Yeee semakin mual lah gw, diayun-ayun gitu"
"Lho terus kita naik apa dong?", Melz bingung.
"Kita gak perlu naik apa-apa, gw cuman pengen naikin kamu, boleh?"
"Ihhhh ayaaang ahh, abis ini deh di kamar boleh sepuasnya hihihii", wajahnya nampak memerah, dipukul-pukulnya bahu gw sambil menutupi wajah. Manja banget, sumpah.
Berjalan melihat-lihat keramaian dan menonton pengunjung lain bermain wahana, bikin perut jadi keroncongan lagi. Mungkin juga karena emang udah saatnya buat makan malam. Lalu kami putuskan buat jalan ke sebuah stand yg jual makanan. Awalnya Melz menolak, karena doi tau harga makan disini lumayan mahal, tapi gw yakinkan doi kalo gw bawa uang yg cukup kok buat nikmatin waktu berlibur bareng doi disini, di Malang.
Sebelum sampe di tempat makan ini, tadi gw sempet liat ada stand yg jual macam-macam pernak-pernik, mulai dari kaos, topeng, aksesoris hingga jajanan khas jawa timur. Nah boleh nih abis ini mampir disitu buat beliin oleh-oleh yg bakal gw bagiin ke temen-temen di Kalimantan.
"Enak banget ya disini yang, suasanya enak, adem, dan hati rasanya tentram, karena ada kamu disamping gw",
"Aaaahh kamu tu, bisa banget bikin aku melted", dipeluknya gw dari samping, kepalanya mendekat ke pipi gw, dikecupnya pipi gw penuh kehangatan. Lalu kepalanya bersandar di pundak gw, tak dilepaskannya.
"Ta… tapi aku kepikiran deh", ujarnya.
"Apa yg kamu pikirin sayang? Ada something?",
"Hmmm…"
"Eheeeemmm?",
"Gimana yaa nanti kalo kamu udah pulang, dan aku kesepian lagi deh disini", mukanya tertunduk, raut wajahnya menunjukkan kegelisahan dan kesedihan.
"Masa kamu tega ninggalin aku sendirian lagi disini yang? Kamu gak mau pindah kesini aja tah? Biar aku bisa setiap hari ketemu kamu, setiap hari meluk kamu", ujarnya, diiringi dengan air mata yg pelan-pelan netes membasahi pipi bulatnya.
Momen yg awalnya indah ini, berubah jadi haru dalam seketika. Memang sih gw masih punya beberapa hari lagi buat dinikmati bersama Melz disini, tapi rasanya gw gak tega liat cewe pujaan hati gw berlinang air mata dihadapan gw, segera gw ambil tissue yg disediakan diatas meja, gw usapkan pada pipinya yg basah.
"Udah sayang, jangan sedih",
"A… aku gak sanggup kalo harus jauh lagi dari kamu…"
"Gw ngerti, please jangan sedih yaa, masih ada waktu berhari-hari lagi kok sebelum gw balik", perasaan gw juga mulai campur aduk gak jelas.
"Ta… ta… tapi, aku gak mau lagi pisah dari kamu, aku udah enak kayak gini sama kamu, a… aku udah enak setiap hari bisa becanda bareng kamu", Melz terisak larut dalam tangisannya.
Gw coba hibur terus hati Melz, dengan segala macam kata yg gw ucapkan untuk tenangkan hatinya. Walau segala macam cara gw coba, tapi air matanya gak bisa berhenti mengucur, makin deras malahan. Dan nampaknya, langit pun merasakan hal yg sama, langit juga ikut bersedih dengan apa yg dilihatnya, perlahan air mulai turun membasahi tanah. Gerimis tipis.
"Yang yang, kalo udah langsung balik ke penginapan yuk, takut deras ujannya", ucap Melz disamping gw yg sedang asik pilih pernak-pernik buat oleh-oleh.
"Nih udah, yuuk langsung cabut ke parkiran", gw gandeng tangan mungilnya berjalan menuju parkiran, agak cepat, mungkin sedikit berlarian kecil.
"Nih, yuuk buruan ahh", gw sodorkan helm ke doi, lalu nyalakan motor dan mulai nge gas poll menuju penginapan.
Rintikan air yg turun, mulai makin banyak, udara dingin khas kota batu terasa begitu menusuk hingga ketulang. Padahal gw udah pakai jaket parasut, tetep aja rasa dingin nya tembus sampe menggigil rasanya bawa motor.
"Braaaakkk!", Mendadak air hujan turun deras se deras-derasnya. Gila! Gak hujan aja udah dingin, ditambah lagi hujan deras gini.
"Yang! makin deras nih, neduh dulu?!", Seru gw yg mulai menggigil.
"Terusin ae yang, nanggung", sahutnya dari belakang gw.
"Basaaaahh yang!!",
"Udah hampir sampe kok, gapapa aku kuat kok yang"
Gw terusin aja ngendarain motor ditengah hujan deras, jarak pandang yg terbatas bikin laju dari matic yg kami tumpangi agak melambat. Pakaian dan sepatu yg kami pake, udah gak karuan lagi basahnya. Berapa menit kemudian, kami tiba di halaman penginapan Pakde, terlihat Pakde sedang nikmatin secangkir kopi diteras rumahnya.
"Lhooo kok pada ujan-ujanan? Darimana?!", Seru Pakde, usai kami parkirkan motor.
"Dari BNS pak, aduuuhh dingin bangeet"
"Weleh weleeeh anak muda, yawes masuk sana buruan ganti baju, tar masuk angin lho", ucap beliau. Kami langsung naiki tangga, dan dengan tangan gemetaran berusaha buat buka kunci pintu.
Pintu kamar terbuka, gw langsung meluncur menuju kamar mandi, gw nyalakan shower air panas, lepasin semua pakaian dan, byuurrr rasanya legaa banget.
"Buruan yaang, gantian", seru Melz. Astaga gw lupa kalo cewe gw juga basah.
"Sini laahh mandi bareng, enaak banget air anget", seru gw.
"Blakkk…", pintu kamar mandi dibuka kenceng hampir terbanting.
"Gausah disuruh juga aku bakal masuk, hiiii gak tahan rasanya dingin bangeeeett", Melz mulai melucuti pakaiannya yg basah, lalu menghampiri gw yg berdiri dibawah kucuran shower air panas. Dipeluknya tubuh gw yg gak ditutupin apapun. Hanya kami berdua, berpelukan dibawah kucuran air panas, merasakan indahnya kasih sayang bersama. Ditengah dinginnya udara diluar sana yg masih terus dihujani air dari langit.
Air yg mengeluarkan uap panas terus mengucur dari shower, membasahi dan menghangatkan tubuh kami berdua. Badan yg tadinya menggigil berangsur mulai normal, dan ada suatu yg berdiri tegak, namun bukan keadilan.
"Ih baru dipeluk doang, udah bediri ae si ayang", godanya sambil di sentil-sentilnya bagian sensitif gw.
"Heii heii, namanya juga udara dingin, wajar dong kalo bediri hahaha"
"Halah, di tempatmu sana yg panas aja kamu juga gampang banget bangun e"
"Abis enak sih hehe, ini di diemin doang? Gak mau dilahap kayak biasa?", Gerutu gw, gw arahkan kepalanya kebawah. Akhirnya doi mengambil posisi jongkok, lagi dihadapan gw.
Berapa menit kemudian, doi bangun dari jongkoknya, menyeka mulut yg terkena cairan lain selain air panas yg masih terus mengucur.
"Pindah yuk yang, ga iso napas aku", pintanya sambil meraih handuk yg menggantung di tempatnya.
"Ehh bentar dulu", gw tarik lagi badannya mendekati gw, lalu gw arahkan doi supaya membelakangi gw, dan gw isyaratkan biar rada membungkuk.
"Yang… yanggg… aduuuuuhhh", keluhnya.
"Jarang tau bisa gini, udah nikmatin aja",
"Ahhh si ayang, di kamar mandi disikat juga",
"Auuu… ahh…", desahnya yg kaget karena mendadak gw masukin something kedalam bagian sensitifnya.
Diubah oleh exoluris 09-07-2020 14:50
itkgid dan 14 lainnya memberi reputasi
15
Tutup
![Little things called "You" [18+] [Based on true Story]](https://s.kaskus.id/images/2020/05/28/8684002_20200528022843.jpg)

pengen pake nama itu buat nama samarannya, jadi gw kasih lahh nama itu buat dia pake![Little things called "You" [18+] [Based on true Story]](https://s.kaskus.id/images/2020/06/10/8684002_20200610084157.jpg)
![Little things called "You" [18+] [Based on true Story]](https://s.kaskus.id/images/2020/06/10/8684002_20200610090043.jpg)
![Little things called "You" [18+] [Based on true Story]](https://s.kaskus.id/images/2020/06/10/8684002_20200610023020.jpg)
![Little things called "You" [18+] [Based on true Story]](https://s.kaskus.id/images/2020/06/16/8684002_20200616103224.jpg)
![Little things called "You" [18+] [Based on true Story]](https://s.kaskus.id/images/2020/06/16/8684002_20200616101117.jpg)