Kaskus

Story

andrialong05Avatar border
TS
andrialong05
NIMAS (Horor Story)
DAFTAR

PART 1 : link
PART 2 : link
PART 3 : link






"aku ingin hidup mandiri" …itulah sepenggal kalimat sekaligus jawaban atas pertanyaan papa, juga sekaligus kalimat penolakanku dari permintaan papa yang menginginkan aku untuk bergabung diperusahaannya, bukan hal mustahil bagiku mendapatkan posisi bagus diperusahaan yang saat ini papa pimpin, namun jauh didalam jiwaku aku menginginkan sesuatu yang benar-benar dari usahaku sendiri.

namaku Yuda Darmansyah, anak dari pasangan Harta Darmansyah dan Titi Ulya Darmansyah.
aku mempunyai seorang adik perempuan bernama Dinda Darmansyah,sebenarnya aku masih mempunyai kakak perempuan yang bernama Nimas Wulandari, namun saat dirinya berusia 24 tahun atau lebih tepatnya 2 tahun yang lalu, ia meninggal akibat sebuah penyakit yang sampai saat ini aku tidak tau penyakit apa yang sudah membunuh kakakku.


****

"yud, kamu sekarang kan sudah sarjana, jadi kapan mau bekerja di kantor papa?" sebuah pertanyaan meluncur dari mulut papa disela-sela makan malam kami sekeluarga. lama aku terdiam memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan papa, mama yang mendengar pertanyaan yang begitu serius meluncur dari mulut papa pun hanya tertunduk dengan meneruskan makannya.

"aku pengen mandiri, aku pengen seperti papa. yang memulai sesuatu dari nol hingga saat ini nama papa sudah menjadi besar, aku pengen punya usaha sendiri pa, aku termotivasi dari cerita hidup papa, aku fikir kalau papa bisa aku juga pasti bisa pa" seiring dari perkataanku yang menolak keinginan papa, terlihat papa mulai berdiri dari kursi tempat duduknya dan berjalan menghampiriku.

"papa bangga sama kamu, tapi kamu juga harus tau nak, apa yang papa lakukan semua ini ya untuk kamu, untuk kalian. jadi papa fikir tidak ada lagi alasan kamu untuk menolak permintaan papa ini, papa cuma tidak mau anak-anak papa hidup susah seperti papa dahulu, itu saja" ucapan yang keluar dari mulut papa dengan raut wajahnya yang serius sempat membuatku terdiam untuk beberapa saat, hal itu pula yang membuat seisi ruang makan terdiam, bahkan suara sendok yang beradu dengan piring pun seolah terjeda, lalu kemudian papa kembali terduduk dikursinya.

"nak, selama ini apa yang kamu inginkan pasti papa turuti, apa kamu tidak bisa menuruti permintaan papa ini?" mendengar apa yang baru saja papa katakan, batin ini seolah tidak tega menolak meskipun sebenarnya hal ini sangat bertolak belakang dari impianku selama ini.

dalam kekalutan yang saat ini benar-benar menyiksaku, aku mencoba berfikir dewasa. mungkin tidak ada salahnya jika aku mengabulkan permintaan papa tersebut, aku menyadari bahwa aku bukanlah seorang anak kecil lagi, yang selalu mementingkan ego demi diri sendiri walaupun belum tentu apa yang kita inginkan itu yang terbaik, mungkin memang inilah jalan hidupku yang harus melupakan semua cita-cita ingin mempunyai usaha sendiri demi membahagiakan papa.

waktu demi waktu terus berjalan, mengantarkanku pada kesunyian malam yang terasa begitu damai, namun tidak dengan hatiku yang terus bergulat dengan perasaanku sendiri "ya tuhan, tentukan lah yang terbaik untuk hidupku dan keluargaku, berikan kami keselamatan dalam menjalani hidup didunia dan keselamatan diakhirat nanti" doaku disela-sela kebimbangan yang terus menghantui perasaanku.

tok..tok..tok

terdengar suara ketukan dari pintu kamarku, belum sempat aku membukanya terlihat gagang pintu mulai berputar dan daun pintu pun mulai terbuka, terlihat mama mengembangkan senyum dibibirnya yang begitu damai, raut wajahnya seketika mampu menyejukkan hatiku yang sedang dilanda kebimbangan, menatap wajahnya saja rasanya semua masalah akan segera hilang untuk sejenak.

"kamu belum tidur yud...mikirin omongan papa kamu ya?" ucapnya seraya berjalan dan duduk disampingku yang lantas mengusap punggungku berkali-kali, aku hanya mampu tersenyum kecil mendapat sentuhan lembut dari seorang ibu.

"tidak ma, yuda cuma belum bisa tidur aja kok, mama sendiri kenapa belum tidur?" jawabku seadanya yang mencoba menutupi semuanya dari mama.

"mama tau kapan anak mama berbohong dan kapan anak mama ini jujur, coba sekarang kamu ngomong jujur sama mama, kenapa kamu ragu untuk menerima permintaan papa?...padahal disana nanti kamu pasti dapat posisi yang bagus, gaji yang lumayan, ya kan?...coba kamu pikirin lagi" pertanyaan yang mama tanyakan sungguh membuatku merasa canggung.

"iya sih ma, yuda ngerti. tapi yang yuda inginkan bukan itu, yuda tidak mau kesuksesan yuda nantinya akan dibilang bantuan dari papa, yang yuda mau adalah hasil dari usaha yuda sendiri. yuda tidak mau teman-teman yuda hanya memandang yuda sebelah mata, yang berhasil dengan tanpa perjuangan dan hanya terima bersih aja" mama hanya terdiam mendengar perkataanku, entah apa yang saat ini mama fikirkan, atau mungkin mama mencoba berdamai dengan hatinya atas perkataanku yang menjurus pada sebuah penolakan permintaan papa.

seiring dengan detak jarum jam yang terasa begitu kencang didalam kesunyian malam, ada sedikit rasa penyesalan atas apa yang telah aku katakan pada mama mengenai keinginanku selama ini yang membuat mama terdiam sehingga menjebakku dalam suasana yang terasa begitu canggung, mama terlihat berdiri dan berjalan kearah jendela kamar yang memang sengaja belum ku tutup.

"mama salut sama kamu yud, mama pasti akan sangat setuju dengan apa yang kamu pilih" ujar mama dengan menatap gelapnya malam

"serius ma, mama tidak marah sama yuda?" tanyaku seraya berdiri dengan sigap dan melebarkan senyum lega atas perkataan mama baru saja

"iya...untuk apa mama marah jikalau apa yang menjadi keputusanmu itu adalah hal yang sangat positif, tapi mungkin papa punya rencana lain, yang mungkin saja rencana itu lebih baik dari pada yang kamu rencanakan.....mama cuma pengen anak mama berfikiran lebih dewasa dalam menyikapi segala problema hidup, kamu harus bisa melawan egomu nak!!..biarkan saja temanmu itu berkata apa, yang penting apa yang kamu kerjakan itu halal...coba kamu fikir, jika kamu bekerja di kantor papa kamu akan mendapat gaji yang besar, dan dengan itu kamu akan lebih mudah dalam membangun usaha kamu jika sudah mempunyai modal" tutur mama disambut keterdiamanku dalam mencerna segala ucapannya, memang benar, mulai saat ini aku harus bisa melawan egoku untuk masa depan yang lebih baik.

sinar matahari pagi yang menembus melalui celah jendela kamar membangunkan ku dari tidur nyenyak semalam, suara deru motor yang melintas di gang kecil disamping rumahku menandakan orang-orang sudah mulai melakukan aktifitasnya hari ini, aku bergegas bangkit dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi yang terletak dilantai bawah. sesampainya diruang keluarga, langkah kakiku tercegat oleh sebuah penampakan sebingkai foto yang tertempel didinding, yaaa...sebingkai foto seorang wanita cantik, perlahan aku dekati foto tersebut dan menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan. dialah nimas wulandari, kakaku satu-satunya yang begitu peduli padaku, biasanya pagi-pagi begini dia yang akan pertama kali aku lihat sewaktu aku baru bangun tidur, terkadang ada rasa jengkel saat ia memasuki kamarku tanpa permisi dan dengan sengaja membangunkanku menggunakan sapu ijuk yang dipergunakan untuk menyapu rumah.

"apa sih kak?...masih ngantuk ni"

"heey, bangun...tuh liat udah jam berapa, bangun dek"

diantara tatapan mataku yang terus tertuju pada foto kakak, seketika muncul memori-memori saat kakak masih ada, dan kini semua kenangan bersamanya hanya tinggal sebuah cerita, aku selalu menguatkan hatiku dengan selalu mendoakan yang terbaik untuknya, dalam hatiku selalu berkata "Allah lebih sayang sama kakak" sebuah kalimat penguat bagi diriku untuk melepas kepergian nimas yang sampai saat ini kematiannya masih menjadi rahasia besar mama dan papa, saat aku bertanya perihal apa yang membuat kakak bisa sampai menghembuskan nafas terakhirnya, mama dan papa hanya mampu menjawab meski jawaban itu bukanlah jawaban dari pertanyaanku yang sesungguhnya, bahwa itu semua sudah suratan takdir.

"eh mas yuda sudah bangun, sarapannya sudah bibi siapkan dimeja makan mas" seiring dari keterkejutanku atas kehadiran bi inah, kedua tanganku dengan sigap menghapus air mata yang sempat mengalir dipipiku

"oh iya, makasih ya bi....papa sama mama kemana bi?...kok sepi banget" jawabku yang berlanjut pertanyaan disaat pandangan mataku tidak menemukan keberadaan papa dan mama dimeja makan.

"kebetulan bapak sudah berangkat ke kantor mas, katanya ada pekerjaan mendadak. kalau ibu sih lagi menghantar
dinda ke sekolahnya" jawab bi inah disela-sela pergerakannya yang mempersiapkan piring dan sendok

"oh, memangnya pak kosim tidak masuk kerja hari ini bi?...kok mama yang menghantar dinda" tanyaku seraya memutar gagang pintu kamar mandi yang berada disamping dapur

"iya mas yuda, pak kosim hari ini tidak bisa bekerja karena anaknya sedang sakit dikampung. oh iya, mas yuda mau minum apa?...biar bibi bikinin sekalian" ucap bi inah yang menawarkan dirinya membuatkan minuman seperti pagi-pagi biasanya setelah melihatku keluar dari kamar mandi untuk sekedar mencuci muka.

"ga usah bi, nanti biar saya bikin sendiri ga apa-apa kok" jawabku yang lantas menyantap nasi goreng kampung buatan bi inah, setelah mendengar perkataanku bi inah pun pamit untuk menyapu halaman depan rumah.

suara dentingan keras dari bandul jam besar yang terletak diruang keluarga mampu mengalihkan pandanganku yang sedari tadi menatap layar laptop dan mendapati waktu sudah memunjukkan pukul 12:00, menghantarkanku pada siang yang begitu terik. "papa kok belum pulang ya...padahal sudah waktunya jam makan siang" gumamku pelan saat mendapati tidak adanya tanda-tanda mobil yang akan memasuki halaman rumah. belum sempat aku mengalihkan padangan ini dari luasnya halaman serta rindangnya tumbuhan, seakan pertanyaanku terjawab saat aku melihat mobil yang papa kendarai kini mulai memasuki halaman, mengingat pak kosim yang hari ini tidak masuk kerja, aku segera berlari membukakan pintu pagar depan.

"tumben pa pulangnya agak telat, terus berangkatnya pagi-pagi banget, emang banyak banget pekerjaannya ya pa?" tanyaku disaat papa mulai turun dari mobil seraya menenteng tas laptop serta dokumen-dokumen perusahaan.

"yaaaa begitulah yud, hari ini memang jadwal papa buat meeting sama beberapa client, dan memang meeting penting yang gak boleh papa lewatin" jawab papa yang tengah terduduk dikursi teras depan sembari mencopot sepatu kulit hitam yang ia kenakan.

tak berselang lama aku dan papa pun memasuki rumah dan berjalan menuju meja makan, terlihat keberadaan mama yang tengah membantu bi inah dalam menyiapkan makan siang kali ini, beberapa menu makanan kesukaanku tersaji dengan aromanya yang sangat menggugah selera, menambah rasa lapar yang sedari tadi aku tahan. dengan sigap aku menempatkan posisi pada meja makan dan menyendok nasi dengan porsi yang agak sedikit berlebih dari biasanya.

"pelan-pelan yud, kalau kurang kan masih bisa nambah lagi" ujar papa begitu melihat nasi yang terisi penuh didalam piringku.

"iya pa, abisnya yuda udah laper banget ini. oh iya pa, ngomongin masalah tawaran papa waktu itu kira-kira kapan ya yuda bisa mulai kerja di kantor papa?" jawabku yang berakhir pada sebuah pertanyaan yang mungkin saja tidak pernah terfikir dalam benak papa dan mama, mendengar hal tersebut terlihat papa menghentikan kegiatannya dalam menyendok nasi dan lalu saling bertukar pandang dengan mama.

"wah ma, kayaknya ada yang udah enggak sabar pengen kerja nih" ujar papa dengan melirik kearah mama seraya mengembangkan senyum dibibirnya, dan lantas terjawab oleh mama yang juga ikut tersenyum lebar.

"gitu dong yud, semangat. ini yang papa suka dari kamu, selalu bersemangat" usapan jemari papa pada rambutku seolah menandakan sebuah rasa kebahagiaan yang saat ini papa rasakan begitu mendengar pertanyaanku, sungguh saat ini aku turut bahagia melihat kedua orang tuaku bahagia meski sesungguhnya keputusan ini jauh dari rencana awalku.

"terus pa...kapan yuda mulai kerja?" ucapku mengulang pertanyaan yang belum sempat papa jawab.

"kapan saja, itu terserah kamu. yang penting sekarang papa udah lega kamu mau kerja di kantor papa, jadi papa akan punya penerus untuk meneruskan usaha papa ini" jawaban yang terlontar dari mulut papa tidak serta merta membuatku merasa senang, dikarenakan memang aku yang tidak mempunyai keahlian dalam bidang pekerjaan yang saat ini digeluti oleh papa, bagaimana nantinya jika aku gagal dan mengecewakan papa, mungkin jika hal itu terjadi akan sangat sulit bagiku memaafkan diriku sendiri.

"kenapa diem yud....?" tegur papa disaat mendapati responku yang hanya terpaku tanpa sepatah katapun.

"enggak kenapa-napa kok pa, tapi yuda khawatir jika nantinya yuda gagal pa" ujarku cemas

"maka dari itu papa pengen kamu memulai dari sekarang yud, mumpung saat ini papa masih ada, jadi kamu enggak kewalahan nantinya. kalau ada yang enggak kamu mengertikan bisa tanya sama papa, kalau nanti papa sudah tidak ada, siapa yang bakal mengajari kamu?" mendengar perkataan papa aku hanya bisa kembali terdiam dan kembali mencerna perkataannya, "benar juga ya, hitung-hitung ini bisa menjadi modal ilmu bagiku disaat nanti aku punya usaha sendiri selain meneruskan usaha papa" ujarku dalam hati dengan rasa penuh keyakinan.


****

seminggu telah berlalu dari percakapan antara aku dan papa disaat makan siang itu, kini sudah 4 hari aku bekerja di kantor papa, banyak hal yang aku pelajari dari pekerjaanku ini. meskipun perusahaan ini milik dari papaku sendiri, namun tidak membuatku membedakan diri dengan yang lainnya, aku bekerja sebagai staff biasa. dan tentu saja hal ini berdasarkan keinginanku agar aku bisa belajar lebih banyak dalam segala urusan yang sangkutan dengan kantor dan bisa menjadi penerus perusahaan yang baik.
seiring dengan berjalannya waktu mau tidak mau aku pun mempunyai banyak kenalan di kantor ini, salah satunya adalah della.
selain papa, della inilah yang menjadi mentorku saat ini, beberapa hal yang tidak aku ketahui mengenai pekerjaanku sering kali aku tanyakan padanya.

"permisi del, boleh saya masuk?" tegurku disela-sela kesibukannya dalam mengerjakan beberapa laporan.

"oh tentu pak yuda, silahkan. apa yang bisa saya bantu?" jawabnya begitu melihat kehadiranku didepan pintu ruang kerjanya.

"wah, nggak usah pake pak, panggil aja yuda. toh kita juga masih seumuran"

"saya yang nggak enak kalau manggilnya pake nama aja, bagaimanapun pak yuda anak dari pemilik perusahaan ini, jadi jika dalam jam kerja saya harus manggilnya pake bapak"

"haha, kenapa harus nggak enak?....kalau nggak enak dikasih kekucing ajalah" jawabku seadanya dan disambut gelak tawa della.

"hehe...pak yuda sama persis ya kayak kakaknya, orangnya asik dan tidak pernah sombong sama siapapun" ucapan yang terlontar dari mulut della sempat membuatku terdiam beberapa saat, diantara keterdiamanku aku mencoba mengingat beberapa teman kak nimas yang pernah berkunjung ke rumah, namun sepertinya aku tidak pernah melihat jika della adalah teman kak nimas yang pernah berkunjung kerumah.

"loh, della kenal sama almarhumah kakak saya?" tanyaku dengan sedikit membenarkan posisi dudukku yang semula terasa tidak begitu nyaman.

"kenal banget, kak nimas itu teman baik saya. dari smp hingga perguruan tinggi kami selalu bersama, meskipun dia senior saya, dia sosok orang yang sangat baik yang pernah saya kenal, hingga sampai saat berita meninggalnya kak nimas sampai ditelinga saya, pada saat itu saya sangat terpukul dan menyesal karena tidak bisa hadir karena saat itu saya sedang berada dikampung" mendengar cerita dari della aku dapat merasakan kesedihan yang sangat dalam begitu melihat ekspresi wajahnya ketika bercerita.

"aduh maaf pak yuda, saya jadi cerita begini" ucapnya begitu menyadari bahwa pembicaraan ini sudah keluar terlalu jauh dari masalah pekerjaan.

"nggak papa kok. sebenernya saya juga pengen banyak bercerita tentang kak nimas, tapi sejauh ini saya belum tau harus cerita sama siapa, mungkin karena kamu adalah teman baik kak nimas jadi saya rasa kamu tau banyak tentang kak nimas, apalagi kamu sudah mengenal dia dari jaman smp, saya pikir kamu adalah orang yang tepat yang bisa bertukar cerita dengan saya tentang kak nimas" seusai dari perkataanku ini tampak della hanya terdiam dengan raut wajah yang sedikit bingung.

"memangnya apa yang mau dibicarakan tentang nimas?" tanya della diantara rasa kebingungan yang tergambar dari raut wajahnya.

"kayaknya jangan sekarang deh del, mungkin nanti malam della punya waktu?...kalau della bersedia kita bisa ngobrol lebih banyak lagi" jawabku seraya membuka beberapa lembar kertas yang tadinya menjadi alasanku menghampiri della diruangannya.

"oh seperti itu, nanti kamu kabari aja, eh pak yuda maksudnya...oh iya, ini dokumen apa?" jawab della disertai pertanyaannya saat melihat beberapa lembar kertas yang ku letakkan dimeja kerjanya.

hari ini memang terasa begitu melelahkan bagiku setelah bekerja seharian di kantor, karena memang pekerjaan hari ini begitu banyak ditambah pekerjaan dihari sebelumnya yang belum sempat aku selesaikan, ku lirik jam dipergelangan tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore.

"huuhhhhh...akhirnya selesai juga" gumamku seraya meregangkan otot-otot pinggangku yang sudah terasa pegal, beberapa karyawan kantor yang berlalu lalang didepan ruanganku terlihat sesekali tersenyum dengan ramahnya.
untuk beberapa saat lamanya aku mencoba mengistirahatkan tubuh dikursi tempat dudukku saat ini, kuraih ponsel yang tergeletak dimeja kerja dan tanpa sengaja aku membuka galeri dan mendapati beberapa foto didalam ponselku, foto yang menampilkan aku dan kak nimas saat kami sekeluarga liburan kesalah satu pantai tepat seminggu sebelum meninggalnya kak nimas.
diantara banyaknya foto yang tersimpan, ada salah satu foto yang berhasil mencuri perhatianku, dimana didalam foto tersebut menampilkan foto kak nimas yang sedang berdiri disamping pohon kelapa dengan gayanya yang modis, tetapi ada sesuatu yang ganjil didalam foto ini. sesosok bayangan hitam yang terlihat begitu samar dan nyaris tak terlihat berada dibalik pohon kelapa tersebut. seketika muncul firasat dalam benakku dengan apa yang tertangkap didalam kamera, namun aku mencoba berfikir realistis, mungkin saja itu hanya efek dari kamera yang tidak fokus pada suatu objek yang ditangkapnya.

"yuda, ayo pulang" tegur papa yang mengagetkanku dari keterfokusanku menatap foto itu.

"iya pa, sebentar" jawabku yang langsung bergegas mengambil laptop dan memasukkannya kedalam tas.

diperjalanan pulang aku sempat berniat untuk menceritakan perihal foto kak nimas yang kutemui adanya keanehan didalam foto tersebut, tetapi niatku ini urung aku utarakan dikarenakan 2 kemungkinan, kemungkinan yang pertama adalah aku khawatir nantinya akan dianggap mengada-ada dan terkesan berlebihan, dan kemungkinan kedua adalah aku khawatir akan membuat papa kembali bersedih atas kepergian kak nimas.
tidak banyak obrolan yang terjadi antara aku dan papa sewaktu perjalanan pulang, hanya seputar urusan pekerjaan yang menurutku lazim dipertanyakan, hingga akhirnya mobil yang ku kendarai memasuki sebuah halaman rumah. dan kini diantara keterkejutanku karena melihat adanya pergerakan pada gorden jendela kamar kak nimas yang sudah tidak pernah lagi dibuka semenjak ia meninggal, bahkah kamar itu sengaja dikunci dan ada larangan dari papa untuk siapapun memasukinya, entah apa alasan papa yang melarang siapapun masuk kedalam kamar itu, namun yang pasti saat ini ada seseorang yang sedang melanggar aturan papa.
Diubah oleh andrialong05 09-07-2020 03:01
aan1984Avatar border
zaiimportAvatar border
redbaronAvatar border
redbaron dan 11 lainnya memberi reputasi
12
4.5K
38
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
andrialong05Avatar border
TS
andrialong05
#8
PART 2
"kenapa yud....?" tanya papa ketika menyadari keterdiamanku menatap jendela kamar kak nimas yang berada dilantai dua, seiring dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut papa kini terlihat pandangan mata papa mengarah kejendela kamar kak nimas yang sempat mencuri perhatianku saat ini.
menyadari hal tersebut, untuk menghindari adanya dugaan papa yang mengira bahwa ada yang memasuki kamar kak nimas jika aku mengatakan apa yang ku lihat, akupun enggan mengatakan yang sejujurnya.

"engg... nggak kenapa napa kok pa" jawabku sedikit gugup dan lantas bergegas keluar dari mobil untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut dari papa.

dengan langkah cepat aku berjalan memasuki rumah untuk memastikan siapa sebenarnya yang sedang berada dikamar kak nimas saat ini, karena jelas sekali aku melihat adanya pergerakan dari gorden jendela berwarna putih itu, seiring dengan langkah kakiku yang mulai melangkah lebih cepat, sesuatu yang ganjil kembali terjadi dan untuk sejenak sesuatu yang ganjil itu membuat langkah kakiku terhenti.

"papa" gumamku ketika menyadari bahwa bunyi keras benda jatuh itu terdengar dihalaman depan, dengan sigap aku membalikkan badan dan berlari menuju luar rumah untuk memastikan keadaan papa yang masih berada didepan.

"kenapa yud?" tanya papa begitu menyadari kehadiranku yang terlihat begitu panik.

"papa gak kenapa napa?" ujarku yang balik bertanya seraya mengamati keadaan sekitar.

"kenapa napa gimana maksud kamu?" mendengar pertanyaan papa sontak saja membuatku terkejut, jika tidak terjadi apa-apa pada papa dan juga tidak kutemukan adanya benda jatuh seperti apa yang baru saja ku dengar, lantas apa sebenarnya yang terjadi, dan apa sebenarnya yang kudengar.

"kayaknya yuda tadi denger ada suara benda jatuh pa disekitar halaman, yuda pikir papa kenapa napa. itu sebabnya yuda kembali berlari keluar" mendengar ucapanku papa hanya terdiam dengan raut wajah keheranan.

"tidak ada apa-apa kok, papa aja tidak mendengar ada yang jatuh, mungkin kamu kecapean kali. sudah, mandi dulu sana. habis itu sholat maghrib" ucap papa begitu mendengar suara azan yang berkumandang dari masjid terdekat. lantas dengan berakhirnya ucapan papa tersebut akupun kembali memasuki rumah untuk segera membersihkan badan, tak lama kemudian disusul oleh papa yang langsung masuk kedalam kamarnya.

"wih yang udah jadi anak kantoran, sombong banget sekarang. bahkan gak punya waktu buat adeknya sendiri" sindir dinda begitu melihat kehadiranku diruang keluarga.

"eh ada nyonya besar ternyata, ya maaf namanya juga sekarang udah kerja. eh mama kemana din, kok nggak keliatan?" ujarku sembari duduk disamping dinda yang sedang asyik menonton televisi.

"ada tuh dikamar, eh bang malem ini jalan-jalan yuk, bete nih dirumah terus" jawab dinda yang berakhir dengan sebuah ajakan.

"yah malem ini abang gak bisa, abang udah ada janji sama temen abang. oh iya din, tadi kamu masuk kekamarnya kak nimas ya?, soalnya tadi abang liat ada yang sengaja nutup gorden jendela waktu mobil abang masuk kehalaman, hayo looo, abang aduin ke papa yaaa" ujarku memancing dinda untuk sedikit mendapatkan informasi tentang siapa yang telah memasuki kamar kak nimas.

"dih enggak tuh bang, orang dari tadi dinda disini nonton tv, mama juga dari sebelum abang pulang udah masuk kamar. loe halu kali bang, orang kamarnya aja dikunci sama papa, gimana caranya bisa masuk" protes dinda atas tuduhanku yang memvonis dirinya telah melakukan pelanggaran dari aturan papa.

"kalau bukan kamu atau mama, lantas siapa yang tadi masuk kedalam kamar kak nimas, apa mungkin bi inah?...soalnya tadi jelas banget abang liat gorden jendela kak nimas itu bergerak menutup yang pada awalnya terbuka lebar" seiring dengan pertanyaanku ini entah mengapa keadaan berubah menjadi sedikit mencekam, perubahan raut wajah dinda yang terlihat menunjukkan ekspresi tidak nyamannya saat ini menambah suasana menjadi lebih mencekam.

"loe kenapa din?" tanyaku yang mendapati dinda kini terlihat begitu gelisah.

"dinda takut bang, soalnya ada beberapa kejadian yang dinda alami dikamar kak nimas, tapi dinda takut untuk menceritakan sama mama dan papa, khawatir nanti mama dan papa marah dan menganggap dinda mengada ada"

" hah....serius loe?" tanyaku dengan penuh rasa keterkejutan atas pernyatan dinda.

"emang loe ngalamin kejadian apa aja?" tambahku dengan rasa penasaran

seolah tidak ingin mama dan papa mendengarkan apa yang menjadi topik pembicaraan ini, kini dengan suara yang begitu pelan bahkan hampir sama persis seperti berbisik, dinda mulai menceritakan beberapa kejadian yang telah dialaminya.

"jadi waktu itu dinda baru pulang sekolah bang, gak sengaja dinda denger kayak ada suara yang jatuh dari lantai atas, begitu dinda cek keatas ternyata diatas gak ada apa-apa. tapi disaat dinda mau turun lagi, dinda denger kayak ada suara langkah kaki dari arah belakang dinda, sedangkan dinda inget banget waktu itu mama sama bi inah lagi ada dilantai bawah, loe dan papa juga lagi di kantor. disitu bulu kuduk dinda langsung berdiri, bahkan dinda takut untuk menoleh kebelakang dan akhirnya dinda cepet-cepet turun kebawah"

"terus...kejadian apa lagi yang kamu alami?" tanyaku disela-sela terdiamnya dinda yang seakan mengingat kembali kejadian lain yang ia alami.

"nah ada satu lagi bang, ini kejadiannya malem-malem. waktu dinda sedang bersantai dilantai atas, tiba-tiba dinda denger suara cetekan lampu. jadi seperti ada orang yang mainin saklar lampu gitu, begitu dinda nengok kearah kamar kak nimas, lampu dikamar kak nimas mati, dinda bisa liat kegelapan dari lubang diatas pintu kamarnya. cuma waktu itu dinda gak mikir macem-macem, tapi gak berapa lama dinda denger lagi tuh suara cetekan lampu, otomatis dinda noleh dong kearah sumber suara, begitu dinda noleh kekamar kak nimas, lampunya nyala lagi bang".

"ah yang bener kamu dek, jangan-jangan kamu ngarang ya buat nakut-nakutin abang, mentang-mentang abang bilang ada yang gerakin gorden jendela tadi" ujarku yang mencoba untuk tetap berpositif thinking dan tidak larut dalam ketakutan dirumahku sendiri.

"tuh kan, percuma dinda ngomong. gak bakal ada yang percaya" jawab dinda dengan ekspresi wajah cemberutnya.

setelah menunaikan ibadah shalat maghrib, aku merebahkan diri dikasur. tatapan kosongku yang menatap langit-langit kamar kini seakan mengantarkan aku pada sebuah ingatan akan cerita dinda yang ia ceritakan padaku tadi sore. entah mengapa, segala ingatanku ini sulit aku hilangkan dari otakku begitu saja. diantara rasa gelisah yang aku rasakan saat ini, aku merasa ada seseorang yang saat ini sedang memperhatikanku, dari ujung mata aku dapat melihat siluet manusia sedang mengintipku dari celah pintu kamar yang tidak kututup rapat ditengah remangnya lampu kamarku, dan......
aku baru menyadari sesuatu, bahwa pintu itu bukanlah pintu kamarku, melainkan pintu kearah balkon.

"salah... salah.. aku salah lihat. ya, aku salah lihat" gumamku diantara rasa takut dan penasaranku yang bercampur menjadi satu. ingin rasanya aku menoleh dan memastikan siapa yang saat ini sedang mengintipku dari arah balkon, namun hati ini terus menolak dengan menumbuhkan perasaan takutnya.

entah berapa lama aku terjebak didalam situasi yang begitu mencekam, yang ku lakukan hanya menutup mata dengan sesekali melirik untuk memastikan apakah seseorang atau lebih tepatnya sosok siluet itu masih ada atau sudah menghilang, atau memang itu hanya perasaanku saja yang akibat terlalu menganggap serius cerita dinda.

"fuuuuiiihhh... memang benar, ini cuma perasaan ku aja" ujarku dalam hati seraya mengelus dada sebagai ungkapan rasa lega di tengah-tengah ketakutanku disaat aku tidak mendapati adanya siluet manusia tersebut.

waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, tampak papa dan mama sedang asyik mengobrol diruang keluarga, entah apa topik pembicaraan yang saat ini membuat mereka tampak begitu serius dalam pembicaraan tersebut, sedangkan dinda tengah dilanda kesibukkan dengan pc barunya yang baru saja papa belikan 2 hari yang lalu.

"mau kemana yud?...rapi banget" tanya mama seiring langkah kakiku yang hendak mengambil kunci mobil diatas rak kayu tempat penyimpanan buku-buku.

"keluar sebentar ma, ketemu temen" jawabku seraya berpamitan dengan papa dan mama.

sesuai dengan kesepakatanku dengan della yang akan bertemu disalah satu cafe pusat kota malam ini, aku pun segera meluncur menuju tempat yang sudah dijanjikan. seiring dengan laju mobil yang aku kendarai, satu panggilan masuk dari della muncul dinotifikasi ponselku,
hanya sekedar memberi tahu jika dirinya sudah berada ditempat yang akan kami singgahi.

"oh oke del, ini saya lagi diperjalanan sebentar lagi sampe, della pesan minum aja dulu sembari menunggu saya" ujarku dengan sedikit menambah kecepatan mobil yang ku kendarai.

20 menit berselang, dan kini aku tiba dicafe dan segera memarkirkan mobilku. seiring pergerakan tanganku yang mendorong pintu cafe, mataku menyapu seluruh isi ruangan berharap menemukan della, tampak dari kejauhan seseorang melambai lambaikan tangannya, aku pun berjalan menghampiri.

"waduh maaf ya della, saya telat" ucapku seraya menarik kursi besi dan mendudukinya.

"oh nggak papa kok pak yuda, nggak masalah" jawab della dengan senyum mengembang dibibirnya dan lantas menyeruput latte panas yang berada dihadapannya.

"oh iya pak, memangnya ada hal penting apa yang pengen bapak bicarakan sampe-sampe mengajak saya kesini" tanya della bersamaan dengan pergerakan tangannya yang meletakkan kembali gelas lattenya ke meja.

"biar lebih enak, manggilnya jangan pake bapak, panggil yuda aja. lagian inikan bukan jam kerja dan bukan juga ngomongin masalah pekerjaan" jawabku dengan terbalas senyum della yang terlihat begitu canggung.

"iya pak, eh yuda hehe maaf. emangnya ada apa sih yud sampe ngajakin ketemu disini" tanyanya kembali dengan sedikit meredam kecanggungan situasi antara kami berdua.

"jadi gini del, aku cuma pengen nanya masalah kak nimas, kan kamu udah mengenal dia dari jaman smp, sedangkan aku mengenal dia cuma sebatas hubungan kakak adek aja, bahkan curhat tentang masalah hidupnya aja nggak pernah. cuma yang mengganjal diotakku ini masalah meningggalnya itu lho, sampai sekarang aku nggak ngerti dia sakit apa, padahal yang aku lihat dia itu sehat-sehat aja, bahkan sehari sebelum dia meninggalpun tidak ada kecurigaan atau tanda-tanda kalau dia sakit. mungkin sama kamu dia pernah cerita atau kamu tau sesuatu tentang kak nimas" dengan berakhirnya perkataanku terlihat della hanya mengangguk angguk tanda menyimak apa yang ku katakan.

"sebentar, kamu yang adeknya sendiri sampe bisa gak tau penyebab kematiannya?" tanya della dengan sorot matanya yang menatapku penuh keheranan.

"yaa kayak yang aku bilang tadi, dia itu gak pernah curhat apa-apa. ya ngobrol juga ngobrolin hal-hal yang biasa, waktu aku nanya sama orang tuaku juga kayaknya mereka nutupin sesuatu dari aku"

"hmmm.....wah yud, aku sebenernya juga gak tau sih. aku takut salah ngomong atau salah persepsi, bisa menyinggung kamu dan keluarga kamu" jawaban yang terlontar dari mulut della seakan menjadi teka-teki yang sangat sulit untukku tebak, bahkan arah pembicaraannya saja aku tak tau.

"maksudnya bisa menyinggung aku dan keluargaku apa del?.... " tanyaku dengan penuh rasa penasaran dan berharap ada kejelasan dari della.

"gimana ya yud, aku sih nggak tau...tapi ini anggapanku aja ya...ada hal lain yang terlihat beda dari kak nimas, aku ngerasa disaat-saat terakhir sebelum ia meninggal terlihat aneh dan kayak bukan kak nimas yang seperti aku kenal" ucapan yang baru saja ku dengar dari mulut della sontak saja membuatku kaget, dari kepolosan raut wajahnya saat mengatakan hal itu tampak della sedang berbicara serius.

"bentar bentar, aku masih belum ngerti apa yang kamu omongin, maksudnya beda itu gimana ya?..." tanyaku kembali dengan rasa yang sama dan masih berharap penjelasan yang lebih dalam dari della, namun della hanya terlihat diam seperti memikirkan sesuatu yang akan menjadi bahan pembicaraannya.

"jadi gini yud, dari dulu aku kenal kak nimas itu sebagai sosok yang periang, dewasa, kuat, pokoknya dia itu panutanku. tapi....terakhir aku ketemu dia itu aku ngeliat ada yang beda, bahkan yang aku lihat seperti bukan sosok kak nimas yang biasanya aku kenal, dia terlihat lebih childish. dan itu anehlah kalau menurut aku" ujarnya dengan tatapan wajah yang serius menatapku

hingga berapa lama obrolanku dan della yang membahas tentang kak nimas terus berlanjut, namun sejauh dari pembicaraan ini tidak ada satupun petunjuk jawaban yang ku peroleh dalam menghilangkan rasa penasaranku atas kematian kakaku yang begitu mesterius. detik demi detik terus berlalu hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku memutuskan untuk menyudahi perbincangan yang tidak ada hasilnya ini, namun baru saja kami hendak beranjak dari kursi yang saat ini kami duduki, tiba-tiba tangan della mencengkram erat pergelangan tanganku. sontak hal itu membuatku mengalihkan pandangan kearah della, tampak sekali raut wajahnya yang begitu berbinar kini telah berubah menjadi pucat pasi.

"del..kenapa del?" tanyaku seraya melambaikan jemariku dihadapan matanya yang tak berkedip menatap pojok ruangan.
ku ikuti kemana arah mata della tertuju dan berharap menemukan sesuatu yang mungkin tengah della lihat saat ini, namun yang ku lihat hanyalah sebuah ruangan dengan penerangan yang minim, sepertinya ruangan itu adalah tempat istirahat para karyawan cafe.

"yud....itu, i ituu" jawabnya dengan nada gemetar, dan kini dapat kurasakan tubuhnya yang juga gemetar saat memegang pergelangan tanganku dengan cengkraman yang lebih kuat.

"itu apa?...del kamu lihat apa, gak ada apa apa disitu" ujarku saat menyadari sesuatu yang ganjil sedang terjadi seraya memasang badan dihadapan della dengan harapan bisa menghalangi pandangannya terhadap ruangan itu.

"udah yuk kita pulang, aku anterin ya..." ucapku dengan memegang kedua lengan della dan segera beranjak pergi dari cafe itu.
sesampainya diparkiran tampak wajah della masih begitu tegang, saat aku bertanya sepatah katapun tidak ada yang keluar dari mulut della, hanya gelengan kepala yang menjadi isyarat bagiku saat aku bertanya apa yang terjadi.

disepanjang perjalanan ia tak menceritakan apapun padaku perihal kejadian yang baru saja dialami, diantara keterdiaman della sesekali aku menoleh dan entah yang keberapa kalinya aku kembali bertanya.

"kenapa del..? ada apa?"

"nanti aja yud ceritanya, sekarang anterin aku pulang aja dulu" begitu mendengar apa yang terucap dari mulutnya, akupun hanya bisa menurut saja.
banditos69
ariefdias
redbaron
redbaron dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.