- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
...
TS
ismilaila
Kumpulan Cerpen Berbagai Genre
Kumpulan Cerpen yang Dapat Menemani Waktu Luang Kamu

Sumber : Pinterest
Rahman menghentikan mobilnya tepat di sebuah halaman rumah yang cukup luas. Mesin kendaraan roda empat miliknya berhenti, tapi lelaki berusia empat puluh tahunan itu tidak lekas beranjak dari kursi kemudi. Netranya menatap lurus ke depan beranda rumah bercat hijau toska. Ada keraguan dalam sudut hatinya, apakah kembali pulang adalah tindakan yang tepat.
Jika bukan karena anak-anak, tentu diurungkan niatnya ini. Kerinduan pada dua buah hati yang sudah menginjak usia dewasa, membuatnya nekat membawa diri ke sini.
Pria berpakaian necis itu mengembuskan napas. Ia melangkah keluar dengan ragu, apakah kedatangannya kali ini di sambut baik oleh sang istri.
Rahman berdiri tepat di depan pintu. Saat akan mengetuk, tiba-tiba seseorang telah membukanya dari dalam. Membuat pria itu sedikit mundur.
"Ayah?" ucap gadis berrambut lurus dengan alis bertaut."
Rahman sedikit kikuk, ada rasa tak enak dalam hati. Padahal, yang di hadapannya saat ini adalah putrinya sendiri.
"Reina ... boleh, Ayah masuk?" tanyanya meminta persetujuan.
"Masuk aja, Yah. Kenapa minta ijin dulu?" Sang putri berkata sembari membuka pintu lebar-lebar.
Rahman mengempaskan punggung ke sofa berwarna putih. Sorot matanya menatap hingga ke sudut ruangan. Tak banyak yang berubah setelah ia pergi. Hanya sesuatu yang berbeda di sebuah lemari kaca. Di sana, berdiri beberapa bingkai foto, tetapi ... tak ada lagi satu pun potret dirinya ikut meramaikan tempat itu. Ia menelan saliva, 'Sepertinya orang-orang di rumah ini benar-benar telah melupakanku,' batinnya pilu.
"Diminum dulu tehnya, Yah." Gadis berparas ayu itu meletakan segelas teh hangat di meja, disusul beberapa cemilan.
Ia ikut mengempaskan tubuh di seberang sang Ayah. Dengan perasaan yang ... entah. Ada amarah yang masih mengendap, tetapi rasa rindu kepada cinta pertamanya lebih mendominasi.
"I-ibu mu, di mana?" tanya Rahman ragu.
Reina mengembuskan napas sebelum menjawab, "Ibu pamit ke warung tadi."
Rahman hanya mengangguk.
"Randi, di mana?" Rahman bertanya keberadaan putra bungsunya.
"Biasa, main di luar. Besok pagi juga pulang, tapi sorenya pasti pergi lagi," jawab Reina dengan santai.
Jantung Rahman seketika berdegup kencang. Mendengar penuturan Reina tanpa rasa bersalah. Matanya membesar, puluhan tanya menari dalam benak.
"Kenapa kamu membiarkan dia sebebas itu?" Rahman bertanya dengan suara tinggi. Antara marah, kecewa, dan, sedih.
Reina terdiam, matanya menatap ke bawah meja. Ia tak berani angkat bicara.
Rahman mengusap wajah, menyesali apa yang telah terjadi pada keluarga ini. Selepas ia pergi, tak ada satu pun kabar yang ia dengar. Sebab istrinya benar-benar memberi sekat pada mereka.
"Mau apa datang ke sini?" Suara dari pintu masuk terdengar sengit.
Rahman dan Reina menoleh ke sumber suara. Di sana, berdiri seorang wanita berwajah masam.
"Aku ... hanya ingin pulang." Nyali Rahman seakan menciut, maka hanya kata itu yang meluncur dari bibirnya.
Tersenyum kecut, Melfa-sang istri-hanya menggeleng. Sedetik kemudian ia melangkah dan berdiri di hadapan Rahman, suaminya.
"Pulang? Aku pikir kau sudah lupa dengan tempat ini," ucapnya dengan sorot tajam.
"Aku rindu kalian, makanya aku pulang. Apa sudah tak ada tempat untukku menginjakkan kaki di rumah sendiri?" Rahman berkata dengan penuh penekanan.
"Kau sudah tak punya hak untuk datang ke sini semenjak diam-diam menikahi wanita jalang itu."
"Jaga mulutmu! Apa dirimu jauh lebih sempurna? Sikapmu saat ini telah menunjukkan siapa kau sebenarnya!"
Melfa tertawa sembari mengambil tempat duduk di sebelah Reina. "Lihat, Rei? Bahkan Ayahmu ini mati-matian membela istri murahannya. Menjijikan."
Reina membisu, berada di posisi ini membuat jiwanya semakin kacau.
"Pergilah dari sini, tidak ada yang menginginkanmu datang kembali. Lagipula, apa kau tidak punya malu menampakkan diri di hadapanku?"
"Aku ke sini untuk bertemu Reina dan Randi. Tentulah mereka merindukan Ayahnya. Aku akan tetap di sini menunggu Randi pulang."
"Menunggu Randi? Aku menerka bahwa ia tak akan sudi pulang jika di rumah ini ada pengkhianat."
"Melfa!" Rahman bangkit, netranya menatap istri pertamanya dengan kilatan amarah. "Aku masih suamimu. Randi dan Reina juga akan tetap menjadi anakku. Aku sadar telah melakukan kesalahan. Aku sudah meminta maaf malam itu. Tidakkah cukup hukuman yang aku terima dengan berpisah berbulan-bulan dari kalian?"
Melfa hanya membisu, sorot matanya mengarah ke sembarang arah. Napasnya naik turun menahan emosi. Setetes bulir bening meluncur ke pipinya, tetapi secepat kilat ia mengusap dengan punggung tangan.
Reina terisak, bahunya berguncang. Hatinya hancur berkeping-keping.
Rahman kembali duduk, ia mengusap wajah, lalu mengembuskan napas. Frustasi.
Hening beberapa saat, hanya isakan kecil yang terdengar memilukan dari bibir Reina.
"Lebih baik aku pergi. Aku memang sudah tak mendapat tempat di sini," ujar Rahman sembari berdiri. Menatap sang putri sesaat lalu berkata, "Reina, Ayah pergi. Sampai jumpa lain waktu."
Semakin terisak, Reina tak menjawab. Ia menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan sambil menunduk.
"Ya, memang seharusnya kau tak kembali." Melfa bangkit, menuju pintu dan berdiri di sana.
Rahman mengayunkan kaki, saat sampai di depan pintu mobil, ia berhenti dan menatap rumah penuh kenangan itu untuk beberapa saat.
"Sampai jumpa di pengadilan," ucap Melfa dengan ekspresi datar, lalu menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara keras.
"Semuanya sudah berakhir," ucap pria itu lirih.
-Tamat-
Bandar Masilam, 16062020


Sumber : Pinterest
PULANG
Rahman menghentikan mobilnya tepat di sebuah halaman rumah yang cukup luas. Mesin kendaraan roda empat miliknya berhenti, tapi lelaki berusia empat puluh tahunan itu tidak lekas beranjak dari kursi kemudi. Netranya menatap lurus ke depan beranda rumah bercat hijau toska. Ada keraguan dalam sudut hatinya, apakah kembali pulang adalah tindakan yang tepat.
Jika bukan karena anak-anak, tentu diurungkan niatnya ini. Kerinduan pada dua buah hati yang sudah menginjak usia dewasa, membuatnya nekat membawa diri ke sini.
Pria berpakaian necis itu mengembuskan napas. Ia melangkah keluar dengan ragu, apakah kedatangannya kali ini di sambut baik oleh sang istri.
Rahman berdiri tepat di depan pintu. Saat akan mengetuk, tiba-tiba seseorang telah membukanya dari dalam. Membuat pria itu sedikit mundur.
"Ayah?" ucap gadis berrambut lurus dengan alis bertaut."
Rahman sedikit kikuk, ada rasa tak enak dalam hati. Padahal, yang di hadapannya saat ini adalah putrinya sendiri.
"Reina ... boleh, Ayah masuk?" tanyanya meminta persetujuan.
"Masuk aja, Yah. Kenapa minta ijin dulu?" Sang putri berkata sembari membuka pintu lebar-lebar.
Rahman mengempaskan punggung ke sofa berwarna putih. Sorot matanya menatap hingga ke sudut ruangan. Tak banyak yang berubah setelah ia pergi. Hanya sesuatu yang berbeda di sebuah lemari kaca. Di sana, berdiri beberapa bingkai foto, tetapi ... tak ada lagi satu pun potret dirinya ikut meramaikan tempat itu. Ia menelan saliva, 'Sepertinya orang-orang di rumah ini benar-benar telah melupakanku,' batinnya pilu.
"Diminum dulu tehnya, Yah." Gadis berparas ayu itu meletakan segelas teh hangat di meja, disusul beberapa cemilan.
Ia ikut mengempaskan tubuh di seberang sang Ayah. Dengan perasaan yang ... entah. Ada amarah yang masih mengendap, tetapi rasa rindu kepada cinta pertamanya lebih mendominasi.
"I-ibu mu, di mana?" tanya Rahman ragu.
Reina mengembuskan napas sebelum menjawab, "Ibu pamit ke warung tadi."
Rahman hanya mengangguk.
"Randi, di mana?" Rahman bertanya keberadaan putra bungsunya.
"Biasa, main di luar. Besok pagi juga pulang, tapi sorenya pasti pergi lagi," jawab Reina dengan santai.
Jantung Rahman seketika berdegup kencang. Mendengar penuturan Reina tanpa rasa bersalah. Matanya membesar, puluhan tanya menari dalam benak.
"Kenapa kamu membiarkan dia sebebas itu?" Rahman bertanya dengan suara tinggi. Antara marah, kecewa, dan, sedih.
Reina terdiam, matanya menatap ke bawah meja. Ia tak berani angkat bicara.
Rahman mengusap wajah, menyesali apa yang telah terjadi pada keluarga ini. Selepas ia pergi, tak ada satu pun kabar yang ia dengar. Sebab istrinya benar-benar memberi sekat pada mereka.
"Mau apa datang ke sini?" Suara dari pintu masuk terdengar sengit.
Rahman dan Reina menoleh ke sumber suara. Di sana, berdiri seorang wanita berwajah masam.
"Aku ... hanya ingin pulang." Nyali Rahman seakan menciut, maka hanya kata itu yang meluncur dari bibirnya.
Tersenyum kecut, Melfa-sang istri-hanya menggeleng. Sedetik kemudian ia melangkah dan berdiri di hadapan Rahman, suaminya.
"Pulang? Aku pikir kau sudah lupa dengan tempat ini," ucapnya dengan sorot tajam.
"Aku rindu kalian, makanya aku pulang. Apa sudah tak ada tempat untukku menginjakkan kaki di rumah sendiri?" Rahman berkata dengan penuh penekanan.
"Kau sudah tak punya hak untuk datang ke sini semenjak diam-diam menikahi wanita jalang itu."
"Jaga mulutmu! Apa dirimu jauh lebih sempurna? Sikapmu saat ini telah menunjukkan siapa kau sebenarnya!"
Melfa tertawa sembari mengambil tempat duduk di sebelah Reina. "Lihat, Rei? Bahkan Ayahmu ini mati-matian membela istri murahannya. Menjijikan."
Reina membisu, berada di posisi ini membuat jiwanya semakin kacau.
"Pergilah dari sini, tidak ada yang menginginkanmu datang kembali. Lagipula, apa kau tidak punya malu menampakkan diri di hadapanku?"
"Aku ke sini untuk bertemu Reina dan Randi. Tentulah mereka merindukan Ayahnya. Aku akan tetap di sini menunggu Randi pulang."
"Menunggu Randi? Aku menerka bahwa ia tak akan sudi pulang jika di rumah ini ada pengkhianat."
"Melfa!" Rahman bangkit, netranya menatap istri pertamanya dengan kilatan amarah. "Aku masih suamimu. Randi dan Reina juga akan tetap menjadi anakku. Aku sadar telah melakukan kesalahan. Aku sudah meminta maaf malam itu. Tidakkah cukup hukuman yang aku terima dengan berpisah berbulan-bulan dari kalian?"
Melfa hanya membisu, sorot matanya mengarah ke sembarang arah. Napasnya naik turun menahan emosi. Setetes bulir bening meluncur ke pipinya, tetapi secepat kilat ia mengusap dengan punggung tangan.
Reina terisak, bahunya berguncang. Hatinya hancur berkeping-keping.
Rahman kembali duduk, ia mengusap wajah, lalu mengembuskan napas. Frustasi.
Hening beberapa saat, hanya isakan kecil yang terdengar memilukan dari bibir Reina.
"Lebih baik aku pergi. Aku memang sudah tak mendapat tempat di sini," ujar Rahman sembari berdiri. Menatap sang putri sesaat lalu berkata, "Reina, Ayah pergi. Sampai jumpa lain waktu."
Semakin terisak, Reina tak menjawab. Ia menenggelamkan wajah di kedua telapak tangan sambil menunduk.
"Ya, memang seharusnya kau tak kembali." Melfa bangkit, menuju pintu dan berdiri di sana.
Rahman mengayunkan kaki, saat sampai di depan pintu mobil, ia berhenti dan menatap rumah penuh kenangan itu untuk beberapa saat.
"Sampai jumpa di pengadilan," ucap Melfa dengan ekspresi datar, lalu menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara keras.
"Semuanya sudah berakhir," ucap pria itu lirih.
-Tamat-
Bandar Masilam, 16062020
Belajar Bersama Bisa dan Terima Kasih

Diubah oleh ismilaila 13-07-2020 05:53
aisber dan 27 lainnya memberi reputasi
28
4K
275
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ismilaila
#23
Cerpen

KISAH SEBENARNYA
Wajah yang mulai berkerut itu menatapku dengan sorot yang sulit dijelaskan. Mata sayunya berkali-kali berkedip, lalu setitik demi setitik, kaca-kaca mulai menggenangi pelupuk matanya.
"Bibi itu orang yang baik, Dit."
Lagi, kalimat itu kembali meluncur dari bibir wanita berjilbab lebar di hadapanku.
"Tapi Dita nggak mau tinggal sama Bi Firda, Bu. Dita maunya sama, Ibu."
Berkali-kali pula aku menolak, entah apa alasan Ibu sebenarnya. Sejak kemarin memintaku untuk ikut dengan Bi Firda. Wanita dengan dua orang putra yang kuketahui baru pindah ke kampung ini.
Bibir itu terkatup rapat. Tak pernah beliau memberi alasan yang tepat mengapa aku harus ikut Bi Firda dan tinggal bersamanya. Lagipula, aku tidak terlalu mengenal Bibi itu.
"Kenapa Dita harus tinggal bersama, Bi Firda? Lagipula beliau itu bukan siapa-siapanya kita, Bu."
Ibu masih bergeming, kali ini ia memilih menatap ke lantai. Raut wajahnya amat sendu, seperti ada duka mendalam di mata beningnya.
"Nanti kamu juga tau," ujar Ibu sembari bangkit berdiri dan melangkah ke dapur. Kulihat satu tangannya seperti sedang mengusap wajah.
Pikiranku benar-benar kalut. Aku mengembuskan napas dan menatap langit-langit. Rumah ini memang tak sebagus rumahnya Bi Firda. Tapi di sinilah aku tinggal sedari kecil, walau untuk makan sehari-hari juga pas-pasan. Setidaknya aku tidak pernah merasakan kelaparan. Ibu selalu memberikan yang terbaik untukku, dan aku sangat menyayanginya. Lalu ... apa penyebab Ibu menyuruhku tinggal bersama Bi Firda?
***
"Dita bantu ya, Bu?" Aku berkata sambil menghampiri Ibu yang sedang sibuk di dapur.
"Nggak usah, mendingan kerjain PR kamu aja sana."
Baru akan menyentuh pisau untuk membantu Ibu mengupas bawang, wanita berdaster biru tersebut langsung mencegahku. Ini aneh, sebab Ibu tidak pernah menolak bantuanku, selagi aku mau, pasti Ibu akan dengan senang menerima uluran tanganku.
Aku terdiam beberapa saat, terasa ada belati tak kasat mata menusuk rongga dada. Salahkah hanya sekedar membantu?
"Yaudah deh." Kecewa, aku mengayunkan kaki menuju kamar. Duduk di kursi kayu yang dibuat oleh mendiang Ayah, kursi yang menemaniku menyelesaikan tugas sekolah.
Beberapa hari ini Ibu memang sedikit berbeda, entahlah. Aku juga tidak mengerti, beliau hanya berkata seperlunya. Tanpa pernah mengajakku bercanda seperti biasanya. Sering pula aku mendapati Ibu menangis diam-diam. Terkadang di kamar, atau di dapur. Ketika aku datang bertanya, Ibu akan berkata bahwa dirinya tak apa-apa.
Aku menatap buku yang sampulnya bertuliskan namaku. Dita Ayunda, kelas dua SMA. di usia yang mulai menginjak dewasa, tapi aku merasa sifatku masih seperti anak-anak. Mungkin karena menjadi anak satu-satunya yang paling dimanja.
Sejak kecil mendiang Ayah dan Ibu selalu berusaha menuruti apa yang kupinta. Namun, karena sudah semakin dewasa, dan Ayah yang telah berpulang saat usiaku lima belas tahun, aku tidak pernah lagi meminta sesuatu yang macam-macam.
Bayangan masa kecil yang membahagiakan harus terusik ketika kata-kata Ibu siang tadi kembali terngiang.
"Ikut Bi Firda saja ya, Dit?"
"Kenapa Dita harus ikut Bi Firda? Lagipula Dita nggak kenal sama beliau."
"Bi Firda orangnya baik, kok, Dit. Kamu akan betah tinggal sama dia."
"Lalu, Ibu akan tinggal sendirian gitu?"
Ibu hanya bergeming, ia hanya mengembuskan napas tanpa kembali bicara.
Pikiranku benar-benar diliputi kebingungan.
***
Temaram lampu ruang tamu menemani kami berdua. Makan malam dengan berlaukkan ayam goreng, dan sayur asam. Aku makan dengan lahap, sebab sangat jarang menikmati makanan lezat ini. Entah darimana Ibu mendapatkan uang lebih, mungkin usaha warungnya sedang meningkat.
Tetapi, Ibu terlihat biasa saja. Bahkan, aku memaknai rautnya seperti sedang risau dan takut. Entahlah.
Selesai makan, aku membantu Ibu membereskan piring. Namun, seperti adegan sore tadi yang kembali terulang, lagi-lagi Ibu menolak bantuanku.
"Nggak usah, Dit. Biar Ibu saja."
Niat tulus dan baikku lagi-lagi tak dihargai. Apa salahku sebenarnya? Beberapa hari ini Ibu tak mau menerima bantuanku lagi, Ibu juga jarang mengajakku bicara. Apa salahku?
Tanpa terasa mataku memanas, kaca-kaca menghalangi pandangan. Setelah kuletakkan piring kotor di meja, aku segera berlari menuju kamar dan menumpahkan segala kesedihan dan amarah di sana.
Aku tergugu, tak pernah kurasakan ini sebelumnya. Rasanya perih, dadaku terasa sesak. 'Kenapa?' Kata itu berputar dalam kepala. Apa yang salah dengan diriku? Ibu tak sayang lagi padaku? Sehingga memintaku untuk tinggal saja dengan Bi Firda? Bermacam persepsi negatif membayangi pikiran. Aku membenamkan wajah di bantal, membiarkan air mata membanjiri benda empuk itu.
Sesekali kuangkat wajah dan melihat ke pintu, apakah Ibu akan datang dan melihat putrinya yang sedang bersedih?
Tidak, tidak sama sekali. Bahkan, ketika tanpa sadar aku telah terlelap karena lelah menangis.
***
Aku mengerjap, merasakan kedua mata yang berat, mungkin bengkak karena semalam terlalu lama menangis.
Aku kembali menarik selimut setelah kuingat bahwa ini hari Minggu. Lebih baik kembali tidur daripada harus menemui Ibu. Aku masih kesal, karena dibiarkan menangis sendirian.
Baru beberapa menit menutup mata, aku mendengar suara mobil terparkir di halaman rumah.
Bergegas aku bangkit dan mengintip, sebab letak kamarku memang menghadap langsung dengan halaman depan.
Seorang wanita bergamis hijau toska dan berkerudung lebar dengan warna senada tengah melangkah menuju ruang depan.
Seruan salam dari wanita tersebut langsung dijawab oleh Ibu. Aku mengintip dari tirai pintu, Ibu menyambut tamunya dengan tergopoh-gopoh. Ia mempersilakan wanita asing itu masuk dan duduk di kursi.
Keduanya bersalaman, kulihat wajah wanita di hadapan Ibu terlihat semringah. Ia tersenyum ramah, sedangkan Ibu kelihatan resah, tampak jelas dari gelagat tubuhnya yang gelisah.
"Bagaimana, Bi? Bisa saya bawa Dita sekarang?" tanya perempuan yang tak kukenali itu.
"Maaf, Fir. Dita belum mau ikut kamu. Padahal, sudah berulang kali saya membujuknya." Ibu berkata dengan suara amat pelan. Namun, telingaku masih sangat sehat, aku mendengar semuanya.
Apakah wanita itu adalah Bi Firda? Perempuan yang ingin agar aku ikut dan tinggal bersamanya? Tapi ... kenapa?
"Bi ... saya mohon. Saya ingin membawa Dita bersama saya. Tolong, Bi. Katakan saja yang sebenarnya, Dita sudah besar, dia pasti mengerti."
"Tidak semudah itu, Fir. Saya nggak sanggup ngomong yang sebenarnya sama Dita. Saya takut dia kecewa dengan apa yang akan ia dengar."
Aku benar-benar tidak mengerti. Rahasia apa yang sebenarnya tidak kuketahui?
"Bi, saya sadar bahwa saya memang bukan ibu yang baik. Tapi, Dita juga harus tau bahwa saya adalah ibu kandungnya, dan saya berhak membawanya, Bi."
Bagai dihantam ribuan batu besar. Aku hampir limbung jika tidak segera kupegang erat daun pintu. Mataku seketika memanas, jantung berdetak dengan tak karuan. Kenyataan apa yang baru saja aku dengar?
Kedua wanita berbeda usia itu terdiam beberapa saat, suasana hening. Aku tak sanggup melihat dengan jelas, pandanganku mengabur karena kristal bening yang berebut hendak keluar.
Sendi-sendiku melemas, tubuhku gemetar. Aku tak sanggup berdiri lebih lama. Kuputuskan untuk keluar kamar dan menemui keduanya. Dengan sisa tenaga yang aku punya.
"Aku udah tau semuanya," ucapku parau.
"Dita." Ibu berseru sambil berdiri, kedua matanya berkaca-kaca.
Sedangkan wanita itu hanya menatapku dengan raut terkejut.
"Kenapa ini semua bisa terjadi, Bu? Bi Firda pasti bohong, 'kan? Ibu adalah Ibu kandung, Dita, 'kan? Iya 'kan, Bu? Bu ... jawab ...." Aku terisak, sambil menatap Ibu yang ikut menangis.
"Dita ... maafkan, Mama, Nak." Wanita itu menyebut dirinya, 'Mama.' Mama mana yang tega meninggalkan anaknya?
Aku menggeleng tak percaya, kenyataan ini benar-benar membuat dadaku terasa sesak.
Aku mengambil langkah seribu dan keluar rumah. Mengabaikan panggilan Ibu dan Bi Firda.
Melewati dapur, kuputuskan untuk berhenti dan duduk di sebelah tembok rumah tetangga. Tak ada orang, sementara aku aman di sini. Menumpahkan segala perih dalam dada.
Sayup-sayup kudengar seseorang tengah berbicara, berasal dari dalam rumah yang kusandari. Suaranya mirip Bu Yati-tetanggaku-
"Dita itu anak kandungnya, Firda, Mas. Dulu, Firda hamil di luar nikah. Nggak ada satu pun yang tau kalau gadis itu ternyata sedang hamil tua. Bu Lilis bilang, sore itu Firda datang untuk menumpang kamar mandi. Katanya sakit perut, tapi ... Bu Firda malah dikagetkan dengan suara bayi. Firda melahirkan. Besok paginya, Bu Lilis sudah nggak melihat Firda lagi. Bahkan, Bu Lilis dengar Firda kabur dari rumahnya. Bu Lilis memilih mengangkat Dita jadi anaknya, tanpa orang tau bahwa sebenarnya Dita anak Firda. Bu Lilis yang cerita sama saya, Mas."
Lagi ... sepertinya Sang Maha Kuasa sengaja menunjukkan tentang siapa aku sebenarnya. Bagai belati tak kasat mata yang menyayat tanpa ampun hati yang sudah terluka ini.
"Jadi ... kembalinya si Firda ke kampung ini untuk menjemput Dita?"
"Iya, Mas. Kasian Bu Lilis. Tinggal sendiri kalau nanti Dita ikut ibu kandungnya."
Aku tergugu dengan suara lirih. Sekarang aku mengerti kenapa Ibu membujukku untuk ikut bersama Bi Firda. Aku mengerti, kenapa akhir-akhir ini sikap Ibu berbeda. Ibu menjauh, tak mau lagi kubantu. Ibu berubah, jarang mengajakku bicara dan bercanda. Hanya agar ... Ibu bisa terbiasa tanpaku, saat aku dibawa Bi Firda-ibu kandungku-
Aku bergegas menuju rumah kembali. Kulihat Ibu dan Bi Firda menangis. Lalu keduanya mengangkat wajah setelah mendengar langkah kakiku.
"Kenapa aku ditinggalin pas bayi? Apa Bibi malu punya anak kaya aku? Bibi malu karena hamil di luar nikah? Iya kan?"
"Dita! Jaga bicaramu, beliau itu Ibumu," bentak Ibu.
"Jangan dimarahi, Bi. Dita benar. Sayalah yang salah." Bi Firda menangis, menyesal mungkin.
"Waktu itu Mama memang malu, Nak. Mama malu karena melahirkan tanpa suami dan tidak dalam ikatan pernikahan. Tapi sekarang Mama sadar, Mama telah menelantarkan kamu. Untung saja Bi Lilis mau merawat kamu, dan menganggap kamu seperti anaknya sendiri." Wanita tersebut menjelaskan panjang lebar sambil terisak.
Hening sebentar, mendengar penuturan wanita berhidung mancung itu membuatku ikut merasakan bagaimana sulitnya ia kala itu.
"Dita tetep nggak mau ikut Bibi. Kasian Ibu sendiri di rumah," ucapku setelah lebih tenang.
"Dita ... Mama kandung kamu sudah di sini untuk menjemput. Kamu harus ikut beliau. Ibu nggak apa-apa tinggal sendirian."
"Enggak, aku nggak mau jauh dari Ibu."
"Ya sudah, begini saja. Kamu akan tetap tinggal di sini. Tapi ... Mama bolehkan datang berkunjung? Setidaknya sekarang kamu sudah tau semuanya."
Aku menoleh ke arah Ibu meminta pendapat. Beliau mengangguk setuju dengan senyuman di bibirnya.
***
Kehidupan terus berlanjut, aku tetap tinggal bersama Ibu. Wanita yang tidak mengandung dan tidak melahirkanku ke dunia, tapi beliau adalah sosok Ibu hebat di mataku.
Sesuai permintaan Mama. Beliau sering datang berkunjung ke rumah. Kadang bersama kedua putranya yang masih berusia lima dan tujuh tahun. Kadang juga datang bersama pria yang kusebut Papa.
Mama mengijinkanku untuk tinggal dan membalas budi pada Ibu. Setidaknya beliau telah sangat berjasa untuk kehidupanku selama ini.
-Tamat-
Bandar Masilam, 03 Juli 2020
embunsuci dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup