- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.5K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#260
Spoiler for Part 92:
Part 92
"Aku minta maaf"
"Aku gak tau kalo bakal kejadian kayak tadi"
"Aku gak tau kalau sakti dateng juga hari ini"
"Nat"
"Bales dong"
"Kamu marah ya?"
"Maafin aku nat 😭😭😭"
Begitulah kira-kira isi pesan yang sudah dikirimkan oleh beby sejak tadi siang.
Huuuuuuh......
Aku kira malam ini akan menjadi malam minggu yang sangat menyenangkan, aku kira malam ini aku akan menghabiskan waktu bersama beby, mungkin juga bersama keluarganya, sebelum mereka semua kembali pulang kebandung keesokan harinya.
Tapi......
Tenyata kenyataannya tidak semenyenangkan itu, bahkan malam minggu kali ini sama sekali tidak menyenangkan, malam ini aku hanya menghabiskan waktu dengan memandangi layar handphone dan berguling-guling di atas tempat tidur sambil terus bergalau ria.
Aku sama sekali tidak bergairah untuk melakukan apapun saat ini, bahkan aku belum melepas celana jeans yang sudah kugunakan sejak acara wisuda beby dan viny tadi siang, yap, aku rasa kalian sudah tahu apa penyebabnya.
Aku kembali mematikan layar handphoneku setelah puas memandangi pesan masuk dari beby yang sama sekali tidak kubalas, yap, egoku mengatakan aku harus melakukan itu, beby memang harus mendapat pelajaran, pelajaran atas perlakuan semena-mena yang dia dan keluarganya berikan kepadaku tadi siang.
Ya..., mereka memperlakukanku seolah-olah aku ini bukan manusia yang harus mereka jaga perasaanya, mereka benar-benar keterlaluan!!!.
Arrrrrrrggggghhhhh.........
Aku langsung beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri saklar lampu yang letaknya tidak terlalu jauh dari jangkauanku.
Cekleeeeeek.....
Aku kembali berjalan menghampiri tampat tidur setelah mematikan lampu kamarku, aku rasa tidur adalah opsi terbaik yang kumiliki malam ini.
Triiiiiing..... Triiiiiing.....
Baru saja aku akan memejamkan mata, suara panggilan masuk yang entah dari siapa berhasil menggagalkan percoban tidurku kali ini, tanpa melihat terlebih dahulu siapa orang yang saat ini menelponku, aku langsung mematikan handphoneku, lalu aku kembali memejamkan mataku.
yap, sebenarnya aku sudah tahu siapa orang yang menelponku kali ini, siapa lagi kalau bukan beby, sebenarnya beby sudah beberapa kali menelponku sebelum ini, tapi, aku rasa aku tidak perlu mengangkatnya.
.
.
.
"Nat...."
"Natha...."
"Bangun yuk, udah siang nih"
Sebuah suara dan sentuhan lembut pada lenganku berhasil mengusik tidurku pagi ini.
"Nat...."
Awalnya aku kira ini semua hanya mimpi, tapi seiring kesadaranku yang perlahan-lahan mulai terkumpul, aku baru menyadari bahwa ada seseorang yang sedang membangunkanku.
"Nat...., bangun yuk"
Aku langsung membalikkan badanku yang awalnya menghadap tembok dengan gerakkan cepat.
"Weeeeeeehhhhh!!!........"
Sontak saja aku langsung terkesiap setelah melihat seorang perempuan yang kini sedang berjalan mundur beberapa langkah karena terkejut dengan teriakanku.
"Bikin kaget aja sih mbak, masuk gak bilang-bilang"
Viny langsung menghela nafas kasar setelah mendengar peotes yang baru saja kulontarkan.
"Kamu juga bikin kaget tau!!!, pake teriak-teriak lagi, emang aku setan apa?!"
"Gimana aku bisa bilang kalo kamunya lagi tidur"
"Lagian pintunya gak kamu kunci, jadi aku langsung masuk aja"
Aku langsung terduduk di atas kasur setelah viny melayangkan beberapa protes balasan kearahku.
"Ngapain sih mbak?, pagi-pagi udah kesini aja?"
Kedua alisnya langsung merapat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja kulontarkan
"Pagi?!, ini udah jam 11 siang natha!!!"
Aku langsung mengambil dan menyalakan handphoneku untuk mengkonfirmasi pernyataan yang baru saja diuucapkan viny.
"Kebo banget sih, jorok lagi , itu celana yang kemaren kan?"
Ternyata benar, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, aku kembali menoleh kearah viny setelah mendengar cibiran yang baru saja dilontarkannya.
"Bawel banget sih, dasar nenek lampir"
Aku langsung beranjak dari tempat dudukku seraya membalas cibiran yang sebelumnya dilontarkan viny dengan nada pelan.
"Heh!!!, bilang apa kamu tadi?!"
Tanpa menghiraukan pertanyaan yang kembali dilontarkan viny, aku langsung melangkah untuk menghampiri lemari pakaian untuk mengambil selembar kaos dan celana pendek.
"Jawab!!!"
Aku langsung melangkah menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari tempat tidurku sambil terus mendiamkan viny.
"Natha!!!"
Bruuuaaaaaak.....
Aku langsung menutup pintu kamar mandi dengan gerakkan cepat sebelum viny mulai berlari mengejarku dengan wajah kesalnya.
"Awas ya kamu!!!"
Teriakan viny masih terdengar samar-samar dari dalam kamar mandi, akupun memilih untuk langsung membasahi tubuhku setelah melepas semua pakaianku tanpa sama sekali menghiraukan teriakan viny yang masih terdengar sampai saat ini.
.
.
.
Wajah kesal viny langsung menyambutku setelah aku berjalan keluar dari kamar mandi, aku terus berjalan sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang ada di tanganku tanpa memperdulikan viny yang sedang duduk di kursi sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Iiiisshh...., malah dicuekin"
Viny kembali melontarkan protes sembari mengerling kesal, aku masih mendiamkannya sambil terus mengeringkan rambutku, kali ini aku mengeringkannya tepat di hadapan sebuah kipas angin yang sedang berputar.
"Nat, habis ini ikut aku yuk"
Kali ini sebuah ajakkan yang keluar dari mulut viny, dia tidak lagi melontarkan kalimatnya dengan nada kesal.
"Kemana?"
Aku merespon ajakkan yang baru saja dilontarkan viny dengan sebuah pertanyaan singkat seraya melirik sekilas kearahnya.
"Nemenin beby nganterin ibunya kebandara nat"
Viny menjawab pertanyaanku seraya menyunggingkan senyuman tipis.
Huuuuuuh....
Sejak awal aku sudah menebak apa tujuan viny datang kekosanku siang ini, ternyata tebakkanku kali ini sama sekali tidak meleset, sekarang viny mengajakku untuk pergi menemui beby, itulah alasan mengapa aku sangat malas merespon kalimat demi kalimat yang sedari tadi terus keluar dari mulut viny.
"Nat...., ayolah...."
Tangannya mulai menyentuh pundakku dengan lembut.
"Aku paham kok gimana perasaan kamu"
Aku kembali melirik kearah viny setelah mendengar kalimat yang mulai kembali keluar dari mulutnya, sekarang aku dapat melihat viny yang sedang menatapku dengan tatapan memohonnya.
"Tapi tolong nat, kamu harus ngertiin perasaan beby juga"
"Dia sama sekali gak bisa ngontrol kejadian kemaren nat, dia sama sekali gak maksud buat bikin kamu kesel atau sakit hati, kejadian kemaren bukan sepenuhnya salah beby"
Viny menghela nafas kasar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kamu tau gak, sekarang beby bener-bener merasa bersalah sama kamu?"
"Dari kemaren sore dia udah coba hubungin kamu buat minta maaf, eh, kamumya malah gak bales chat sama telpon dia"
Aku kembali membuang tatapanku kesembarang arah seraya menghela nafas kasar.
Huuuuuh....
Sebenarnya aku merasa pernyataan demi pernyataan yang sedari tadi terus dilontarkan viny ada benarnya, kejadian kemaren sama sekali bukan salah beby, bahkan dia sudah beberapa kali mencoba untuk membelaku kemaren, tapi dia tidak bisa apa-apa ketika mas arya langsung memotong kalimat yang baru ingin diucapkannya.
"Nat...., please...."
Sebuah suara yang kembali keluar dari mulut viny berhasil membuyarkan lamunanku.
"Nat......, coba deh kamu pikir, gimana tertekannya beby kemaren, di satu sisi dia gak mau dan gak bisa ngelawan mas arya dan ibunya, di sisi lain dia juga kasian dan merasa bersalah banget sama kamu nat"
"Dengan kamu diemin dia kayak gini, rasa bersalah beby kekamu jadi tambah besar nat"
"Kamu gak kasian sama beby kalau dia harus menanggung rasa bersalah dari kesalahan yang sebenarnya gak dia perbuat?"
Pernyataan yang baru saja dilontarkan viny berhasil mengaduk-aduk logika dan ego yang sedari kemaren menguasai pikiran dan hatiku.
"Tadi malem beby nelpon aku terus sambil nangis-nangis, aku kasian banget sama dia nat, makanya sekarang aku bela-belain datengin kamu kesini"
"Dia juga udah batalin tiket pulangnya besok, dia gak mau pulang kalo belum ketemu dan minta maaf sama kamu
"Dia sampe bohong sama ibunya lho nat....."
Seketika suasana menjadi hening setelah viny mengucapkan kalimat terakhirnya, aku masih memilih untuk diam sambil terus mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang baru saja dilontarkan viny.
"Maaf nat, bukannya aku gak mikirin perasaan kamu, aku ngomong kayak gini supaya masalah kalian bisa cepet selesai, supaya kalian bisa sama-sama terus"
"Aku cuma gak mau liat sahabat-sahabat aku sedih"
Viny mulai menggerakkan ibu jarinya di atas lenganku.
"Kamu masih sayang sama beby kan nat?, kamu gak pengen liat dia sedih kan?"
Aku kembali menghela nafas kasar seraya mengusap-usap wajahku.
"Yaudah mbak, aku siap-siap dulu"
Viny kembali menyunggingkan senyumannya setelah aku menerima ajakkannya.
Bujukkan yang sebelumnya dilontarkan viny benar-benar berhasil membuatku terenyuh, yap, mungkin viny benar, tidak seharusnya beby menanggung rasa bersalah atas kesalahan yang sebenarnya tidak dia perbuat.
Aku juga tidak bisa terus menerus lari dari masalah, jika aku masih ingin mempertahankan hubunganku dengan beby, maka aku harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya, aku harus segera bertemu dan berbicara dengan beby, aku tidak mau melihat beby terus larut dengan rasa bersalahnya karena keegoisanku.
"Ngapain masih di sini?, tunggu di depan sana, aku mau ganti baju dulu, mbak mau ngintip ya?"
Senyuman viny seketika langsung luntur sesaat setelah aku mengusirnya.
"Dih..., sabar dong, siapa juga yang mau ngintip kamu ganti baju, jijay bajay!!!"
"Gakuss...."
Puuuuk.....
Aku melempar handuk yang baru saja kugunakan kearah viny agar dia berhenti berbicara dan segera pergi dari kamarku.
"Iiiiiiiihhhhh......, nathaaaaaaaaa!!!"
"Jorooooooooook!!!"
Viny langsung melempar handuk yang sekarang berada di tangannya kesembarang arah.
Dan.......
Buuuuuuk.... Buuuuuk.... Buuuuuk....
.
.
.
"Keluarga mbak udah pulang ya?"
Saat ini aku dan viny sedang duduk berhadapan di salah satu warung pecel yang terletak di pinggir jalanan kota jogja.
"Udah nat tadi pagi, sebelum aku kekosan kamu"
Aku dan viny memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengunjungi beby dan ibunya yang 1 jam lagi akan berangkat menuju bandara
"Maaf ya mbak, kemaren aku gak sopan sama mereka"
Viny langsung terkekeh setelah mendengar permintaan maaf yang baru saja kuucapkan.
"Kenapa? , gara-gara kamu nolak pas diajak makan siang kemaren?"
Aku hanya menjawab pertanyaan viny dengan sebuah anggukkan.
"Santai aja nat, sebenernya mereka paham kok sama keadaan kamu kemaren, soalnya aku sempet cerita juga kemereka kalo kamu pacarnya beby"
Aku hanya bisa terkekeh miris setelah mendengar jawaban viny yang mengingatkanku dengan kejadian kemaren siang.
"Oh iya, kok kemaren mbak gak ngajak pak rio?"
aku memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan kami sebelum perasaan kesal dan egoku kembali muncul dengan menanyakan tentang ketidak ikut sertaaan pak rio dalam acara wisuda gebetannya kemaren kepada viny.
"Takut pak rio berantem sama mantan mbak ya?"
Sebuah kekehan kecil mengakhiri pertanyaan yang kembali kulontarkan kearahnya.
"Apaan sih?, aku sama mas arya udah gak ada hubungan apa-apa kali, kenapa harus takut mereka berantem?"
Aku kembali terkekeh setelah melihat viny yang menjawab pertanyaanku dengan wajah kesal.
"Emang males aja nat, lagian aku takut orang tuaku nganggep hubungan aku sama pak rio serius kalo aku ngajak dia"
Aku langsung melempar tatapan heran kearah viny setelah mendengar jawabnnya.
"Lah, emang selama ini mbak gak serius sama dia?"
Ada sedikit jeda sebelum viny menjawab pertanyaanku.
"Y y yaaa...., gimana ya...."
"Aku juga masih bingung sih nat"
Viny langsung meminum es teh yang ada di hadapannya setelah menjawab pertanyaanku.
"Lah, bingung kenapa lagi?, bukannya kemaren mbak pernah bilang kalau mbak suka ya sama sikap dia?"
Aku kembali melontarkan pertanyaan kepada viny, masih dengan tatapan heran.
Viny: "yaaa...., suka sih suka, tapi aku belum nemu kenyamanan aja kalau lagi sama dia"
Aku: "kenapa?, dia masih belum berubah ya?, masih sering ngomongin pelajaran kalo ketemu kamu?"
Viny: "ya...., gak juga sih"
Aku: "lah, terus?"
Viny: "yaaa...., gimana ya jelasinnya?"
Bola matanya bergerak kearah kanan atas sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaanku.
"Intinya belum nyaman aja sih, paham kan nat?, kalau udah suka belum tentu udah nyaman"
"Kalau kamu tanya apa alesannya, aku juga gak bisa jelasin terlalu detail nat"
Aku langsung mengangguk paham setelah mendengar jawaban yang baru saja diberikan viny.
"Kalau emang udah gak nyaman, kenapa kamu masih sering pulang bareng dia?"
Viny langsung menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan yang kembali keluar dari mulutku.
"Ya...., gimana ya?, bukannya aku mau PHPin pak rio, aku cuma mau nyoba jalanin dulu aja nat, siapa tau lama-lama jadi nyaman kan?"
"Lagian kan tadi aku bilangnya belum nyaman, bukan gak nyaman"
Aku kembali mengangguk kecil setelah viny menjawab pertanyaanku.
"Dih..., sama aja kali mbak, kalo PHP mah PHP aja, pake ngeles segala lagi"
Viny kembali memasang wajah kesalnya karena merasa tidak terima dengan pernyataan yang baru saja kulontarkan.
Viny: "beda tau!!!"
Aku: "apa coba bedanya?"
Viny: "y y yaaaa....."
Wajah kesalnya perlahan-lahan mulai berganti dengan wajah panik.
"Gak ada kan?"
Aku kembali melontarkan pertanyaan seraya melempar tatapan remeh kearahnya.
"Iiiissshhh...., udah ah, jangan dibahas"
"Mending kita abisin dulu makanannya"
Lagi-lagi aku berhasil dibuat terkekeh oleh sikap viny yang terlihat agak sedikit panik akibat kedoknya yang berhasil kubongkar.
"Oke deh..., mbak-mbak PHP"
Decakkan kesal berhasil lolos dari mulut viny setelah aku memanggilnya dengan sebutan mbak-mbak PHP.
"Iiiihhh....., nyebelin!!!"
Karena merasa kasihan dengan viny yang saat ini sedang merasa terpojok, aku memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan kami dan melanjutkan makan siangku sambil sesekali mengejeknya.
"Aku minta maaf"
"Aku gak tau kalo bakal kejadian kayak tadi"
"Aku gak tau kalau sakti dateng juga hari ini"
"Nat"
"Bales dong"
"Kamu marah ya?"
"Maafin aku nat 😭😭😭"
Begitulah kira-kira isi pesan yang sudah dikirimkan oleh beby sejak tadi siang.
Huuuuuuh......
Aku kira malam ini akan menjadi malam minggu yang sangat menyenangkan, aku kira malam ini aku akan menghabiskan waktu bersama beby, mungkin juga bersama keluarganya, sebelum mereka semua kembali pulang kebandung keesokan harinya.
Tapi......
Tenyata kenyataannya tidak semenyenangkan itu, bahkan malam minggu kali ini sama sekali tidak menyenangkan, malam ini aku hanya menghabiskan waktu dengan memandangi layar handphone dan berguling-guling di atas tempat tidur sambil terus bergalau ria.
Aku sama sekali tidak bergairah untuk melakukan apapun saat ini, bahkan aku belum melepas celana jeans yang sudah kugunakan sejak acara wisuda beby dan viny tadi siang, yap, aku rasa kalian sudah tahu apa penyebabnya.
Aku kembali mematikan layar handphoneku setelah puas memandangi pesan masuk dari beby yang sama sekali tidak kubalas, yap, egoku mengatakan aku harus melakukan itu, beby memang harus mendapat pelajaran, pelajaran atas perlakuan semena-mena yang dia dan keluarganya berikan kepadaku tadi siang.
Ya..., mereka memperlakukanku seolah-olah aku ini bukan manusia yang harus mereka jaga perasaanya, mereka benar-benar keterlaluan!!!.
Arrrrrrrggggghhhhh.........
Aku langsung beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri saklar lampu yang letaknya tidak terlalu jauh dari jangkauanku.
Cekleeeeeek.....
Aku kembali berjalan menghampiri tampat tidur setelah mematikan lampu kamarku, aku rasa tidur adalah opsi terbaik yang kumiliki malam ini.
Triiiiiing..... Triiiiiing.....
Baru saja aku akan memejamkan mata, suara panggilan masuk yang entah dari siapa berhasil menggagalkan percoban tidurku kali ini, tanpa melihat terlebih dahulu siapa orang yang saat ini menelponku, aku langsung mematikan handphoneku, lalu aku kembali memejamkan mataku.
yap, sebenarnya aku sudah tahu siapa orang yang menelponku kali ini, siapa lagi kalau bukan beby, sebenarnya beby sudah beberapa kali menelponku sebelum ini, tapi, aku rasa aku tidak perlu mengangkatnya.
.
.
.
"Nat...."
"Natha...."
"Bangun yuk, udah siang nih"
Sebuah suara dan sentuhan lembut pada lenganku berhasil mengusik tidurku pagi ini.
"Nat...."
Awalnya aku kira ini semua hanya mimpi, tapi seiring kesadaranku yang perlahan-lahan mulai terkumpul, aku baru menyadari bahwa ada seseorang yang sedang membangunkanku.
"Nat...., bangun yuk"
Aku langsung membalikkan badanku yang awalnya menghadap tembok dengan gerakkan cepat.
"Weeeeeeehhhhh!!!........"
Sontak saja aku langsung terkesiap setelah melihat seorang perempuan yang kini sedang berjalan mundur beberapa langkah karena terkejut dengan teriakanku.
"Bikin kaget aja sih mbak, masuk gak bilang-bilang"
Viny langsung menghela nafas kasar setelah mendengar peotes yang baru saja kulontarkan.
"Kamu juga bikin kaget tau!!!, pake teriak-teriak lagi, emang aku setan apa?!"
"Gimana aku bisa bilang kalo kamunya lagi tidur"
"Lagian pintunya gak kamu kunci, jadi aku langsung masuk aja"
Aku langsung terduduk di atas kasur setelah viny melayangkan beberapa protes balasan kearahku.
"Ngapain sih mbak?, pagi-pagi udah kesini aja?"
Kedua alisnya langsung merapat setelah mendengar pertanyaan yang baru saja kulontarkan
"Pagi?!, ini udah jam 11 siang natha!!!"
Aku langsung mengambil dan menyalakan handphoneku untuk mengkonfirmasi pernyataan yang baru saja diuucapkan viny.
"Kebo banget sih, jorok lagi , itu celana yang kemaren kan?"
Ternyata benar, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, aku kembali menoleh kearah viny setelah mendengar cibiran yang baru saja dilontarkannya.
"Bawel banget sih, dasar nenek lampir"
Aku langsung beranjak dari tempat dudukku seraya membalas cibiran yang sebelumnya dilontarkan viny dengan nada pelan.
"Heh!!!, bilang apa kamu tadi?!"
Tanpa menghiraukan pertanyaan yang kembali dilontarkan viny, aku langsung melangkah untuk menghampiri lemari pakaian untuk mengambil selembar kaos dan celana pendek.
"Jawab!!!"
Aku langsung melangkah menuju kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari tempat tidurku sambil terus mendiamkan viny.
"Natha!!!"
Bruuuaaaaaak.....
Aku langsung menutup pintu kamar mandi dengan gerakkan cepat sebelum viny mulai berlari mengejarku dengan wajah kesalnya.
"Awas ya kamu!!!"
Teriakan viny masih terdengar samar-samar dari dalam kamar mandi, akupun memilih untuk langsung membasahi tubuhku setelah melepas semua pakaianku tanpa sama sekali menghiraukan teriakan viny yang masih terdengar sampai saat ini.
.
.
.
Wajah kesal viny langsung menyambutku setelah aku berjalan keluar dari kamar mandi, aku terus berjalan sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang ada di tanganku tanpa memperdulikan viny yang sedang duduk di kursi sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Iiiisshh...., malah dicuekin"
Viny kembali melontarkan protes sembari mengerling kesal, aku masih mendiamkannya sambil terus mengeringkan rambutku, kali ini aku mengeringkannya tepat di hadapan sebuah kipas angin yang sedang berputar.
"Nat, habis ini ikut aku yuk"
Kali ini sebuah ajakkan yang keluar dari mulut viny, dia tidak lagi melontarkan kalimatnya dengan nada kesal.
"Kemana?"
Aku merespon ajakkan yang baru saja dilontarkan viny dengan sebuah pertanyaan singkat seraya melirik sekilas kearahnya.
"Nemenin beby nganterin ibunya kebandara nat"
Viny menjawab pertanyaanku seraya menyunggingkan senyuman tipis.
Huuuuuuh....
Sejak awal aku sudah menebak apa tujuan viny datang kekosanku siang ini, ternyata tebakkanku kali ini sama sekali tidak meleset, sekarang viny mengajakku untuk pergi menemui beby, itulah alasan mengapa aku sangat malas merespon kalimat demi kalimat yang sedari tadi terus keluar dari mulut viny.
"Nat...., ayolah...."
Tangannya mulai menyentuh pundakku dengan lembut.
"Aku paham kok gimana perasaan kamu"
Aku kembali melirik kearah viny setelah mendengar kalimat yang mulai kembali keluar dari mulutnya, sekarang aku dapat melihat viny yang sedang menatapku dengan tatapan memohonnya.
"Tapi tolong nat, kamu harus ngertiin perasaan beby juga"
"Dia sama sekali gak bisa ngontrol kejadian kemaren nat, dia sama sekali gak maksud buat bikin kamu kesel atau sakit hati, kejadian kemaren bukan sepenuhnya salah beby"
Viny menghela nafas kasar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kamu tau gak, sekarang beby bener-bener merasa bersalah sama kamu?"
"Dari kemaren sore dia udah coba hubungin kamu buat minta maaf, eh, kamumya malah gak bales chat sama telpon dia"
Aku kembali membuang tatapanku kesembarang arah seraya menghela nafas kasar.
Huuuuuh....
Sebenarnya aku merasa pernyataan demi pernyataan yang sedari tadi terus dilontarkan viny ada benarnya, kejadian kemaren sama sekali bukan salah beby, bahkan dia sudah beberapa kali mencoba untuk membelaku kemaren, tapi dia tidak bisa apa-apa ketika mas arya langsung memotong kalimat yang baru ingin diucapkannya.
"Nat...., please...."
Sebuah suara yang kembali keluar dari mulut viny berhasil membuyarkan lamunanku.
"Nat......, coba deh kamu pikir, gimana tertekannya beby kemaren, di satu sisi dia gak mau dan gak bisa ngelawan mas arya dan ibunya, di sisi lain dia juga kasian dan merasa bersalah banget sama kamu nat"
"Dengan kamu diemin dia kayak gini, rasa bersalah beby kekamu jadi tambah besar nat"
"Kamu gak kasian sama beby kalau dia harus menanggung rasa bersalah dari kesalahan yang sebenarnya gak dia perbuat?"
Pernyataan yang baru saja dilontarkan viny berhasil mengaduk-aduk logika dan ego yang sedari kemaren menguasai pikiran dan hatiku.
"Tadi malem beby nelpon aku terus sambil nangis-nangis, aku kasian banget sama dia nat, makanya sekarang aku bela-belain datengin kamu kesini"
"Dia juga udah batalin tiket pulangnya besok, dia gak mau pulang kalo belum ketemu dan minta maaf sama kamu
"Dia sampe bohong sama ibunya lho nat....."
Seketika suasana menjadi hening setelah viny mengucapkan kalimat terakhirnya, aku masih memilih untuk diam sambil terus mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang baru saja dilontarkan viny.
"Maaf nat, bukannya aku gak mikirin perasaan kamu, aku ngomong kayak gini supaya masalah kalian bisa cepet selesai, supaya kalian bisa sama-sama terus"
"Aku cuma gak mau liat sahabat-sahabat aku sedih"
Viny mulai menggerakkan ibu jarinya di atas lenganku.
"Kamu masih sayang sama beby kan nat?, kamu gak pengen liat dia sedih kan?"
Aku kembali menghela nafas kasar seraya mengusap-usap wajahku.
"Yaudah mbak, aku siap-siap dulu"
Viny kembali menyunggingkan senyumannya setelah aku menerima ajakkannya.
Bujukkan yang sebelumnya dilontarkan viny benar-benar berhasil membuatku terenyuh, yap, mungkin viny benar, tidak seharusnya beby menanggung rasa bersalah atas kesalahan yang sebenarnya tidak dia perbuat.
Aku juga tidak bisa terus menerus lari dari masalah, jika aku masih ingin mempertahankan hubunganku dengan beby, maka aku harus segera menyelesaikan masalah ini secepatnya, aku harus segera bertemu dan berbicara dengan beby, aku tidak mau melihat beby terus larut dengan rasa bersalahnya karena keegoisanku.
"Ngapain masih di sini?, tunggu di depan sana, aku mau ganti baju dulu, mbak mau ngintip ya?"
Senyuman viny seketika langsung luntur sesaat setelah aku mengusirnya.
"Dih..., sabar dong, siapa juga yang mau ngintip kamu ganti baju, jijay bajay!!!"
"Gakuss...."
Puuuuk.....
Aku melempar handuk yang baru saja kugunakan kearah viny agar dia berhenti berbicara dan segera pergi dari kamarku.
"Iiiiiiiihhhhh......, nathaaaaaaaaa!!!"
"Jorooooooooook!!!"
Viny langsung melempar handuk yang sekarang berada di tangannya kesembarang arah.
Dan.......
Buuuuuuk.... Buuuuuk.... Buuuuuk....
.
.
.
"Keluarga mbak udah pulang ya?"
Saat ini aku dan viny sedang duduk berhadapan di salah satu warung pecel yang terletak di pinggir jalanan kota jogja.
"Udah nat tadi pagi, sebelum aku kekosan kamu"
Aku dan viny memilih untuk makan siang terlebih dahulu sebelum mengunjungi beby dan ibunya yang 1 jam lagi akan berangkat menuju bandara
"Maaf ya mbak, kemaren aku gak sopan sama mereka"
Viny langsung terkekeh setelah mendengar permintaan maaf yang baru saja kuucapkan.
"Kenapa? , gara-gara kamu nolak pas diajak makan siang kemaren?"
Aku hanya menjawab pertanyaan viny dengan sebuah anggukkan.
"Santai aja nat, sebenernya mereka paham kok sama keadaan kamu kemaren, soalnya aku sempet cerita juga kemereka kalo kamu pacarnya beby"
Aku hanya bisa terkekeh miris setelah mendengar jawaban viny yang mengingatkanku dengan kejadian kemaren siang.
"Oh iya, kok kemaren mbak gak ngajak pak rio?"
aku memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan kami sebelum perasaan kesal dan egoku kembali muncul dengan menanyakan tentang ketidak ikut sertaaan pak rio dalam acara wisuda gebetannya kemaren kepada viny.
"Takut pak rio berantem sama mantan mbak ya?"
Sebuah kekehan kecil mengakhiri pertanyaan yang kembali kulontarkan kearahnya.
"Apaan sih?, aku sama mas arya udah gak ada hubungan apa-apa kali, kenapa harus takut mereka berantem?"
Aku kembali terkekeh setelah melihat viny yang menjawab pertanyaanku dengan wajah kesal.
"Emang males aja nat, lagian aku takut orang tuaku nganggep hubungan aku sama pak rio serius kalo aku ngajak dia"
Aku langsung melempar tatapan heran kearah viny setelah mendengar jawabnnya.
"Lah, emang selama ini mbak gak serius sama dia?"
Ada sedikit jeda sebelum viny menjawab pertanyaanku.
"Y y yaaa...., gimana ya...."
"Aku juga masih bingung sih nat"
Viny langsung meminum es teh yang ada di hadapannya setelah menjawab pertanyaanku.
"Lah, bingung kenapa lagi?, bukannya kemaren mbak pernah bilang kalau mbak suka ya sama sikap dia?"
Aku kembali melontarkan pertanyaan kepada viny, masih dengan tatapan heran.
Viny: "yaaa...., suka sih suka, tapi aku belum nemu kenyamanan aja kalau lagi sama dia"
Aku: "kenapa?, dia masih belum berubah ya?, masih sering ngomongin pelajaran kalo ketemu kamu?"
Viny: "ya...., gak juga sih"
Aku: "lah, terus?"
Viny: "yaaa...., gimana ya jelasinnya?"
Bola matanya bergerak kearah kanan atas sambil memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaanku.
"Intinya belum nyaman aja sih, paham kan nat?, kalau udah suka belum tentu udah nyaman"
"Kalau kamu tanya apa alesannya, aku juga gak bisa jelasin terlalu detail nat"
Aku langsung mengangguk paham setelah mendengar jawaban yang baru saja diberikan viny.
"Kalau emang udah gak nyaman, kenapa kamu masih sering pulang bareng dia?"
Viny langsung menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan yang kembali keluar dari mulutku.
"Ya...., gimana ya?, bukannya aku mau PHPin pak rio, aku cuma mau nyoba jalanin dulu aja nat, siapa tau lama-lama jadi nyaman kan?"
"Lagian kan tadi aku bilangnya belum nyaman, bukan gak nyaman"
Aku kembali mengangguk kecil setelah viny menjawab pertanyaanku.
"Dih..., sama aja kali mbak, kalo PHP mah PHP aja, pake ngeles segala lagi"
Viny kembali memasang wajah kesalnya karena merasa tidak terima dengan pernyataan yang baru saja kulontarkan.
Viny: "beda tau!!!"
Aku: "apa coba bedanya?"
Viny: "y y yaaaa....."
Wajah kesalnya perlahan-lahan mulai berganti dengan wajah panik.
"Gak ada kan?"
Aku kembali melontarkan pertanyaan seraya melempar tatapan remeh kearahnya.
"Iiiissshhh...., udah ah, jangan dibahas"
"Mending kita abisin dulu makanannya"
Lagi-lagi aku berhasil dibuat terkekeh oleh sikap viny yang terlihat agak sedikit panik akibat kedoknya yang berhasil kubongkar.
"Oke deh..., mbak-mbak PHP"
Decakkan kesal berhasil lolos dari mulut viny setelah aku memanggilnya dengan sebutan mbak-mbak PHP.
"Iiiihhh....., nyebelin!!!"
Karena merasa kasihan dengan viny yang saat ini sedang merasa terpojok, aku memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan kami dan melanjutkan makan siangku sambil sesekali mengejeknya.
Diubah oleh akmal162 28-06-2020 14:01
Indjay dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas
