- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.3K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#257
Spoiler for Part 91:
Part 91
"Kakak mana mah?"
Beby langsung menghampiri ibunya sesaat setelah kami tiba di depan gedung rektorat, sementara viny memilih untuk menghampiri ayah, ibu, dan kakaknya yang berdiri tidak jauh dari tempat ibunya beby menunggu kami saat ini.
"Gaktau dek, katanya tadi mau ketemu temennya sebentar"
Beby hanya mengangguk kecil seraya membulatkan mulutnya setelah mendengar informasi yang baru saja keluar dari mulut ibunya.
Aku kembali melempar senyuman seraya mengangguk kecil saat ibunya beby melirik sekilas kearahku.
"Nat, tolong fotoin dong....."
Aku langsung menoleh kearah viny setelah dia memanggilku.
"Sebentar ya mbak, bu"
Aku kembali menoleh kearah beby, lalu menoleh kearah ibunya sebelum menghampiri viny sekeluarga yang baru saja meminta bantuanku, masih dengan senyuman yang belum hilang dari wajahku.
"Iya nat"
Setelah itu, aku langsung menghampiri viny dan keluarganya yang sudah siap untuk berfoto.
"Ini nat"
Aku langsung mengambil kamera yang sedang disodorkan viny, lalu aku mulai mencari tempat yang tepat untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus.
"Oke, siap ya..., 1...., 2...., 3...."
Cekreeeeeek.......
Aku berjalan menghampiri mereka setelah beberapa kali mengambil gambar untuk menunjukkan hasil jepretanku.
"Ini vin, coba liat dulu aja, kalo jelek aku fotoin lagi"
Viny langsung mengambil kamera yang baru saja kusodorkan kearahnya, lalu dia mengajak keluarganya untuk melihat gambar mereka yang baru saja kuambil.
Jujur aku agak sedikit takut jika mereka kecewa dengan hasil jepretanku, mengingat skill photography yang kumiliki memang berada di bawah rata-rata.
"Udah bagus kok nat...., makasih banyak ya"
Viny kembali menoleh kearahku seraya mengucapkan terimakasih setelah merasa puas dengan hasil jepretan ku.
"Makasih banyak ya mas"
Aku langsung menghembuskan nafas lega seraya membalas senyuman yang baru saja mereka lemparkan kearahku.
"Pak, bu, vin, kalau udah, saya kesana lagi ya"
Aku kembali menghampiri beby dan ibunya sesaat setelah mereka mempersilahkanku untuk pergi.
Deeeeeeeeg.......
Langkahku langsung terhenti setelah melihat 2 orang laki-laki yang saat ini sedang bercengkrama bersama beby dan ibunya.
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar, aku kembali melanjutkan langkahku untuk menghampiri beby dan ibunya dengan perasaan yang mulai tidak karuan.
Tatapan mereka langsung tertuju kearahku setelah melihatku yang saat ini sedang berdiri di dekat mereka.
"Oh iya, kenalin, ini natha"
"Eeeeeennngggg....., pacar aku kak"
Beby langsung memperkenalkanku kepada kakaknya sesaat setelah dia menyadari keberadaanku.
"Natha mas"
Aku mengenalkan diriku seraya menyodorkan tangan kearah kakaknya beby.
"Arya, kakaknya beby"
Mas arya langsung menyambut tanganku seraya memperkenalkan namanya, dia juga tersenyum tipis kearahku.
Setelah berkenalan dengan mas arya, pandanganku langsung beralih kearah laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya.
Aku kembali menyodorkan tanganku untuk memperkenalkan diri kepada laki-laki itu.
"Natha"
Aku memperkenalkan diriku dengan nada yang terdengar sangat yakin sesaat setelah dia menyambut uluran tangan yang kusodorkan kearahnya.
"Sakti"
Aku langsung menarik kembali tanganku sesaat setelah sakti memperkenalkan namanya, begitu juga dengan sakti.
Kami sama-sama mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin, bukan apa-apa, pasalnya pertemuan terakhir kami berakhir dengan pertengkaran, sangat sukit untuk bersikap biasa dengan orang yang kita tidak suka.
"Yaudah, langsung foto aja yuk"
Aku langsung mengikuti langkah mereka untuk mencari spot yang pas untuk mengambil foto.
"Disini aja deh, kayaknya bagus"
"Oh iya, mas, bisa tolong fotoin kita?"
Aku langsung mengambil kamera SLR yang disodorkan mas arya setelah mereka menemukan spot foto yang mereka inginkan.
"Iya mas"
Aku melangkah mundur sambil terus memperhatikan layar kamera untuk mencari posisi terbaik agar hasil jepretanku nanti tidak mengecewakan.
"1.... 2.... 3...."
Cekreeeeeeek......
Aku kembali menghampiri mereka untuk menunjukkan hasil jepretanku setelah beberapa kali menekan tombol pengambilan gambar di bagian atas kamera.
"Bagus kok, eh, lagi ya mas"
Aku kembali mengambil kamera yang disodorkan mas arya sambil berjalan menghampiri spot yang sebelumnya juga kutempati untuk mengambil gambar mereka.
"Eh, sak, sini, foto"
Deeeeeeg......
Sakti yang sebelumnya berdiri agak jauh dari tempat mereka berfoto, langsung menghampiri beby sekeluarga untuk ikut berfoto setelah mendengar instruksi dari mas arya.
Beby sesekali melirik kearahku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan, entahlah, mungkin dia terkejut, mungkin dia bingung, mungkin juga dia merasa tidak enak kepadaku.
"Kak, aku......"
Beby langsung memanggil kakaknya sesaat setelah sakti bergabung dengan mereka.
"Ayo mas...."
Tanpa menghiraukan panggilan dari beby, mas arya langsung memintaku untuk kembali mengambil gambar mereka sekeluarga plus sakti yang juga sudah bergabung bersama mereka.
Huuuuuuh.....
Hembusan nafas mulai keluar dari mulutku secara perlahan-lahan sebelum aku kembali mengarahkan kamera yang ada di tanganku untuk mengambil gambar mereka.
"Nat....."
Aku langsung menoleh kearah belakang setelah mendengar suara seseorang yang sedang memanggil namaku seraya menyentuh pundakku.
"Aku aja yang fotoin, lagi pengen moto nih"
Viny langsung mengambil kamera yang ada di tanganku tanpa sama sekali menunggu persetujuanku.
"Beb...., aku yang fotoin ya...."
Viny langsung meminta izin kepada beby sesaat setelah dia mengambil kamera yang ada di tanganku.
"Lagian si natha gak bisa moto mas, bu, mending aku aja, hasilnya dijamin bagus"
Viny juga meminta izin kepada keluarga beby yang lain, mereka hanya menanggapi inisiatif viny dengan sebuah senyuman dan anggukkan kecil sambil kembali bersiap untuk berpose.
"Kak sakti agak kekiri dikit, mas arya agak munduran dikit, ibu agak rapet kekanan dikit"
"Oke, 1...., 2...., 3...."
Cekreeeeek.....
Akupun memilih untuk melangkah mundur sambil terus memperhatikan mereka yang mulai kembali berpose mengikuti instruksi yang diberikan viny.
Huuuuuuh......
Aku hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman sambil memperhatikan wajah bahagia mereka saat sedang berpose.
Perasaan dongkol mulai menyelimuti hati dan pikiranku, apa-apaan ini?, apa maksud mereka mengajak sakti untuk ikut foto bersama?, kenapa bukan aku?, bukannya mereka sudah mengetahui bahwa saat ini beby adalah kekasihku?, aku juga sama sekali tidak merasa ada sebuah penolakan yang mereka tunjukkan saat beby memperkenalkanku sebagai kekasihnya, tapi kenapa sekarang mereka seperti ini?.
Sebenarnya aku sama sekali tidak mempermasalahkan jika mereka tidak mengajakku foto bersama, tapi, dengan mereka mengajak sakti, seolah-olah mereka ingin memberitahu bahwa mereka lebih senang jika beby menjalin hubungan dengan sakti daripada beby menjalin hubungan denganku.
Yasudahlah.......
Aku rasa, aku tidak boleh berprasangka buruk dulu kepada mereka, mungkin mereka sudah menanggap sakti sebagai salah satu bagian dari anggota keluarga mereka juga.
Wajar sih, mereka sudah mengenal sakti selama bertahun-tahun, sedangkan aku, mereka saja baru mengenalku hari ini.
Aku mencoba untuk meredam perasaan dongkol yang sedari tadi menyelimutiku dengan memikirkan hal-hal positif yang mungkin saja terjadi.
"Nih, coba diliat dulu"
Viny langsung berjalan menghampiri mereka untuk menunjukkan hasil jepretannya.
"Udah bagus kok vin, makasih banyak ya"
Aku mulai melangkahkan kakiku untuk menghampiri bangku panjang yang terdapat tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
"Oh iya, sak, lu foto berdua gih sama beby, biar gue yang fotoin"
Rasa dongkolku mulai kembali muncul setelah melihat mas arya yang meminta sakti untuk foto berdua dengan beby, apa-apaan lagi ini?, aku saja belum mendapat kesempatan untuk berfoto dengan beby, eh, si sakti udah mau foto aja!.
Arrrrrrrrgggggghhh..........
Meskipun seperti itu, aku masih berusaha agar tidak menunjukkan ekspresi yang terlalu mencolok atas rasa dongkolku saat ini.
Beby melirik sekilas kearahku yang sedang memperhatikannya, aku memilih untuk membuang tatapanku sesaat setelah kedua mata kami bertemu.
"Nat...."
Aku langsung menoleh setelah mendengar sebuah suara yang memanggil namaku dari arah samping.
"Foto yuk..., kita belum sempet foto berdua lhoo...."
Sekarang aku dapat melihat viny yang sedang berdiri di sampingku seraya melemparkan sebuah senyuman kearahku.
"Yuk?"
Aku langsung membuang tatapanku kearah lain seraya menghela nafas kasar.
"Nat...., gakusah terlalu dipikirin gitu, mereka cuma foto bareng kok"
Tangannya mulai bergerak untuk menyentuh pundakku.
"Nanti aku yang motoin kalian kalo udah sampe rumah, sekarang kita foto dulu yuk?"
Entahlah, biasanya senyuman viny selalu berhasil memaksaku untuk memenuhi apapun permintaannya, tapi, senyuman yang sedari tadi tersungging di wajahnya terasa sangat hambar, tidak ada perasaan senang, tidak ada perasaan campur aduk yang biasanya menyelimuti hati dan pikiranku saat melihat senyumannya kali ini.
"Nat...., yuk?, bapak sama ibu aku udah nungguin lho....., kakak aku juga"
Viny hanya bisa menghela nafas kasar setelah tidak mendapatkan respon apaun dariku atas ajakannya barusan.
"Nat, ayo...."
Tanpa menunggu persetujuanku, viny langsung menarik paksa tanganku untuk mengikutinya.
Aku: "e e eeehhh...., apa-apaan sih mbak?"
Viny: "udah...., ikut!!!"
Aku: "mbak, udah deh, jangan gini dong, aku lagi males"
Viny: "diem!!!"
Dia terus melangkah sambil menarik paksa tanganku untuk mengikutinya menghampiri ayah, ibu, dan kakaknya tanpa sama sekali menghiraukan protes yang terus keluar dari mulutku.
"Pak, bu, ini natha, yang biasanya aku ceritain"
Aku langsung menarik paksa kedua sudut bibirku keatas setelah viny memperkenalkanku kepada keluarganya.
Rasanya sangat tidak etis jika aku memasang wajah dongkol saat bertemu dengan mereka.
"Oooohhh...., ternyata mas ini yang sering anter jemput kamu vin?"
Aku langsung menyodorkan tanganku dan menyalami mereka satu persatu.
"Natha pak"
"Natha bu"
"Natha mas"
Aku juga mencium tangan mereka, kecuali kakaknya viny sih, dari perkenalan ini, aku baru mengetahui viny memliki nama yang hampir mirip dengan kakaknya yang ternyata bernama vino.
"Maaf ya mas kalo anak saya ngerepotin"
"Viny emang gitu, gak bisa apa-apa anaknya"
"Makasih juga lho udah sering bantuin viny"
Aku hanya menanggapi permintaan maaf dan ucapan terimakasih yang keluar dari mulut mereka dengan sebuah anggukan dan senyuman kecil.
"Iiihhh....., kok ibu jadi jelek-jelekin aku sih?"
Kami langsung terkekeh setelah viny melontarkan protesnya.
"Makanya vin, ibu suruh belajar naik mobil sama motor kamu gak pernah mau, untung aja dulu ada beby"
"Untung juga sekarang masih ada natha"
Viny semakin memajukan bibirnya setelah ibunya menyampaikan sebuah wejangan singkat.
"Iya bu, iya, nanti viny belajar ya...., sayang deh sama ibu"
Muach.....
Viny langsung meng iya kan wejangan yang baru saja dia terima seraya mencium singkat pipi ibunya.
"Kak, tolong fotoin aku sama natha dong...."
Ibu dan ayahnya viny hanya bisa menggelengkan kepala seraya terkekeh kecil melihat kelakuan putri bungsunya siang ini.
Sementara itu, mas vino langsung menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan viny.
Tanpa menunggu lama, aku, viny, dan mas vino, mulai berjalan untuk mencari spot foto yang kami rasa bagus.
"Disini aja deh kak"
Setelah mendapatkan spot yang kami rasa bagus, viny langsung mengajakku untuk berpose di depan kamera.
"Oke, mulai ya, 1...., 2...., 3...."
Beberapa kali viny mengganti posenya seiring dengan menyalanya lampu flash kamera yang ada di tangan mas vino.
"Dih..., kok gaya kamu gitu-gitu aja sih nat"
"Kayak foto tahanan-tahanan di TV nat"
"Senyum doang susah banget"
Viny langsung melontarkan berbagai macam protes karena melihat poseku yang sama sekali tidak berubah di setiap foto yang saat ini tergambar di layar kamera yang sedang dipegangnya.
"Emang gakbisa mbak"
Aku hanya menanggapi protes demi protes yang sedari tadi terus keluar dari mulut viny dengan kalimat singkat, jujur aku sama sekaki tidak tertarik untuk berdebat dengan viny sekarang.
"Iiiiissshhhh...., gak asyik banget kamu nat"
Viny kembali melontarkan protes sambil terus memperhatikan foto-foto kami, dia juga mulai melangkah untuk kembali menghampiri orang tuanya sambil terus memperhatikan layar kamera yang berada di tangannya.
Aku dan mas vino hanya bisa terkekeh kecil setelah melihat viny yang kesal akibat ulahku, aku memutuskan untuk mengikuti viny yang sudah berjalan mendahuluiku, begitu juga dengan mas vino.
Saat sedang berjalan menghampiri ayah dan ibunya viny, aku melihat mereka sedang bercengkrama dengan keluarga beby dari kejauhan.
Pemandangan yang saat ini tersaji berhasil membuat langkahku terhenti, apalagi penyebabnya kalau bukan sakti yang sampai saat ini masih berada di antara mereka.
"Kenapa mas?"
Teguran dari mas vini berhasil menghentikan lamunanku.
"E e ehhh...., gakpapa kok mas"
Mas vino kembali melanjutkan langkahnya seraya melemparkan senyuman kearahku.
Huuuuuuh......
Aku langsung melanjutkan langkahku setelah menghela nafas kasar.
"Kalo gitu saya sama anak-anak duluan ya pak, bu, udah di tunggu sama temennya arya nih, kita mau makan siang dulu"
Begitulah kira-kira kalimat yang kudengar sesampainya, aku, viny, dan mas vino di tempat orang tua mereka yang sampai saat ini masih bercengkrama dengan keluarga beby.
"Oh iya bu, silahkan, duluan aja, gakpapa kok"
Pandangan kami sempat bertemu selama beberapa detik, aku langsung mengalihkan pandanganku dari wajah beby yang saat ini menatapku dengan tatapan yang sama sekali masih belum bisa kuartikan.
"Ayo kak, dek, kamu ikut juga ya sak"
Deeeeeeg.......
Rasa dongkolku semakin menjadi-jadi setelah mendengar ibunya beby yang baru saja mengajak sakti untuk makan siang bersama mereka, aku?, jangankan diajak makan siang bersama, ibu dan kakaknya beby sama sekali tidak menyapaku yang saat ini sudah berada di dekat mereka.
Iri lu nat?.
Mungkin, bisa jadi iya.
Entahlah, aku sendiri juga bingung, apa sebenarnya penyebab rasa dongkolku siang ini?, mungkin benar, aku memang iri dengan sakti, bagaimana tidak?, kali ini keadaan benar-benar berpihak kepadanya, sedari tadi aku merasa terintimidasi oleh perlakuan yang diberikan oleh ibu dan kakaknya beby kepada sakti.
Huuuuuuh.....
Apa jangan-jangan, dibalik senyuman ramah yang sempat mereka lemparkan kearahku, ada hati yang sebenarnya tidak memberikan restu?.
Tau ah....., pusing!!!.
"Bentar mah, kak, aku mau....."
Saat ini beby menatap ibu dan kakaknya dengan tatapan memohon.
"Udah, nanti aja, kita makan siang dulu dek, temen kakak udah nunggu nih, gak enak kalo kita kelamaan"
Mas arya langsung memotong kalimat yang baru saja akan keluar dari mulut beby.
"Yaudah pak, bu, vin, kita duluan ya, assalamu'alaikum"
Mas arya langsung menggandeng beby dengan sedikit paksaan setelah ibu mereka berpamitan kepada keluarga viny.
Sementara aku hanya bisa meratapi punggung mereka yang semakin lama semakin menjauh dari hadapanku, entahlah, sudah tahu rasanya menyakitkan, tapi aku masih saja betah melihat punggung mereka yang sudah mulai hilang dari pandanganku.
"Mas, habis ini kamu mau kemana?"
Pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut ibunya viny berhasil membuyarkan lamunanku.
"E e e ehhh...., s s saya mau langsung pulang aja bu"
Karena merasa terkejut, aku menjawab pertanyaan dari ibunya viny dengan nada yang sedikit terbata-bata.
"Ikut kita aja yuk mas, kita mau makan siang juga"
Tawaran dari ibunya viny berhasil membuatku agak sedikit terkejut sekaligus bingung.
"E e enggg...., gak usah bu, mungkin ibu sama keluarga mau family time dulu, saya gak mau ganggu"
Entahlah, aku memang sama sekali tidak tertarik untuk meng iya kan ajakan makan siang bersama dari ibunya viny.
"Gakpapa kok mas, kita sama sekali gak terganggu kok kalo kamu ikut"
Kali ini ayahnya viny juga ikut menimpali pembicaraan kami.
"Maaf pak, bu, mungkin lain kali aja, soalnya jam 2 nanti saya ada kegiatan"
Aku terpaksa berbohong untuk menolak ajakkan makan siang bersama dari mereka, sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki kegiatan apapun setelah ini.
"Oooohh...., sayang banget ya mas, gakpapa deh kalo gitu, lain kali aja, mungkin nanti kita bisa ketemu lagi"
Aku menghembuskan nafas lega setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut ibunya viny, aku sangat lega setelah membuat ibunya viny percaya dengan alasan yang kulontatkan untuk menolak ajakannya.
"Yaudah mas, kalo gitu kita berangkat dulu ya"
Aku langsung tersenyum seraya mengangguk kecil kearah mereka yang baru saja berpamitan kepadaku, aku juga kembali menjabat dan mencium tangan mereka satu persatu, eh, kalo sama mas vino dan viny cuma salaman doang sih.
"Iya pak, bu, silahkan, hati-hati ya"
Mereka mulai melangkah dan berjalan meninggalkanku sesaat setelah aku mempersilahkan mereka untuk pergi.
Viny sempat kembali menoleh kearahku di sela-sela langkah kakinya, dia melempar tatapan iba kearahku, sementara itu, aku lebih memilih untuk membuang pandanganku kearah lain seraya melangkahkan kakiku untuk menghampiri lab yang jaraknya cukup jauh dari gedung rektorat yang menjadi saksi bisu kegalauanku siang ini.
Huuuuuh.....
Mungkin aku terlihat sangat tidak sopan ketika tadi aku menolak ajakkan ibu dan ayahnya viny mentah-mentah, apalagi, tadi aku juga sempat membohongi mereka.
Ya....., dalam kondisi seperti ini, aku sama sekali tidak tertarik dengan ajakkan makan siang bersama yang mereka tawarkan, mungkin, jika kondisiku tidak sedang seperti ini, aku tidak akan berpikir 2 kali untuk menerima ajakkan mereka, tapi.......
Aku benar-benar sedang ingin sendiri hari ini.
"Kakak mana mah?"
Beby langsung menghampiri ibunya sesaat setelah kami tiba di depan gedung rektorat, sementara viny memilih untuk menghampiri ayah, ibu, dan kakaknya yang berdiri tidak jauh dari tempat ibunya beby menunggu kami saat ini.
"Gaktau dek, katanya tadi mau ketemu temennya sebentar"
Beby hanya mengangguk kecil seraya membulatkan mulutnya setelah mendengar informasi yang baru saja keluar dari mulut ibunya.
Aku kembali melempar senyuman seraya mengangguk kecil saat ibunya beby melirik sekilas kearahku.
"Nat, tolong fotoin dong....."
Aku langsung menoleh kearah viny setelah dia memanggilku.
"Sebentar ya mbak, bu"
Aku kembali menoleh kearah beby, lalu menoleh kearah ibunya sebelum menghampiri viny sekeluarga yang baru saja meminta bantuanku, masih dengan senyuman yang belum hilang dari wajahku.
"Iya nat"
Setelah itu, aku langsung menghampiri viny dan keluarganya yang sudah siap untuk berfoto.
"Ini nat"
Aku langsung mengambil kamera yang sedang disodorkan viny, lalu aku mulai mencari tempat yang tepat untuk mendapatkan hasil jepretan yang bagus.
"Oke, siap ya..., 1...., 2...., 3...."
Cekreeeeeek.......
Aku berjalan menghampiri mereka setelah beberapa kali mengambil gambar untuk menunjukkan hasil jepretanku.
"Ini vin, coba liat dulu aja, kalo jelek aku fotoin lagi"
Viny langsung mengambil kamera yang baru saja kusodorkan kearahnya, lalu dia mengajak keluarganya untuk melihat gambar mereka yang baru saja kuambil.
Jujur aku agak sedikit takut jika mereka kecewa dengan hasil jepretanku, mengingat skill photography yang kumiliki memang berada di bawah rata-rata.
"Udah bagus kok nat...., makasih banyak ya"
Viny kembali menoleh kearahku seraya mengucapkan terimakasih setelah merasa puas dengan hasil jepretan ku.
"Makasih banyak ya mas"
Aku langsung menghembuskan nafas lega seraya membalas senyuman yang baru saja mereka lemparkan kearahku.
"Pak, bu, vin, kalau udah, saya kesana lagi ya"
Aku kembali menghampiri beby dan ibunya sesaat setelah mereka mempersilahkanku untuk pergi.
Deeeeeeeeg.......
Langkahku langsung terhenti setelah melihat 2 orang laki-laki yang saat ini sedang bercengkrama bersama beby dan ibunya.
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar, aku kembali melanjutkan langkahku untuk menghampiri beby dan ibunya dengan perasaan yang mulai tidak karuan.
Tatapan mereka langsung tertuju kearahku setelah melihatku yang saat ini sedang berdiri di dekat mereka.
"Oh iya, kenalin, ini natha"
"Eeeeeennngggg....., pacar aku kak"
Beby langsung memperkenalkanku kepada kakaknya sesaat setelah dia menyadari keberadaanku.
"Natha mas"
Aku mengenalkan diriku seraya menyodorkan tangan kearah kakaknya beby.
"Arya, kakaknya beby"
Mas arya langsung menyambut tanganku seraya memperkenalkan namanya, dia juga tersenyum tipis kearahku.
Setelah berkenalan dengan mas arya, pandanganku langsung beralih kearah laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya.
Aku kembali menyodorkan tanganku untuk memperkenalkan diri kepada laki-laki itu.
"Natha"
Aku memperkenalkan diriku dengan nada yang terdengar sangat yakin sesaat setelah dia menyambut uluran tangan yang kusodorkan kearahnya.
"Sakti"
Aku langsung menarik kembali tanganku sesaat setelah sakti memperkenalkan namanya, begitu juga dengan sakti.
Kami sama-sama mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin, bukan apa-apa, pasalnya pertemuan terakhir kami berakhir dengan pertengkaran, sangat sukit untuk bersikap biasa dengan orang yang kita tidak suka.
"Yaudah, langsung foto aja yuk"
Aku langsung mengikuti langkah mereka untuk mencari spot yang pas untuk mengambil foto.
"Disini aja deh, kayaknya bagus"
"Oh iya, mas, bisa tolong fotoin kita?"
Aku langsung mengambil kamera SLR yang disodorkan mas arya setelah mereka menemukan spot foto yang mereka inginkan.
"Iya mas"
Aku melangkah mundur sambil terus memperhatikan layar kamera untuk mencari posisi terbaik agar hasil jepretanku nanti tidak mengecewakan.
"1.... 2.... 3...."
Cekreeeeeeek......
Aku kembali menghampiri mereka untuk menunjukkan hasil jepretanku setelah beberapa kali menekan tombol pengambilan gambar di bagian atas kamera.
"Bagus kok, eh, lagi ya mas"
Aku kembali mengambil kamera yang disodorkan mas arya sambil berjalan menghampiri spot yang sebelumnya juga kutempati untuk mengambil gambar mereka.
"Eh, sak, sini, foto"
Deeeeeeg......
Sakti yang sebelumnya berdiri agak jauh dari tempat mereka berfoto, langsung menghampiri beby sekeluarga untuk ikut berfoto setelah mendengar instruksi dari mas arya.
Beby sesekali melirik kearahku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan, entahlah, mungkin dia terkejut, mungkin dia bingung, mungkin juga dia merasa tidak enak kepadaku.
"Kak, aku......"
Beby langsung memanggil kakaknya sesaat setelah sakti bergabung dengan mereka.
"Ayo mas...."
Tanpa menghiraukan panggilan dari beby, mas arya langsung memintaku untuk kembali mengambil gambar mereka sekeluarga plus sakti yang juga sudah bergabung bersama mereka.
Huuuuuuh.....
Hembusan nafas mulai keluar dari mulutku secara perlahan-lahan sebelum aku kembali mengarahkan kamera yang ada di tanganku untuk mengambil gambar mereka.
"Nat....."
Aku langsung menoleh kearah belakang setelah mendengar suara seseorang yang sedang memanggil namaku seraya menyentuh pundakku.
"Aku aja yang fotoin, lagi pengen moto nih"
Viny langsung mengambil kamera yang ada di tanganku tanpa sama sekali menunggu persetujuanku.
"Beb...., aku yang fotoin ya...."
Viny langsung meminta izin kepada beby sesaat setelah dia mengambil kamera yang ada di tanganku.
"Lagian si natha gak bisa moto mas, bu, mending aku aja, hasilnya dijamin bagus"
Viny juga meminta izin kepada keluarga beby yang lain, mereka hanya menanggapi inisiatif viny dengan sebuah senyuman dan anggukkan kecil sambil kembali bersiap untuk berpose.
"Kak sakti agak kekiri dikit, mas arya agak munduran dikit, ibu agak rapet kekanan dikit"
"Oke, 1...., 2...., 3...."
Cekreeeeek.....
Akupun memilih untuk melangkah mundur sambil terus memperhatikan mereka yang mulai kembali berpose mengikuti instruksi yang diberikan viny.
Huuuuuuh......
Aku hanya bisa menyunggingkan sebuah senyuman sambil memperhatikan wajah bahagia mereka saat sedang berpose.
Perasaan dongkol mulai menyelimuti hati dan pikiranku, apa-apaan ini?, apa maksud mereka mengajak sakti untuk ikut foto bersama?, kenapa bukan aku?, bukannya mereka sudah mengetahui bahwa saat ini beby adalah kekasihku?, aku juga sama sekali tidak merasa ada sebuah penolakan yang mereka tunjukkan saat beby memperkenalkanku sebagai kekasihnya, tapi kenapa sekarang mereka seperti ini?.
Sebenarnya aku sama sekali tidak mempermasalahkan jika mereka tidak mengajakku foto bersama, tapi, dengan mereka mengajak sakti, seolah-olah mereka ingin memberitahu bahwa mereka lebih senang jika beby menjalin hubungan dengan sakti daripada beby menjalin hubungan denganku.
Yasudahlah.......
Aku rasa, aku tidak boleh berprasangka buruk dulu kepada mereka, mungkin mereka sudah menanggap sakti sebagai salah satu bagian dari anggota keluarga mereka juga.
Wajar sih, mereka sudah mengenal sakti selama bertahun-tahun, sedangkan aku, mereka saja baru mengenalku hari ini.
Aku mencoba untuk meredam perasaan dongkol yang sedari tadi menyelimutiku dengan memikirkan hal-hal positif yang mungkin saja terjadi.
"Nih, coba diliat dulu"
Viny langsung berjalan menghampiri mereka untuk menunjukkan hasil jepretannya.
"Udah bagus kok vin, makasih banyak ya"
Aku mulai melangkahkan kakiku untuk menghampiri bangku panjang yang terdapat tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini.
"Oh iya, sak, lu foto berdua gih sama beby, biar gue yang fotoin"
Rasa dongkolku mulai kembali muncul setelah melihat mas arya yang meminta sakti untuk foto berdua dengan beby, apa-apaan lagi ini?, aku saja belum mendapat kesempatan untuk berfoto dengan beby, eh, si sakti udah mau foto aja!.
Arrrrrrrrgggggghhh..........
Meskipun seperti itu, aku masih berusaha agar tidak menunjukkan ekspresi yang terlalu mencolok atas rasa dongkolku saat ini.
Beby melirik sekilas kearahku yang sedang memperhatikannya, aku memilih untuk membuang tatapanku sesaat setelah kedua mata kami bertemu.
"Nat...."
Aku langsung menoleh setelah mendengar sebuah suara yang memanggil namaku dari arah samping.
"Foto yuk..., kita belum sempet foto berdua lhoo...."
Sekarang aku dapat melihat viny yang sedang berdiri di sampingku seraya melemparkan sebuah senyuman kearahku.
"Yuk?"
Aku langsung membuang tatapanku kearah lain seraya menghela nafas kasar.
"Nat...., gakusah terlalu dipikirin gitu, mereka cuma foto bareng kok"
Tangannya mulai bergerak untuk menyentuh pundakku.
"Nanti aku yang motoin kalian kalo udah sampe rumah, sekarang kita foto dulu yuk?"
Entahlah, biasanya senyuman viny selalu berhasil memaksaku untuk memenuhi apapun permintaannya, tapi, senyuman yang sedari tadi tersungging di wajahnya terasa sangat hambar, tidak ada perasaan senang, tidak ada perasaan campur aduk yang biasanya menyelimuti hati dan pikiranku saat melihat senyumannya kali ini.
"Nat...., yuk?, bapak sama ibu aku udah nungguin lho....., kakak aku juga"
Viny hanya bisa menghela nafas kasar setelah tidak mendapatkan respon apaun dariku atas ajakannya barusan.
"Nat, ayo...."
Tanpa menunggu persetujuanku, viny langsung menarik paksa tanganku untuk mengikutinya.
Aku: "e e eeehhh...., apa-apaan sih mbak?"
Viny: "udah...., ikut!!!"
Aku: "mbak, udah deh, jangan gini dong, aku lagi males"
Viny: "diem!!!"
Dia terus melangkah sambil menarik paksa tanganku untuk mengikutinya menghampiri ayah, ibu, dan kakaknya tanpa sama sekali menghiraukan protes yang terus keluar dari mulutku.
"Pak, bu, ini natha, yang biasanya aku ceritain"
Aku langsung menarik paksa kedua sudut bibirku keatas setelah viny memperkenalkanku kepada keluarganya.
Rasanya sangat tidak etis jika aku memasang wajah dongkol saat bertemu dengan mereka.
"Oooohhh...., ternyata mas ini yang sering anter jemput kamu vin?"
Aku langsung menyodorkan tanganku dan menyalami mereka satu persatu.
"Natha pak"
"Natha bu"
"Natha mas"
Aku juga mencium tangan mereka, kecuali kakaknya viny sih, dari perkenalan ini, aku baru mengetahui viny memliki nama yang hampir mirip dengan kakaknya yang ternyata bernama vino.
"Maaf ya mas kalo anak saya ngerepotin"
"Viny emang gitu, gak bisa apa-apa anaknya"
"Makasih juga lho udah sering bantuin viny"
Aku hanya menanggapi permintaan maaf dan ucapan terimakasih yang keluar dari mulut mereka dengan sebuah anggukan dan senyuman kecil.
"Iiihhh....., kok ibu jadi jelek-jelekin aku sih?"
Kami langsung terkekeh setelah viny melontarkan protesnya.
"Makanya vin, ibu suruh belajar naik mobil sama motor kamu gak pernah mau, untung aja dulu ada beby"
"Untung juga sekarang masih ada natha"
Viny semakin memajukan bibirnya setelah ibunya menyampaikan sebuah wejangan singkat.
"Iya bu, iya, nanti viny belajar ya...., sayang deh sama ibu"
Muach.....
Viny langsung meng iya kan wejangan yang baru saja dia terima seraya mencium singkat pipi ibunya.
"Kak, tolong fotoin aku sama natha dong...."
Ibu dan ayahnya viny hanya bisa menggelengkan kepala seraya terkekeh kecil melihat kelakuan putri bungsunya siang ini.
Sementara itu, mas vino langsung menganggukkan kepalanya untuk menyetujui permintaan viny.
Tanpa menunggu lama, aku, viny, dan mas vino, mulai berjalan untuk mencari spot foto yang kami rasa bagus.
"Disini aja deh kak"
Setelah mendapatkan spot yang kami rasa bagus, viny langsung mengajakku untuk berpose di depan kamera.
"Oke, mulai ya, 1...., 2...., 3...."
Beberapa kali viny mengganti posenya seiring dengan menyalanya lampu flash kamera yang ada di tangan mas vino.
"Dih..., kok gaya kamu gitu-gitu aja sih nat"
"Kayak foto tahanan-tahanan di TV nat"
"Senyum doang susah banget"
Viny langsung melontarkan berbagai macam protes karena melihat poseku yang sama sekali tidak berubah di setiap foto yang saat ini tergambar di layar kamera yang sedang dipegangnya.
"Emang gakbisa mbak"
Aku hanya menanggapi protes demi protes yang sedari tadi terus keluar dari mulut viny dengan kalimat singkat, jujur aku sama sekaki tidak tertarik untuk berdebat dengan viny sekarang.
"Iiiiissshhhh...., gak asyik banget kamu nat"
Viny kembali melontarkan protes sambil terus memperhatikan foto-foto kami, dia juga mulai melangkah untuk kembali menghampiri orang tuanya sambil terus memperhatikan layar kamera yang berada di tangannya.
Aku dan mas vino hanya bisa terkekeh kecil setelah melihat viny yang kesal akibat ulahku, aku memutuskan untuk mengikuti viny yang sudah berjalan mendahuluiku, begitu juga dengan mas vino.
Saat sedang berjalan menghampiri ayah dan ibunya viny, aku melihat mereka sedang bercengkrama dengan keluarga beby dari kejauhan.
Pemandangan yang saat ini tersaji berhasil membuat langkahku terhenti, apalagi penyebabnya kalau bukan sakti yang sampai saat ini masih berada di antara mereka.
"Kenapa mas?"
Teguran dari mas vini berhasil menghentikan lamunanku.
"E e ehhh...., gakpapa kok mas"
Mas vino kembali melanjutkan langkahnya seraya melemparkan senyuman kearahku.
Huuuuuuh......
Aku langsung melanjutkan langkahku setelah menghela nafas kasar.
"Kalo gitu saya sama anak-anak duluan ya pak, bu, udah di tunggu sama temennya arya nih, kita mau makan siang dulu"
Begitulah kira-kira kalimat yang kudengar sesampainya, aku, viny, dan mas vino di tempat orang tua mereka yang sampai saat ini masih bercengkrama dengan keluarga beby.
"Oh iya bu, silahkan, duluan aja, gakpapa kok"
Pandangan kami sempat bertemu selama beberapa detik, aku langsung mengalihkan pandanganku dari wajah beby yang saat ini menatapku dengan tatapan yang sama sekali masih belum bisa kuartikan.
"Ayo kak, dek, kamu ikut juga ya sak"
Deeeeeeg.......
Rasa dongkolku semakin menjadi-jadi setelah mendengar ibunya beby yang baru saja mengajak sakti untuk makan siang bersama mereka, aku?, jangankan diajak makan siang bersama, ibu dan kakaknya beby sama sekali tidak menyapaku yang saat ini sudah berada di dekat mereka.
Iri lu nat?.
Mungkin, bisa jadi iya.
Entahlah, aku sendiri juga bingung, apa sebenarnya penyebab rasa dongkolku siang ini?, mungkin benar, aku memang iri dengan sakti, bagaimana tidak?, kali ini keadaan benar-benar berpihak kepadanya, sedari tadi aku merasa terintimidasi oleh perlakuan yang diberikan oleh ibu dan kakaknya beby kepada sakti.
Huuuuuuh.....
Apa jangan-jangan, dibalik senyuman ramah yang sempat mereka lemparkan kearahku, ada hati yang sebenarnya tidak memberikan restu?.
Tau ah....., pusing!!!.
"Bentar mah, kak, aku mau....."
Saat ini beby menatap ibu dan kakaknya dengan tatapan memohon.
"Udah, nanti aja, kita makan siang dulu dek, temen kakak udah nunggu nih, gak enak kalo kita kelamaan"
Mas arya langsung memotong kalimat yang baru saja akan keluar dari mulut beby.
"Yaudah pak, bu, vin, kita duluan ya, assalamu'alaikum"
Mas arya langsung menggandeng beby dengan sedikit paksaan setelah ibu mereka berpamitan kepada keluarga viny.
Sementara aku hanya bisa meratapi punggung mereka yang semakin lama semakin menjauh dari hadapanku, entahlah, sudah tahu rasanya menyakitkan, tapi aku masih saja betah melihat punggung mereka yang sudah mulai hilang dari pandanganku.
"Mas, habis ini kamu mau kemana?"
Pertanyaan yang baru saja keluar dari mulut ibunya viny berhasil membuyarkan lamunanku.
"E e e ehhh...., s s saya mau langsung pulang aja bu"
Karena merasa terkejut, aku menjawab pertanyaan dari ibunya viny dengan nada yang sedikit terbata-bata.
"Ikut kita aja yuk mas, kita mau makan siang juga"
Tawaran dari ibunya viny berhasil membuatku agak sedikit terkejut sekaligus bingung.
"E e enggg...., gak usah bu, mungkin ibu sama keluarga mau family time dulu, saya gak mau ganggu"
Entahlah, aku memang sama sekali tidak tertarik untuk meng iya kan ajakan makan siang bersama dari ibunya viny.
"Gakpapa kok mas, kita sama sekali gak terganggu kok kalo kamu ikut"
Kali ini ayahnya viny juga ikut menimpali pembicaraan kami.
"Maaf pak, bu, mungkin lain kali aja, soalnya jam 2 nanti saya ada kegiatan"
Aku terpaksa berbohong untuk menolak ajakkan makan siang bersama dari mereka, sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki kegiatan apapun setelah ini.
"Oooohh...., sayang banget ya mas, gakpapa deh kalo gitu, lain kali aja, mungkin nanti kita bisa ketemu lagi"
Aku menghembuskan nafas lega setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut ibunya viny, aku sangat lega setelah membuat ibunya viny percaya dengan alasan yang kulontatkan untuk menolak ajakannya.
"Yaudah mas, kalo gitu kita berangkat dulu ya"
Aku langsung tersenyum seraya mengangguk kecil kearah mereka yang baru saja berpamitan kepadaku, aku juga kembali menjabat dan mencium tangan mereka satu persatu, eh, kalo sama mas vino dan viny cuma salaman doang sih.
"Iya pak, bu, silahkan, hati-hati ya"
Mereka mulai melangkah dan berjalan meninggalkanku sesaat setelah aku mempersilahkan mereka untuk pergi.
Viny sempat kembali menoleh kearahku di sela-sela langkah kakinya, dia melempar tatapan iba kearahku, sementara itu, aku lebih memilih untuk membuang pandanganku kearah lain seraya melangkahkan kakiku untuk menghampiri lab yang jaraknya cukup jauh dari gedung rektorat yang menjadi saksi bisu kegalauanku siang ini.
Huuuuuh.....
Mungkin aku terlihat sangat tidak sopan ketika tadi aku menolak ajakkan ibu dan ayahnya viny mentah-mentah, apalagi, tadi aku juga sempat membohongi mereka.
Ya....., dalam kondisi seperti ini, aku sama sekali tidak tertarik dengan ajakkan makan siang bersama yang mereka tawarkan, mungkin, jika kondisiku tidak sedang seperti ini, aku tidak akan berpikir 2 kali untuk menerima ajakkan mereka, tapi.......
Aku benar-benar sedang ingin sendiri hari ini.
Diubah oleh akmal162 27-06-2020 05:38
Indjay dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas
