- Beranda
- Stories from the Heart
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
...
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA
Halo! 
Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!
Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!

Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/12/26/10712020_20191226010201.jpg)
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (THE SERIES):
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for PERATURAN:
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 37 suara
Kepikiran untuk mulai post JILID I... Setuju kah?
Boleh juga Mi dicoba.
49%
Nanti aja, Mi.
51%
Diubah oleh dissymmon08 15-09-2020 12:11
ezzasuke dan 91 lainnya memberi reputasi
86
173.2K
2.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dissymmon08
#735
KISAH TENTANG F: MENCARI KEJELASAN (PART 11)
Udah hampir tiga minggu pasca operasi gue. Gue udah di rumah, seminggu sekali gue cek jaitan. Dan selama dua minggu gue staydi rumah untuk istirahat. Sebenernya gue bisa aja langsung masuk di minggu depan, tapi gue mau genepin empat minggu di rumah untuk istirahat.
Walaupun gue juga paham kalau gue ga bisa kayak begitu. Tapi kenapa gue tetep milih begitu? Soalnya gue tau apa yang mesti gue hadapi ketika gue balik lagi. TUMPUKAN KERJAAN. Selain itu, gue juga mau ikut Psikotest dan Wawancara di PT Maha Indah Group kan hari Kamis besoknya. Biar gue punya waktu untuk persiapan di rumah.
Ketika gue lagi excited persiapan Psikotest dan Wawancara, gue dihubungi sama nomor ga dikenal lagi. Tapi ga sempet keangkat sama gue karena gue lagi make headphone sebelumnya. Kemudian gue ditelepon lagi sama nomor kantor gue dan kali ini langsung gue angkat.
“Halo?”
“Halo, Emilya ya!” sapa seseorang dari seberang telepon dengan nada ceria gitu.
Gue mastiin lagi ke layar handphone gue kalau itu beneran nomor kantor gue. Soalnya suara yang nelepon gue ini bener-bener beda. “Iya saya sendiri. Maaf, ini siapa ya?”
“Oh iya! Aku lupa ngenalin diri aku. Aku Nadya, Manager HRD yang baru di kantor kita. Aku baru aja sempet gabung di kantor karena kemaren aku ada conference gitu bareng temen-temen Indonesia di Amerika sana. Makanya aku bilang ke Irawan kalau aku belum bisa gabung. Alhamdulillah udah dua minggu ini aku bisa gabung deh di kantor. Kita seruangan lho jadinya… Salam kenal yaa, Emi!”
“Manager HRD? Ini toh orang yang ditunggu-tunggu Kak Irawan selama ini.” gumam gue di dalam hati.
“Kamu apa kabar, Mi? Udah enakan?”
“Alhamdulillah udah, Kak… Ini udah mulai recovery kok, Kak.”
“Alhamdulillah kalau gitu. Kapan bisa masuk ke kantor lagi? Besok bisa kan?”
“Besok? Gue kan wawancara-nya lusa. Ga bisa lah.” kata gue dalam hati. “Hmm. Kayaknya mulainya Senin depan nih, Kak… Soalnya mau check-up terakhir Jum’at nanti. Mudah-mudahan bisa langsung masuk di hari Senin.” Maaf gue kepepet boong sama dia.
“Hmm. Jum’at ya check-up-nya? Ga bisa check-up-nya besok aja jadi Kamis kamu udah bisa masuk lagi?”
“Udah janjian hari Jum’at soalnya, Kak.”
“Oh yaudah kalau gitu. Nanti hari Jum’at jangan lupa minta surat ijin sakit dari dokternya dan diurus semua keterangan dari dokter selama kamu off sebulan ini ya. Buat catetan di aku kalau kamu ga masuk satu bulan kemaren ini karena sakit.”
“Hah? Aku selama ini check-up ga make surat keterangan apapun, Kak… Ga ada surat pernyataan dokter tentang kondisi aku gitu.”
“Ya ga bisa gitu dong. Kamu harus punya surat ijin sakit dan surat keterangan dari dokter. Kamu bisa dibilang gaji buta dong bulan ini kalau kamu ga ada keterangan apapun? Bisa aja kan kamu sakitnya dikira boongan nantinya?”
Dikira boongan? Nyesek amat. "Ada kok rekomendasi dari dokter untuk check-up lanjutannya dan keterangan kalau aku udah ngejalanin operasi-nya, Kak. Bisa make itu?”
“Tapi kamu harus tetep punya surat keterangan dokter, Mi. Kamu satu bulan lho ga masuk… Sedangkan kamu udah gajian kan? Masa mau diterima gitu aja gajinya? Hayooo~ Gaji buta lho~”
“Lha? Temen-temennya Kak Irawan gimana yang banyak ijin untuk kegiatan ga jelas? Bahkan ada yang ga masuk sebulan karena katanya udah keburu pesen paket liburan ke Eropa sebulan. Itu gimana? Tetep dapet ijin tanpa keterangan apapun lho, Kak. Dan ga ngurus apapun ke aku. Aku juga ga nuduh mereka makan gaji buta jadinya.” Udah gajinya gede banget, ga ada juga yang kena potong. Pengen nambahin begitu aslinya.
“Oh iya ada yang begitu? Nanti aku coba tanya Irawan ya… Ini udah aku catet keterangan dari kamu. Tapi aku ga bilang Irawan kalau tau dari kamu. Tenang aja... Hmm. Back to the topic. Kalau bisa dilengkapi ya, Mi. Sebelum masuk...”
“Hmm. Aku coba ya, Kak…”
“Jangan dicoba aja, tapi diusahain ya. Soalnya kalau kamu ga bisa ngelengkapin, aku berhak ngeluarin SP lho.”
“SP? Buset. Baru masuk aku udah dapet SP aja nih?”
“Soalnya diitungnya aku ga nerima informasi apapun dari kamu… Jadi ya bisa aja langsung aku SP. Apalagi tetep dapet gaji lho kamunya.”
Gaji terus jadi bahan perkara. Ngeluarin gaji UMR buat gue aja begini amat. Bener kan? Giliran gue yang begini, dipermasalahin banget jadinya. Sedangkan temen-temennya Kak Irawan masih cuman dicatet dan entah bakalan dipermasalahin apa ga. Bikin gue makin males masuk. “Ambil aja deh gaji aku bulan ini, Kak. Aku balikin ke Kak Irawan atau rekening kantor kalau itu dipermasalahin. Atau ya langsung aja dibuat SP buat aku, Kak… Udah pasrah aja aku mah. Gapapa ga digaji juga karena aku ga masuk.”
“Lha? Kok jadi baper gitu, Mi? HAHAHA. Becanda sih, Mi… Gajinya tetep diterima aja. Ga usah dibalikin. Aku cuman ingetin kalau kamu ga bisa ngelengkapin begitu, kamu bisa dibilang makan gaji buta. Hehehe. Tapi aku mohon diusahain banget dilengkapi administrasinya buat laporan aku ke Irawan. Hehehe.”
Becandanya ga lucu. Asli. “Ha ha ha.” Gue mencoba untuk ikut ketawa, tapi gue udah keburu males.
“Yaudah, kamu silahkan istirahat lagi ya, Mi… Get well soon!”
“Oke, Kak.” jawab gue seadanya tanpa terlihat semangat sama sekali.
“Oh iya, by the way. Nanti aku e-mail kamu pembagian job desk kita dan pekerjaan apa aja yang udah coba aku ambil alih. Biar kamu tau aja. Biar pas hari Senin, kamu udah bisa beraktivitas kembali dan ga ada kerjaan numpuk.”
“Oke, Kak.”
“Semangat dong! Biar makin cepet sembuhnya! Hehehe.”
“Hehehe.”
“Off dulu ya. See you soon! Bye!”
“Bye.”
Gue tutup telepon dari Kak Nadya itu dan coba ngehubungin Uswatun untuk konfirmasi ulang tentang Kak Nadya ini. Kagetnya gue kalau Uswatun katanya LUPA ngasih tau gue tentang Kak Nadya ini. L-U-P-A! Kok bisa-bisanya lupa ngabarin gue ketika ada orang yang ambil alih pekerjaan gue sementara gitu? Buset. Itu orang beneran kan? Bukan setan?
Dan dari Uswatun pula gue akhirnya tau, kalau jabatan gue diturunin alias Kak Nadya adalah atasan gue di HRD dan General Affair. Jabatan gue di bawah Kak Nadya. Karena menurut Kak Irawan, General Affair itu statusnya di bawah Divisi HRD. Kak Nadya adalah Manager HRD. Jadi, gue adalah bawahannya Kak Nadya.
Akhirnya terjadi juga di posisi gue, temennya Kak Irawan kembali mengambil alih keadaan.
Fakta itu ga ngebikin gue jiper dan putus asa. Gue malah makin semangat. Tapi bukan semangat kerja di kantor gue, melainkan semangat untuk bisa lolos ngelamar di PT Maha Indah Group. Biar gue bisa segera pindah dari kantor ini.
Gue ga mau berlama-lama di tempat yang ga membuat gue nyaman.
Pasca Psikotest dan Wawancara, gue semakin yakin untuk segera keluar dari kantor gue itu. Wawancara gue bener-bener berjalan lancar. Alhamdulillah banget. Maklum, gue yang awalnya diwawancara tentang pengetahuan gue di Divisi Standard Operation Procedures, berujung ditanyain tentang bidang lingkungan setelah beliau ngeliat CV gue dan akhirnya malah menawarkan gue untuk dialihkan ke posisi lain yang kebetulan dibutuhkan banget di PT Maha Indah Group tersebut, yaitu Divisi Pengelolaan Lingkungan.
Yang artinya, divisi yang sama dengan Debby dan Bimo.
Gue pengen banget untuk konsultasi dulu sama Bang Firzy terkait penawaran dari HRD mereka tersebut. Tapi karena ga ada pilihan call a friendpas lagi Wawancara (yakaliiii hahaha), ya gue langsung mengiyakan kalau misalnya gue dialihin untuk pindah ke divisi tersebut.
“GUE CUMAN PENGEN KELUAR DARI KANTOR GUE!” teriak gue di dalam hati. Nanti gue coba ngomong baik-baik ke Bang Firzy misalnya gue diterima di divisi yang sama dengan Debby dan Bimo. Semoga Bang Firzy setuju dan ngedukung gue deh.
Bagaimana dengan kantor gue pasca gue masuk lagi?
ANEH. KACAU. GA NYAMAN.
Itu yang gue rasain ketika gue kembali lagi ke kantor. Sebulan doang gue ga masuk (SEBULAN ITU GA BENTAR WOY BANGS*T! Hahaha.), udah banyak karyawan baru, banyak atasan baru, dan gue dapet ruangan baru. Ya, ruangan baru gue dengan Manager HRD alias atasan gue.
Bahkan gue PUNYA TEAM, bukan bawahan. Gue menjadi TEAM di General Affair, di bawah Kak Nadya. Team yang ga punya teamwork banget karena dia yang merasa gue anak baru masuk dan malah cenderung banyak nyuruh gue. Entah ini orang masuk via jalur apaan sampe kelakuannya kayak begitu.
Emang ya namanya mindset udah ga enak dan ga suka, apapun yang gue rasain di kantor bawaannya jadi ga enak aja menurut gue. Segala macem, mulai dari karyawan baru, aturan baru, temen baru, dan segala macemnya menurut gue udah ga nyaman lagi. Bahkan sikap Kak Irawan pun jadi berubah bikin gue yakin, gue kepengen resign buru-buru.
Tapi Bang Firzy ngelarang gue untuk ngelepas kerjaan gue, kalau gue belum dapet kepastian di tempat baru. Dia ga mau gue nganggur terlalu lama, khawatirnya mungkin gue jadi stres sendiri karena gue orangnya ga betah banget kalau ga ngapa-ngapain. Jadi, gue berusaha jalanin aja, semampu gue.
Sampai suatu saat…
“Halo, Bu Emilya! Saya, Yolanda. HRD Pusat PT Maha Indah Group.”
“Siang, Bu Yolanda…” Gue degdegan banget nunggu kabar dari kantor dia ini. Semoga yang terbaik!
“Langsung aja ya, Bu… Saya ingin konfirmasi kalau ibu lolos untuk tahapan selanjutnya, yaitu Wawancara User. Namun, mohon maaf Bu, ibu lolos untuk melamar di Divisi Pengelolaan Lingkungan, bukan Divisi Standard Operation Procedures seperti yang ibu lamar sebelumnya. Karena setelah kami review kembali CV dan pengalaman ibu, ibu lebih dibutuhkan di posisi tersebut. Bagaimana, Bu? Apa ibu tidak keberatan dan berkenan hadir untuk Wawancara User?
“ALHAMDULILLAH, YA ALLOH!” teriak gue di dalam hati. “Bisa, Bu. Kira-kira kapan ya, Bu?”
“Besok bisa, Bu?”
“Besok?” Gue ngeliat jadwal gue di kantor. “Kayaknya bisa, Bu. Untuk jamnya kira-kira jam berapa?”
“Office hour aja, Bu. Nanti ibu bisa langsung ke lokasi dan bertemu dengan Ibu Yuni, HRD di sana. Nanti Ibu Yuni yang akan mempertemukan Bu Emilya dengan user. Detail-nya akan saya kirim via e-mail ya, Bu.”
“Baik, terima kasih, Bu Yolanda.” Gue masih berusaha cool.
“Terima kasih kembali, Bu Emilya.”
“YAAAAY!” teriak gue mendadak yang bikin Kak Nadya sukses keselek karena lagi minum kopi Starbucks yang baru dia beli.
“Kenapa kamu? Seneng bener kayaknya. Hehehe.”
“Gapapa, Kak… Hehehe.”
Gue buka handphone gue dan chat Bang Firzy.
Gue ketemu dengan Pak Edward, Manager Divisi Pengelolaan Lingkungan alias atasan langsung Debby dan Bimo. Beliau adalah useryang mewawancarai gue saat itu. Ketika ketemu sama beliau, beliau ga banyak nanya ini itu tetapi lebih ke langsung menjelaskan ke gue bagaimana gue nantinya akan dipekerjakan di sana. Rada aneh sih emang, tapi ini pertanda baik bukan?
Kehadiran gue di sana yang dadakan, bener-bener bikin kaget Debby dan Bimo. Bimo sih yang keliatan super excited! Seperti biasa, dia peluk gue dan ngebacot ga udah-udah gimana nantinya kalau misalnya gue jadi satu team dengan dia. Debby pun sama, dia keliatan (kayak) excited gitu. Walaupun gue ga tau, dia beneran seneng apa ga dengan kehadiran gue di sana. Gue masih bingung harus gimana menyikapi Debby.
Tahapan demi tahapan lamaran ke kantor-nya Debby dan Bimo ini gue lalui satu per satu, tentunya tanpa bantuan mereka. Murni gue coba sendiri. Gue ga mau kesannya gue minta bantuan mereka biar gue bisa dilolosin masuk kantor mereka.Tapi entah kenapa, hati gue terus berkata ‘hati-hati’.
Satu hari berlalu… Belum ada kabar. “YA IYALAH. Baru juga sehari.”
Tiga hari berlalu… Belum ada kabar juga. “Sabar, baru juga tiga hari…” gumam gue.
Lima hari berlalu…
Gue yang lagi bikin laporan inventaris, mendadak buyar! Asli! Gue degdegan dan bingung mau angkat telepon gimana. Soalnya Kak Irawan dan Kak Nadya lagi ada di ruangan gue diskusiin apaan tau. Gue ga perhatiin mereka.
Gue pamit keluar dan lari ke rooftopruko kantor gue. “Halo, Ibu Yuni. Selamat siang!” Eh malah gue yang nyapa duluan. Bangs*t! Ketauan amat gue nungguin kabar dari dia! Elaaah~
“Halo, Bu Emilya! Siang juga, Bu… Maaf mengganggu, Bu.”
“Ga kok, Bu. Ada yang bisa saya bantu, Bu?” Halah, gue segala basa basi begini. Tapi ya ini namanya etika. Hehehe.
“Begini, Bu. Saya dan Pak Edward sudah mengirimkan hasil Wawancara User yang sudah ibu laksanakan dengan Pak Edward ke HRD Pusat. HRD Pusat pun sudah memberikan segala keputusan ke saya dan Pak Edward. Hasil keputusannya…” Sengaja banget si Bu Yuni ini ngejeda. Gue sengaja manggil dia Bu Yuni untuk profesionalitas. Padahal menurut Debby dan Bimo, Yuni ini seumuran sama gue. “Ibu diterima di kantor kami sebagai bagian dari Divisi Pengelolaan Lingkungan. Selamat bergabung ya, Bu.”
“WOOHOO!” teriak gue dari dalam hati. Gue langsung sujud syukur di rooftop yang panas banget itu. Bangkek! Gue lupa kalau gue lagi di rooftop. “Terima kasih informasinya, Bu Yuni! Alhamdulillah!” Keep calm, Emi. Keep calm! Peace, love, and gaul dong!
Kami pun negosiasi mengenai gaji yang ditawarkan oleh mereka dan segala macem job desk yang akan gue laksanakan di telepon saat itu. Soalnya Pak Edward lupa kemaren nanyain dan ngobrolin itu semua ke gue karena dia dari awal wawancara gue katanya udah emang kepengen gue bergabung. Alhamdulillahnya, kami bisa nemu kesepakatan walaupun cuman via telepon begitu.
Dan dengan beberapa pertimbangan, gue memutuskan untuk bergabung satu bulan sejak obrolan kami di telepon saat itu. Beliau pun setuju. Untuk mengikat gue, Bu Yuni mengirimkan beberapa form digital yang perlu gue isi untuk pendataan mereka. Itu juga biar saat gue masuk nanti, seluruh persiapan administrasi gue udah selesai. Jadi, gue bisa langsung fokus kerja.
Hari itu juga gue langsung ngajuin resign ke kantor gue.
Selamat tinggal PT GG!
Selamat datang PT MIG!
Semoga ini jalan terbaik untuk gue agar semuanya jadi lebih baik. Bismillah.
Walaupun gue juga paham kalau gue ga bisa kayak begitu. Tapi kenapa gue tetep milih begitu? Soalnya gue tau apa yang mesti gue hadapi ketika gue balik lagi. TUMPUKAN KERJAAN. Selain itu, gue juga mau ikut Psikotest dan Wawancara di PT Maha Indah Group kan hari Kamis besoknya. Biar gue punya waktu untuk persiapan di rumah.
Ketika gue lagi excited persiapan Psikotest dan Wawancara, gue dihubungi sama nomor ga dikenal lagi. Tapi ga sempet keangkat sama gue karena gue lagi make headphone sebelumnya. Kemudian gue ditelepon lagi sama nomor kantor gue dan kali ini langsung gue angkat.
“Halo?”
“Halo, Emilya ya!” sapa seseorang dari seberang telepon dengan nada ceria gitu.
Gue mastiin lagi ke layar handphone gue kalau itu beneran nomor kantor gue. Soalnya suara yang nelepon gue ini bener-bener beda. “Iya saya sendiri. Maaf, ini siapa ya?”
“Oh iya! Aku lupa ngenalin diri aku. Aku Nadya, Manager HRD yang baru di kantor kita. Aku baru aja sempet gabung di kantor karena kemaren aku ada conference gitu bareng temen-temen Indonesia di Amerika sana. Makanya aku bilang ke Irawan kalau aku belum bisa gabung. Alhamdulillah udah dua minggu ini aku bisa gabung deh di kantor. Kita seruangan lho jadinya… Salam kenal yaa, Emi!”
“Manager HRD? Ini toh orang yang ditunggu-tunggu Kak Irawan selama ini.” gumam gue di dalam hati.
“Kamu apa kabar, Mi? Udah enakan?”
“Alhamdulillah udah, Kak… Ini udah mulai recovery kok, Kak.”
“Alhamdulillah kalau gitu. Kapan bisa masuk ke kantor lagi? Besok bisa kan?”
“Besok? Gue kan wawancara-nya lusa. Ga bisa lah.” kata gue dalam hati. “Hmm. Kayaknya mulainya Senin depan nih, Kak… Soalnya mau check-up terakhir Jum’at nanti. Mudah-mudahan bisa langsung masuk di hari Senin.” Maaf gue kepepet boong sama dia.
“Hmm. Jum’at ya check-up-nya? Ga bisa check-up-nya besok aja jadi Kamis kamu udah bisa masuk lagi?”
“Udah janjian hari Jum’at soalnya, Kak.”
“Oh yaudah kalau gitu. Nanti hari Jum’at jangan lupa minta surat ijin sakit dari dokternya dan diurus semua keterangan dari dokter selama kamu off sebulan ini ya. Buat catetan di aku kalau kamu ga masuk satu bulan kemaren ini karena sakit.”
“Hah? Aku selama ini check-up ga make surat keterangan apapun, Kak… Ga ada surat pernyataan dokter tentang kondisi aku gitu.”
“Ya ga bisa gitu dong. Kamu harus punya surat ijin sakit dan surat keterangan dari dokter. Kamu bisa dibilang gaji buta dong bulan ini kalau kamu ga ada keterangan apapun? Bisa aja kan kamu sakitnya dikira boongan nantinya?”
Dikira boongan? Nyesek amat. "Ada kok rekomendasi dari dokter untuk check-up lanjutannya dan keterangan kalau aku udah ngejalanin operasi-nya, Kak. Bisa make itu?”
“Tapi kamu harus tetep punya surat keterangan dokter, Mi. Kamu satu bulan lho ga masuk… Sedangkan kamu udah gajian kan? Masa mau diterima gitu aja gajinya? Hayooo~ Gaji buta lho~”
“Lha? Temen-temennya Kak Irawan gimana yang banyak ijin untuk kegiatan ga jelas? Bahkan ada yang ga masuk sebulan karena katanya udah keburu pesen paket liburan ke Eropa sebulan. Itu gimana? Tetep dapet ijin tanpa keterangan apapun lho, Kak. Dan ga ngurus apapun ke aku. Aku juga ga nuduh mereka makan gaji buta jadinya.” Udah gajinya gede banget, ga ada juga yang kena potong. Pengen nambahin begitu aslinya.
“Oh iya ada yang begitu? Nanti aku coba tanya Irawan ya… Ini udah aku catet keterangan dari kamu. Tapi aku ga bilang Irawan kalau tau dari kamu. Tenang aja... Hmm. Back to the topic. Kalau bisa dilengkapi ya, Mi. Sebelum masuk...”
“Hmm. Aku coba ya, Kak…”
“Jangan dicoba aja, tapi diusahain ya. Soalnya kalau kamu ga bisa ngelengkapin, aku berhak ngeluarin SP lho.”
“SP? Buset. Baru masuk aku udah dapet SP aja nih?”
“Soalnya diitungnya aku ga nerima informasi apapun dari kamu… Jadi ya bisa aja langsung aku SP. Apalagi tetep dapet gaji lho kamunya.”
Gaji terus jadi bahan perkara. Ngeluarin gaji UMR buat gue aja begini amat. Bener kan? Giliran gue yang begini, dipermasalahin banget jadinya. Sedangkan temen-temennya Kak Irawan masih cuman dicatet dan entah bakalan dipermasalahin apa ga. Bikin gue makin males masuk. “Ambil aja deh gaji aku bulan ini, Kak. Aku balikin ke Kak Irawan atau rekening kantor kalau itu dipermasalahin. Atau ya langsung aja dibuat SP buat aku, Kak… Udah pasrah aja aku mah. Gapapa ga digaji juga karena aku ga masuk.”
“Lha? Kok jadi baper gitu, Mi? HAHAHA. Becanda sih, Mi… Gajinya tetep diterima aja. Ga usah dibalikin. Aku cuman ingetin kalau kamu ga bisa ngelengkapin begitu, kamu bisa dibilang makan gaji buta. Hehehe. Tapi aku mohon diusahain banget dilengkapi administrasinya buat laporan aku ke Irawan. Hehehe.”
Becandanya ga lucu. Asli. “Ha ha ha.” Gue mencoba untuk ikut ketawa, tapi gue udah keburu males.
“Yaudah, kamu silahkan istirahat lagi ya, Mi… Get well soon!”
“Oke, Kak.” jawab gue seadanya tanpa terlihat semangat sama sekali.
“Oh iya, by the way. Nanti aku e-mail kamu pembagian job desk kita dan pekerjaan apa aja yang udah coba aku ambil alih. Biar kamu tau aja. Biar pas hari Senin, kamu udah bisa beraktivitas kembali dan ga ada kerjaan numpuk.”
“Oke, Kak.”
“Semangat dong! Biar makin cepet sembuhnya! Hehehe.”
“Hehehe.”
“Off dulu ya. See you soon! Bye!”
“Bye.”
Gue tutup telepon dari Kak Nadya itu dan coba ngehubungin Uswatun untuk konfirmasi ulang tentang Kak Nadya ini. Kagetnya gue kalau Uswatun katanya LUPA ngasih tau gue tentang Kak Nadya ini. L-U-P-A! Kok bisa-bisanya lupa ngabarin gue ketika ada orang yang ambil alih pekerjaan gue sementara gitu? Buset. Itu orang beneran kan? Bukan setan?
Dan dari Uswatun pula gue akhirnya tau, kalau jabatan gue diturunin alias Kak Nadya adalah atasan gue di HRD dan General Affair. Jabatan gue di bawah Kak Nadya. Karena menurut Kak Irawan, General Affair itu statusnya di bawah Divisi HRD. Kak Nadya adalah Manager HRD. Jadi, gue adalah bawahannya Kak Nadya.
Akhirnya terjadi juga di posisi gue, temennya Kak Irawan kembali mengambil alih keadaan.
Fakta itu ga ngebikin gue jiper dan putus asa. Gue malah makin semangat. Tapi bukan semangat kerja di kantor gue, melainkan semangat untuk bisa lolos ngelamar di PT Maha Indah Group. Biar gue bisa segera pindah dari kantor ini.
Gue ga mau berlama-lama di tempat yang ga membuat gue nyaman.
XOXOXO
Pasca Psikotest dan Wawancara, gue semakin yakin untuk segera keluar dari kantor gue itu. Wawancara gue bener-bener berjalan lancar. Alhamdulillah banget. Maklum, gue yang awalnya diwawancara tentang pengetahuan gue di Divisi Standard Operation Procedures, berujung ditanyain tentang bidang lingkungan setelah beliau ngeliat CV gue dan akhirnya malah menawarkan gue untuk dialihkan ke posisi lain yang kebetulan dibutuhkan banget di PT Maha Indah Group tersebut, yaitu Divisi Pengelolaan Lingkungan.
Yang artinya, divisi yang sama dengan Debby dan Bimo.
Gue pengen banget untuk konsultasi dulu sama Bang Firzy terkait penawaran dari HRD mereka tersebut. Tapi karena ga ada pilihan call a friendpas lagi Wawancara (yakaliiii hahaha), ya gue langsung mengiyakan kalau misalnya gue dialihin untuk pindah ke divisi tersebut.
“GUE CUMAN PENGEN KELUAR DARI KANTOR GUE!” teriak gue di dalam hati. Nanti gue coba ngomong baik-baik ke Bang Firzy misalnya gue diterima di divisi yang sama dengan Debby dan Bimo. Semoga Bang Firzy setuju dan ngedukung gue deh.
Bagaimana dengan kantor gue pasca gue masuk lagi?
ANEH. KACAU. GA NYAMAN.
Itu yang gue rasain ketika gue kembali lagi ke kantor. Sebulan doang gue ga masuk (SEBULAN ITU GA BENTAR WOY BANGS*T! Hahaha.), udah banyak karyawan baru, banyak atasan baru, dan gue dapet ruangan baru. Ya, ruangan baru gue dengan Manager HRD alias atasan gue.
Bahkan gue PUNYA TEAM, bukan bawahan. Gue menjadi TEAM di General Affair, di bawah Kak Nadya. Team yang ga punya teamwork banget karena dia yang merasa gue anak baru masuk dan malah cenderung banyak nyuruh gue. Entah ini orang masuk via jalur apaan sampe kelakuannya kayak begitu.
Emang ya namanya mindset udah ga enak dan ga suka, apapun yang gue rasain di kantor bawaannya jadi ga enak aja menurut gue. Segala macem, mulai dari karyawan baru, aturan baru, temen baru, dan segala macemnya menurut gue udah ga nyaman lagi. Bahkan sikap Kak Irawan pun jadi berubah bikin gue yakin, gue kepengen resign buru-buru.
Tapi Bang Firzy ngelarang gue untuk ngelepas kerjaan gue, kalau gue belum dapet kepastian di tempat baru. Dia ga mau gue nganggur terlalu lama, khawatirnya mungkin gue jadi stres sendiri karena gue orangnya ga betah banget kalau ga ngapa-ngapain. Jadi, gue berusaha jalanin aja, semampu gue.
Sampai suatu saat…
“Halo, Bu Emilya! Saya, Yolanda. HRD Pusat PT Maha Indah Group.”
“Siang, Bu Yolanda…” Gue degdegan banget nunggu kabar dari kantor dia ini. Semoga yang terbaik!
“Langsung aja ya, Bu… Saya ingin konfirmasi kalau ibu lolos untuk tahapan selanjutnya, yaitu Wawancara User. Namun, mohon maaf Bu, ibu lolos untuk melamar di Divisi Pengelolaan Lingkungan, bukan Divisi Standard Operation Procedures seperti yang ibu lamar sebelumnya. Karena setelah kami review kembali CV dan pengalaman ibu, ibu lebih dibutuhkan di posisi tersebut. Bagaimana, Bu? Apa ibu tidak keberatan dan berkenan hadir untuk Wawancara User?
“ALHAMDULILLAH, YA ALLOH!” teriak gue di dalam hati. “Bisa, Bu. Kira-kira kapan ya, Bu?”
“Besok bisa, Bu?”
“Besok?” Gue ngeliat jadwal gue di kantor. “Kayaknya bisa, Bu. Untuk jamnya kira-kira jam berapa?”
“Office hour aja, Bu. Nanti ibu bisa langsung ke lokasi dan bertemu dengan Ibu Yuni, HRD di sana. Nanti Ibu Yuni yang akan mempertemukan Bu Emilya dengan user. Detail-nya akan saya kirim via e-mail ya, Bu.”
“Baik, terima kasih, Bu Yolanda.” Gue masih berusaha cool.
“Terima kasih kembali, Bu Emilya.”
“YAAAAY!” teriak gue mendadak yang bikin Kak Nadya sukses keselek karena lagi minum kopi Starbucks yang baru dia beli.
“Kenapa kamu? Seneng bener kayaknya. Hehehe.”
“Gapapa, Kak… Hehehe.”
Gue buka handphone gue dan chat Bang Firzy.
Quote:
XOXOXO
Gue ketemu dengan Pak Edward, Manager Divisi Pengelolaan Lingkungan alias atasan langsung Debby dan Bimo. Beliau adalah useryang mewawancarai gue saat itu. Ketika ketemu sama beliau, beliau ga banyak nanya ini itu tetapi lebih ke langsung menjelaskan ke gue bagaimana gue nantinya akan dipekerjakan di sana. Rada aneh sih emang, tapi ini pertanda baik bukan?
Kehadiran gue di sana yang dadakan, bener-bener bikin kaget Debby dan Bimo. Bimo sih yang keliatan super excited! Seperti biasa, dia peluk gue dan ngebacot ga udah-udah gimana nantinya kalau misalnya gue jadi satu team dengan dia. Debby pun sama, dia keliatan (kayak) excited gitu. Walaupun gue ga tau, dia beneran seneng apa ga dengan kehadiran gue di sana. Gue masih bingung harus gimana menyikapi Debby.
Tahapan demi tahapan lamaran ke kantor-nya Debby dan Bimo ini gue lalui satu per satu, tentunya tanpa bantuan mereka. Murni gue coba sendiri. Gue ga mau kesannya gue minta bantuan mereka biar gue bisa dilolosin masuk kantor mereka.Tapi entah kenapa, hati gue terus berkata ‘hati-hati’.
Satu hari berlalu… Belum ada kabar. “YA IYALAH. Baru juga sehari.”
Tiga hari berlalu… Belum ada kabar juga. “Sabar, baru juga tiga hari…” gumam gue.
Lima hari berlalu…
Quote:
Gue yang lagi bikin laporan inventaris, mendadak buyar! Asli! Gue degdegan dan bingung mau angkat telepon gimana. Soalnya Kak Irawan dan Kak Nadya lagi ada di ruangan gue diskusiin apaan tau. Gue ga perhatiin mereka.
Gue pamit keluar dan lari ke rooftopruko kantor gue. “Halo, Ibu Yuni. Selamat siang!” Eh malah gue yang nyapa duluan. Bangs*t! Ketauan amat gue nungguin kabar dari dia! Elaaah~
“Halo, Bu Emilya! Siang juga, Bu… Maaf mengganggu, Bu.”
“Ga kok, Bu. Ada yang bisa saya bantu, Bu?” Halah, gue segala basa basi begini. Tapi ya ini namanya etika. Hehehe.
“Begini, Bu. Saya dan Pak Edward sudah mengirimkan hasil Wawancara User yang sudah ibu laksanakan dengan Pak Edward ke HRD Pusat. HRD Pusat pun sudah memberikan segala keputusan ke saya dan Pak Edward. Hasil keputusannya…” Sengaja banget si Bu Yuni ini ngejeda. Gue sengaja manggil dia Bu Yuni untuk profesionalitas. Padahal menurut Debby dan Bimo, Yuni ini seumuran sama gue. “Ibu diterima di kantor kami sebagai bagian dari Divisi Pengelolaan Lingkungan. Selamat bergabung ya, Bu.”
“WOOHOO!” teriak gue dari dalam hati. Gue langsung sujud syukur di rooftop yang panas banget itu. Bangkek! Gue lupa kalau gue lagi di rooftop. “Terima kasih informasinya, Bu Yuni! Alhamdulillah!” Keep calm, Emi. Keep calm! Peace, love, and gaul dong!
Kami pun negosiasi mengenai gaji yang ditawarkan oleh mereka dan segala macem job desk yang akan gue laksanakan di telepon saat itu. Soalnya Pak Edward lupa kemaren nanyain dan ngobrolin itu semua ke gue karena dia dari awal wawancara gue katanya udah emang kepengen gue bergabung. Alhamdulillahnya, kami bisa nemu kesepakatan walaupun cuman via telepon begitu.
Dan dengan beberapa pertimbangan, gue memutuskan untuk bergabung satu bulan sejak obrolan kami di telepon saat itu. Beliau pun setuju. Untuk mengikat gue, Bu Yuni mengirimkan beberapa form digital yang perlu gue isi untuk pendataan mereka. Itu juga biar saat gue masuk nanti, seluruh persiapan administrasi gue udah selesai. Jadi, gue bisa langsung fokus kerja.
Hari itu juga gue langsung ngajuin resign ke kantor gue.
Selamat tinggal PT GG!
Selamat datang PT MIG!
Semoga ini jalan terbaik untuk gue agar semuanya jadi lebih baik. Bismillah.
itkgid dan 27 lainnya memberi reputasi
28
Tutup
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/10/10712020_20191010014133.jpg)

dan 
