- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.1K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#243
Spoiler for Part 83:
Part 83
"Selamat ya mbak...., traktiran lah...."
Saat ini aku sedang memandangi wajah senangnya yang tergambar di dalam layar laptopku.
"Makanya, main-main kesini dong nat...., kangen nih...."
Aku hanya bisa tersenyum kecut setelah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkannya.
"Nanti ya mbak, kalo udah ada duit"
Aku mengakhiri kalimatku dengan sebuah kekehan kecil.
"Yaudah, nanti ya..., pas aku wisuda aja kita ketemunya"
"2 minggu lagi kok...."
Kedua sudut bibirku langsung tertarik keatas setelah dia kembali mengingatkan bahwa sebentar lagi kami akan kembali bertemu.
Aku: "mulai masuk kerja kapan mbak?"
Beby: "mulai kerja ya habis training nat, kalo trainingnya baru mulai 3 minggu lagi"
Aku: "emang trainingnya berapa lama mbak?"
Beby: "3 bulan nat trainingnya, habis itu baru deh mulai kerja"
Aku: "kok lama banget mbak?"
Pertanyaan yang baru saja kulontarkan berhasil membuatnya terkekeh.
"Emang gitu kali nat kalo training buat kerja, di tempat lain ada yang sampi 5 bulanan"
Aku hanya membulatkan mulutku seraya mengangguk kecil setelah mendengar jawabannya, jujur aku baru tahu kalau ada training sebelum kerja yang memakan waktu selama itu.
Sepertinya itu wajar, hal seperti itu sama sekaki tidak pernah menjadi pikiranku sebelumnya.
"Oooohhhh...., baru tau aku mbak"
Lagi-lagi aku berhasil membuatnya terkekeh dengan kalimat yang baru saja kulontarkan.
"Gak kaget!!!, apasih yang kamu gak tau?!"
Kali ini aku berhasil dibuat tertawa oleh beby yang mengucapkan kalimatnya dengan nada ketus.
"Iyadeh...., mbak emang paling tau segalanya"
Raut wajah sedih yang sengaja kubuat-buat juga berhasil memancing tawanya keluar.
"Idih...., ngambek dia"
Beby kembali melanjutkan tawanya yang sempat terjeda saat dia mengejekku.
"Eh...., tapi ada 1 hal yang mbak belum tau"
Aku berusaha menghentikan tawanya dengan cara melempar topik baru untuk kami bicarakan.
"Apa coba?"
Dagunya ikut terangkat saat beby bertanya seperti itu kepadaku, dia juga melempar tatapan remeh untuk membuatku merasa terintimidasi.
"Aku juga kangen sama mbak...., udah gak sabar tau nunggu kamu wisuda"
Tatapan remehnya langsung hilang begitu saja setelah aku menyelesaikan kalimatku.
"E e e eeehh...., t t tumben banget nat...."
Beby langsung membuang pandangannya dari kamera, sekarang aku dapat melihat senyumammya yang mukai merekah secara perlahan, dia juga langsung mengambil bantal untuk menutupi wajahnya yang bisa jadi sudah berwarna merah karena menahan malu, kali ini aku berhasil membuatnya salah tingkah hanya dengan kata kangen.
Ya...., aku memang sangat jarang mengucapkan kata-kata manis kepadanya, mulai dari i love you, sayang, cinta, kamgen, mungkin kata-kata seperti itu hampir sama sekali tidak pernah kuucapkan kepadanya.
Bahkan aku baru mengucapkan kata kangen setelah kami sudah LDR selama 1 bulan lebih, mana pernah aku mau mengucapkan kata-kata seperti itu sebelumnya, aku lebih senang mengisi waktu video call kami dengan melontarkan berbagai macam ejekan untuk membuatnya kesal, apalagi tujuanku melakukan itu kalau bukan rindu dengan wajah kesalnya, pukulannya, cubitannya, bahkan aku rindu mendengar omelannya secara langsung.
Sedangkan apa yang dilakukan beby sangat berbanding terbalik dengan apa yang selama ini kulakukan, sudah tidak terhitung lagi berapa ribu kata kangen yang selama ini keluar dari mulutnya, dalam sekali video call saja aku bisa mendengar kata itu hampir di setiap waktu, mulai dari panggilan kami dimulai hingga panggilan kami selesai, seolah-olah dia tidak memiliki rasa bosan untuk berkata seperti itu.
Aku: "gak bisa dimajuin mbak wisudanya?"
Beby: "y y ya mana bisa nat...."
Aku: "yaahh...., yaudah deh, harus sabar aku berarti"
Wajahnya agak sedikit terlihat penasaran setelah mendengar kalimat yang baru saja kuucapkan, tapi senyum itu masih belum juga pudar dari wajahnya.
Beby: "sabar buat apa nat?"
Aku: "sabar buat ketemu sama kamu lah, pengen nangisin kamu lagi, udah lama kayaknya gak gituin kamu"
Aku mengakhiri kalimatku dengan cengiran konyol yang berhasil membuat wajah kesalnya kembali muncul.
"Dih...., ujung-ujungnya gitu lagi, ternyata cuma kangen ngisengin aku doang"
"Kalo gitu mah gak usah ketemu nat, waktu kita jauhan aja kamu udah sering bikin kesel"
Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku setelah mendengar dan melihat beby mengomel sambil memasang wajah kesalnya.
"Sebenernya bukan itu sih mbak intinya"
Aku berusaha memotong omelannya dengan sebuah kalimat yang mungkin terdengar agak sedikit menggantung.
"Apa?!"
Beby langsung bertanya dengan nada ketusnya setelah kalimatku selesai.
"Yaaa....., aku kangen kamu, kangen kamu pukulin, kamu cubitin, kamu tempelin"
Sontak saja dia langsung tertawa setelah mendengar jawaban yang kulontarkan.
Beby: "mesum iiiihhh....."
Aku: "kok jadi mesum sih mbak?"
Beby: "kamu kangen aku tempel-tempelin katanya, apalagi kao bukan mesum?, emang mau ngapain kamu?"
Aku hanya bisa menghela nafas kasar setelah menyadari beby yang sepertinya salah paham.
"Enggak gitu juga kali mbak...."
Tawanya terdengar semakin kencang setelah melihat dan mendengar responku barusan.
"Iya iya...., yaudah, entar kalo ketemu aku cubitin ya kamu, aku pukulin juga...., supaya kangen kamu terobati"
Dia berhasil memaksaku untuk tersenyum saat aku mulai membayangkan kalimat yang baru saja dilontarkannya.
"Tapi jangan kenceng-kenceng ya, yang ada bukannya kangenku terobati mbak, entar babak belur akunya"
Lagi-lagi tawa keluar dari mulutnya setelah mendengar jokes yang menurutku sangat garing, bagaimana tidak garing?, aku saja tidak tertawa sama sekali setelah memikirkan dan mendengarnya.
Sebenarnya memang dianya yang receh atau dia hanya berusaha menghargai aku yang sudah berusaha melucu ya?.
"Ya enggak lah nat...., kalo kamu babak belur aku juga yang sedih...."
Dia kembali memasang wajah sedih yang dibuat-buat setelah kalimatnya selesai.
"Ehhhh...., tapi kalo kamu ketahuan aku jalan sama cewek lain, aku bakal cubitin kamu sampe semua badan kamu biru, aku juga bakal pukulin kamu sampe bener-bener babak belur"
Seketika wajah sedihnya langsung berubah, beby mulai menggantinya dengan wajah garang yang terlihat dibuat-buat.
"Eeehhhh...., jangan mbak...., takuuuut....."
Sedangkan aku membalasnya dengan memasang wajah takut yang tentu saja kubuat-buat.
"Makanya!!!"
Dia mengancamku dengan nada tegas sambil membuka matanya lebar-lebar.
"Iya mbak iya...."
Suasana hening sempat menyelimuti kami saat dia tidak membalas jawabanku atas ancamannya barusan, tiba-tiba aku melihatnya kembali tersenyum setelah memasang wajah marahnya selama beberapa detik, aku juga dapat mendengar kekehan kecil dari seberang sana yang berhasil memecah keheingan yang menyelimuti kami sebelumnya.
Beby: "nurut banget kamu nat...."
Aku: "iyalah, sama pacar...."
Beby: "dih...., emang siapa pacar kamu?"
Aku pura-pura berpikir sebelum menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkannya.
"Ada deh mbak...., cantik lah pokoknya"
Wajahnya langsung terlihat sumringah setelah mendengar jawabanku.
Beby: "emang aku cantik ya nat?"
Aku: "biasa aja sih mbak"
Wajah kesalnya kembali muncul setelah mendengar pendapatku tentang kecantikannya.
"Terus yang cantik itu siapa dong?!"
Sekarang dia bertanya dengan nada ketus.
"Ya pacar aku mbak"
Sementara aku memilih menjawab pertanyaannya dengan nada santai sambil melemparkan tatapan remeh kearahnya.
"Kan aku pacar kamu nat!!!"
Suaranya semakin meninggi setelah mendengarku yang sama sekali tidak ada niat serius saat menjawab pertanyaannya.
"Yaudah, berarti yang cantik itu kamu mbak......"
Suara tawa kembali menggema dan memenuhi kamar kosku saat ini, kali ini suara tawa tersebut berasal dari dalam mulut kami ber 2.
Ya...., kami sama-sama tertawa setelah aku menyelesaikan kalimat terakhirku, bedanya, aku tertawa puas karena berhasil membuatnya salah tingkah untuk yang kesekian kalinya, sementara beby tertawa malu setelah mendengar gombalan receh di akhir kalimatku.
"Iiissshh....., udah nat....., maloooo....."
Dia kembali membenamkan wajahnya di dalam bantal yang sedari tadi menjadi tumpuan untuk dagunya.
"Kamu kenapa sih?, tumben banget kayak gini"
Selang beberapa detik kemudian, beby sudah kembali mengangkat kepalanya, dia langsung melontarkan sebuah pertanyaan seraya melempar tatapan menyelidik kearahku.
"Emang gak boleh ya mbak?, mbak gak suka ya?"
Dia kembali membuang tatapannya kearah lain sesaat setelah menyingkirkan bantal yang sempat menutupi wajahnya, sesekali tangannya meremas bantal yang saat ini kembali menjadi tempat dagunya untuk bertumpu.
"Bukan gak boleh sih nat, aku seneng kok, tapi....."
Dia menjeda kalimatnya untuk memperlebar senyumannya.
"Aku lebih seneng kalo kamu tiap hari kayak gini"
"Dah ah, aku matiin ya nat, mau bobo, ngantoook...."
Aku hanya bisa terkekeh melihat wajah beby yang benar-benar terlihat salah tingkah.
"Eeeeehhh...., bentar mbak...."
Panggilanku berhasil menghentikan beby yang sudah bersiap untuk menutup panggilan kami malam ini, dia kembali menatapku dari layar laptopnya sembari menaikkan kedua alisnya keatas.
"Goodnight mbak..., mimpi indah ya..., love you..."
Bibirnya kembali tertarik keatas setelah aku menyelesaikan kalimatku, dia juga membuang pandangannya kearah lain sambil terus mengulum senyumannya.
"Iiiissshhh...., nyebelin kamu nat...., udah ah....."
Dia langsung menutup panggilan kami tanpa pesetujuanku setelah meluapkan kekesalannya, eh, sepertinya itu tadi adalah sebuah kebahagiaan.
Hehehe.
Beby POV
Aaaaaaaaaaaaaa........... Nathaaaaa........ Kamu ngeselin banget hari ini........
Bukan cuma hari ini sih, memang setiap hari dia selalu membuatku kesal. Dengan berbagi macam ejekan yang dilontarkannya kepadaku, dia selalu berhasil memaksaku untuk memajukan bibir dan mendekatkan kedua alisku
Tapi..... dia tetap menyebalkan malam ini, bahkan jauh lebih menyebalkan, memang sih, hari ini dia sama sekali tidak mengejeku, tapi setiap kata manis yang keluar dari mulutnya berhasil membuatku salah tingkah, apalagi setelah dia mengucapkan kalimat penutup yang hari ini lupa kuucapkan karena aku sudah tidak mampu lagi menahan sensasi geli yang menjalar keseluruh bagian tubuhku, entahlah, seperti ada jutaan kupu-kupu yang saat ini memenuhi perutku.
bagiman tidak, biasanya dia sama sekali tidak mau membalas kata-kata itu, biasanya dia hanya berkata "iya mbak...." dengan nada malasnya ketika aku mengucapkan kata-kata itu, ya...., "goodnight nat, mimpi indah, love you".
Ngeselin kan?!.
Huuuuhhh.....
Waktu cepet banget ya...., sudah setengah tahun lebih aku mengenalnya, dan.... sudah 1 bulan lebih kami sepakat untuk menjalin suatu hubungan, yap, sebagai sepasang kekasih, dan kami langsung menjalin hubungan jarak jauh saat hubungan ini baru berumur 3 hari.
Jujur aku baru menyadari satu hal, ya..., aku baru menydari itu saat kepentingan dan jarak memaksa kami untuk berpisah, aku baru merasa kehilangan saat mengingat momen di mana dia selalu mengunjungiku hampir setiap malam.
Berawal dari aku yang selalu memaksanya untuk datang kerumah, hingga dia yang selalu mengunjungiku dengan suka rela, bahkan ada saat di mana hampir setiap malam dia selalu memaksa untuk berkunjung kerumahku.
Ya...., pada saat itu, saat di mana hubungan kami memasuki masa-masa kelam.
Tapi.... berkat kegigihannya, dia berhasil memaksaku untuk kembali menitipkan semua harapan dan kepercyaanku kepadanya.
Sebenarnya aku sangat benci dengan sebuah penghianatan dan perselingkuhan!, ya...., aku memang memiliki trauma tersendiri dengan hal-hal seperti itu, trauma ini bermula pada saat orang yang sudah susah payah kuberi kepercayaan menghianatiku, aku hanya takut, takut orang yang saat itu benar-benar kucintai melakukannya lagi.
Tapi...., lupakan sajalah!!!!.
Toh sampai saat ini orang itu selalu berhasil menjaga kepercayaanku dengan baik, ya, aku mengetahuinya dari teman baikku yang selalu siap sedia menjadi mata-mataku sampai saat ini, ya...., siapa lagi kalau bukan viny.
Hehehehe.
Aku yakin, meskipun saat ini kami dipisahkan oleh jarak, dia tetap bisa menjagaku, menjaga kepercayaanku, keyakinanku ini selalu bertambah setiap kali aku mengingat bagaimana usaha yang dilakukannya agar aku berkenan untuk kembali menitipkan kepercayaan itu kepadanya.
Huuuuh.....
Setelah puas berguling-guling dia atas kasur karena ulahnya beberapa menit yang lalu, aku memutuskan untuk bangkit, lalu berjalan menghampiri saklar lampu untuk mematikannya.
Cteeekkkk.....
Sekarang aku hanya ditemani dengan cahaya bintang yang menerobos masuk dari jendela kamar yang masih terbuka, aku kembali berjalan menghampiri kasurku, merebahkan tubuhku di atasnya, mencari boneka micky mouse yang selalu setia menemaniku tidur setiap malamnya.
aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan-lahan, senyumanku kembali mengembang secara perlahan-lahan seiring dengan keluarnya nafas yang kuhembuskan, aku langsung memeluk dengan erat boneka micky mouse yang baru saja kudapatkan sambil memandangi jendela kamarku yang saat ini menjadi satu-satunya sumber penerangan.
Memandangi bintang-bintang yang terlihat sangat kecil di langit sana, entah kenapa kegiatan ini menjadi hobi baruku sejak aku kembali menetap di kota ini, bintang-bintang itu selalu mengingatkanku kepadanya, iya....., natha.
Malam itu, di atas bukit bintang, natha meluapkan semua perasaan yang selalu dipendamnya, dia mengaku bahwa dia menyayangiku, dia mengaku bahwa dia merindukanku, dan mungkin...... dia juga mengaku bahwa dia mencintaiku.
Semoga dia selalu berusaha menjaga perasaan itu, berusaha menjaga bintang-bintang itu agar tetap pada tempatnya.
Meskipun ada saat di mana aku tidak bisa melihat perasaan itu seperti bintang-bintang yang sedang tertutup oleh awan, semoga bintang yang aku lihat malam ini akan selalu ada pada tempatnya, menerangiku, memelukku dengan cahayanya, seperti kamu selalu memelukku dengan cintamu.
Pembuktian itu memang tidak akan pernah ada ujungnya nat, tapi aku siap menjadi orang yang selalu ada untuk menemanimu, menemanimu untuk membuktikan semuanya, dan aku harap, bukti yang saat ini selalu kamu tunjukkan akan selalu ada, akan selalu kekal.
Sampai waktunya tiba, waktu di mana aku sudah tidak bisa lagi melihat dan merasakan semua bukti-bukti itu.
Mataku perlahan mulai terpejam, aku masih memeluk dengan erat boneka micky mouse yang ada di tanganku, sesekali ciumanku mendarat dengan mulus di wajahnya.
Iya nat...., aku benar-benar rindu dengan semua bukti-buktimu, aku benar-benar rindu dengan semua sikap-sikapmu, aku juga rindu dengan sentuhan dan pelukanmu.
Dan.... semua bintang-bintang itu berhasil mewakilkan semuanya
Natha..., love you too.....
"Selamat ya mbak...., traktiran lah...."
Saat ini aku sedang memandangi wajah senangnya yang tergambar di dalam layar laptopku.
"Makanya, main-main kesini dong nat...., kangen nih...."
Aku hanya bisa tersenyum kecut setelah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkannya.
"Nanti ya mbak, kalo udah ada duit"
Aku mengakhiri kalimatku dengan sebuah kekehan kecil.
"Yaudah, nanti ya..., pas aku wisuda aja kita ketemunya"
"2 minggu lagi kok...."
Kedua sudut bibirku langsung tertarik keatas setelah dia kembali mengingatkan bahwa sebentar lagi kami akan kembali bertemu.
Aku: "mulai masuk kerja kapan mbak?"
Beby: "mulai kerja ya habis training nat, kalo trainingnya baru mulai 3 minggu lagi"
Aku: "emang trainingnya berapa lama mbak?"
Beby: "3 bulan nat trainingnya, habis itu baru deh mulai kerja"
Aku: "kok lama banget mbak?"
Pertanyaan yang baru saja kulontarkan berhasil membuatnya terkekeh.
"Emang gitu kali nat kalo training buat kerja, di tempat lain ada yang sampi 5 bulanan"
Aku hanya membulatkan mulutku seraya mengangguk kecil setelah mendengar jawabannya, jujur aku baru tahu kalau ada training sebelum kerja yang memakan waktu selama itu.
Sepertinya itu wajar, hal seperti itu sama sekaki tidak pernah menjadi pikiranku sebelumnya.
"Oooohhhh...., baru tau aku mbak"
Lagi-lagi aku berhasil membuatnya terkekeh dengan kalimat yang baru saja kulontarkan.
"Gak kaget!!!, apasih yang kamu gak tau?!"
Kali ini aku berhasil dibuat tertawa oleh beby yang mengucapkan kalimatnya dengan nada ketus.
"Iyadeh...., mbak emang paling tau segalanya"
Raut wajah sedih yang sengaja kubuat-buat juga berhasil memancing tawanya keluar.
"Idih...., ngambek dia"
Beby kembali melanjutkan tawanya yang sempat terjeda saat dia mengejekku.
"Eh...., tapi ada 1 hal yang mbak belum tau"
Aku berusaha menghentikan tawanya dengan cara melempar topik baru untuk kami bicarakan.
"Apa coba?"
Dagunya ikut terangkat saat beby bertanya seperti itu kepadaku, dia juga melempar tatapan remeh untuk membuatku merasa terintimidasi.
"Aku juga kangen sama mbak...., udah gak sabar tau nunggu kamu wisuda"
Tatapan remehnya langsung hilang begitu saja setelah aku menyelesaikan kalimatku.
"E e e eeehh...., t t tumben banget nat...."
Beby langsung membuang pandangannya dari kamera, sekarang aku dapat melihat senyumammya yang mukai merekah secara perlahan, dia juga langsung mengambil bantal untuk menutupi wajahnya yang bisa jadi sudah berwarna merah karena menahan malu, kali ini aku berhasil membuatnya salah tingkah hanya dengan kata kangen.
Ya...., aku memang sangat jarang mengucapkan kata-kata manis kepadanya, mulai dari i love you, sayang, cinta, kamgen, mungkin kata-kata seperti itu hampir sama sekali tidak pernah kuucapkan kepadanya.
Bahkan aku baru mengucapkan kata kangen setelah kami sudah LDR selama 1 bulan lebih, mana pernah aku mau mengucapkan kata-kata seperti itu sebelumnya, aku lebih senang mengisi waktu video call kami dengan melontarkan berbagai macam ejekan untuk membuatnya kesal, apalagi tujuanku melakukan itu kalau bukan rindu dengan wajah kesalnya, pukulannya, cubitannya, bahkan aku rindu mendengar omelannya secara langsung.
Sedangkan apa yang dilakukan beby sangat berbanding terbalik dengan apa yang selama ini kulakukan, sudah tidak terhitung lagi berapa ribu kata kangen yang selama ini keluar dari mulutnya, dalam sekali video call saja aku bisa mendengar kata itu hampir di setiap waktu, mulai dari panggilan kami dimulai hingga panggilan kami selesai, seolah-olah dia tidak memiliki rasa bosan untuk berkata seperti itu.
Aku: "gak bisa dimajuin mbak wisudanya?"
Beby: "y y ya mana bisa nat...."
Aku: "yaahh...., yaudah deh, harus sabar aku berarti"
Wajahnya agak sedikit terlihat penasaran setelah mendengar kalimat yang baru saja kuucapkan, tapi senyum itu masih belum juga pudar dari wajahnya.
Beby: "sabar buat apa nat?"
Aku: "sabar buat ketemu sama kamu lah, pengen nangisin kamu lagi, udah lama kayaknya gak gituin kamu"
Aku mengakhiri kalimatku dengan cengiran konyol yang berhasil membuat wajah kesalnya kembali muncul.
"Dih...., ujung-ujungnya gitu lagi, ternyata cuma kangen ngisengin aku doang"
"Kalo gitu mah gak usah ketemu nat, waktu kita jauhan aja kamu udah sering bikin kesel"
Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku setelah mendengar dan melihat beby mengomel sambil memasang wajah kesalnya.
"Sebenernya bukan itu sih mbak intinya"
Aku berusaha memotong omelannya dengan sebuah kalimat yang mungkin terdengar agak sedikit menggantung.
"Apa?!"
Beby langsung bertanya dengan nada ketusnya setelah kalimatku selesai.
"Yaaa....., aku kangen kamu, kangen kamu pukulin, kamu cubitin, kamu tempelin"
Sontak saja dia langsung tertawa setelah mendengar jawaban yang kulontarkan.
Beby: "mesum iiiihhh....."
Aku: "kok jadi mesum sih mbak?"
Beby: "kamu kangen aku tempel-tempelin katanya, apalagi kao bukan mesum?, emang mau ngapain kamu?"
Aku hanya bisa menghela nafas kasar setelah menyadari beby yang sepertinya salah paham.
"Enggak gitu juga kali mbak...."
Tawanya terdengar semakin kencang setelah melihat dan mendengar responku barusan.
"Iya iya...., yaudah, entar kalo ketemu aku cubitin ya kamu, aku pukulin juga...., supaya kangen kamu terobati"
Dia berhasil memaksaku untuk tersenyum saat aku mulai membayangkan kalimat yang baru saja dilontarkannya.
"Tapi jangan kenceng-kenceng ya, yang ada bukannya kangenku terobati mbak, entar babak belur akunya"
Lagi-lagi tawa keluar dari mulutnya setelah mendengar jokes yang menurutku sangat garing, bagaimana tidak garing?, aku saja tidak tertawa sama sekali setelah memikirkan dan mendengarnya.
Sebenarnya memang dianya yang receh atau dia hanya berusaha menghargai aku yang sudah berusaha melucu ya?.
"Ya enggak lah nat...., kalo kamu babak belur aku juga yang sedih...."
Dia kembali memasang wajah sedih yang dibuat-buat setelah kalimatnya selesai.
"Ehhhh...., tapi kalo kamu ketahuan aku jalan sama cewek lain, aku bakal cubitin kamu sampe semua badan kamu biru, aku juga bakal pukulin kamu sampe bener-bener babak belur"
Seketika wajah sedihnya langsung berubah, beby mulai menggantinya dengan wajah garang yang terlihat dibuat-buat.
"Eeehhhh...., jangan mbak...., takuuuut....."
Sedangkan aku membalasnya dengan memasang wajah takut yang tentu saja kubuat-buat.
"Makanya!!!"
Dia mengancamku dengan nada tegas sambil membuka matanya lebar-lebar.
"Iya mbak iya...."
Suasana hening sempat menyelimuti kami saat dia tidak membalas jawabanku atas ancamannya barusan, tiba-tiba aku melihatnya kembali tersenyum setelah memasang wajah marahnya selama beberapa detik, aku juga dapat mendengar kekehan kecil dari seberang sana yang berhasil memecah keheingan yang menyelimuti kami sebelumnya.
Beby: "nurut banget kamu nat...."
Aku: "iyalah, sama pacar...."
Beby: "dih...., emang siapa pacar kamu?"
Aku pura-pura berpikir sebelum menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkannya.
"Ada deh mbak...., cantik lah pokoknya"
Wajahnya langsung terlihat sumringah setelah mendengar jawabanku.
Beby: "emang aku cantik ya nat?"
Aku: "biasa aja sih mbak"
Wajah kesalnya kembali muncul setelah mendengar pendapatku tentang kecantikannya.
"Terus yang cantik itu siapa dong?!"
Sekarang dia bertanya dengan nada ketus.
"Ya pacar aku mbak"
Sementara aku memilih menjawab pertanyaannya dengan nada santai sambil melemparkan tatapan remeh kearahnya.
"Kan aku pacar kamu nat!!!"
Suaranya semakin meninggi setelah mendengarku yang sama sekali tidak ada niat serius saat menjawab pertanyaannya.
"Yaudah, berarti yang cantik itu kamu mbak......"
Suara tawa kembali menggema dan memenuhi kamar kosku saat ini, kali ini suara tawa tersebut berasal dari dalam mulut kami ber 2.
Ya...., kami sama-sama tertawa setelah aku menyelesaikan kalimat terakhirku, bedanya, aku tertawa puas karena berhasil membuatnya salah tingkah untuk yang kesekian kalinya, sementara beby tertawa malu setelah mendengar gombalan receh di akhir kalimatku.
"Iiissshh....., udah nat....., maloooo....."
Dia kembali membenamkan wajahnya di dalam bantal yang sedari tadi menjadi tumpuan untuk dagunya.
"Kamu kenapa sih?, tumben banget kayak gini"
Selang beberapa detik kemudian, beby sudah kembali mengangkat kepalanya, dia langsung melontarkan sebuah pertanyaan seraya melempar tatapan menyelidik kearahku.
"Emang gak boleh ya mbak?, mbak gak suka ya?"
Dia kembali membuang tatapannya kearah lain sesaat setelah menyingkirkan bantal yang sempat menutupi wajahnya, sesekali tangannya meremas bantal yang saat ini kembali menjadi tempat dagunya untuk bertumpu.
"Bukan gak boleh sih nat, aku seneng kok, tapi....."
Dia menjeda kalimatnya untuk memperlebar senyumannya.
"Aku lebih seneng kalo kamu tiap hari kayak gini"
"Dah ah, aku matiin ya nat, mau bobo, ngantoook...."
Aku hanya bisa terkekeh melihat wajah beby yang benar-benar terlihat salah tingkah.
"Eeeeehhh...., bentar mbak...."
Panggilanku berhasil menghentikan beby yang sudah bersiap untuk menutup panggilan kami malam ini, dia kembali menatapku dari layar laptopnya sembari menaikkan kedua alisnya keatas.
"Goodnight mbak..., mimpi indah ya..., love you..."
Bibirnya kembali tertarik keatas setelah aku menyelesaikan kalimatku, dia juga membuang pandangannya kearah lain sambil terus mengulum senyumannya.
"Iiiissshhh...., nyebelin kamu nat...., udah ah....."
Dia langsung menutup panggilan kami tanpa pesetujuanku setelah meluapkan kekesalannya, eh, sepertinya itu tadi adalah sebuah kebahagiaan.
Hehehe.
Beby POV
Spoiler for Theme Song:
Aaaaaaaaaaaaaa........... Nathaaaaa........ Kamu ngeselin banget hari ini........
Bukan cuma hari ini sih, memang setiap hari dia selalu membuatku kesal. Dengan berbagi macam ejekan yang dilontarkannya kepadaku, dia selalu berhasil memaksaku untuk memajukan bibir dan mendekatkan kedua alisku
Tapi..... dia tetap menyebalkan malam ini, bahkan jauh lebih menyebalkan, memang sih, hari ini dia sama sekali tidak mengejeku, tapi setiap kata manis yang keluar dari mulutnya berhasil membuatku salah tingkah, apalagi setelah dia mengucapkan kalimat penutup yang hari ini lupa kuucapkan karena aku sudah tidak mampu lagi menahan sensasi geli yang menjalar keseluruh bagian tubuhku, entahlah, seperti ada jutaan kupu-kupu yang saat ini memenuhi perutku.
bagiman tidak, biasanya dia sama sekali tidak mau membalas kata-kata itu, biasanya dia hanya berkata "iya mbak...." dengan nada malasnya ketika aku mengucapkan kata-kata itu, ya...., "goodnight nat, mimpi indah, love you".
Ngeselin kan?!.
Huuuuhhh.....
Waktu cepet banget ya...., sudah setengah tahun lebih aku mengenalnya, dan.... sudah 1 bulan lebih kami sepakat untuk menjalin suatu hubungan, yap, sebagai sepasang kekasih, dan kami langsung menjalin hubungan jarak jauh saat hubungan ini baru berumur 3 hari.
Jujur aku baru menyadari satu hal, ya..., aku baru menydari itu saat kepentingan dan jarak memaksa kami untuk berpisah, aku baru merasa kehilangan saat mengingat momen di mana dia selalu mengunjungiku hampir setiap malam.
Berawal dari aku yang selalu memaksanya untuk datang kerumah, hingga dia yang selalu mengunjungiku dengan suka rela, bahkan ada saat di mana hampir setiap malam dia selalu memaksa untuk berkunjung kerumahku.
Ya...., pada saat itu, saat di mana hubungan kami memasuki masa-masa kelam.
Tapi.... berkat kegigihannya, dia berhasil memaksaku untuk kembali menitipkan semua harapan dan kepercyaanku kepadanya.
Sebenarnya aku sangat benci dengan sebuah penghianatan dan perselingkuhan!, ya...., aku memang memiliki trauma tersendiri dengan hal-hal seperti itu, trauma ini bermula pada saat orang yang sudah susah payah kuberi kepercayaan menghianatiku, aku hanya takut, takut orang yang saat itu benar-benar kucintai melakukannya lagi.
Tapi...., lupakan sajalah!!!!.
Toh sampai saat ini orang itu selalu berhasil menjaga kepercayaanku dengan baik, ya, aku mengetahuinya dari teman baikku yang selalu siap sedia menjadi mata-mataku sampai saat ini, ya...., siapa lagi kalau bukan viny.
Hehehehe.
Aku yakin, meskipun saat ini kami dipisahkan oleh jarak, dia tetap bisa menjagaku, menjaga kepercayaanku, keyakinanku ini selalu bertambah setiap kali aku mengingat bagaimana usaha yang dilakukannya agar aku berkenan untuk kembali menitipkan kepercayaan itu kepadanya.
Huuuuh.....
Setelah puas berguling-guling dia atas kasur karena ulahnya beberapa menit yang lalu, aku memutuskan untuk bangkit, lalu berjalan menghampiri saklar lampu untuk mematikannya.
Cteeekkkk.....
Sekarang aku hanya ditemani dengan cahaya bintang yang menerobos masuk dari jendela kamar yang masih terbuka, aku kembali berjalan menghampiri kasurku, merebahkan tubuhku di atasnya, mencari boneka micky mouse yang selalu setia menemaniku tidur setiap malamnya.
aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan-lahan, senyumanku kembali mengembang secara perlahan-lahan seiring dengan keluarnya nafas yang kuhembuskan, aku langsung memeluk dengan erat boneka micky mouse yang baru saja kudapatkan sambil memandangi jendela kamarku yang saat ini menjadi satu-satunya sumber penerangan.
Memandangi bintang-bintang yang terlihat sangat kecil di langit sana, entah kenapa kegiatan ini menjadi hobi baruku sejak aku kembali menetap di kota ini, bintang-bintang itu selalu mengingatkanku kepadanya, iya....., natha.
Malam itu, di atas bukit bintang, natha meluapkan semua perasaan yang selalu dipendamnya, dia mengaku bahwa dia menyayangiku, dia mengaku bahwa dia merindukanku, dan mungkin...... dia juga mengaku bahwa dia mencintaiku.
Semoga dia selalu berusaha menjaga perasaan itu, berusaha menjaga bintang-bintang itu agar tetap pada tempatnya.
Meskipun ada saat di mana aku tidak bisa melihat perasaan itu seperti bintang-bintang yang sedang tertutup oleh awan, semoga bintang yang aku lihat malam ini akan selalu ada pada tempatnya, menerangiku, memelukku dengan cahayanya, seperti kamu selalu memelukku dengan cintamu.
Pembuktian itu memang tidak akan pernah ada ujungnya nat, tapi aku siap menjadi orang yang selalu ada untuk menemanimu, menemanimu untuk membuktikan semuanya, dan aku harap, bukti yang saat ini selalu kamu tunjukkan akan selalu ada, akan selalu kekal.
Sampai waktunya tiba, waktu di mana aku sudah tidak bisa lagi melihat dan merasakan semua bukti-bukti itu.
Mataku perlahan mulai terpejam, aku masih memeluk dengan erat boneka micky mouse yang ada di tanganku, sesekali ciumanku mendarat dengan mulus di wajahnya.
Iya nat...., aku benar-benar rindu dengan semua bukti-buktimu, aku benar-benar rindu dengan semua sikap-sikapmu, aku juga rindu dengan sentuhan dan pelukanmu.
Dan.... semua bintang-bintang itu berhasil mewakilkan semuanya
Natha..., love you too.....
Diubah oleh akmal162 15-06-2020 13:49
Daffa.O.F dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Kutip
Balas
