- Beranda
- Stories from the Heart
Jemari Amy (Kumpulan Cerpen Berbagai Genre)
...
TS
amyjk02
Jemari Amy (Kumpulan Cerpen Berbagai Genre)

Wellcome to my imagine castle. Mau yang romantis? Ada. Mau yang horor? Ada juga. Mau yang sadis dan gore? Ada banget. Atau mau yang bikin ngakak? Ada juga, lho.
Selamat menikmati hasil kehaluan saya š„°š„°
Selamat menikmati hasil kehaluan saya š„°š„°
Jacka Taroob VS Vampire
Fantasi

***
Aku merapatkan jaket, gemetar kedinginan. Tak peduli gelap dan jalanan licin, terus kubawa langkah menyusuri hutan. Sepi dan semakin dingin.
Terkejut ketika mataku menangkap sebuah kelebat bayangan. Bau anyir menguar, memenuhi hidung. Aku segera menggenggam senjataku dengan erat. Bersiap siaga. Kusembunyikan tubuh di balik pokok pohon besar dengan mata yang terus mengawasi sekitar.
Benar saja! Tidak jauh dari tempatku berdiri, dua makhluk berjubah hitam terbang rendah mengejar sesuatu.
"Tolong!" teriak seorang wanita yang terdengar panik dan ketakutan. Sementara pengejarnya semakin mendekat.
Aku membekap mulut melihat pemandangan di depanku. Dua lelaki bertubuh lebih besar dariku menerkam wanita yang tadi meminta tolong. Tubuh kecilnya tak berkutik ketika seorang di antara mereka menduduki perutnya. Sedangkan seorang lagi, menelungkup di atas tubuhnya. Aku memejamkan mata. Cukup ingatanku saja yang mengatakan apa yang selanjutnya terjadi.
"Apa ini yang terakhir?" Suara berat salah satu dari mereka bertanya.
"Tidak! Masih banyak. Mereka bersembunyi," jawab si penggigit.
Aku meremas tangan. Suara mereka mengingatkanku akan sebuah peristiwa memilukan setahun yang lalu.
Srak!
Aku keluar dari tempat persembunyian. Kutodongkan senjata ke arah mereka.
"Akhirnya aku menemukan kalian," ucapku dengan dada bergemuruh, menahan emosi.
"Ow, si tukang jagal rupanya. Kau akan ...."
Dor!
Satu di antara mereka tumbang dengan kepala hancur. Tersisa lelaki berambut pirang yang kukenal sebagai Leonard.
"Hei! Kita bisa berunding, bukan?" tanyanya berusaha menahanku. Aku terus menodongkan moncong senjata ke arahnya yang perlahan mundur.
"Aku tidak suka basa-basi." Kutekankan senjata ke dadanya. Mendorong tubuhnya hingga membentur pohon.
"Katakan pada saudaramu, Jacka Taroob akan datang! Dan ini ... untuk keluargaku!" Kutarik pelatuk pistolku, membuat bola perak di dalamnya berpindah ke dalam dada si vampir. Bersarang di jantungnya dan ... boom ....
Tubuhnya meledak. Cairan hitam dan serpihan daging mengotori wajah dan badanku.
Ya, akulah Jacka Taroob. Jagal vampir terkenal dari negeri BloddyField. Aku terus berkelana menyusuri berbagai tempat menumpas mahkluk bertaring yang mematikan.
Semenjak kejadian dua tahun silam.
āļøāļøāļø
"Mereka marah karena kamu telah membunuh anggota keluarganya, Jacka," ucap seorang tetangga yang kutemukan berdarah di tepi hutan. Tidak ada gigitan di tubuhnya, tetapi cairan merah pekat itu nyaris membuatnya tiak dikenali lagi.
"Mereka menyiramkan darah keluargaku. Setelah membantainya di depanku. Mereka butuh jawaban tentang keberadaanmu, Jacka. Huhuhu ...." Kupeluk tubuhnya yang anyir. Darahku seolah mendidih mendengarkan ceritanya.
"Maafkan aku ... tidak bisa menja-ga keluarga-mu. Akh ...."
Tubuhnya menggelepar. Darah segar menyembur dari mulut. Perlahan tubuh kurus itu menghitam dan ... berubah menjadi abu.
"Kurang ajar!" geramku emosi.
Aku lantas bergegas menuju rumah. Pikiran semakin kalut ketika dari jauh tampak kepulan asap dari bangunan kecil dan sederhana itu.
"Tidak!" teriakku semakin mempercepat lari. Darah berceceran di mana-mana. Memerahkan dinding papan dan lantainya. Kudobrak satu persatu pintu kamar. Nihil.
Kemana mereka?
"Nawang Wulan? Nawangsih?" Aku gemetar memanggil istri dan anakku. Terkesiap ketika melihat aliran darah dari dapur.
"Tidak!" Tulangku seakan remuk. Tersungkur di lantai tanah yang penuh darah. Mataku melotot tak percaya melihat dua orang yang kusayangi tergantung di dapur. Tanpa kepala. Sebuah kait besi menancap di perut mereka. Terhubung ke seutas tali yang terikat di palang dapur.
Darah segar masih menetes dari ujung kaki mereka.
"Ti-dak!"
....
āļøāļøāļø
"Tolong Ayah! Sakit ...." Aku menggeliat mendengar rintihan Nawangsih. Mataku beredar mencari sumber suara.
"Tolong, Mas! Sakit ...." Aku tersentak. Di ujung sana, berdiri dua orang yang kusayangi. Bergaun putih dengan bercak darah yang jelas. Mereka melangkah tertatih-tatih mendekatiku.
"Wulan? Asih?"
Sret ....
"A-apa ini?" Akar pohon yang entah dari mana asalnha mengikat erat kakiku. Kutarik sekuat tenaga agar terlepas. Percuma. Ikatannya terlalu kuat.
"Tolong!" teriak mereka bersamaan. Menggapai-gapai memintaku mendekat.
"Wulan? Asih? Tung--"
"Hahaha .... Terlambat, Jacka!"
Dua orang berwajah pucat tiba-tiba berdiri di belakang Nawang Wulan dan Nawangsih. Tangan mereka mengunci leher anak dan istriku.
"Tidak! Jangan!" teriakku gelagapan.
"Kau terlalu lambat!" cibir lelaki berambut pirang.
Crash!
Aku terkesiap. Belati tajam memisahkan kepala dari tubuh anak dan istriku. Sangat cepat.
Bibirku kelu dengan tubuh bergetar. Belum cukup, dua vampir itu menusukkan belatinya ke perut Wulan dan Asih. Berkali-kali. Lantas membiarkan tubuh mereka terjatuh ke tanah.
"Tidak!" teriakku sekuat tenaga.
"Hahahaha ...," tawa mereka berderai lantas menghilang.
Aku jatuh terduduk. Menangis. Nyawaku seolah ditarik paksa. Membuat jantungku tak lagi normal memompa darah. Napas tersengal dan dada yang seolah terhimpit. Sakit!
"Tolong ...!" Suara serak dan kesakitan terdengar menyayat hati. Aku tergagap. Mengusap air mata dengan cepat. Berusaha menajamkan penglihatan.
Samar kulihat tubuh tanpa kepala anak istriku bergerak. Merangkak pelan menujuku.
"Tidak mungkin!" Aku menggeleng, tidak percaya.
Dalam sekejap mereka sudah mendekat. Dengan jelas aku melihat cerabut daging yang masih berdarah pada leher mereka. Gaun mereka pun tak lagi putih. Merah dan anyir.
"Tidak ...." Bibirku berucap pelan, takut. Tubuh tanpa kepala itu terus mendekat hingga membuatku terbaring di tanah. Tetesan darahnya membasahi wajahku.
"Tidak ...!" Aku terbangun dengan napas tersengal. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuh. Mimpi itu lagi! Tepatnya kenangan kelam yang terus menjadi mimpi buruk.
"Maafkan aku!" Dadaku sakit menahan tangis. Kerinduan, penyesalan, kemarahan dan dendam terasa menyesakkan.
"Hei, jangan begitu! Nanti rambutku basah." Aku tersentak ketika mendengar suara seorang wanita. Mataku melihat sekeliling. Semak-semak tempatku bersembunyi memang sedikit gelap. Padahal hari sudah pagi dan terang.
Kusibak sedikit semak di depanku, mengintip. Mataku terpana menatap telaga yang tak jauh dari tempatku.
"Siapa mereka? Bidadari?" Mataku tak berkedip menatap tiga wanita cantik yang tengah asyik bermain air. Mereka ... telanjang?
Aku menatap tumpukkan kain berbeda warna tak jauh dariku.
"Itu pasti pakaian mereka," gumamku.
Terbersit niat jahat di otakku. Ya, siapa yang tidak tergoda melihat wanita secantik mereka di tengah hutan begini?
Dua tahun rasanya sudah cukup mengobati sakitnya ditinggalkan. Petarung sepertiku harus cepat move on, bukan?
Tanganku sigap menarik salah satu tumpukkan baju. Kupilih warna merah. Warna yang selalu seksi dan menggoda menurutku. Itu juga warna favorit Nawangwulan. Sedikit mengobati kerinduan, kan?
"Tempatnya indah, aku jadi tidak ingin pulang, hihihi ...." tawa salah seorang dari mereka. Terdengar merdu dan menenangkan.
Aku berdebar menanti di balik semak. Benar saja! Salah satu dari mereka kebingungan mencari pakaiannya. Dua saudarinya membantu mencari.
"Kita harus segera pergi. Kalau tidak, kita akan terjebak di dunia ini selamanya," ucap salah satu dari mereka. Wanita dengan pakaian kuning.
"Benar! Maaf, kami harus pergi," ujar si hijau yang lantas bergegas. Wajah mereka seperti ketakutan.
"Ah, ini saatnya," gumamku keluar dari semak-semak setelah kedua saudari si merah pergi. Tak lupa kusembunyikan kain berwarna merah itu di balik batu.
"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku dengan memalingkan wajah. Karena aku yakin dia pasti malu jika ketahuan tanpa busana.
"Si-siapa kau? Jangan mendekat!" cegahnya dengan suara bergetar, menahan tangis.
"Tenang! Aku hanya ingin membantu," ucapku seraya mengulurkan sebuah kain dan jaket padanya. Perlahan uluranku diterima.
"Terima kasih," ucapnya senang. Kini dia sudah ada di depanku.
Ya Tuhan! Ini sungguh bidadari.
Aku tak berkedip menatap wajah cantiknya. Kulit seputih susu dan sehalus porselen. Hidung mancung, bibir sensual dan mata birunya seolah memabukkanku.
"Maukah kau membawaku pulang? Di sini dingin," pintanya lemah dan takut-takut.
"Eh, i-iya. Tentu. Mari!" Aku berjalan mendahuluinya.
Akan kubawa ke mana dia? batinku bingung. Mana ada seorang pengembara mempunyai rumah?
Dan lagi, apakah dia tidak takut jika melihat senjataku?
"Bisakah kau sedikit lambat? Kakiku sakit." Aku menoleh. Oh God! Kenapa aku melupakannya?
Gadis cantik itu menunduk, memegangi telapak kakinya yang ... berdarah?
"Apa yang terjadi?" tanyaku khawatir. Aku segera berlutut memegangi kakinya. Kuperiksa kulit halus itu dengan teliti. Sebuah ranting tajam menggores telapak kakinya. Darah segar merembes pelan.
"Tenanglah! Aku akan mengikatnya." Kurobek ujung kausku lantas mengikatkan ke telapak kakinya.
"Kita harus bergegas. Bau darahmu pasti mengundang para vampir. Aku memang sudah membentengi diriku tapi adanya kamu bersamaku, mereka akan lebih mudah mendeteksi," jelasku seraya sibuk mengikat kakinya.
Dengan posisi seperti ini tangan halusnya memegang pundakku. Sesekali mencengkaram leher, ketika aku terlalu kuat menyentuh lukanya. Sungguh rasa yang indah!
"Selesai. Mari ki ...." Aku terhenti ketika merasakan kuku runcing perlahan menusuk pundak. Dan perlahan semakin dalam.
Aku terkejut ketika mendongak. Wanita itu berubah. Wajahnya putih pucat dengan garis halus berwarna kemerahan. Mulutnya terbuka lebar, menampilkan barisan gigi dan taring yang tajam.
"Si-siapa kau?" Aku mundur, membuat cengkeramannya terlepas. Darah segar mengucur deras dari bekas kukunya.
"Hahaha. Benar saja! Si jagal memang kalah dengan wanita," ucapnya dengan seringai lebar. Aku meraba pinggang,
Mencari sesuatu.
"Kau mencari ini?" tanyanya menunjukkan senjataku yang sudah remuk. Bagaimana ini?
"Ini untuk Leonard!" teriaknya mencakar wajahku. Aku menjerit. Pedih dan panas seolah terbakar.
Aku berusaha mundur, tapi ... tubuhku terbentur batu.
"Tamat riwayatmu, tukang jagal!" Wanita menyeramkan itu berteriak lantang.
Aku hanya melihat bayangan kuning dan hijau yang secepat kilat menancapkan taringnya pada leherku. Kurasakan darahku tersedot habis.
Aku hanya bisa melotot melihat wanita yang tadi kutolong menancapkan kukunya ke dadaku. Merobek dan menarik isi di dalamnya.
Tubuhku bergetar. Hingga kemudian tak kurasakan apa-apa lagi.
Gelap.
....
***
"Selamat datang, Jack." Aku mengerjap ketika kudengar suara halus seorang wanita. Kulihat tiga wanita cantik dan puluhan lelaki berpakaian hitam berdiri di depanku.
Berkali-kali aku memejamkan mata. Ada yang aneh dengan penglihatanku. Lantas menutup mulut yang ... juga terasa aneh. Perlahan tanganku bergerak, bermaksud meraba.
Tunggu!
"A-apa ini?" Aku menatap jemariku yang meruncing dengan kuku hitam yang tajam.
Wanita bergaun merah menyerahkan sebuah cermin.
"Tidak!" bisikku pelan. Aku menggeleng.
Di pantulan cermin, aku melihat seseorang yang sangat mirip denganku. Bedanya dia berwajah pucat, bermata merah dan bertaring.
.
END
-AmyJK-
Baturaja, 10012020
Sc Pict: pinterest
Diubah oleh amyjk02 11-06-2020 18:55
inginmenghilang dan 23 lainnya memberi reputasi
24
4.7K
360
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThreadā¢52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
amyjk02
#95
Putri Rinai Dan Pangeran Awan

Sc: pinterest
Ratu dan Raja
ššš
Alkisah, tersebutlah seorang putri yang cantik jelita dari kerajaan Tirta Asri. Putri Rinai namanya. Berkulit putih dan bersih bak susu murni. Rambut sepinggang yang lurus dan hitam legam. Mata lentik dan indah yang membuat siapapun tunduk atas perintahnya.
Putri Rinai juga dikenal karena kebaikan dan hatinya yang lembut. Di kerajaan Tirta Asri, dia dipuja oleh seluruh warganya. Raja Kartowiryo dan Ratu Maharani pun sangat menyayangi dan memanjakannya.
Meski Putri Rinai dikenal baik, tapi ada satu sifatnya yang juga dikenal banyak orang. Yaitu sombong. Sifat ini berlaku untuk para lelaki yang mencoba melamarnya. Entah sudah berapa puluh kali Sang Raja menolak lamaran yang datang silih berganti.
Menginjak usianya yang sudah 25 tahun, raja dan permaisuri mulai khawatir.
Malam itu, baru saja mereka menolak lamaran dari seorang pangeran kerajaan tetangga.
"Kamu mau yang bagaimana, anakku?" tanya Sang Raja sabar.
Beruntung kerajaan yang dipimpinnya adalah kerajaan yang besar. Penolakan lamaran itu tidak berbuntut panjang pada peperangan.
"Aku belum mau menikah, Ayahanda." Putri Rinai yang sedang bermain dengan kelincinya merajuk. Seperti biasanya. Putri cantik itu selalu merajuk ketika orang tuanya membahas tentang pernikahan untuknya.
"Umurmu semakin bertambah, Cah Ayu. Ayahanda dan ibu ingin melihat kamu bahagia." Sang ibu yang juga ikut berunding, menimpali. Wanita sabar itu mengelus rambut indah putri semata wayangnya.
"Bersama Ayahanda dan Ibu, aku sudah bahagia. Banyak hal yang bisa kulakukan untuk kerajaan ini, yang membuatku bahagia," ujarnya membela diri.
Raja dan Permaisuri menghela napas. Mereka sudah tahu jika itu adalah jawaban yang akan diberikan oleh putrinya.
Pernah suatu ketika mereka mengundang seorang peramal. Untuk memastikan bagaimana masa depan sang putri.
"Susah, Gusti. Hanya Dewa yang tahu siapa jodohnya sang putri. Tapi yang saya terawang, sang putri akan berjodoh dengan orang istimewa setelah menghadapi sebuah kesulitan." Peramal itu menjelaskan secara gamblang tentang penglihatannya.
Waktu terus berjalan. Lamaran pun masih sering datang. Namun, semakin tahun, lamaran yang datang pun semakin berkurang.
"Putrinya sudah tua," bisik pangeran dari kerajaan sebelah.
"Putrinya sombong," ujar pangeran yang lain.
Ya, seluruh pangeran di pelosok negeri sudah tahu kebiasaan dan perangai Putri Rinai. Mereka yang berniat melamar pun perlahan mundur. Meski masih saja ada yang mencoba peruntungannya.
Sekarang putri sudah berusia tiga puluh tahun. Usia yang sudah matang untuk menikah. Tak terlihat risau sedikitpun di wajah sang putri karena belum menikah. Dia selalu sibuk ikut membantu sang ayah mengurus kerajaan. Tak jarang dia bahkan ikut ke medan perang, menghadapi pemberontak. Waktunya banyak tersita untuk rakyatnya.
"Aku takut lebih mencintai rakyat dan kerajaan ini daripada mencintai suamiku kelak, Ayah," ucapnya suatu hari. Saat itu Putri Rinai baru saja pulang dari peperangan bersama para prajurit pilihan. Tangannya merah, terkena darah para penjahat. Beberapa luka di tubuhnya, dibersihkan sendiri.
Akhir-akhir ini memang banyak pemberontak yang mencoba menyerang dan membebaskan diri dari kerajaan Tirta Asri. Bukan tanpa alasan. Raja yang sudah semakin sepuh serta bantuan dan pengaruh dari beberapa pangeran yang pernah ditolak Putri Rinai, menjadi alasan terbesarnya. Merasa bersalah, Putri Rinai berjuang demi ketentraman kerajaan, seperti dulu.
Hingga sampailah pada saat yang sangat sulit. Berbagai masalah datang silih berganti. Kemarau panjang menjadi akar permasalahannya. Jika kemarau pada tahun sebelumnya hanya berlangsung dalam hitungan bulan, maka kemarau tahun ini berlangsung hingga nyaris dua tahun lamanya.
Kekeringan membuat warga kekurangan bahan pangan. Kemiskinan dan kelaparan mulai terjadi. Simpanan bahan makanan di kerajaan bahkan sudah hampir habis. Urusan perut menjadikan kriminal tumbuh subur. Penjarahan, perampokan hingga pencurian di istana sering terjadi
"Menurut penerawangan saya, hujan baru akan tiba menjelang 15 purnama ke depan, Gusti." Seorang ahli perbintangan kerajaan membeberkan hasilnya di depan para petinggi kerajaan.
Semua yang hadir tertunduk lesu. Dua puluh kursi khusus, hanya terisi separuhnya saja. Banyak punggawa kerajaan yang sakit dan bahkan meninggal karena wabah yang mulai menyebar.
Lima belas purnama? Itu masih terlalu lama. Itu artinya mereka masih harus menghadapi berbagai penderitaan karena kemarau panjang ini.
Putri Rinai termenung. Hatinya berkabut. Siang tadi tanpa sengaja dia menguping pembicaraan para punggawa kerajaan.
"Ini karena kesombongan Putri Rinai. Kerajaan kita sedang di hukum oleh Dewa." Putri Rinai terdiam mendengar bisikan Menteri Pertahanan itu.
"Andaikan dia menerima lamaran para pangeran kaya itu, kita mungkin tidak sesengsara ini. Mereka pasti akan membantu, kan?" timpal Menteri pertanian membenarkan.
"Kalo sudah begini, bagaimana? Siapa yang akan membantu?" tanya Menteri Perhubungan risau.
Apa ini memang salah sang putri? Entahlah.
ššš
Malam semakin larut. Udara panas kemarau membuat Putri Rinai tidak bisa tidur. Bukan! Bukan karena cuaca panas, tapi karena pikiran yang menggelayuti hatinya.
Siang tadi sang ayah jatuh sakit. Wabah panas, begitu kata tabib kerajaan.
"Aku harus melakukan sesuatu," gumam bibir keringnya. Kini Putri Rinai tak secantik dulu lagi. Kerut di beberapa bagian wajah sudah mulai tampak. Belum lagi perawatan yang sudah jarang dilakukan. Membuatnya bahkan tidak terlihat seperti seorang putri.
Putri Rinai tidak lagi peduli dengan penampilan. Baginya, rakyat kerjaan Tirta Asri adalah yang paling utama.
Lelah berpikir dan merenung, Putri Rinai akhirnya tertidur. Tanpa selimut dan hanya beralas permadani yang sedikit lusuh, Putri Rinai tertidur pulas.
Di dalam mimpinya, Putri Rinai bermimpi aneh. Dia berada di sebuah taman bunga yang indah dengan sungai bening di tengah taman.
Putri sangat senang, hingga tidak menyadari kehadiran seorang lelaki di belakangnya.
"Kau lancang memasuki tamanku." Putri Rinai terkejut. Lelaki berpakaian serba putih itu terlihat kecewa.
Putri Rinai duduk bersimpuh di tanah taman. Dia meminta maaf kepada sang pemilik.
"Ampun! Saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya ... merindukan tempat seperti ini," terang Putri Rinai mulai terisak. Entah mengapa hatinya menjadi sendu. Ingatan tentang negerinya yang gersang membuatnya sedih.
Lelaki asing itu menjadi iba. Mereka lantas berbicara banyak hal. Dengan berderai air mata, Putri Rinai menceritakan kesulitan yang dihadapi kerajaannya.
"Apapun akan saya lakukan demi kerajaan saya," ujarnya tegas. Lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Ki Putih itu manggut-manggut.
"Maukah kau kubantu?" tanyanya lembut. Putri Rinai dengan cepat mengangguk.
"Tapi ini sedikit berat." Ki Putih menatap mata sayu Putri Rinai. Dia ingin melihat keseriusan putri cantik itu.
"Apa, Ki? Apapun akan saya lakukan," jawabnya tegas.
"Kamu harus menikah dengan seorang pengemis penyakitan." Putri Rinai terkejut.
"Penyakitnya sangat mematikan. Ketika kalian menikah, maka penyakit sang pengemis akan berpindah kepadamu. Dan itu akan membuatmu ...." Ki Putih menggantung ucapannya. Sedangkan Putri Rinai menunggu dengan hati berdebar.
"Saya akan mati?" tebak Putri Rinai.
Ki Putih mengangguk. Bagai tersambar petir, Putri Rinai langsung terisak.
Putri Rinai terbangun ketika matahari mulai tinggi. Belum sempat dia mencuci wajah, ajudan ayahnya mengabarkan bahwa ada seorang lelaki buruk rupa yang akan melamarnya.
Putri Rinai terkejut. Apakah mimpinya ...?
Bergegas dia menuju istana. Dilihatnya seorang lelaki compang-camping dan buruk rupa sedang menunggu.
Dengan tegas lelaki yang memperkenalkan diri bernama Awan itu melamar sang putri. Mengingat mimpinya, sang putri tanpa ragu langsung menerima lamaran pemuda itu. Wajah terkejut jelas terlihat pada raja dan semua penguhuni kerajaan.
Singkat cerita mereka akhirnya menikah. Walau dengan pakaiaan mewah dan mahal, pengemis itu tetap saja buruk rupa. Namun Putri Rinai sudah menerimanya dengan ikhlas. Demi rakyatku, begitu pikirnya.
Menjelang malam pertama, Putri Rinai teringat pesan Ki Putih. Lalu dia menceritakan semuanya pada Awan.
"Apakah aku akan mati malam ini?" tanyanya tiba-tiba. Lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu mengangguk.
"Apa kau rela?" tanyanya. Awan harus mencium sang putri sebagai pemindah penyakitnya dan sekaligus sebagai pemanggil hujan
Baca Juga: Cerita Secangkir Kopi
Putri rinai mengangguk. Perlahan Awan mendekatkan wajahnya. Dua bulir bening mengalir pelan di pipi sang putri.
Cup!
Kecupan singkat diberikan Awan. Aneh. Suasana berubah menjadi gelap dan berangin. Asap putih mulai memenuhi kamar pengantin mereka. Tubuh Awan seolah tertelan asap putih.
Putri Rinai tercengang menatap perubahan pada diri Awan. Perlahan tubuh kotor dan dekil itu berubah menjadi gagah dan berkulit bersih. Wajah buruknya berubah menjadi tampan.
Belum hilang keterkejutannya, petir menyambar dengan gelegar guruh yang sahut menyahut.
Awan lantas merentangkan tangannya dengan menatap langit. Dia seperti mengucap sesuatu. Dalam sekejap, hujan deras segera mengguyur bumi. Putri Rinai terdiam dan masih terpaku dalam kebingungannya.
"Siapakah kamu sebenarnya?" tanya sang putri heran.
"Aku adalah pangeran dari Kerajaan Langit, Pangeran Awan. Aku dikutuk karena pernah menolak saran untuk melamar salah satu putri kerajaan bumi. Aku menolak karena aku lebih mencintai kerajaanku."
Mata lentik Putri Rinai membulat.
"Kutukanku hilang jika aku menikah dengan seorang putri yang juga sangat mencintai kerajaannya. Sebelum aku ke sini, aku mendapat pesan dari Ki Putih bahwa aku harus melamarmu, agar kutukan itu hilang."
Mata sang putri berkaca-kaca. Tak disangka jika mimpi itu benar adanya. Penolakannya selama ini ternyata mempertemukannya dengan jodoh yang sudah digariskan Dewa.
ššš
Keesokan harinya Putri Rinai memperkenalkan Pangeran Awan pada seluruh rakyatnya. Raja pun dengan senang hati menyerahkan tahta kepada Pangeran Awan dan Putri Rinai. Mereka lantas menjadi Raja dan Ratu yang sangat dicintai oleh rakyatnya.
Perihal cinta, Pangeran Awan dan Putri Rinai selalu memahami bahwa cinta tidak selalu hanya untuk pasangan. Bagi mereka, pasangan adalah pelengkap untuk mewujudkan cinta yang lebih besar.
Ya, jodoh adalah misteri. Pepatah yang selalu berlaku bahkan hingga ratusan tahun kemudian. Saat jaman milenial
.
End
Diubah oleh amyjk02 10-06-2020 08:24
mrdreofzhongwen dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Tutup