- Beranda
- Stories from the Heart
Mengantar Bapak Pulang
...
TS
monicamey
Mengantar Bapak Pulang
Mengantar Bapak Pulang
°
°
°
"Sebentar lagi kita akan berangkat, Mbak. Saya masih memanaskan mesin dulu."
"Iya, Pak. Saya tunggu."
Awan kelabu pagi ini menggelayut di kota Surabaya. Dini hari tadi terdengar kabar yang menyakitkan, Bapak meninggal. Sudah hampir setahun ini, ia dirawat jalan karena kanker usus yang dideritanya. Menjelang kepergiannya, Bapak menginginkan dikuburkan di tanah kelahiran yaitu kota Semarang.
"Mbak, hanya sendirian? Ibu atau saudaranya tidak ikut?"
Petugas rumah sakit sekaligus tetangga yang akan mengantarkan jenasah Bapak menuju Semarang bertanya tentang keberadaan Ibu atau saudaraku. Ibu dan Ariska kemarin pulang dulu untuk menjual tanah yang akan digunakan tambahan biaya pengobatan. Namun, sayangnya Bapak meninggal tanpa ada anak atau istri yang menunggu.
"Ibu dan adik saya ada di Semarang, Pak."
Pak Mulyoto menepuk pundakku dan menyunggingkan senyuman hangat, "Mbak, yang tabah dan kuat."
"Iya, Pak. Terima kasih juga karena bapak mau mengantarkan kami."
Jika bukan karena Pak Mulyoto, kemungkinan tidak akan ada yang mau mengantarkan jenasah Bapak. Beliau juga yang mengurus administrasi rumah sakit selagi aku menunggui Bapak di ruang jenasah.
"Ayo, Mbak. Kita segera berangkat. Kasihan bapak kalau kelamaan," ujarnya mengajakku pergi.
Mobil yang kami pakai merupakan ambulance milik puskesmas. Mereka senang hati meminjamkannya pada kami. Dalam perjalanan menuju Semarang, Pak Mulyoto mengajak berbincang mengusir rasa bosan.
"Bapak orang yang ramah, ya. Padahal kami hanya kenal selama tiga bulan saja. Tiap pagi beliau akan menyapa kami sembari menyapu halaman," kenang Pak Mulyoto seraya terkekeh.
"Bapak memang seperti itu, Pak. Beliau orang yang ramah dan tidak segan membantu tetangga," kataku mengingat Bapak.
Bapak adalah orang yang paling kusayangi karena ia tidak pernah marah atau membentak jika anak-anaknya berbuat salah. Ia akan memakai kalimat yang halus dan tegas untuk menasehati kami. Beda halnya dengan Ibu yang akan memarahi kami sepanjang hari dan akan berhenti kalau Ayah menyuruh diam.
"Mbaknya berapa bersaudara? Kenal sama bapaknya, tetapi tidak pernah tanya tentang beliau."
Aku yang sedari tadi melihat arah jendela langsung menoleh dan malu karena ketahuan melamun. Pak Mulyoto hanya menyunggingkan senyumannya.
"Kami tiga bersaudara, Pak. Ada kakak lelaki dan adik perempuan."
"Wah pasti ramai sekali waktu berkumpul?"
Aku menggangguk pelan sembari melihat keadaan jalan yang ramai oleh kendaraan sebelum masuk jalan bebas hambatan. Untungnya mobil ini dilengkapi pendingin yang menyejukkan.
"Iya, Pak. Waktu berkumpul adalah hal yang menyenangkan bagi kami."
Tiap Jumat malam, Bapak selalu menyempatkan pulang ke Semarang karena ia seorang sopir bus dari Surabaya ke Semarang dan menyewa kamar di dekat tempat kerjanya. Baru tiga bulan ini saja, ia mendapatkan kenaikan kerja dan rumah kontrakkan dari atasan. Bukan lagi menjadi sopir, tetapi seorang pengawas lapangan. Saat berada di rumah, kami akan berkumpul di teras dan saling menceritakan aktifitas masing-masing.
"Sebentar lagi kita sampai, Mbak. Kalau tidak lewat jalan bebas hambatan, mungkin akan terasa lama."
Setidaknya kali ini aku beruntung bisa mengantar Bapak tanpa melewati jalan yang jauh. Tanpa sadar aku menoleh ke belakang di mana jenazah Bapak terbaring. Ada rasa tidak percaya ketika melepas kepergiannya.
"Pak, sebentar lagi kita sampai." Aku membatin sambil menghapus buliran air mata.
Ada aroma parfum milik Bapak yang tercium. Aku tahu Bapak mendengar ucapanku tadi.
"Mbak, seperti bau parfum, ya?"
Pak Mulyoto sampai mengendus bau ke depan dan ke samping. Menoleh padaku dan mengernyitkan dahi karena aku menggeleng.
"Bau ini sepertinya saya kenal. Tapi lupa di mana," sahut Pak Mulyoto pelan.
"Saya tidak mencium apa pun, Pak." Aku menyanggah ucapannya agar tidak ketahuan.
"Bapak takut?" tanyaku penasaran.
Pak Mulyoto menarik kedua bibirnya seraya menatapku penuh arti. Ia menggeleng dengan mata yang tetap fokus menyetir.
"Untuk apa takut, Mbak. Mereka tidak akan mengganggu jika kita tidak usil. Kalau mereka sampai menampakkan ke kita, mungkin saja ada hal yang ingin disampaikan."
Aku memanggutkan kepala dan mendengarkan musik lawas yang diputar Pak Mulyoto. Lagu milik Ebith mengantarkan kenangan yang tidak mudah dilupakan. Sosoknya yang penuh perhatian dan kasih sayang membuatku tidak bisa membendung rasa rindu yang pekat di hati.
"Desanya sungguh indah, ya, Mbak? Jarang saya bisa sampai ke sini. Udaranya masih bersih," ujar Pak Mulyoto memandang alam sekitar, kita berhenti sejenak menikmati udara yang sejuk. Pak Mulyoto sampai mengambil ponsel untuk memotret sawah yang hijau.
"Ada apa, Pak?" tanyaku saat melihatnya bingung.
"Oh ... tidak apa-apa. Mungkin ponsel saya sudah rusak. Ayo, Mbak, kita berangkat."
Nada bicara Pak Mulyoto terdengar gugup. Apa yang tadi dilihatnya di belakangku? Aku tidak bertanya karena wajahnya terlihat pucat pasi. Kami saling diam hingga sampai rumah.
*****
Tinggal beberapa meter lagi, aku sampai rumah. Sebelum sore akhirnya diriku bisa mengantarkan jenazah Bapak. Kulihat Ibu lari tergopoh-gopoh menyambut kedatangan kami. Bias kesedihan tergurat jelas di wajahnya. Warga banyak berdatangan untuk melihat Bapak terakhir kali.
"Maaf, Bu. Agak terlambat dari perkiraan saya sebelumnya," kata Pak Mulyoto menyalami Ibu dan Bang Rana.
"Tidak apa-apa, Pak. Kami maklum karena tidak ada yang mengurus di sana. Kami yang malah mengucapkan terima kasih karena bapak sudi mengurus semuanya," jawab Ibu dengan wajah sembab.
"Bukan hanya saya---"
"Ada ada, Pak?"
Pak Mulyoto tercekat melihat kedatangan saudara kembarku--Ariska. Wajah dan tubuh kami bak pinang dibelah dua, yang membedakan hanya potongan rambut saja. Aku lebih memilih memanjangkan rambut.
Ibu menoleh ke belakang dan menyadari keterkejutan Pak Mulyoto yang masih diam terpaku.
"Dia anak saya, Pak. Namanya Ariska."
"Namanya bukan Arisma?"tanya Pak Mulyoto gugup.
"Arisma dan Ariska kembar. Namun, Arisma sudah tidak bersama kami lagi," ucap Ibu dengan suara parau.
Pak Mulyoto tambah terkejut dan menoleh padaku, ia berjalan mundur ke belakang.
"Kenapa, Pak?" Bang Rana sampai memegang punggungnya menahan agar tidak jatuh.
"Bukankah Arisma anaknya Ibu yang menjemput jenazah Bapak?"
Mereka saling pandang dan memahami situasinya. Ibu menangis histeris sampai ditenangkan oleh Ariska. Aku hanya bisa menatap penuh sedih.
"Makanya itu, Pak. Kami di sini merasa bingung. Bagaimana Bapak tahu rumah kami? Waktu saya telepon di rumah sakit, mereka mengatakan jika bapak sudah berangkat sejak pagi seorang diri," urai Bang Rana memperjelas keadaan.
"Lalu yang saya sering temui di rumah kontrakkan itu siapa?"
"Arisma sudah meninggal tiga bulan lalu akibat sakit, Pak. Yang bapak temui itu kembarannya."
Pak Mulyoto dirangkul Bang Rana menuju rumah untuk ditenangkan. Aku tidak bisa meminta maaf padanya, perasaan bersalah menyelimuti karena sudah membuatnya takut.
Seharusnya Bang Rana yang menjemput Bapak pagi tadi. Namun, aku yang pergi menggantikannya. Setidaknya aku beruntung bisa melihat Bapak terakhir kali dan mengantarkannya pulang.
"Ayo, Nak. Kita pergi sekarang. Ini bukan tempat kita dan terima kasih sudah menunggu bapak selama tiga bulan." Aku menerima uluran tangan Bapak dan pergi melewati warga yang mengangkut keranda.
=Tamat=
Surabaya, 03 Maret 2020
Index Kumpulan Cerita Horor
1. Nasehat seorang ibu akan selalu menjadi lagu terindah untuk sang anak. Namun, apakah seorang anak mau mendengarkan nasehat sang ibu?
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb953aca2e80c3
2. Ada kutukan yang mengerikan terjadi di sebuah rumah. Kutukan yang akan mengubah pemiliknya menjadi menyeramkan.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb9546f261a448
3. Siapa yang tidak ingin memiliki putri kecil lucu dan suka bicara. Namun, kalau ia suka bicara sendiri dan menatap dinding kosong. Apa yang dilakukan sang orang tua? Temukan jawabannya di cerita ini.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27681e3e0adc71
4. Lagu balonku memang disukai anak-anak dan sering dijadikan lagu favorit mereka. Akan tetapi bagaimana jadinya jika lagu tersebut menjadi lagu menakutkan bagi Hans?
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93348d3e4e69
5. Apa yang terjadi di sebuah supermaket itu? Dengar-dengar ada hal yang tak terduga. Penasaran? Yuk ... dibaca dan diberi komen
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c99118c04c22fa
Nantikan kelanjutan cerita horor dari saya lainnya.
°
°
°
"Sebentar lagi kita akan berangkat, Mbak. Saya masih memanaskan mesin dulu."
"Iya, Pak. Saya tunggu."
Awan kelabu pagi ini menggelayut di kota Surabaya. Dini hari tadi terdengar kabar yang menyakitkan, Bapak meninggal. Sudah hampir setahun ini, ia dirawat jalan karena kanker usus yang dideritanya. Menjelang kepergiannya, Bapak menginginkan dikuburkan di tanah kelahiran yaitu kota Semarang.
"Mbak, hanya sendirian? Ibu atau saudaranya tidak ikut?"
Petugas rumah sakit sekaligus tetangga yang akan mengantarkan jenasah Bapak menuju Semarang bertanya tentang keberadaan Ibu atau saudaraku. Ibu dan Ariska kemarin pulang dulu untuk menjual tanah yang akan digunakan tambahan biaya pengobatan. Namun, sayangnya Bapak meninggal tanpa ada anak atau istri yang menunggu.
"Ibu dan adik saya ada di Semarang, Pak."
Pak Mulyoto menepuk pundakku dan menyunggingkan senyuman hangat, "Mbak, yang tabah dan kuat."
"Iya, Pak. Terima kasih juga karena bapak mau mengantarkan kami."
Jika bukan karena Pak Mulyoto, kemungkinan tidak akan ada yang mau mengantarkan jenasah Bapak. Beliau juga yang mengurus administrasi rumah sakit selagi aku menunggui Bapak di ruang jenasah.
"Ayo, Mbak. Kita segera berangkat. Kasihan bapak kalau kelamaan," ujarnya mengajakku pergi.
Mobil yang kami pakai merupakan ambulance milik puskesmas. Mereka senang hati meminjamkannya pada kami. Dalam perjalanan menuju Semarang, Pak Mulyoto mengajak berbincang mengusir rasa bosan.
"Bapak orang yang ramah, ya. Padahal kami hanya kenal selama tiga bulan saja. Tiap pagi beliau akan menyapa kami sembari menyapu halaman," kenang Pak Mulyoto seraya terkekeh.
"Bapak memang seperti itu, Pak. Beliau orang yang ramah dan tidak segan membantu tetangga," kataku mengingat Bapak.
Bapak adalah orang yang paling kusayangi karena ia tidak pernah marah atau membentak jika anak-anaknya berbuat salah. Ia akan memakai kalimat yang halus dan tegas untuk menasehati kami. Beda halnya dengan Ibu yang akan memarahi kami sepanjang hari dan akan berhenti kalau Ayah menyuruh diam.
"Mbaknya berapa bersaudara? Kenal sama bapaknya, tetapi tidak pernah tanya tentang beliau."
Aku yang sedari tadi melihat arah jendela langsung menoleh dan malu karena ketahuan melamun. Pak Mulyoto hanya menyunggingkan senyumannya.
"Kami tiga bersaudara, Pak. Ada kakak lelaki dan adik perempuan."
"Wah pasti ramai sekali waktu berkumpul?"
Aku menggangguk pelan sembari melihat keadaan jalan yang ramai oleh kendaraan sebelum masuk jalan bebas hambatan. Untungnya mobil ini dilengkapi pendingin yang menyejukkan.
"Iya, Pak. Waktu berkumpul adalah hal yang menyenangkan bagi kami."
Tiap Jumat malam, Bapak selalu menyempatkan pulang ke Semarang karena ia seorang sopir bus dari Surabaya ke Semarang dan menyewa kamar di dekat tempat kerjanya. Baru tiga bulan ini saja, ia mendapatkan kenaikan kerja dan rumah kontrakkan dari atasan. Bukan lagi menjadi sopir, tetapi seorang pengawas lapangan. Saat berada di rumah, kami akan berkumpul di teras dan saling menceritakan aktifitas masing-masing.
"Sebentar lagi kita sampai, Mbak. Kalau tidak lewat jalan bebas hambatan, mungkin akan terasa lama."
Setidaknya kali ini aku beruntung bisa mengantar Bapak tanpa melewati jalan yang jauh. Tanpa sadar aku menoleh ke belakang di mana jenazah Bapak terbaring. Ada rasa tidak percaya ketika melepas kepergiannya.
"Pak, sebentar lagi kita sampai." Aku membatin sambil menghapus buliran air mata.
Ada aroma parfum milik Bapak yang tercium. Aku tahu Bapak mendengar ucapanku tadi.
"Mbak, seperti bau parfum, ya?"
Pak Mulyoto sampai mengendus bau ke depan dan ke samping. Menoleh padaku dan mengernyitkan dahi karena aku menggeleng.
"Bau ini sepertinya saya kenal. Tapi lupa di mana," sahut Pak Mulyoto pelan.
"Saya tidak mencium apa pun, Pak." Aku menyanggah ucapannya agar tidak ketahuan.
"Bapak takut?" tanyaku penasaran.
Pak Mulyoto menarik kedua bibirnya seraya menatapku penuh arti. Ia menggeleng dengan mata yang tetap fokus menyetir.
"Untuk apa takut, Mbak. Mereka tidak akan mengganggu jika kita tidak usil. Kalau mereka sampai menampakkan ke kita, mungkin saja ada hal yang ingin disampaikan."
Aku memanggutkan kepala dan mendengarkan musik lawas yang diputar Pak Mulyoto. Lagu milik Ebith mengantarkan kenangan yang tidak mudah dilupakan. Sosoknya yang penuh perhatian dan kasih sayang membuatku tidak bisa membendung rasa rindu yang pekat di hati.
"Desanya sungguh indah, ya, Mbak? Jarang saya bisa sampai ke sini. Udaranya masih bersih," ujar Pak Mulyoto memandang alam sekitar, kita berhenti sejenak menikmati udara yang sejuk. Pak Mulyoto sampai mengambil ponsel untuk memotret sawah yang hijau.
"Ada apa, Pak?" tanyaku saat melihatnya bingung.
"Oh ... tidak apa-apa. Mungkin ponsel saya sudah rusak. Ayo, Mbak, kita berangkat."
Nada bicara Pak Mulyoto terdengar gugup. Apa yang tadi dilihatnya di belakangku? Aku tidak bertanya karena wajahnya terlihat pucat pasi. Kami saling diam hingga sampai rumah.
*****
Tinggal beberapa meter lagi, aku sampai rumah. Sebelum sore akhirnya diriku bisa mengantarkan jenazah Bapak. Kulihat Ibu lari tergopoh-gopoh menyambut kedatangan kami. Bias kesedihan tergurat jelas di wajahnya. Warga banyak berdatangan untuk melihat Bapak terakhir kali.
"Maaf, Bu. Agak terlambat dari perkiraan saya sebelumnya," kata Pak Mulyoto menyalami Ibu dan Bang Rana.
"Tidak apa-apa, Pak. Kami maklum karena tidak ada yang mengurus di sana. Kami yang malah mengucapkan terima kasih karena bapak sudi mengurus semuanya," jawab Ibu dengan wajah sembab.
"Bukan hanya saya---"
"Ada ada, Pak?"
Pak Mulyoto tercekat melihat kedatangan saudara kembarku--Ariska. Wajah dan tubuh kami bak pinang dibelah dua, yang membedakan hanya potongan rambut saja. Aku lebih memilih memanjangkan rambut.
Ibu menoleh ke belakang dan menyadari keterkejutan Pak Mulyoto yang masih diam terpaku.
"Dia anak saya, Pak. Namanya Ariska."
"Namanya bukan Arisma?"tanya Pak Mulyoto gugup.
"Arisma dan Ariska kembar. Namun, Arisma sudah tidak bersama kami lagi," ucap Ibu dengan suara parau.
Pak Mulyoto tambah terkejut dan menoleh padaku, ia berjalan mundur ke belakang.
"Kenapa, Pak?" Bang Rana sampai memegang punggungnya menahan agar tidak jatuh.
"Bukankah Arisma anaknya Ibu yang menjemput jenazah Bapak?"
Mereka saling pandang dan memahami situasinya. Ibu menangis histeris sampai ditenangkan oleh Ariska. Aku hanya bisa menatap penuh sedih.
"Makanya itu, Pak. Kami di sini merasa bingung. Bagaimana Bapak tahu rumah kami? Waktu saya telepon di rumah sakit, mereka mengatakan jika bapak sudah berangkat sejak pagi seorang diri," urai Bang Rana memperjelas keadaan.
"Lalu yang saya sering temui di rumah kontrakkan itu siapa?"
"Arisma sudah meninggal tiga bulan lalu akibat sakit, Pak. Yang bapak temui itu kembarannya."
Pak Mulyoto dirangkul Bang Rana menuju rumah untuk ditenangkan. Aku tidak bisa meminta maaf padanya, perasaan bersalah menyelimuti karena sudah membuatnya takut.
Seharusnya Bang Rana yang menjemput Bapak pagi tadi. Namun, aku yang pergi menggantikannya. Setidaknya aku beruntung bisa melihat Bapak terakhir kali dan mengantarkannya pulang.
"Ayo, Nak. Kita pergi sekarang. Ini bukan tempat kita dan terima kasih sudah menunggu bapak selama tiga bulan." Aku menerima uluran tangan Bapak dan pergi melewati warga yang mengangkut keranda.
=Tamat=
Surabaya, 03 Maret 2020
Index Kumpulan Cerita Horor
1. Nasehat seorang ibu akan selalu menjadi lagu terindah untuk sang anak. Namun, apakah seorang anak mau mendengarkan nasehat sang ibu?
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb953aca2e80c3
2. Ada kutukan yang mengerikan terjadi di sebuah rumah. Kutukan yang akan mengubah pemiliknya menjadi menyeramkan.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...cb9546f261a448
3. Siapa yang tidak ingin memiliki putri kecil lucu dan suka bicara. Namun, kalau ia suka bicara sendiri dan menatap dinding kosong. Apa yang dilakukan sang orang tua? Temukan jawabannya di cerita ini.
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...27681e3e0adc71
4. Lagu balonku memang disukai anak-anak dan sering dijadikan lagu favorit mereka. Akan tetapi bagaimana jadinya jika lagu tersebut menjadi lagu menakutkan bagi Hans?
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93348d3e4e69
5. Apa yang terjadi di sebuah supermaket itu? Dengar-dengar ada hal yang tak terduga. Penasaran? Yuk ... dibaca dan diberi komen
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...c99118c04c22fa
Nantikan kelanjutan cerita horor dari saya lainnya.
Diubah oleh monicamey 05-06-2020 20:55
tien212700 dan 46 lainnya memberi reputasi
45
13.2K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monicamey
#1
Supermaket
Mohon saran dan kritiknya
°
°
°
Kalender yang sudah lama itu masih saja dipajang oleh Ibu. Padahal tahun itu sudah sangat lama berlalu, tetapi Ibu tak mau membuangnya. Hal itu disebabkan banyak peristiwa yang tak mungkin bisa dilupakan olehnya.
"Sampai mulutmu berbusa, ibu tak akan membuangnya." Ibu terlihat kesal dengan matanya fokus menatap layar televisi.
Entahlah mata Ibu seperti ada di segala tempat. Buktinya saat aku melihat kalender usang itu, ia tahu dan marah. Aku ingin sekali membuangnya, tetapi tak pernah bisa.
"Jangan keluar ke manapun jika tidak ada kepentingan," kata Ibu melihatku yang memasang sandal.
Sejak wabah flu melanda negeri ini, Pemerintah melarang kita untuk bepergian jauh kecuali membeli kebutuhan pokok.
"Kata Ibu, aku harus beli bahan makanan. Bagaimana toh, Ibu ini?"
Baru satu jam lalu ia mengatakan jika aku harus ke supermaket terdekat untuk membeli bahan makanan selama seminggu dan begitu cepat melupakannya. Kurasa Ibu sudah lupa ingatan.
"Ibu ini pelupa. Jadi harap maklum, Nak." Ibu tertawa sambil menepuk dahinya sendiri.
"Langsung pulang kalau sudah selesai, Nak," lanjut Ibu dengan suara cempreng saat aku menutup pagar.
Perjalanan menuju supermaket sebenarnya tidak jauh, hanya beberapa meter saja. Namun, suasana sepi yang membuat langkah kakiku terasa jauh. Sejak ada peraturan itu, para warga jarang keluar. Mereka menghabiskan waktu di rumah. Entah sampai kapan hal ini terus berlaku. Aku harap peristiwa ini segera berlalu.
Kulihat beberapa warga khususnya bapak-bapak sedang membersihkan halaman rumahnya. Ada yang sedang bercengkrama di ruang tamu mereka. Tawanya sampai terdengar di luar ketika aku lewat. Hari bahagia yang tak bisa dimiliki oleh diriku.
"Aku rindu dengan keadaan yang dulu."
Tanpa terasa aku menghela napas mengingat peristiwa beberapa tahun lalu. Di mana tahun itu selalu diberi tanda oleh Ibu.
Beberapa orang sudah pulang dari pasar atau supermaket. Terasa kagum melihat para ibu yang membawa dua beras dengan berat lima kilo dan di atas kepalanya ada keranjang untuk menaruh sayur mayur dan lauk. Ada yang mengeluh karena tidak kebagian beras atau minyak. Suara mereka sungguh keras sehingga telinga ini menangkap jelas arah pembicaraannya.
"Aduh ... tolong bawakan sebentar. Telingaku gatal dan berdengung," rintih Bu Wahyu bertubuh gemuk sambil menyerahkan pada Bu Delima.
Aku ingin menolongnya, tetapi tak punya waktu lagi karena pusat pembelanjaan di seberang akan tutup dua jam lagi. Kuayunkan kaki segera agar cepat sampai. Semoga barang yang dibeli masih ada.
*****
Lautan manusia memenuhi pusat pembelanjaan dan tidak ada yang mau mengalah atau mengantri. Keegoisan sudah merajai hati mereka. Sifat egois tidak memandang muda atau tua.
"Diharapkan mengantri, jangan berdesak-desakan. Semua kebutuhan masih tersedia."
Bahkan pengumuman lewat pengeras suara tak bisa mengendalikam laju manusia yang ada di sini untuk saling merebutkan bahan pangan. Beberapa dari mereka bergegas mengambil tanpa memedulikan yang lain.
"Ambil saja seperlunya. Sisakan bagi mereka yang membutuhkan, Nak."
Perkataan Ibu terngiang di telinga agar aku membeli kebutuhan pangan sewajarnya saja sesuai catatan yang Ibu sodorkan padaku tadi siang.
"Maaf, aku tidak kebagian minyak."
Terucap kalimat menyedihkan saat kulihat seorang kakek menelepon, mungkin sang istri yang ada di seberang sana. Ia terus memegang troli yang isinya hanya lima kilo beras dan telur.
"Kau sudah mendapatkannya, Nak."
Senyuman yang hangat menyapaku seraya berkata dengan lembut. Kakek bertopi itu melihat troli milikku yang terisi.
"Kakek sendirian ke sini?" tanyaku saat melihatnya seorang diri.
"Tidak. Kakek bersama anak. Namun, kami terpisah karena keramaian."
Benar katanya, semakin mendekat waktu tutup. Supermaket ini dipenuhi berbagai macam orang yang tak hentinya saling berebut atau memaki.
"Biar saya temani sampai kakek menemukan anak kakek," ucapku sambil berjalan pelan. Menyamakan langkahku dengannya.
Kami saling berjalan perlahan karena suasana yang begitu ramai dan tidak terlihat pintu keluar. Sesekali kakek Irman--begitu ia dipanggil--mengadu karena tubuhnya disenggol.
"Lihatlah, Nak."
Kakek Imran berhenti sejenak lalu menunjuk dua pemuda yang berebut masker dan sabun cuci tangan yang tersisa satu di rak. Tak ada yang mau mengalah. Bahkan tak ada yang mau melerai, enggan untuk terlibat lebih jauh.
"Apa jadinya jika dunia ini tidak ada saling peduli? Pasti banyak perkelahian dan pertengkaran, bukan?"
Aku menggangguk menanggapi perkataannya. Dua pemuda itu baru berhenti ketika seorang nenek berkacamata bulat melerai. Akhirnya barang yang menjadi rebutan itu jatuh ke tangan seorang ibu yang tampaknya sangat membutuhkan.
"Bisa saja nenek itu mengambil barang tersebut, tetapi ia malah memberikan pada wanita hamil," sahut kakek Imran.
"Jaman sekarang ini, Nak. Empati dan rasa peduli terhadap sesama sudah jarang terjadi. Kebanyakan dari mereka menaruh rasa simpati, hanya ada tatapan kasihan tanpa tindakan."
Aku hanya dapat menyunggingkan senyuman. Tak bisa kupungkiri kenyataan yang sebenarnya. Perkataan kakek Imran begitu dalam dan mengena.
"Kurasa itu anak kakek."
Kulihat wanita berkulit langsat belari menghampiri kakek Imran dengan tangisan. Aku beringsut dari tempatku berdiri agar kakek bisa melihat sang putri.
"Ayah, Kina sudah mencari ayah di tempat ini. Ayah ke mana saja."
"Ayah mencari minyak goreng, Nak. Tapi---."
Aku melihat kakek Imran terkejut, di troli miliknya sudah terisi penuh bahan pangan dan sabun antiseptik. Ia termangu dan merasa bingung.
"Ayah, kok bisa dorong barang sebanyak ini?"
"Ini bukan milik ayah, Nak. Ini milik gadis muda yang ada di samping ayah."
Kakek menoleh dan mencari keberadaanku. Namun, ia maupun sang anak tak bisa melihatku.
"Tidak usah terkejut, Pak. Ini pasti ulah Rebeca."
Pak satpam bertubuh tambun yang ikut mencari kakek Imran menyahut dengan santai. Tentu saja kakek dan sang putri mengernyitkan dahi.
"Maksudnya, Pak?" tanya sang putri keheranan. Aku yang menyaksikan hanya membisu.
"Dia itu penunggu supermaket ini, Pak. Dia hanya menampakkan dirinya kala tempat ini ramai dan menolong mereka yang membutuhkan," jelas Pak Rudi. Satpam yang pernah melihat penampakkan diriku.
"Jadi ... gadis yang bersama saya itu---."
"Dia hantu, Pak," bisik Pak Rudi pelan.
"Rebeca tidak akan mengganggu bahkan akan menolong. Dia sudah lama menjadi penunggu di sini." Pak Rudi meninggalkan kakek Imran yang masih terlihat bingung.
Tahun 1920 terjadi sesuatu yang memporandakan perekonomian dunia dan menewaskan jutaan umat manusia. Salah satunya adalah kami sekeluarga. Pusat pembelanjaan ini saksi bisu meninggalnya kami sebelum dirobohkan. Ya, dulunya tempat ini adalah rumah sakit di mana aku dan yang lainnya merenggang nyawa.
=Tamat=
°
°
°
Kalender yang sudah lama itu masih saja dipajang oleh Ibu. Padahal tahun itu sudah sangat lama berlalu, tetapi Ibu tak mau membuangnya. Hal itu disebabkan banyak peristiwa yang tak mungkin bisa dilupakan olehnya.
"Sampai mulutmu berbusa, ibu tak akan membuangnya." Ibu terlihat kesal dengan matanya fokus menatap layar televisi.
Entahlah mata Ibu seperti ada di segala tempat. Buktinya saat aku melihat kalender usang itu, ia tahu dan marah. Aku ingin sekali membuangnya, tetapi tak pernah bisa.
"Jangan keluar ke manapun jika tidak ada kepentingan," kata Ibu melihatku yang memasang sandal.
Sejak wabah flu melanda negeri ini, Pemerintah melarang kita untuk bepergian jauh kecuali membeli kebutuhan pokok.
"Kata Ibu, aku harus beli bahan makanan. Bagaimana toh, Ibu ini?"
Baru satu jam lalu ia mengatakan jika aku harus ke supermaket terdekat untuk membeli bahan makanan selama seminggu dan begitu cepat melupakannya. Kurasa Ibu sudah lupa ingatan.
"Ibu ini pelupa. Jadi harap maklum, Nak." Ibu tertawa sambil menepuk dahinya sendiri.
"Langsung pulang kalau sudah selesai, Nak," lanjut Ibu dengan suara cempreng saat aku menutup pagar.
Perjalanan menuju supermaket sebenarnya tidak jauh, hanya beberapa meter saja. Namun, suasana sepi yang membuat langkah kakiku terasa jauh. Sejak ada peraturan itu, para warga jarang keluar. Mereka menghabiskan waktu di rumah. Entah sampai kapan hal ini terus berlaku. Aku harap peristiwa ini segera berlalu.
Kulihat beberapa warga khususnya bapak-bapak sedang membersihkan halaman rumahnya. Ada yang sedang bercengkrama di ruang tamu mereka. Tawanya sampai terdengar di luar ketika aku lewat. Hari bahagia yang tak bisa dimiliki oleh diriku.
"Aku rindu dengan keadaan yang dulu."
Tanpa terasa aku menghela napas mengingat peristiwa beberapa tahun lalu. Di mana tahun itu selalu diberi tanda oleh Ibu.
Beberapa orang sudah pulang dari pasar atau supermaket. Terasa kagum melihat para ibu yang membawa dua beras dengan berat lima kilo dan di atas kepalanya ada keranjang untuk menaruh sayur mayur dan lauk. Ada yang mengeluh karena tidak kebagian beras atau minyak. Suara mereka sungguh keras sehingga telinga ini menangkap jelas arah pembicaraannya.
"Aduh ... tolong bawakan sebentar. Telingaku gatal dan berdengung," rintih Bu Wahyu bertubuh gemuk sambil menyerahkan pada Bu Delima.
Aku ingin menolongnya, tetapi tak punya waktu lagi karena pusat pembelanjaan di seberang akan tutup dua jam lagi. Kuayunkan kaki segera agar cepat sampai. Semoga barang yang dibeli masih ada.
*****
Lautan manusia memenuhi pusat pembelanjaan dan tidak ada yang mau mengalah atau mengantri. Keegoisan sudah merajai hati mereka. Sifat egois tidak memandang muda atau tua.
"Diharapkan mengantri, jangan berdesak-desakan. Semua kebutuhan masih tersedia."
Bahkan pengumuman lewat pengeras suara tak bisa mengendalikam laju manusia yang ada di sini untuk saling merebutkan bahan pangan. Beberapa dari mereka bergegas mengambil tanpa memedulikan yang lain.
"Ambil saja seperlunya. Sisakan bagi mereka yang membutuhkan, Nak."
Perkataan Ibu terngiang di telinga agar aku membeli kebutuhan pangan sewajarnya saja sesuai catatan yang Ibu sodorkan padaku tadi siang.
"Maaf, aku tidak kebagian minyak."
Terucap kalimat menyedihkan saat kulihat seorang kakek menelepon, mungkin sang istri yang ada di seberang sana. Ia terus memegang troli yang isinya hanya lima kilo beras dan telur.
"Kau sudah mendapatkannya, Nak."
Senyuman yang hangat menyapaku seraya berkata dengan lembut. Kakek bertopi itu melihat troli milikku yang terisi.
"Kakek sendirian ke sini?" tanyaku saat melihatnya seorang diri.
"Tidak. Kakek bersama anak. Namun, kami terpisah karena keramaian."
Benar katanya, semakin mendekat waktu tutup. Supermaket ini dipenuhi berbagai macam orang yang tak hentinya saling berebut atau memaki.
"Biar saya temani sampai kakek menemukan anak kakek," ucapku sambil berjalan pelan. Menyamakan langkahku dengannya.
Kami saling berjalan perlahan karena suasana yang begitu ramai dan tidak terlihat pintu keluar. Sesekali kakek Irman--begitu ia dipanggil--mengadu karena tubuhnya disenggol.
"Lihatlah, Nak."
Kakek Imran berhenti sejenak lalu menunjuk dua pemuda yang berebut masker dan sabun cuci tangan yang tersisa satu di rak. Tak ada yang mau mengalah. Bahkan tak ada yang mau melerai, enggan untuk terlibat lebih jauh.
"Apa jadinya jika dunia ini tidak ada saling peduli? Pasti banyak perkelahian dan pertengkaran, bukan?"
Aku menggangguk menanggapi perkataannya. Dua pemuda itu baru berhenti ketika seorang nenek berkacamata bulat melerai. Akhirnya barang yang menjadi rebutan itu jatuh ke tangan seorang ibu yang tampaknya sangat membutuhkan.
"Bisa saja nenek itu mengambil barang tersebut, tetapi ia malah memberikan pada wanita hamil," sahut kakek Imran.
"Jaman sekarang ini, Nak. Empati dan rasa peduli terhadap sesama sudah jarang terjadi. Kebanyakan dari mereka menaruh rasa simpati, hanya ada tatapan kasihan tanpa tindakan."
Aku hanya dapat menyunggingkan senyuman. Tak bisa kupungkiri kenyataan yang sebenarnya. Perkataan kakek Imran begitu dalam dan mengena.
"Kurasa itu anak kakek."
Kulihat wanita berkulit langsat belari menghampiri kakek Imran dengan tangisan. Aku beringsut dari tempatku berdiri agar kakek bisa melihat sang putri.
"Ayah, Kina sudah mencari ayah di tempat ini. Ayah ke mana saja."
"Ayah mencari minyak goreng, Nak. Tapi---."
Aku melihat kakek Imran terkejut, di troli miliknya sudah terisi penuh bahan pangan dan sabun antiseptik. Ia termangu dan merasa bingung.
"Ayah, kok bisa dorong barang sebanyak ini?"
"Ini bukan milik ayah, Nak. Ini milik gadis muda yang ada di samping ayah."
Kakek menoleh dan mencari keberadaanku. Namun, ia maupun sang anak tak bisa melihatku.
"Tidak usah terkejut, Pak. Ini pasti ulah Rebeca."
Pak satpam bertubuh tambun yang ikut mencari kakek Imran menyahut dengan santai. Tentu saja kakek dan sang putri mengernyitkan dahi.
"Maksudnya, Pak?" tanya sang putri keheranan. Aku yang menyaksikan hanya membisu.
"Dia itu penunggu supermaket ini, Pak. Dia hanya menampakkan dirinya kala tempat ini ramai dan menolong mereka yang membutuhkan," jelas Pak Rudi. Satpam yang pernah melihat penampakkan diriku.
"Jadi ... gadis yang bersama saya itu---."
"Dia hantu, Pak," bisik Pak Rudi pelan.
"Rebeca tidak akan mengganggu bahkan akan menolong. Dia sudah lama menjadi penunggu di sini." Pak Rudi meninggalkan kakek Imran yang masih terlihat bingung.
Tahun 1920 terjadi sesuatu yang memporandakan perekonomian dunia dan menewaskan jutaan umat manusia. Salah satunya adalah kami sekeluarga. Pusat pembelanjaan ini saksi bisu meninggalnya kami sebelum dirobohkan. Ya, dulunya tempat ini adalah rumah sakit di mana aku dan yang lainnya merenggang nyawa.
=Tamat=
Diubah oleh monicamey 05-06-2020 20:53
0