Kaskus

Story

sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati
4Love: Tentang Patah Hati, Kesetiaan, Obsesi, dan Keteguhan Hati


Quote:


Spoiler for Daftar Bab:


Diubah oleh sandriaflow 01-12-2020 19:11
santinorefre720Avatar border
blackjavapre354Avatar border
rizetamayosh295Avatar border
rizetamayosh295 dan 25 lainnya memberi reputasi
26
15K
134
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.1KAnggota
Tampilkan semua post
sandriaflowAvatar border
TS
sandriaflow
#76
Bab 33: Istikharah

IPUL


Renungan malam di pondok waktu itu terus terekam jelas di benak Ipul. Kata-kata Sholeh mengenai salat Istikharah menjadi petunjuk baru bagi Ipul. Ia telah menunaikan salat Istikharah beberapa kali. Setiap malam, dia menyempatkan diri bangun malam dan bermunajat kepada Allah yang mengatur segala urusan hamba-Nya.

Pandangan Ipul perlahan sedikit berubah. Paling tidak, dia saat ini menemukan ketenangan. Meskipun memang agak samar, jawaban itu akhirnya datang dengan sendirinya. Ia ingin menjalani hubungan baru dengan Istiqomah terlebih dahulu.

Sempat suatu ketika, Ipul juga mendapatkan mimpi yang aneh. Dia bertemu dengan seseorang yang tidak dia kenal. Orang itu tiba-tiba menyebut Ipul ialah sesosok penyair gila di padang pasir, yang tengah melantunkan syair-syair purnama karena terpikat oleh keanggunan seorang wanita.

Ketika Ipul menceritakan mimpi itu kepada ketiga sahabatnya, Jojo malah tertawa. Menurutnya, mimpi itu terlalu aneh dan susah dinalar. Meskipun Jojo menertawakannya, Ipul tidak marah karena dia tahu bahwa Jojo memang orang yang suka ceplas-ceplos.

Jujur, Ipul masih belum bisa menafsirkan arti mimpi tersebut. Namun, ia merasa bahwa dirinya saat ini memang tengah gila memikirkan Istiqomah. Pesona perempuan itu terlalu kuat sehingga dia tidak kuasa menolaknya.

***

Malam ini, Istiqomah mengajak Ipul keluar untuk mencari makan. Naluri laki-laki Ipul tentu tidak bisa menolak permintaan perempuan itu, apalagi saat ini Ipul kembali dilanda cinta buta.

Ipul pertama-tama menjemput Istiqomah di tempat kosnya yang lumayan dekat dengan kampusnya. Kemudian, ia menggandeng Istiqomah dengan motornya ke salah satu warung ayam geprek yang cukup terjangkau bagi mahasiswa.

Awalnya, tak ada yang aneh. Istiqomah tampil dengan sederhana dan tidak muluk-muluk. Namun, yang membuat Ipul agak gugup adalah saat Istiqomah memegang pinggang Ipul dan agak merapatkan tubuhnya ke punggung Ipul.

Fokus Ipul agak buyar ketika mengendarai motornya. Hal ini diperparah dengan pikiran kotor yang tiba-tiba menyeruak di kepalanya. Astagfirullah, sebut Ipul berulang kali dalam hati.

Sekitar lima belas menit kemudian, mereka berdua pun akhirnya sampai. Istiqomah berjalan menuju ke arah pelayan untuk memesan dua porsi ayam geprek plus nasi dan dua gelas es teh. Sementara itu, Ipul mencari tempat duduk yang sekiranya agak longgar dan enak sebagai tempat ngobrol.

Alunan musik dangdut sayup-sayup terdengar mengiringi pembicaraan mereka berdua.

“Kamu jarang pulang kampung, Is?”
“Jarang, Pul. Aku lagi males. Lagipula, tugas-tugas kuliah banyak dan menyita banyak waktu,” jawab Istiqomah.

Bagi Ipul, dia ini berbeda. Ketika berbicara, Istiqomah agak cerewet dan suaranya pun lantang. Dia sangat jauh berbeda dari kesan pertama kali mereka berkenalan. Namun, hal itu tidak menjadi masalah serius bagi Ipul karena cinta memang kadang membuat seseorang mengesampingkan logika.

Di sela perbincangan mereka, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka berdua. Perbincangan kemudian dilanjutkan sembari menikmati ayam geprek dan es teh.

“Pul, kamu kenapa?” tanya Istiqomah yang heran setengah mati menatap Ipul yang terdiam. Gurat wajahnya mendadak merah dan mata Ipul terlihat agak berair. Mendadak, terdengar suara mendesis dari bibir Ipul.

“Aku nggak suka pedas,” balasnya usai meminum es teh di depannya. Gelas yang tadinya penuh kini tinggal tersisa seperempat.
“Sumpah, wajah kamu lucu banget, Pul,” sahut Istiqomah yang tak kuasa menahan gelak tawa.

Setelah beberapa menit berlalu, wajah Ipul kembali seperti sedia kala. Namun, sisa rasa sambal yang sungguh pedas masih terasa pekat di lidah Ipul.

Makanan mereka berdua telah habis. Dan mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar menelusuri suasana malam di kota Malang.
***

Di lain waktu, Ipul kembali mengajak Istiqomah bertemu. Ipul tak kuasa menahan perasaan yang begitu kuat di dalam dadanya. Seolah-olah, ada alunan gendang yang berdendang dengan sangat benderang.

Ipul sudah memikirkannya matang-matang. Ia merasa begitu yakin untuk mengungkapkan perasaannya kepada Istiqomah. Dia juga sangat haqqul yaqueen bahwa Istiqomah akan menerima cintanya.

“Is, aku mau ngomong sesuatu ke kamu,” ucap Ipul sembari menatap wajah Istiqomah yang serius menyimak kata-kata Ipul.

Entah mengapa, kata-kata Ipul tiba-tiba tersendat. Ia mendadak grogi dan isi di kepalanya terasa error. Dia sendiri heran. Padahal, ketika mengungkapkan perasaan kepada Laila dulu, dia tidak segrogi ini.
Namun, tak dapat dipungkiri fase menyatakan cinta adalah fase-fase kritis dalam hidup seseorang, khususnya Ipul kali ini.

“Kamu mau ngomong apa, Pul?” tanya Istiqomah yang masih menunggu sesuatu terucap dari mulut Ipul yang membisu cukup lama.

“Aku seneng sama kamu, Is. Aku mau kamu jadi pacarku dan aku juga nggak ada niat main-main sama kamu.”

Kalimat itu akhirnya berhasil terucap tak lebih dari delapan detik.

“Aku menerima cinta kamu, Pul. Aku juga seneng sama kamu,” jawab Istiqomah dengan tersenyum.

Ipul akhirnya resmi jadian dengan Istiqomah. Dia sendiri saat ini berjanji bahwa dia tidak akan menyia-nyiakan Istiqomah seperti saat dulu ia meninggalkan Ina. Selain itu, Ipul juga percaya bahwa Istiqomah bisa membuatnya berubah menjadi lelaki yang lebih baik dan juga bersikap dewasa.
coxi98
coxi98 memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.