Kaskus

News

Lockdown666Avatar border
TS
Lockdown666
Zuckerberg Tolak Hapus Postingan Trump, Staf Facebook Resign
Zuckerberg Tolak Hapus Postingan Trump, Staf Facebook Resign

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekelompok karyawan Facebook, keluar dari pekerjaan (resign) pada Senin (1/6/2020). Mereka mengeluh bahwa perusahaan seharusnya bertindak terhadap posting Presiden AS Donald Trump yang berisi frasa "ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai".

Frasa ini diungkapkan Trump sebagai respons terhadap kerusuhan yang terjadi di beberapa negara bagian Amerika Serikat (AS) sebagai dampak gelombang protes meninggalnya pria kulit hitam George Floyd oleh polisi. Video yang viral di media sosial menunjukkan polisi menempatkan lututnya di leher Floyd yang membuatnya tidak bisa bernafas. 

Satu orang dari sekelompok karyawan Facebook memposting hal tersebut lewat akun Twitternya sebagai protes dan ungkapan kekecewaan terhadap para petinggi perusahaan media dan teknologi terbesar di AS.


"Sangat jelas hari ini bahwa kepemimpinan menolak untuk ikut bersama kami," tulis karyawan Facebook, Brandon Dail di Twitter. Dalam profil LinkedIn, Dail bekerja sebagai insinyur antarmuka pengguna Facebook di Seattle.

Timothy Aveni, seorang insinyur perangkat lunak junior di tim Facebook yang didedikasikan untuk memerangi informasi yang salah, juga mengumumkan pengunduran dirinya sebagai protes atas keputusan itu.

"Mark [Zuckerberg] selalu memberi tahu kami bahwa ia akan memberikan perhatian pada pidato yang menyerukan kekerasan. Dia menunjukkan pada kita pada hari Jumat (29/5/2020) bahwa ini bohong. Facebook akan terus menggerakkan tiang gawang setiap kali Trump meningkat, mencari alasan demi alasan untuk tidak bertindak," tulisnya dalam posting Facebook.

Sehari setelah pengunduran diri tersebut, pada Selasa (2/6/2020) CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan kepada karyawan bahwa ia mendukung keputusannya untuk tidak bertindak atas postingan Trump. Namun Zuckerberg menolak memberikan alasan atas keputusan tersebut.

Zuckerberg mengatakan kepada karyawan dalam sebuah obrolan video bahwa Facebook telah melakukan tinjauan menyeluruh dan benar untuk membiarkan posting tersebut, kata seorang juru bicara perusahaan, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Jubir tersebut mengatakan Zuckerberg juga mengakui keputusan itu telah mengecewakan banyak karyawan dan mengatakan perusahaan sedang mencari opsi "non-biner" selain tidak menghiraukan postingan tersebut atau menghapusnya.

Berlawanan dengan Facebook, Twitter dengan tegas memasang label peringatan untuk tweet Trump tentang protes luas atas kematian George Floyd di Minnesota, termasuk frasa "ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai" pada Jumat (29/5/2020) lalu.

Twitter mengatakan bahwa posting tersebut melanggar aturan milik mereka, mengatakan Trump memuliakan kekerasan tetapi dibiarkan sebagai pengecualian kepentingan publik, dengan berkurangnya opsi untuk interaksi dan distribusi.

Facebook menolak untuk bertindak berdasarkan pesan yang sama, dan Zuckerberg berusaha menjauhkan perusahaannya dari pertarungan dengan Trump seperti Twitter. Zuckerberg menyatakan bahwa ketika ia menemukan pernyataan Trump "sangat ofensif" namun tidak melanggar kebijakan perusahaan terhadap hasutan untuk melakukan kekerasan.

Para pemimpin hak-hak sipil yang menghadiri video call selama satu jam pada Senin malam dengan Zuckerberg dan eksekutif Facebook lainnya menyebut pembelaan CEO atas pendekatan lepas tangan kepada Trump "tidak bisa dipahami".

"Dia tidak menunjukkan pemahaman penindasan pemilih bersejarah atau modern, dan dia menolak untuk mengakui bagaimana Facebook memfasilitasi seruan Trump untuk kekerasan terhadap demonstran," kata pernyataan bersama dari para pemimpin Konferensi Kepemimpinan tentang Hak Sipil dan Hak Asasi Manusia, NAACP Pertahanan Hukum dan Dana Pendidikan dan Warna Perubahan.

Zuckerberg sendiri dilaporkan oleh situs web berita Axios telat berbicara dengan Trump pada Jumat lalu. Namun belum diketahui apa isi percakapan yang mereka lakukan.

sumur

https://www.cnbcindonesia.com/tech/2...acebook-resign

monggo resign. masih banyak pengangguran yang belum dapat kerjaan emoticon-Big Grin
User telah dihapus
areszzjayAvatar border
neopoliteAvatar border
neopolite dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.7K
22
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
Berita Luar Negeri
KASKUS Official
82.1KThread20.9KAnggota
Tampilkan semua post
peyotpetotAvatar border
peyotpetot
#14
Facebook ga bisa main hapus saja, apalagi postingan Trump.

Bukan karena Trump adalah presiden, tapi karena beberapa hari belakangan Trump sedang mengkampanyekan mengubah status Facebook, Twitter, dan sejenisnya dari platform menjadi publisher.

Berdasarkan undang-undang di Amerika, pemilik sebuah platform dilindungi dari tuntutan yang bersumber dari posting di website-nya. Sedangkan publisher bisa ikutan dituntut kalo ada posting dari user yang mencederai seseorang.

Tentu saja ada syarat yang harus dipenuhi kalo sebuah website ingin diakui sebagai platform, salah satu syaratnya adalah tidak boleh melakukan sensor. Dan tuduhan bahwa media sosial besar semacam Facebook dan Twitter suka melakukan sensor belakangan mendapatkan dukungan dari Trump.

Jadi jelas saja Facebook gak berani menghapus posting dari Trump, karena hal tersebut bisa menjadi bukti untuk melakukan pencabutan status platform.

Apakah status publisher mengurangi hak Facebook untuk bersuara?

Tidak.

Tetapi dengan status sebagai publisher, maka Facebook bisa dituntut oleh berbagai pihak yang merasa dirugikan, walaupun kerugiannya bukan disebabkan oleh perusahaan Facebook.

Contoh ekstremnya:
A dan B adalah dua orang pelajar di Amerika, dan mereka saling bertengkar di facebook yang berujung pada A menghina ibu dari B.
Maka B kemudian melakukan tuntutan ganti rugi kepada A dan Facebook.

Dan hal tersebut dimungkinkan karena kalo Facebook berstatus publisher berarti Facebook merestui posting tersebut, dengan kata lain, Facebook ikut tanggung renteng menghina ibu dari B.

Tentu saja kalo status Facebook diubah menjadi publisher, Facebook boleh menyensor segala macam omongan semacam A tersebut. Tapi karena pengguna Facebook jutaan orang, maka hal tersebut menjadi sukar dan mahal.

Jadi beruntunglah kakus yang terdaftar di Indonesia. Kalo di Amerika, sudah sejak lama kakus bakalan digolongkan menjadi publisher dan menghadapi banjir tuntutan dari banyak penggunanya yang gak terima dihina pengguna lainnya.

neptunium
m4rs08
Lockdown666
Lockdown666 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.