- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.3K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#236
Spoiler for Part 79:
Part 79
.
.
.
"Apaan sih nat?, gakjelas banget, emang mau ngapain?"
Hanya sebuah kekehan kecil dan pertanyaan balik yang kuterima darinya.
"Yaudahdeh mbak, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat buat basa-basi"
Raut wajah bingung berhasil menggantikan senyumam yang sedari tadi menghiasi wajahnya.
Entahlah, aku tidak tahu, apakah dia tau kemana aku akan mengarahkan pembicaraan kami sore ini atau tidak, tapi yang jelas aku harus mencoba.
"Tau gak mbak...."
Kalimatku terjeda saat aku mencoba untuk memperbaiki irama nafasku yang sudah mulai tidak beraturan.
"Setelah malam itu...... aku selalu takut buat bicarain masalah ini"
Sontak dia langsung membuang tatapannya kearah matahari yang sudah mulai hilang.
"Iya...., aku takut kalau harus nerima penolakan lagi mbak..."
"Tapi.... bentar lagi kan mbak mau pulang, makanya aku...... mau nyoba lagi"
"Daripada aku cuma sok tau kalau kejadian kemaren bakal terulang lagi hari ini apa enggak, mending aku ngomong lagi kan mbak?, belum tentu mbak nolak aku lagi kan?"
"Hehehe... he.... he..... he......"
Kekehan garing mengakhiri rentetan kalimat yang sudah sedari tadi kuungkapkan.
Nihilnya respon yang kuterima membuat perasaan canggung menyeruak masuk kedalam dada.
"Y y ya..... yaudah, gakpapa kok kalo mbak masih gak mau, atau gak akan mau....."
Tatapanku perlahan pergi dari wajahnya seiring dengan berakhirnya kalimat yang baru saja kulontarkan.
Lagi-lagi suara deburan ombak mengisi keheningan yang kembali tercipta setelah aku menyelesaikan kalimatku.
Sesekali aku mengintip wajah sampingnya melalui ekor mataku, tidak ada yang berubah baik dari gestur maupun ekspresinya.
Huuuuuhhhhh.........
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar setelah melihat reaksinya, mungkin dugaanku benar, sudah tidak ada namaku di hatinya.
"Kalo ngomong yang jelas dong nat...."
Deeeeeggggg.........
Kalimat itu berhasil membuat kepalaku kembali menoleh kearahnya.
"M m m maksudnya mbak?"
"A a apanya yang kurang jelas?"
Dia kembali menatapku, tatapannya kali ini terkesan meremehkan.
"Semuanya!!!"
Aku kembali menolehkan kepalaku seraya menatap heran kearahnya.
"J j jadi aku perlu jelasin ulang mbak?"
Wajah ketusnya kembali berpaling kearah marahari terbenam yang berada tepat di depan kami.
"Tau ah!!!"
Jawaban ketusnya berhasil membuat nyaliku menjadi semakin ciut.
Huuuuhhhh.......
Aku kembali menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan, mencoba untuk kembali membesarkan nyali yang awalnya sempit mengecil.
"K k kan sebentar lagi mbak mau pulang...."
"A a aku sudah berusaha buktiin semua janji-janjiku malam itu mbak....."
"Dan.... waktu aku ajak mbak bicarain soal masalah ini malam itu, waktu kita di taman pelangi... mbak nolak aku..."
"Y y y yaaa.... sekarang aku mau nanyain lagi soal itu..."
Percuma saja aku menjelaskan ulang semua yang sudah kukatakan sebelumnya, respon yang kuterima masih sama.
"Y y y ya tapi...... kalo jawaban mbak masih sama..... a a aku gak masalah kok...."
Untuk kesekian kalinya keheningan kembali menyelimuti kami setelah selesainya kalimat yang sedari tadi kulontarkan dengan sedikit terbata-bata.
"Pembohong!!!"
"Katanya mau jadi anak kecil nat?"
Aku juga ikut menoleh kearah objek yang sedari tadi menjadi tempatnya membuang pandangan dari wajahku.
"Udah mbak....."
"Aku udah berani bilang semuanya, melawan ketakutan aku"
"Yaa...... walaupun sekarang terjadi lagi....."
Tatapannya kembali mengarah kepadaku setelah sekian lama menghindar.
"Emang setakut itu?, kenapa?"
"Apa yang kamu pengen dari aku?"
"Gak ada yang istimewa dari aku nat, kamu udah tau kan?....."
"A a aku ini kelainan nat....., a a aku cacat....."
Kalimat demi kalimat yang dilontarkannya berhasil memaksaku untuk kembali menoleh kearahnya.
"Mbak......."
"Aku pengen semuanya....."
"Aku pengen kamu....."
Aku menatap matanya dalam-dalam, untuk kesekian kalinya memcoba untuk menunjukkan keyakinan yang ada di dalam hatiku kepadanya.
"Kita gak mungkin ada disini kalo aku gak bener-bener takut!!!"
Cukup lama kami saling bertatapan tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami.
Ombak yang datang silih berganti menyapu setengah kakiku yang masih terkubur pasir memancing perhatianku untuk memalingkan pandangan dari matanya yang sudah mulai sedikit berair.
"Aku takut mbak...., kalo kehadiran kamu di hidupku cuma seperti ombak....."
"Baru dateng sebentar, habis itu......."
Aku menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatku.
"Hilang...., terus..... berganti sama ombak yang lain"
Kalimat terakhirku keluar seiring hembusan nafas yang juga keluar dari mulutku.
"Kalo mbak tanya alesannya kenapa......."
"Aku juga gak tau mbak"
"Yang aku tau...... kita pernah terpisah, tanpa komunikasi, gak tau gimana kabar masing-masing"
"Selama itu ada shani yang selalu ngisi hari-hari aku mbak....."
Aku kembali menolehkan kepalaku, mencari kedua bola matanya yang selalu menjadi sarana untuk menunjukkan semua keyakinan yang kumiliki.
"Tapi..... itu yang buat aku sadar mbak...."
"Sama siapapun aku...., tapi kalo gak ada kamu....."
"Aku gak bisa bahagia...."
Lagi-lagi kalimatku terjeda saat aku harus menghirup nafas dalam untuk menetralkan perasaan gugup yang terus menyelimutiku sedari tadi.
Setelah ini aku akan mengatakan inti dari semua omong kosong yang sedari tadi keluar dari mulutku.
"Kesimpulanya....."
"Aku cuma butuh mbak...., bukan shani...."
"Bukan juga yang lain...."
Kini telapak tanganku sudah menindih punggung tangannya yang berada tepat di sampingku.
"Dan..... yang mbak harus tau...."
"Kita gak bakal ada di sini dan aku gak bakal ngomong kayak gini kalo sampai sekarang aku masih belum bisa nerima semua yang ada di dalam diri kamu"
Sesekali ibu jariku mengelus punggung tangannya untuk menambah kesan serius dari kalimat yang baru saja kuucapkan.
"Nat....."
Dia memanggil namaku seraya menarik tangannya dari genggamanku.
"Kamu tau nggak?"
"Dari dulu....., kamu sudah berhasil bikin aku jadi anak kecil"
Kalimatnya kembali berhasil membuatku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Iya...., kamu berhasil bikin aku dengan beraninya nitip harapanku sama kamu"
"Dengan beraninya aku deketin kamu duluan, ngechat sama nelpon duluan, minta temenin di rumah, minta diajak main kekos, minta diajak jalan....."
"Meskipun harusnya cowok yang deketin cewek duluan....., tapi..... tapi aku udah gak mikirin itu...."
"Bahkan........ aku juga gak mikirin gimana sebenarnya perasaan kamu keaku........."
"Kamu berhasil nat...... kamu selalu berhasil......"
Suaranya mulai terdengar agak sedikit bergetar.
"Tapi...... melihat semua yang aku dapet setelah itu....., terlalu berani dan percaya diri kayak anak kecil itu ternyata menyakitkan ya nat....."
Deeeeeggg.......
Apa semua kalimat yang baru saja diucapkannya merupakan sebuah kode bahwa dia masih belum siap?, atau mungkin..... tidak akan pernah siap.
Suara naik turun nafasnya terdengar cukup keras, sesekali tangannya mengusap beberapa tetesan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Iya mbak......, bener apa yang mbak bilang"
"Sekarang aku udah ngerasain sendiri kok mbak....."
Aku kembali menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan, sambil diiring sedikit kekehan kecil yang keluar dari mulutku.
"Tapi..... gakpapa kok mbak...."
"Ini sama sekali bukan salah kamu, aku sendiri yang mulai semuanya....."
"Dan..... aku harus siap tanggung resikonya"
"Seenggaknya aku udah mencoba....."
Pandangannya kembali mengarah kepadaku setelah aku selesai menanggapi kalimat terakhirnya dengan beberapa kalimat yang baru saja kuucapkan.
"Nyoba apa?"
Lagi-lagi pertanyaannya berhasil membuatku melemparkan tatapan heran kepadanya.
"N n n nyoba bilang semuanya..."
Dia hanya mengangguk kecil setelah mendengar jawaban yang baru saja kulontarkan.
"Ooohh...., iya, aku udah denger kok...., terus?, itu aja?"
Aku hanya bisa mengalihkan pandanganku dari matanya, sesekali tanganku menggaruk ujung kepalaku yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal, memcoba mencerna apa maksud pertanyaannya barusan.
"I i i iya....."
Jawaban yang baru saja kulontarkan behasil membuatnya berdecak malas.
"Emang apa tujuan kamu ngomong panjang lebar kayak tadi?"
Lagi-lagi pertanyaannya berhasil membuatku bingung.
"S s s supaya...... kita bisa kayak dulu lagi, mungkin..... lebih?"
Bruuuuuuukkkkk........
Tiba-tiba dia sudah berada di dalam pelukanku, dia membenamkan wajahnya di dalam dadaku yang agak sedikit basah dan kotor akibat terkena air laut.
"Kayak gini?"
Sekarang wajahnya terangkat, aku dapat melihat bibirnya membentuk seutas senyuman, dan...., pada saat pandanganku beralih untuk menatap matanya.......
Huuuuuuhh.....
Sudah lama rasanya tidak melihat tatapan ini, dia menatapku dengan kedua sudut alisnya yang sedikit tertarik kearah bawah, tapi guratan matanya tetap menunjukkan bahwa saat ini dia sedang tersenyum.
Dan..... kedua bibirnya yang sedari tadi sangat enggan untuk turun semakin menegaskan bahwa dia masih menginginkan itu.
Ya....., tatapan yang selalu dia tunjukkan ketika sedang memohon sesuatu kepadaku, entah untuk memohon agar aku mau menemaninya, memohon agar aku mau menuruti apa yang dia inginkan, dan...... ini cara dia menatapku saat sedang ingin bermanja.
Setelah beberapa saat dia mengangkat wajahnya dan menatapku seraya melontarkan pertanyaan, wajahnya kembali dia benamkan kedalam tempat yang sama seperti sebelumnya.
Kedua tanganku perlahan mulai bergerak untuk membalas pelukannya.
Entahlah....., dalam posisi seperti ini, pantai ini seperti hanya milik kami berdua, ya...., aku dan beby.
Yang lain cuma numpang.
Wkwkwkwkwkwkwkwk.
"Iiiisssshhhh......."
Dia menarik paksa tubuhnya dari pelukanku, sekarang aku bisa melihat raut kesal di wajahnya yang berwarna jingga akibat terkena pantulan sinar mentari senja yang sedang terbenam.
"Udah?!, gitu aja?!"
Aku berhasil dibuat terdiam dengan pertanyaannya yang dilontarkan dengan nada ketus.
"Mana?!, katanya mau jadi anak kecil?!"
Wajah kesalnya semakin menjadi-jadi setelah melihat wajah bingungku.
"Iiiiiisssshhh......, gak ada berani-beraninya kamu nat!!!"
Wajah kesal itu berhasil membuatku meneguk ludah ketika melihatnya, aku bingung dengan sikapnya, dan...... aku bingung dengan apa yang setelah ini harus kulakukan.
"A a a aku kan udah bilang semuanya mbak...., tadi....."
Duuuukkkk.......
Satu pukulan berhasil mendarat di lenganku.
"Mana ada!!!, aku belum jawab!!!, tapi kamu udah sok tau duluan!!!, katanya mau jadi anak kecil?!"
Duuuukkkk..... Duuuukkkk.....
"Sekarang, udah aku kasih jawaban, kamu diem aja kayak patung liberty?!"
Duuuukkkk.... Duuuukkkk.....
"Iiiiiisssshhhhh......, ngeseliiiiin!!!!!"
Beberapa pukulan yang didaratkannya berhasil membuatku mengelus-elus lenganku.
"E e e emang mbak udah jawab?"
Matanya terpejam, dadanya mulai mengembang untuk menghirup nafas panjang.
"Ternyata bener ya...., sebenarnya orang itu gak akan pernah bisa berubah...."
"Natha akan tetap menjadi natha...."
"Penakut, gak peka, gengsian, dan...... ngeseliiiin!!!!"
Untuk kesekian kalinya hembusan nafas kasar lolos keluar begitu saja dari mulutnya.
"Tapi..... untuk kesekian kalinya..... kamu berhasil bikin aku jadi kayak anak kecil lagi...."
"Untuk kesekian kalinya kamu berhasil bikin aku membuang semua ketakutanku jauh-jauh nat....."
Puuuukkk......
Dia menjatuhkan kepalanya di atas bahuku, sebelah tangannya mengambil, lalu merangkul sebelah lenganku.
"Dan cuma butuh beberapa menit buat kamu untuk bisa bikin aku merubah semua keputusan yang udah aku buat"
Entahlah...., jika ada kata yang bisa menggambarkan kebahagian lebih daripada bahagia itu sendiri, itulah perasaanku saat ini.
Puuuukkk.....
Aku ikut menyenderkan kepalaku di atas kepalanya yang sedang bersender di bahuku.
"Meskipun aku gak perlu waktu bertahun-tahun buat ngeyakinin kamu....., kayak di film-film drama yang pernah aku tonton....."
"Tapi aku rasa terlalu lebay kalo kamu bilang aku bisa merubah keputusan kamu cuma dalam waktu beberapa menit"
Kekehan kembali keluar dari mulutnya setelah mendengar kalimat yang baru saja kuucapkan.
"Tapi emang itu kenyataannya nat...., beberapa menit lalu gak ada sama sekali dalam pikiranku buat ngambil keputusan ini kok...."
Kami sama-sama terkekeh setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Mbak......."
Ya...., mungkin ini saatnya.
"Kalau gitu...., gimana kalau sekarang....."
"Kita sama-sama bikin janji....."
"Kamu punya aku, gitu juga sebaliknya...."
Irama detak jantungku berdetak semakin cepat setelah kalimatku selesai.
Sudah sejauh ini....., tapi entak kenapa menunggu jawabannya selalu berhasil membuatku gugup.
Duuuukkkk......
Lagi-lagi pukulannya berhasil mendarat dengan mulus di dadaku.
"Iiissshh......"
Kepalanya kembali terangkat, lalu menatapku dengan wajah kesalnya.
"Bilang pacaran aja susah banget sih?!"
"Iyaa...., aku mau...."
Deeeegggg......
Apakah flashdisk aku sudah berhasil menancapkan flashdisk di tempat yang kuinginkan?, apakah laporanku sudah di ACC?.
Tanpa pikir panjang aku langsung menoleh kearahnya sehingga dia dapat melihat wajah bingungku saat ini.
Tapi itu tidak bertahan lama, aku langsung memasang tatapan remeh untuk menutupi wajah bingungku yang sedari tadi menjadi sumber kekesalannya.
"Eh, bentar mbak.... bentar....."
Tatapan remeh yang baru saja kutunjukkan berhasil membuat wajah kesalnya semakin menjadi-jadi.
"Siapa yang mau ngajak pacaran ih..., pede banget...."
"Tapi kalo mbak emang udah ngebet....., aku mah ayo ayo aja....."
Duuuukkkk...... Duuuukkkk......
Aku langsung beranjak dari dudukku, lalu berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari amukan yang sebenarnya didasari oleh cinta.
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk.
"Nathaaaaa!!!!........."
Apa yang terjadi selanjutnya?, aku rasa kalian sudah bisa menebaknya bukan?.
Huuuuuuuhhh.......
Apakah salah jika setelah ini aku menjadi seorang penikmat senja?.
Bagaimana mungkin aku bisa tidak menikmati langit jingga yang saat ini menjadi saksi terbitnya keberanian kami, sedangkan mentari yang saat ini hampir terbenam seluruhnya juga menjadi saksi terbenamnya semua rasa takut yang selama ini selalu menyelimuti kami.
Ya....., senja ini, kami memulai semuanya dari awal, dengan keberanian dan kepercayaan yang sangat menggebu-gebu.
Kami percaya, keberanian itu akan selalu ada jika kami bersama, dan kami juga percaya, semua ketakutan itu tidak akan pernah terjadi jika kami bersatu.
Akhir yang indah bukan?.
Ya..., tapi sayangnya bumi masih berotasi dan berovolusi mengelilingi matahari, dunia masih terus berputar.
Ini bukan akhir, masih banyak momen yang harus kami lewati bersama setelah ini, mungkin akan terus bersama sampai akhir, mungkin juga tidak, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini, biarkan tuhan yang menjawab semua pertanyaan ini dengan sesuatu yang disebut waktu.
Jadi...........
Just let it flow......
.
.
.
"Apaan sih nat?, gakjelas banget, emang mau ngapain?"
Hanya sebuah kekehan kecil dan pertanyaan balik yang kuterima darinya.
"Yaudahdeh mbak, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat buat basa-basi"
Raut wajah bingung berhasil menggantikan senyumam yang sedari tadi menghiasi wajahnya.
Entahlah, aku tidak tahu, apakah dia tau kemana aku akan mengarahkan pembicaraan kami sore ini atau tidak, tapi yang jelas aku harus mencoba.
"Tau gak mbak...."
Kalimatku terjeda saat aku mencoba untuk memperbaiki irama nafasku yang sudah mulai tidak beraturan.
"Setelah malam itu...... aku selalu takut buat bicarain masalah ini"
Sontak dia langsung membuang tatapannya kearah matahari yang sudah mulai hilang.
"Iya...., aku takut kalau harus nerima penolakan lagi mbak..."
"Tapi.... bentar lagi kan mbak mau pulang, makanya aku...... mau nyoba lagi"
"Daripada aku cuma sok tau kalau kejadian kemaren bakal terulang lagi hari ini apa enggak, mending aku ngomong lagi kan mbak?, belum tentu mbak nolak aku lagi kan?"
"Hehehe... he.... he..... he......"
Kekehan garing mengakhiri rentetan kalimat yang sudah sedari tadi kuungkapkan.
Nihilnya respon yang kuterima membuat perasaan canggung menyeruak masuk kedalam dada.
"Y y ya..... yaudah, gakpapa kok kalo mbak masih gak mau, atau gak akan mau....."
Tatapanku perlahan pergi dari wajahnya seiring dengan berakhirnya kalimat yang baru saja kulontarkan.
Lagi-lagi suara deburan ombak mengisi keheningan yang kembali tercipta setelah aku menyelesaikan kalimatku.
Sesekali aku mengintip wajah sampingnya melalui ekor mataku, tidak ada yang berubah baik dari gestur maupun ekspresinya.
Huuuuuhhhhh.........
Aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan kasar setelah melihat reaksinya, mungkin dugaanku benar, sudah tidak ada namaku di hatinya.
"Kalo ngomong yang jelas dong nat...."
Deeeeeggggg.........
Kalimat itu berhasil membuat kepalaku kembali menoleh kearahnya.
"M m m maksudnya mbak?"
"A a apanya yang kurang jelas?"
Dia kembali menatapku, tatapannya kali ini terkesan meremehkan.
"Semuanya!!!"
Aku kembali menolehkan kepalaku seraya menatap heran kearahnya.
"J j jadi aku perlu jelasin ulang mbak?"
Wajah ketusnya kembali berpaling kearah marahari terbenam yang berada tepat di depan kami.
"Tau ah!!!"
Jawaban ketusnya berhasil membuat nyaliku menjadi semakin ciut.
Huuuuhhhh.......
Aku kembali menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan, mencoba untuk kembali membesarkan nyali yang awalnya sempit mengecil.
"K k kan sebentar lagi mbak mau pulang...."
"A a aku sudah berusaha buktiin semua janji-janjiku malam itu mbak....."
"Dan.... waktu aku ajak mbak bicarain soal masalah ini malam itu, waktu kita di taman pelangi... mbak nolak aku..."
"Y y y yaaa.... sekarang aku mau nanyain lagi soal itu..."
Percuma saja aku menjelaskan ulang semua yang sudah kukatakan sebelumnya, respon yang kuterima masih sama.
"Y y y ya tapi...... kalo jawaban mbak masih sama..... a a aku gak masalah kok...."
Untuk kesekian kalinya keheningan kembali menyelimuti kami setelah selesainya kalimat yang sedari tadi kulontarkan dengan sedikit terbata-bata.
"Pembohong!!!"
"Katanya mau jadi anak kecil nat?"
Aku juga ikut menoleh kearah objek yang sedari tadi menjadi tempatnya membuang pandangan dari wajahku.
"Udah mbak....."
"Aku udah berani bilang semuanya, melawan ketakutan aku"
"Yaa...... walaupun sekarang terjadi lagi....."
Tatapannya kembali mengarah kepadaku setelah sekian lama menghindar.
"Emang setakut itu?, kenapa?"
"Apa yang kamu pengen dari aku?"
"Gak ada yang istimewa dari aku nat, kamu udah tau kan?....."
"A a aku ini kelainan nat....., a a aku cacat....."
Kalimat demi kalimat yang dilontarkannya berhasil memaksaku untuk kembali menoleh kearahnya.
"Mbak......."
"Aku pengen semuanya....."
"Aku pengen kamu....."
Aku menatap matanya dalam-dalam, untuk kesekian kalinya memcoba untuk menunjukkan keyakinan yang ada di dalam hatiku kepadanya.
"Kita gak mungkin ada disini kalo aku gak bener-bener takut!!!"
Cukup lama kami saling bertatapan tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami.
Ombak yang datang silih berganti menyapu setengah kakiku yang masih terkubur pasir memancing perhatianku untuk memalingkan pandangan dari matanya yang sudah mulai sedikit berair.
"Aku takut mbak...., kalo kehadiran kamu di hidupku cuma seperti ombak....."
"Baru dateng sebentar, habis itu......."
Aku menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatku.
"Hilang...., terus..... berganti sama ombak yang lain"
Kalimat terakhirku keluar seiring hembusan nafas yang juga keluar dari mulutku.
"Kalo mbak tanya alesannya kenapa......."
"Aku juga gak tau mbak"
"Yang aku tau...... kita pernah terpisah, tanpa komunikasi, gak tau gimana kabar masing-masing"
"Selama itu ada shani yang selalu ngisi hari-hari aku mbak....."
Aku kembali menolehkan kepalaku, mencari kedua bola matanya yang selalu menjadi sarana untuk menunjukkan semua keyakinan yang kumiliki.
"Tapi..... itu yang buat aku sadar mbak...."
"Sama siapapun aku...., tapi kalo gak ada kamu....."
"Aku gak bisa bahagia...."
Lagi-lagi kalimatku terjeda saat aku harus menghirup nafas dalam untuk menetralkan perasaan gugup yang terus menyelimutiku sedari tadi.
Setelah ini aku akan mengatakan inti dari semua omong kosong yang sedari tadi keluar dari mulutku.
"Kesimpulanya....."
"Aku cuma butuh mbak...., bukan shani...."
"Bukan juga yang lain...."
Kini telapak tanganku sudah menindih punggung tangannya yang berada tepat di sampingku.
"Dan..... yang mbak harus tau...."
"Kita gak bakal ada di sini dan aku gak bakal ngomong kayak gini kalo sampai sekarang aku masih belum bisa nerima semua yang ada di dalam diri kamu"
Sesekali ibu jariku mengelus punggung tangannya untuk menambah kesan serius dari kalimat yang baru saja kuucapkan.
"Nat....."
Dia memanggil namaku seraya menarik tangannya dari genggamanku.
"Kamu tau nggak?"
"Dari dulu....., kamu sudah berhasil bikin aku jadi anak kecil"
Kalimatnya kembali berhasil membuatku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Iya...., kamu berhasil bikin aku dengan beraninya nitip harapanku sama kamu"
"Dengan beraninya aku deketin kamu duluan, ngechat sama nelpon duluan, minta temenin di rumah, minta diajak main kekos, minta diajak jalan....."
"Meskipun harusnya cowok yang deketin cewek duluan....., tapi..... tapi aku udah gak mikirin itu...."
"Bahkan........ aku juga gak mikirin gimana sebenarnya perasaan kamu keaku........."
"Kamu berhasil nat...... kamu selalu berhasil......"
Suaranya mulai terdengar agak sedikit bergetar.
"Tapi...... melihat semua yang aku dapet setelah itu....., terlalu berani dan percaya diri kayak anak kecil itu ternyata menyakitkan ya nat....."
Deeeeeggg.......
Apa semua kalimat yang baru saja diucapkannya merupakan sebuah kode bahwa dia masih belum siap?, atau mungkin..... tidak akan pernah siap.
Suara naik turun nafasnya terdengar cukup keras, sesekali tangannya mengusap beberapa tetesan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Iya mbak......, bener apa yang mbak bilang"
"Sekarang aku udah ngerasain sendiri kok mbak....."
Aku kembali menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan, sambil diiring sedikit kekehan kecil yang keluar dari mulutku.
"Tapi..... gakpapa kok mbak...."
"Ini sama sekali bukan salah kamu, aku sendiri yang mulai semuanya....."
"Dan..... aku harus siap tanggung resikonya"
"Seenggaknya aku udah mencoba....."
Pandangannya kembali mengarah kepadaku setelah aku selesai menanggapi kalimat terakhirnya dengan beberapa kalimat yang baru saja kuucapkan.
"Nyoba apa?"
Lagi-lagi pertanyaannya berhasil membuatku melemparkan tatapan heran kepadanya.
"N n n nyoba bilang semuanya..."
Dia hanya mengangguk kecil setelah mendengar jawaban yang baru saja kulontarkan.
"Ooohh...., iya, aku udah denger kok...., terus?, itu aja?"
Aku hanya bisa mengalihkan pandanganku dari matanya, sesekali tanganku menggaruk ujung kepalaku yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal, memcoba mencerna apa maksud pertanyaannya barusan.
"I i i iya....."
Jawaban yang baru saja kulontarkan behasil membuatnya berdecak malas.
"Emang apa tujuan kamu ngomong panjang lebar kayak tadi?"
Lagi-lagi pertanyaannya berhasil membuatku bingung.
"S s s supaya...... kita bisa kayak dulu lagi, mungkin..... lebih?"
Spoiler for Themesong:
Bruuuuuuukkkkk........
Tiba-tiba dia sudah berada di dalam pelukanku, dia membenamkan wajahnya di dalam dadaku yang agak sedikit basah dan kotor akibat terkena air laut.
"Kayak gini?"
Sekarang wajahnya terangkat, aku dapat melihat bibirnya membentuk seutas senyuman, dan...., pada saat pandanganku beralih untuk menatap matanya.......
Huuuuuuhh.....
Sudah lama rasanya tidak melihat tatapan ini, dia menatapku dengan kedua sudut alisnya yang sedikit tertarik kearah bawah, tapi guratan matanya tetap menunjukkan bahwa saat ini dia sedang tersenyum.
Dan..... kedua bibirnya yang sedari tadi sangat enggan untuk turun semakin menegaskan bahwa dia masih menginginkan itu.
Ya....., tatapan yang selalu dia tunjukkan ketika sedang memohon sesuatu kepadaku, entah untuk memohon agar aku mau menemaninya, memohon agar aku mau menuruti apa yang dia inginkan, dan...... ini cara dia menatapku saat sedang ingin bermanja.
Setelah beberapa saat dia mengangkat wajahnya dan menatapku seraya melontarkan pertanyaan, wajahnya kembali dia benamkan kedalam tempat yang sama seperti sebelumnya.
Kedua tanganku perlahan mulai bergerak untuk membalas pelukannya.
Entahlah....., dalam posisi seperti ini, pantai ini seperti hanya milik kami berdua, ya...., aku dan beby.
Yang lain cuma numpang.
Wkwkwkwkwkwkwkwk.
"Iiiisssshhhh......."
Dia menarik paksa tubuhnya dari pelukanku, sekarang aku bisa melihat raut kesal di wajahnya yang berwarna jingga akibat terkena pantulan sinar mentari senja yang sedang terbenam.
"Udah?!, gitu aja?!"
Aku berhasil dibuat terdiam dengan pertanyaannya yang dilontarkan dengan nada ketus.
"Mana?!, katanya mau jadi anak kecil?!"
Wajah kesalnya semakin menjadi-jadi setelah melihat wajah bingungku.
"Iiiiiisssshhh......, gak ada berani-beraninya kamu nat!!!"
Wajah kesal itu berhasil membuatku meneguk ludah ketika melihatnya, aku bingung dengan sikapnya, dan...... aku bingung dengan apa yang setelah ini harus kulakukan.
"A a a aku kan udah bilang semuanya mbak...., tadi....."
Duuuukkkk.......
Satu pukulan berhasil mendarat di lenganku.
"Mana ada!!!, aku belum jawab!!!, tapi kamu udah sok tau duluan!!!, katanya mau jadi anak kecil?!"
Duuuukkkk..... Duuuukkkk.....
"Sekarang, udah aku kasih jawaban, kamu diem aja kayak patung liberty?!"
Duuuukkkk.... Duuuukkkk.....
"Iiiiiisssshhhhh......, ngeseliiiiin!!!!!"
Beberapa pukulan yang didaratkannya berhasil membuatku mengelus-elus lenganku.
"E e e emang mbak udah jawab?"
Matanya terpejam, dadanya mulai mengembang untuk menghirup nafas panjang.
"Ternyata bener ya...., sebenarnya orang itu gak akan pernah bisa berubah...."
"Natha akan tetap menjadi natha...."
"Penakut, gak peka, gengsian, dan...... ngeseliiiin!!!!"
Untuk kesekian kalinya hembusan nafas kasar lolos keluar begitu saja dari mulutnya.
"Tapi..... untuk kesekian kalinya..... kamu berhasil bikin aku jadi kayak anak kecil lagi...."
"Untuk kesekian kalinya kamu berhasil bikin aku membuang semua ketakutanku jauh-jauh nat....."
Puuuukkk......
Dia menjatuhkan kepalanya di atas bahuku, sebelah tangannya mengambil, lalu merangkul sebelah lenganku.
"Dan cuma butuh beberapa menit buat kamu untuk bisa bikin aku merubah semua keputusan yang udah aku buat"
Entahlah...., jika ada kata yang bisa menggambarkan kebahagian lebih daripada bahagia itu sendiri, itulah perasaanku saat ini.
Puuuukkk.....
Aku ikut menyenderkan kepalaku di atas kepalanya yang sedang bersender di bahuku.
"Meskipun aku gak perlu waktu bertahun-tahun buat ngeyakinin kamu....., kayak di film-film drama yang pernah aku tonton....."
"Tapi aku rasa terlalu lebay kalo kamu bilang aku bisa merubah keputusan kamu cuma dalam waktu beberapa menit"
Kekehan kembali keluar dari mulutnya setelah mendengar kalimat yang baru saja kuucapkan.
"Tapi emang itu kenyataannya nat...., beberapa menit lalu gak ada sama sekali dalam pikiranku buat ngambil keputusan ini kok...."
Kami sama-sama terkekeh setelah mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Mbak......."
Ya...., mungkin ini saatnya.
"Kalau gitu...., gimana kalau sekarang....."
"Kita sama-sama bikin janji....."
"Kamu punya aku, gitu juga sebaliknya...."
Irama detak jantungku berdetak semakin cepat setelah kalimatku selesai.
Sudah sejauh ini....., tapi entak kenapa menunggu jawabannya selalu berhasil membuatku gugup.
Duuuukkkk......
Lagi-lagi pukulannya berhasil mendarat dengan mulus di dadaku.
"Iiissshh......"
Kepalanya kembali terangkat, lalu menatapku dengan wajah kesalnya.
"Bilang pacaran aja susah banget sih?!"
"Iyaa...., aku mau...."
Deeeegggg......
Apakah flashdisk aku sudah berhasil menancapkan flashdisk di tempat yang kuinginkan?, apakah laporanku sudah di ACC?.
Tanpa pikir panjang aku langsung menoleh kearahnya sehingga dia dapat melihat wajah bingungku saat ini.
Tapi itu tidak bertahan lama, aku langsung memasang tatapan remeh untuk menutupi wajah bingungku yang sedari tadi menjadi sumber kekesalannya.
"Eh, bentar mbak.... bentar....."
Tatapan remeh yang baru saja kutunjukkan berhasil membuat wajah kesalnya semakin menjadi-jadi.
"Siapa yang mau ngajak pacaran ih..., pede banget...."
"Tapi kalo mbak emang udah ngebet....., aku mah ayo ayo aja....."
Duuuukkkk...... Duuuukkkk......
Aku langsung beranjak dari dudukku, lalu berlari sekencang-kencangnya untuk menghindari amukan yang sebenarnya didasari oleh cinta.
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk.
"Nathaaaaa!!!!........."
Apa yang terjadi selanjutnya?, aku rasa kalian sudah bisa menebaknya bukan?.
Huuuuuuuhhh.......
Apakah salah jika setelah ini aku menjadi seorang penikmat senja?.
Bagaimana mungkin aku bisa tidak menikmati langit jingga yang saat ini menjadi saksi terbitnya keberanian kami, sedangkan mentari yang saat ini hampir terbenam seluruhnya juga menjadi saksi terbenamnya semua rasa takut yang selama ini selalu menyelimuti kami.
Ya....., senja ini, kami memulai semuanya dari awal, dengan keberanian dan kepercayaan yang sangat menggebu-gebu.
Kami percaya, keberanian itu akan selalu ada jika kami bersama, dan kami juga percaya, semua ketakutan itu tidak akan pernah terjadi jika kami bersatu.
Akhir yang indah bukan?.
Ya..., tapi sayangnya bumi masih berotasi dan berovolusi mengelilingi matahari, dunia masih terus berputar.
Ini bukan akhir, masih banyak momen yang harus kami lewati bersama setelah ini, mungkin akan terus bersama sampai akhir, mungkin juga tidak, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini, biarkan tuhan yang menjawab semua pertanyaan ini dengan sesuatu yang disebut waktu.
Jadi...........
Just let it flow......
Diubah oleh akmal162 31-05-2020 18:59
tariganna dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
