- Beranda
- Stories from the Heart
HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka
...
TS
princebanditt
HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka
![HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka](https://s.kaskus.id/images/2020/05/12/2657924_202005120128450195.png)
Quote:
Keluarga, menurut gue adalah sekelompok orang yang tinggal bersama, mempunyai struktur peran dan jabatan masing masing, ayah, ibu, kakak dan adik.
mempunyai visi dan misi yang sama, saling ketergantungan, saling mengisi, walau kadang ga semudah yang kita pikirkan.
mempunyai visi dan misi yang sama, saling ketergantungan, saling mengisi, walau kadang ga semudah yang kita pikirkan.
Spoiler for Keluarga Kecil:
Quote:
Berbahagialah kalian yang lahir dari keluarga yang harmonis, dipenuhi kebahagiaan, canda tawa, dan kadang suka duka kalian lalui bersama sama, saling menguatkan satu dengan yang lainnya.
Bersyukurlah kalian, karena belom tentu orang lain mendapatkan sebuah keluarga seperti itu.
Bersyukurlah kalian, karena belom tentu orang lain mendapatkan sebuah keluarga seperti itu.
Keluargaku, Neraka Bagiku
Spoiler for Mulustrasi Bree:
Quote:
”plakkk..”suara tamparan keras malam itu.
“ampun pah, maafin mama, aku bener-bener minta maaf..” terdengar suara ibu memohon. “diam kamu!! plakk..” lagi lagi ayah menampar ibu.
malam itu udah kesekian kalinya gue denger bapak gue mukulin ibu gue, ya itu udh biasa gue denger.
mereka sering bertengkar, mulai dari hal yang sepele hingga hal hal besar lainnya.
makin hari makin benci sama keadaan gue yang seperti ini, “kapan gue bisa punya keluarga kayak si wisnu, bapak ibu nya baik, ga pernah gue denger mereka ribut kayak keluarga gue, keluarga mereka penuh dengan kasih sayang, biarpun wisnu bikin salah, mereka gak pernah ngebentak apa lagi mukul si wisnu, gak kaya keluarga gue, Bngst!” cerocos gue dalem hati.
Ga lama pintu kamar gue kebuka, ibu gue dateng sambil nangis, gue liat matanya bengkak sebelah seperti habis dipukuli, bibirnya terluka dan pipinya nampak memar.
“babang belom tidur?”tanyanya, gue cuma liatin ibu gue.
“maafin mama ya bang, mama salah, mama ga bisa ngurusin babang, sampe babang kayak gini” ga lama dia peluk gue.
sebenarnya hari ini gue habis dari rumah wisnu, dia ajak gue sama adek gue berenang dirumahnya, pakai kolam renang karet yang habis dia dapat dari ibunya sebagai hadiah ulang tahun.
gue udah nolak ajakan wisnu berkali-kali, karna gue tau ibu ngelarang gue dan adek gue bermain keluar rumah.
tapi wisnu dan ibunya terus memaksa kami, adek gue juga memohon agar diizinkan, terlihat dimatanya dia pengen ikut berenang dirumah wisnu.
akhirnya, selesai berenang kamipun harus pasrah ibu memukuli kami dengan gesper hari itu. “ampun ma, iya ma kita ga akan ngulangin lagi..” cuma itu yang bisa gue dan adek gue ucapin berharap agar ibu berhenti memukuli kami.
“samanya lo kayak bapak lo, benci gue liat lo berdua” ucap ibu kepada kami, kata kata itu sering kali gue denger klo ibu lagi mukulin gue ataupun adek gue.
mungkin ibu benci sama ayah, dia dendam atau dia sakit hati sehingga kami harus jadi pelampiasan kemarahan ibu.
ga sengaja bapak liat memar biru luka bekas pukulan gesper tadi sore, lalu bertengkarlah mereka seperti yang terjadi sekarang ini.
gue ga tau harus respon gimana, gue udh sering banget denger ibu minta maaf sama gue, tapi lagi-lagi dia ngulangin perbuatan itu, gue dipukulin lagi dan lagi.
“udah habis air mata gue, ga tau ini rasa sayang apa benci yang ada dihati gue.
gue ga bisa lagi ngerasain sakit ataupun sedih liat ibu gue kaya gini” bisik gue didalem hati.
“babang ga marah kan sama mama? mama sebenernya sayang bang sama kamu” ucapnya lagi.
gue ga jawab pertanyaan ibu, gue coba lepasin pelukan ibu dari badan gue, lalu membalikkan badan dan mencoba untuk tidur malam itu.
mungkin ibu tau klo gue masih marah gara gara kejadian tadi sore, ibupun keluar dari kamar gue.
“gue benci sama ibu” cuma itu yang keluar dari mulut gue.
esok harinya, bapak gue udh ga ada dirumah, seperti biasa dia berangkat pagi pagi buta dan pulang malam hari kadang menjelang hampir pagi dia baru pulang, maklum bapak kerja di pemerintahan, dan punya tanggung jawab yang menyita banyak waktunya, jadi dia kurang begitu ngasih perhatian ke gue ataupun adek gue.
ibu gue seharian cuma dirumah, ga kerja karna dilarang ayah, jadi kesibukannya hanya mengurus kami dari bangun tidur sampai kami mau tidur kembali.
itupun klo suasana hatinya lagi baik, klo habis dimarahi dan dipukuli ayah, ibu seharian dikamar tidak mengurus kami.
kami juga dilarang main keluar rumah, ga boleh bawa teman main didalam rumah, kami hanya boleh main berdua dirumah, gue dan adik gue saja.
pernah gue coba buat bertanya alasan kami ga diperbolehkan main diluar rumah, ibu cuma menjawab dengan pukulan dan siksaan lainnya.
keluarga ini seperti neraka, selalu dipenuhi siksaan dan ucapan kasar, menjadi pemandangan dan makanan sehari hari gue.
sampe akhirnya kekerasan itu terekam di pikiran gue.
dan gue lampiasin ke adek gue satu-satunya yang gue sayang.
akhirnya hubungan kami semua hambar, cuek, tidak peduli satu dengan lainnya, dipenuhi ketakutan dan trauma yang mendalam..
gue jadi sering bengong sendiri, berpikir dan bermain dengan teman imajinasi gue.
adek gue pun gitu, gue udah ga peduli dengannya dan dia pun sibuk dengan dunianya sendiri.
ga ada lagi perhatian, kasih sayang dan cinta didalam keluarga ini.
sampai pada suatu hari, ketika bapak dan ibu bertengkar hebat, ibu mempunyai ide untuk membawa kami semua pergi meninggalkan bapak.
entah itu ide baik atau tidak, tapi mulai dari sini, rasa benci dan dendam untuk menyakiti adalah hal yang paling gue cintai dan impi-impikan.
“ampun pah, maafin mama, aku bener-bener minta maaf..” terdengar suara ibu memohon. “diam kamu!! plakk..” lagi lagi ayah menampar ibu.
malam itu udah kesekian kalinya gue denger bapak gue mukulin ibu gue, ya itu udh biasa gue denger.
mereka sering bertengkar, mulai dari hal yang sepele hingga hal hal besar lainnya.
makin hari makin benci sama keadaan gue yang seperti ini, “kapan gue bisa punya keluarga kayak si wisnu, bapak ibu nya baik, ga pernah gue denger mereka ribut kayak keluarga gue, keluarga mereka penuh dengan kasih sayang, biarpun wisnu bikin salah, mereka gak pernah ngebentak apa lagi mukul si wisnu, gak kaya keluarga gue, Bngst!” cerocos gue dalem hati.
Ga lama pintu kamar gue kebuka, ibu gue dateng sambil nangis, gue liat matanya bengkak sebelah seperti habis dipukuli, bibirnya terluka dan pipinya nampak memar.
“babang belom tidur?”tanyanya, gue cuma liatin ibu gue.
“maafin mama ya bang, mama salah, mama ga bisa ngurusin babang, sampe babang kayak gini” ga lama dia peluk gue.
sebenarnya hari ini gue habis dari rumah wisnu, dia ajak gue sama adek gue berenang dirumahnya, pakai kolam renang karet yang habis dia dapat dari ibunya sebagai hadiah ulang tahun.
gue udah nolak ajakan wisnu berkali-kali, karna gue tau ibu ngelarang gue dan adek gue bermain keluar rumah.
tapi wisnu dan ibunya terus memaksa kami, adek gue juga memohon agar diizinkan, terlihat dimatanya dia pengen ikut berenang dirumah wisnu.
akhirnya, selesai berenang kamipun harus pasrah ibu memukuli kami dengan gesper hari itu. “ampun ma, iya ma kita ga akan ngulangin lagi..” cuma itu yang bisa gue dan adek gue ucapin berharap agar ibu berhenti memukuli kami.
“samanya lo kayak bapak lo, benci gue liat lo berdua” ucap ibu kepada kami, kata kata itu sering kali gue denger klo ibu lagi mukulin gue ataupun adek gue.
mungkin ibu benci sama ayah, dia dendam atau dia sakit hati sehingga kami harus jadi pelampiasan kemarahan ibu.
ga sengaja bapak liat memar biru luka bekas pukulan gesper tadi sore, lalu bertengkarlah mereka seperti yang terjadi sekarang ini.
gue ga tau harus respon gimana, gue udh sering banget denger ibu minta maaf sama gue, tapi lagi-lagi dia ngulangin perbuatan itu, gue dipukulin lagi dan lagi.
“udah habis air mata gue, ga tau ini rasa sayang apa benci yang ada dihati gue.
gue ga bisa lagi ngerasain sakit ataupun sedih liat ibu gue kaya gini” bisik gue didalem hati.
“babang ga marah kan sama mama? mama sebenernya sayang bang sama kamu” ucapnya lagi.
gue ga jawab pertanyaan ibu, gue coba lepasin pelukan ibu dari badan gue, lalu membalikkan badan dan mencoba untuk tidur malam itu.
mungkin ibu tau klo gue masih marah gara gara kejadian tadi sore, ibupun keluar dari kamar gue.
“gue benci sama ibu” cuma itu yang keluar dari mulut gue.
esok harinya, bapak gue udh ga ada dirumah, seperti biasa dia berangkat pagi pagi buta dan pulang malam hari kadang menjelang hampir pagi dia baru pulang, maklum bapak kerja di pemerintahan, dan punya tanggung jawab yang menyita banyak waktunya, jadi dia kurang begitu ngasih perhatian ke gue ataupun adek gue.
ibu gue seharian cuma dirumah, ga kerja karna dilarang ayah, jadi kesibukannya hanya mengurus kami dari bangun tidur sampai kami mau tidur kembali.
itupun klo suasana hatinya lagi baik, klo habis dimarahi dan dipukuli ayah, ibu seharian dikamar tidak mengurus kami.
kami juga dilarang main keluar rumah, ga boleh bawa teman main didalam rumah, kami hanya boleh main berdua dirumah, gue dan adik gue saja.
pernah gue coba buat bertanya alasan kami ga diperbolehkan main diluar rumah, ibu cuma menjawab dengan pukulan dan siksaan lainnya.
keluarga ini seperti neraka, selalu dipenuhi siksaan dan ucapan kasar, menjadi pemandangan dan makanan sehari hari gue.
sampe akhirnya kekerasan itu terekam di pikiran gue.
dan gue lampiasin ke adek gue satu-satunya yang gue sayang.
akhirnya hubungan kami semua hambar, cuek, tidak peduli satu dengan lainnya, dipenuhi ketakutan dan trauma yang mendalam..
gue jadi sering bengong sendiri, berpikir dan bermain dengan teman imajinasi gue.
adek gue pun gitu, gue udah ga peduli dengannya dan dia pun sibuk dengan dunianya sendiri.
ga ada lagi perhatian, kasih sayang dan cinta didalam keluarga ini.
sampai pada suatu hari, ketika bapak dan ibu bertengkar hebat, ibu mempunyai ide untuk membawa kami semua pergi meninggalkan bapak.
entah itu ide baik atau tidak, tapi mulai dari sini, rasa benci dan dendam untuk menyakiti adalah hal yang paling gue cintai dan impi-impikan.
Quote:
Spoiler for Mulustrasi Bree:
Karna kekerasan akan menimbulkan trauma dan membangun kekerasan yang lainnya.
Spoiler for Ratenya GanSis:
Selamat Membaca
Penulis : Prince’s 2011-2020@Kaskus
Ilustrasi : Google
Klik disini Gan/Sis Untuk Support dan Donasi
Penulis : Prince’s 2011-2020@Kaskus
Ilustrasi : Google
Klik disini Gan/Sis Untuk Support dan Donasi
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
UPDATE BERJALAN..
BAB 1, BAB 2, BAB 3, BAB 4, BAB 5, BAB 6, BAB 7, BAB 8, BAB 9, BAB 10, BAB 11, BAB 12, BAB 13, BAB 14, BAB 15
Spoiler for Kunjungi Thread Lainnya,:
HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian MerekaHot Thread
HORROR [Real Story] Akhir Dari Persugihan Gunung Hejo
HORROR [Real Story] Pendakian Berujung Kematian Hot Thread
CERPEN [Real Story] Terima Kasih, Cinta!
Lakukan Meditasi agar tidak Menyakiti Orang Lain
[SHARE] Meditasi Basic Normal
HORROR [Real Story] Akhir Dari Persugihan Gunung Hejo
HORROR [Real Story] Pendakian Berujung Kematian Hot Thread
CERPEN [Real Story] Terima Kasih, Cinta!
Lakukan Meditasi agar tidak Menyakiti Orang Lain
[SHARE] Meditasi Basic Normal
Bersambung
![HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka](https://s.kaskus.id/images/2020/05/12/2657924_202005120127520747.png)
Diubah oleh princebanditt 25-01-2021 19:10
itkgid dan 139 lainnya memberi reputasi
138
102.7K
Kutip
608
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
princebanditt
#137
BAB XI HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka
Quote:
Akhirnya gue pergi meninggalkan Masjid tempat gue ketiduran tadi.
“Apa yang harus gue pelajarin sih?” gerutu gue sambil menendang angin kosong
“Gimana caranya Kakek itu bawa gue terbang? trus bisa dateng lagi dihari kejadian gue didapur sama Yusuf” masih terus membatin. “Sedangkan gue kenal sama itu Kakek aja engga! tapi dia sering banget dateng ke gue”.
“Trus Mirna dan Murni, mereka itu siapa? kenapa banyak banget yang ngusik hidup gue” tanya gue dalem hati lalu memasuki kamar gue.
Gue perhatikan satu-satu para santri yang masih terlelap malam itu.
“Pasti enak jadi mereka ya, bisa hidup dengan santai, ga di bully, ga dibuang orang tuanya, punya banyak temen, mereka bisa terlelap seperti ga ada beban sama sekali. Beda banget sama gue, di bully, dikucilkan, dihina, dianggep aneh, sendirian ga punya temen, dan selalu di temanin oleh mahluk aneh disekitar gue!.
Klo emang hidup gue cuma jadi bahan ejekan orang! kenapa gue dikasih hidup? Kenapa Tuhan pilih kasih? mana yang katanya Tuhan Penyayang? diwaktu gue diganggu orang, kenapa Tuhan diam aja? itu yang dinamakan Penyayang??!! Tuhan Ga Adil!” ga sengaja kejadian itu malah mengingatkan gue tentang semua hal yang udah gue jalanin selama ini.
merasakan lagi luka yang pernah gue rasain dari kecil, dan itu semakin membuat gue dendam kepada Ibu!
“Ibu yang menyebabkan gue jadi seperti ini, Ibu juga yang udah misahin gue sama Ayah!
Ibu ngebuang gue jauh kesini biar gue ga bisa nyari Ayah lagi, Itu kan sosok Ibu? pantas wanita seperti itu disebut Ibu?!
klo bisa milih ga bakal mau gue lahir dari rahim wanita seperti itu, Ibu Sialan!” gue terus mengutuk Ibu dengan air mata bercucuran. Dengan air mata ini gue terus menyemangati diri gue sendiri, sewaktu saat gue pasti ngebalas semua perbuatan Ibu dan orang-orang yang telah menyepelekan gue, itu janji gue!
Gue menyeka kasar air mata dengan tangan, dengan tatapan penuh dendam gue inget jelas wajah Ibu yang udah ngebuang gue kesini!
lalu gue berjalan ke arah kasur gue, dengan segenap perasaan kecewa dan sakit hati gue terus membayangkan tiap perbuatan Ibu kepada gue.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Murni terdengan mendesis geram
“Siapa yang berani menyakiti kamu?” Mirna menimpali dengan nada tinggi.
Hawa dikamar gue berubah, dari yang tadinya adem oleh semilir angin malam yang berhembus tenang, lalu berubah menjadi panas memenuhi ruangan kamar gue. Hawa itu seakan mengikuti perasaan hati gue semakin pula gue ngerasa dendam gue memenuhi dada seakan ingin meledak keluar. Malam itu menjadi mencekam dan keinginan untuk membunuh terlintas di otak gue untuk pertama kalinya.
Sesuatu seperti mengarahkan gue untuk melampiaskan dendam yang sudah lama gue simpan. “Gue gpp kok” jawab gue dingin kepada mereka.
“Kamu kenapa?” tanya mereka berdua.
“PERGI LO SANA!!! NGAPAIN LO MAU DEKET SAMA GUE?? LO SIAPA?? LO CUMA BIKIN GUE KELIATAN MAKIN ANEH DIDEPAN ORANG LAIN, GUE BENCI LO SEMUA!!!” bentak gue didalem hati, itu ngebikin badan gue bergetar menahan kesal.
Hawa kamar gue balik normal, dan gue ga denger lagi jawaban dari mereka berdua. Mungkin pergi denger gue teriak kesal. “Maafin gue..” batin gue lirih. Dan malam itu gue tertidur setelah capek menangis dan berpikir.
“Kak, kok Aryo marah sama kita?” tanya Murni kepada Kakaknya.
“Aryo bukan marah sama kita Dek, dia benci jadi bahan ejekan orang lain” jawab Mirna kepada Adiknya.
“Aku ga tega liatnya Kak, aku seperti merasakan sesuatu melihat Aryo tersiksa seperti itu.” Ucap Adiknya.
“Kita harus menjaganya, jangan sampai dia menangis lagi seperti itu, itu yang kamu mau kan Adikku Sayang?” tanya Mirna sambil tertawa melengking.
“Iya Kakak, aku suka Aryo. Aku ingin terus menjaganya!” jawabnya dengan nada penuh kemarahan. Lalu perlahan tubuh besar mengerikannya perlahan berubah menjadi seorang gadis kecil, rambut tergerai indah, yang memegang sebuah boneka lengkap dengan setelah panjang berwarna hitam dan putih.
Ialah sosok pertama kali yang dilihat Aryo waktu itu, yang melambai dan tersenyum menatap Aryo.
Murni telah jatuh hati sejak pertama melihatnya, dan dia mencoba untuk menjaganya hingga saat ini.
Adzan Subuh berkumandang.
Suaranya membuat Santri yang jaga malam bergegas memasuki kamar para santri. adalah kewajibannya untuk membangunkan santri agar tidak terlambat untuk Sholat Subuh berjamaah.
Para santri mulai terbangun dan saling membangunkan satu sama lain.
“Udah Aryo ga usah dibangunin”
“Iya biarin aja, biar dia disiram nanti pagi”
“Biar malu itu Anak Dukun!”
“Kan lumayan ada hiburan liat dia dimandiin didepan Santriwati hihi”
“Hustt!! udah jangan berisik nanti dia bangun”
“Ayo berangkat keburu telat, matiin aja lampunya biar ga keliatan dia masih tidur”
Lalu mereka semua pergi kemasjid.
“Bangun Aryo!!! mereka mengerjaimu!!” teriak Mirna dan Murni dari kejauhan terdengar sayup-sayup.
“Apa yang harus gue pelajarin sih?” gerutu gue sambil menendang angin kosong
“Gimana caranya Kakek itu bawa gue terbang? trus bisa dateng lagi dihari kejadian gue didapur sama Yusuf” masih terus membatin. “Sedangkan gue kenal sama itu Kakek aja engga! tapi dia sering banget dateng ke gue”.
“Trus Mirna dan Murni, mereka itu siapa? kenapa banyak banget yang ngusik hidup gue” tanya gue dalem hati lalu memasuki kamar gue.
Gue perhatikan satu-satu para santri yang masih terlelap malam itu.
“Pasti enak jadi mereka ya, bisa hidup dengan santai, ga di bully, ga dibuang orang tuanya, punya banyak temen, mereka bisa terlelap seperti ga ada beban sama sekali. Beda banget sama gue, di bully, dikucilkan, dihina, dianggep aneh, sendirian ga punya temen, dan selalu di temanin oleh mahluk aneh disekitar gue!.
Klo emang hidup gue cuma jadi bahan ejekan orang! kenapa gue dikasih hidup? Kenapa Tuhan pilih kasih? mana yang katanya Tuhan Penyayang? diwaktu gue diganggu orang, kenapa Tuhan diam aja? itu yang dinamakan Penyayang??!! Tuhan Ga Adil!” ga sengaja kejadian itu malah mengingatkan gue tentang semua hal yang udah gue jalanin selama ini.
merasakan lagi luka yang pernah gue rasain dari kecil, dan itu semakin membuat gue dendam kepada Ibu!
“Ibu yang menyebabkan gue jadi seperti ini, Ibu juga yang udah misahin gue sama Ayah!
Ibu ngebuang gue jauh kesini biar gue ga bisa nyari Ayah lagi, Itu kan sosok Ibu? pantas wanita seperti itu disebut Ibu?!
klo bisa milih ga bakal mau gue lahir dari rahim wanita seperti itu, Ibu Sialan!” gue terus mengutuk Ibu dengan air mata bercucuran. Dengan air mata ini gue terus menyemangati diri gue sendiri, sewaktu saat gue pasti ngebalas semua perbuatan Ibu dan orang-orang yang telah menyepelekan gue, itu janji gue!
Gue menyeka kasar air mata dengan tangan, dengan tatapan penuh dendam gue inget jelas wajah Ibu yang udah ngebuang gue kesini!
lalu gue berjalan ke arah kasur gue, dengan segenap perasaan kecewa dan sakit hati gue terus membayangkan tiap perbuatan Ibu kepada gue.
“Kamu kenapa menangis?” tanya Murni terdengan mendesis geram
“Siapa yang berani menyakiti kamu?” Mirna menimpali dengan nada tinggi.
Hawa dikamar gue berubah, dari yang tadinya adem oleh semilir angin malam yang berhembus tenang, lalu berubah menjadi panas memenuhi ruangan kamar gue. Hawa itu seakan mengikuti perasaan hati gue semakin pula gue ngerasa dendam gue memenuhi dada seakan ingin meledak keluar. Malam itu menjadi mencekam dan keinginan untuk membunuh terlintas di otak gue untuk pertama kalinya.
Sesuatu seperti mengarahkan gue untuk melampiaskan dendam yang sudah lama gue simpan. “Gue gpp kok” jawab gue dingin kepada mereka.
“Kamu kenapa?” tanya mereka berdua.
“PERGI LO SANA!!! NGAPAIN LO MAU DEKET SAMA GUE?? LO SIAPA?? LO CUMA BIKIN GUE KELIATAN MAKIN ANEH DIDEPAN ORANG LAIN, GUE BENCI LO SEMUA!!!” bentak gue didalem hati, itu ngebikin badan gue bergetar menahan kesal.
Hawa kamar gue balik normal, dan gue ga denger lagi jawaban dari mereka berdua. Mungkin pergi denger gue teriak kesal. “Maafin gue..” batin gue lirih. Dan malam itu gue tertidur setelah capek menangis dan berpikir.
“Kak, kok Aryo marah sama kita?” tanya Murni kepada Kakaknya.
“Aryo bukan marah sama kita Dek, dia benci jadi bahan ejekan orang lain” jawab Mirna kepada Adiknya.
“Aku ga tega liatnya Kak, aku seperti merasakan sesuatu melihat Aryo tersiksa seperti itu.” Ucap Adiknya.
“Kita harus menjaganya, jangan sampai dia menangis lagi seperti itu, itu yang kamu mau kan Adikku Sayang?” tanya Mirna sambil tertawa melengking.
“Iya Kakak, aku suka Aryo. Aku ingin terus menjaganya!” jawabnya dengan nada penuh kemarahan. Lalu perlahan tubuh besar mengerikannya perlahan berubah menjadi seorang gadis kecil, rambut tergerai indah, yang memegang sebuah boneka lengkap dengan setelah panjang berwarna hitam dan putih.
Ialah sosok pertama kali yang dilihat Aryo waktu itu, yang melambai dan tersenyum menatap Aryo.
Murni telah jatuh hati sejak pertama melihatnya, dan dia mencoba untuk menjaganya hingga saat ini.
Adzan Subuh berkumandang.
Suaranya membuat Santri yang jaga malam bergegas memasuki kamar para santri. adalah kewajibannya untuk membangunkan santri agar tidak terlambat untuk Sholat Subuh berjamaah.
Para santri mulai terbangun dan saling membangunkan satu sama lain.
“Udah Aryo ga usah dibangunin”
“Iya biarin aja, biar dia disiram nanti pagi”
“Biar malu itu Anak Dukun!”
“Kan lumayan ada hiburan liat dia dimandiin didepan Santriwati hihi”
“Hustt!! udah jangan berisik nanti dia bangun”
“Ayo berangkat keburu telat, matiin aja lampunya biar ga keliatan dia masih tidur”
Lalu mereka semua pergi kemasjid.
“Bangun Aryo!!! mereka mengerjaimu!!” teriak Mirna dan Murni dari kejauhan terdengar sayup-sayup.
Bersambung..

Diubah oleh princebanditt 12-06-2020 17:52
itkgid dan 28 lainnya memberi reputasi
29
Kutip
Balas
![HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka](https://s.kaskus.id/images/2020/05/11/2657924_202005111152490556.png)
![HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka](https://s.kaskus.id/images/2020/05/12/2657924_202005121201040685.png)
![HORROR [Real Story] Ketika Tangisan Ibuku, Menjadi Kematian Mereka](https://s.kaskus.id/images/2020/05/12/2657924_202005120130320424.png)