- Beranda
- Berita dan Politik
5 Tahun Jadi Mualaf, Penampilan Menantu Jokowi Curi Perhatian Saat Lebaran
...
TS
auto.debus666
5 Tahun Jadi Mualaf, Penampilan Menantu Jokowi Curi Perhatian Saat Lebaran

Keluarga Gibran Rakabuming Raka
GridHype.ID - Jadi menantu orang nomor satu di Indonesia pasti sangat diidam-idamkan oleh sebagaian orang.
Seperti Selvi Ananda yang beruntung menjadi menantu presiden yaitu Selvi Ananda.
Selvi Ananda merupakan menantu pertama Presiden Jokowi, yang resmi menikah dengan putra pertamanya, Gibran Rakabuming Raka.
Bergabung menjadi bagian keluarga Presiden tentunya tak luput dari sorotan publik.
Seperti diketahui, sebelum dinikahi Gibran Rakabuming Raka pada 11 Juni 2015, sosok Selvi Ananda tak begitu dikenal publik.
Namun jangan salah, Selvi Ananda sempat memenangi ajang Putri Solo pada tahun 2009 silam.
Kesempatan tersebut membuatnya menjadi dikenal oleh banyak orang.
Bahkan bisa memikat hati seorang Gibran Rakabuming yang terlihat sangat pendiam.
Untuk bisa bersanding dengan Gibran, Selvi harus menempuh jalan yang tak mudah.
Ya, wanita kelahiran Solo, 9 Januari 1989 ini harus rela berpindah agama untuk bisa bersanding dengan anak sulung Presiden Jokowi.
Kabar Selvi pindah agama itu juga dibenarkan oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Banjarsari, Muchtaroji.
Melansir laman GridHot.ID, Muchtaroji mengungkapkan jika pada berkas pernikahan Selvi Ananda, terdapat surat pernyataan pindah agama.
Meski di awal pernikahan, Selvi harus rela digunjingkan, nyatanya kehidupannya dengan Gibran kini justru adem ayem, bersama dua buah hatinya.
Sosok Selvi Ananda ini juga dikenal sangat sederhana dan jauh dari kesan glamor, meski sekarang dipersunting seorang pengusaha.
Potret kesederhanaan Selvi ini beberapa kali terekspos oleh media.
Baru-baru ini, penampilan sederhana Selvi membuat publik berdecak kagum.
Bagaimana tidak? Di momen hari raya Idul Fitri ini, Selvi tampil sangat sederhana dengan mengenakan dress brukat warna kuning, kompak dengan sang adik.

Penampilan Selvi Ananda dan keluarganya saat rayakan Idul Fitri
Potret tersebut dibagikan oleh akun Instagram penggemar @janethes_story pada Senin (25/5/2020) kemarin.
Ibu dua anak ini bahkan tak terlihat mengenakan aksesoris maupun perhiasan yang mencolok.
Ia juga rela tak memakai alas kaki saat berada di rumah sang ibu.
Tak hanya Selvi, sang ibu dan juga adiknya juga tampil sangat sederhana di perayaan Idul Fitri tahun ini.
Sementara itu, Gibran terlihat sangat sederhana dengan mengenakan baju koko warna abu-abu serta celana panjang warna hitam.
Publik pun memuji kesederhanaan Selvi dan keluarganya itu.
"Sederhana amat gk pk sendal," komentar @kuchingpemalu.
source: https://hype.grid.id/amp/432169508/5...uarga?page=all
luar biasa
areszzjay dan 4 lainnya memberi reputasi
3
5.3K
73
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
692.3KThread•57.4KAnggota
Tampilkan semua post
istri.pedopil
#6
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
https://tirto.id/efSK
Ely sesenggukan mengisahkan ibunya yang sakit, “Kasihan Nenek. Umurnya mungkin enggak lama lagi tapi dia harus ngalamin ini.”
Ibunya, yang ia panggil Nenek, berusia 80 tahun. Dua tahun terakhir Nenek sakit-sakitan. Kepayahan berjalan. Kakinya ngilu. Pinggangnya nyeri. Beberapa kali masuk rumah sakit, dokter cuma bilang penyakitnya adalah penyakit orang tua.
Nenek memutuskan tinggal bersama Ely, anak bungsunya. Nenek menjual rumahnya karena enggan tinggal sendiri dan kesepian. Membagi hasil penjualan rumah-memuat-kenangan-lebih-dari-50-tahun kepada empat anaknya, menyisihkan sedikit untuk disimpan—jaga-jaga buat pesta pemakaman.
Ely menyambut Nenek dengan gembira, betapapun keputusan itu jauh lebih kompleks dari kelihatannya.
Pertama, ia harus minta izin suaminya—dan ini bukan perkara mudah. Nenek dan suami Ely tidak terlalu akur meski mereka terlihat bertegur sapa saat tinggal di satu atap.
Kedua, Nenek beragama Kristen, sementara Ely dan keluarganya beragama Islam. Ini perkara lebih kompleks. Selain kepada suami, Ely harus mengantongi izin tiga saudara kandungnya yang beragama Kristen. Singkat cerita, Nenek tinggal bersama Ely selama enam-tujuh bulan, sebelum konflik itu datang.
Ely cekcok dengan suaminya. Sang suami yang religius merasa risih dengan mertua beda agama. “Mungkin dia juga masih dendam karena pada awal-awal pernikahan kami sering dapat perlakuan enggak enak dari Nenek,” kata Ely.
Nenek yang tahu diri akhirnya pamit ke rumah abang Ely.
Sayangnya, hubungan Ely buruk dengan abangnya. Jadi, ia cuma beberapa kali mengunjungi Nenek terutama ketika ibunya dibawa ke rumah saudaranya yang lain.
Sejak memutuskan pindah agama pada usia 20 tahun, dan sebentar lagi merayakan usia ke-49 pada tahun ini, perjalanan spiritual Ely bukanlah bak jalan tol yang mulus melainkan seperti air laut—bergelombang; pasang dan surut.
Sebelum masuk Islam dan menikah, Ely kabur dari rumah, dua tahun tak pernah bertemu Nenek sampai anaknya pertama Ely berusia enam bulan.
Meski akhirnya berbaikan, permasalahan beda agama sering memantik konflik. Pada awal-awal pernikahan, suaminya melarang Ely berlama-lama jika bertandang ke rumah Nenek. “Enggak baik. Kita sudah beda agama. Nanti ibadahmu susah, makanmu juga mesti dijaga,” kata Ely, mengulangi nasihat suaminya bak doktrin bertahun-tahun.
Konflik itu tak cuma antara Ely dan orang terdekatnya tapi dengan batin sendiri. Satu dekade kemudian, anak sulungnya pernah menemukan Ely pingsan sehabis salat magrib. Ely selalu menangis sampai lemas, tak sadarkan diri, bingung bagaimana mendoakan mendiang ayahnya yang baru saja meninggal.
Ayah mertua Ely yang seorang muslim pernah berkata doa seorang muslim tak akan sampai kepada orang selain Islam.
Ely gelisah. Sulit membayangkan ayahnya yang Kristen akan diperlakukan sebagaimana keyakinannya yang baru memperlakukan orang selain Islam. Ely meyakini ayahnya orang baik. “Dia pendiam, enggak pernah marah. Orang paling lemah lembut,” kata Ely.
Secara spiritual, ia meyakini janji-janji Allah dalam Alquran dan, demi menenangkan diri, ia percaya Tuhan itu Mahabaik.
Kegundahan spiritual itu lama dipendamnya. Ia takut bertanya kepada ustaz atau ustazah karena cemas mendengar jawaban yang tak ingin didengarnya. Maka, diam-diam, ia meyakini “Tuhan itu Mahabaik.” Menyerahkan urusan sampai-atau-tidaknya doa yang ia panjatkan untuk mendiang ayahnya kepada Tuhan semata.
bisa membantah dalilnya yg merah2 itu ?

0
Tutup






