- Beranda
- Stories from the Heart
HOROR STORY : ANGKERNYA TEGAL SALAHAN
...
TS
indrag057
HOROR STORY : ANGKERNYA TEGAL SALAHAN

Hai agan dan sista penghuni jagad kaskus tercinta dimanapun berada, ijinkan ane yang masih newbie ini kembali berbagi sedikit cerita, semoga berkenan di hati agan dan sista semua.
Di kesempatan ini ane akan coba menceritakan kejadian kejadian yang pernah terjadi di desa ane, saat ane masih kecil dan tinggal di desa. Sebut saja desa Kedhungjati, sebuah desa terpencil yang masih sarat dengan adat istiadat dan kepercayaan yang berbau sakral dan mistis.
Banyak tempat tempat yang masih dianggap sakral dan angker, salah satunya tempat bernama Tegal Salahan. Kawasan ini merupakan jalan desa yang menghubungkan desa ane dengan desa Kedhungsono, yang berada di sebelah selatan desa ane.
Jalan berbatu yang dari arah desa ane menurun tajam, lalu menanjak terjal saat mendekati desa Kedhungsono. Di kiri kanan jalan diapit oleh area persawahan dan tanah tegalan milik para penduduk setempat. Dan ditengah tanjakan dan turunan itu ada jembatan kecil atau biasa disebut bok, tempat dimana mengalir sebuah sungai kecil yang mengalir dari arah barat ke timur.
Di jembatan atau bok inilah yang dipercaya menjadi pusat sarangnya segala macam lelembut, meski di area persawahan, tanah tegalan, dan sungai kecil juga tak kalah angker.
Sudah tak terhitung warga desa ane ataupun desa desa yang lain menjadi korban keisengan makhluk makhluk penghuni tempat tersebut, dari yang sekedar ditakut takutin bahkan sampai ada yang kehilangan nyawa.
Dan kisah kisah itulah yang akan ane coba ceritakan disini. Berhubung ini merupakan kejadian nyata dan menyangkut privacy banyak orang, maka semua nama dan tempat kejadian akan ane samarkan.
Ane juga mohon maaf kalau ada pihak pihak yang merasa tersinggung dengan thread yang ane buat ini. Disini ane murni ingin berbagi cerita, bukan bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.
Terakhir, berhubung ane masih newbie, dan update menggunakan perangkat yang sangat sangat sederhana, ane mohon maaf kalau dalam penulisan, penyusunan kalimat, dan penyampaian cerita yang masih berantakan dan banyak kekurangan. Ane juga belum bisa menyusun indeks cerita, jadi kisah kisah selanjutnya akan ane lanjutkan di kolom komentar, part demi part, karena ceritanya lumayan banyak dan panjang. Jadi mohon dimaklumi.
OK, tanpa banyak basa basi lagi mari kita simak bersama kisahnya.
INDEX:
Part 1 :Glundhung Pringis njaluk Gendhong
Part 2 :Jenglot njaluk Tumbal
Part 3 :Yatmiiiiiiiiiii Balekno Matane Anakku
Part 4 :Wewe Gombel
Part 5 :Nonton Wayang
Part 6 :Dikeloni Wewe Gombel
Sedikit sisipan:Asal Mula Nama Salahan
Part 7 :Watu Jaran
Part 8 :Sang Pertapa
Part 9 :Mbah Boghing
Part 10 :Wedhon
Part 11 :Ronda Malam dan Macan Nggendhong Mayit
Part 12 :Maling Bingung
Part 13 :Si Temon
Part 14 :Thethek'an
Part 15 :Kemamang dan Perempuan Gantung Diri
Part 16 :Tumbal Pembangunan Jalan Desa
Penutup
Diubah oleh indrag057 10-06-2020 03:54
adriantz dan 91 lainnya memberi reputasi
92
66.7K
368
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
indrag057
#84
Part 9 : Mbah Boghing
Musim kemarau panjang, merupakan musim paceklik bagi para petani. Begitu juga yang dirasakan oleh warga desa Kedhungjati, yang sebagian besar warganya adalah petani.
Tak ada lagi yang bisa diharapkan di musim paceklik ini. Yang punya ternak mulai menjual ternaknya. Pohon pohon yang tumbuh di kebun atau ladang pun tak luput menjadi korban. Yang kira kira sudah besar dan laku dijual, mulai ditebang dijadikan uang.
Yang masih punya simpanan beras atau gabah mulai mengiritnya. Nasi tiwul menjadi pilihan. Umbi umbian yang masih tersisa di ladang dan sekiranya bisa dimakan pun menjadi buruan.
Yang sama sekali tak punya simpanan, mau nggak mau menjadi korban lintah darat. Surat tanah menjadi jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari rentenir rentenir yang haus darah, dengan bunga yang mencekik leher.
Kehidupan di desa yang biasa adem ayem mulai sedikit terusik. Pertengkaran pertengkaran kecil dalam keluarga mulai sering terjadi. Kadang hanya karena masalah sepele bisa menyulut terjadinya perang baratayuda. Memang kalau sudah menyangkut urusan perut, akal sehatpun kadang bisa hilang.
Seperti yang terjadi pada keluarga Kang Darso pagi itu. Yu Marni, istrinya, mengomel panjang pendek di dapur sambil sibuk di depan tungku. Hanya beberapa umbi singkong yang bisa direbusnya untuk menyambung hidup sehari ini. Entah besok mereka masih bisa makan atau tidak.
"Dadi wong lanang ki mbok yo sing sumbut. Ora isuk isuk mung ongkang ongkang ngombe wedang karo udud klepas klepus koyo sepur kompeni. Mikir, bayaran sekolah anake rung dibayar, beras entek, gaplek entek, sembarang kalir entek, opo kelakon mangan watu tenan sesuk nek sampeyan terus terusan koyo ngono pak," pedas dan menusuk kata kata Yu Marni, membuat Kang Darso terbatuk, tersedak asap rokok tingwe yang dihisapnya.
"Yo sabar to bune, arep kepiye maneh, jane usaha yo wes ora kurang. Arep nenandur yo ora iso. Wong larang banyu. Arep buruh yo buruh opo, wong sawah sawah yo podho garing, ra enek wong mburuhne. Kamangka isoku yo mung buruh macul" Kang Darso menjawab kalem. Ia tau betul perangai sang istri. Jika emosi ditanggapi dengan emosi, wah, bisa jadi perang besar. Bisa bisa panci dan penggorengan mendarat di kepala.
"Sabar, sabar. Sabar ra kenek dipangan Pak. Mbok yo metu metu kono lho, golek opo to opo sing kenek nggo nyambung urip. Ora mung kluntrak kluntruk koyo pitik pangan tethelo ngono kuwi."
"Iyo, mengko tak nyoba metu," Kang Darso menyecap sisa teh tanpa gula di cangkir kalengnya. "Opo anu bune, sesok wedhuse kae dilongi wae, sesuk rak kliwon to, sing loro gowo nyang pasar, dijolke dhuwit. Rak kenek nggo bayaran sekolahe Supri to? turahane kenek nggo nempur beras"
"Sak karepmu Pak, wedhus wedhusmu kuwi. Nek arep mbok dol yo dolen"
Yo wes, aku tak menyang tegal ndisik. Sopo ngerti nyandhung rejeki neng ndalan" Kang Darso mengambil arit dan caping yang tersangkut di dinding anyaman bambu.
"Ora sarapan sek Pak, ki lho sedhelok maneh mateng."
"Rak, mengko wae. Wes wareg aku ngrungokne suaramu sak kesuk njeput" Kang Darso ngeloyor pergi, meninggalkan sang istri yang masih cemberut.
Supri yang menyaksikan drama kedua orang tuanya pagi itu hanya bisa mendesah. Ingin rasanya ia ikut meringankan beban kedua orang tuanya. Tapi apa yang bisa dilakukan anak usia sebelas tahun seperti dirinya? Ia justru malah merasa menjadi beban bagi simbok dan bapaknya.
******
Siang hari, sepulang sekolah Supri pamit untuk menggembalakan kambing, sambil mau mencari kayu bakar katanya. Supri memang terkenal anak yang rajin. Tanpa harus diperintah ia sudah tau apa yang harus dikerjakan untuk meringankan pekerjaan orang tuanya.
"Mau ngangon di mana Pri? Masih panas gini lho. Mbok ya nanti nanti saja agak sorean," kata Kang Darso yang sedang asyik meracik rokok tingwe, sambil mendengarkan uyon uyon dari radio transistornya.
"Ke pinggir kali Salahan saja pak, yang masih banyak rumputnya. Kalau terlalu sore nanti ndak kenyang kambingnya." jawab Supri sambil melangkah ke arah kandang.
"Yo wes, ati ati yo, jangan terlalu ke hulu ngangonnya, di sana banyak ularnya"
"Nggih Pak," Supri pun segera menggiring keempat ekor kambingnya, sambil membawa arit dan botol berisi air minum.
Tak ada firasat apapun yang dirasakan Kang Darso. Sampe sore harinya, menjelang maghrib, keempat ekor kambingnya pulang sendiri, tanpa sang penggembala. Kemana gerangan Supri? Tak biasanya anak itu teledor begini.
Kang Darso berinisiatif untuk menyusul anaknya itu. Mungkin dia keberatan membawa kayu bakarnya. Kang Darso berusaha berfikir positif, sambil menyusuri pematang di pinggir kali. Sampai iya menemukan seikat kayu bakar, lengkap dengan arit dan caping, serta botol air minum milik Supri.
Beberapa kali ia berteriak memanggil sang anak, namun hanya dijawab oleh gaung suaranya sendiri. Kang Darso mulai was was. Apalagi hari mulai menjelang malam.
Segera ia kembali ke desa dengan setengah berlari. Yakin telah terjadi sesuatu dengan sang anak, ia segera mengajak beberapa orang tetangga untuk membantu mencari. Dan pencarianpun dimulai.
"Blug.....blug....thing...., blug....blug.....thing...."
"Mbok Wewe.... Mbok Wewe...., balekno si jabang bocahe Supri...."
******
Sementara itu sebelumnya, menjelang maghrib di Tegal Salahan. Supri mulai membereskan dan mengikat kayu bakar yang berhasil dikumpulkannya. Lumayan banyak. Sesekali ia melirik ke arah kali, dimana sejak tadi terlihat seorang nenek sedang mencuci.
Nenek itu juga sudah selesai mencuci, dan bersiap untuk pulang. Namun ia sepertinya agak kepayahan membawa dua ember berisi cucian basah yang nampak berat.
Timbul rasa kasihan di hati Supri. Ia pun mendekati sang nenek dan menawarkan bantuan. Meski awalnya si nenek menolak, toh akhirnya kedua ember itu telah berpindah ke tangan Supri. Sedang sang nenek hanya mengekor di belakangnya.
Ya, Supri berniat mengantarkan si nenek sampai ke rumahnya. Soal kambing kambingnya, tak perlu dikhawatirkan. Mereka sudah hafal jalan pulang. Dan tanpa di giring pun kambing kambing itu akan segera pulang dengan sendirinya begitu adzan maghrib terdengar.
Nenek yang mengaku bernama mBah Boghing itu ternyata warga Kedhungsono. Rumahnya tak begitu jauh dari Tegal Salahan.
Sampai di rumah sang nenek, kembali rasa kasihan hinggap di hati Supri. Rumah si nenek keadaanya sangat memprihatinkan. Rumah kecil yang kesemuanya terbuat dari bambu itu sudah terlihat usang, miring dan hampir roboh. Lebih pantas untuk disebut gubuk daripada rumah. Ah, ternyata masih ada orang yang lebih miskin dari keluargaku, batin Supri.
Setelah meletakkan ember cucian di teras rumah si nenek, Supri pun pamit pulang. Si nenek sempat menawarkan segelas air dan beberapa singkong rebus. Namun dengan halus Supri menolak. Hari hampir menjelang maghrib. Kalau tidak segera pulang, bisa habis dia kena omelan simboknya yang galaknya naudzubillah.
Akhirnya, sebagai rasa terimakasih, si nenek memberikan sepotong kunyit kepada Supri. Ah, apalagi ini, buat apa kunyit sepotong begini, batin Supri. Namun untuk menyenangkan hati sang nenek, supripun menerima kunyit itu dan memasukkannya ke dalam saku celana.
Akhirnya, sambil bersiul siul kecil Supri meninggalkan rumah si nenek. Ada sedikit rasa bahagia menyelusup dalam hatinya, bisa sedikit membantu sesama.
Sampai di pinggir kali Salahan, Supri sedikit terkejut. Kayu bakar yang tadi diikatnya sudah tak ada. Arit, caping, dan botol air minumnya juga ikut raib. Apa mungkin dicuri orang? Tapi siapa yang kurang kerjaan mencuri kayu bakar? Di musim kemarau begini mustahil rasanya orang sampai mencuri hanya untuk mendapatkan seikat kayu bakar.
Ah, sudahlah. Besok saja aku cari, batin Supri. Hari semakin gelap, tak baik berlama lama di tempat ini. Supri kembali melangkah menuju ke arah jalan pulang.
*******
Sementara di desa Kedhungjati, kabar menghilangnya Supri segera menyebar. Pencarian terus dilakukan. Sehari, dua hari, sampai hari ke tujuh pencarian tak juga membuahkan hasil. Orang orang pun mulai menyerah. Kang Darso dan Yu Marni juga pasrah. Menurut kepercayaan setempat, jika sampai hari ke tujuh anak yang hilang di gondhol wewe gombel tak ditemukan, maka sudah dipastikan anak tersebut akan hilang selamanya.
Supri pun dianggap sudah mati. Warga sepakat mengadakan pengajian untuk mendoakannya. Ba'da isya', orang orang berkumpul di rumah Kang Darso. Dipimpin oleh Pak Modin, pengajian pun dimulai, diiringi suara tangisan Yu Marni yang seolah tiada henti.
Supri yang baru pulang dari rumah mBah Boghing, tersentak mendengar suara pengajian dari arah rumahnya. Siapa yang meninggal? Simbok? Bapak? Ah, tidak mungkin. Tapi....
"Bapaaaaaaaakkkkkkkk............, Simboooooookkkkkkkk...........," tangis Supri pun pecah, diiringi jeritan panjang bocah itu berlari menerobos masuk ke dalam rumah.
Semua orang yang hadir tersentak kaget. Yu Marni segera menghambur memeluk dan menciumi sang anak. Kang Darso bersujud mengucap syukur. Pak Modin pun sejenak menghentikan pengajiannya.
Supri pun ditanggap, kemana saja selama tujuh hari pergi tanpa pamit. Supri kaget. Dia merasa hanya pergi sebentar, tak sampai setengah jam ke rumah mBah Boghing. Kenapa orang orang bilang sampai tujuh hari?
Mendengar nama mBah Boghing disebut, terhenyaklah semua yang hadir di situ. Siapa yang tak kenal nama itu, nama lain dari Wewe Gombel penghuni Tegal Salahan.
Dengan sigap Pak Modin segera mengambil tindakan. Setelah membaca doa doa, ditelitinya sekujur tubuh Supri. Tak ada luka sedikitpun. Aman, pikir Pak Modin. Lalu Pak Modin bertanya apakah disana Supri di kasih makan atau minum? Supri menggeleng. Memang ia ditawari minum dan singkong rebus. Tapi ia menolak.
Pak Modin tersenyum. Bagus, katanya. Kalau sampai Supri disana sempat makan atau minum, pasti anak itu tak akan pernah kembali.
Supri pun ingat dengan potongan kunyit sebesar ibu jari yang diberikan oleh si nenek, dan menunjukkannya ke Pak Modin. Tapi anehnya, bukan kunyit yang Supri pegang, tapi sepotong emas seukuran ibu jari. Benar benar emas asli, berkilauan terkena sorot lampu.
"Ya sudah, ini rezekimu nak," kata Pak Modin.
Alhamdulillah, gema ucap syukur berkumandang di rumah Kang Darso. Yu Marni kembali memeluk dan menciumi anak sematawayangnya itu.
Rezeki memang bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Bila Tuhan sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin di dunia ini.*****
Tak ada lagi yang bisa diharapkan di musim paceklik ini. Yang punya ternak mulai menjual ternaknya. Pohon pohon yang tumbuh di kebun atau ladang pun tak luput menjadi korban. Yang kira kira sudah besar dan laku dijual, mulai ditebang dijadikan uang.
Yang masih punya simpanan beras atau gabah mulai mengiritnya. Nasi tiwul menjadi pilihan. Umbi umbian yang masih tersisa di ladang dan sekiranya bisa dimakan pun menjadi buruan.
Yang sama sekali tak punya simpanan, mau nggak mau menjadi korban lintah darat. Surat tanah menjadi jaminan untuk mendapatkan pinjaman dari rentenir rentenir yang haus darah, dengan bunga yang mencekik leher.
Kehidupan di desa yang biasa adem ayem mulai sedikit terusik. Pertengkaran pertengkaran kecil dalam keluarga mulai sering terjadi. Kadang hanya karena masalah sepele bisa menyulut terjadinya perang baratayuda. Memang kalau sudah menyangkut urusan perut, akal sehatpun kadang bisa hilang.
Seperti yang terjadi pada keluarga Kang Darso pagi itu. Yu Marni, istrinya, mengomel panjang pendek di dapur sambil sibuk di depan tungku. Hanya beberapa umbi singkong yang bisa direbusnya untuk menyambung hidup sehari ini. Entah besok mereka masih bisa makan atau tidak.
"Dadi wong lanang ki mbok yo sing sumbut. Ora isuk isuk mung ongkang ongkang ngombe wedang karo udud klepas klepus koyo sepur kompeni. Mikir, bayaran sekolah anake rung dibayar, beras entek, gaplek entek, sembarang kalir entek, opo kelakon mangan watu tenan sesuk nek sampeyan terus terusan koyo ngono pak," pedas dan menusuk kata kata Yu Marni, membuat Kang Darso terbatuk, tersedak asap rokok tingwe yang dihisapnya.
"Yo sabar to bune, arep kepiye maneh, jane usaha yo wes ora kurang. Arep nenandur yo ora iso. Wong larang banyu. Arep buruh yo buruh opo, wong sawah sawah yo podho garing, ra enek wong mburuhne. Kamangka isoku yo mung buruh macul" Kang Darso menjawab kalem. Ia tau betul perangai sang istri. Jika emosi ditanggapi dengan emosi, wah, bisa jadi perang besar. Bisa bisa panci dan penggorengan mendarat di kepala.
"Sabar, sabar. Sabar ra kenek dipangan Pak. Mbok yo metu metu kono lho, golek opo to opo sing kenek nggo nyambung urip. Ora mung kluntrak kluntruk koyo pitik pangan tethelo ngono kuwi."
"Iyo, mengko tak nyoba metu," Kang Darso menyecap sisa teh tanpa gula di cangkir kalengnya. "Opo anu bune, sesok wedhuse kae dilongi wae, sesuk rak kliwon to, sing loro gowo nyang pasar, dijolke dhuwit. Rak kenek nggo bayaran sekolahe Supri to? turahane kenek nggo nempur beras"
"Sak karepmu Pak, wedhus wedhusmu kuwi. Nek arep mbok dol yo dolen"
Yo wes, aku tak menyang tegal ndisik. Sopo ngerti nyandhung rejeki neng ndalan" Kang Darso mengambil arit dan caping yang tersangkut di dinding anyaman bambu.
"Ora sarapan sek Pak, ki lho sedhelok maneh mateng."
"Rak, mengko wae. Wes wareg aku ngrungokne suaramu sak kesuk njeput" Kang Darso ngeloyor pergi, meninggalkan sang istri yang masih cemberut.
Supri yang menyaksikan drama kedua orang tuanya pagi itu hanya bisa mendesah. Ingin rasanya ia ikut meringankan beban kedua orang tuanya. Tapi apa yang bisa dilakukan anak usia sebelas tahun seperti dirinya? Ia justru malah merasa menjadi beban bagi simbok dan bapaknya.
******
Siang hari, sepulang sekolah Supri pamit untuk menggembalakan kambing, sambil mau mencari kayu bakar katanya. Supri memang terkenal anak yang rajin. Tanpa harus diperintah ia sudah tau apa yang harus dikerjakan untuk meringankan pekerjaan orang tuanya.
"Mau ngangon di mana Pri? Masih panas gini lho. Mbok ya nanti nanti saja agak sorean," kata Kang Darso yang sedang asyik meracik rokok tingwe, sambil mendengarkan uyon uyon dari radio transistornya.
"Ke pinggir kali Salahan saja pak, yang masih banyak rumputnya. Kalau terlalu sore nanti ndak kenyang kambingnya." jawab Supri sambil melangkah ke arah kandang.
"Yo wes, ati ati yo, jangan terlalu ke hulu ngangonnya, di sana banyak ularnya"
"Nggih Pak," Supri pun segera menggiring keempat ekor kambingnya, sambil membawa arit dan botol berisi air minum.
Tak ada firasat apapun yang dirasakan Kang Darso. Sampe sore harinya, menjelang maghrib, keempat ekor kambingnya pulang sendiri, tanpa sang penggembala. Kemana gerangan Supri? Tak biasanya anak itu teledor begini.
Kang Darso berinisiatif untuk menyusul anaknya itu. Mungkin dia keberatan membawa kayu bakarnya. Kang Darso berusaha berfikir positif, sambil menyusuri pematang di pinggir kali. Sampai iya menemukan seikat kayu bakar, lengkap dengan arit dan caping, serta botol air minum milik Supri.
Beberapa kali ia berteriak memanggil sang anak, namun hanya dijawab oleh gaung suaranya sendiri. Kang Darso mulai was was. Apalagi hari mulai menjelang malam.
Segera ia kembali ke desa dengan setengah berlari. Yakin telah terjadi sesuatu dengan sang anak, ia segera mengajak beberapa orang tetangga untuk membantu mencari. Dan pencarianpun dimulai.
"Blug.....blug....thing...., blug....blug.....thing...."
"Mbok Wewe.... Mbok Wewe...., balekno si jabang bocahe Supri...."
******
Sementara itu sebelumnya, menjelang maghrib di Tegal Salahan. Supri mulai membereskan dan mengikat kayu bakar yang berhasil dikumpulkannya. Lumayan banyak. Sesekali ia melirik ke arah kali, dimana sejak tadi terlihat seorang nenek sedang mencuci.
Nenek itu juga sudah selesai mencuci, dan bersiap untuk pulang. Namun ia sepertinya agak kepayahan membawa dua ember berisi cucian basah yang nampak berat.
Timbul rasa kasihan di hati Supri. Ia pun mendekati sang nenek dan menawarkan bantuan. Meski awalnya si nenek menolak, toh akhirnya kedua ember itu telah berpindah ke tangan Supri. Sedang sang nenek hanya mengekor di belakangnya.
Ya, Supri berniat mengantarkan si nenek sampai ke rumahnya. Soal kambing kambingnya, tak perlu dikhawatirkan. Mereka sudah hafal jalan pulang. Dan tanpa di giring pun kambing kambing itu akan segera pulang dengan sendirinya begitu adzan maghrib terdengar.
Nenek yang mengaku bernama mBah Boghing itu ternyata warga Kedhungsono. Rumahnya tak begitu jauh dari Tegal Salahan.
Sampai di rumah sang nenek, kembali rasa kasihan hinggap di hati Supri. Rumah si nenek keadaanya sangat memprihatinkan. Rumah kecil yang kesemuanya terbuat dari bambu itu sudah terlihat usang, miring dan hampir roboh. Lebih pantas untuk disebut gubuk daripada rumah. Ah, ternyata masih ada orang yang lebih miskin dari keluargaku, batin Supri.
Setelah meletakkan ember cucian di teras rumah si nenek, Supri pun pamit pulang. Si nenek sempat menawarkan segelas air dan beberapa singkong rebus. Namun dengan halus Supri menolak. Hari hampir menjelang maghrib. Kalau tidak segera pulang, bisa habis dia kena omelan simboknya yang galaknya naudzubillah.
Akhirnya, sebagai rasa terimakasih, si nenek memberikan sepotong kunyit kepada Supri. Ah, apalagi ini, buat apa kunyit sepotong begini, batin Supri. Namun untuk menyenangkan hati sang nenek, supripun menerima kunyit itu dan memasukkannya ke dalam saku celana.
Akhirnya, sambil bersiul siul kecil Supri meninggalkan rumah si nenek. Ada sedikit rasa bahagia menyelusup dalam hatinya, bisa sedikit membantu sesama.
Sampai di pinggir kali Salahan, Supri sedikit terkejut. Kayu bakar yang tadi diikatnya sudah tak ada. Arit, caping, dan botol air minumnya juga ikut raib. Apa mungkin dicuri orang? Tapi siapa yang kurang kerjaan mencuri kayu bakar? Di musim kemarau begini mustahil rasanya orang sampai mencuri hanya untuk mendapatkan seikat kayu bakar.
Ah, sudahlah. Besok saja aku cari, batin Supri. Hari semakin gelap, tak baik berlama lama di tempat ini. Supri kembali melangkah menuju ke arah jalan pulang.
*******
Sementara di desa Kedhungjati, kabar menghilangnya Supri segera menyebar. Pencarian terus dilakukan. Sehari, dua hari, sampai hari ke tujuh pencarian tak juga membuahkan hasil. Orang orang pun mulai menyerah. Kang Darso dan Yu Marni juga pasrah. Menurut kepercayaan setempat, jika sampai hari ke tujuh anak yang hilang di gondhol wewe gombel tak ditemukan, maka sudah dipastikan anak tersebut akan hilang selamanya.
Supri pun dianggap sudah mati. Warga sepakat mengadakan pengajian untuk mendoakannya. Ba'da isya', orang orang berkumpul di rumah Kang Darso. Dipimpin oleh Pak Modin, pengajian pun dimulai, diiringi suara tangisan Yu Marni yang seolah tiada henti.
Supri yang baru pulang dari rumah mBah Boghing, tersentak mendengar suara pengajian dari arah rumahnya. Siapa yang meninggal? Simbok? Bapak? Ah, tidak mungkin. Tapi....
"Bapaaaaaaaakkkkkkkk............, Simboooooookkkkkkkk...........," tangis Supri pun pecah, diiringi jeritan panjang bocah itu berlari menerobos masuk ke dalam rumah.
Semua orang yang hadir tersentak kaget. Yu Marni segera menghambur memeluk dan menciumi sang anak. Kang Darso bersujud mengucap syukur. Pak Modin pun sejenak menghentikan pengajiannya.
Supri pun ditanggap, kemana saja selama tujuh hari pergi tanpa pamit. Supri kaget. Dia merasa hanya pergi sebentar, tak sampai setengah jam ke rumah mBah Boghing. Kenapa orang orang bilang sampai tujuh hari?
Mendengar nama mBah Boghing disebut, terhenyaklah semua yang hadir di situ. Siapa yang tak kenal nama itu, nama lain dari Wewe Gombel penghuni Tegal Salahan.
Dengan sigap Pak Modin segera mengambil tindakan. Setelah membaca doa doa, ditelitinya sekujur tubuh Supri. Tak ada luka sedikitpun. Aman, pikir Pak Modin. Lalu Pak Modin bertanya apakah disana Supri di kasih makan atau minum? Supri menggeleng. Memang ia ditawari minum dan singkong rebus. Tapi ia menolak.
Pak Modin tersenyum. Bagus, katanya. Kalau sampai Supri disana sempat makan atau minum, pasti anak itu tak akan pernah kembali.
Supri pun ingat dengan potongan kunyit sebesar ibu jari yang diberikan oleh si nenek, dan menunjukkannya ke Pak Modin. Tapi anehnya, bukan kunyit yang Supri pegang, tapi sepotong emas seukuran ibu jari. Benar benar emas asli, berkilauan terkena sorot lampu.
"Ya sudah, ini rezekimu nak," kata Pak Modin.
Alhamdulillah, gema ucap syukur berkumandang di rumah Kang Darso. Yu Marni kembali memeluk dan menciumi anak sematawayangnya itu.
Rezeki memang bisa datang dari mana saja dan kapan saja. Bila Tuhan sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin di dunia ini.*****
sicepod dan 37 lainnya memberi reputasi
38