- Beranda
- Stories from the Heart
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
...
TS
dissymmon08
AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]
SELAMAT DATANG AGAN SISTA
Halo! 
Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!
Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

Selamat berjumpa kembali dengan gue dalam rangka melanjutkan JILID IV kemarin yang gue akhiri di tengah alias Mid-season Finale. Udah berasa kayak cerita series bule The Walking Dead, Nancy Drew, etcyak? Hahaha. Karena berbagai pertimbangan, gue memutuskan untuk menyelesaikan di sana. Hapunten ya agan sista! Semoga agan sista bisa memahaminya...
Ga pernah gue lupa untuk selalu ngucapin terima kasih atas dukungan dan apresiasi agan sista selama ini! Makin hari, makin bikin semangat gue aja untuk terus melanjutkan cerita gue ini yang (kayaknya) masih panjang. Hehehe.
Masih melanjutkan tema cerita di JILID IV gue sebelumnya, insya Alloh di JILID IV 2.0 ini gue akan menjawab bagaimana kondisi ibu gue, bagaimana hubungan gue dengan Bang Firzy, bagaimana pendidikan gue, bagaimana pekerjaan gue, dan banyak puzzle-puzzle lainnya yang belum terjawab. Dengan semangat 'tak boleh ada kentang di antara kita' yang tak hentinya diucapkan oleh agan sista, insya Alloh juga gue akan melanjutkan sampai selesai (semoga tanpa hambatan) di thread gue yang ini.
Kembali lagi gue ingatkan gaya menulis gue yang penuh strong language, absurd-nya hidup gue dan (kayaknya masih akan) beberapa kali nyempil ++-nya, jadi gue masih ga akan melepas rating 18+ di cerita lanjutan gue kali ini. Gue berharap semoga agan sista tetap suka dan betah mantengin thread ane ini sampe selesai!

Dengan segala kerendahan hati gue yang belajar dari thread sebelumnya, kali ini gue memohon agan sista untuk membaca juga peraturan mengenai thread ini yang kayaknya banyak di-skip (karena dinilai ga penting), terutama mengenai kepentingan privasi dan spoiler. Semoga dengan kerja sama semuanya, membuat thread ini semakin bikin nyaman dan betah untuk jadi tempat nongkrong agan sista semuanya

![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/12/26/10712020_20191226010201.jpg)
Spoiler for AKHIR PENANTIANKU (THE SERIES):
Spoiler for INDEX:
Spoiler for MULUSTRASI:
Spoiler for PERATURAN:
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 37 suara
Kepikiran untuk mulai post JILID I... Setuju kah?
Boleh juga Mi dicoba.
49%
Nanti aja, Mi.
51%
Diubah oleh dissymmon08 15-09-2020 12:11
ezzasuke dan 91 lainnya memberi reputasi
86
173.8K
2.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dissymmon08
#675
KISAH TENTANG F: KELEMAHAN (PART 13)
Gue mencoba untuk tetap tenang dan berpikir jernih, sebisa gue. “Apa yang sekarang harus gue lakuin?” Gue mencoba mencari jawaban untuk pertanyaan itu.
Apa gue harus menghubungi Wila? Apa gue harus negor Bang Firzy yang lagi jauh dari gue dengan membeberkan bukti yang selama ini gue punya? Apa gue harus diemin mereka dan mencoba negor langsung nanti pas ketemu? Apa gue harus kembali diemin aja semuanya sambil memantau hubungan Wila dan Bang Firzy?
“AAARRRGGGHHH! GUE GA TAU HARUS GIMANA SEKARANG!”
Gue membuka Contactdi handphone gue. Semenjak kami pacaran, kami menyimpan e-mail satu sama lain di aplikasi Gmail handphone kami. Efeknya? Seluruh Contact yang ada di handphone kami pun sync dan kebiasaan kami menyimpan seluruh kontak di akun Google pun memberikan efek positif. Apa kah itu? Yap, gue jadinya secara otomatis punya seluruh Contact yang ada di handphone Bang Firzy, termasuk nomor kontak Wila. Tanpa gue harus minta kontak ke Wila-nya langsung. Karena gue yakin 100%, Wila ga akan kasih ke gue. Apalagi kalau ternyata Wila dan Bang Firzy udah ‘tidur’ bareng.
Sial!
“Sesuai dugaan… Selama ini gue punya kontak Wila ternyata.” Gue buka Whatsapp gue. “Gue langsung chat aja apa gimana ya? Tapi mereka lagi ngapain sekarang? Gue ganggu? Atau malah mereka merekayasa pertemuan mereka di belakang gue karena mereka lagi bareng???”
Peduli amat! Gue memutuskan untuk mengirimkan chat gue ke Wila.
Terkirim! Chatgue langsung terkirim ke Wila. Gue pantengin terus chat gue itu biar ga ketinggalan satu momen pun. Ga berapa lama, nomor Wila langsung online dan dia kayaknya langsung baca juga chat dari gue itu. Jantung gue berdegup kenceng banget saat itu. “Dia bakalan bales apaan? Apa dia bakalan pura-pura ga tau? Apa dia beneran ga tau kalau gue ada hubungan sama Firzy, kayak cewek-cewek lainnya? Apa dia bakalan ngomelin gue karena ngerasa MEMILIKI Firzy?” tanya gue dalem hati.
Tapi…
Dia langsung offline lagi.
Dan ga bales-bales chat gue.
“ANJ*NG AMAT!” Seriusan! Gue bener-bener ga direspon sama dia!
Gue langsung ngebuka chat-nya Bang Firzy dengan asumsi (ya, gue akuin kalau saat itu gue berasumsi), mereka langsung berkoordinasi berdua KALAU MEREKA GA LAGI BARENG. Tapi kalau ternyata mereka lagi bareng, ya ga mungkin Bang Firzy langsung chat gue. Palingan dia cuman berusaha mengabari gue kalau dia lagi melakukan apapun itu di sana. Mencari alasan karena tau kalau gue menunggu chat dari dia.
Gue sangat hapal dia.
Tapi ternyata ga, Bang Firzy tak kunjung online. Dan gue lihat beberapa kali Wila online, tapi juga tak kunjung bales chat gue. “Ada apa ini? Apa gue perlu chat lagi?”
Gue bingung. Gue bener-bener bingung. Gue takut salah langkah. Gue khawatir nanti malah gue yang dibikin keliatan salah banget dan ujung-ujungnya malah gue yang harus minta maaf, lagi.
“Gue tunggu balesan dari Wila aja…” Keputusan gue saat itu.
Satu jam.
Dua jam.
Dua setengah jam. Tanpa ada balasan sama sekali.
Sekarang udah lewat tengah malam dan tak kunjung ada balesan dari Wila. Tapi gue liat aktivitas dia di Facebook aktif banget untuk komunikasi dengan temen-temen Komunitas Jejepangan Jabodetabek. Ya, walaupun dia berdomisili di Surabaya, tapi ternyata dia tetep punya nama dan di-notice juga di Jabodetabek. Jadi, dia emang banyak komunikasi sama beberapa band Jabodetabek.
Dret. Dret. Dret.
Bukannya Wila yang bales gue, eh malah chat Bang Firzy yang masuk.
“Udah seger, Zy? Abis berapa ronde sama WIla?” tanya gue dalem hati. Gue ga ada niatan ngebales chat-nya Bang Firzy saat itu. “Oke, kesabaran gue udah abis. Mungkin saat itu gue mau PMS kali, makanya gue jadi lebih emosian dan jadi ga sabaran. Apapun yang Bang Firzy lakuin ke gue udah bawaannya kesel aja. Walaupun gue belum tau, sebenernya Bang Firzy lagi ngapain atau abis ngapain aja di sana.
Hmm.
Lagipula siapa yang masih mau berusaha sabar dan berpikir jernih, ketika tau pacarnya ada kemungkinan di kamar hotel bareng cewek lain?
Tapi bukannya bales chatBang Firzy, gue lebih memilih chat ulang Wila.
“Terus mau lu apa sekarang, Mi? Kalau mereka ternyata seperti apa yang ada di pikiran lu, lu mau apa?” Hati terdalam gue mempertanyakan ini.
“Iya ya. Terus mau gue apaan misalnya ternyata Wila akhirnya tau kalau gue dan Bang Ija pacaran?” tanya gue balik ke hati gue.
Gue terdiam sesaat.
“Ya Alloh, mau nangis!”
Panjang banget chatgue ke Wila malam itu. Entah bakalan dibaca apa ga sama dia. Atau mungkin nomor gue udah keburu diblokir saking panjangnya chat gue ke diaa. Yang penting gue udah nyampein pesen dan pertanyaan gue ke dia. Gue janji, gue yang akan mundur kalau ini yang mereka inginkan. Gue ga minta perpisahan di antara mereka. Gue cuman minta kejujuran… Dari dia dan Bang Firzy.
Yang ga pernah gue dapet, bahkan sampe Bang Firzy udah kembali ke rumah lagi.
Sebenernya gue lagi males banget ketemu sama Bang Firzy. Gue pun ga nemenin dia chatselama hari terakhir dia di Malang bahkan sampe akhirnya dia udah balik lagi ke Jakarta. Gue udah ga se-excited itu menunggu pertemuan dengannnya. Rese-nya gue masih harus tetep keep in touch sama dia baik di grup Whatsapp ataupun private chat karena gue lagi persiapan ngurusin manggung band gue yang waktunya semakin deket.
Lebih rese lagi, bisa banget gitu seorang Bang Firzy menghubungi gue seakan dia ga punya salah sama sekali ke gue saat itu. Gue akuin kalau dia emang jago banget akting. Dan gue sangat ga profesional ketika kami terpaksa harus bersikap biasa aja di hadapan anak-anak band, karena ternyata gue ga bisa menutupi kekesalan gue sama dia.
Begitu pun dengan sikap gue ke Wila. Setiap kali ngeliat dia muncul di Timeline ataupun kolom komen di temen-temen Facebook gue di Komunitas Jejepangan, bawaannya kesel cenderung benci aja. Keukeuh banget jadi orang buat ga ngelepas pacar orang! Ga peka banget jadi cewek! Atau mungkin ya ini bentuk kode dari dia kalau dia telah mengiyakan untuk melanjutkan hubungan dia dengan Bang Firzy. Entahlah.
Di sisi lain lagi, Bang Firzt tetep berusaha untuk menemui gue. Dia bawain gue oleh-oleh dari Malang, kasih tunjuk gue foto-foto jalan-jalan dia di Malang (yang entah kenapa gue berpikir kalau dia difotoin sama Wila, walaupun dia bilang kalau dia difotoin sama klien yang nganterin dia), dan ultimate-nya dia bilang kalau dia mau BALIK LAGI KE MALANG awal tahun depan untuk fieldtrip S2 dia.
KE. MALANG. LAGI.
Gue kayak seakan ga full bisa fokus sama cerita dia tentang bagaimana Kota Malang ketika dia pergi 3 hari kemarin dan dia ceita juga kalau dia udah kemana aja untuk kulineran atau survey fieldtrip dia. Gue ga fokus dengan itu semua dan cuman fokus sama cerita dia yang bilang HARUS ke Jawa Timur lagi dan lagi. "Kenapa harus ke Jawa Timur terus? Kenapa harus ke tempat dimana ada Wila di sana?" Kemaren aja yang ke Malang tiga hari untuk urusan kerjaan, tetep dijabanin dan disempetin sama mereka berdua untuk ketemu. Apalagi fieldtrip yang gue jamin isinya cuman haha hihi doang, ga bener-bener studi lapang? Gue ngerasa ada keinginan dari mereka untuk ketemuan lagi dan lagi.
Terus aja ketemu mulu. Ga di Surabaya dan Padang doang ternyata kota yang bikin gue sensi. Malang pun akhirnya jadi tempat yang bikin gue sensitive banget jadinya.
“Kamu dengerin aku ga sih?” tanya Bang Firzy.
“Iya dengerin.”
“Kenapa sih? Ada apaan lagi? Ga seneng ketemu aku abis 3 hari ga ketemu?”
“Ya seneng.” jawab gue seadanya. Padahal gue mau bilang kalau gue lagi ga seneng. Tapi karena lagi males debat, gue jawab begitu aja.
“Terus kenapa mukanya begitu?”
“Begitu apaan? Biasa aja ini.”
Bang Firzy terus menatap gue. Ekspresi wajahnya yang sebelumnya excited karena cerita pengalaman perjalanan dia ke Malang, berubah jadi ekspresi males gitu. “Ga mungkin biasa aja. Ada masalah pasti ini. Apaan? Urusan cewek?”
“Ah ga kok, biasa aja. Aku gapapa.” Maaf, gue lagi jadi cewek pada umumnya alias bilang gapapa padahal ada apa-apa.
“Boong.”
“Ga boong.”
“Boong!”
“Lha? Kok lu yang ngotot sih? Orang biasa aja ini…”
“…”
“Apa?” tanya gue ketika dia terus menatap wajah gue tanpa ekspresi apapun.
“…”
“Apaan sih?”
Dia mendekati wajah gue. Dia terus mendekat, hingga bibir dia akhirnya tepat melekat di bibir gue. Bukan ciuman hangat penuh rindu, hanya kecupan biasa di bibir gue yang berhasil dia lakuin. Tapi ga dia lepas sama sekali. Bibir dia masih menempel di bibir gue. “Bener berarti ada apa-apanya.” katanya sambil menjauhkan bibir dia dari gue. “Ciuman aku ga dibales.”
“Lha? Kenapa jadi ciuman jadi perkara dah? Biasanya juga ga harus cium-cium.”
“Ga harus---? Oh yaudah kalau gitu.” kata dia sambil benerin duduknya di sofa rumah gue dan langsung mainin handphone dia. Muka tanpa ekspresi dia berubah jadi muka judes ala Bang Firzy. Ekspresi serem yang ditakutin sama adik kelas di Kampus.
“Yaudah.” jawab gue ikut main handphone di samping dia.
Tiba-tiba dia minjem KTP gue entah untuk apaan dan ga jelas juga dia kepengen make untuk apa. Ya gue ngerasa saat itu ga ada hubungannya antara kejujuran dia dengan KTP gue yang dipinjem sama dia. Ga mungkin kan dia mau nipu gue dan jahatin gue make KTP gue? Atau GR-nya gue, ga mungkin kan dia mau daftarin KTP gue dengan KTP dia di KUA buat bikin surprise kalau dia mau nikahin gue? HAHAHAnj*ng! HALU BANGET LU, MI!
Daripada jadi tambah panjang dan ribet, akhirnya gue cuman kasih KTP dan segala permintaan dia. Kemudian ga lama dia pamit pulang dengan alesan kalau dia masih cape dari perjalanan dia sebelumnya. Padahal biasanya kalau weekend dia bakalan nginep di rumah gue. Tapi kali ini dia malah memilih pulang lebih cepet.
Dalam hati gue? “Ya palingan mau video call kangen-kangenan sama Wila.”
Apa gue harus menghubungi Wila? Apa gue harus negor Bang Firzy yang lagi jauh dari gue dengan membeberkan bukti yang selama ini gue punya? Apa gue harus diemin mereka dan mencoba negor langsung nanti pas ketemu? Apa gue harus kembali diemin aja semuanya sambil memantau hubungan Wila dan Bang Firzy?
“AAARRRGGGHHH! GUE GA TAU HARUS GIMANA SEKARANG!”
Gue membuka Contactdi handphone gue. Semenjak kami pacaran, kami menyimpan e-mail satu sama lain di aplikasi Gmail handphone kami. Efeknya? Seluruh Contact yang ada di handphone kami pun sync dan kebiasaan kami menyimpan seluruh kontak di akun Google pun memberikan efek positif. Apa kah itu? Yap, gue jadinya secara otomatis punya seluruh Contact yang ada di handphone Bang Firzy, termasuk nomor kontak Wila. Tanpa gue harus minta kontak ke Wila-nya langsung. Karena gue yakin 100%, Wila ga akan kasih ke gue. Apalagi kalau ternyata Wila dan Bang Firzy udah ‘tidur’ bareng.
Sial!
“Sesuai dugaan… Selama ini gue punya kontak Wila ternyata.” Gue buka Whatsapp gue. “Gue langsung chat aja apa gimana ya? Tapi mereka lagi ngapain sekarang? Gue ganggu? Atau malah mereka merekayasa pertemuan mereka di belakang gue karena mereka lagi bareng???”
Peduli amat! Gue memutuskan untuk mengirimkan chat gue ke Wila.
Quote:
Terkirim! Chatgue langsung terkirim ke Wila. Gue pantengin terus chat gue itu biar ga ketinggalan satu momen pun. Ga berapa lama, nomor Wila langsung online dan dia kayaknya langsung baca juga chat dari gue itu. Jantung gue berdegup kenceng banget saat itu. “Dia bakalan bales apaan? Apa dia bakalan pura-pura ga tau? Apa dia beneran ga tau kalau gue ada hubungan sama Firzy, kayak cewek-cewek lainnya? Apa dia bakalan ngomelin gue karena ngerasa MEMILIKI Firzy?” tanya gue dalem hati.
Tapi…
Dia langsung offline lagi.
Dan ga bales-bales chat gue.
“ANJ*NG AMAT!” Seriusan! Gue bener-bener ga direspon sama dia!
Gue langsung ngebuka chat-nya Bang Firzy dengan asumsi (ya, gue akuin kalau saat itu gue berasumsi), mereka langsung berkoordinasi berdua KALAU MEREKA GA LAGI BARENG. Tapi kalau ternyata mereka lagi bareng, ya ga mungkin Bang Firzy langsung chat gue. Palingan dia cuman berusaha mengabari gue kalau dia lagi melakukan apapun itu di sana. Mencari alasan karena tau kalau gue menunggu chat dari dia.
Gue sangat hapal dia.
Tapi ternyata ga, Bang Firzy tak kunjung online. Dan gue lihat beberapa kali Wila online, tapi juga tak kunjung bales chat gue. “Ada apa ini? Apa gue perlu chat lagi?”
Gue bingung. Gue bener-bener bingung. Gue takut salah langkah. Gue khawatir nanti malah gue yang dibikin keliatan salah banget dan ujung-ujungnya malah gue yang harus minta maaf, lagi.
“Gue tunggu balesan dari Wila aja…” Keputusan gue saat itu.
Satu jam.
Dua jam.
Dua setengah jam. Tanpa ada balasan sama sekali.
Sekarang udah lewat tengah malam dan tak kunjung ada balesan dari Wila. Tapi gue liat aktivitas dia di Facebook aktif banget untuk komunikasi dengan temen-temen Komunitas Jejepangan Jabodetabek. Ya, walaupun dia berdomisili di Surabaya, tapi ternyata dia tetep punya nama dan di-notice juga di Jabodetabek. Jadi, dia emang banyak komunikasi sama beberapa band Jabodetabek.
Dret. Dret. Dret.
Bukannya Wila yang bales gue, eh malah chat Bang Firzy yang masuk.
Quote:
“Udah seger, Zy? Abis berapa ronde sama WIla?” tanya gue dalem hati. Gue ga ada niatan ngebales chat-nya Bang Firzy saat itu. “Oke, kesabaran gue udah abis. Mungkin saat itu gue mau PMS kali, makanya gue jadi lebih emosian dan jadi ga sabaran. Apapun yang Bang Firzy lakuin ke gue udah bawaannya kesel aja. Walaupun gue belum tau, sebenernya Bang Firzy lagi ngapain atau abis ngapain aja di sana.
Hmm.
Lagipula siapa yang masih mau berusaha sabar dan berpikir jernih, ketika tau pacarnya ada kemungkinan di kamar hotel bareng cewek lain?
Tapi bukannya bales chatBang Firzy, gue lebih memilih chat ulang Wila.
Quote:
“Terus mau lu apa sekarang, Mi? Kalau mereka ternyata seperti apa yang ada di pikiran lu, lu mau apa?” Hati terdalam gue mempertanyakan ini.
“Iya ya. Terus mau gue apaan misalnya ternyata Wila akhirnya tau kalau gue dan Bang Ija pacaran?” tanya gue balik ke hati gue.
Gue terdiam sesaat.
Quote:
“Ya Alloh, mau nangis!”
Quote:
Panjang banget chatgue ke Wila malam itu. Entah bakalan dibaca apa ga sama dia. Atau mungkin nomor gue udah keburu diblokir saking panjangnya chat gue ke diaa. Yang penting gue udah nyampein pesen dan pertanyaan gue ke dia. Gue janji, gue yang akan mundur kalau ini yang mereka inginkan. Gue ga minta perpisahan di antara mereka. Gue cuman minta kejujuran… Dari dia dan Bang Firzy.
Yang ga pernah gue dapet, bahkan sampe Bang Firzy udah kembali ke rumah lagi.
XOXOXO
Sebenernya gue lagi males banget ketemu sama Bang Firzy. Gue pun ga nemenin dia chatselama hari terakhir dia di Malang bahkan sampe akhirnya dia udah balik lagi ke Jakarta. Gue udah ga se-excited itu menunggu pertemuan dengannnya. Rese-nya gue masih harus tetep keep in touch sama dia baik di grup Whatsapp ataupun private chat karena gue lagi persiapan ngurusin manggung band gue yang waktunya semakin deket.
Lebih rese lagi, bisa banget gitu seorang Bang Firzy menghubungi gue seakan dia ga punya salah sama sekali ke gue saat itu. Gue akuin kalau dia emang jago banget akting. Dan gue sangat ga profesional ketika kami terpaksa harus bersikap biasa aja di hadapan anak-anak band, karena ternyata gue ga bisa menutupi kekesalan gue sama dia.
Begitu pun dengan sikap gue ke Wila. Setiap kali ngeliat dia muncul di Timeline ataupun kolom komen di temen-temen Facebook gue di Komunitas Jejepangan, bawaannya kesel cenderung benci aja. Keukeuh banget jadi orang buat ga ngelepas pacar orang! Ga peka banget jadi cewek! Atau mungkin ya ini bentuk kode dari dia kalau dia telah mengiyakan untuk melanjutkan hubungan dia dengan Bang Firzy. Entahlah.
Di sisi lain lagi, Bang Firzt tetep berusaha untuk menemui gue. Dia bawain gue oleh-oleh dari Malang, kasih tunjuk gue foto-foto jalan-jalan dia di Malang (yang entah kenapa gue berpikir kalau dia difotoin sama Wila, walaupun dia bilang kalau dia difotoin sama klien yang nganterin dia), dan ultimate-nya dia bilang kalau dia mau BALIK LAGI KE MALANG awal tahun depan untuk fieldtrip S2 dia.
KE. MALANG. LAGI.
Gue kayak seakan ga full bisa fokus sama cerita dia tentang bagaimana Kota Malang ketika dia pergi 3 hari kemarin dan dia ceita juga kalau dia udah kemana aja untuk kulineran atau survey fieldtrip dia. Gue ga fokus dengan itu semua dan cuman fokus sama cerita dia yang bilang HARUS ke Jawa Timur lagi dan lagi. "Kenapa harus ke Jawa Timur terus? Kenapa harus ke tempat dimana ada Wila di sana?" Kemaren aja yang ke Malang tiga hari untuk urusan kerjaan, tetep dijabanin dan disempetin sama mereka berdua untuk ketemu. Apalagi fieldtrip yang gue jamin isinya cuman haha hihi doang, ga bener-bener studi lapang? Gue ngerasa ada keinginan dari mereka untuk ketemuan lagi dan lagi.
Terus aja ketemu mulu. Ga di Surabaya dan Padang doang ternyata kota yang bikin gue sensi. Malang pun akhirnya jadi tempat yang bikin gue sensitive banget jadinya.
“Kamu dengerin aku ga sih?” tanya Bang Firzy.
“Iya dengerin.”
“Kenapa sih? Ada apaan lagi? Ga seneng ketemu aku abis 3 hari ga ketemu?”
“Ya seneng.” jawab gue seadanya. Padahal gue mau bilang kalau gue lagi ga seneng. Tapi karena lagi males debat, gue jawab begitu aja.
“Terus kenapa mukanya begitu?”
“Begitu apaan? Biasa aja ini.”
Bang Firzy terus menatap gue. Ekspresi wajahnya yang sebelumnya excited karena cerita pengalaman perjalanan dia ke Malang, berubah jadi ekspresi males gitu. “Ga mungkin biasa aja. Ada masalah pasti ini. Apaan? Urusan cewek?”
“Ah ga kok, biasa aja. Aku gapapa.” Maaf, gue lagi jadi cewek pada umumnya alias bilang gapapa padahal ada apa-apa.
“Boong.”
“Ga boong.”
“Boong!”
“Lha? Kok lu yang ngotot sih? Orang biasa aja ini…”
“…”
“Apa?” tanya gue ketika dia terus menatap wajah gue tanpa ekspresi apapun.
“…”
“Apaan sih?”
Dia mendekati wajah gue. Dia terus mendekat, hingga bibir dia akhirnya tepat melekat di bibir gue. Bukan ciuman hangat penuh rindu, hanya kecupan biasa di bibir gue yang berhasil dia lakuin. Tapi ga dia lepas sama sekali. Bibir dia masih menempel di bibir gue. “Bener berarti ada apa-apanya.” katanya sambil menjauhkan bibir dia dari gue. “Ciuman aku ga dibales.”
“Lha? Kenapa jadi ciuman jadi perkara dah? Biasanya juga ga harus cium-cium.”
“Ga harus---? Oh yaudah kalau gitu.” kata dia sambil benerin duduknya di sofa rumah gue dan langsung mainin handphone dia. Muka tanpa ekspresi dia berubah jadi muka judes ala Bang Firzy. Ekspresi serem yang ditakutin sama adik kelas di Kampus.
“Yaudah.” jawab gue ikut main handphone di samping dia.
Tiba-tiba dia minjem KTP gue entah untuk apaan dan ga jelas juga dia kepengen make untuk apa. Ya gue ngerasa saat itu ga ada hubungannya antara kejujuran dia dengan KTP gue yang dipinjem sama dia. Ga mungkin kan dia mau nipu gue dan jahatin gue make KTP gue? Atau GR-nya gue, ga mungkin kan dia mau daftarin KTP gue dengan KTP dia di KUA buat bikin surprise kalau dia mau nikahin gue? HAHAHAnj*ng! HALU BANGET LU, MI!
Daripada jadi tambah panjang dan ribet, akhirnya gue cuman kasih KTP dan segala permintaan dia. Kemudian ga lama dia pamit pulang dengan alesan kalau dia masih cape dari perjalanan dia sebelumnya. Padahal biasanya kalau weekend dia bakalan nginep di rumah gue. Tapi kali ini dia malah memilih pulang lebih cepet.
Dalam hati gue? “Ya palingan mau video call kangen-kangenan sama Wila.”
itkgid dan 18 lainnya memberi reputasi
19
![AKHIR PENANTIANKU (JILID IV _ 2.0) [TRUE STORY]](https://s.kaskus.id/images/2019/10/10/10712020_20191010014133.jpg)

dan 
