Kaskus

Story

ki.bogowontoAvatar border
TS
ki.bogowonto
COVID 26
COVID 26

“Dalam kondisi perang, semua hal bisa terjadi,  yang ada  dipikiran saya adalah bagaimana menyelamatkan warga Negara yang masih tersisa”

-Mantan Presiden RI

 

“Saat itu semuanya sudah hancur. Pemerintahan, ekonomi, angkatan bersenjata. Negara sudah bubar. Satu-satunya hal berharga yang bisa diselamatkan hanyalah nyawa, itupun tidak semua bisa selamat.”

-Mantan Menteri Pertahanan

 

“Ya, kita kalah. Kita kalah melawan musuh yang tidak terlihat!”

-Mantan Panglima TNI

 

“Saya masih berumur 10 tahun saat itu. Semua orang terlihat takut. Ibu menggandeng saya dengan kencang. Sedangkan Ayah membawa dua tas besar di kanan kiri lengannya, dan adik saya yang berumur 5 tahun digendong dengan selendang. Semua orang membicarakan tentang keluarga mereka yang tidak selamat”

­­-Ardian (Imigran Indonesia)

“Orang saling mendorong saat pintu kapal terbuka, mungkin ada sekitar 50 kapal super besar di Tanjung Priok, dari kapal tanker sampai kapal tentara.  Saya tidak ingat banyak, hanya ingat saat Ayah terjatuh karena terdorong ribuan orang dibelakangnya dan kami mulai terinjak, Ayah melindungiku yang terjepit dibawahnya, berusaha melepas tali gendong yang membuatku tidak bisa bergerak. Saya merangkak, tersepak beberapa kali. Sampai sepasang tangan mengangkatku, Saya  menangis berteriak memanggil Ayah, sejak saat itu saya tidak pernah bertemu Ayah lagi.”

-Cecil (Imigran Indonesia, adik Ardian)

e/�C


INDEX :

1. PROLOG
2. SEMUANYA BIASA SAJA

Diubah oleh ki.bogowonto 24-05-2020 18:10
bukhoriganAvatar border
cos44rmAvatar border
nona212Avatar border
nona212 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.2K
10
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
ki.bogowontoAvatar border
TS
ki.bogowonto
#2
SEMUANYA BIASA SAJA
2020, Januari hari pertama yang dingin dan basah. Pukul 05:37, Anita masih tertidur tanpa busana di bawah selimut. Cahaya lampu kamar remang-remang membuatku sulit mencari pakaianku yang tercecer. Hanya sepotong celana dalam segitiga yang kutemukan di lantai dekat lemari, aku memakainya segera, berjalan menuju Jendela untuk sedikit menyibak tirainya. Sinar pucat merembes perlahan melewati sela-sela lubang angin. Dari lantai dua rumah ini kusaksikan di luar sana masih hujan, angin sedikit kencang berhembus membuat jatuhnya air menjadi diagonal. Kaca kamarku kuyup oleh bulir tetesan hujan, daun-daun ketapang gugur, memenuhi halaman. Sarang burung kedasi diatas pohonnya kosong tanpa penghuni, aku yakin tidak ada kehidupan disana.

​Semalam adalah perayaan pergantian tahun, awalnya kami ingin merayakannya dengan menonton sebuah konser Band legend di alun-alun kota. Sayang, sejak pukul tujuh malam hujan turun deras, aku merasa kasihan dengan penonton yang kebasahan karena sudah sejak sore berdatangan, juga dengan para pedagang asongan dan kakilima yang jelas akan sepi pembeli, dan tentunya, Anita. Dia kecewa karena tidak bisa menyaksikan Band favoritnya di akhir tahun. Kami mengganti malam konser yang sudah jauh-jauh hari kami pesan tiketnya itu dengan berhubungan seks semalaman, memanfaatkan kondisi rumah sedang sepi.

​Dingin sekali, aku membatalkan niatan untuk membuat kopi, dan memilih balik kanan untuk ikut masuk ke balik selimut besama Anita. Kucium keningnya dan kedua matanya terbuka, ia tersenyum.

​“Mas,” Kata dia dengan mata yang masih menahan kantuk. Seketika ia melumat bibirku lalu memelukku.

​“Kita jemput Ardian jam berapa,Dek?” tanyaku.

​“Aku sudah bilang sama Ayah kalau kita kesana jam 8” Jawabnya sambil menopangkan kepalanya beralaskan dadaku.

​“Udah nggak ngambek?” tanyaku. Ia mengegelang tersipu sambil membenamkan wajahnya ke dadaku.
**
​Rumah orangtua Anita berada di pinggir kota sedikit masuk ke wilayah pedesaan. Kami berangkat pukul 07:00, langit masih mendung meski tidak lagi hujan, hanya menyisakan gerimis saja. Aku sengaja tidak menginjak gas terlalu dalam, sekedar menikmati waktu. Melewati batas kota, perubahannya mulai terasa. Pepohonan yang lebih rapat, aspal yang lebih sempit dan sedikit kasar, kubangan-kubangan air di lubang jalan, dan sawah dengan burung blekok yang berburu anak kodok. Setelah 30 menit berkendara rumah bercat biru pudar itu mulai terlihat. Seorang wanita berusia sekitar 60 tahun berada di halaman rumah yang dipagari pepohonan murbei sedang bermain dengan Ardian.

​Anak dalam pangkuan Ibu mertuaku itu melambai kearah kami. Ketika mobil berhenti dan pintu terbuka segera saja anak itu berlari menyongsong Ibunya.

​“Sayang, nggak nakal to kamu sama Nenek”

​“Nggak dong,” Jawabnya masih dengan bola plastik di tangannya.

​Aku mencium tangan Ibu mertuaku.

​“Bapak dimana, Bu?” tanyaku.

​“Lah itu di dalam, sedang nonton tv.” Jawabnya, aku permisi menemui Bapak mertuaku. Pensiunan pegawai negeri itu sedang khusuk menonton tayangan berita.

​“Pak” kataku dari belakangnya.

​“Eh, kamu Ton. Kapan datangnya?”

​“Baru saja, pak. Ada berita apa ini? Kok sepertinya Bapak khusuk sekali” tanyaku sambil ikut duduk di depan Tv.

​“Oh, ini penyakit baru dari Cina” kata beliau dengan mata yang tak lepas dari layar.

​“Oalah, corona-corona itu, Pak? Palingan juga bentar lagi ilang. Buatan tiongkok biasanya nggak awet”
anakjahanam721
cos44rm
mcdodo
mcdodo dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.