- Beranda
- Stories from the Heart
COVID 26
...
TS
ki.bogowonto
COVID 26

“Dalam kondisi perang, semua hal bisa terjadi, yang ada dipikiran saya adalah bagaimana menyelamatkan warga Negara yang masih tersisa”
-Mantan Presiden RI
“Saat itu semuanya sudah hancur. Pemerintahan, ekonomi, angkatan bersenjata. Negara sudah bubar. Satu-satunya hal berharga yang bisa diselamatkan hanyalah nyawa, itupun tidak semua bisa selamat.”
-Mantan Menteri Pertahanan
“Ya, kita kalah. Kita kalah melawan musuh yang tidak terlihat!”
-Mantan Panglima TNI
“Saya masih berumur 10 tahun saat itu. Semua orang terlihat takut. Ibu menggandeng saya dengan kencang. Sedangkan Ayah membawa dua tas besar di kanan kiri lengannya, dan adik saya yang berumur 5 tahun digendong dengan selendang. Semua orang membicarakan tentang keluarga mereka yang tidak selamat”
-Ardian (Imigran Indonesia)
“Orang saling mendorong saat pintu kapal terbuka, mungkin ada sekitar 50 kapal super besar di Tanjung Priok, dari kapal tanker sampai kapal tentara. Saya tidak ingat banyak, hanya ingat saat Ayah terjatuh karena terdorong ribuan orang dibelakangnya dan kami mulai terinjak, Ayah melindungiku yang terjepit dibawahnya, berusaha melepas tali gendong yang membuatku tidak bisa bergerak. Saya merangkak, tersepak beberapa kali. Sampai sepasang tangan mengangkatku, Saya menangis berteriak memanggil Ayah, sejak saat itu saya tidak pernah bertemu Ayah lagi.”
-Cecil (Imigran Indonesia, adik Ardian)
e/�C
INDEX :
1. PROLOG
2. SEMUANYA BIASA SAJA
Diubah oleh ki.bogowonto 24-05-2020 18:10
nona212 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.2K
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
ki.bogowonto
#1
PROLOG
Gelap, tidak ada lilin yang tersisa sekarang. Sedangkan seperempat malam belum habis, aku mengintip dari balik jendela. Beberapa rumah sama gelapnya dengan rumah kami, yang lainnya menyala redup dengan sisa lilin mereka, sebagian rumah lagi cukup terang dengan lampu bohlam karena memiliki generator atau aki cadangan untuk menghidupkan listrik. Dengan meraba sekitar aku menuju dapur, mengambil spatula, mematahkan ujungnya untuk kuambil gagangnya. Menyobek ujung taplak meja makan lalu melilitkannya di gagang tadi, mengoleskan minyak goreng diatasnya lalu menyalakan kompor. Sial, kompor ini tidak mau menyala.
“Kita sudah kehabisan gas” Anita istriku mendekat, ia membuka lemari dapur mengambil korek api, dan menyalakan obor yang kubuat.
“Aku takut,Mas” dia memelukku erat. Kuelus pundaknya dengan sebelah tangan, dan mencium keningnya.
“Anak-anak sudah tidur?”
“Sudah,Mas” Anita menggandengku untuk duduk di sofa, mengambil obor ditanganku dan menaruhnya di dalam vas tanpa bunga.
“Stok makanan bagaimana?” tanyaku.
“Tidak tersisa banyak”
“Besok pagi buta aku akan mencari ke gudang makanan”
“Sudahlah, tinggalah dirumah saja,Mas. Aku lebih takut jika kamu tidak ada bersama kami. Kita masih bisa memakan apa yang ada.” Jawabnya sambil menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Kita harus mendapatkan stok sebelum tidaka ada lagi yang tersisa lagi" Jawabku. Dia mengangguk pasrah.
“Bagaimana kita akan selamat dari semua ini?” tanya dia.
“Dengan terus hidup, keluarga kita akan baik-baik saja, istirahatlah sekarang.” Kataku sambil membelai pipinya. Wanita itu memelukku. Wajahnya sekarang tidak pernah lepas dari raut ketakutan, sama halnya denganku, sama halnya dengan orang-orang lain diluar sana. Ia berdiri,mencium pipiku lalu berjalan menuju lantai dua untuk tidur menemani dua anak kami.
Aku masih berada di ruang tengah, menghela nafas panjang sambil berpikir. Berita buruk apalagi yang akan kami dengar besok? Setiap hari selalu ada saja hal-hal yang mengerikan yang terjadi. Separuh populasi Negara ini terjangkit penyakit itu, seperempatnya mati, seperempatnya lagi hidup tapi lapar dan hampir gila.
***
“Kita sudah kehabisan gas” Anita istriku mendekat, ia membuka lemari dapur mengambil korek api, dan menyalakan obor yang kubuat.
“Aku takut,Mas” dia memelukku erat. Kuelus pundaknya dengan sebelah tangan, dan mencium keningnya.
“Anak-anak sudah tidur?”
“Sudah,Mas” Anita menggandengku untuk duduk di sofa, mengambil obor ditanganku dan menaruhnya di dalam vas tanpa bunga.
“Stok makanan bagaimana?” tanyaku.
“Tidak tersisa banyak”
“Besok pagi buta aku akan mencari ke gudang makanan”
“Sudahlah, tinggalah dirumah saja,Mas. Aku lebih takut jika kamu tidak ada bersama kami. Kita masih bisa memakan apa yang ada.” Jawabnya sambil menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Kita harus mendapatkan stok sebelum tidaka ada lagi yang tersisa lagi" Jawabku. Dia mengangguk pasrah.
“Bagaimana kita akan selamat dari semua ini?” tanya dia.
“Dengan terus hidup, keluarga kita akan baik-baik saja, istirahatlah sekarang.” Kataku sambil membelai pipinya. Wanita itu memelukku. Wajahnya sekarang tidak pernah lepas dari raut ketakutan, sama halnya denganku, sama halnya dengan orang-orang lain diluar sana. Ia berdiri,mencium pipiku lalu berjalan menuju lantai dua untuk tidur menemani dua anak kami.
Aku masih berada di ruang tengah, menghela nafas panjang sambil berpikir. Berita buruk apalagi yang akan kami dengar besok? Setiap hari selalu ada saja hal-hal yang mengerikan yang terjadi. Separuh populasi Negara ini terjangkit penyakit itu, seperempatnya mati, seperempatnya lagi hidup tapi lapar dan hampir gila.
***
gajah_gendut dan 2 lainnya memberi reputasi
3