- Beranda
- Stories from the Heart
"Lebih Cantik Dari Bidadari Syurga"
...
TS
nursalim84
"Lebih Cantik Dari Bidadari Syurga"

Siang itu diriku disibukkan di airport karna menunggu teman lama ku datang dari luar pulau ketika diriku sedang asyik mengobrol dengan teman ku via chat untuk janjian ketemu,karna pesawat yang doi tumpangi sudah mendarat,saking asyik nya diriku tak menyadari seseorang di depan ku hingga terjadilah "BRUUKKK...!" badan ku menubruk seorang wanita yang ada didepan ku.
"aduh...!"desah wanita tersebut
"eh maaf...maaf Mbak"ujar ku
Wanita tersebut berbalik kearah ku,dan yang membuatku terdiam adalah pandangan pertama ku ketika melihat wanita yang didepanku ternyata dirinya bercadar hanya terlihat matanya saja,tak ada celah sedikitpun keculai matanya yang bisa aku pandangi.
"Mas kalau jalan matanya kedepan jangan ke hp terus,masa orang berhenti di tabrak"sahutnya
"maaf Mbak,bukan maksud aku sengaja menabrak aku lagi sibuk mau ketemu teman yang janjian disini"
Wanita tersebut hanya memandangi ku sebentar kemudian berlalu dari hadapan ku,aku sendiri begitu malu karna akibat kecerobohan ku membuat diriku bersentuhan dengan wanita yang bukan mahrom aku.
"Assalamu'alaikum Be"suara dari belakang ku mengejutkan ku
"eh Wa'alaikumsalam"sahut ku
"ahlan wa sahlan,gimana kabar mu?"tanya nya
" khair...khair...Kamu gimana?"
"Aku baik juga Brow"ujar ku namun pandangan ku alihkan lagi kearah wanita bercadar yang barusan ku tabrak ternyata sudah menghilang dari pandangan ku
"heh...Kamu nyari siapa Be?"tanyanya heran kepadaku
"enggak,itu loh?"
"itu siapa?"
"tadi kan Aku lagi chat Kamu,enggak sengaja nabrak akhwat bercadar"ujar ku menjelaskan
"wah wah Kamu ini kayaknya penasaran banget sama tuh Akhwat,hati hati loh bisa cinta pada pandangan pertama"canda teman ku sebut saja Abdillah
"apaan sih Dil,mana bisa lah Aku cinta orang lihat wajahnya aja enggak bisa cuman matanya doang"bela ku
"tapi rasa penasaran Mu itu yang bisa bisa membuat penyakit di hati,udah ah yuk enggak usah mikirin yang enggak enggak"ajaknya
Sebeneranya perkataan Abdillah memang benar semenjak insiden kecil barusan hati ku benar penasaran dengan wanita dibalik cadar tersebut,meskipun pertemuan kami terbilang singkat namun sukses membuat diriku bertanya tanya siapa kah gerangan dirinya?apakah bisa aku bertemu dengannya kembali?jujur aku sangat mengidam idamkan memiliki istri yang pandai menutup diri seperti berhijab panjang juga bercadar.
Aku bersama Abdillah lalu berjalan menuju Bus bandara yang akan mengantar kami keterminal dan dari terminal lalu kami melanjutkan kearah desa tempat dimana aku tinggal,desa yang sangat jauh dari hiruk pikuk Ibu kota.
Abdillah sebenernya adalah teman satu kampung dengan ku juga teman satu SMA namun semenjak lulus sekolah dan diterima di perusahaan pertambangan diseberang pulau dirinya pulang hanya 3 bulan sekali.
Diperjalanan Abdillah nyeletuk
"Be kamu kapan nikah?"
"yah kamu nanya kapan aku nikah,seharusnya aku yang nanya kapan kamu nikah?udah sukses di pulau seberang masa belum nikah juga"tanya ku balik
"aku sebentar lagi Be,ini aku pulang karna bakal di kenalin sama wanita pilihan Bapak ku,rencana kalau cocok cuti kedepan aku menikahinya"
"wih mantap kawan,moga sukses deh Kamu"sahut ku
"makanya sekarang aku tanya kamu Be,umur udah 19 tahun masa belum nikah juga"
"yah aku masih nyari kerjaan dulu Dil,kamu kan tau kerjaan ku hanya memelihara sapi dan kambing punya Ayah ku,selain itu ikut paman ku kesawah,lagian masih terlalu muda Dil bagi ku untuk nikah"
"yah terlalu sempit pikiran kamu Be,nikah itu ibadah dan Allah menjamin kepada pemuda yang ingin menikah,fitnah wanita itu besar kalau Kamu enggak segera menikah bakal kena fitnah loh kaya sewaktu dibandara barusan"candanya
Benar juga apa yang dibilang oleh Abdillah karna nikah itu enggak nunggu umur kita tapi nunggu kapan kita siap,karna dalam Agama ku menganjurkan bagi para pemuda untuk menikah karna menikah bisa menundukan pandangan juga kemaluan,namun pernikahan juga butuh dana sedangkan aku sendiri masih nganggur belum kerja,sedangkan Ayah ku melarang ku bekerja di luar kota dikarnakan takut aku bisa terkontaminasi pergaulan kota yang sudah mulai mengikuti gaya hidup di barat.
Bisa di maklumi aku sedari kecil di didik dengan keras masalah Agama karna Ayah dan Ibu ku sangat menjunjung tinggi sunnah Rasulullah dalam kehidupan sehari hari,jangan kan pacaran mengenal seorang wanita pun aku belum pernah,aku disekolahkan di sekolah Agama yang jauh dari kata berkhalwat dengan wanita karna disekolahku lelaki semua enggak ada yang wanita.
Setelah mengantarkan Abdillah kerumahnya lalu aku pulang kembali kerumah,karna waktu sudah menunjukan waktu sore hari waktu nya untuk ku mencari rumput dan daun nangka untuk makanan sapi dan kambing punya Ayah.
Setelah sampai dirumah aku melihat sepertinya ada tamu yang datang karna sandal dan sepatu yang enggak ku kenali pemiliknya,saat masuk rumah aku lalu mengucap salam
"Assalamu'alaikum"ujar ku sembari masuk
"wa'alaikumsalam"sahut 4 orang yang ada diruang tamu yang dua dari Ayah dan Ibu ku yang dua lagi sepasang suami istri yang entah siapa sepertinya teman akrab Ayah ku
Aku masuk sembari memberikan senyum ku kepada tamu tersebut dan melanjutkan berjalan kearah dapur untuk mengambil peralatan mencari rumput,saat hendak melewati mereka tiba tiba Ayah ku memanggil
" Be mau kemana?ada tamu kok di lewatin gitu aja,duduk sini"pinta Ayah
"tapi Yah waktunya mencari rumput kan?"
"udah duduk dulu sebentar,teman Ayah mau kenalan sama kamu"ujar beliau sedikit memaksa
Akhirnya aku pun menuruti kehendak Ayah dan duduk disampingnya sembari tertunduk
"oh ini Mas yang namanya Abe?"ujar teman Ayah
"iyah yang kamu lihat dulu masih bayi sekarang udah gede"
"Nak Abe sekarang umurnya berapa?"tanya teman Ayah
"19 tahun om"sahut ku
"wah cocok Buk anak kita 18 tahun"bisik teman Ayah kepada istrinya
Entah maksud dari pembicaraan" cocok" itu apa aku masih bertanya tanya dan apa hubungan ku dengan anak beliau yang berbeda dengan ku satu tahun
"Nak Abe target nikah umur berapa?"tanya teman Ayah
"wah kalau ditanya nikah masih belum kepikiran Om,kerjaan aja belum punya"jawab ku sekenanya
"terus sehari hari kamu kerjanya ngapain?"
"yah cari rumput buat pakan ternak,kesawah bantu paman"jawabku
"itu kerja namanya Nak,kalau tidur seharian enggak ngapa ngapain namanya pengangguran"
Aku hanya menganggukkan kepala tanpa berani memandang kearah teman Ayah,
"maaf Om mau tanya soal ibadah apakah Nak Abe sholatnya 5 waktu?"
"Insya Allah Om"sambil menganggukkan kepala
"dimasjid?"tanya Beliau lagi
"Insya Allah Om"lagi lagi kata itu yang terlontar dari mulutku
"wAh cocok Mas jadi mantu kita"bisik istri Beliau
Meskipun dengan pelan istri teman Ayah berbisik kesuaminya namun tetap aja aku mendengarnya dan kata kata "Mantu" tersebut membuatku sedikit shock antara penasaran dan heran aku bergumam
"kenapa harus aku?siapa juga wanita yang mau menikah dengan pria desa seperti ku?dan kenapa teman ayah begitu ngotot menanyakan soal pribadi ku?"
Begitu banyak pertanyaan yang mengganjal dalam benak ku,ayah ku yang biasanya kedatangan teman karibnya biasa aja ketika aku lewat di hadapan beliau dan kali ini diriku malah di suruh memperkenalkan diri di hadapan teman Beliau,ketika aku sedang berpikir tiba tiba teman Ayah berbicara sesuatu yang membuat aku terkejut dan tidak percaya,beliau berkataQuote:"Nak Abe apakah Kamu siapa menikah dengan Anak Om?"
"terdiam tanpa bisa berkata apa apa"
"kalau Nak Abe siap,besok kerumah Om yah,nanti Om pertemukan dengan Anak Om"
"Menikah?dengan Anak beliau?GILA barusan tadi siang aku membicarakan tentang pernikahan dengan Abdillah dan sekarang tanpa diduga aku akan dijodohkab dengan anak teman Ayah?mimpi apa aku semalam?"bathin ku
Spoiler for index:
Diubah oleh nursalim84 26-05-2020 18:27
manik.01 dan 23 lainnya memberi reputasi
22
17.7K
166
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nursalim84
#74
Part 55
dengan perlahan tangan ku meraih tangan Nurul lalu ku kecup kemudian berganti mengecup ubun ubunnya, tak henti hentinya aku bersyukur kepada Allah Jalla Jalaluhu karna telah dipertemukan oleh wanita yang selama ini aku idam idamkan.
walaupun kesan pertama pernikahan kami Nurul sedikit canggung dan malu malu untuk mendekatiku namun sifat malunya itu lah yang menarik perhatianku, kemuliaan wanita itu bisa diliat dari sifat malunya, kalau wanita sudah tidak memiliki rasa malu mungkin dia tidak akan tau dan perduli akan syariat yang Allah turunkan untuknya.
ada sebagian wanita yang bercadar namun tak tau tentang fungsi dari cadar itu sendiri, upload foto dengan pose yang bikin Ikhwan yang sudah ngaji sunnah sendiri rada enggak enak melihatnya. Berbeda dengan Akhwat yang sudah tau fungsi hijab dan cadar itu sendiri mereka akan menahan tangan mereka untuk mengupload foto foto di medsos karna semua yang ada di diri mereka hanyalah milik suaminya bukan konsumsi publik.
setelah puas berlama lama mencium ubun ubunnya lalu aku menyapanya sambil mengangkat wajahnya dengan tanganku.
"Nur...?" panggil ku
wajah Nurul yang tertunduk kemudian melihatku "Labaik ya Zauji" sahutnya
tangan ku kemudian memegang ubun ubunnya seraya berdoa ""Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.(ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)." (HR. Abu Dawud 2/248, Ibnu Majah 1/617 dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/324)
Nurul meng aamiin kan doa ku kemudian tersenyum manis kepadaku kemudia berkata "haadzihi yadii biyadika. laa aktahilu bighomdi hatta tardhoo..(Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha).
"bagaimana aku tak ridho? jika wanita yang ada dihadapanku mempunyai sifat muru'ah, pemalu dan tau cara melayani suaminya. andai saja bidadari syurga diturunkan Allah kemuka bumi maka mereka tidak akan sanggup menahan rasa cemburunya melihat bidadari dunia yang ada di hadapan ku"
"Subhanallah, afwan Zauji jangan terlalu menilai ku berlebihan, aku tak seperti yang kamu bayangkan, banyak dosa dosa ku yang Allah sembunyikan, kalau saja Allah tampakan niscaya kamu tak akan betah duduk berlama lama dengan ku"
"aku pun juga sama sayang, aku bukan lah malaikat dan kamu bukan lah bidadari yang terpenting adalah sama sama saling mengingatkan ketika kita terjatuh dalam kesalahan"
karna Annisa yang sedari tadi sudah tertidur akhirnya Nurul dengan perlahan membawanya kekamar untuk menidurkan Annisa, kemudian kembali lagi duduk disampingku, posisi kami berganti duduk di bawah kursi sembari memandangi rembulan yang tampak indah menemani malam kami berdua.
ku coba meraih jari jemarinya Nurul namun tak pernah lama tangan kami bergandengan karna Nurul begitu malu.
"kamu kenapa? tangan aku kotor yah?"
"enggak kok, bukan itu maksud ku Zauji, tapi...?"
"tapi kenapa sayang?"
"hmmm...janji yah Zauji jangan marah"
"insya Allah" seraya tersenyum kepadanya
"aku mengagumimu, namun hati ini masih butuh waktu untuk mencintaimu sepenuhnya, jadi tolong ajari aku untuk mencintaimu yah Zauji"
"ndak apa apa istriku, wajar kita baru sehari hidup satu rumah, ingat ungkapan ini Witing Tresno Jalaran Soko Kuliner?"
mendengar pernyataanku Nurul tertawa sembari menutup mulutnya
"lah kok ketawa?" ucapku
"gimana enggak ketawa wong terakhirnya malah kuliner, kulino kali Mas"
"woh, salah yo berarti, pokoknya ntar rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya kok" nyengir kepadanya
ku beranikan tangan ini menjamah wajah cantiknya sedangkan Nurul hanya tertunduk malu membiarkan tangan ku menjamah wajahnya.
"kamu tau ndak matahari itu sumber kehidupan buat aku, bulan itu adalah penerang malam ku sedangkan bintang adalah penghiasnya, namun ada 1 hal yang dapat mewakili itu semua"
"apa itu Zauji?" tanya Nurul penasaran
"memilikimu seutuhnya" ucapku kemudian mencium pipinya
mendengar penuturan ku serta ciuman yang mendadak ku berikan padanya Nurul terkejut lalu memandangku sejenak kemudian menutup wajahnya seraya berkata "Ya Allah Mas, kalau nyium bilang bilang dong, malu ih" ucapnya
mendengar tingkahnya yang malu malu aku hanya bisa tertawa geli melihat sikapnya yang begitu lucu ketika dapat ciuman pertama dariku.
Keesokan harinya aku menemani Nurul kepasar untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga karna jarang paman sayur mampir kekampung halaman Ku jadi terpaksa harus ketempat di mana Allah murkai yaitu pasar.
Aku berjalan di muka Nurul untuk menjadi tamengnya karna banyaknya orang lalu lalang dan berdesakan sehingga rawan bersentuhan, karna Ku tak ingin tubuh Nurul tersentuh akhirnya aku lah yang menjadi tamengnya.
Kondisi pasar ditempat Ku begitu Kotor Dan bencek sehingga Ku gandeng tangan Nurul agar tak menginjak kubangan lumpur, karna konsentrasiku hanya tertuju kepada Nurul sehingga tak kusadari didepan Ku ada seseorang.
"Bughh..!" Badan Ku Dan badan lelaki yang ada didepan bertabrakan.
"Heh kalau Jalan pale mata!" Bentaknya
"Eh maaf mas" sahutku seraya ingin menyalaminya
Namun tangan ku ditepis olehnya smbari berucap "dasar teroris"
Kemudian lelaki itu berlalu dengan pandangan sinis kepadaku dan juga Nurul. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sembari beristighfar dalam hati.
"Sabar yah Mas" ucap Nurul seraya mengelus dadaku
Aku hanya tersenyum kepada Nurul melanjutkan perjalanan pulang menuju tempat parkiran sepeda motor.
Ketika hendak mengeluarkan motor tiba tiba "cekrek" suara kamera mengalihkan perhatian ku.
Ternyata lelaki yang menabrakku tadi sedang memfoto Nurul, karna kaget Nurul pun bersembunyi dibelakangku.
"Mas tolong jangan foto istri saya" ucapku
"Lah emang kenapa? Hp punya Gue, hak Loe apa larang Gue?"
"Itu hp memang punya Kamu Mas dan terserah mau kamu apain, tapi ini istri saya dan saya tidak ridho Mas ambil foto istri saya"
"Yaelah cuman foto doang ribet banget sih Loe" seraya berlalu dari hadapan ku
Aku pun menangkap tangannya agar tak pergi jauh.
"Apa apaan ini" seraya ingin melepaskan cengkraman tangan ku
"Saya minta baik baik, tolong hapus foto istri saya"
"Kalau Gue enggak mau, Loe mau apa?"
"Saya enggak suka kekerasan Mas, jadi tolong hapus foto istri saya" emosi ku mulai tersulut
"Oke Gue akan hapus foto istri Loe dengan satu syarat?"
"Apa itu?" ucapku yang kemudian melepaskan cengkraman tangan ku dilengannya
"Tolong jelaskan kenapa istri Loe berpakaian seperti ini? Karna orang islam yang Gue tau biasa biasa aja enggak terlalu kaya gini banget pakaiannya"
Pertanyaan yang sangat aneh bagiku.
"Kalau ngomong disini rasanya tak enak Mas, mari ikut saya"
"Oke" jawabnya kemudian mengikuti langkahku
Kami pun berhenti di mushola dekat pasar, lalu duduk diterasnya.
Setelah duduk lelaki ini mencerca ku dengan berbagai pertanyaan.
"Di Alquran yang Gue tau enggak ada kewajiban bercadar lalu kenapa istri Loe bercadar?"
"Terdapat khilaf di antara kalangan ulama mas yaitu ada yang mengatakan Sunnah ada juga yang mewajibkan, mas tau ndak umul mu'minin Aisyah Radhiallohu'anha bercadar?"
"Iyah tau tapi kan itu budaya Arab bukan budaya kita"
"Sebelum islam datang masyarakat Arab tak memakai cadar bahkan tak memakai penutup kepala sehingga tampak rambut mereka, justru islamlah yang kemudian datang kemudian memerintahkan wanita wanita untuk berhijab seperti yang Allah firman kan "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab: 59)"
"Itu tetang hijab kan, lalu cadar gimana?"
"riwayat dari ‘Aisyah
ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻟﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ : } ﻭﻟﻴﻀﺮﺑﻦ ﺑﺨﻤﺮﻫﻦ ﻋﻠﻰ ﺟﻴﻮﺑﻬﻦ , ﺃﺧﺬﻥ ﺃﺯﺭﻫﻦ ﻓﺸﻘﻘﻨﻬﺎ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺤﻮﺍﺷﻲ ﻓﺎﺧﺘﻤﺮﻥ ﺑﻬﺎ
“Ketika turun ayat ini, yaitu: ‘Dan perintahkanlah agar mereka menjulurukan kain kudung mereka hingga dada-dada mereka.’ Mereka langsung mengambil kain-kain mereka dan merobek ujung-ujungnya, maka mereka berkhimar dengannya.”[3]
Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud “berkhimar dengannya” yaitu menutup wajah mereka"
"Jadi maksudnya itu menutup wajah mereka seperti mana bercadar bukan hanya berjilbab saja" jawabku
Lelaki itu hanya mengangguk sambil mengelus dagunya seperti orang berpikir.
"Saya boleh nanya balik Mas?" ucapku
"Apa itu?" jawabnya
"Di masyarakat kita banyak memakai pakaian kentat seperti jeans, rok mini, pacaran, valentine kenapa ndak Mas larang? Bukan kah itu budaya barat? Bukan budaya kita?"
Lelaki itu kemudian terdiam sejenak kemudian berpikir sambil matanya melirik ke atas.
"Tapi kan itu moderenisasi mas, dan istri mas ini adalah kolot yang enggak bisa ngikuti zaman"
Aku pun tersenyum kemudiam menjawab "justru islam itu muncul untuk memoderenisasi manusia"
"Contohnya apa?"
"Mas tau kan manusia purba yang pernah di ajarkan waktu SMP? Walaupun saya tak meyakini manusia purba itu ada"
"Iya terus apa hubungannya dengan manusia purba?"
"Bukan kah manusia purba itu lelaki dan wanitanya telanjang? Sedang kan Islam datang menyuruh kita untuk memakai baju agar tertutup auratnya lalu moderenisasi yang mana yang mas ikuti? Manusia purba yang terbelakang atau islam?"
Lelaki itu kemudian terdiam dan malu setelah mendengar penjelasan ku.
"Tapi Mas bukan kah pakaian yang Mas dan Istri kenakan itu ciri ciri terteroris?"
"itu tidak benar, mereka hanya menyerupai namun berbeda akhlaq dan akidahnya, dalam islam kita di ajarkan untuk damai, teroris mengajarkan bunuh kafir dimana pun berada sedangkan dalam islam kita tak dibenarkan membunuh kafir kecuali mereka menyulut api peperangan, teroris mengkafirkan pemimpin kita sedangkan Allah dan RasulNya mengajarkan untuk taat kepada ulil amri selama perintahnya tak menyalahi agama. Lalu ciri mana yang Mas tuduhkan itu kepada saya dan istri?"
Lelaki itu menggelengkan kepala.
"Sekarang saya tanya maaf bukan menyinggung, psk mas tau kan ciri cirinya seperti apa? Apakah Mas ridho saya bilang istri mas psk?"
"Ya jelas enggak lah, enak aja bilang istri saya psk"
"Kenapa mas enggak ridho bukan kah pakaian nya sama?"
"Tapi kan beda mas, meskipun pakaian sama"
"Nah itu dia mas, saya pun tak ridho istri saya dan kaum muslimah yang bercadar di bilang teroris, mereka berusaha menutup aurat hanya untuk melindungi diri mereka dan agar yang melihat juga terjauh dari dosa zina mata, itulah kemuliaan islam yang syariatnya bukan untuk individu tapi untuk semua manusia"
"Masya Allah baru ini saya bisa klop sama jawaban mu Mas, boleh saya minta nomer hpnya, saya mau belajar agama lebih dalam lagi"
"Maaf mas saya bukan ustadz, tapi kalau mas mau saya bisa arahkan Mas ke pengajian yang sering saya dengar, semoga Mas bisa menerima dakwah sunnah"
Perdebatan ku dengan lelaki itu pun berakhir dengan sadarnya dia atas pemikirannya tentang cadar yang selama ini di anggapnya sebagai bibit teroris semoga banyak yang sadar atas pemikiran kalau bercadar adalah teroris. Fitrah perempuan itu adalah pemalu dan Allah maha tau dan tak akan pernah salah menurun kan syariatnya untuk perempuan, kalau sudah rasa malu itu hilang didiri perempuan maka hilang pula lah fitrahnya dan mungkin akan banyak perzinahan yang merajalela di atas muka bumi ini.
walaupun kesan pertama pernikahan kami Nurul sedikit canggung dan malu malu untuk mendekatiku namun sifat malunya itu lah yang menarik perhatianku, kemuliaan wanita itu bisa diliat dari sifat malunya, kalau wanita sudah tidak memiliki rasa malu mungkin dia tidak akan tau dan perduli akan syariat yang Allah turunkan untuknya.
ada sebagian wanita yang bercadar namun tak tau tentang fungsi dari cadar itu sendiri, upload foto dengan pose yang bikin Ikhwan yang sudah ngaji sunnah sendiri rada enggak enak melihatnya. Berbeda dengan Akhwat yang sudah tau fungsi hijab dan cadar itu sendiri mereka akan menahan tangan mereka untuk mengupload foto foto di medsos karna semua yang ada di diri mereka hanyalah milik suaminya bukan konsumsi publik.
setelah puas berlama lama mencium ubun ubunnya lalu aku menyapanya sambil mengangkat wajahnya dengan tanganku.
"Nur...?" panggil ku
wajah Nurul yang tertunduk kemudian melihatku "Labaik ya Zauji" sahutnya
tangan ku kemudian memegang ubun ubunnya seraya berdoa ""Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.(ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)." (HR. Abu Dawud 2/248, Ibnu Majah 1/617 dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/324)
Nurul meng aamiin kan doa ku kemudian tersenyum manis kepadaku kemudia berkata "haadzihi yadii biyadika. laa aktahilu bighomdi hatta tardhoo..(Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha).
"bagaimana aku tak ridho? jika wanita yang ada dihadapanku mempunyai sifat muru'ah, pemalu dan tau cara melayani suaminya. andai saja bidadari syurga diturunkan Allah kemuka bumi maka mereka tidak akan sanggup menahan rasa cemburunya melihat bidadari dunia yang ada di hadapan ku"
"Subhanallah, afwan Zauji jangan terlalu menilai ku berlebihan, aku tak seperti yang kamu bayangkan, banyak dosa dosa ku yang Allah sembunyikan, kalau saja Allah tampakan niscaya kamu tak akan betah duduk berlama lama dengan ku"
"aku pun juga sama sayang, aku bukan lah malaikat dan kamu bukan lah bidadari yang terpenting adalah sama sama saling mengingatkan ketika kita terjatuh dalam kesalahan"
karna Annisa yang sedari tadi sudah tertidur akhirnya Nurul dengan perlahan membawanya kekamar untuk menidurkan Annisa, kemudian kembali lagi duduk disampingku, posisi kami berganti duduk di bawah kursi sembari memandangi rembulan yang tampak indah menemani malam kami berdua.
ku coba meraih jari jemarinya Nurul namun tak pernah lama tangan kami bergandengan karna Nurul begitu malu.
"kamu kenapa? tangan aku kotor yah?"
"enggak kok, bukan itu maksud ku Zauji, tapi...?"
"tapi kenapa sayang?"
"hmmm...janji yah Zauji jangan marah"
"insya Allah" seraya tersenyum kepadanya
"aku mengagumimu, namun hati ini masih butuh waktu untuk mencintaimu sepenuhnya, jadi tolong ajari aku untuk mencintaimu yah Zauji"
"ndak apa apa istriku, wajar kita baru sehari hidup satu rumah, ingat ungkapan ini Witing Tresno Jalaran Soko Kuliner?"
mendengar pernyataanku Nurul tertawa sembari menutup mulutnya
"lah kok ketawa?" ucapku
"gimana enggak ketawa wong terakhirnya malah kuliner, kulino kali Mas"
"woh, salah yo berarti, pokoknya ntar rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya kok" nyengir kepadanya
ku beranikan tangan ini menjamah wajah cantiknya sedangkan Nurul hanya tertunduk malu membiarkan tangan ku menjamah wajahnya.
"kamu tau ndak matahari itu sumber kehidupan buat aku, bulan itu adalah penerang malam ku sedangkan bintang adalah penghiasnya, namun ada 1 hal yang dapat mewakili itu semua"
"apa itu Zauji?" tanya Nurul penasaran
"memilikimu seutuhnya" ucapku kemudian mencium pipinya
mendengar penuturan ku serta ciuman yang mendadak ku berikan padanya Nurul terkejut lalu memandangku sejenak kemudian menutup wajahnya seraya berkata "Ya Allah Mas, kalau nyium bilang bilang dong, malu ih" ucapnya
mendengar tingkahnya yang malu malu aku hanya bisa tertawa geli melihat sikapnya yang begitu lucu ketika dapat ciuman pertama dariku.
Keesokan harinya aku menemani Nurul kepasar untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga karna jarang paman sayur mampir kekampung halaman Ku jadi terpaksa harus ketempat di mana Allah murkai yaitu pasar.
Aku berjalan di muka Nurul untuk menjadi tamengnya karna banyaknya orang lalu lalang dan berdesakan sehingga rawan bersentuhan, karna Ku tak ingin tubuh Nurul tersentuh akhirnya aku lah yang menjadi tamengnya.
Kondisi pasar ditempat Ku begitu Kotor Dan bencek sehingga Ku gandeng tangan Nurul agar tak menginjak kubangan lumpur, karna konsentrasiku hanya tertuju kepada Nurul sehingga tak kusadari didepan Ku ada seseorang.
"Bughh..!" Badan Ku Dan badan lelaki yang ada didepan bertabrakan.
"Heh kalau Jalan pale mata!" Bentaknya
"Eh maaf mas" sahutku seraya ingin menyalaminya
Namun tangan ku ditepis olehnya smbari berucap "dasar teroris"
Kemudian lelaki itu berlalu dengan pandangan sinis kepadaku dan juga Nurul. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sembari beristighfar dalam hati.
"Sabar yah Mas" ucap Nurul seraya mengelus dadaku
Aku hanya tersenyum kepada Nurul melanjutkan perjalanan pulang menuju tempat parkiran sepeda motor.
Ketika hendak mengeluarkan motor tiba tiba "cekrek" suara kamera mengalihkan perhatian ku.
Ternyata lelaki yang menabrakku tadi sedang memfoto Nurul, karna kaget Nurul pun bersembunyi dibelakangku.
"Mas tolong jangan foto istri saya" ucapku
"Lah emang kenapa? Hp punya Gue, hak Loe apa larang Gue?"
"Itu hp memang punya Kamu Mas dan terserah mau kamu apain, tapi ini istri saya dan saya tidak ridho Mas ambil foto istri saya"
"Yaelah cuman foto doang ribet banget sih Loe" seraya berlalu dari hadapan ku
Aku pun menangkap tangannya agar tak pergi jauh.
"Apa apaan ini" seraya ingin melepaskan cengkraman tangan ku
"Saya minta baik baik, tolong hapus foto istri saya"
"Kalau Gue enggak mau, Loe mau apa?"
"Saya enggak suka kekerasan Mas, jadi tolong hapus foto istri saya" emosi ku mulai tersulut
"Oke Gue akan hapus foto istri Loe dengan satu syarat?"
"Apa itu?" ucapku yang kemudian melepaskan cengkraman tangan ku dilengannya
"Tolong jelaskan kenapa istri Loe berpakaian seperti ini? Karna orang islam yang Gue tau biasa biasa aja enggak terlalu kaya gini banget pakaiannya"
Pertanyaan yang sangat aneh bagiku.
"Kalau ngomong disini rasanya tak enak Mas, mari ikut saya"
"Oke" jawabnya kemudian mengikuti langkahku
Kami pun berhenti di mushola dekat pasar, lalu duduk diterasnya.
Setelah duduk lelaki ini mencerca ku dengan berbagai pertanyaan.
"Di Alquran yang Gue tau enggak ada kewajiban bercadar lalu kenapa istri Loe bercadar?"
"Terdapat khilaf di antara kalangan ulama mas yaitu ada yang mengatakan Sunnah ada juga yang mewajibkan, mas tau ndak umul mu'minin Aisyah Radhiallohu'anha bercadar?"
"Iyah tau tapi kan itu budaya Arab bukan budaya kita"
"Sebelum islam datang masyarakat Arab tak memakai cadar bahkan tak memakai penutup kepala sehingga tampak rambut mereka, justru islamlah yang kemudian datang kemudian memerintahkan wanita wanita untuk berhijab seperti yang Allah firman kan "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Ahzab: 59)"
"Itu tetang hijab kan, lalu cadar gimana?"
"riwayat dari ‘Aisyah
ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻟﺖ ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ : } ﻭﻟﻴﻀﺮﺑﻦ ﺑﺨﻤﺮﻫﻦ ﻋﻠﻰ ﺟﻴﻮﺑﻬﻦ , ﺃﺧﺬﻥ ﺃﺯﺭﻫﻦ ﻓﺸﻘﻘﻨﻬﺎ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺤﻮﺍﺷﻲ ﻓﺎﺧﺘﻤﺮﻥ ﺑﻬﺎ
“Ketika turun ayat ini, yaitu: ‘Dan perintahkanlah agar mereka menjulurukan kain kudung mereka hingga dada-dada mereka.’ Mereka langsung mengambil kain-kain mereka dan merobek ujung-ujungnya, maka mereka berkhimar dengannya.”[3]
Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan maksud “berkhimar dengannya” yaitu menutup wajah mereka"
"Jadi maksudnya itu menutup wajah mereka seperti mana bercadar bukan hanya berjilbab saja" jawabku
Lelaki itu hanya mengangguk sambil mengelus dagunya seperti orang berpikir.
"Saya boleh nanya balik Mas?" ucapku
"Apa itu?" jawabnya
"Di masyarakat kita banyak memakai pakaian kentat seperti jeans, rok mini, pacaran, valentine kenapa ndak Mas larang? Bukan kah itu budaya barat? Bukan budaya kita?"
Lelaki itu kemudian terdiam sejenak kemudian berpikir sambil matanya melirik ke atas.
"Tapi kan itu moderenisasi mas, dan istri mas ini adalah kolot yang enggak bisa ngikuti zaman"
Aku pun tersenyum kemudiam menjawab "justru islam itu muncul untuk memoderenisasi manusia"
"Contohnya apa?"
"Mas tau kan manusia purba yang pernah di ajarkan waktu SMP? Walaupun saya tak meyakini manusia purba itu ada"
"Iya terus apa hubungannya dengan manusia purba?"
"Bukan kah manusia purba itu lelaki dan wanitanya telanjang? Sedang kan Islam datang menyuruh kita untuk memakai baju agar tertutup auratnya lalu moderenisasi yang mana yang mas ikuti? Manusia purba yang terbelakang atau islam?"
Lelaki itu kemudian terdiam dan malu setelah mendengar penjelasan ku.
"Tapi Mas bukan kah pakaian yang Mas dan Istri kenakan itu ciri ciri terteroris?"
"itu tidak benar, mereka hanya menyerupai namun berbeda akhlaq dan akidahnya, dalam islam kita di ajarkan untuk damai, teroris mengajarkan bunuh kafir dimana pun berada sedangkan dalam islam kita tak dibenarkan membunuh kafir kecuali mereka menyulut api peperangan, teroris mengkafirkan pemimpin kita sedangkan Allah dan RasulNya mengajarkan untuk taat kepada ulil amri selama perintahnya tak menyalahi agama. Lalu ciri mana yang Mas tuduhkan itu kepada saya dan istri?"
Lelaki itu menggelengkan kepala.
"Sekarang saya tanya maaf bukan menyinggung, psk mas tau kan ciri cirinya seperti apa? Apakah Mas ridho saya bilang istri mas psk?"
"Ya jelas enggak lah, enak aja bilang istri saya psk"
"Kenapa mas enggak ridho bukan kah pakaian nya sama?"
"Tapi kan beda mas, meskipun pakaian sama"
"Nah itu dia mas, saya pun tak ridho istri saya dan kaum muslimah yang bercadar di bilang teroris, mereka berusaha menutup aurat hanya untuk melindungi diri mereka dan agar yang melihat juga terjauh dari dosa zina mata, itulah kemuliaan islam yang syariatnya bukan untuk individu tapi untuk semua manusia"
"Masya Allah baru ini saya bisa klop sama jawaban mu Mas, boleh saya minta nomer hpnya, saya mau belajar agama lebih dalam lagi"
"Maaf mas saya bukan ustadz, tapi kalau mas mau saya bisa arahkan Mas ke pengajian yang sering saya dengar, semoga Mas bisa menerima dakwah sunnah"
Perdebatan ku dengan lelaki itu pun berakhir dengan sadarnya dia atas pemikirannya tentang cadar yang selama ini di anggapnya sebagai bibit teroris semoga banyak yang sadar atas pemikiran kalau bercadar adalah teroris. Fitrah perempuan itu adalah pemalu dan Allah maha tau dan tak akan pernah salah menurun kan syariatnya untuk perempuan, kalau sudah rasa malu itu hilang didiri perempuan maka hilang pula lah fitrahnya dan mungkin akan banyak perzinahan yang merajalela di atas muka bumi ini.
biaspelangi dan 6 lainnya memberi reputasi
7