- Beranda
- Stories from the Heart
HOROR STORY : ANGKERNYA TEGAL SALAHAN
...
TS
indrag057
HOROR STORY : ANGKERNYA TEGAL SALAHAN

Hai agan dan sista penghuni jagad kaskus tercinta dimanapun berada, ijinkan ane yang masih newbie ini kembali berbagi sedikit cerita, semoga berkenan di hati agan dan sista semua.
Di kesempatan ini ane akan coba menceritakan kejadian kejadian yang pernah terjadi di desa ane, saat ane masih kecil dan tinggal di desa. Sebut saja desa Kedhungjati, sebuah desa terpencil yang masih sarat dengan adat istiadat dan kepercayaan yang berbau sakral dan mistis.
Banyak tempat tempat yang masih dianggap sakral dan angker, salah satunya tempat bernama Tegal Salahan. Kawasan ini merupakan jalan desa yang menghubungkan desa ane dengan desa Kedhungsono, yang berada di sebelah selatan desa ane.
Jalan berbatu yang dari arah desa ane menurun tajam, lalu menanjak terjal saat mendekati desa Kedhungsono. Di kiri kanan jalan diapit oleh area persawahan dan tanah tegalan milik para penduduk setempat. Dan ditengah tanjakan dan turunan itu ada jembatan kecil atau biasa disebut bok, tempat dimana mengalir sebuah sungai kecil yang mengalir dari arah barat ke timur.
Di jembatan atau bok inilah yang dipercaya menjadi pusat sarangnya segala macam lelembut, meski di area persawahan, tanah tegalan, dan sungai kecil juga tak kalah angker.
Sudah tak terhitung warga desa ane ataupun desa desa yang lain menjadi korban keisengan makhluk makhluk penghuni tempat tersebut, dari yang sekedar ditakut takutin bahkan sampai ada yang kehilangan nyawa.
Dan kisah kisah itulah yang akan ane coba ceritakan disini. Berhubung ini merupakan kejadian nyata dan menyangkut privacy banyak orang, maka semua nama dan tempat kejadian akan ane samarkan.
Ane juga mohon maaf kalau ada pihak pihak yang merasa tersinggung dengan thread yang ane buat ini. Disini ane murni ingin berbagi cerita, bukan bermaksud untuk menyinggung pihak manapun.
Terakhir, berhubung ane masih newbie, dan update menggunakan perangkat yang sangat sangat sederhana, ane mohon maaf kalau dalam penulisan, penyusunan kalimat, dan penyampaian cerita yang masih berantakan dan banyak kekurangan. Ane juga belum bisa menyusun indeks cerita, jadi kisah kisah selanjutnya akan ane lanjutkan di kolom komentar, part demi part, karena ceritanya lumayan banyak dan panjang. Jadi mohon dimaklumi.
OK, tanpa banyak basa basi lagi mari kita simak bersama kisahnya.
INDEX:
Part 1 :Glundhung Pringis njaluk Gendhong
Part 2 :Jenglot njaluk Tumbal
Part 3 :Yatmiiiiiiiiiii Balekno Matane Anakku
Part 4 :Wewe Gombel
Part 5 :Nonton Wayang
Part 6 :Dikeloni Wewe Gombel
Sedikit sisipan:Asal Mula Nama Salahan
Part 7 :Watu Jaran
Part 8 :Sang Pertapa
Part 9 :Mbah Boghing
Part 10 :Wedhon
Part 11 :Ronda Malam dan Macan Nggendhong Mayit
Part 12 :Maling Bingung
Part 13 :Si Temon
Part 14 :Thethek'an
Part 15 :Kemamang dan Perempuan Gantung Diri
Part 16 :Tumbal Pembangunan Jalan Desa
Penutup
Diubah oleh indrag057 10-06-2020 03:54
harysa123 dan 92 lainnya memberi reputasi
93
67.4K
368
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
indrag057
#18
Part 3 : Yatmiiiiiiiiiii........, Balekno Matane Anakku!!!!!!!!
Bapak ane juga punya tanah garapan di area Tegal Salahan ini gansist, tapi letaknya agak jauh dari jalan Salahan, kira kira 200 meteran gtu ke arah timur jalan. Meski begitu ga kalah angker dari jalan Salahan.
Sebenarnya lahan itu bukan milik bapak ane gansist, tapi milik tetangga. Bapak ane hanya menggarapnya, nanti kalau panen hasilnya dibagi dua gitu. Praktek praktek menggarap lahan orang dengan sistem bagi hasil begini sudah menjadi hal yang wajar di desa ane. Dan bapak ane meski tidak memiliki sawah atau ladang sendiri, tapi memiliki beberapa lahan garapan milik orang lain. Lumayanlah, meski tak memiliki lahan sendiri tapi masih bisa mendapat penghasilan dari menggarap lahan orang.
Ane sendiri, sebagai anak yang baik dan berbakti kepada orang tua, meski masih kecil tapi suka membantu bapak kerja di ladang itu, meski sebenarnya lebih banyak ngerecokin sih daripada membantu. Yach, namanya juga anak kecil, bisa dimaklumin lah.
Di tepi ladang yang digarap bapak ane ada sebuah batu hitam besar yang kata orang angker, ada penunggunya. Tapi ane percaya ga percaya sih. Cz ane sendiri sering bermain main di batu itu. Memanjatnya naik dan tiduran di atasnya, dinaungi rindangnya pohon akasia di siang yang panas, kan jadi sejuk tuh. Dan ane juga ga pernah diganggu tuh sama penunggu batu itu.
Tapi lain lagi yang dialami mBak Yatmi. Dia ini anaknya Lik Parmin, pemilik lahan yang digarap bapak ane. Mbak Yatmi pernah mengalami kejadian yang mungkin nggak akan pernah dilupakan selama hidupnya. Kejadian yang hampir merenggut nyawa anaknya.
Jadi ceritanya begini gansist, mBak Yatmi ini sudah lama merantau ke Jakarta, bersama suami dan anaknya. Saat itu masih dalam suasana lebaran, lebaran lewat beberapa hari gitu. Seperti para perantau pada umumnya, mBak Yatmi dan keluarga pun juga mudik ke desa.
Saat itu bersamaan dengan musimya panen kacang tanah. Jadi meski masih dalam suasana lebaran, bapak, emak, dan ane sudah sibuk di ladang memanen kacang. Orang tua mBak Yatmi juga ikut membantu.
Mbak Yatmi sendiri juga ikut ke ladang bersama anak dan suaminya. Bukan ikut membantu bekerja sih. Tau sendiri lah orang dari kota. Sibuk lihat lihat pemandangan, foto sana foto sini, main air di kali, aneh menurut ane.
Ya maklum lah ane yang masih kecil dan belum mengenal kota, wajar kalau merasa aneh. Masa pergi ke ladang pake baju bagus, sendal bagus, dah gitu pake kacamata item lagi. Lihat sawah dan sungai juga kayanya seneng banget, kaya orang nggak pernah lihat sawah dan sungai saja. Terus ngapain juga orang lagi kerja di ladang difoto foto gitu. Kaya penganten saja di foto. Ane taunya yang suka di foto tuh ya orang yang jadi penganten. Maklum gansist, zaman itu kamera foto masih merupakan barang yang sangat langka dan mewah.
Mungkin karena capek berkeliling melihat lihat, mBak Yatmi beserta anak dan suaminya istirahat berteduh di bawah pohon akasia di dekat batu angker itu. Ane sedikit kesal juga waktu itu. Orang pada sibuk kerja kok malah pada asyik asyik nyantai begitu.
Singkat cerita, sore pun datang. Kamipun bersiap siap untuk pulang. Pekerjaan yang belum selesai akan dilanjutkan besok. Saat berjalan pulang mBak Yatmi sempat memuji ane gansist, masih kecil tapi sudah rajin membantu orang tua bekerja. Ane juga dikasih duit limaribu perak. Wah, ane seneng banget tuh. Zaman itu duit limaribu sangatlah banyak. Uang jajan ane za kalau ga salah cuma duaratus perak sehari. Sangking senangnya ane jadi lupa tuh ma rasa kesal ane pas mBak Yatmi nyantai nyantai ga bantuin kerja tadi.
Besoknya kami lanjut kerja lagi memanen kacang gansist. Tapi kali ini mBak Yatmi ga ikut. Ane juga lihat Lik Parmin menaruh pencok bakal*) dan membakar dupa di dekat batu besar itu gansist. Ane jadi mikir, pasti ada apa apa nih, ada yang digangguin sama penunggu batu itu. Tapi ane ga mikir jauh lagi. Pikiran ane beralih ke pencok bakal yang ditaruh di dekat batu itu. Begitu Lik Parmin selesai bakar kemenyan dan baca mantra, langsung saja pencok bakalnya ane sikat. Lumayan, isinya ada telor ayam ma duit seratus perak. Telor ma duitnya yang ane ambil gansist, isi yang lainya seperti kembang setaman, daun sirih, sejimpit beras kuning, seiris kunyit, dll ane buang.
Tapi ane masih penasaran gansist, kenapa Lik Parmin sampai ngguwak'i*) di batu itu. Anepun diam diam nguping obrolan bapak ane dengan Lik Parmin. Ternyata benar, ada yang gangguin mBak Yatmi. Siapa lagi kalau bukan penghuni batu besar itu.
Jadi semenjak kemaren sore sepulang dari ladang mBak Yatmi tuh merasa selalu ada yang ngikutin. Kemana mana di ikutin, tapi saat di tengok ga ada siapa siapa. Sampai malam pun mBak Yatmi selalu gelisah dan ga bisa tidur. Sampai saat tertidur, mBak Yatmi mimpi aneh. Dia mimpi dia lagi tidur gitu, trus di samping tempat tidurnya ada perempuan yang duduk sambil ngeliatin dia tidur. Cuma ngeliatin doang, tapi dengan tatapan yang aneh gitu. Mbak Yatmi juga ga kenal siapa perempuan itu.
Besokmya lagi, saat kembali bekerja, ternyata Lik Parmin masih ngguwak'i lagi di batu besar itu. Wah, berarti makin parah nih, pikir ane. Tapi ane senang, dapet telor ayam ma duit seratus perak lagi.
Lagi lagi ane kepo dan nguping obrolan bapak ma Lik Parmin. Ternyata mBak Yatmi masih digangguin. Semalem, mBak Yatmi mimpi lagi didatangi perempuan yang sama dengan yang di mimpi kemaren malam. Namun kali ini bukan cuma ngeliatin, tapi sudah berani mencengkeram tangan mBak Yatmi sambil bilang, "Baleknooooo.......... Baleknooooooo" (" Kembalikaaaannnn....... Kembalikaaaaaannnn...."), begitu berulang ulang. Mbak Yatmi bingung. Ia tidak merasa mengambil apa apa saat di ladang, cuma melihat lihat dan berfoto ria. Apa yang harus di krmbalikan? Mbak juga masih merasa ada yang mengikuti kemanapun ia pergi. Bahkan saat mandi pun ia merasa ada yang memperhatikannya.
Dan malamnya, menjadi puncak dari teror tersebut. Anak mBak Yatmi kesurupan. Selesai sholat isya' di mushala, Pak Modin pun mengajak beberapa warga untuk ke rumah Lik Parmin. Ane dan teman teman yang penasaran pun diam diam mengikuti.
Sampai di rumah Lik Parmin suasana sudah kacau.Alya, Anak mBak Yatmi yang kesurupan mengamuk. Matanya melotot, rambut dan pakaianya sudah acak acakan, mulutnya mengoceh nggak jelas. Perabotan di rumah itu juga berantakan di acak acak. Orang orang yang mencoba menolongpun kewalahan. Ane sedikit takut juga, anak perempuan kecil berusia sepuluh tahun mampu membanting laki laki dewasa yang tubuhnya tinggi besar.
Pak Modin yang datang segera mendekati Alya sambil baca baca doa. Alya menggeram dan melompat ke atas meja, matanya melotot seolah menantang Pak Modin.
"Assalamualaikum, sampeyan sinten, nopo lupute bocah niki kok sampeyan ganggu"(Assalamualaikum, kamu siapa? Apa salah anak ini sampai kamu ganggu?)" Pak Modin mencoba berinteraksi dengan makhluk itu.
"Hiiiiiikhiiiiiikhiiiiikhiiiiiii........." Alya tertawa melengking, suaranya serak dan berat seperti suara nenek nenek. Lalu bocah itu mengibaskan kepalanya, tatapanya beralih ke arah mBak Yatmi yang meringkuk ketakutan di sudut rumah.
"Heh, menungso elek, menungso kurang ajar, menungso murangtata, balekno matane anakku!!!!" ("Heh, manusia jelek, manusia kurang ajar, manusia tak tau aturan, kembalikan mata anakku") Alya membentak ke arah mBak Yatmi.
"Heh iblis elek, kowe sing kurang ajar. Wani wanine kowe ganggu gawe anake turunne menungso. Saiki ugo baliyo menyang alammu, yen ora bakal tak obong kowe nganggo ayat suci!!"("Heh iblis jelek, kamu yang kurang ajar. Berani beraninya kamu mengganggu anak keturunan manusia. Sekarang juga kembalilah ke alammu. Kalau tidak akan kubakar kamu dengan ayat suci!!!") gantian Pak Modin yang membentak ke arah Alya.
Alya kembali tertawa mengikik, masih dengan suara nenek nenek yang serak, "Wong tuwa elek, aku ra duwe urusan karo kowe. Ojo melu melu. Wong wedok elek kuwi wes gawe matane anakku wuta, disabet nganggo godhong alang alang. Aku njaluk matane anakku dibalekne waras kaya wingi wingi. Yen o ra, bocah iki bakal tak tawa, tak dadekne tumbal,!!("Orang tua jelek, aku tidak punya urusan denganmu. Jangan ikut campur. Perempuan jelek itu membuat mata anakku buta, di sabet dengan daun alang alang. Aku minta mata anakku dikembalikan seperti sedia kala. Kalau tidak anak ini akan aku bawa, aku jadikan tumbal,!")
"Oooo, koyo mengkno. Yo aku sing bakal nyaguhi nambani anakmu. Saiki baliyo. Ojo ganggu gawe maneh marang bocah iki"(Oooo, seperti itu. Baiklah kalau begitu, aku yang akan menyanggupi untuk menyembuhkan mata anakmu. Sekarang pulanglah. Jangan pernah mengganggu anak ini lagi")
Akhirnya, dengan bantuan Pak Modin, jin itu dapat diusir. Semua merasa lega. Tinggal mBak Yatmi yang kini diiterogasi oleh Pak Modin. Setelah mengingat ingat agak lama, akhirnya mBak Yatmi bercerita bahwa benar, saat beristirahat di dekat batu besar itu, ia sempat merenggut daun alang alang. Cuma sekedar iseng saja sih sebenarnya, daun alang alang dibuat main mainan gtu. Dan sempat juga disabetkan ke arah batu besar yang angker itu, tanpa ia sadari bahwa daun alang alang itu mengenai mata anak jin penunggu batu itu.
Keesokan harinya, seperti anjuran dari Pak Modin, Lik Parmin mengadakan selamatan di batu besar itu. Membawa nasi tumpeng dan ayam panggang, dan membaca doa doa di pimpin langsung oleh Pak Modin. Dan lagi lagi ane gansist yang merasa diuntungkan. Kapan lagi bisa makan nasi tumpeng dan ayam panggang yang lezat dan gurih ini.****
Sebenarnya lahan itu bukan milik bapak ane gansist, tapi milik tetangga. Bapak ane hanya menggarapnya, nanti kalau panen hasilnya dibagi dua gitu. Praktek praktek menggarap lahan orang dengan sistem bagi hasil begini sudah menjadi hal yang wajar di desa ane. Dan bapak ane meski tidak memiliki sawah atau ladang sendiri, tapi memiliki beberapa lahan garapan milik orang lain. Lumayanlah, meski tak memiliki lahan sendiri tapi masih bisa mendapat penghasilan dari menggarap lahan orang.
Ane sendiri, sebagai anak yang baik dan berbakti kepada orang tua, meski masih kecil tapi suka membantu bapak kerja di ladang itu, meski sebenarnya lebih banyak ngerecokin sih daripada membantu. Yach, namanya juga anak kecil, bisa dimaklumin lah.
Di tepi ladang yang digarap bapak ane ada sebuah batu hitam besar yang kata orang angker, ada penunggunya. Tapi ane percaya ga percaya sih. Cz ane sendiri sering bermain main di batu itu. Memanjatnya naik dan tiduran di atasnya, dinaungi rindangnya pohon akasia di siang yang panas, kan jadi sejuk tuh. Dan ane juga ga pernah diganggu tuh sama penunggu batu itu.
Tapi lain lagi yang dialami mBak Yatmi. Dia ini anaknya Lik Parmin, pemilik lahan yang digarap bapak ane. Mbak Yatmi pernah mengalami kejadian yang mungkin nggak akan pernah dilupakan selama hidupnya. Kejadian yang hampir merenggut nyawa anaknya.
Jadi ceritanya begini gansist, mBak Yatmi ini sudah lama merantau ke Jakarta, bersama suami dan anaknya. Saat itu masih dalam suasana lebaran, lebaran lewat beberapa hari gitu. Seperti para perantau pada umumnya, mBak Yatmi dan keluarga pun juga mudik ke desa.
Saat itu bersamaan dengan musimya panen kacang tanah. Jadi meski masih dalam suasana lebaran, bapak, emak, dan ane sudah sibuk di ladang memanen kacang. Orang tua mBak Yatmi juga ikut membantu.
Mbak Yatmi sendiri juga ikut ke ladang bersama anak dan suaminya. Bukan ikut membantu bekerja sih. Tau sendiri lah orang dari kota. Sibuk lihat lihat pemandangan, foto sana foto sini, main air di kali, aneh menurut ane.
Ya maklum lah ane yang masih kecil dan belum mengenal kota, wajar kalau merasa aneh. Masa pergi ke ladang pake baju bagus, sendal bagus, dah gitu pake kacamata item lagi. Lihat sawah dan sungai juga kayanya seneng banget, kaya orang nggak pernah lihat sawah dan sungai saja. Terus ngapain juga orang lagi kerja di ladang difoto foto gitu. Kaya penganten saja di foto. Ane taunya yang suka di foto tuh ya orang yang jadi penganten. Maklum gansist, zaman itu kamera foto masih merupakan barang yang sangat langka dan mewah.
Mungkin karena capek berkeliling melihat lihat, mBak Yatmi beserta anak dan suaminya istirahat berteduh di bawah pohon akasia di dekat batu angker itu. Ane sedikit kesal juga waktu itu. Orang pada sibuk kerja kok malah pada asyik asyik nyantai begitu.
Singkat cerita, sore pun datang. Kamipun bersiap siap untuk pulang. Pekerjaan yang belum selesai akan dilanjutkan besok. Saat berjalan pulang mBak Yatmi sempat memuji ane gansist, masih kecil tapi sudah rajin membantu orang tua bekerja. Ane juga dikasih duit limaribu perak. Wah, ane seneng banget tuh. Zaman itu duit limaribu sangatlah banyak. Uang jajan ane za kalau ga salah cuma duaratus perak sehari. Sangking senangnya ane jadi lupa tuh ma rasa kesal ane pas mBak Yatmi nyantai nyantai ga bantuin kerja tadi.
Besoknya kami lanjut kerja lagi memanen kacang gansist. Tapi kali ini mBak Yatmi ga ikut. Ane juga lihat Lik Parmin menaruh pencok bakal*) dan membakar dupa di dekat batu besar itu gansist. Ane jadi mikir, pasti ada apa apa nih, ada yang digangguin sama penunggu batu itu. Tapi ane ga mikir jauh lagi. Pikiran ane beralih ke pencok bakal yang ditaruh di dekat batu itu. Begitu Lik Parmin selesai bakar kemenyan dan baca mantra, langsung saja pencok bakalnya ane sikat. Lumayan, isinya ada telor ayam ma duit seratus perak. Telor ma duitnya yang ane ambil gansist, isi yang lainya seperti kembang setaman, daun sirih, sejimpit beras kuning, seiris kunyit, dll ane buang.
Tapi ane masih penasaran gansist, kenapa Lik Parmin sampai ngguwak'i*) di batu itu. Anepun diam diam nguping obrolan bapak ane dengan Lik Parmin. Ternyata benar, ada yang gangguin mBak Yatmi. Siapa lagi kalau bukan penghuni batu besar itu.
Jadi semenjak kemaren sore sepulang dari ladang mBak Yatmi tuh merasa selalu ada yang ngikutin. Kemana mana di ikutin, tapi saat di tengok ga ada siapa siapa. Sampai malam pun mBak Yatmi selalu gelisah dan ga bisa tidur. Sampai saat tertidur, mBak Yatmi mimpi aneh. Dia mimpi dia lagi tidur gitu, trus di samping tempat tidurnya ada perempuan yang duduk sambil ngeliatin dia tidur. Cuma ngeliatin doang, tapi dengan tatapan yang aneh gitu. Mbak Yatmi juga ga kenal siapa perempuan itu.
Besokmya lagi, saat kembali bekerja, ternyata Lik Parmin masih ngguwak'i lagi di batu besar itu. Wah, berarti makin parah nih, pikir ane. Tapi ane senang, dapet telor ayam ma duit seratus perak lagi.
Lagi lagi ane kepo dan nguping obrolan bapak ma Lik Parmin. Ternyata mBak Yatmi masih digangguin. Semalem, mBak Yatmi mimpi lagi didatangi perempuan yang sama dengan yang di mimpi kemaren malam. Namun kali ini bukan cuma ngeliatin, tapi sudah berani mencengkeram tangan mBak Yatmi sambil bilang, "Baleknooooo.......... Baleknooooooo" (" Kembalikaaaannnn....... Kembalikaaaaaannnn...."), begitu berulang ulang. Mbak Yatmi bingung. Ia tidak merasa mengambil apa apa saat di ladang, cuma melihat lihat dan berfoto ria. Apa yang harus di krmbalikan? Mbak juga masih merasa ada yang mengikuti kemanapun ia pergi. Bahkan saat mandi pun ia merasa ada yang memperhatikannya.
Dan malamnya, menjadi puncak dari teror tersebut. Anak mBak Yatmi kesurupan. Selesai sholat isya' di mushala, Pak Modin pun mengajak beberapa warga untuk ke rumah Lik Parmin. Ane dan teman teman yang penasaran pun diam diam mengikuti.
Sampai di rumah Lik Parmin suasana sudah kacau.Alya, Anak mBak Yatmi yang kesurupan mengamuk. Matanya melotot, rambut dan pakaianya sudah acak acakan, mulutnya mengoceh nggak jelas. Perabotan di rumah itu juga berantakan di acak acak. Orang orang yang mencoba menolongpun kewalahan. Ane sedikit takut juga, anak perempuan kecil berusia sepuluh tahun mampu membanting laki laki dewasa yang tubuhnya tinggi besar.
Pak Modin yang datang segera mendekati Alya sambil baca baca doa. Alya menggeram dan melompat ke atas meja, matanya melotot seolah menantang Pak Modin.
"Assalamualaikum, sampeyan sinten, nopo lupute bocah niki kok sampeyan ganggu"(Assalamualaikum, kamu siapa? Apa salah anak ini sampai kamu ganggu?)" Pak Modin mencoba berinteraksi dengan makhluk itu.
"Hiiiiiikhiiiiiikhiiiiikhiiiiiii........." Alya tertawa melengking, suaranya serak dan berat seperti suara nenek nenek. Lalu bocah itu mengibaskan kepalanya, tatapanya beralih ke arah mBak Yatmi yang meringkuk ketakutan di sudut rumah.
"Heh, menungso elek, menungso kurang ajar, menungso murangtata, balekno matane anakku!!!!" ("Heh, manusia jelek, manusia kurang ajar, manusia tak tau aturan, kembalikan mata anakku") Alya membentak ke arah mBak Yatmi.
"Heh iblis elek, kowe sing kurang ajar. Wani wanine kowe ganggu gawe anake turunne menungso. Saiki ugo baliyo menyang alammu, yen ora bakal tak obong kowe nganggo ayat suci!!"("Heh iblis jelek, kamu yang kurang ajar. Berani beraninya kamu mengganggu anak keturunan manusia. Sekarang juga kembalilah ke alammu. Kalau tidak akan kubakar kamu dengan ayat suci!!!") gantian Pak Modin yang membentak ke arah Alya.
Alya kembali tertawa mengikik, masih dengan suara nenek nenek yang serak, "Wong tuwa elek, aku ra duwe urusan karo kowe. Ojo melu melu. Wong wedok elek kuwi wes gawe matane anakku wuta, disabet nganggo godhong alang alang. Aku njaluk matane anakku dibalekne waras kaya wingi wingi. Yen o ra, bocah iki bakal tak tawa, tak dadekne tumbal,!!("Orang tua jelek, aku tidak punya urusan denganmu. Jangan ikut campur. Perempuan jelek itu membuat mata anakku buta, di sabet dengan daun alang alang. Aku minta mata anakku dikembalikan seperti sedia kala. Kalau tidak anak ini akan aku bawa, aku jadikan tumbal,!")
"Oooo, koyo mengkno. Yo aku sing bakal nyaguhi nambani anakmu. Saiki baliyo. Ojo ganggu gawe maneh marang bocah iki"(Oooo, seperti itu. Baiklah kalau begitu, aku yang akan menyanggupi untuk menyembuhkan mata anakmu. Sekarang pulanglah. Jangan pernah mengganggu anak ini lagi")
Akhirnya, dengan bantuan Pak Modin, jin itu dapat diusir. Semua merasa lega. Tinggal mBak Yatmi yang kini diiterogasi oleh Pak Modin. Setelah mengingat ingat agak lama, akhirnya mBak Yatmi bercerita bahwa benar, saat beristirahat di dekat batu besar itu, ia sempat merenggut daun alang alang. Cuma sekedar iseng saja sih sebenarnya, daun alang alang dibuat main mainan gtu. Dan sempat juga disabetkan ke arah batu besar yang angker itu, tanpa ia sadari bahwa daun alang alang itu mengenai mata anak jin penunggu batu itu.
Keesokan harinya, seperti anjuran dari Pak Modin, Lik Parmin mengadakan selamatan di batu besar itu. Membawa nasi tumpeng dan ayam panggang, dan membaca doa doa di pimpin langsung oleh Pak Modin. Dan lagi lagi ane gansist yang merasa diuntungkan. Kapan lagi bisa makan nasi tumpeng dan ayam panggang yang lezat dan gurih ini.****
Spoiler for sedikit info::
harysa123 dan 41 lainnya memberi reputasi
42
Tutup