- Beranda
- Stories from the Heart
Bisik Kematian (Based On True Story)
...
TS
IztaLorie
Bisik Kematian (Based On True Story)
Cerita yang ada di sini adalah berdasarkan kisah nyata yang berhubungan dengan kematian. Percaya atau tidak, aku mengalami semua kejadian ini. Mungkin bagi kalian ini hal yang biasa, buatku ini mengerikan.
Jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan cerita selanjutnya. Jangan lupa kasih cendol dan komentar juga ya. Mohon maaf kalau tidak sesuai bayangan kalian.
...
Kami berdua di rumah, tentu saja tidak boleh ikut ke rumah sakit. Kabar mengejutkan itu datang dari keluarga ibu. Buliknya saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Ibu pulang jam berapa?" tanyaku pada adik yang sedang asik nonton ftv kesukaannya.
"Mungkin sore, tadi nggak bilang apa-apa sih."
Aku memang belum di rumah ketika bapak ibu berangkat. Rumah terasa sepi, jadinya ikut nonton sama adik.
"Mbak," panggil Kemala.
"Masuk aja," teriak adikku tanpa mengalihkan perhatian.
Bukan hanya Kemala yang masuk rumah, ternyata ada Wanda dan juga Lydia. Mereka ikut bergabung dengan kami.
Sering kali orang salah menilai rumah kami. Penuh dengan anak gadis dan pintu yang berderet membuat orang mengira ini adalah kos-kosan. Padahal kami berkumpul karena semua orang tua sibuk bekerja jadi lebih baik menghabiskan waktu di satu tempat.
Hari-hari kami seperti ini. Bermain bersama, nonton tv dengan heboh. Apa lagi kalau nonton tayangan vampir, hantu cina yang melompat-lompat.
Suara teriakan terdengar. Buru-buru tutup mata tapi masih ngintip dikit-dikit karena penasaran. Vampir buat kami tegang yang nonton.
Menjelang sore, teman-teman berpamitan mau mandi. Sebentar lagi orang tua mereka datang. Kalau hari-hari normal sih orang tua kami yang pulang duluan, tapi ini tidak seperti biasanya.
"Sudah jam segini kok belum pulang juga ya, Mbak?"
"Mungkin nggak ada yang gantiin nunggu." jawabku.
"Makan dulu aja, yuk."
Belum juga beranjak untuk mengambil makanan, telepon yang ada di ruang keluarga berdering. Adikku melesat mengangkat telepon mendahului. Pasti sudah kangen banget sama ibu.
"Ibu kapan pulang?"
"..."
"Oke," balasnya sebelum menutup panggilan.
Adik menatap lesu ke arahku. "Ibu pulang malam, Mbah Lik dirawat di ICU. Nggak ada yang nungguin."
Aku maklum dengan tindakan ibu karena Mbah Lik yang sedang sakit sudah seperti orang tua kedua bagi beliau. Sejak dari kecil ibu sudah bersama keluarga Mbah Lik.
"Paling juga nggak lama lagi meninggal," ujarku tanpa bisa dicegah.
Bola mata adik membesar. "Mbak ini lho. Kalau ngomong dijaga. Gimana kalau keluarga Mbah Lik ada yang dengar? Pasti tersinggung. Masa nyumpahin cepet meninggal."
Aku tahu ini salah, tapi perkataan ini meloncat keluar tanpa bisa diperiksa. Aku bahkan tidak memikirkan hal itu. Memang terdengar keterlaluan. Mungkin harus menahan mulut baik-baik biar nggak terlontar kata-kata seperti itu lagi.
Dering telepon kembali terdengar. Adik mengangkatnya sambil masih memandang tajam diriku. Sudah seperti ibu memarahi anaknya saja.
"Apa? Iya, kami ke sana." Tubuh adik gemetaran ketika menutup telepon.
"Ada apa?" Kusentuh bahunya.
"Mbah Lik meninggal, kita harus segera ke rumahnya."
Aku tertegun, perkataan yang keluar ini benar-benar terjadi. Ini pasti hanya sebuah kebetulan semata.
-bersambung-
Jangan lupa subscribe biar nggak ketinggalan cerita selanjutnya. Kasih cendol dan komentar juga ya. Ini salah satu penyemangat TS buat update 😊
Diubah oleh IztaLorie 15-05-2020 19:08
awangho dan 70 lainnya memberi reputasi
65
23.8K
204
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
IztaLorie
#185
(New) Bisik Kematian
Part 4 Duka Keluarganya Mas Vano
Langsung saja Tia melompat turun dari tempat tidur lalu menyambar selimut tebal yang masih terlipat rapi di kaki ranjang. Dia kemudian menggunakannya untuk mendorong air keluar menuju balkon lalu memeras selimut agar airnya berkurang.
Namun hujannya bukan makin reda malah semakin deras membuat punggung Tia sakit karena mengepel lantai terlalu lama. Kalau ini berlangsung lebih lama lagi, dia bakalan ambruk karena sudah tidak kuat. Rasanya juga semakin dingin karena terkena air terlalu lama. Apa ada kemungkinan terkena flu karena mimpi basah-basahan?
Untungnya mimpi itu segera berakhir karena Tia terbangun di dalam kamar asrama. Ini masih terlalu pagi, masih jam tiga pagi, tapi dia tetap memaksakan bangun sambil mengingat-ingat lagi mimpinya.
Tumben mengalami mimpi normal yang melibatkan ruangan lain, biasanya dia kecapekan karena mimpi dikejar-kejar oleh berbagai bentuk hantu. Tia berusaha berpikir jernih dan menganggap itu hanyalah bunga tidur lalu memutuskan kembali tidur.
Dua jam kemudian dia sudah kembali terbangun dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum yang lainnya bangun. Hari ini kuliah dimulai jam sembilan jadi mereka pasti bangun agak siang.
Dugaan Tia meleset karena ketika keluar dari kamar mandi, mereka bertiga sudah bangun dan merapikan tempat tidur lalu bergantian mandi tanpa banyak berkomentar. Tia sendiri lebih memilih untuk duduk di ranjang sambil mengecek gawai.
Beberapa pesan dari Mama langsung dibalas oleh Tia, sedangkan Papa sama sekali belum mengirim pesan. Mereka memang masih belum berkomunikasi sejak kejadian Lola datang ke rumah.
Perhatian Papa sepenuhnya tercurah untuk Lola yang masih berduka , tapi sempat mengajak debat mulut dan mengerjain Tia untuk kemudian berbuat seolah-olah dialah korban di depan Papa.
Mereka berempat turun ke ruang makan lalu lanjut ke belakang untuk melakukan tugas cuci piring sambil bersenda gurau. Hati yang gembira tentu membuat pekerjaan jadi terasa lebih ringan.
Lola bersandar di sudut dapur sambil memperhatikan gerakan keempat orang yang ada di hadapannya. “Kalian mau dengar kabar menarik nggak?”
Lastri melirik Lola kemudian kembali memusatkan perhatian pada piring yang dicuci, sedangkan yang lain memilih untuk mengacuhkannya.
“Yakin nggak mau dengar? Nyesel lho,” ucapnya sambil memperhatikan kuku jari yang dirawat dengan baik.
“Udah deh nggak usah gangguin. Pergi sana!” hardik Erina merasa terganggu dengan kehadiran Lola.
Namun cewek itu tak juga beranjak, malah berjalan mendekat. Berbisik di dekat telinga Lastri. “Ayahnya Mas Vano yang tinggal di depan asrama meninggal dunia.”
“Bohong! Pasti bohong kan? Kemarin beliau terlihat sehat-sehat saja,” ucap Mimi yang ikut mendengar bisikan Lola.
“Ya, udah kalau nggak percaya. Aku juga nggak rugi, kalian nanti yang rugi.” Dia lalu melenggang pergi sambil tak lupa menggoyang bokong dengan berlebihan untuk mengejek.
Tia nggak habis pikir dengan Lola, bagaimana dia bisa membicarakan kematian seseorang dengan begitu santai dan terkesan bercanda padahal dia sendiri juga baru saja mengalami sedihnya ditinggal oleh orang terkasih. Apa dia sudah tidak punya perasaan?
Lastri meremas spon kuat-kuat lalu melemparkannya kembali ke tempat semula, pelan-pelan menaruh piring yang masih di pegangnya lalu mencuci tangan.
“Aku akan memastikannya.” Lastri mengeringkan tangan lalu berlari keluar.
“Aku ikut,” teriak Mimi sambil membasuh tangan.
Erina dan Tia tidak mempunyai pilihan lain selain menyelesaikan tugas sampai akhir karena memang ini tanggung jawab mereka. Setelah selesai mereka langsung berlari menuju rumah depan asrama.
Tia memperlambat lari lalu berjalan santai ketika memasuki rumah yang sudah ramai pelayat, beberapa diantaranya adalah teman-teman mereka sendiri karena Bu Marni merupakan tetangga yang dermawan karena sering bagi-bagi cemilan pada para mahasiswi.
Tia menemukan Lastri dan Mimi sedang memeluk Bu Marni dari sisi kanan dan kirinya untuk berbagi simpati. Dia menunggu kedua temannya melepaskan pelukan lalu gantian memeluk Bu Marni sambil membisikkan ucapan bela sungkawa dan kata-kata untuk menguatkan beliau.
“Sebelumnya beliau baik-baik saja ketika Nak Lastri dan Nak Mimi ada di sini untuk berkunjung. Lalu beliau masuk ke kamar karena sudah mengantuk, padahal biasanya beliau selalu tidur lebih larut,” ucap Bu Marni ketika ada tetangga yang menanyakan penyebab kematian suaminya. Sesekali ucapannya terhenti karena isak tangis.
“Jam 02.50 pagi beliau masih sempat membangunkan saya dan minta tolong dibikinkan cokelat panas. Ketika saya masuk kamar, beliau sudah menutup mata. Saya pikir sudah tidur, tapi karena ingat beliau bilang ingin minum jadi saya bangunkan. Tapi, tapi, tapi beliau tak juga bangun. Saya langsung memanggil Vino yang langsung mengecek nadi. Karena tidak bisa merasakan denyut nadi Bapak maka dia langsung berlari ke kamar Ikhsan-kakaknya yang dokter untuk memastikan dugaannya.” Bu Marni kembali terisak dan membersit ingus dengan tisu yang diberikan oleh Lastri.
“Jam berapa beliau meninggal?” tanya Erina yang penasaran.
“Kata Ikhsan jam tiga pagi,” jawab beliau sebelum kembali tersedu-sedu.
Ucapan Bu Marni bagai petir yang menyambar, begitu mengejutkan bagi Tia. Jam tiga pagi bukannya itu waktu dia terbangun dari mimpi aneh. Apakah ini artinya mimpinya jadi kenyatan?
Hujan deras menggambarkan air mata yang tidak berhenti, sedangkan jumlah yang sangat banyak itu berarti tangis dari banyak orang karena total anggota keluarga Pak Anwar ada sembilan orang yang semuanya saat ini sedang menangis.
Rupanya Tia memang tidak pernah yang namanya bermimpi secara normal karena mimpi ini pun mempunyai arti yang begitu mengerikan. Tanpa sadar Tia memeluk dirinya sendiri. Kenapa kematian seolah mengirim pesan padanya agar dia mengetahuinya lebih awal. Apa maksud semua ini? Apa dia bakal lebih cepat meninggal?
...
Langsung saja Tia melompat turun dari tempat tidur lalu menyambar selimut tebal yang masih terlipat rapi di kaki ranjang. Dia kemudian menggunakannya untuk mendorong air keluar menuju balkon lalu memeras selimut agar airnya berkurang.
Namun hujannya bukan makin reda malah semakin deras membuat punggung Tia sakit karena mengepel lantai terlalu lama. Kalau ini berlangsung lebih lama lagi, dia bakalan ambruk karena sudah tidak kuat. Rasanya juga semakin dingin karena terkena air terlalu lama. Apa ada kemungkinan terkena flu karena mimpi basah-basahan?
Untungnya mimpi itu segera berakhir karena Tia terbangun di dalam kamar asrama. Ini masih terlalu pagi, masih jam tiga pagi, tapi dia tetap memaksakan bangun sambil mengingat-ingat lagi mimpinya.
Tumben mengalami mimpi normal yang melibatkan ruangan lain, biasanya dia kecapekan karena mimpi dikejar-kejar oleh berbagai bentuk hantu. Tia berusaha berpikir jernih dan menganggap itu hanyalah bunga tidur lalu memutuskan kembali tidur.
Dua jam kemudian dia sudah kembali terbangun dan memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum yang lainnya bangun. Hari ini kuliah dimulai jam sembilan jadi mereka pasti bangun agak siang.
Dugaan Tia meleset karena ketika keluar dari kamar mandi, mereka bertiga sudah bangun dan merapikan tempat tidur lalu bergantian mandi tanpa banyak berkomentar. Tia sendiri lebih memilih untuk duduk di ranjang sambil mengecek gawai.
Beberapa pesan dari Mama langsung dibalas oleh Tia, sedangkan Papa sama sekali belum mengirim pesan. Mereka memang masih belum berkomunikasi sejak kejadian Lola datang ke rumah.
Perhatian Papa sepenuhnya tercurah untuk Lola yang masih berduka , tapi sempat mengajak debat mulut dan mengerjain Tia untuk kemudian berbuat seolah-olah dialah korban di depan Papa.
Mereka berempat turun ke ruang makan lalu lanjut ke belakang untuk melakukan tugas cuci piring sambil bersenda gurau. Hati yang gembira tentu membuat pekerjaan jadi terasa lebih ringan.
Lola bersandar di sudut dapur sambil memperhatikan gerakan keempat orang yang ada di hadapannya. “Kalian mau dengar kabar menarik nggak?”
Lastri melirik Lola kemudian kembali memusatkan perhatian pada piring yang dicuci, sedangkan yang lain memilih untuk mengacuhkannya.
“Yakin nggak mau dengar? Nyesel lho,” ucapnya sambil memperhatikan kuku jari yang dirawat dengan baik.
“Udah deh nggak usah gangguin. Pergi sana!” hardik Erina merasa terganggu dengan kehadiran Lola.
Namun cewek itu tak juga beranjak, malah berjalan mendekat. Berbisik di dekat telinga Lastri. “Ayahnya Mas Vano yang tinggal di depan asrama meninggal dunia.”
“Bohong! Pasti bohong kan? Kemarin beliau terlihat sehat-sehat saja,” ucap Mimi yang ikut mendengar bisikan Lola.
“Ya, udah kalau nggak percaya. Aku juga nggak rugi, kalian nanti yang rugi.” Dia lalu melenggang pergi sambil tak lupa menggoyang bokong dengan berlebihan untuk mengejek.
Tia nggak habis pikir dengan Lola, bagaimana dia bisa membicarakan kematian seseorang dengan begitu santai dan terkesan bercanda padahal dia sendiri juga baru saja mengalami sedihnya ditinggal oleh orang terkasih. Apa dia sudah tidak punya perasaan?
Lastri meremas spon kuat-kuat lalu melemparkannya kembali ke tempat semula, pelan-pelan menaruh piring yang masih di pegangnya lalu mencuci tangan.
“Aku akan memastikannya.” Lastri mengeringkan tangan lalu berlari keluar.
“Aku ikut,” teriak Mimi sambil membasuh tangan.
Erina dan Tia tidak mempunyai pilihan lain selain menyelesaikan tugas sampai akhir karena memang ini tanggung jawab mereka. Setelah selesai mereka langsung berlari menuju rumah depan asrama.
Tia memperlambat lari lalu berjalan santai ketika memasuki rumah yang sudah ramai pelayat, beberapa diantaranya adalah teman-teman mereka sendiri karena Bu Marni merupakan tetangga yang dermawan karena sering bagi-bagi cemilan pada para mahasiswi.
Tia menemukan Lastri dan Mimi sedang memeluk Bu Marni dari sisi kanan dan kirinya untuk berbagi simpati. Dia menunggu kedua temannya melepaskan pelukan lalu gantian memeluk Bu Marni sambil membisikkan ucapan bela sungkawa dan kata-kata untuk menguatkan beliau.
“Sebelumnya beliau baik-baik saja ketika Nak Lastri dan Nak Mimi ada di sini untuk berkunjung. Lalu beliau masuk ke kamar karena sudah mengantuk, padahal biasanya beliau selalu tidur lebih larut,” ucap Bu Marni ketika ada tetangga yang menanyakan penyebab kematian suaminya. Sesekali ucapannya terhenti karena isak tangis.
“Jam 02.50 pagi beliau masih sempat membangunkan saya dan minta tolong dibikinkan cokelat panas. Ketika saya masuk kamar, beliau sudah menutup mata. Saya pikir sudah tidur, tapi karena ingat beliau bilang ingin minum jadi saya bangunkan. Tapi, tapi, tapi beliau tak juga bangun. Saya langsung memanggil Vino yang langsung mengecek nadi. Karena tidak bisa merasakan denyut nadi Bapak maka dia langsung berlari ke kamar Ikhsan-kakaknya yang dokter untuk memastikan dugaannya.” Bu Marni kembali terisak dan membersit ingus dengan tisu yang diberikan oleh Lastri.
“Jam berapa beliau meninggal?” tanya Erina yang penasaran.
“Kata Ikhsan jam tiga pagi,” jawab beliau sebelum kembali tersedu-sedu.
Ucapan Bu Marni bagai petir yang menyambar, begitu mengejutkan bagi Tia. Jam tiga pagi bukannya itu waktu dia terbangun dari mimpi aneh. Apakah ini artinya mimpinya jadi kenyatan?
Hujan deras menggambarkan air mata yang tidak berhenti, sedangkan jumlah yang sangat banyak itu berarti tangis dari banyak orang karena total anggota keluarga Pak Anwar ada sembilan orang yang semuanya saat ini sedang menangis.
Rupanya Tia memang tidak pernah yang namanya bermimpi secara normal karena mimpi ini pun mempunyai arti yang begitu mengerikan. Tanpa sadar Tia memeluk dirinya sendiri. Kenapa kematian seolah mengirim pesan padanya agar dia mengetahuinya lebih awal. Apa maksud semua ini? Apa dia bakal lebih cepat meninggal?
...
Part Selanjutnya
Jangan lupa share cerita ini kalau kamu menyukainya. Biar lebih banyak lagi yang baca.
Indeks cerita bisa di klik di sini.
Jangan lupa share cerita ini kalau kamu menyukainya. Biar lebih banyak lagi yang baca.
Indeks cerita bisa di klik di sini.
Diubah oleh IztaLorie 19-05-2020 18:28
wilona.eg346 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Tutup
