- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.3K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#216
Spoiler for Part 71:
Part 71
.
.
.
"Mbak....."
Suasana canggung kembali menyelimuti kami saat ini, ini semua gara-gara ulah mas-mas penjaga warung yang tidak tahu diri itu, sekarang dia sudah kulempar kedalam jurang yang ada di hadapan kami.
Wkwkwkwkwkwkwk
Ya enggak lah gobloookk.......
"Maaf... maaf kalo perlakuanku selama ini udah bikin mbak sakit"
Beby kembali menoleh kearahku.
"Gak perlu minta maaf nat, aku juga salah"
"Aku salah, selama ini aku udah terlalu berharap sama kamu"
Deeeegggg......
Sontak jawaban yang keluar dari mulut beby berhasil membuatku panik.
Bagaimana tidak, apa maksudnya dia berkata seperti itu?, apa saat ini dia benar-benar sudah tidak mengharapkanku lagi?.
"Mbaaakk...., m m maaf..., a a aku janji, setelah ini aku akan memperbaiki semuanya"
"Aku bakal balikin semua kepercayaan mbak keaku, aku janji, aku gak bakal buat mbak merasa bersalah kalau mbak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi, kesempatan buat menjaga semua harapan-harapan mbak, aku berani jamin, mbak pasti bahagia"
Saat ini aku benar-benar dikuasai rasa takut, aku takut beby sudah benar-benar kecewa, aku takut beby tidak mau memberiku kesempatan lagi.
"Aku gak tau nat....."
"Aku gak tau, apa yang kamu omongin barusan itu serius apa enggak"
"Atau mungkin..... sekarang kamu cuma lagi ketakutan"
Beby kembali menarik nafasnya dalam-dalam.
Sedangkan aku hanya bisa membenarkan ucapan beby dalam hati, ya...., aku memang sangat ketakutan saat ini.
"Aku gak mau kamu ngomong kayak gitu cuma karena kamu takut, takut kalo aku gak bakal ngasih kesempatan lagi buat kamu"
"Aku tau banget nat..., kamu bukan orang yang main-main kalo soal janji"
"Tapi maaf....., aku gak bisa percaya gitu aja sama janji yang kamu ucapin barusan"
Deeeeeegggggg......
"Mbak......, emang bener, sekarang aku bener-bener takut"
"Apa rasa takut itu gak cukup buat bikin mbak percaya sama semua omonganku barusan?"
Beby kembali mengalihkan pandangannya kearah pemandangan kota jogja yang sekarang ada di hadapan kami.
"Waktu seseorang merasa takut, dia bisa menjanjikan apa aja, bahkan janji yang sebenarnya gak bisa dia penuhi"
"Aku masih belum siap buat sakit hati lagi nat"
Aku mengambil sebelah tangan beby dengan tangan kananku, menariknya, lalu menggenggamnya erat-erat.
"Mbaaakk....., apa yang harus aku lakuin supaya kamu bisa percaya?"
Beby menoleh kearahku dengan senyum yang kini menghiasi wajahnya.
Ya...., senyuman yang selama ini selalu aku rindukan, aku juga merindukan lubang yang selalu terbentuk di kedua sisi pipinya ketika dia tersenyum.
"Nat....., gak semuanya bisa kamu buktiin sekarang"
Aku membalas tatapannya dengan tatapan heran.
"Kenapa mbak?"
Beby kembali mengarahkan pandangannya keatas dengan senyuman yang masih belum pudar dari wajahnya.
"Sekarang, coba kamu liat keatas nat"
Aku langsung mengalihkan pandanganku keatas untuk mengikuti instruksi beby, hanya langit malam berwarna abu-abu yang saat ini memenuhi seluruh isi pengelihatanku.
Beby: "kenapa tempat ini dinamain bukit bintang nat?"
Aku: "karena biasanya kita bisa lihat banyak bintang kalo ada di tempat ini, kayaknya sih"
Aku menjawab dengan pandangan yang masih belum lepas dari langit berwarna abu-abu yang ada di atas kami.
"Sekarang kamu bisa ngeliat bintangnya gak?"
Aku memilih untuk berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari beby.
Aku: "enggak sih mbak, tapi biasanya ada kok, sekarang bintangnya lagi kehalang awan aja, kan masih mendung"
Beby: "terus, apa yang bisa kita lakuin buat liat bintangnya malam ini?"
Aku: "ya....., gak ada mbak, satu-satunya cara, nunggu sampai gak mendung lagi"
Beby: "sampai kapan?"
Aku: "gak tau, aku gak bisa ngatur kapan mendung kapan enggak mbak"
Beby kembali menoleh kearahku.
"Itu maksud aku nat, mungkin malam ini kamu gak bisa liat bintang-bintang yang udah dijanjikan sama tempat ini"
Aku membalas tatapan beby dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Kalau diliat dari namanya, tempat ini menjanjikan pengunjungnya dengan pemandangan bintang-bintang yang bisa dinikmati kalau mereka mau datang kesini"
"Tapi..... buat malam ini, pemilik tempat ini gak bisa nepatin janjinya nat"
"Mungkin, kalau malam ini ada pengunjung yang protes dan menanyakan di mana semua bintang-bintang yang udah di janjikan, si pemilik pasti panik"
"Dia pasti langsung mengatakan bahwa kita bisa melihat bintang yang dia janjikan besok malam, padahal dia gak tau, besok masih mendung atau enggak"
"Seperti kata kamu nat, kita gak akan bisa mencegah maupun mengatur kapan datangnya awan mendung, baik itu malam ini, besok, bahkan hari-hari setelahnya"
"Begitu juga pemilik tempat ini nat, dia juga gak akan bisa mencegahnya"
"Satu-satunya cara yang bisa dia lakuin untuk membuktikan semua janji-janjinya, dengan terus membuka tempat ini, setiap hari, atau mungkin.... selamanya nat"
"Berharap suatu saat langit udah gak mendung lagi, supaya pengunjungnya bisa liat semua bintang-bintang yang sudah dia janjikan, dan..... para pengunjung bisa percaya sama semua janji-janjinya"
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
"Mbak....., mbak gak yakin sama aku?"
Aku bertanya seraya membalas tatapannya.
"Harusnya aku yang tanya, apa kamu yakin sama janji-janji kamu nat?"
Beby balik beratnya kepadaku dengan nada yang penuh penekanan.
"Yakin mbak.."
Aku menjawab pertanyaannya dengan penuh keyakinan.
"Kalau iya, tolong buktiin nat, pegang semua omongan kamu"
"Pegang terus semua janji yang udah kamu bilang tadi, sampai suatu saat aku bisa melihat semuanya secara langsung, supaya aku bisa percaya sama semua janji-janji kamu"
"Kamu juga harus inget nat!!!, bintang-bintang yang sekarang lagi terhalang sama awan mendung, bisa aja suatu saat benar-benar hilang, bahkan bintang itu gak akan bisa dilihat tanpa perlu ada awan mendung atau sesuatu lain yang menghalanginya nat, dan..... itu semua juga kuasa yang di atas"
"Dan... kalo semua itu udah hilang, tolong nat...., kasih tau aku..., tolong jangan bikin aku mengharapkan suatu hal yang sebenarnya udah gak ada, atau bahkan gak pernah ada"
Aku memejamkan mataku, aku mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang sedari tadi keluar dari mulut beby.
Huuuuhhh.....
"Aku akan buktiin mbak, aku akan jaga semua janji-janji aku, sampai suatu saat mbak bisa liat langsung buktinya dengan mata kepala mbak sendiri"
"Bahkan, setelah nanti mbak bisa liat semua bukti dari janji-janji aku secara langsung, aku akan tetap megamg semua omonganku tadi, mungkin suatu saat nanti, ada saat di mana sebagian bukti-bukti itu gak terlihat seperti malam ini, karena terhalang oleh sesuatu, entah mbak, aku juga gak tau, sesuatu apa yang nanti akan menutupi janji-janjiku yang sebenarnya masih ada dan akan terus ada, seperti awan mendung yang menutupi bintang-bintang malam ini"
"Tapi.... Kalau sesuatu itu sudah pergi, kamu pasti selalu bisa menikmati semua bukti dari janji-jani yang aku ucapin barusan"
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
"Dan..... mulai sekarang, aku akan selalu minta sama tuhan mbak, supaya bintang-bintang ini gak akan pernah hilang, supaya kamu bisa selalu menikmati semua bintang-bintang itu dari aku"
"Aku gak akan pernah biarin kamu nyari bintang-bintang itu di tempat lain"
Lagi-lagi aku mengucapkan kalimatku dengan nada penuh keyakinan, seolah-olah aku bisa menerobos semua halangan yang akan kami hadapi kedepannya.
Beby kembali tersenyum setelah aku menyelesaikan kalimatku.
"Semoga semua itu bener nat"
Aku kembali menarik sebelah tangan beby dengan tangan kiriku, sekarang kedua tangan kami saling mengenggam satu sama lain.
"Iya mbak..., tunggu aku..., jangan cari bintang di tempat lain dulu, masih banyak bintang-bintang indah yang bisa mbak nikmati di sini"
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencoba menghapuskan semua keraguan yang ada di hatinya.
Ya.... aku sudah sangat yakin dengan ucapanku, aku akan buktikan semuanya.
Selama ini dia sudah memperjuangkanku habis-habisan, tapi apa balasanku?, aku malah menyakiti hatinya.
Oleh karena itu, mulai saat ini, aku akan berjuang untuk beby, aku akan membalas semua yang telah dia lakukan untukku, aku yakin, suatu saat, kita akan sama-sama bahagia, dan.... akan aku pastikan, kita akan bahagia bersama.
ya...., aku bahagia memiliki kamu, dan begitu juga sebaliknya, kamu pasti bahagia memiliki aku.
.
.
.
"Mbak....."
Suasana canggung kembali menyelimuti kami saat ini, ini semua gara-gara ulah mas-mas penjaga warung yang tidak tahu diri itu, sekarang dia sudah kulempar kedalam jurang yang ada di hadapan kami.
Wkwkwkwkwkwkwk
Ya enggak lah gobloookk.......
"Maaf... maaf kalo perlakuanku selama ini udah bikin mbak sakit"
Beby kembali menoleh kearahku.
"Gak perlu minta maaf nat, aku juga salah"
"Aku salah, selama ini aku udah terlalu berharap sama kamu"
Deeeegggg......
Sontak jawaban yang keluar dari mulut beby berhasil membuatku panik.
Bagaimana tidak, apa maksudnya dia berkata seperti itu?, apa saat ini dia benar-benar sudah tidak mengharapkanku lagi?.
"Mbaaakk...., m m maaf..., a a aku janji, setelah ini aku akan memperbaiki semuanya"
"Aku bakal balikin semua kepercayaan mbak keaku, aku janji, aku gak bakal buat mbak merasa bersalah kalau mbak mau ngasih aku kesempatan sekali lagi, kesempatan buat menjaga semua harapan-harapan mbak, aku berani jamin, mbak pasti bahagia"
Saat ini aku benar-benar dikuasai rasa takut, aku takut beby sudah benar-benar kecewa, aku takut beby tidak mau memberiku kesempatan lagi.
"Aku gak tau nat....."
"Aku gak tau, apa yang kamu omongin barusan itu serius apa enggak"
"Atau mungkin..... sekarang kamu cuma lagi ketakutan"
Beby kembali menarik nafasnya dalam-dalam.
Sedangkan aku hanya bisa membenarkan ucapan beby dalam hati, ya...., aku memang sangat ketakutan saat ini.
"Aku gak mau kamu ngomong kayak gitu cuma karena kamu takut, takut kalo aku gak bakal ngasih kesempatan lagi buat kamu"
"Aku tau banget nat..., kamu bukan orang yang main-main kalo soal janji"
"Tapi maaf....., aku gak bisa percaya gitu aja sama janji yang kamu ucapin barusan"
Deeeeeegggggg......
"Mbak......, emang bener, sekarang aku bener-bener takut"
"Apa rasa takut itu gak cukup buat bikin mbak percaya sama semua omonganku barusan?"
Beby kembali mengalihkan pandangannya kearah pemandangan kota jogja yang sekarang ada di hadapan kami.
"Waktu seseorang merasa takut, dia bisa menjanjikan apa aja, bahkan janji yang sebenarnya gak bisa dia penuhi"
"Aku masih belum siap buat sakit hati lagi nat"
Aku mengambil sebelah tangan beby dengan tangan kananku, menariknya, lalu menggenggamnya erat-erat.
"Mbaaakk....., apa yang harus aku lakuin supaya kamu bisa percaya?"
Beby menoleh kearahku dengan senyum yang kini menghiasi wajahnya.
Ya...., senyuman yang selama ini selalu aku rindukan, aku juga merindukan lubang yang selalu terbentuk di kedua sisi pipinya ketika dia tersenyum.
"Nat....., gak semuanya bisa kamu buktiin sekarang"
Aku membalas tatapannya dengan tatapan heran.
"Kenapa mbak?"
Beby kembali mengarahkan pandangannya keatas dengan senyuman yang masih belum pudar dari wajahnya.
"Sekarang, coba kamu liat keatas nat"
Aku langsung mengalihkan pandanganku keatas untuk mengikuti instruksi beby, hanya langit malam berwarna abu-abu yang saat ini memenuhi seluruh isi pengelihatanku.
Beby: "kenapa tempat ini dinamain bukit bintang nat?"
Aku: "karena biasanya kita bisa lihat banyak bintang kalo ada di tempat ini, kayaknya sih"
Aku menjawab dengan pandangan yang masih belum lepas dari langit berwarna abu-abu yang ada di atas kami.
"Sekarang kamu bisa ngeliat bintangnya gak?"
Aku memilih untuk berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari beby.
Aku: "enggak sih mbak, tapi biasanya ada kok, sekarang bintangnya lagi kehalang awan aja, kan masih mendung"
Beby: "terus, apa yang bisa kita lakuin buat liat bintangnya malam ini?"
Aku: "ya....., gak ada mbak, satu-satunya cara, nunggu sampai gak mendung lagi"
Beby: "sampai kapan?"
Aku: "gak tau, aku gak bisa ngatur kapan mendung kapan enggak mbak"
Beby kembali menoleh kearahku.
"Itu maksud aku nat, mungkin malam ini kamu gak bisa liat bintang-bintang yang udah dijanjikan sama tempat ini"
Aku membalas tatapan beby dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Kalau diliat dari namanya, tempat ini menjanjikan pengunjungnya dengan pemandangan bintang-bintang yang bisa dinikmati kalau mereka mau datang kesini"
"Tapi..... buat malam ini, pemilik tempat ini gak bisa nepatin janjinya nat"
"Mungkin, kalau malam ini ada pengunjung yang protes dan menanyakan di mana semua bintang-bintang yang udah di janjikan, si pemilik pasti panik"
"Dia pasti langsung mengatakan bahwa kita bisa melihat bintang yang dia janjikan besok malam, padahal dia gak tau, besok masih mendung atau enggak"
"Seperti kata kamu nat, kita gak akan bisa mencegah maupun mengatur kapan datangnya awan mendung, baik itu malam ini, besok, bahkan hari-hari setelahnya"
"Begitu juga pemilik tempat ini nat, dia juga gak akan bisa mencegahnya"
"Satu-satunya cara yang bisa dia lakuin untuk membuktikan semua janji-janjinya, dengan terus membuka tempat ini, setiap hari, atau mungkin.... selamanya nat"
"Berharap suatu saat langit udah gak mendung lagi, supaya pengunjungnya bisa liat semua bintang-bintang yang sudah dia janjikan, dan..... para pengunjung bisa percaya sama semua janji-janjinya"
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
"Mbak....., mbak gak yakin sama aku?"
Aku bertanya seraya membalas tatapannya.
"Harusnya aku yang tanya, apa kamu yakin sama janji-janji kamu nat?"
Beby balik beratnya kepadaku dengan nada yang penuh penekanan.
"Yakin mbak.."
Aku menjawab pertanyaannya dengan penuh keyakinan.
"Kalau iya, tolong buktiin nat, pegang semua omongan kamu"
"Pegang terus semua janji yang udah kamu bilang tadi, sampai suatu saat aku bisa melihat semuanya secara langsung, supaya aku bisa percaya sama semua janji-janji kamu"
"Kamu juga harus inget nat!!!, bintang-bintang yang sekarang lagi terhalang sama awan mendung, bisa aja suatu saat benar-benar hilang, bahkan bintang itu gak akan bisa dilihat tanpa perlu ada awan mendung atau sesuatu lain yang menghalanginya nat, dan..... itu semua juga kuasa yang di atas"
"Dan... kalo semua itu udah hilang, tolong nat...., kasih tau aku..., tolong jangan bikin aku mengharapkan suatu hal yang sebenarnya udah gak ada, atau bahkan gak pernah ada"
Aku memejamkan mataku, aku mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang sedari tadi keluar dari mulut beby.
Huuuuhhh.....
"Aku akan buktiin mbak, aku akan jaga semua janji-janji aku, sampai suatu saat mbak bisa liat langsung buktinya dengan mata kepala mbak sendiri"
"Bahkan, setelah nanti mbak bisa liat semua bukti dari janji-janji aku secara langsung, aku akan tetap megamg semua omonganku tadi, mungkin suatu saat nanti, ada saat di mana sebagian bukti-bukti itu gak terlihat seperti malam ini, karena terhalang oleh sesuatu, entah mbak, aku juga gak tau, sesuatu apa yang nanti akan menutupi janji-janjiku yang sebenarnya masih ada dan akan terus ada, seperti awan mendung yang menutupi bintang-bintang malam ini"
"Tapi.... Kalau sesuatu itu sudah pergi, kamu pasti selalu bisa menikmati semua bukti dari janji-jani yang aku ucapin barusan"
Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
"Dan..... mulai sekarang, aku akan selalu minta sama tuhan mbak, supaya bintang-bintang ini gak akan pernah hilang, supaya kamu bisa selalu menikmati semua bintang-bintang itu dari aku"
"Aku gak akan pernah biarin kamu nyari bintang-bintang itu di tempat lain"
Lagi-lagi aku mengucapkan kalimatku dengan nada penuh keyakinan, seolah-olah aku bisa menerobos semua halangan yang akan kami hadapi kedepannya.
Beby kembali tersenyum setelah aku menyelesaikan kalimatku.
"Semoga semua itu bener nat"
Aku kembali menarik sebelah tangan beby dengan tangan kiriku, sekarang kedua tangan kami saling mengenggam satu sama lain.
"Iya mbak..., tunggu aku..., jangan cari bintang di tempat lain dulu, masih banyak bintang-bintang indah yang bisa mbak nikmati di sini"
Aku menatap matanya dalam-dalam, mencoba menghapuskan semua keraguan yang ada di hatinya.
Ya.... aku sudah sangat yakin dengan ucapanku, aku akan buktikan semuanya.
Selama ini dia sudah memperjuangkanku habis-habisan, tapi apa balasanku?, aku malah menyakiti hatinya.
Oleh karena itu, mulai saat ini, aku akan berjuang untuk beby, aku akan membalas semua yang telah dia lakukan untukku, aku yakin, suatu saat, kita akan sama-sama bahagia, dan.... akan aku pastikan, kita akan bahagia bersama.
ya...., aku bahagia memiliki kamu, dan begitu juga sebaliknya, kamu pasti bahagia memiliki aku.
Herisyahrian dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas
