- Beranda
- Stories from the Heart
(Cerbung Fantasy) Kutukan Kreked
...
TS
IztaLorie
(Cerbung Fantasy) Kutukan Kreked

Sumber : pixabay.com
Matahari sudah mulai tenggelam, tetapi bulan belum muncul. Kedamaian Gimola terpecahkan oleh jerit kesakitan dan juga bunyi tulang yang patah.
Semua warga tanpa kecuali mengalami siksaan yang memilukan ketika tubuh mereka lambat laun mengecil, telinga melebar hingga akhirnya menyempit diujung.
Mereka yang tadinya berwujud manusia sekarang berubah menjadi manusia kerdil lengkap dengan baju yang kebesaran.
Raja Hezki memanggil peramal terbaik mereka. Beliau berjalan mondar-mandir dengan kecepatan seekor siput di depan singgasana. Kedua tangan tertaut di belakang. Merasa frustasi karena bentuk tubuhnya yang berubah drastis.
Tadinya dia terlihat selayaknya Raja yang tinggi, berbadan tegap, berparas bijaksana, tetapi lihatlah keadaannya sekarang. Perut buncit dan kaki pendek membuatnya cukup kesulitan untuk berjalan dari pintu menuju ke singgasana. Ditambah lagi dengan wajah yang menua dan janggut putih panjang membuat orang sukar mengenalinya.
Raja memperhatikan kedatangan sang peramal yang ditandai dengan aroma rempah-rempah yang saling berebut memenuhi indera penciuman.
Westi menekuk kaki kiri ke belakang, hendak memberi hormat. Perubahan tubuh yang baru terjadi membuatnya tidak bisa mengatur keseimbangan hingga jatuh terguling.
Kedua tangan melambai-lambai meminta pertolongan. Salah satu pengawal raja melompat ke depan menariknya hingga bisa berdiri lagi.
"Maafkan hamba, Yang Mulia," pintanya sambil membersihkan gaun cokelat kebesaran yang menyapu lantai.
Raja Hizki mengangkat tangan kanan pertanda kesalahan itu dimaafkan. "Katakan padaku, apa yang sudah terjadi di negeri Gimola? "
Westi mengambil buku tebal bersampul kulit dengan gambar simbol rumit berwarna keemasan. Mencari halaman yang sudah dibaca tadi.
"Menurut buku Kutukan Tersembunyi, apa yang terjadi saat ini disebut kutukan Kreked. Setiap matahari terbit kita akan kembali menjadi manusia, kalau bulan yang muncul maka kita akan berubah wujud. Kita hanya mempunyai waktu satu purnama untuk mematahkan kutukannya."
"Bagaimana caranya agar kutukan ini dipatahkan?"
"Kita harus menghancurkan kristal hitam Kreked yang pastinya dijadikan kalung oleh orang yang mengutuk. Itu karena kristal Kreked hanya bisa hidup kalau berada di dekat jantung pemakai." Westi menutup buku dengan mantap.
Hizki mengetuk-ketuk dagu dengan jari telunjuk. Memikirkan siapa yang kira-kira memiliki dendam dengan negeri ini.
"Bagaimana kita bisa tahu siapa pemilik kristal itu?" Hizkia menatap tajam Westi.
Minea-sang Ratu berlari memasuki ruang utama. Tangan kiri mencengkeram dan menaikkan bagian bawah gaun agar tidak menghambat pergerakan. Tangan kanan yang terangkat tinggi-tinggi memegang surat yang ikut berayun sesuai gerakan langkahnya.
"Aku tahu siapa pelakunya."
Surat itu diserahkan kepada Raja sementara Ratu Minea duduk di singgasana sambil mengatur napas agar kembali teratur.
Dahi Hizkia berkerut, isi surat ini sangat jelas. Kalia lah yang berada di balik bencana negeri Gimola. Ini karena dendam masa lalu.
Kalia yang merupakan peri Minea berusaha menggantikan Ratu dengan mengambil wujud serupa beliau. Ratu yang asli diberi ramuan agar terus tidur lelap sehingga dia tidak binasa.
Kalia yang merupakan peri penjaga jatuh cinta pada Hizkia. Itu merupakan pelanggaran berat hingga ikatannya dengan Ratu dilepas, lalu diusir dari Gimola.
Sedari awal Minea seharusnya tidak memilih peri bersayap putih dengan gaun hitam berhiaskan pendar keemasan. Walau pun tampak diliputi kuasa seperti kedudukan yang dipikulnya, peri hitam cenderung memiliki hati yang kelam.
"Ada ramalan menyertai kutukan ini. Hanya anak dari keluarga terpilih lah yang bisa mencabut kutukan," ujar Westi.
Raja mulai memikirkan siapa saja anak-anak yang bisa dikirim untuk misi penyelamatan ini.
"Sudah menjadi tugasmu untuk menemukan anak-anak ini." Raja memberi perintah pada sang peramal.
Terlihat bibir Westi melengkung ke atas. Dia memberi hormat sebelum meninggalkan ruang utama.
-Bersambung-
Jangan lupa subscribe dan share cerita ini ya. 

Diubah oleh IztaLorie 15-10-2019 09:21
cumibakar217 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
3.3K
47
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
IztaLorie
#38
Kutukan Kreked
Kristal Gua Aleir
Ditengah suasana menegangkan, tiba-tiba Tera merasakan tangan Cher yang makin kencang meremas lengannya sampai-sampai dia meneteskan air mata ketika berusaha melonggarkan cengkraman itu. Namun Tera tidak berani mencoba terlalu keras karena menyadari tatapan kosong Cher yang menandakan gadis itu sedang mendapat penglihatan.
"Tidak...." teriakan Cher malah membuat Aryan dan Hefina semakin tegang.
"Cher, apa yang kamu lihat?" Tera mengelus-elus lengan Cher untuk menenangkan, tidak mempedulikan kondisi lengannya sendiri yang terasa seperti remuk.
"Kita harus segera bergerak. Aku lihat sesuatu yang hitam hendak memakan kita," ujar Cher sambil menoleh panik ke segala arah.
Rakit mereka seperti terhantam sesuatu yang keras lalu mulai terseret arus.
Mereka berempat saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Namun teriakan Tera membuat ketakutan mereka bertambah dalam.
"Pusaran air! Itu pusaran air! " teriak Tera dengan histeris.
Tanpa sadar dia mengeluarkan Lefli yang terus berputar-putar di atas mereka. Sulur-sulur yang mengikat rakit tumbuh memanjang kemudian menyusur di atas permukaan air laut untuk mencari pegangan.
Gerakan Lefli yang berputar melawan arus pusaran air membuat tubuh keempatnya seperti diperas oleh tangan-tangan raksasa.
Mual, itulah yang mereka rasakan setelah ketakutan. Mual itu bertambah parah ketika rakit mereka tersentak kemudian ditarik dengan kekuatan penuh oleh sulur-sulur yang sudah menemukan tambatan.
Mereka berempat turun dari rakit dengan kaki gemetaran lalu berbaring terlentang beralaskan pasir pantai yang masih terasa hangat padahal sudah menjelang sore.
Aryan lah yang lebih dahulu sadar kalau mereka sudah melewati mara bahaya. "Apakah yang kamu lihat itu tadi pusaran air?"
Gelengan kepala Cher membuat Aryan bingung. "Kalau begitu apa?"
"Apa kalian tidak bisa melihat gigi-gigi yang runcing dan tajam di tengah pusaran itu. Seolah-olah ada makhluk buas yang hendak memakan kita." Tera mengelus-elus kedua lengannya.
"Itu tadi Charybdis yang terbiasa menghisap air laut sehingga bisa menelan kapal-kapal yang melintas lalu memuntahkan air laut kembali agar dapat menenggelamkan daratan." Mata Cher menerawang ke tengah lautan, di mana masih terlihat pergerakan air laut.
"Kalau begitu kita harus cepat menyingkir sebelum dia memuntahkan air. Lihat, air sudah mulai surut." Tera langsung balik badan dan mulai berlari meninggalkan yang lain. Beberapa kali terjatuh hingga harus merangkak agar dapat kembali berlari dengan cepat.
Ketiga yang lainnya baru mulai berbalik dan berlari setelah terlihat gelombang tinggi yang terlihat dari kejauhan.
Mulai lagi pendakian yang lebih curam dari ketika mereka naik ke bukit. Beberapa kali terpeleset membuat tangan dan kaki mereka menjadi lecet.
Namun mereka tidak mudah menyerah. Pilihannya hanya dua, ditelan oleh air laut atau bergerak naik.
Mereka berempat merasa beruntung karena bisa menghindari permainan Charybdis ketika melihat rakit yang tadi ditumpang langsung hancur ketika bersentuhan dengan gigi-gigi Charybdis.
"Ada gua, lebih baik kita masuk ke dalam. Matahari sudah hampir tenggelam." Aryan memapah Tera yang tergeletak lemas di atas rerumputan.
Hefina sendiri juga memapah Cher yang kondisinya lebih parah dari Tera. Karena gadis itu seperti mengalami kejadian ini sebanyak dua kali, lewat penglihatan dan juga di alam nyata.
Matahari menghilang ketika mereka sampai di mulut gua. Tera langsung roboh di tanah padat yang keras ketika gelombang kesakitan menerpa. Bahkan Aryan tidak bisa membantu karena dia sendiri juga sedang berjuang melawan rasa sakit akibat tulang-tulang yang dipatahkan dan dibentuk kembali.
Jerit kesakitan bergema sampai ke dalam gua. Menimbulkan suara mengerikan yang bakal membuat orang merinding saat mendengarnya.
Setelah perubahan selesai, masih terdengar suara tangis Cher. Tera tertatih-tatih menghampiri untuk memeriksa keadaan gadis itu. Ternyata ada luka terbuka di bagian lutut.
Tera membuka tas serut untuk mengambil salep dan juga kain untuk membalut luka.
"Hef, tolong pegang tangan Cher. Aryan, tahan kakinya," perintah Tera setelah persiapannya selesai.
Tubuh Cher bergerak-gerak tanpa terkendali karena kesakitan yang dirasakan ketika Tera mengoles salep. Dagu Hefina terkena hantaman ketika Cher bisa melepaskan tangan kanannya dari cengkraman Hefina.
Pemberontakan Cher mereda ketika luka itu selesai dibalut. Namun napasnya masih belum teratur.
"Keluarga penyembuh memang luar biasa. Semenit sebelumnya terasa seperti dibakar hingga tulang seperti meleleh, tapi semenit kemudian rasanya berangsur-angsur mereda hingga terasa dingin. Sama sekali tidak terasa sakit lagi." Pipi Cher merona padahal Tera yang mendapat pujian.
Tera lalu berganti memeriksa bagian tubuh yang lain sehingga semua luka Cher bisa dirawat. Kemudian dia beralih pada Aryan lalu Hefina.
Tera tersenyum ketika ketiga teman seperjalannya sudah tidak lagi mengkerutkan dahi karena menahan sakit.
Aryan mengambil salep dari tangan Tera lalu mengoleskan pada telapak tangan yang terlihat memerah dan mengelupas.
"Jangan lupa untuk merawat diri sendiri. Kalau penyembuh terluka, bagaimana nasib yang lainnya. Mereka tidak akan tertolong, jadi rawatlah dirimu sendiri karena kamu tahu kalau aku tidak sepenuhnya bisa merawatmu," tutur Aryan dengan sedih.
Tera meletakkan tangan pada pipi Aryan hingga pemuda itu menengadah agar dapat menatap Tera.
"Jangan sedih, aku tidak akan membiarkan kamu terluka seperti halnya kamu akan menjagaku agar tidak terluka," ucap Tera sambil tersenyum manis.
Aryan meraih tangan Tera lalu menggenggamnya lembut. Kemudian matanya memejam untuk menikmati sentuhan yang sudah menghangatkan jiwanya.
Sejenak dia lupa akan kelemahannya sebagai bagian dari keluarga penyembuh. Ini adalah cacat yang ada di dalam dirinya, menjadi bagian dari keluarga penyembuh tapi tak bisa menyembuhkan. Sama sekali tidak ada bakat.
Hefina membuang muka ketika melihat kemesraan antara dua orang beda jenis itu. Api cemburu kembali tumbuh di dalam dirinya.
Perlahan-lahan dia bangkit lalu menunjuk ke dalam gua. "Ar, Aryan. Lihat itu! Apa yang menyala dari dalam gua? Apa itu monster?" Hefina memasang kuda-kuda, tapi Aryan menahan tangan gadis yang berniat untuk memanggil peri.
Pemuda itu lalu bangkit berdiri. "Jangan menguras tenagamu untuk memanggil Yelzi karena semakin lama kemampuan kita mengendalikan peri akan berkurang ketika dalam wujud kurcaci. Sebaiknya aku yang memeriksa."
Tera membuntuti Aryan tepat di belakangnya. Cher dan Hefina ikut mengendap-endap di belakang mereka.
Hefina melompat ke depan ketika mendapati pendar berkilauan yang dilihatnya tadi adalah batu kristal dengan aneka warna.
"Bagaimana bisa kilaunya begitu cemerlang padahal tidak ada cahaya yang cukup di sini." Hefina begitu terkagum-kagum hingga nyaris menyentuh batu kristal itu.
"Hentikan! Jangan sampai menyentuh batu itu." Peringatan Aryan terlambat karena Hefina sudah terlanjur menyentuhnya.
Mereka berempat meluncur turun ketika lantai yang mereka pijak tiba-tiba terbuka. Beberapa kali menabrak dinding gua ketika mereka meluncur melewati tikungan tajam.
Akhirnya mereka berhenti di dasar gua. Terdapat lebih banyak kristal beraneka warna yang berserakan di dalam gua.
"Apa ini gua penyamun seperti di Aladin? Kita tidak bisa sembarangan mengambilnya?" Hefina menoleh ke belakang untuk menatap Aryan.
Aryan malah terkekeh. "Ini gua Aleir tempat kita akan mendapatkan batu untuk mengisi senjata kita. Memang tidak boleh sembarangan memegang batu yang salah karena banyak jebakan untuk menguji niat kita."
"Niat kita?" tanya Cher.
"Niat kita harus tulus untuk mendapatkan senjata, bukan untuk mendapatkan harta atau pun kekuasaan. Kita tidak boleh serakah di sini. Sekarang pejamkan mata kalian. Ikutilah cahaya dari batu kristal yang terlihat di dalam pikiran kalian."
Mereka berempat berpisah karena mengejar batu masing-masing. Tera lah yang pertama mendapatkan batu berwarna hijau gelap dengan pendar kebiruan. Kemudian Hefina dengan batu merah delima. Aryan sempat tergelincir karena harus naik ke atas batu besar dalam keadaan mata tertutup. Namun dia berhasil mendapatkan batu hijau muda dengan inti berwarna hitam.
Cher masih belum mendapatkan batunya. Ketiga temannya duduk bersandar di dinding gua sambil menggengam erat batu masing-masing.
Mereka memperhatikan Cher yang berputar-putar ke berbagai arah dengan kedua tangan terangkat lurus di depan karena takut menabrak batu besar yang menonjol di dalam gua.
"Cher, teruslah berjuang. Pikirkan kalau kamu ingin senjata yang bisa membantu kita untuk menjalankan misi," teriak Hefina menyemangati.
"Sia-sia. Ini akan memakan waktu lebih lama," ujar Tera putus asa.
Hefina memukul lengan Tera, mereka berdua saling melotot. Hefina mencoba menegur Tera agar tidak bicara sembarangan, sedangkan Tera melotot karena tidak mau diatur-atur.
"Ketemu," teriak Cher dengan gembira sambil mengacungkan batu itu tinggi-tinggi.
Seberkas sinar keluar dari batu berwarna cokelat cacing yang dipegang oleh Cher. Cahaya itu meluncur ke batu merah lalu ke hijau gelap, kemudian ke hijau muda, dan gua itu menjadi terang benderang.
Mulut Hefina membuka ketika merasakan dinginnya besi dalam genggaman tangannya. Batu itu berubah bentuk.
...
Daftar indeks cerita, klik di sini.
Ditengah suasana menegangkan, tiba-tiba Tera merasakan tangan Cher yang makin kencang meremas lengannya sampai-sampai dia meneteskan air mata ketika berusaha melonggarkan cengkraman itu. Namun Tera tidak berani mencoba terlalu keras karena menyadari tatapan kosong Cher yang menandakan gadis itu sedang mendapat penglihatan.
"Tidak...." teriakan Cher malah membuat Aryan dan Hefina semakin tegang.
"Cher, apa yang kamu lihat?" Tera mengelus-elus lengan Cher untuk menenangkan, tidak mempedulikan kondisi lengannya sendiri yang terasa seperti remuk.
"Kita harus segera bergerak. Aku lihat sesuatu yang hitam hendak memakan kita," ujar Cher sambil menoleh panik ke segala arah.
Rakit mereka seperti terhantam sesuatu yang keras lalu mulai terseret arus.
Mereka berempat saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Namun teriakan Tera membuat ketakutan mereka bertambah dalam.
"Pusaran air! Itu pusaran air! " teriak Tera dengan histeris.
Tanpa sadar dia mengeluarkan Lefli yang terus berputar-putar di atas mereka. Sulur-sulur yang mengikat rakit tumbuh memanjang kemudian menyusur di atas permukaan air laut untuk mencari pegangan.
Gerakan Lefli yang berputar melawan arus pusaran air membuat tubuh keempatnya seperti diperas oleh tangan-tangan raksasa.
Mual, itulah yang mereka rasakan setelah ketakutan. Mual itu bertambah parah ketika rakit mereka tersentak kemudian ditarik dengan kekuatan penuh oleh sulur-sulur yang sudah menemukan tambatan.
Mereka berempat turun dari rakit dengan kaki gemetaran lalu berbaring terlentang beralaskan pasir pantai yang masih terasa hangat padahal sudah menjelang sore.
Aryan lah yang lebih dahulu sadar kalau mereka sudah melewati mara bahaya. "Apakah yang kamu lihat itu tadi pusaran air?"
Gelengan kepala Cher membuat Aryan bingung. "Kalau begitu apa?"
"Apa kalian tidak bisa melihat gigi-gigi yang runcing dan tajam di tengah pusaran itu. Seolah-olah ada makhluk buas yang hendak memakan kita." Tera mengelus-elus kedua lengannya.
"Itu tadi Charybdis yang terbiasa menghisap air laut sehingga bisa menelan kapal-kapal yang melintas lalu memuntahkan air laut kembali agar dapat menenggelamkan daratan." Mata Cher menerawang ke tengah lautan, di mana masih terlihat pergerakan air laut.
"Kalau begitu kita harus cepat menyingkir sebelum dia memuntahkan air. Lihat, air sudah mulai surut." Tera langsung balik badan dan mulai berlari meninggalkan yang lain. Beberapa kali terjatuh hingga harus merangkak agar dapat kembali berlari dengan cepat.
Ketiga yang lainnya baru mulai berbalik dan berlari setelah terlihat gelombang tinggi yang terlihat dari kejauhan.
Mulai lagi pendakian yang lebih curam dari ketika mereka naik ke bukit. Beberapa kali terpeleset membuat tangan dan kaki mereka menjadi lecet.
Namun mereka tidak mudah menyerah. Pilihannya hanya dua, ditelan oleh air laut atau bergerak naik.
Mereka berempat merasa beruntung karena bisa menghindari permainan Charybdis ketika melihat rakit yang tadi ditumpang langsung hancur ketika bersentuhan dengan gigi-gigi Charybdis.
"Ada gua, lebih baik kita masuk ke dalam. Matahari sudah hampir tenggelam." Aryan memapah Tera yang tergeletak lemas di atas rerumputan.
Hefina sendiri juga memapah Cher yang kondisinya lebih parah dari Tera. Karena gadis itu seperti mengalami kejadian ini sebanyak dua kali, lewat penglihatan dan juga di alam nyata.
Matahari menghilang ketika mereka sampai di mulut gua. Tera langsung roboh di tanah padat yang keras ketika gelombang kesakitan menerpa. Bahkan Aryan tidak bisa membantu karena dia sendiri juga sedang berjuang melawan rasa sakit akibat tulang-tulang yang dipatahkan dan dibentuk kembali.
Jerit kesakitan bergema sampai ke dalam gua. Menimbulkan suara mengerikan yang bakal membuat orang merinding saat mendengarnya.
Setelah perubahan selesai, masih terdengar suara tangis Cher. Tera tertatih-tatih menghampiri untuk memeriksa keadaan gadis itu. Ternyata ada luka terbuka di bagian lutut.
Tera membuka tas serut untuk mengambil salep dan juga kain untuk membalut luka.
"Hef, tolong pegang tangan Cher. Aryan, tahan kakinya," perintah Tera setelah persiapannya selesai.
Tubuh Cher bergerak-gerak tanpa terkendali karena kesakitan yang dirasakan ketika Tera mengoles salep. Dagu Hefina terkena hantaman ketika Cher bisa melepaskan tangan kanannya dari cengkraman Hefina.
Pemberontakan Cher mereda ketika luka itu selesai dibalut. Namun napasnya masih belum teratur.
"Keluarga penyembuh memang luar biasa. Semenit sebelumnya terasa seperti dibakar hingga tulang seperti meleleh, tapi semenit kemudian rasanya berangsur-angsur mereda hingga terasa dingin. Sama sekali tidak terasa sakit lagi." Pipi Cher merona padahal Tera yang mendapat pujian.
Tera lalu berganti memeriksa bagian tubuh yang lain sehingga semua luka Cher bisa dirawat. Kemudian dia beralih pada Aryan lalu Hefina.
Tera tersenyum ketika ketiga teman seperjalannya sudah tidak lagi mengkerutkan dahi karena menahan sakit.
Aryan mengambil salep dari tangan Tera lalu mengoleskan pada telapak tangan yang terlihat memerah dan mengelupas.
"Jangan lupa untuk merawat diri sendiri. Kalau penyembuh terluka, bagaimana nasib yang lainnya. Mereka tidak akan tertolong, jadi rawatlah dirimu sendiri karena kamu tahu kalau aku tidak sepenuhnya bisa merawatmu," tutur Aryan dengan sedih.
Tera meletakkan tangan pada pipi Aryan hingga pemuda itu menengadah agar dapat menatap Tera.
"Jangan sedih, aku tidak akan membiarkan kamu terluka seperti halnya kamu akan menjagaku agar tidak terluka," ucap Tera sambil tersenyum manis.
Aryan meraih tangan Tera lalu menggenggamnya lembut. Kemudian matanya memejam untuk menikmati sentuhan yang sudah menghangatkan jiwanya.
Sejenak dia lupa akan kelemahannya sebagai bagian dari keluarga penyembuh. Ini adalah cacat yang ada di dalam dirinya, menjadi bagian dari keluarga penyembuh tapi tak bisa menyembuhkan. Sama sekali tidak ada bakat.
Hefina membuang muka ketika melihat kemesraan antara dua orang beda jenis itu. Api cemburu kembali tumbuh di dalam dirinya.
Perlahan-lahan dia bangkit lalu menunjuk ke dalam gua. "Ar, Aryan. Lihat itu! Apa yang menyala dari dalam gua? Apa itu monster?" Hefina memasang kuda-kuda, tapi Aryan menahan tangan gadis yang berniat untuk memanggil peri.
Pemuda itu lalu bangkit berdiri. "Jangan menguras tenagamu untuk memanggil Yelzi karena semakin lama kemampuan kita mengendalikan peri akan berkurang ketika dalam wujud kurcaci. Sebaiknya aku yang memeriksa."
Tera membuntuti Aryan tepat di belakangnya. Cher dan Hefina ikut mengendap-endap di belakang mereka.
Hefina melompat ke depan ketika mendapati pendar berkilauan yang dilihatnya tadi adalah batu kristal dengan aneka warna.
"Bagaimana bisa kilaunya begitu cemerlang padahal tidak ada cahaya yang cukup di sini." Hefina begitu terkagum-kagum hingga nyaris menyentuh batu kristal itu.
"Hentikan! Jangan sampai menyentuh batu itu." Peringatan Aryan terlambat karena Hefina sudah terlanjur menyentuhnya.
Mereka berempat meluncur turun ketika lantai yang mereka pijak tiba-tiba terbuka. Beberapa kali menabrak dinding gua ketika mereka meluncur melewati tikungan tajam.
Akhirnya mereka berhenti di dasar gua. Terdapat lebih banyak kristal beraneka warna yang berserakan di dalam gua.
"Apa ini gua penyamun seperti di Aladin? Kita tidak bisa sembarangan mengambilnya?" Hefina menoleh ke belakang untuk menatap Aryan.
Aryan malah terkekeh. "Ini gua Aleir tempat kita akan mendapatkan batu untuk mengisi senjata kita. Memang tidak boleh sembarangan memegang batu yang salah karena banyak jebakan untuk menguji niat kita."
"Niat kita?" tanya Cher.
"Niat kita harus tulus untuk mendapatkan senjata, bukan untuk mendapatkan harta atau pun kekuasaan. Kita tidak boleh serakah di sini. Sekarang pejamkan mata kalian. Ikutilah cahaya dari batu kristal yang terlihat di dalam pikiran kalian."
Mereka berempat berpisah karena mengejar batu masing-masing. Tera lah yang pertama mendapatkan batu berwarna hijau gelap dengan pendar kebiruan. Kemudian Hefina dengan batu merah delima. Aryan sempat tergelincir karena harus naik ke atas batu besar dalam keadaan mata tertutup. Namun dia berhasil mendapatkan batu hijau muda dengan inti berwarna hitam.
Cher masih belum mendapatkan batunya. Ketiga temannya duduk bersandar di dinding gua sambil menggengam erat batu masing-masing.
Mereka memperhatikan Cher yang berputar-putar ke berbagai arah dengan kedua tangan terangkat lurus di depan karena takut menabrak batu besar yang menonjol di dalam gua.
"Cher, teruslah berjuang. Pikirkan kalau kamu ingin senjata yang bisa membantu kita untuk menjalankan misi," teriak Hefina menyemangati.
"Sia-sia. Ini akan memakan waktu lebih lama," ujar Tera putus asa.
Hefina memukul lengan Tera, mereka berdua saling melotot. Hefina mencoba menegur Tera agar tidak bicara sembarangan, sedangkan Tera melotot karena tidak mau diatur-atur.
"Ketemu," teriak Cher dengan gembira sambil mengacungkan batu itu tinggi-tinggi.
Seberkas sinar keluar dari batu berwarna cokelat cacing yang dipegang oleh Cher. Cahaya itu meluncur ke batu merah lalu ke hijau gelap, kemudian ke hijau muda, dan gua itu menjadi terang benderang.
Mulut Hefina membuka ketika merasakan dinginnya besi dalam genggaman tangannya. Batu itu berubah bentuk.
...
Daftar indeks cerita, klik di sini.
Jangan lupa share cerita ini kalau kamu suka. Biar makin banyak yang baca.
Diubah oleh IztaLorie 16-05-2020 18:26
0