- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#1133
MUDIK 2020
Spoiler for :
Rudy menyeka keringatnya dengan handuk. Lari mengitari rumah kontrakan serratus tiga puluh kali ternyata menguras energi juga. Sambil mengatur nafas diambilnya botol air kelapa dan diminumnya untuk mengganti cairan tubuh-seperti di iklan-iklan TV. Mendadak HP-nya bunyi, ada notifikasi di messengernya.
‘Papa sakit parah.’
Hanya tiga kata, pengirimnya adalah Adi alias Rocky adiknya di kampung. Setelah berpikir sejenak Rudy akhirnya membalas
‘Segera pulang.’
Apa yang aneh dengan adegan cerita diatas? Mengapa mau beritahu mau mudik saja harus berpikir dulu? Tahun-tahun kemarin memang biasa kalau ada orangtua di kampung sedang sakit anaknya datang menjenguk, tetapi tahun ini? Semua berubah sejak Covid-19 menyerang. Pemberlakuan lockdown dan karantina wilayah membuat warga tidak bisa keluar kota. Semua moda transportasi berhenti beroperasi, checkpoint-checkpoint penuh penjaga bersenjata api pun berdiri mengintimidasi. Lalu apa yang harus dilakukan Rudy supaya bisa sampai ke kampung halaman dengan sukses?
“Selamat datang di minimarket.”
“Mas bisa tolong bawain.”
“Bawakan apa Pak?”
“Air mineral satu kardus.”
Setelah itu ia mampir ke apotik untuk membeli obat flu.
“Yang ini baru lho, tidak menyebabkan kantuk.”
“Saya beli yang bisa bikin tidur saja. Butuh istirahat soalnya.”
Iapun membeli beberapa obat lain lalu pulang. Sesampainya dirumah dibukanya explorer dan dicarinya gambar penjaga checkpoint. Setelah itu Rudy pergi ke toko kain dan helm lalu menjahit sendiri sepasang baju dan celana.
“Minuman gratis Pak, lumayan buat buka puasa.”
Seorang sopir truk mengambil satu botol dan langsung menenggaknya. Tak lama kemudian pria itu merasa mengantuk dan masuk ke mushola rest area untuk tiduran. Tak menyia-nyiakan kesempatan Rudy langsung menaiki kursi pengemudi, menyambung kabel-kabel dan menyalakan kendaraan raksasa berisi sayuran itu dan mengemudikannya….ke luar kota.
“Berhenti.”
“Ya Pak.”
“Silahkan turun, kami periksa dulu muatannya.”
“Cuma sayur kol dan sawi hijau Pak.”
Tak lama kemudian komandan checkpoint memberi isyarat agar Rudy segera lewat. Kendaraan biasa memang dilarang tetapi truk pengangkut bahan-bahan kebutuhan pokok masih diperbolehkan lewat asalkan mematuhi prosedur pembatasan fisik dan memakai masker.
“Terima kasih Pak.”
Rudy melaju lagi hingga sampai di checkpoint terdekat dengan rumahnya.
“Angkut apa?”
“Sayuran Pak.”
“Aneh, truk sayur baru saja lewat.”
“Waduh saya tidak tahu Pak.”
“Turun…..ikut ke pos.”
“Baik Pak.
Rudy menendang pintu lalu lari di dalam gelapnya malam. Rimbunan pohon dan semak membuatnya lebih leluasa dalam bergerak.
“Cepat cari !”
“Kerahkan anjing pelacak !”
Gawat. Rudy melompat dari atas pohon, berenang melintasi sungai dan tiba di seberang. Ia membuka ransel kedap airnya,mengganti bajunya yang basah dan meneruskan perjalanan. Kali ini di checkpoint ketiga. Bentuknya sepasang gardu di kanan kiri jalan.
KROSAK
“Hei apa itu?”
Seorang penjaga mendatangi asal suara tetapi yang didapatinya hanya dinding belakang gardu dan tumpukan kardus air mineral seperti biasa. Penjaga itupun menggeleng-gelengkan kepala dan kembali lagi ke posnya semula. Setelah situasi tennag tampak sebuah kardus bergerak-gerak. Rudy muncul dari dalamnya dengan pakaian baru-yang tadi digunakan untuk mengganti bajunya yang basah.
“Hei ada yang lari di hutan!”
Teriaknya sambil berlari ke kegelapan malam dan berhenti sambil menunjuk..
“Kejar!”
“Orangnya kesana.”
Para penjaga mengikuti arah yang ditunjuk Rudy, checkpoint kosong hanya menyisakan satu orang penjaga. Rudy mengendap-endap dari belakang dan melingkarkan lengan di lehernya. Orang itu lemas dan Rudy menyeretnya ke dalam gardu. Disana ia mengambil kunci sepeda motor dan menaikinya.
“Itu Rudy datang.”
“Rock, ayah bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” Tanya Rocky heran sambil membuang punting rokoknya. Ben sahabat Rocky menenggak bir lalu menggeleng.
“Emangnya babe kenapa Rock?”
“Kamu kan yang nge-chat aku?”
“Saya tidak pernah nge-chat Mas Rudy. Babe juga sehat.”
“Aneh sih, tapi sudah terlanjur mudik ya sudahlah.”
Dua minggu Rudy menghabiskan waktu di kampung terpencil itu. Lokasinya dirahasiakan karena mayoritas penduduknya-termasuk ayah Rudy berprofesi sebagai begal….ya Rudy memang tumbuh dan dibesarkan di kampung begal. Ia dikirim ayahnya untuk sekolah ke kota agar bisa hidup di jalan lurus, tidak seperti dirinya dan penghuni-penghuni kampung ini.
“Aku kok agak demam ya?” Kata Rocky suatu hari.
“Iya nih, babe juga.”
“Gw juga Rock.” Kata Ben
Tak cuma mereka bertiga, warga kampung yang lainpun ada yang tiba-tiba meninggal, demam,lemas dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Rudy sendiri? Ia yang meninggal pertama kali. Tanpa gejala apapun tiba-tiba saja roboh dan setelah dirawat tiga hari nyawanya tak tertolong.
Jauh dari kampung mati itu, Wolfgang tampak menghirup kopi yang diraciknya sendiri. Ia membuka laptop dan melakukan video call.
“Bagaimana Pak ide saya?”
“Satu kampung hanya belasan orang yang hidup. Mereka sekarang tertangkap dan diisolasi. Tapi saya kasihan dengan anak itu.”
“Anak yang mana?”
“Yang kau infeksi virus COVID-19 lewat kardus minuman itu.”
“Mau bagaimana lagi, cuma begitu cara menemukan kampungnya. Rencananya kan buat dia terinfeksi,suruh mudik, kita ikuti diam-diam dan setelah semuanya ketularan,sakit,lemas…Bapak bisa panen.”
“Tapi kalau ada penyelidikan internal bagaimana?”
“Soal itu gampang biar anak buah saya yang urus.”
Kata pria tua berambut putih itu sambil mengakhiri pembicaraan. Diseruputnya kopi sambil menikmati senja yang tersisa diiringi piringan hitam yang memutar lagu what a wonderful world.
‘Papa sakit parah.’
Hanya tiga kata, pengirimnya adalah Adi alias Rocky adiknya di kampung. Setelah berpikir sejenak Rudy akhirnya membalas
‘Segera pulang.’
Apa yang aneh dengan adegan cerita diatas? Mengapa mau beritahu mau mudik saja harus berpikir dulu? Tahun-tahun kemarin memang biasa kalau ada orangtua di kampung sedang sakit anaknya datang menjenguk, tetapi tahun ini? Semua berubah sejak Covid-19 menyerang. Pemberlakuan lockdown dan karantina wilayah membuat warga tidak bisa keluar kota. Semua moda transportasi berhenti beroperasi, checkpoint-checkpoint penuh penjaga bersenjata api pun berdiri mengintimidasi. Lalu apa yang harus dilakukan Rudy supaya bisa sampai ke kampung halaman dengan sukses?
“Selamat datang di minimarket.”
“Mas bisa tolong bawain.”
“Bawakan apa Pak?”
“Air mineral satu kardus.”
Setelah itu ia mampir ke apotik untuk membeli obat flu.
“Yang ini baru lho, tidak menyebabkan kantuk.”
“Saya beli yang bisa bikin tidur saja. Butuh istirahat soalnya.”
Iapun membeli beberapa obat lain lalu pulang. Sesampainya dirumah dibukanya explorer dan dicarinya gambar penjaga checkpoint. Setelah itu Rudy pergi ke toko kain dan helm lalu menjahit sendiri sepasang baju dan celana.
“Minuman gratis Pak, lumayan buat buka puasa.”
Seorang sopir truk mengambil satu botol dan langsung menenggaknya. Tak lama kemudian pria itu merasa mengantuk dan masuk ke mushola rest area untuk tiduran. Tak menyia-nyiakan kesempatan Rudy langsung menaiki kursi pengemudi, menyambung kabel-kabel dan menyalakan kendaraan raksasa berisi sayuran itu dan mengemudikannya….ke luar kota.
“Berhenti.”
“Ya Pak.”
“Silahkan turun, kami periksa dulu muatannya.”
“Cuma sayur kol dan sawi hijau Pak.”
Tak lama kemudian komandan checkpoint memberi isyarat agar Rudy segera lewat. Kendaraan biasa memang dilarang tetapi truk pengangkut bahan-bahan kebutuhan pokok masih diperbolehkan lewat asalkan mematuhi prosedur pembatasan fisik dan memakai masker.
“Terima kasih Pak.”
Rudy melaju lagi hingga sampai di checkpoint terdekat dengan rumahnya.
“Angkut apa?”
“Sayuran Pak.”
“Aneh, truk sayur baru saja lewat.”
“Waduh saya tidak tahu Pak.”
“Turun…..ikut ke pos.”
“Baik Pak.
Rudy menendang pintu lalu lari di dalam gelapnya malam. Rimbunan pohon dan semak membuatnya lebih leluasa dalam bergerak.
“Cepat cari !”
“Kerahkan anjing pelacak !”
Gawat. Rudy melompat dari atas pohon, berenang melintasi sungai dan tiba di seberang. Ia membuka ransel kedap airnya,mengganti bajunya yang basah dan meneruskan perjalanan. Kali ini di checkpoint ketiga. Bentuknya sepasang gardu di kanan kiri jalan.
KROSAK
“Hei apa itu?”
Seorang penjaga mendatangi asal suara tetapi yang didapatinya hanya dinding belakang gardu dan tumpukan kardus air mineral seperti biasa. Penjaga itupun menggeleng-gelengkan kepala dan kembali lagi ke posnya semula. Setelah situasi tennag tampak sebuah kardus bergerak-gerak. Rudy muncul dari dalamnya dengan pakaian baru-yang tadi digunakan untuk mengganti bajunya yang basah.
“Hei ada yang lari di hutan!”
Teriaknya sambil berlari ke kegelapan malam dan berhenti sambil menunjuk..
“Kejar!”
“Orangnya kesana.”
Para penjaga mengikuti arah yang ditunjuk Rudy, checkpoint kosong hanya menyisakan satu orang penjaga. Rudy mengendap-endap dari belakang dan melingkarkan lengan di lehernya. Orang itu lemas dan Rudy menyeretnya ke dalam gardu. Disana ia mengambil kunci sepeda motor dan menaikinya.
“Itu Rudy datang.”
“Rock, ayah bagaimana?”
“Bagaimana apanya?” Tanya Rocky heran sambil membuang punting rokoknya. Ben sahabat Rocky menenggak bir lalu menggeleng.
“Emangnya babe kenapa Rock?”
“Kamu kan yang nge-chat aku?”
“Saya tidak pernah nge-chat Mas Rudy. Babe juga sehat.”
“Aneh sih, tapi sudah terlanjur mudik ya sudahlah.”
Dua minggu Rudy menghabiskan waktu di kampung terpencil itu. Lokasinya dirahasiakan karena mayoritas penduduknya-termasuk ayah Rudy berprofesi sebagai begal….ya Rudy memang tumbuh dan dibesarkan di kampung begal. Ia dikirim ayahnya untuk sekolah ke kota agar bisa hidup di jalan lurus, tidak seperti dirinya dan penghuni-penghuni kampung ini.
“Aku kok agak demam ya?” Kata Rocky suatu hari.
“Iya nih, babe juga.”
“Gw juga Rock.” Kata Ben
Tak cuma mereka bertiga, warga kampung yang lainpun ada yang tiba-tiba meninggal, demam,lemas dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan Rudy sendiri? Ia yang meninggal pertama kali. Tanpa gejala apapun tiba-tiba saja roboh dan setelah dirawat tiga hari nyawanya tak tertolong.
Jauh dari kampung mati itu, Wolfgang tampak menghirup kopi yang diraciknya sendiri. Ia membuka laptop dan melakukan video call.
“Bagaimana Pak ide saya?”
“Satu kampung hanya belasan orang yang hidup. Mereka sekarang tertangkap dan diisolasi. Tapi saya kasihan dengan anak itu.”
“Anak yang mana?”
“Yang kau infeksi virus COVID-19 lewat kardus minuman itu.”
“Mau bagaimana lagi, cuma begitu cara menemukan kampungnya. Rencananya kan buat dia terinfeksi,suruh mudik, kita ikuti diam-diam dan setelah semuanya ketularan,sakit,lemas…Bapak bisa panen.”
“Tapi kalau ada penyelidikan internal bagaimana?”
“Soal itu gampang biar anak buah saya yang urus.”
Kata pria tua berambut putih itu sambil mengakhiri pembicaraan. Diseruputnya kopi sambil menikmati senja yang tersisa diiringi piringan hitam yang memutar lagu what a wonderful world.
THE END
adhiecoolman memberi reputasi
1
Kutip
Balas