- Beranda
- Stories from the Heart
(Cerbung Fantasy) Kutukan Kreked
...
TS
IztaLorie
(Cerbung Fantasy) Kutukan Kreked

Sumber : pixabay.com
Matahari sudah mulai tenggelam, tetapi bulan belum muncul. Kedamaian Gimola terpecahkan oleh jerit kesakitan dan juga bunyi tulang yang patah.
Semua warga tanpa kecuali mengalami siksaan yang memilukan ketika tubuh mereka lambat laun mengecil, telinga melebar hingga akhirnya menyempit diujung.
Mereka yang tadinya berwujud manusia sekarang berubah menjadi manusia kerdil lengkap dengan baju yang kebesaran.
Raja Hezki memanggil peramal terbaik mereka. Beliau berjalan mondar-mandir dengan kecepatan seekor siput di depan singgasana. Kedua tangan tertaut di belakang. Merasa frustasi karena bentuk tubuhnya yang berubah drastis.
Tadinya dia terlihat selayaknya Raja yang tinggi, berbadan tegap, berparas bijaksana, tetapi lihatlah keadaannya sekarang. Perut buncit dan kaki pendek membuatnya cukup kesulitan untuk berjalan dari pintu menuju ke singgasana. Ditambah lagi dengan wajah yang menua dan janggut putih panjang membuat orang sukar mengenalinya.
Raja memperhatikan kedatangan sang peramal yang ditandai dengan aroma rempah-rempah yang saling berebut memenuhi indera penciuman.
Westi menekuk kaki kiri ke belakang, hendak memberi hormat. Perubahan tubuh yang baru terjadi membuatnya tidak bisa mengatur keseimbangan hingga jatuh terguling.
Kedua tangan melambai-lambai meminta pertolongan. Salah satu pengawal raja melompat ke depan menariknya hingga bisa berdiri lagi.
"Maafkan hamba, Yang Mulia," pintanya sambil membersihkan gaun cokelat kebesaran yang menyapu lantai.
Raja Hizki mengangkat tangan kanan pertanda kesalahan itu dimaafkan. "Katakan padaku, apa yang sudah terjadi di negeri Gimola? "
Westi mengambil buku tebal bersampul kulit dengan gambar simbol rumit berwarna keemasan. Mencari halaman yang sudah dibaca tadi.
"Menurut buku Kutukan Tersembunyi, apa yang terjadi saat ini disebut kutukan Kreked. Setiap matahari terbit kita akan kembali menjadi manusia, kalau bulan yang muncul maka kita akan berubah wujud. Kita hanya mempunyai waktu satu purnama untuk mematahkan kutukannya."
"Bagaimana caranya agar kutukan ini dipatahkan?"
"Kita harus menghancurkan kristal hitam Kreked yang pastinya dijadikan kalung oleh orang yang mengutuk. Itu karena kristal Kreked hanya bisa hidup kalau berada di dekat jantung pemakai." Westi menutup buku dengan mantap.
Hizki mengetuk-ketuk dagu dengan jari telunjuk. Memikirkan siapa yang kira-kira memiliki dendam dengan negeri ini.
"Bagaimana kita bisa tahu siapa pemilik kristal itu?" Hizkia menatap tajam Westi.
Minea-sang Ratu berlari memasuki ruang utama. Tangan kiri mencengkeram dan menaikkan bagian bawah gaun agar tidak menghambat pergerakan. Tangan kanan yang terangkat tinggi-tinggi memegang surat yang ikut berayun sesuai gerakan langkahnya.
"Aku tahu siapa pelakunya."
Surat itu diserahkan kepada Raja sementara Ratu Minea duduk di singgasana sambil mengatur napas agar kembali teratur.
Dahi Hizkia berkerut, isi surat ini sangat jelas. Kalia lah yang berada di balik bencana negeri Gimola. Ini karena dendam masa lalu.
Kalia yang merupakan peri Minea berusaha menggantikan Ratu dengan mengambil wujud serupa beliau. Ratu yang asli diberi ramuan agar terus tidur lelap sehingga dia tidak binasa.
Kalia yang merupakan peri penjaga jatuh cinta pada Hizkia. Itu merupakan pelanggaran berat hingga ikatannya dengan Ratu dilepas, lalu diusir dari Gimola.
Sedari awal Minea seharusnya tidak memilih peri bersayap putih dengan gaun hitam berhiaskan pendar keemasan. Walau pun tampak diliputi kuasa seperti kedudukan yang dipikulnya, peri hitam cenderung memiliki hati yang kelam.
"Ada ramalan menyertai kutukan ini. Hanya anak dari keluarga terpilih lah yang bisa mencabut kutukan," ujar Westi.
Raja mulai memikirkan siapa saja anak-anak yang bisa dikirim untuk misi penyelamatan ini.
"Sudah menjadi tugasmu untuk menemukan anak-anak ini." Raja memberi perintah pada sang peramal.
Terlihat bibir Westi melengkung ke atas. Dia memberi hormat sebelum meninggalkan ruang utama.
-Bersambung-
Jangan lupa subscribe dan share cerita ini ya. 

Diubah oleh IztaLorie 15-10-2019 09:21
cumibakar217 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
3.4K
47
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
IztaLorie
#32
Kutukan Kreked
Menuju Gua Aleir
Tera menahan lengan Aryan yang hendak menarik Hefina. "Apa maksudmu dengan membuat perlindungan?"
Aryan menoleh, mata berubah menjadi warna emas menyala. Tera menengadah, tersentak seolah napas ditarik dari tubuhnya. Mereka kembali terhubung hingga Tera bisa melihat apa yang sudah dilihat Aryan.
"Hefina cepatlah. Segera buat perlindungan." Tera ikut menarik gadis itu menuju bagian dapur yang menjadi pintu keluar menuju bagian kemudi gerobak.
Dalam waktu beberapa detik, Tera ikut dicekam ketakutan seperti yang dirasakan oleh Aryan. Dia dapat melihat sekelebat bayangan hitam yang mendahului orang-orang yang mengejar mereka.
Hefina yang kebingungan mengikuti mereka berdua yang mengapit ketat di kanan kirinya. Gadis itu berhenti lalu berdiri dengan mantap di tempat kusir harusnya berada.
Dia bertindak cepat dengan mengusap tato kobaran api yang kemudian api itu meliuk-liuk, bergerak merambat menuju seluruh lengan hingga akhirnya berkumpul di ujung-ujung jari lalu terlepas ke udara. Api itu berubah wujud menjadi peri bersayap ungu dengan pola kobaran api.
Yelzi, peri ungu itu berputar satu kali sebelum terbang mengelilingi gerobak dan juga kuda-kuda seiring dengan lantunan mantra dari majikannya.
Gerobak lusuh mereka seperti di tutup oleh plastik transparan dari puncak sampai ke roda-rodanya. Tidak ada satu sudut pun yang terlihat di mata orang lain. Gerobak itu seperti menghilang padahal masih di tempatnya semula.
Selesai melakukan tugas, Yelzi terbang jauh di atas lalu menukik menuju punggung tangan Hefina, mewujud kembali menjadi tato.
Mereka bertiga kembali masuk ke dalam. Aryan meletakkan jari telunjuk di bibir ketika Hefina membuka mulut. Lalu jari itu menyentuh telinga, tanda mereka harus diam mendengarkan.
Tanah bergetar ketika kuda-kuda yang dipacu dengan cepat melintasi tempat persembunyian.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" Cher menyibakkan kain lalu berjalan menghampiri.
Mata Hefina, Tera, dan Aryan melebar ketakutan ketika menoleh pada Cher. Hefina dengan tangkas menutup mulut Cher sebelum gadis itu kembali bersuara.
Derap kuda berhenti tiba-tiba. Cher juga menjadi waspada karena terdengar ada yang memutar balik dan berkuda perlahan-lahan di dekat mereka.
Mereka berempat dicengkeram ketakutan hingga rasanya sulit bernapas. Tak berapa lama kuda itu memutar arah untuk bergabung dengan rombongan yang kemudian kembali memacu kuda cepat-cepat meninggalkan mereka.
Aryan lah yang terlebih dahulu menghembuskan napas dengan kasar. Ketiga yang lain mengikuti kemudian.
Bola mata Cher yang melebar menyiratkan pertanyaan. Gadis itu tidak berani bersuara setelah mengalami masa menegangkan tadi.
Tera mondar-mandir sambil mengigit kuku jari telunjuk. Aryan menyambar lengan gadis itu lalu menariknya masuk dalam pelukan. Dia lalu mengelus rambut sewarna biji jagung dengan penuh perhatian.
Suara tangis Tera pecah ketika mendapatkan pelukan yang sudah sangat dirindukan. Ketakutannya memang tidak dilebih-lebihkan karena mereka menjadi saksi kematian dari kakek dan ayah mereka yang dibunuh dengan kejam oleh bayangan hitam ketika mereka masih berumur lima tahun.
Hefina dan Cher ikut memeluk Tera hingga membuat gadis itu merasa malu lalu mengurai pelukan mereka.
"Maafkan, aku karena terlalu takut."
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Cher.
"Kita diikuti, tapi siapa yang mengikuti?" Hefina berjalan mondar-mandir dengan tangan tertaut di belakang punggung.
Terdengar bunyi gemertak seperti tulang-tulang yang dipatahkan. Beruntung Hefina masih sempat menyempurnakan tameng pelindungnya agar kedap suara karena saat ini suara jeritan terdengar menyayat telinga.
Setelah suara menyayat itu menghilang terlihat keempatnya tersungkur di bawah meja makan dalam wujud kurcaci.
"Kita harus membiasakan diri dengan perubahan ini sehingga tidak lagi mengeluarkan jerit kesakitan sedemikian keras." Aryan mengusap keringat yang terlihat di dahi.
Suara tawa terdengar dari bibir Hefina membuat Tera cemberut sambil lalu bersedekap.
"Kamu menertawakan Aryan?" tanyanya nggak suka.
Hefina memegang perut dengan tangan kiri sementara tangan kanannya bergerak kiri kanan. "Bukan, aku tidak menertawakan Aryan, tapi menertawakan kondisi kita. Sepertinya kita nggak bakal bisa duduk di kursi ini sekarang. Kursinya terlalu tinggi, rasanya lucu ketika aku terpeleset gara-gara ingin duduk di kursi."
Tera akhirnya ikut tertawa lalu dia mengusap tato yang ada di punggung tangan. Tato sulur itu bergerak melingkar-lingkar lalu mulai merayap, memanjang hingga ke ujung jari telunjuk dan meluncur keluar dalam bentuk peri bersayap hijau.
Dia merapal mantra membuat Lefli-peri hijau berputar mengelilingi meja, kursi, lalu keseluruh penjuru ruangan hingga sedikit demi sedikit kayu-kayunya memendek sampai setinggi yang bisa mereka capai.
Setelah menyelesaikan tugas, Lefli meluncur kembali hingga mewujud menjadi tato sulur hijau kembali.
"Perabot bakal berubah menjadi lebih pendek ketika kita berubah jadi kurcaci dan akan menjadi normal kalau kita sudah menjadi manusia lagi," ujar Tera.
"Malam ini kita istirahat dulu karena kita tidak bisa mengeluarkan tenaga penuh seperti kalau kita menjadi manusia," perintah Aryan.
Bunyi gemuruh terdengar membuat Hefina kembali tertawa terbahak-bahak. "Lebih baik kita makan dulu. Perutnya Tera protes tuh."
Pipi Tera merona karena malu dan memilih berlari ke dapur untuk membuat makanan. Namun dia lupa kalau tubuhnya sudah berubah hingga tersandung ujung baju yang terlalu panjang.
Cher terkikik kemudian masuk ke dalam biliknya sedangkan Aryan sudah berlari mendekati Tera. Tentu saja dia tidak seceroboh saudarinya jadi bisa bergerak lebih lincah untuk membantu gadis itu berdiri.
"Kamu baik-baik saja?"
Tera tetap menunduk ketika bangkit berdiri. "Lebih baik aku menata makanan sekarang. Beruntung kita membawa bekal cukup banyak karena ini dua kalinya kita berubah dan butuh waktu buat menyesuaikan diri."
"Sebaiknya kita memakai jubah ini mulai dari sekarang. Jubah-jubah ini akan menyesuaikan tubuh kita," ujar Cher yang keluar dari bilik sambil membawa tiga helai jubah.
Hefina langsung melompat untuk mendekati Cher dan mengambil jubah bagiannya. "Wah, merah marun kesukaanku. Bagusnya, kamu hebat," ujarnya sambil memeluk Cher.
"Bi, bi, biasa saja kok." Cher salah tingkah mendapat pujian seperti itu. Jarang-jarang dia mendapatkan pengakuan atas hasil kerja kerasnya.
Cher menunduk sambil menyerahkan jubah berwarna hijau daun Aryan. Cowok itu sekalian mengambil jatah Tera karena gadis itu sedang menata makanan di meja.
"Ini jubah bermantra? Baru kali ini aku lihat yang seperti ini. Tunikku langsung menyusut jadi pas badan. Cher, kamu hebat banget," puji Hefina.
...
Pagi harinya Hefina sudah mencabut mantra perlindungan agar mereka kembali terlihat.
Kali ini giliran Tera yang mengendalikan gerobak mereka dengan memakai pakaian usang seperti petani pada umumnya.
Perjalanan menuju gua Aleir memakan waktu setengah hari. Mereka beristirahat sejenak untuk makan sebelum turun dari gerobak untuk mendaki bukit.
Mulut Cher dan Hefina membuka lebar seriring dengan melebarnya mata karena menyaksikan Aryan yang memasukkan seluruh bagian gerobak beserta kuda-kudanya ke dalam tas serut.
"Berapa tinggi kita harus mendaki." Tera menggunakan telapak tangan untuk melindungi mata dari sinar matahari ketika menengadah untuk mencari keberadaan gua Aleir.
Namun Aryan tidak langsung menjawab melainkan membentangkan perkamen peta kuno di batu besar.
Hefina, Cher, dan Tera mendekat untuk mengamati peta. Namun mereka hanya bisa memandang tanpa mengerti jalan mana yang harus ditempuh.
"Kita lewat jalan ini," tunjuk Aryan setelah menggulung perkamen dan menggembalikannya ke dalam tas serut.
"Tera, tolong," pinta Aryan seraya menunjuk ke arah pohon besar yang menghalangi jalan mereka.
"Kamu yakin kita harus berputar melewati pohon besar ini? Sepertinya tidak ada jalan. Bukankah di kanan ada jalan setapak?" Cher menunjuk ke jalan setapak yang terlihat mudah dilalui.
Aryan hanya tersenyum lalu memutar tangan kanan, menundukkan badan seperti orang memberi hormat kepada Tera.
Tera pun tersenyum geli melihat kelakuan Aryan yang mau enaknya sendiri dengan menyuruh dia melakukan pekerjaan yang juga bisa dilakukan oleh pemuda itu.
Tera lalu mengusap tato sulurnya untuk mengeluarkan Lefli. Lefli berputar-putar mengelilingi pohon yang diameternya mencapai hampir tiga meter.
Sedikit demi sedikit nampaklah celah di tengah-tengah pohon yang makin lama melebar hingga bisa dilewati oleh satu orang.
"Para gadis terlebih dahulu." Aryan berdiri di muka celah untuk mempersilakan Hefina dan Cher untuk masuk, tapi mereka berdua hanya menatap kagum ke arah pohon.
"Ehm, aku tidak bisa menahan lebih lama. Sebaiknya kalian bergegas." Ucapan Tera menyadarkan Hefina.
Yelzi muncul sebagai jawaban dari permintaan pengingat Tera. Keluarga pelindung sudah semestinya memimpin di depan untuk melindungi peramal, sedangkan keluarga penyembuh berjaga-jaga di belakang.
Mereka pun berjalan dengan urutan Hefina yang memunculkan api untuk menerangi jalan karena di dalam pohon begitu gelap meski pun sudah tengah hari. Cher berpegangan erat pada Aryan yang dengan sabar menenangkan gadis yang gemetar ketakutan. Sedangkan Tera berjalan paling belakang ditemani Lefli.
Mereka berjalan mendaki tanpa rintangan selama 10 menit hingga menemukan lapisan kulit pohon yang menunjukkan berakhirnya perjalanan mereka. Kali ini Lefli langsung bertindak untuk membuka jalan tanpa perlu diminta.
Mereka berempat harus menutupi mata dengan tangan karena sinar matahari yang menyilaukan langsung menyambut begitu mereka keluar dari pohon.
"Ini kita masih mendaki? Jalannya curam sekali," keluh Tera ketika melihat medan perjalanan yang terlihat di depan mata.
Aryan melepaskan tangan Cher lalu menghampiri Tera untuk mencolek hidung mancung gadis itu.
"Ini tidak akan terlalu sulit kalau kamu berhenti mengeluh dan mulai menggunakan kakimu untuk berjalan." Aryan menawarkan tangannya agar Tera dapat berpegangan padanya.
Hefina menghembuskan napas dengan kesal melihat kedekatan mereka. Dia sebenarnya ingin dipegangi oleh Aryan seperti halnya Cher dan Tera, tapi darah pelindung miliknya tidak mengijinkan untuk tampak lemah dan tak berdaya.
Kali ini perjalanan mereka tidak semulus ketika di dalam pohon. Tanah yang tidak stabil membuat Cher dan Tera berkali-kali tergelincir hingga membuat Hefina dan Aryan harus selalu menahan mereka.
Setelah mendaki selama satu jam, mereka akhirnya sampai di puncak. Namun pemandangan setelahnya membuat Tera ingin pingsan saja.
...
Daftar indeks cerita, klik di sini.
Tera menahan lengan Aryan yang hendak menarik Hefina. "Apa maksudmu dengan membuat perlindungan?"
Aryan menoleh, mata berubah menjadi warna emas menyala. Tera menengadah, tersentak seolah napas ditarik dari tubuhnya. Mereka kembali terhubung hingga Tera bisa melihat apa yang sudah dilihat Aryan.
"Hefina cepatlah. Segera buat perlindungan." Tera ikut menarik gadis itu menuju bagian dapur yang menjadi pintu keluar menuju bagian kemudi gerobak.
Dalam waktu beberapa detik, Tera ikut dicekam ketakutan seperti yang dirasakan oleh Aryan. Dia dapat melihat sekelebat bayangan hitam yang mendahului orang-orang yang mengejar mereka.
Hefina yang kebingungan mengikuti mereka berdua yang mengapit ketat di kanan kirinya. Gadis itu berhenti lalu berdiri dengan mantap di tempat kusir harusnya berada.
Dia bertindak cepat dengan mengusap tato kobaran api yang kemudian api itu meliuk-liuk, bergerak merambat menuju seluruh lengan hingga akhirnya berkumpul di ujung-ujung jari lalu terlepas ke udara. Api itu berubah wujud menjadi peri bersayap ungu dengan pola kobaran api.
Yelzi, peri ungu itu berputar satu kali sebelum terbang mengelilingi gerobak dan juga kuda-kuda seiring dengan lantunan mantra dari majikannya.
Gerobak lusuh mereka seperti di tutup oleh plastik transparan dari puncak sampai ke roda-rodanya. Tidak ada satu sudut pun yang terlihat di mata orang lain. Gerobak itu seperti menghilang padahal masih di tempatnya semula.
Selesai melakukan tugas, Yelzi terbang jauh di atas lalu menukik menuju punggung tangan Hefina, mewujud kembali menjadi tato.
Mereka bertiga kembali masuk ke dalam. Aryan meletakkan jari telunjuk di bibir ketika Hefina membuka mulut. Lalu jari itu menyentuh telinga, tanda mereka harus diam mendengarkan.
Tanah bergetar ketika kuda-kuda yang dipacu dengan cepat melintasi tempat persembunyian.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" Cher menyibakkan kain lalu berjalan menghampiri.
Mata Hefina, Tera, dan Aryan melebar ketakutan ketika menoleh pada Cher. Hefina dengan tangkas menutup mulut Cher sebelum gadis itu kembali bersuara.
Derap kuda berhenti tiba-tiba. Cher juga menjadi waspada karena terdengar ada yang memutar balik dan berkuda perlahan-lahan di dekat mereka.
Mereka berempat dicengkeram ketakutan hingga rasanya sulit bernapas. Tak berapa lama kuda itu memutar arah untuk bergabung dengan rombongan yang kemudian kembali memacu kuda cepat-cepat meninggalkan mereka.
Aryan lah yang terlebih dahulu menghembuskan napas dengan kasar. Ketiga yang lain mengikuti kemudian.
Bola mata Cher yang melebar menyiratkan pertanyaan. Gadis itu tidak berani bersuara setelah mengalami masa menegangkan tadi.
Tera mondar-mandir sambil mengigit kuku jari telunjuk. Aryan menyambar lengan gadis itu lalu menariknya masuk dalam pelukan. Dia lalu mengelus rambut sewarna biji jagung dengan penuh perhatian.
Suara tangis Tera pecah ketika mendapatkan pelukan yang sudah sangat dirindukan. Ketakutannya memang tidak dilebih-lebihkan karena mereka menjadi saksi kematian dari kakek dan ayah mereka yang dibunuh dengan kejam oleh bayangan hitam ketika mereka masih berumur lima tahun.
Hefina dan Cher ikut memeluk Tera hingga membuat gadis itu merasa malu lalu mengurai pelukan mereka.
"Maafkan, aku karena terlalu takut."
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Cher.
"Kita diikuti, tapi siapa yang mengikuti?" Hefina berjalan mondar-mandir dengan tangan tertaut di belakang punggung.
Terdengar bunyi gemertak seperti tulang-tulang yang dipatahkan. Beruntung Hefina masih sempat menyempurnakan tameng pelindungnya agar kedap suara karena saat ini suara jeritan terdengar menyayat telinga.
Setelah suara menyayat itu menghilang terlihat keempatnya tersungkur di bawah meja makan dalam wujud kurcaci.
"Kita harus membiasakan diri dengan perubahan ini sehingga tidak lagi mengeluarkan jerit kesakitan sedemikian keras." Aryan mengusap keringat yang terlihat di dahi.
Suara tawa terdengar dari bibir Hefina membuat Tera cemberut sambil lalu bersedekap.
"Kamu menertawakan Aryan?" tanyanya nggak suka.
Hefina memegang perut dengan tangan kiri sementara tangan kanannya bergerak kiri kanan. "Bukan, aku tidak menertawakan Aryan, tapi menertawakan kondisi kita. Sepertinya kita nggak bakal bisa duduk di kursi ini sekarang. Kursinya terlalu tinggi, rasanya lucu ketika aku terpeleset gara-gara ingin duduk di kursi."
Tera akhirnya ikut tertawa lalu dia mengusap tato yang ada di punggung tangan. Tato sulur itu bergerak melingkar-lingkar lalu mulai merayap, memanjang hingga ke ujung jari telunjuk dan meluncur keluar dalam bentuk peri bersayap hijau.
Dia merapal mantra membuat Lefli-peri hijau berputar mengelilingi meja, kursi, lalu keseluruh penjuru ruangan hingga sedikit demi sedikit kayu-kayunya memendek sampai setinggi yang bisa mereka capai.
Setelah menyelesaikan tugas, Lefli meluncur kembali hingga mewujud menjadi tato sulur hijau kembali.
"Perabot bakal berubah menjadi lebih pendek ketika kita berubah jadi kurcaci dan akan menjadi normal kalau kita sudah menjadi manusia lagi," ujar Tera.
"Malam ini kita istirahat dulu karena kita tidak bisa mengeluarkan tenaga penuh seperti kalau kita menjadi manusia," perintah Aryan.
Bunyi gemuruh terdengar membuat Hefina kembali tertawa terbahak-bahak. "Lebih baik kita makan dulu. Perutnya Tera protes tuh."
Pipi Tera merona karena malu dan memilih berlari ke dapur untuk membuat makanan. Namun dia lupa kalau tubuhnya sudah berubah hingga tersandung ujung baju yang terlalu panjang.
Cher terkikik kemudian masuk ke dalam biliknya sedangkan Aryan sudah berlari mendekati Tera. Tentu saja dia tidak seceroboh saudarinya jadi bisa bergerak lebih lincah untuk membantu gadis itu berdiri.
"Kamu baik-baik saja?"
Tera tetap menunduk ketika bangkit berdiri. "Lebih baik aku menata makanan sekarang. Beruntung kita membawa bekal cukup banyak karena ini dua kalinya kita berubah dan butuh waktu buat menyesuaikan diri."
"Sebaiknya kita memakai jubah ini mulai dari sekarang. Jubah-jubah ini akan menyesuaikan tubuh kita," ujar Cher yang keluar dari bilik sambil membawa tiga helai jubah.
Hefina langsung melompat untuk mendekati Cher dan mengambil jubah bagiannya. "Wah, merah marun kesukaanku. Bagusnya, kamu hebat," ujarnya sambil memeluk Cher.
"Bi, bi, biasa saja kok." Cher salah tingkah mendapat pujian seperti itu. Jarang-jarang dia mendapatkan pengakuan atas hasil kerja kerasnya.
Cher menunduk sambil menyerahkan jubah berwarna hijau daun Aryan. Cowok itu sekalian mengambil jatah Tera karena gadis itu sedang menata makanan di meja.
"Ini jubah bermantra? Baru kali ini aku lihat yang seperti ini. Tunikku langsung menyusut jadi pas badan. Cher, kamu hebat banget," puji Hefina.
...
Pagi harinya Hefina sudah mencabut mantra perlindungan agar mereka kembali terlihat.
Kali ini giliran Tera yang mengendalikan gerobak mereka dengan memakai pakaian usang seperti petani pada umumnya.
Perjalanan menuju gua Aleir memakan waktu setengah hari. Mereka beristirahat sejenak untuk makan sebelum turun dari gerobak untuk mendaki bukit.
Mulut Cher dan Hefina membuka lebar seriring dengan melebarnya mata karena menyaksikan Aryan yang memasukkan seluruh bagian gerobak beserta kuda-kudanya ke dalam tas serut.
"Berapa tinggi kita harus mendaki." Tera menggunakan telapak tangan untuk melindungi mata dari sinar matahari ketika menengadah untuk mencari keberadaan gua Aleir.
Namun Aryan tidak langsung menjawab melainkan membentangkan perkamen peta kuno di batu besar.
Hefina, Cher, dan Tera mendekat untuk mengamati peta. Namun mereka hanya bisa memandang tanpa mengerti jalan mana yang harus ditempuh.
"Kita lewat jalan ini," tunjuk Aryan setelah menggulung perkamen dan menggembalikannya ke dalam tas serut.
"Tera, tolong," pinta Aryan seraya menunjuk ke arah pohon besar yang menghalangi jalan mereka.
"Kamu yakin kita harus berputar melewati pohon besar ini? Sepertinya tidak ada jalan. Bukankah di kanan ada jalan setapak?" Cher menunjuk ke jalan setapak yang terlihat mudah dilalui.
Aryan hanya tersenyum lalu memutar tangan kanan, menundukkan badan seperti orang memberi hormat kepada Tera.
Tera pun tersenyum geli melihat kelakuan Aryan yang mau enaknya sendiri dengan menyuruh dia melakukan pekerjaan yang juga bisa dilakukan oleh pemuda itu.
Tera lalu mengusap tato sulurnya untuk mengeluarkan Lefli. Lefli berputar-putar mengelilingi pohon yang diameternya mencapai hampir tiga meter.
Sedikit demi sedikit nampaklah celah di tengah-tengah pohon yang makin lama melebar hingga bisa dilewati oleh satu orang.
"Para gadis terlebih dahulu." Aryan berdiri di muka celah untuk mempersilakan Hefina dan Cher untuk masuk, tapi mereka berdua hanya menatap kagum ke arah pohon.
"Ehm, aku tidak bisa menahan lebih lama. Sebaiknya kalian bergegas." Ucapan Tera menyadarkan Hefina.
Yelzi muncul sebagai jawaban dari permintaan pengingat Tera. Keluarga pelindung sudah semestinya memimpin di depan untuk melindungi peramal, sedangkan keluarga penyembuh berjaga-jaga di belakang.
Mereka pun berjalan dengan urutan Hefina yang memunculkan api untuk menerangi jalan karena di dalam pohon begitu gelap meski pun sudah tengah hari. Cher berpegangan erat pada Aryan yang dengan sabar menenangkan gadis yang gemetar ketakutan. Sedangkan Tera berjalan paling belakang ditemani Lefli.
Mereka berjalan mendaki tanpa rintangan selama 10 menit hingga menemukan lapisan kulit pohon yang menunjukkan berakhirnya perjalanan mereka. Kali ini Lefli langsung bertindak untuk membuka jalan tanpa perlu diminta.
Mereka berempat harus menutupi mata dengan tangan karena sinar matahari yang menyilaukan langsung menyambut begitu mereka keluar dari pohon.
"Ini kita masih mendaki? Jalannya curam sekali," keluh Tera ketika melihat medan perjalanan yang terlihat di depan mata.
Aryan melepaskan tangan Cher lalu menghampiri Tera untuk mencolek hidung mancung gadis itu.
"Ini tidak akan terlalu sulit kalau kamu berhenti mengeluh dan mulai menggunakan kakimu untuk berjalan." Aryan menawarkan tangannya agar Tera dapat berpegangan padanya.
Hefina menghembuskan napas dengan kesal melihat kedekatan mereka. Dia sebenarnya ingin dipegangi oleh Aryan seperti halnya Cher dan Tera, tapi darah pelindung miliknya tidak mengijinkan untuk tampak lemah dan tak berdaya.
Kali ini perjalanan mereka tidak semulus ketika di dalam pohon. Tanah yang tidak stabil membuat Cher dan Tera berkali-kali tergelincir hingga membuat Hefina dan Aryan harus selalu menahan mereka.
Setelah mendaki selama satu jam, mereka akhirnya sampai di puncak. Namun pemandangan setelahnya membuat Tera ingin pingsan saja.
...
Daftar indeks cerita, klik di sini.
Diubah oleh IztaLorie 13-05-2020 17:48
jiyanq dan Cahayahalimah memberi reputasi
2
Tutup