- Beranda
- Berita dan Politik
Kenapa Pemain Bola Indonesia Sulit Berkarier di Eropa?
...
TS
747.400
Kenapa Pemain Bola Indonesia Sulit Berkarier di Eropa?
KOMPAS.com - Agen pemain sepak bola dari Surabaya, Gabriel Budi, menjelaskan penyebab pemain Indonesia terpaksa susah payah meniti karier di Eropa.
Berdasarkan pengalaman berkecimpung di sepak bola nasional dan Eropa, ada dua indikator utama bagi pemain Indonesia supaya bisa pergi ke Eropa.
“Faktor utamanya dari segi kualitas dan mentalitas. Jadi, kalau mau main di luar harus bisa punya mentalitas yang kuat," saat diwawancara Kompas.com.
"Di sana memang mau bekerja keras dan berdedikasi,” kata pria asal Surabaya itu.
Ia menjelaskan bahwa untuk sekadar masuk radar, para pemain nasional dituntut punya skill layaknya pemain Eropa.
Itupun jika benar-benar ingin dilirik tim Eropa harus memiliki kelebihan tersendiri.
Tuntutan pemain Indonesia juga berdasarkan status mereka sebagai pemain asing di Eropa.
“Dari segi permainan harus lebih spesial, jadi kalau permainannya tanggung ya sulit untuk bersaing," ucap Gabriel Budi.
"Karena kan harus bersaing dengan dengan pemain lain dari negara lain.”
“Selain itu, pemain Indonesia kan jadi pemain asing di sana, jadi harus lebih baik dari mereka dari segi kualitas,” terangnya.
Di sisi lain, persoalan mental menjadi aspek penting yang tidak bisa dikesampingkan.
Para pemain Tanah Air harus punya mental yang kuat untuk menghadapi tantangan mulai dari masalah adaptasi sosial, budaya, hingga makanan.
Gabriel Budi lantas mencontohkan salah satu pemain nasional yang berhasil dihubungkan dengan salah satu tim di Asia Tenggara.
Akibat tak mampu beradaptasi, sang pemain justru merasa homesick dan ingin pulang ke Indonesia.
Itu menjadi bukti bahwa banyak pemain Indonesia sejatinya belum terlalu siap menjadi pemain asing di negara lain.
“Dari segi mentalitas mereka juga harus cepat adaptasi, baik budaya dan juga tim. Jadi yang menentukan kualitas dan mentalitas,” ujar Gabriel Budi menandaskan.
https://www.kompas.com/sports/read/2...page=all#page2
Messi dan Cristiano Ronaldo, dua pemain bola terbaik di dunia saat ini..
messi dan ronaldo juga makan nasi kok, suka jajan sembarangan, merokok, makan junk food, clubbing..
pola makan ronaldo dan messi juga sembarangan, bebas mau makan apa aja..
Tapi mengapa gaya bermain dan kemampuan bermain mereka berdua jauh diatas pemain indonesia? Sebenarnya apa nya sih yg salah?
masalah mental? Pemain Indonesia itu terkenal berani mati dalam berkelahi. Jadi menurut saya mental ga masalah..
jadi sebenarnya apa sih yg salah?
fatqurr dan 68 lainnya memberi reputasi
69
4.5K
137
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
693.5KThread•58KAnggota
Tampilkan semua post
legor
#54
Kayaknya emang faktor budaya, sosial dan dna juga menurut gue. Di Asia Tenggara ini hampir ga ada yg bisa tembus Liga Eropa. Cuma Teerasil Dangda aja yg pernah main di Liga Spanyol bareng Almeria, tapi cuma semusim. Ga tahu juga kiprahnya.
Permasalahan lainnya yaitu :
- Tidak ada kompetisi berjenjang dari tingkat SD, SMP, SMA, Mahasiswa, Semi Profesional lalu Klub Profesional. Dulu gue baca komik Offside, pas tamat sedih bacanya. Bukan karena Kumagaya Goro berhasil main di Jerman, tapi karena kompetisi berjenjangnya ga ada. Makanya gue heran fungsi asprov PSSI apaan, bikin kompetisi kagak, tapi begitu pemilihan Ketum, suara mereka dibutuhin.
- Tidak ada / kurangnya edukasi bahwa menjadi atlet bisa hidup menjanjikan.
- Atlet kita yg kurang kompetitif. Evan Dimas yg digadang-gadang pemain andalan timnas, perkembangannya mandek. Padahal pernah kalahin Korea Selatan pas di kompetisi Kelompok Umur. Sekarang pemain Korea Selatan yg udah dikalahin Evan Dimas, udah masuk Liga Eropa, walau masih main di Liga Austria. Musim lalu, Hwang Hee Chan main di Bundesliga 2. Masuk jaringan tim RB lagi doi.
- Gila pamor. Ga usah capek-capek latihan, pantang makan ini itu, bisa jadi bintang terkenal disini, dielu-elukan fans. Masyarakatnya juga begitu sih, atlet timnas mainnya belom bener aja udah dianggap atlet berkelas
.
Saran gue sih mending Indonesia fokus di Futsal, Thailand sama Vietnam aja bisa nembus Piala Dunia. Si Suphawut Tuenklang aja udah mondar mandir main di Liga Futsal Asia, bareng Bank of Beirut. Kalo ada negara Asia Tenggara yg bisa lolos Piala Dunia Futsal, artinya peluang Indonesia juga lebih besar ketimbang di sepakbola. Dan kalo ga salah, tahun ini Indonesia masih punya peluang tembus Piala Dunia Futsal Lithuania 2020.
Permasalahan lainnya yaitu :
- Tidak ada kompetisi berjenjang dari tingkat SD, SMP, SMA, Mahasiswa, Semi Profesional lalu Klub Profesional. Dulu gue baca komik Offside, pas tamat sedih bacanya. Bukan karena Kumagaya Goro berhasil main di Jerman, tapi karena kompetisi berjenjangnya ga ada. Makanya gue heran fungsi asprov PSSI apaan, bikin kompetisi kagak, tapi begitu pemilihan Ketum, suara mereka dibutuhin.
- Tidak ada / kurangnya edukasi bahwa menjadi atlet bisa hidup menjanjikan.
- Atlet kita yg kurang kompetitif. Evan Dimas yg digadang-gadang pemain andalan timnas, perkembangannya mandek. Padahal pernah kalahin Korea Selatan pas di kompetisi Kelompok Umur. Sekarang pemain Korea Selatan yg udah dikalahin Evan Dimas, udah masuk Liga Eropa, walau masih main di Liga Austria. Musim lalu, Hwang Hee Chan main di Bundesliga 2. Masuk jaringan tim RB lagi doi.
- Gila pamor. Ga usah capek-capek latihan, pantang makan ini itu, bisa jadi bintang terkenal disini, dielu-elukan fans. Masyarakatnya juga begitu sih, atlet timnas mainnya belom bener aja udah dianggap atlet berkelas
.Saran gue sih mending Indonesia fokus di Futsal, Thailand sama Vietnam aja bisa nembus Piala Dunia. Si Suphawut Tuenklang aja udah mondar mandir main di Liga Futsal Asia, bareng Bank of Beirut. Kalo ada negara Asia Tenggara yg bisa lolos Piala Dunia Futsal, artinya peluang Indonesia juga lebih besar ketimbang di sepakbola. Dan kalo ga salah, tahun ini Indonesia masih punya peluang tembus Piala Dunia Futsal Lithuania 2020.
gojira48 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Tutup