- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.2K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#177
Spoiler for Part 60:
Part 60
"Mbak, bisa kita ketemu lagi, ada yang mau aku omongin"
Aku memutuskan langsung mengirim pesan kepada viny setelah perbincanganku dan devan beberapa jam yang lalu.
Ya... aku harus segera menemui beby dan menjelaskan semuanya, tapi sebelum itu, aku memutuskan untuk kembali mencoba berbicara dengan viny, aku harus tau apa alasannya melarangku bertemu dengan beby.
Oke, mungkin ada 1 alasan yang masih bisa ku terima, aku mengerti, mungkin beby masih butuh waktu untuk sendiri, tapi..... apakah selama ini?, kalau 1 sampai 2 hari aku masih tidak keberatan, tapi sekarang....... viny masih saja melarangku untuk menemui beby, bahkan setelah hampir satu minggu sejak masalah ini pertama kali muncul.
Jika nanti aku masih belum bisa mendapatkan informasi apapun dari viny ,atau alasan yang nanti diberikan viny tidak bisa kuterima, aku akan menemui beby tanpa sepengetahuannya, dengan cara apapun!!!.
Tapi, jika viny mau memberitahu apa alasannya memintaku menunggu waktu yang tepat untuk menemui beby, dan alasan itu bisa kuterima, aku tidak akan keberatan untuk memenuhi permintaannya.
Oke, aku paham, lama atau tidak itu sebenarnya relatif, tapi aku sudah tidak tahan.....
Semenjak aku tidak lagi berkomunikasi dengan beby, aku merasa ada sesuatu yang hilang, ya...., tidak ada lagi wajah cemberut beby yang dibuat-buat, tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan lucu yang biasa beby tanyakan, tidak ada lagi keluhan-keluhan aneh yang biasanya hampir setiap hari kudengar, tidak ada lagi kelakuan manja beby yang selalu dia tunjukan setiap kali aku mengunjunginya.
Huuuuuhhhh....
Apa aku hanya belum terbiasa?, terbiasa menjalani hari-hariku tanpa seorang beby?.
Tidak!!!...., aku tidak mau terbiasa dengan hal itu, mungkin bisa saja aku mencoba untuk membiasakan diri, tapi entah kenapa...... aku merasa.... seorang beby terlalu indah untuk kulepaskan.
Sama seperti rokok, kenapa aku tidak mau berhenti merokok?.
Karena aku merasa momen-momen itu terlalu indah untuk ditinggalkan begitu saja.
Setiap niat untuk berhenti merokok itu muncul....., rasa manis cengkeh, sensasi nikmatnya nikotin dan tar yang masuk kedalam tubuh hingga meresap sampai keotak, seakan-akan selalu memintaku untuk terus menghisap setiap batang demi batang, dan aku rasa.... aku tidak mungkin sanggup untuk menghentikannya.
Ya..... itu yang dinamakan dengan candu.
Dan..... yang kalian harus tau, sifat manjanya, wajah cemberutnya, dan celotehan anehnya..... berhasil membuatku merasakan sensasi candu ketika sedang bersamanya.
Ya....., memang benar, aku kecanduan beby.
Seperti yang kalian tahu, yang namanya candu, pasti tidak akan jauh-juh dari kata sakau.
Dan....harusnya kalian sudah paham kenapa aku sangat ngotot untuk segera menyelesaikan masalah ini secepatnya.
.
.
.
"Kamu mau ngomongin masalah kemaren nat?"
Malam ini aku dan viny baru saja selesai menyantap hidangan yang ada di depan kami, viny memintaku singgah terlebih dahulu di salah satu warung nasi goreng yang tidak sengaja kami jumpai di pinggir jalan sebelum kami mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbincang-bincang.
"Mmmmm....., i i iya mbak"
Viny menarik nafas panjang setelah mendengar jawabanku.
"Yaudah deh, yuk, kita langsung nyari kafe aja, supaya lebih enak ngobrolnya"
Viny berkata seperti itu sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi jangan kafe yang kemaren ya mbak"
Viny menoleh kearahku.
Viny: "kenapa emang kalo kafe yang kemaren nat?"
Aku: "malu mbak, kan kemaren kita sempet hampir berantem disana, pasti mas-mas pelayannya masih inget sama kita"
"Wkwkwkwkwkwkwk"
Sontak jawabanku membuat tawa viny pecah.
"Aneh-aneh aja kamu nat"
Viny berkata seperti itu sambil menghabiskan sisa-sisa tawanya yang belum selesai.
"Yaudah, aku tau tempat lain kok, enak juga buat ngobrol-ngobrol"
Viny berkata seperti itu seraya berbalik badan dan mulai berjalan kearah mas-mas nasi goreng yang sedang memasak.
Akupun langsung mengikuti viny dan berjalan di belakangnya.
.
.
.
"Mbak, aku kopi susu aja"
Saat ini viny sedang melihat-lihat buku menu yang ada di tangannya.
"Udah kutulis kok nat, udah hapal aku"
Viny berkata seperti itu tanpa menatapku, matanya masih fokus memperhatikan tulisan yang tertulis di buku menu.
"Mbak juga, jangan aneh-aneh kayak kemaren"
Sontak viny langsung mengalihkan pandangannya untuk menatapku.
Viny: "emang kenapa nat?"
Aku: "entar gak enak kayak kemaren"
Viny: "ya gakpapa, kan tinggal tukeran sama punya kamu"
Viny berkata seperti itu sambil kembali menaruh perhatiannya pada buku menu.
"Huuu...., dasar"
Tanpa membalas ucapanku, viny beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan kearah kasir untuk menyerahkan pesanan yang sudah kami tulis dan mengembalikan buku menu.
"Apa lagi yang mau kamu omongin nat?"
Sekarang viny sudah kembali duduk di kursinya.
"Mungkin aku langsung to the point aja mbak"
Aku menjeda kalimatku untuk menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum melanjutkannya.
"Apa alasan mbak ngelarang aku buat nemuin mbak beby?"
Viny memejamkan matanya seraya menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutku.
"Nat, kan aku udah bilang kemaren, tunggu...."
Aku langsung memotong kalimat viny yang sepertinya belum tuntas.
"Kenapa aku harus nunggu mbak?"
Wajahnya mulai terlihat panik, aku tahu, viny memang sangat tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
"Nat..."
Aku kembali memotong kalimat viny, aku tidak mau lagi termakan dengan tatapan melasnya seperti kemaren.
"Mbak, aku cuma tanya alesan kenapa aku belum boleh ketemu sama mbak beby, aku cuma butuh itu aja kok"
"Kalau memang ada alasannya dan itu masuk akal, aku akan turutin semua saran dari mbak"
Viny memijit-mijit pelipisnya dengan kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
"Emang kalo udah ketemu sama beby kamu mau apa nat?"
"Apa yang mau kamu lakuin kalau beby udah mau ngomong dan ketemu sama kamu"
"Bukan cuma kamu nat yang punya perasaan, dia juga punya perasaan nat"
"Coba kamu bayangin, gimana perasaannya yang selama ini kamu gantungin"
Viny menarik nafas dalam, mencoba untuk memberi jeda beberapa saat sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku tau nat, betapa berharapnya dia sama kamu"
"Betapa sedihnya dia waktu harapannya gak tercapai pas dia ulang tahun kemaren"
"Iya nat!!!, dia berharap kamu nembak dia di hari ulang tahunnya kemaren"
"Aku masih inget, gimana konyolnya beby waktu nyeritain harapan itu ke aku"
Viny kembali menjeda kalimatnya.
"Dan... beberapa hari kemudian, dia malah dapet kabar jelek itu dari kamu"
"Kamu mikir gak nat, gimana perasaan dia waktu denger jawaban kamu??!!!"
"Emang kalo kalian udah baikan, kamu yakin gak bakal bikin dia sedih lagi?!!"
Deeeggggg.......
Viny memang tidak berbicara dengan nada tinggi, tapi pengucapan tiap katanya yang penuh dengan penekanan, ditambah lagi dengan fakta-fakta yang baru saja keluar dari mulutnya, berhasil membuatku sadar, betapa jahatnya aku.
Ya..., aku memang sudah tahu itu dari dulu, aku sudah lama tahu bahwa beby menaruh harapan lebih padaku, harapan agar kami bisa menjalin hubungan atas dasar komitmen yang diucapkan secara langsung.
Entah lah, setelah mendengar pernyataan demi pernyataan yang baru saja keluar dari mulut viny, tiba-tiba....... aku merasa aku harus menyatakan perasaanku kepada beby secepatnya.
Sudah cukup selama ini aku menyakitinya dengan terus menerus memberikan harapan tanpa sebuah kejelasan.
"Mbak...., kalau habis ini aku nembak mbak beby, apa mbak mau bantu aku buat ketemu sama dia?"
Sontak viny terkejut setelah mendengar kalimat terakhirku.
"Kamu yakin nat sama keputusan kamu?"
Aku menarik nafasku dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan viny.
"Aku...... "
Kalimatku terhenti ketika ada seorang pegawai kafe yang mengantarkan pesanan kami.
"Misi, mas, mbak, ini pesanannya"
Setelah meletakkan minuman pesanan kami di atas meja, mas-mas kafe memilih untuk pamit dan berlalu dari hadapan kami.
"Aku gak mau nat, kalo kamu nembak beby cuma gara-gara kepaksa"
"Yakinin dulu hati kamu, hilangin dulu ketakutan kamu, jawab dulu pertanyaanmu kemaren"
Aku menatap mata viny dalam-dalam, aku mencoba untuk meyakinkan viny yang sepertinya masih ragu dengan keputusanku.
"Aku yakin mbak"
"Memang ketakutanku masih belum bisa hilang sepenuhnya, apalagi pertanyaan itu, aku masih belum tau jawabannya"
"Tapi...... aku ngerasa, sekarang ada pertanyaan yang lebih penting mbak"
"Apa...., apa aku gak bisa sama-sama lagi sama mbak beby?"
"Dan buat saat ini, ketakutan terbesarku....... kalau jawaban dari pertanyaanku tadi adalah tidak"
Aku mengucapkannya dengan nada penuh keyakinan, sedangkan viny hanya diam dan menunduk, sepertinya dia tidak berani lagi menatapku.
"Mbak...., tolong bantu aku buat ketemu mbak beby, supaya aku bisa jelasin semuanya, dan supaya aku bisa bilang perasaanku yang sebenarnya"
Viny kembali mengangkat kepalanya dan membalas tatapanku.
"A a aku pasti bakal bantu kamu nat, t t tapi gak sekarang"
Huuuhhhh......
Entah lah, rasanya kesabaranku sudah habis, aku sudah menjawab keraguan viny, tapi kenapa dia masih memintaku untuk menunggu?.
"Mbak...., kalau emang aku harus nunggu, tolong kasih aku 1 aja alasan!!!"
Viny kembali menundukkan kepalanya.
"T t t tapi naat..."
Aku kembali memotong kalimat viny yang belum tuntas, aku mengangkat dagunya dengan lembut agar aku bisa kembali menatapnya.
"Mbak....., pleasee....."
Aku memohon kepada viny sambil menatpnya penuh harap.
Viny kembali memejamkan matan, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Oke nat, aku bakal bantu kamu buat ketemu beby, habis inj juga!!!"
Viny berkata seperti itu dengan nada penuh penekanan seraya menatapku tajam, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dia sangat serius dengan ucapannya.
"Tapi....., kalau kamu gak bisa terima dengan apa yang kamu liat nanti...."
Kalimat viny tiba-tiba terhenti, dia kembali memejamkan mata seraya menarik nafas dalam-dalam.
Viny seolah-olah ingin menunjukkan bahwa saat ini dia sedang mengumpulkan seluruh keyakinannya sebelum dia meng iya kan permohonanku.
"Silahkan kamu tinggalin dia!!!, dan.... jangan pernah lagi muncul dikehidupannya!!!"
Deeeeggg........
.
.
.
"Mbak, bisa kita ketemu lagi, ada yang mau aku omongin"
Aku memutuskan langsung mengirim pesan kepada viny setelah perbincanganku dan devan beberapa jam yang lalu.
Ya... aku harus segera menemui beby dan menjelaskan semuanya, tapi sebelum itu, aku memutuskan untuk kembali mencoba berbicara dengan viny, aku harus tau apa alasannya melarangku bertemu dengan beby.
Oke, mungkin ada 1 alasan yang masih bisa ku terima, aku mengerti, mungkin beby masih butuh waktu untuk sendiri, tapi..... apakah selama ini?, kalau 1 sampai 2 hari aku masih tidak keberatan, tapi sekarang....... viny masih saja melarangku untuk menemui beby, bahkan setelah hampir satu minggu sejak masalah ini pertama kali muncul.
Jika nanti aku masih belum bisa mendapatkan informasi apapun dari viny ,atau alasan yang nanti diberikan viny tidak bisa kuterima, aku akan menemui beby tanpa sepengetahuannya, dengan cara apapun!!!.
Tapi, jika viny mau memberitahu apa alasannya memintaku menunggu waktu yang tepat untuk menemui beby, dan alasan itu bisa kuterima, aku tidak akan keberatan untuk memenuhi permintaannya.
Oke, aku paham, lama atau tidak itu sebenarnya relatif, tapi aku sudah tidak tahan.....
Semenjak aku tidak lagi berkomunikasi dengan beby, aku merasa ada sesuatu yang hilang, ya...., tidak ada lagi wajah cemberut beby yang dibuat-buat, tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan lucu yang biasa beby tanyakan, tidak ada lagi keluhan-keluhan aneh yang biasanya hampir setiap hari kudengar, tidak ada lagi kelakuan manja beby yang selalu dia tunjukan setiap kali aku mengunjunginya.
Huuuuuhhhh....
Apa aku hanya belum terbiasa?, terbiasa menjalani hari-hariku tanpa seorang beby?.
Tidak!!!...., aku tidak mau terbiasa dengan hal itu, mungkin bisa saja aku mencoba untuk membiasakan diri, tapi entah kenapa...... aku merasa.... seorang beby terlalu indah untuk kulepaskan.
Sama seperti rokok, kenapa aku tidak mau berhenti merokok?.
Karena aku merasa momen-momen itu terlalu indah untuk ditinggalkan begitu saja.
Setiap niat untuk berhenti merokok itu muncul....., rasa manis cengkeh, sensasi nikmatnya nikotin dan tar yang masuk kedalam tubuh hingga meresap sampai keotak, seakan-akan selalu memintaku untuk terus menghisap setiap batang demi batang, dan aku rasa.... aku tidak mungkin sanggup untuk menghentikannya.
Ya..... itu yang dinamakan dengan candu.
Dan..... yang kalian harus tau, sifat manjanya, wajah cemberutnya, dan celotehan anehnya..... berhasil membuatku merasakan sensasi candu ketika sedang bersamanya.
Ya....., memang benar, aku kecanduan beby.
Seperti yang kalian tahu, yang namanya candu, pasti tidak akan jauh-juh dari kata sakau.
Dan....harusnya kalian sudah paham kenapa aku sangat ngotot untuk segera menyelesaikan masalah ini secepatnya.
.
.
.
"Kamu mau ngomongin masalah kemaren nat?"
Malam ini aku dan viny baru saja selesai menyantap hidangan yang ada di depan kami, viny memintaku singgah terlebih dahulu di salah satu warung nasi goreng yang tidak sengaja kami jumpai di pinggir jalan sebelum kami mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbincang-bincang.
"Mmmmm....., i i iya mbak"
Viny menarik nafas panjang setelah mendengar jawabanku.
"Yaudah deh, yuk, kita langsung nyari kafe aja, supaya lebih enak ngobrolnya"
Viny berkata seperti itu sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi jangan kafe yang kemaren ya mbak"
Viny menoleh kearahku.
Viny: "kenapa emang kalo kafe yang kemaren nat?"
Aku: "malu mbak, kan kemaren kita sempet hampir berantem disana, pasti mas-mas pelayannya masih inget sama kita"
"Wkwkwkwkwkwkwk"
Sontak jawabanku membuat tawa viny pecah.
"Aneh-aneh aja kamu nat"
Viny berkata seperti itu sambil menghabiskan sisa-sisa tawanya yang belum selesai.
"Yaudah, aku tau tempat lain kok, enak juga buat ngobrol-ngobrol"
Viny berkata seperti itu seraya berbalik badan dan mulai berjalan kearah mas-mas nasi goreng yang sedang memasak.
Akupun langsung mengikuti viny dan berjalan di belakangnya.
.
.
.
"Mbak, aku kopi susu aja"
Saat ini viny sedang melihat-lihat buku menu yang ada di tangannya.
"Udah kutulis kok nat, udah hapal aku"
Viny berkata seperti itu tanpa menatapku, matanya masih fokus memperhatikan tulisan yang tertulis di buku menu.
"Mbak juga, jangan aneh-aneh kayak kemaren"
Sontak viny langsung mengalihkan pandangannya untuk menatapku.
Viny: "emang kenapa nat?"
Aku: "entar gak enak kayak kemaren"
Viny: "ya gakpapa, kan tinggal tukeran sama punya kamu"
Viny berkata seperti itu sambil kembali menaruh perhatiannya pada buku menu.
"Huuu...., dasar"
Tanpa membalas ucapanku, viny beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan kearah kasir untuk menyerahkan pesanan yang sudah kami tulis dan mengembalikan buku menu.
"Apa lagi yang mau kamu omongin nat?"
Sekarang viny sudah kembali duduk di kursinya.
"Mungkin aku langsung to the point aja mbak"
Aku menjeda kalimatku untuk menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum melanjutkannya.
"Apa alasan mbak ngelarang aku buat nemuin mbak beby?"
Viny memejamkan matanya seraya menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutku.
"Nat, kan aku udah bilang kemaren, tunggu...."
Aku langsung memotong kalimat viny yang sepertinya belum tuntas.
"Kenapa aku harus nunggu mbak?"
Wajahnya mulai terlihat panik, aku tahu, viny memang sangat tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
"Nat..."
Aku kembali memotong kalimat viny, aku tidak mau lagi termakan dengan tatapan melasnya seperti kemaren.
"Mbak, aku cuma tanya alesan kenapa aku belum boleh ketemu sama mbak beby, aku cuma butuh itu aja kok"
"Kalau memang ada alasannya dan itu masuk akal, aku akan turutin semua saran dari mbak"
Viny memijit-mijit pelipisnya dengan kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
"Emang kalo udah ketemu sama beby kamu mau apa nat?"
"Apa yang mau kamu lakuin kalau beby udah mau ngomong dan ketemu sama kamu"
"Bukan cuma kamu nat yang punya perasaan, dia juga punya perasaan nat"
"Coba kamu bayangin, gimana perasaannya yang selama ini kamu gantungin"
Viny menarik nafas dalam, mencoba untuk memberi jeda beberapa saat sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku tau nat, betapa berharapnya dia sama kamu"
"Betapa sedihnya dia waktu harapannya gak tercapai pas dia ulang tahun kemaren"
"Iya nat!!!, dia berharap kamu nembak dia di hari ulang tahunnya kemaren"
"Aku masih inget, gimana konyolnya beby waktu nyeritain harapan itu ke aku"
Viny kembali menjeda kalimatnya.
"Dan... beberapa hari kemudian, dia malah dapet kabar jelek itu dari kamu"
"Kamu mikir gak nat, gimana perasaan dia waktu denger jawaban kamu??!!!"
"Emang kalo kalian udah baikan, kamu yakin gak bakal bikin dia sedih lagi?!!"
Deeeggggg.......
Viny memang tidak berbicara dengan nada tinggi, tapi pengucapan tiap katanya yang penuh dengan penekanan, ditambah lagi dengan fakta-fakta yang baru saja keluar dari mulutnya, berhasil membuatku sadar, betapa jahatnya aku.
Ya..., aku memang sudah tahu itu dari dulu, aku sudah lama tahu bahwa beby menaruh harapan lebih padaku, harapan agar kami bisa menjalin hubungan atas dasar komitmen yang diucapkan secara langsung.
Entah lah, setelah mendengar pernyataan demi pernyataan yang baru saja keluar dari mulut viny, tiba-tiba....... aku merasa aku harus menyatakan perasaanku kepada beby secepatnya.
Sudah cukup selama ini aku menyakitinya dengan terus menerus memberikan harapan tanpa sebuah kejelasan.
"Mbak...., kalau habis ini aku nembak mbak beby, apa mbak mau bantu aku buat ketemu sama dia?"
Sontak viny terkejut setelah mendengar kalimat terakhirku.
"Kamu yakin nat sama keputusan kamu?"
Aku menarik nafasku dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan viny.
"Aku...... "
Kalimatku terhenti ketika ada seorang pegawai kafe yang mengantarkan pesanan kami.
"Misi, mas, mbak, ini pesanannya"
Setelah meletakkan minuman pesanan kami di atas meja, mas-mas kafe memilih untuk pamit dan berlalu dari hadapan kami.
"Aku gak mau nat, kalo kamu nembak beby cuma gara-gara kepaksa"
"Yakinin dulu hati kamu, hilangin dulu ketakutan kamu, jawab dulu pertanyaanmu kemaren"
Aku menatap mata viny dalam-dalam, aku mencoba untuk meyakinkan viny yang sepertinya masih ragu dengan keputusanku.
"Aku yakin mbak"
"Memang ketakutanku masih belum bisa hilang sepenuhnya, apalagi pertanyaan itu, aku masih belum tau jawabannya"
"Tapi...... aku ngerasa, sekarang ada pertanyaan yang lebih penting mbak"
"Apa...., apa aku gak bisa sama-sama lagi sama mbak beby?"
"Dan buat saat ini, ketakutan terbesarku....... kalau jawaban dari pertanyaanku tadi adalah tidak"
Aku mengucapkannya dengan nada penuh keyakinan, sedangkan viny hanya diam dan menunduk, sepertinya dia tidak berani lagi menatapku.
"Mbak...., tolong bantu aku buat ketemu mbak beby, supaya aku bisa jelasin semuanya, dan supaya aku bisa bilang perasaanku yang sebenarnya"
Viny kembali mengangkat kepalanya dan membalas tatapanku.
"A a aku pasti bakal bantu kamu nat, t t tapi gak sekarang"
Huuuhhhh......
Entah lah, rasanya kesabaranku sudah habis, aku sudah menjawab keraguan viny, tapi kenapa dia masih memintaku untuk menunggu?.
"Mbak...., kalau emang aku harus nunggu, tolong kasih aku 1 aja alasan!!!"
Viny kembali menundukkan kepalanya.
"T t t tapi naat..."
Aku kembali memotong kalimat viny yang belum tuntas, aku mengangkat dagunya dengan lembut agar aku bisa kembali menatapnya.
"Mbak....., pleasee....."
Aku memohon kepada viny sambil menatpnya penuh harap.
Viny kembali memejamkan matan, lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Oke nat, aku bakal bantu kamu buat ketemu beby, habis inj juga!!!"
Viny berkata seperti itu dengan nada penuh penekanan seraya menatapku tajam, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa dia sangat serius dengan ucapannya.
"Tapi....., kalau kamu gak bisa terima dengan apa yang kamu liat nanti...."
Kalimat viny tiba-tiba terhenti, dia kembali memejamkan mata seraya menarik nafas dalam-dalam.
Viny seolah-olah ingin menunjukkan bahwa saat ini dia sedang mengumpulkan seluruh keyakinannya sebelum dia meng iya kan permohonanku.
"Silahkan kamu tinggalin dia!!!, dan.... jangan pernah lagi muncul dikehidupannya!!!"
Deeeeggg........
.
.
.
Diubah oleh akmal162 08-05-2020 00:54
Herisyahrian dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Kutip
Balas
Tutup
