- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.2K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#175
Spoiler for Part 59:
Part 59
"Buseeet....., enak banget lu berdua, udah rokokkan aja"
Devan menghampiri aku dan nabil yang sedang beristirahat di gazebo depan lab, hari ini aku, devan, dyo dan nabil sedang mengerjakan pengambilan data untuk sampel yang masuk.
Nabil: "udah kelar semua van?"
Devan: "udah, ini udah yang terakhir, masih dikerjain dyo di dalem"
Nabil hanya mengangguk kecil sambil menghisap sebatang rokok yang ada di tangannya.
"Bagi rokok dong"
Aku melemparkan sekotak surya 12 kearah devan, setelah mengambil 1 batang rokok dari dalam kotak rokokku, devan langsung mengambil tempat untuk duduk di samping nabil.
"Weehhh....., rokok gue jangan lu kantongin semua"
Aku berkata seperti itu setelah melihat devan memasukkan kotak rokok yang tadi kuberikan kedalam saku kemejanya.
"Oh iya, hehehe"
Devan kembali menyodorkan sekotak surya 12 tadi kepadaku.
Aku: "yeeeeee....., sa ae lu"
Nabil: "eh, van, besok kita maju pak edi nggak?"
Devan: "jangan dulu dah, masih mager gue, kita aja belum nyiapin materi lagi"
Nabil: "hmmmmm, iya juga sih"
Aku: "santai siihh, masih semester 6 gini"
Pletaaaakk......
"Jangan santai juga bego...., mau lu semester 9?"
Pletaaaakkk.....
Aku: "buset...., ringan banget tuh mulut ngomong semester 9"
Devan: "yaelah...., becanda anjing"
Keadaan sempat hening sejenak ketika devan menyulut rokok yang ada di tangannya.
Selang beberapa detik kemudian, devan dan nabilpun mulai berbincang-bincang, saat ini aku masih tidak tertarik untuk masuk kedalam percakapan mereka.
Entah kenapa..... sampai sekarang aku masih memikirkan setiap pernyataan demi pernyataan yang keluar dari mulut sakti tadi siang.
Dan..... aku rasa pernyataannya tadi siang sangat berhasil mengsugesti otakku untuk menciptakan berbagai macam ketakutan.
Ketakutan seperti apa???
Entah lah, aku juga tidak mengerti, tapi yang pasti ketakutanku tercipta karena sebuah ketidak tahuan, ya..., seperti yang sakti bilang tadi siang, ada banyak hal tentang beby yang tidak kuketahui.
Dan......., kekurangan beby seperti apa yang dia maksud?, jujur pernyataan terakhir sakti, yang dia ucapkan sesaat sebelum tinjuku mendarat di pipinya, pernyataan itu yang sampai saat ini menimbulkan tanda tanya besar di kepalaku.
Dan...... ada satu hal lagi, aku baru sadar, saat ini..... saat ini aku sangat takut, aku sangat takut kehilangannya.
"Nat....."
"Natha....."
"Woooyy, budeg lu ya"
Sontak panggilan dari nabil menghentikan semua lamunanku malam ini.
Aku: "apaan sih anjing??"
Nabil: "yee..., gue kira kesambet lu, dipanggil-panggil diem aja"
Devan: "dia mah kagak mungkin kesambet bil, setan gak bakal bisa ngerasukin setan"
Pletaaaakk.....
Aku: "lu yang setaann...."
Nabil: "udah... udah..., sesama setan gak usah berantem"
Devan: "ehh, tapi ada 1 setan yang bisa ngerasukin lu nat"
Nabil: "setan apaan tuh?"
Devan: "setan galau"
"Wkwkwkwkwkwkwkwkwk"
Sontak tawa mereka pecah setelah devan mengucapkan kalimat terakhirnya, sedangkan aku hanya terkekeh kecil setelah mendengar candaan devan barusan.
"Buseet dah, lu kenapa sih nat, mulai kemaren galau mulu"
"Belum kelar masalah lu sama beby yang kemaren?"
Kali ini devan angkat bicara tentang masalahku dan beby di hadapan nabil.
"Eh, kenapa lagi lu sama beby nat??"
Kali ini nabil bertanya sambil menunjukkan wajah bingungnya.
"Ini bil, si beby tau kalo si playboy cap tikus ini main ke kosan si shani"
Sontak wajah nabil langsung terkejut setelah mendengar pernyataan dari devan.
"Gilaa.....gila......, udah ngapain aja lu disana?"
"Terus kalo gitu kenapa lu mesti galau bego?!!"
"Udaaahhh...... lu sama shani aja sih nat, biarin aja si beby ngambek, gak usah lu pikirin"
Nabil mulai mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan dan saran.
Pletaaaakk.......
Devan: "bisa diem gak sih lu, gue nanya ke natha, bukan ke elu bodoh!!!"
Nabil: "kenapa lu yang sewot si, gue cuma ngasih saran, dari pada tuh orang galau mulu"
Kali ini devan dan nabil mulai kembali berdebat, sedangkan aku belum tertarik sama sekali untuk berbicara, aku hanya diam sambil sesekali menghisap sebatang rokok yang ada di tanganku.
"Weey nat....., emang masalah lu kemaren belum selesai"
Setelah sekian lama devan dan nabil saling berdebat satu sama lain, devan kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku.
Aku hanya menjawab pertanyaan devan dengan sebuah gelengan kecil tanpa sama sekali menatap wajahnya.
"Hadeeh...., perasaan udah dari kemaren, masih belum kelar-kelar aja masalah lu"
Aku menaikkan kedua bahuku keatas untuk menanggapi pernyataan dari devan barusan.
"Lu aja kali yang belum coba jelasin ke beby, coba deh nat lu ajak ketemu, habis itu jelasin baek-baek"
Aku mengambil nafas panjang sebelum menanggapi saran dari devan.
Aku: "susah van"
Devan: "yaelah, apa susahnya sih, tinggal lu chat aja, ajak ketemu, jelasin deh"
Aku: "dia gak bakal bales"
Devan: "datengin rumahnya lah, kan lu tau rumahnya dimana"
Aku: "kagak dibukain"
Keadaan sempat hening sejenak, devan memilih untuk berpikir terlebih dahulu sebelum kembali memberikan saran kepadaku.
"Kenapa lu gak minta tolong viny?'
Aku kembali mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan devan.
Aku: "susah van"
Devan: "lah, kenapa?, viny ikutan marah ke lu?"
Aku: "y y yaaa.... enggak sih"
Devan: "yaudah, coba minta bantuan dia aja nat"
Aku: "gimana mau minta tolong viny, dia aja nyuruh gue nunggu dulu"
Devan: "nunggu apaan?"
Aku: "waktu yang tepat"
Devan: "haaahh???"
Devan terlihat sedikit bingung setelah mendengar jawaban-jawabanku.
Devan: "waktu yang tepat buat apa?"
Aku: "buat ngomong ke beby"
Devan: kenapa si viny bilang gitu?"
Aku mencoba mengingat kembali apa alasan viny memintaku untuk menunggu, tapi..... aku rasa viny sama sekali belum menyertakan alasannya sama sekali kenapa aku harus memenuhi permintaannya.
Aku: "mmmm..., gak tau sih, seinget gue dia gak ada bilang apa-apa"
Devan: "lu gak nanya?"
Aku: "ennnnggg...., enggak sih"
Devan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Begooooo!!!!!"
Kali ini devan berteriak kearah wajahku.
"Harusnya lu tanya lah bodoh!!!, mau mau aja lu ngikutin maunya dia, kalo gini terus masalah lu gak bakal selesai babi!!!"
Hmmmm.....
Setelah kupikir-pikir..... apa yang dikatakan oleh devan ada benarnya juga, aku mencoba kembali mengingat-ingat kenapa aku mau memenuhi permintaan viny kemaren.
Oh iya!!!, tatapan itu.., iya, entah kenapa viny yang menatapku dengan tatapan matanya yang penuh harap selalu berhasil membuatku menuruti permintaannya.
Huuuhhh.......
"Terus...., gue harus gimana van?"
Devan menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaanku.
"Lu cari kesempatan lah buat ketemu sama dia"
"Cara satu-satunya supaya hubungan lu sama beby membaik, ya lu harus ngomong langsung sama jelasin ke dia"
"Mau sampai kapan lu nunggu-nunggu kayak gini"
"Ya kagak bakal selesai lah goblook!!!"
Keadaan kembali hening, aku memilih diam untuk mencoba mencerna dan memikirkan saran dari devan.
Ya..., aku mulai sepaham dengan saran- saran yang baru saja kuterima dari devan, jika aku terus menunggu seperti sekarang, mau sampai kapan masalah ini terus-menerus berlanjut?.
Cara satu-satunya agar masalah ini bisa segera berakhir adalah, aku harus berbicara 4 mata dengannya, menjelaskan masalah ini secara langsung kepada beby.
"Kalo gue sih......, mending lu sama shani aja nat"
Dengan wajah santainya nabil berkata seperti itu kepadaku.
Pletaaakkkk......
"Gakada saran lain apa, udah jelas-jelas masalahnya si natha sekarang gimana caranya dia baikan sama beby"
Nabil menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Ya gakusah baikan, biarin si natha sama shani aja, dari pada pusing kan?"
Nabil kembali menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya kewajahku.
"Atau......, kalo lu masih mau baikan sama beby..... mending shani buat gue aja"
Pletaaaakkkk.......
"Mimpi luuuu!!!!"
.
.
.
"Buseeet....., enak banget lu berdua, udah rokokkan aja"
Devan menghampiri aku dan nabil yang sedang beristirahat di gazebo depan lab, hari ini aku, devan, dyo dan nabil sedang mengerjakan pengambilan data untuk sampel yang masuk.
Nabil: "udah kelar semua van?"
Devan: "udah, ini udah yang terakhir, masih dikerjain dyo di dalem"
Nabil hanya mengangguk kecil sambil menghisap sebatang rokok yang ada di tangannya.
"Bagi rokok dong"
Aku melemparkan sekotak surya 12 kearah devan, setelah mengambil 1 batang rokok dari dalam kotak rokokku, devan langsung mengambil tempat untuk duduk di samping nabil.
"Weehhh....., rokok gue jangan lu kantongin semua"
Aku berkata seperti itu setelah melihat devan memasukkan kotak rokok yang tadi kuberikan kedalam saku kemejanya.
"Oh iya, hehehe"
Devan kembali menyodorkan sekotak surya 12 tadi kepadaku.
Aku: "yeeeeee....., sa ae lu"
Nabil: "eh, van, besok kita maju pak edi nggak?"
Devan: "jangan dulu dah, masih mager gue, kita aja belum nyiapin materi lagi"
Nabil: "hmmmmm, iya juga sih"
Aku: "santai siihh, masih semester 6 gini"
Pletaaaakk......
"Jangan santai juga bego...., mau lu semester 9?"
Pletaaaakkk.....
Aku: "buset...., ringan banget tuh mulut ngomong semester 9"
Devan: "yaelah...., becanda anjing"
Keadaan sempat hening sejenak ketika devan menyulut rokok yang ada di tangannya.
Selang beberapa detik kemudian, devan dan nabilpun mulai berbincang-bincang, saat ini aku masih tidak tertarik untuk masuk kedalam percakapan mereka.
Entah kenapa..... sampai sekarang aku masih memikirkan setiap pernyataan demi pernyataan yang keluar dari mulut sakti tadi siang.
Dan..... aku rasa pernyataannya tadi siang sangat berhasil mengsugesti otakku untuk menciptakan berbagai macam ketakutan.
Ketakutan seperti apa???
Entah lah, aku juga tidak mengerti, tapi yang pasti ketakutanku tercipta karena sebuah ketidak tahuan, ya..., seperti yang sakti bilang tadi siang, ada banyak hal tentang beby yang tidak kuketahui.
Dan......., kekurangan beby seperti apa yang dia maksud?, jujur pernyataan terakhir sakti, yang dia ucapkan sesaat sebelum tinjuku mendarat di pipinya, pernyataan itu yang sampai saat ini menimbulkan tanda tanya besar di kepalaku.
Dan...... ada satu hal lagi, aku baru sadar, saat ini..... saat ini aku sangat takut, aku sangat takut kehilangannya.
"Nat....."
"Natha....."
"Woooyy, budeg lu ya"
Sontak panggilan dari nabil menghentikan semua lamunanku malam ini.
Aku: "apaan sih anjing??"
Nabil: "yee..., gue kira kesambet lu, dipanggil-panggil diem aja"
Devan: "dia mah kagak mungkin kesambet bil, setan gak bakal bisa ngerasukin setan"
Pletaaaakk.....
Aku: "lu yang setaann...."
Nabil: "udah... udah..., sesama setan gak usah berantem"
Devan: "ehh, tapi ada 1 setan yang bisa ngerasukin lu nat"
Nabil: "setan apaan tuh?"
Devan: "setan galau"
"Wkwkwkwkwkwkwkwkwk"
Sontak tawa mereka pecah setelah devan mengucapkan kalimat terakhirnya, sedangkan aku hanya terkekeh kecil setelah mendengar candaan devan barusan.
"Buseet dah, lu kenapa sih nat, mulai kemaren galau mulu"
"Belum kelar masalah lu sama beby yang kemaren?"
Kali ini devan angkat bicara tentang masalahku dan beby di hadapan nabil.
"Eh, kenapa lagi lu sama beby nat??"
Kali ini nabil bertanya sambil menunjukkan wajah bingungnya.
"Ini bil, si beby tau kalo si playboy cap tikus ini main ke kosan si shani"
Sontak wajah nabil langsung terkejut setelah mendengar pernyataan dari devan.
"Gilaa.....gila......, udah ngapain aja lu disana?"
"Terus kalo gitu kenapa lu mesti galau bego?!!"
"Udaaahhh...... lu sama shani aja sih nat, biarin aja si beby ngambek, gak usah lu pikirin"
Nabil mulai mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan dan saran.
Pletaaaakk.......
Devan: "bisa diem gak sih lu, gue nanya ke natha, bukan ke elu bodoh!!!"
Nabil: "kenapa lu yang sewot si, gue cuma ngasih saran, dari pada tuh orang galau mulu"
Kali ini devan dan nabil mulai kembali berdebat, sedangkan aku belum tertarik sama sekali untuk berbicara, aku hanya diam sambil sesekali menghisap sebatang rokok yang ada di tanganku.
"Weey nat....., emang masalah lu kemaren belum selesai"
Setelah sekian lama devan dan nabil saling berdebat satu sama lain, devan kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepadaku.
Aku hanya menjawab pertanyaan devan dengan sebuah gelengan kecil tanpa sama sekali menatap wajahnya.
"Hadeeh...., perasaan udah dari kemaren, masih belum kelar-kelar aja masalah lu"
Aku menaikkan kedua bahuku keatas untuk menanggapi pernyataan dari devan barusan.
"Lu aja kali yang belum coba jelasin ke beby, coba deh nat lu ajak ketemu, habis itu jelasin baek-baek"
Aku mengambil nafas panjang sebelum menanggapi saran dari devan.
Aku: "susah van"
Devan: "yaelah, apa susahnya sih, tinggal lu chat aja, ajak ketemu, jelasin deh"
Aku: "dia gak bakal bales"
Devan: "datengin rumahnya lah, kan lu tau rumahnya dimana"
Aku: "kagak dibukain"
Keadaan sempat hening sejenak, devan memilih untuk berpikir terlebih dahulu sebelum kembali memberikan saran kepadaku.
"Kenapa lu gak minta tolong viny?'
Aku kembali mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan devan.
Aku: "susah van"
Devan: "lah, kenapa?, viny ikutan marah ke lu?"
Aku: "y y yaaa.... enggak sih"
Devan: "yaudah, coba minta bantuan dia aja nat"
Aku: "gimana mau minta tolong viny, dia aja nyuruh gue nunggu dulu"
Devan: "nunggu apaan?"
Aku: "waktu yang tepat"
Devan: "haaahh???"
Devan terlihat sedikit bingung setelah mendengar jawaban-jawabanku.
Devan: "waktu yang tepat buat apa?"
Aku: "buat ngomong ke beby"
Devan: kenapa si viny bilang gitu?"
Aku mencoba mengingat kembali apa alasan viny memintaku untuk menunggu, tapi..... aku rasa viny sama sekali belum menyertakan alasannya sama sekali kenapa aku harus memenuhi permintaannya.
Aku: "mmmm..., gak tau sih, seinget gue dia gak ada bilang apa-apa"
Devan: "lu gak nanya?"
Aku: "ennnnggg...., enggak sih"
Devan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Begooooo!!!!!"
Kali ini devan berteriak kearah wajahku.
"Harusnya lu tanya lah bodoh!!!, mau mau aja lu ngikutin maunya dia, kalo gini terus masalah lu gak bakal selesai babi!!!"
Hmmmm.....
Setelah kupikir-pikir..... apa yang dikatakan oleh devan ada benarnya juga, aku mencoba kembali mengingat-ingat kenapa aku mau memenuhi permintaan viny kemaren.
Oh iya!!!, tatapan itu.., iya, entah kenapa viny yang menatapku dengan tatapan matanya yang penuh harap selalu berhasil membuatku menuruti permintaannya.
Huuuhhh.......
"Terus...., gue harus gimana van?"
Devan menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaanku.
"Lu cari kesempatan lah buat ketemu sama dia"
"Cara satu-satunya supaya hubungan lu sama beby membaik, ya lu harus ngomong langsung sama jelasin ke dia"
"Mau sampai kapan lu nunggu-nunggu kayak gini"
"Ya kagak bakal selesai lah goblook!!!"
Keadaan kembali hening, aku memilih diam untuk mencoba mencerna dan memikirkan saran dari devan.
Ya..., aku mulai sepaham dengan saran- saran yang baru saja kuterima dari devan, jika aku terus menunggu seperti sekarang, mau sampai kapan masalah ini terus-menerus berlanjut?.
Cara satu-satunya agar masalah ini bisa segera berakhir adalah, aku harus berbicara 4 mata dengannya, menjelaskan masalah ini secara langsung kepada beby.
"Kalo gue sih......, mending lu sama shani aja nat"
Dengan wajah santainya nabil berkata seperti itu kepadaku.
Pletaaakkkk......
"Gakada saran lain apa, udah jelas-jelas masalahnya si natha sekarang gimana caranya dia baikan sama beby"
Nabil menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Ya gakusah baikan, biarin si natha sama shani aja, dari pada pusing kan?"
Nabil kembali menghisap rokoknya, lalu menghembuskan asapnya kewajahku.
"Atau......, kalo lu masih mau baikan sama beby..... mending shani buat gue aja"
Pletaaaakkkk.......
"Mimpi luuuu!!!!"
.
.
.
Diubah oleh akmal162 07-05-2020 03:25
Herisyahrian dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas
