- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.2K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#166
Spoiler for Part 58:
Part 58
Huuuhhhh.......
Harusnya saat ini aku sedang berbahagia, bagaimana tidak?, jika kemaren aku tidak melakukan kebodohan, besok aku dan beby akan merayakan kelulusannya dengan liburan berdua ke pantai, ya..., sesuai janji yang kami buat beberapa hari sebelumnya.
"Mbak..., kan dulu aku sempet janji kalo besok mau ngajak mbak ke pantai habis mbak selesai sidang akhir, boleh nggak aku nepatin janji itu?"
Aku memilih mengirimkan sebuah pesan kepada beby, ya.... mungkin ini bisa menjadi salah satu cara agar aku bisa kembali berkomunikasi dengannya, meskipun aku sangat yakin beby tidak akan membalas pesanku malam ini.
Tapiiiii...... karena sudah sangat putus asa, aku memutuskan untuk melakukan semua cara yang aku bisa, contohnya seperti apa yang sedang kulakukan sekarang ini.
Huuuuhhhh......
Hanya semilir angin malam kota jogja yang menemani kesendirianku malam ini, seperti biasa aku sedang menikmati sebatang rokok dan sebotol teh kemasan sambil duduk sendirian di balkon kos.
Setelah mengantarkan viny pulang, aku memilih untuk langsung pulang ke kos, ya.., aku sedang ingin sendiri malam ini.
Ting......
Sebuah pesan tiba-tiba saja masuk ke handphoneku, sontak aku langsung buru-buru mengambil handphone dan menyalakan layarnya, jujur aku sangat antusias ketika mendengar handphoneku berdering, mengingat aku baru saja mengirimkan pesan kepada beby.
Tapi....., antusiasmeku kembali hilang setelah melihat bahwa pesan yang masuk merupakan sebuah SMS dari nomor tidak di kenal, tapi karena merasa penasaran dengan isinya, aku tetap membuka pesan tersebut.
"Kita bisa ketemu?, kalau iya aku tunggu besok di kafe ******* habis dzuhur"
Isi pesan tersebut cukup membuatku sedikit terkejut, sekarang aku malah semakin penasaran, siapa kira-kira yang mengirimpak pesan itu, atau mungkin...... beby?.
"Ini siapa?"
Aku memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu kepada si pengirim pesan, aku tidak mau menyimpulkannya secara sepihak, mau ditaroh dimana wajahku kalau ternyata si pengirim pesan itu bukan beby.
Tingg.....
"Sakti"
Deeegggg.......
Sontak jawaban si pengirim pesan kali ini membuatku sangat terkejut, apa kira-kira keperluannya untuk mengajakku bertemu?, membicarakan tentang beby?, atau dia ingin memintaku menjauhi beby?, atau......
"Oke"
Aahhhh..... sudahlah, dari pada spekulasi aneh yang muncul di otakku semakin banyak, aku memutuskan untuk meng iya kan ajakan sakti, kita lihat besok, apa sebenarnya yang ingin dia bicarakan.
.
.
.
Saat ini aku sedang duduk di sebuah kafe yang terletak di salah satu mall yang cukup ternama di kota jogja.
Ya..., ini tempat yang dimaksud oleh sakti kemaren malam, aku datang kesini untuk memenuhi permintaannya yang ingin bebicara 4 mata denganku.
Huuuhh.....
Jujur aku agak sedikit menyesal karena telah memenuhi permintaan sakti untuk datang ke tempat ini, bukan apa-apa, harga minuman di tempat ini lumayan mahal, tidak seharusnya aku membuang-buang uangku jika hanya ingin bertemu dengan sakti, kalau untuk bertemu viny, beby, tau shani, masih worthit lah jika aku harus menyisihkan sebagian uang jajanku, tapi..... kalau bertemu dengan sakti..... ahhhh...... tai lah.
Wkwkwkwkwkwkwk.
Tapi, melihat tempat yang sakti pilih sekarang, aku yakin sakti tidak ada maksud sama sekali untuk mengajakku berkelahi, mengingat tempat ini cukup ramai, pasti kami akan diusir dan dimaki-maki jika membuat keributan di mall ini.
Kalau tempat untuk berkelahi ya jelas bukan disini, ya.... minimal di gang-gang atau lapangan yang sepi dari orang-orang.
Yaa.... sekarang tinggal bagaimana akunya, aku harus bisa mengendalikan diri agar tidak terpancing emosi dan membuat keributan di tempat ini.
Ckiiiitttt......
Suara kursi yang ditarik menghentikan lamunanku siang ini.
"Siang mas"
Ternyata sakti sudah duduk di hadapanku, dia menyapaku dengan wajah datarnya.
Aku hanya mengangguk untuk membalad sapaannya, tentu saja dengan wajah yang juga kubuat sedatar mungkin.
"Mungkin gue mau langsung ke intinya aja, lu akhir-akhir ini lagi deket sama beby?"
Sakti bertanya sambil menatapku dengan sengit, karena tidak ingin diintimidasi, aku balas tatapan sakti dengan tidak kalah sengitnya.
"Kalau iya urusan lu apa?"
Sepertinya sakti tidak terima dengan jawaban yang kuberikan, raut wajahnya mulai menunjukkan bahwa saat ini dia mulai merasa kesal.
"Gue cuma mau ngingetin, mending mulai sekarang lu mundur"
"Ada banyak hal yang bikin lu gak bakal bisa dapetin beby"
Entah lah, egoku sebagai seorang laki-laki seolah-olah mulai memberontak, laki-laki mana yang bisa terima jika dihadapkan dengan situasiku saat ini.
"Siapa lu ngatur-ngatur gue?"
Sakti berdecih sambil menunjukkan wajah tengilnya setelah menjawab pertanyaanku.
"Cihh, lu bakal ngerasain sendiri tanpa harus gue jelasin panjang lebar"
"Gue udah 7 tahun kenal sama dia"
"Gue lebih kenal sama dia, gue lebih bisa memahami beby, gue lebih tau semua hal tentang beby daripada lu"
"Dan gue jamin lu gak bakal bisa dapetin beby"
Huuuhhhh......
Aku harus tenang, kali ini sakti mulai kembali mengintimidasiku dengan ancaman-ancaman yang sama sekali aku tidak mengerti.
"Yaudah, silahkan aja lu ngomong gitu, gue tetep bakal deketin beby, mau apa lu?"
Sakti terkekeh kecil setelah mendengar jawabanku.
"Lu kira gue bakal ngajak lu berantem?"
"Tenang bro, bukan gue yang bakal nyegah lu buat deketin beby"
"Gue gak perlu ngelakuin itu"
"Sorry, gue gak level kalau harus nyelesain masalah dengan cara begituan"
"Gue cuma mau ngasih peringatan, ada banyak hal tentang beby yang lu gak paham dan gak tau"
"Sebelum lu nyesel, mending lu akhiri aja kedekatan lu sama dia"
Kali ini emosiku benar-benar sudah di ambang batas, sakti berhasil memancing emosiku dengan baik, dia berhasil membuatku seolah-olah belum mengenal beby sepenuhnya, seolah-olah ada hal besar yang akan mencegahku agar bisa dekat dengan beby, dia berhasil membuat berbagai macam spekulasi di otakku dengan memberikan informasi yang sama sekali tidak lengakap.
"Banyak bacot lu anjing!!!, lu ngajak gue kesini cuma buat ngomong gitu doang?"
Suaraku kali ini mulai meninggi, beberapa pelayan dan pengunjung kafe mulai menaruh perhatiannya kepadaku.
"Mungkin ancaman gue barusan emang kedengeran gak ada apa-apanya buat lu"
"Tapi kalo lu tetep nekat, lu bakal ngerti sendiri sama omongan gue barusan, dan ......"
Aku langsung memotong kalimat sakti yang belum selesai.
"Iya, gue bakal cari tau sendiri, dan gue bakal tetep nekat, mau apa lu?"
Sakti kembali terkekeh ketika mendengar jawabanku.
"Yasudah, gue cuma mau ngingetin"
"Oh iya, baru kenal beby beberapa bulan aja lu udah nyakitin dia"
"Ya.... memang, gue juga pernah melakukan kesalahan, mungkin lu udah tau"
"Tapi ada banyak faktor yang bisa bikin beby kembali sama gue"
Aku mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, dengan ini aku harap aku bisa mendinginkan kepalaku.
"Kalo emang bener apa kata lu, seharusnya lu gak perlu ngomong kayak gini ke gue"
"Lu takut kan kalo gue berhasil dapetin beby?"
Sekarang keadaan berbalik, aku berhasil memancing emosinya dengan pernyataan yang kulontarkan barusan.
"Terserah lu mau bilang apa, yang...."
Aku kembali memotong kalimat sakti yang sepertinya belum tuntas.
"Cihh, daripada lu bacot-bacot gak jelas kayak gini, mending lu mikirin cara supaya lu bisa dapetin dia"
Sakti kembali terkekeh mendengar kalimat yang barusan kulontarkan. .
"Ya.... ya.... ya....., terserah....., silahkan aja kalo lu masih mau coba"
"Gue gak perlu takut bersaing sama lu buat dapetin beby"
"Dan..... ada satu hal lagi yang perlu lu tau"
Sakti menjeda kalimatnya beberapa detik.
"gue gak yakin bocah labil kayak lu bisa nerima beby apa adanya"
Sakti mengucapkan kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan.
Daaaaannnn........
Bruuuaaaakkk........
Tinjuku melayang tepat diwajahnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya berhasil membuat emosiku benar-benar pecah, apa maksud kalimatnya yang menyebutku sebagai seorang bocah labil, kata-kata itu jelas tidak bisa kuterima.
Sontak hal itu membuat beberapa pengunjung dan pelayan kafe menarikku untuk menjauhi sakti, tidak selang beberapa detik, dua orang satpam menghampiri kami dan menarikku keluar secara paksa.
"Wes mas!!!, nek pingin rusuh ojok ndek kene!!!"
"Iki mall, guduk panggon gawe gelut cukk!!!"
Beberapa bentakan di lontarkan oleh 2 orang satpam yang saat ini membawaku ke arah pintu keluar.
Aku hanya bisa pasrah dan berjalan mengikuti langkah 2 orang satpam yang sedang membawaku saat ini.
.
.
.
Huuuhhhh.......
Harusnya saat ini aku sedang berbahagia, bagaimana tidak?, jika kemaren aku tidak melakukan kebodohan, besok aku dan beby akan merayakan kelulusannya dengan liburan berdua ke pantai, ya..., sesuai janji yang kami buat beberapa hari sebelumnya.
"Mbak..., kan dulu aku sempet janji kalo besok mau ngajak mbak ke pantai habis mbak selesai sidang akhir, boleh nggak aku nepatin janji itu?"
Aku memilih mengirimkan sebuah pesan kepada beby, ya.... mungkin ini bisa menjadi salah satu cara agar aku bisa kembali berkomunikasi dengannya, meskipun aku sangat yakin beby tidak akan membalas pesanku malam ini.
Tapiiiii...... karena sudah sangat putus asa, aku memutuskan untuk melakukan semua cara yang aku bisa, contohnya seperti apa yang sedang kulakukan sekarang ini.
Huuuuhhhh......
Hanya semilir angin malam kota jogja yang menemani kesendirianku malam ini, seperti biasa aku sedang menikmati sebatang rokok dan sebotol teh kemasan sambil duduk sendirian di balkon kos.
Setelah mengantarkan viny pulang, aku memilih untuk langsung pulang ke kos, ya.., aku sedang ingin sendiri malam ini.
Ting......
Sebuah pesan tiba-tiba saja masuk ke handphoneku, sontak aku langsung buru-buru mengambil handphone dan menyalakan layarnya, jujur aku sangat antusias ketika mendengar handphoneku berdering, mengingat aku baru saja mengirimkan pesan kepada beby.
Tapi....., antusiasmeku kembali hilang setelah melihat bahwa pesan yang masuk merupakan sebuah SMS dari nomor tidak di kenal, tapi karena merasa penasaran dengan isinya, aku tetap membuka pesan tersebut.
"Kita bisa ketemu?, kalau iya aku tunggu besok di kafe ******* habis dzuhur"
Isi pesan tersebut cukup membuatku sedikit terkejut, sekarang aku malah semakin penasaran, siapa kira-kira yang mengirimpak pesan itu, atau mungkin...... beby?.
"Ini siapa?"
Aku memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu kepada si pengirim pesan, aku tidak mau menyimpulkannya secara sepihak, mau ditaroh dimana wajahku kalau ternyata si pengirim pesan itu bukan beby.
Tingg.....
"Sakti"
Deeegggg.......
Sontak jawaban si pengirim pesan kali ini membuatku sangat terkejut, apa kira-kira keperluannya untuk mengajakku bertemu?, membicarakan tentang beby?, atau dia ingin memintaku menjauhi beby?, atau......
"Oke"
Aahhhh..... sudahlah, dari pada spekulasi aneh yang muncul di otakku semakin banyak, aku memutuskan untuk meng iya kan ajakan sakti, kita lihat besok, apa sebenarnya yang ingin dia bicarakan.
.
.
.
Saat ini aku sedang duduk di sebuah kafe yang terletak di salah satu mall yang cukup ternama di kota jogja.
Ya..., ini tempat yang dimaksud oleh sakti kemaren malam, aku datang kesini untuk memenuhi permintaannya yang ingin bebicara 4 mata denganku.
Huuuhh.....
Jujur aku agak sedikit menyesal karena telah memenuhi permintaan sakti untuk datang ke tempat ini, bukan apa-apa, harga minuman di tempat ini lumayan mahal, tidak seharusnya aku membuang-buang uangku jika hanya ingin bertemu dengan sakti, kalau untuk bertemu viny, beby, tau shani, masih worthit lah jika aku harus menyisihkan sebagian uang jajanku, tapi..... kalau bertemu dengan sakti..... ahhhh...... tai lah.
Wkwkwkwkwkwkwk.
Tapi, melihat tempat yang sakti pilih sekarang, aku yakin sakti tidak ada maksud sama sekali untuk mengajakku berkelahi, mengingat tempat ini cukup ramai, pasti kami akan diusir dan dimaki-maki jika membuat keributan di mall ini.
Kalau tempat untuk berkelahi ya jelas bukan disini, ya.... minimal di gang-gang atau lapangan yang sepi dari orang-orang.
Yaa.... sekarang tinggal bagaimana akunya, aku harus bisa mengendalikan diri agar tidak terpancing emosi dan membuat keributan di tempat ini.
Ckiiiitttt......
Suara kursi yang ditarik menghentikan lamunanku siang ini.
"Siang mas"
Ternyata sakti sudah duduk di hadapanku, dia menyapaku dengan wajah datarnya.
Aku hanya mengangguk untuk membalad sapaannya, tentu saja dengan wajah yang juga kubuat sedatar mungkin.
"Mungkin gue mau langsung ke intinya aja, lu akhir-akhir ini lagi deket sama beby?"
Sakti bertanya sambil menatapku dengan sengit, karena tidak ingin diintimidasi, aku balas tatapan sakti dengan tidak kalah sengitnya.
"Kalau iya urusan lu apa?"
Sepertinya sakti tidak terima dengan jawaban yang kuberikan, raut wajahnya mulai menunjukkan bahwa saat ini dia mulai merasa kesal.
"Gue cuma mau ngingetin, mending mulai sekarang lu mundur"
"Ada banyak hal yang bikin lu gak bakal bisa dapetin beby"
Entah lah, egoku sebagai seorang laki-laki seolah-olah mulai memberontak, laki-laki mana yang bisa terima jika dihadapkan dengan situasiku saat ini.
"Siapa lu ngatur-ngatur gue?"
Sakti berdecih sambil menunjukkan wajah tengilnya setelah menjawab pertanyaanku.
"Cihh, lu bakal ngerasain sendiri tanpa harus gue jelasin panjang lebar"
"Gue udah 7 tahun kenal sama dia"
"Gue lebih kenal sama dia, gue lebih bisa memahami beby, gue lebih tau semua hal tentang beby daripada lu"
"Dan gue jamin lu gak bakal bisa dapetin beby"
Huuuhhhh......
Aku harus tenang, kali ini sakti mulai kembali mengintimidasiku dengan ancaman-ancaman yang sama sekali aku tidak mengerti.
"Yaudah, silahkan aja lu ngomong gitu, gue tetep bakal deketin beby, mau apa lu?"
Sakti terkekeh kecil setelah mendengar jawabanku.
"Lu kira gue bakal ngajak lu berantem?"
"Tenang bro, bukan gue yang bakal nyegah lu buat deketin beby"
"Gue gak perlu ngelakuin itu"
"Sorry, gue gak level kalau harus nyelesain masalah dengan cara begituan"
"Gue cuma mau ngasih peringatan, ada banyak hal tentang beby yang lu gak paham dan gak tau"
"Sebelum lu nyesel, mending lu akhiri aja kedekatan lu sama dia"
Kali ini emosiku benar-benar sudah di ambang batas, sakti berhasil memancing emosiku dengan baik, dia berhasil membuatku seolah-olah belum mengenal beby sepenuhnya, seolah-olah ada hal besar yang akan mencegahku agar bisa dekat dengan beby, dia berhasil membuat berbagai macam spekulasi di otakku dengan memberikan informasi yang sama sekali tidak lengakap.
"Banyak bacot lu anjing!!!, lu ngajak gue kesini cuma buat ngomong gitu doang?"
Suaraku kali ini mulai meninggi, beberapa pelayan dan pengunjung kafe mulai menaruh perhatiannya kepadaku.
"Mungkin ancaman gue barusan emang kedengeran gak ada apa-apanya buat lu"
"Tapi kalo lu tetep nekat, lu bakal ngerti sendiri sama omongan gue barusan, dan ......"
Aku langsung memotong kalimat sakti yang belum selesai.
"Iya, gue bakal cari tau sendiri, dan gue bakal tetep nekat, mau apa lu?"
Sakti kembali terkekeh ketika mendengar jawabanku.
"Yasudah, gue cuma mau ngingetin"
"Oh iya, baru kenal beby beberapa bulan aja lu udah nyakitin dia"
"Ya.... memang, gue juga pernah melakukan kesalahan, mungkin lu udah tau"
"Tapi ada banyak faktor yang bisa bikin beby kembali sama gue"
Aku mengambil nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, dengan ini aku harap aku bisa mendinginkan kepalaku.
"Kalo emang bener apa kata lu, seharusnya lu gak perlu ngomong kayak gini ke gue"
"Lu takut kan kalo gue berhasil dapetin beby?"
Sekarang keadaan berbalik, aku berhasil memancing emosinya dengan pernyataan yang kulontarkan barusan.
"Terserah lu mau bilang apa, yang...."
Aku kembali memotong kalimat sakti yang sepertinya belum tuntas.
"Cihh, daripada lu bacot-bacot gak jelas kayak gini, mending lu mikirin cara supaya lu bisa dapetin dia"
Sakti kembali terkekeh mendengar kalimat yang barusan kulontarkan. .
"Ya.... ya.... ya....., terserah....., silahkan aja kalo lu masih mau coba"
"Gue gak perlu takut bersaing sama lu buat dapetin beby"
"Dan..... ada satu hal lagi yang perlu lu tau"
Sakti menjeda kalimatnya beberapa detik.
"gue gak yakin bocah labil kayak lu bisa nerima beby apa adanya"
Sakti mengucapkan kalimat terakhirnya dengan penuh penekanan.
Daaaaannnn........
Bruuuaaaakkk........
Tinjuku melayang tepat diwajahnya, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya berhasil membuat emosiku benar-benar pecah, apa maksud kalimatnya yang menyebutku sebagai seorang bocah labil, kata-kata itu jelas tidak bisa kuterima.
Sontak hal itu membuat beberapa pengunjung dan pelayan kafe menarikku untuk menjauhi sakti, tidak selang beberapa detik, dua orang satpam menghampiri kami dan menarikku keluar secara paksa.
"Wes mas!!!, nek pingin rusuh ojok ndek kene!!!"
"Iki mall, guduk panggon gawe gelut cukk!!!"
Beberapa bentakan di lontarkan oleh 2 orang satpam yang saat ini membawaku ke arah pintu keluar.
Aku hanya bisa pasrah dan berjalan mengikuti langkah 2 orang satpam yang sedang membawaku saat ini.
.
.
.
Herisyahrian dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas
Tutup
