Kaskus

Story

suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
Cinta Bersemi di Kedai Serabi
Kumpulan Cerita Romantis Bikin Baper

Cinta Bersemi di Kedai Serabi

Sumber: gambar di sini

Sepagi ini kedai Mak Otih sudah penuh sesak. Serabi buatan Mak Otih memang yang paling terkenal di desa Cipedes ini. Penganan yang terbuat dari campuran tepung terigu yang gurih dan air kelapa, banyak diburu oleh warga desa ini dan menjadi alternatif pilihan untuk sarapan. Cara memasaknya yang masih tradisional—menggunakan wajan yang terbuat dari tanah liat serta kayu bakar di bawahnya untuk mematangkan serabinya—membuat serabi ini memiliki rasa dan aroma yang khas. Varian serabinya hanya dua macam, yaitu topping oncom sangrai untuk rasa asin, dan serabi disiram kuah gula merah atau kinca untuk yang rasa manis. Bahkan, untuk serabi topping oncom bisa ditambahkan telur agar rasanya semakin gurih.

Sopi mengamati tangan Mak Otih yang menyendok adonan serabi ke dalam wajan tanah liat dengan cekatan. Adonan yang masih cair itu kemudian ditaburi oncom sangrai. Asap mengepul dari sana. Aroma serabi yang hampir matang membuat gadis itu menelan saliva berulang kali. Perutnya semakin keroncongan. Terbayang di mulutnya rasa legit kuah kinca bercampur dengan kue serabi yang gurih, lezat rasanya.

Empat orang pemuda iseng mulai melirik nakal ke arah Sopi yang terlihat cantik. Salah satu dari mereka mulai menggodanya.

"Hai, Neng geulis, sendirian aja nih. Boleh Akang temenin?"

"Akang mah mau langsung kenalan aja, boleh enggak?" Seorang pemuda lainnya mulai mendekati Sopi. Sementara dua pemuda yang lainnya hanya tertawa-tawa.

Sopi mulai jengah dengan gangguan dari keempat pemuda itu. Bahkan salah satunya yang tadi minta kenalan mulai berani mencolek lengannya. Segera saja Sopi menepis tangan jahil pemuda jangkung berambut keriting itu. Memangnya aku ini sabun colek apa? pikir Sopi, kesal.

"Widih, si Eneng meuni sombong ih. Belum tahu ya kita ini siapa? Kita teh F4, tapi bukan pemeran di drama Meteor Garden ya. Saya Firman, itu Fikri, Farid, dan Ferdi." Pemuda berkaus biru donker berlogo salah satu superhero terkenal di dunia, menunjuk ke arah ketiga temannya sambil ikut mendekat ke arah Sopi.

Sopi masih membisu, dalam hati ia geram dengan tingkah para pemuda itu. Perempuan di kedai ini kan banyak, kenapa hanya aku yang diperlakukan seperti ini? gumamnya.

Melihat gadis itu beranjak dari tempat duduknya, hendak berlalu dari kedai, keempat pemuda itu malah semakin gencar menggodanya.

"Mau ke mana Neng? Buru-buru amat. Kita kan belum saling mengenal. Tukeran nomor hp aja belum, udah mau pergi. Rumahnya di mana sih? Akang antar ya. Tenang, dijamin aman, selamat sampai tujuan." Pemuda berkaus hitam bergambar logo band Linkin Park mengejar Sopi dan menggenggam tangan gadis itu.

Sopi berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman tangan pemuda itu malah semakin kuat. Ia meringis kesakitan. Keempat pemuda itu tertawa puas.

"Heii, kalian! Lepaskan gadis itu. Belum tahu ya kalau dia itu pacar saya? Seenaknya main antar pacar orang. Yuk, Neng Akang antar." Suara seorang lelaki tampan berdandan ala Kabayan berhasil menghalau keempat pemuda itu. Mereka pun menjauh dari Sopi. Setelah berpamitan pada Emaknya yang tengah membalikkan serabi dari wadah, pemuda itu pun berjalan beriringan dengan sang gadis.

"Yuk, Neng. Enggak usah takut, saya mah bukan lelaki cunihin seperti mereka. Kalau mau jahil ke perempuan, saya selalu ingat sama Emak. Gimana kalau Emak juga digodain kayak gitu? Saya pasti marah besar," ucap lelaki itu setelah agak menjauh dari kedai.

Dalam hati, Sopi memuji ucapan pemuda di sampingnya yang sangat santun dan hormat memperlakukan ibunya. Yang jadi istrinya, sudah pasti akan diperlakukan dengan baik juga. Sopi malu sendiri, dan buru-buru menepis pikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Mereka berjalan berdampingan. Keduanya sama-sama merasa canggung, tak ada yang berani membuka percakapan. Hanya sesekali mereka saling beradu pandang, kemudian sama-sama tersenyum dan menunduk, malu. Hingga tiba di tempat tujuan pun, mereka masih diam seribu bahasa.

Sementara itu, Pak Asep yang sedari tadi merasakan perasaannya tak enak, selalu terbayang wajah putri cantiknya. Rasa kuatir menggelayuti pikirannya, takut sesuatu menimpa Sopi. Sesekali ia menatap ke arah jalan, mencari sosok yang membuat hatinya gelisah. Tidak berapa lama, ia melihat gadis itu. Namun, ia tidak sendirian, seorang pemuda jangkung terlihat berjalan di sampingnya.

"Hei, pemuda, siapa kamu? Kenapa tampang anakku seperti ketakutan begitu? Hmm, mau macam-macam ya sama anak Jawara Pencak Silat ini? Hayu lah, Bapak mah enggak takut. Kita tandang di lapang sebelah!" Pak Asep sudah pasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang sosok yang terlihat sebagai ancaman bagi putri tersayangnya. Sopi dan Aden pun bengong.

Dengan kekuatan penuh, Pak Asep bersiap melayangkan pukulan ke arah pemuda tampan yang sedang berdiri di samping putrinya.

“Daddy—Daddy, calm down.” Sopi menghalangi serangan ayahnya dengan menggenggam tangan pria paruh baya itu yang sudah bulat terkepal dengan sempurna.

“Minggir, Sopi. Biar dia merasakan bogem mentah Bapak. Walau Bapakmu ini sudah tua, tapi Bapak masih kuat. Ayo sini, pemuda, lawan!” Pak Asep menghempaskan tangan Sopi yang menghalanginya.

“Pak Asep? Ini benar Pak Asep kan? Alhamdulillah, akhirnya kita ketemu juga.” Aden mencium punggung tangan pria di hadapannya yang napasnya masih tak beraturan. Emosi memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya memelotot ke arah pemuda itu.

“Apa-apaan kamu? Diajak tanding malah cium tangan? Nyalimu ciut, Jang?” Pak Asep menghempaskan tangan Aden dengan kasar.

“Bapak lupa ya? Ini teh Aden, putranya Mak Otih. Dulu waktu SD Aden kan belajar pencak silat dari Bapak. Wah senangnya masih bisa berjumpa dengan guru bela diri favorit Aden.”

Mendengar penuturan pemuda yang berdiri di hadapannya, perlahan-lahan emosi Pak Asep menurun. “Jadi, ini Aden? Masya Allah, meuni kasep. Maafkan Bapak yang terlalu kuatir dengan keselamatan putri Bapak satu-satunya. Maklum, sejak Ibunya meninggal, hanya dia yang Bapak miliki di dunia ini. Bapak enggak mungkin lupa, hanya tadi mah pangling aja, sampai-sampai enggak ngenalin. Kamu kan yang pernah ngompol, ketakutan karena Bapak bentak, hahaha. Terus kamu itu terkenal paling cengeng di antara murid-murid Bapak yang lain. Kesenggol sedikit saja nangis kejer.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak bekas murid pencak silatnya itu.

Aden tersipu malu sambil melirik gadis cantik di sampingnya yang sedang bengong menyaksikan percakapan antara dirinya dan Pak Asep. “Jadi, Eneng ini teh putrinya Bapak?” lanjutnya.

“Iya, ini namanya Sopi, anak Bapak. Hayu atuh masuk, kita ngobrol-ngobrol di dalam. Sopi suguhkan makanan sama minuman.”

Sopi beranjak menuju dapur menyiapkan suguhan untuk sang tamu. Sementara itu Aden dan sang Ayah sudah duduk di kursi ruang tamu. Sesekali, Pak Asep melirik Aden yang mencuri pandang ke arah Sopi. Sepertinya pemuda itu tertarik pada putrinya. Sebuah senyuman tersungging di bibir lelaki paruh baya itu. Sementara Aden, yang kepergok sedang curi-curi pandang, jadi salah tingkah. Hatinya mengakui perempuan itu memang cantik, hanya dandanannya saja yang menurutnya terlalu berlebihan alias menor. Andai gadis itu berdandan sederhana, aura kecantikannya akan terpancar alami. Tidak berapa lama, Sopi muncul dengan baki berisi dua gelas teh manis dan beberapa stoples berisi kue kering juga makanan ringan.

“Ayo—ayo dimakan, Den,” tawar Pak Asep setelah Sopi menaruh semua bawaannya di atas meja.

“Eh iya, ngomong-ngomong serabi pesanan Bapak mana?” Kali ini pandangan mata pria itu beralih pada Sopi.

“My mood is going down, Daddy. So maafkan Sovia yang tak jadi membelinya.”
Aden menatap heran gadis yang duduk di samping Pak Asep. Buset, bukan hanya dandanannya yang lain, cara bicaranya juga aneh, gumamnya.

“Kok bisa?” Kening Pak Asep berkerut. Tak mengerti dengan kalimat yang diucapkan putrinya barusan. Sejurus kemudian, lelaki itu manggut-manggut menyimak cerita putrinya.

“Duh, Den. Maafkan Bapak yang sudah menuduhmu yang bukan-bukan. Terima kasih telah menyelamatkan putri Bapak." Sudah waktunya Sopi punya pendamping hidup, yang akan melindunginya dari marabahaya, gumam Pak Asep dalam hati sambil menatap lekat-lekat Aden yang sedang mencuri pandang ke arah wajah Sopi. Untung saja, pemuda ini baik hati, jadi dia tetap membiarkan Aden memandang wajah Sopi sampai puas. Kalau pemuda culas yang melakukannya, pasti sudah dia gibas tanpa ampun sampai kapok.
***
“Daddy, ini kopinya.”

“Terima kasih, Sopi.” Gadis cantik itu mengangguk dan beranjak hendak menuju kamarnya.

“Sopi, mau ke mana? Sini duduk dulu sebentar, Bapak mau bicara.”

“Daddy, Sovia mau ke kamar, belum beres merapihkan alis.”

“Bentar doang kok. Enggak nyampe lima belas menit.” Pak Asep menyeruput kopinya. “Sopi, kopi buatan kamu mengingatkan Bapak sama almarhumah Ibumu. Racikannya sama-sama enak. Rasa kopi dan gulanya seimbang, pas.”
Sopi tersenyum melihat Ayahnya yang begitu penuh penghayatan menyeruput kopinya, terlihat sekali pria paruh baya itu menikmati setiap tegukan cairan hitam itu yang masuk ke kerongkongannya.

“Jadi begini, Geulis. Kamu sekarang sudah besar. Kuliah pun sudah selesai.” Pak Asep menatap wajah putri tersayangnya sebelum ia melanjutkan bicara. Pria itu tampak memutar otak mencari kalimat yang pas untuk menyampaikan maksudnya pada Sopi. “Sudah saatnya Bapak melepasmu, Sopi,” lanjutnya.

“Maksud Daddy?” Sopi tercengang mendengar ucapan lanjutan dari Ayahnya. Dahinya berkerut, tak paham dengan arah pembicaraan sang Ayah.

“Begini, Neng. Maksud Bapak—kamu—sudah waktunya kamu punya pendamping hidup.”

“What? Jadi maksud Daddy Sovia harus segera married? Menikah begitu? No, Daddy!”

“Dengar dulu Sopi. Bapak sudah pikirkan matang-matang hal ini. Bapak ....”

“Tapi, Daddy. Sovia enggak mau berpisah dari Daddy.” Sopi mulai terisak.

“Jangan nangis atuh, Neng. Bapak kan jadi ikut sedih. Setelah menikah nanti Sopi boleh kok tinggal di sini. Lagian calon kamu juga tinggalnya deket-deket sini kok.” Pak Asep mengelus lembut punggung putri tercintanya itu.

“Memangnya siapa orangnya, Daddy?” tanya Sopi, heran. Keningnya berkerut, seolah mencari siapa sosok pemuda yang tinggal di dekat sini. Ia menggelengkan kepalanya, nihil. Tak satu pun wajah lelaki yang bisa terbayang di benaknya.

“Kamu mau kan Bapak nikahkan sama Aden?” Pak Asep malah balik bertanya.
Sopi terperanjat mendengar Ayahnya menyebut nama itu. “What? Daddy enggak salah jodohin Sovia sama dia? Orangnya ganteng sih, tapi dandanannya persis seperti si Kabayan. Jangan-jangan dia juga pemalas, sama seperti Kabayan itu.”

“Sopi, kamu ingat waktu dia melindungi kamu dari pemuda-pemuda yang mengganggu?” Sopi mengangguk. “Nah, Bapak rasa dia bisa menjaga kamu dengan baik. Kesan pertama melihat dia, Bapak yakin dia anak yang baik, tidak seperti kebanyakan pemuda lainnya.”

Sopi tertegun. Pak Asep membiarkan gadis itu hanya diam saja, mungkin putrinya sedang mencoba meresapi semua ucapannya. Hanya helaan napas gadis cantik itu yang sesekali terdengar.
Setelah hening beberapa saat, tak lama kemudian, Sopi pun buka suara, “Baiklah, Daddy, beri Sovia waktu untuk berpikir.” Gadis itu menyeret langkahnya menuju kamar, meninggalkan Pak Asep yang di hatinya tengah berharap sang putri mau menerima rencana perjodohan ini.
Satu jam berlalu. Namun, tak ada tanda-tanda Sopi keluar dari kamarnya. Pak Asep pun merasa heran. Ia mulai mengetuk pintu kamar Sopi.

“Sopi, Neng, sarapan yuk.” Tak ada sahutan. “Geulis, Bapak udah bikinin telor ceplok kesukaan kamu. Kita makan bareng yuk.” Tetap tak ada sahutan. “Sopi, lagi apa di dalam? Masih dandan atau lanjutin mimpi? Masa baru juga bangun udah tidur lagi.”

Karena tak terdengar juga sahutan dari Sopi, Pak Asep membuka pintu kamar yang ternyata tak dikunci oleh pemiliknya. Namun, betapa kagetnya Pak Asep saat ia tak menemukan putrinya di dalam kamar itu. Ia mendapati jendela kamar putrinya terbuka lebar.

“Sopi? Kamu di mana, Nak? Ini mah ngajak Bapak main petak umpet ya?” Pak Asep mulai berkeliling ke seluruh ruangan, tetapi tetap saja ia tak menemukan putrinya. “Duh, Sopi. Kamu teh ke mana atuh? Bapak jadi kuatir.” Pak Asep memutuskan kembali ke kamar Sopi, siapa tahu di sana dia bisa menemukan petunjuk. Netra Pak Asep jatuh pada secarik kertas di atas nakas yang berisi tulisan tangan Sopi.

Daddy, maaf, Sovia gak bermaksud bikin Daddy cemas. Sovia hanya kesal mendengar rencana Daddy. Biarlah Sovia bertemu jodoh Sovia dengan sendirinya. Dan Sovia akan menikah setelah benar-benar merasa siap. Don’t worry Daddy, saat Daddy membaca surat ini, Sovia sudah berada di rumah Grandma.

Setelah membaca surat itu, Pak Asep yang sedari tadi pikirannya kalut, kini merasa lega. Bergegas lelaki itu melangkah ke luar hendak menyusul Sopi ke rumah Mak Onah. Wanita itu tampak sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya. Ia merasa heran saat dari kejauhan tampak putranya sedang berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Wanita itu pun menyuruh putranya masuk dan menyodorkan segelas air putih yang langsung diteguk habis oleh Pak Asep.

“Heh, nyari apaan kamu teh? Tuh minum udah Emak ambilin. Kalau cemilan mah kebetulan lagi kosong.” Mak Onah memandang heran putranya yang mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumahnya.

“Mak, Sopi ada di sini?” Kembali Pak Asep mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di rumah Emaknya.

Kening Mak Onah berkerut, heran dengan pertanyaan putranya. “Kalian kan tinggal serumah, kok nanya Sopi ke Emak?”
“Jadi, Sopi enggak ada di sini?” Pak Asep malah balik bertanya. Wajahnya mulai terlihat panik. Ia pun bangkit dari duduknya.

“Mau ke mana, Sep? Ada apa sebenarnya?” Asep menyerahkan surat yang ditulis Sopi kepada Mak Onah. Sejurus kemudian wanita itu membacanya dengan saksama. Raut wajahnya tampak serius.

“Seharusnya sudah sejam yang lalu dia tiba di sini,” ucap Mak Onah pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

“Duh, Sopi teh ke mana atuh ya, Mak?” Hati Pak Asep semakin diliputi rasa kuatir. Peluh mulai bercucuran di pelipisnya. Raut wajah Mak Onah pun sama-sama tegang, ikut merasakan kegelisahan yang sedang melanda putranya.

“Makanya, ini kan bukan zaman Siti Nurbaya. Kamu teh meuni seenaknya jodoh-jodohin Sopi.”

Pak Asep menyesali tindakannya, hingga membuat gadis itu pergi dari rumah. Kini entah di mana putrinya berada. Tak berapa lama, ia pun pamit untuk mencari putri kesayangannya. Namun, Mak Onah yang juga merasa sangat kuatir akan keberadaan cucunya, minta untuk ikut mencari. Akhirnya, mereka berdua berjalan menyusuri desa, berharap menemukan sosok cantik yang sangat dicintai.

“Sep, ngapain kamu bawa Emak ke kedai ini? Kamu belum sarapan? Kenapa tadi enggak makan di rumah Emak atuh?!” Mak Onah tampak kesal saat putranya membawa dia ke kedai serabi milik orang yang sangat dibencinya. Dulu, Mak Otih pernah berusaha merebut sang suami. Untunglah almarhum suaminya itu setia, sehingga tidak tergoda sedikit pun. Matanya menerawang, senyumnya terkembang ketika membayangkan sosok gagah perkasa sang suami yang mirip Gatotkaca.

Pak Asep memandang heran Mak Onah yang memasang muka cemberut. Sungguh, ia tak mengerti mengapa Ibunya begitu membenci Mak Otih dan sama sekali tak mau makam kue serabi yang terkenal lezat ini.

“Assalamuaalaikum, Mak. Aden ada?” Pak Asep mencium takzim punggung tangan Mak Otih. Mak Onah memalingkan wajah melihatnya. Sebal.

“Waalaikumsalam, ada, sebentar ya, Den, Aden, ada yang nyari nih!” teriak Mak Otih. Tidak berapa lama, Aden pun keluar.

“Eh, Pak Asep, ada apa Pak?” Aden mencium tangan Pak Asep, kemudian ia hendak mencium punggung tangan Mak Onah, namun Neneknya Sopi itu tak membalas uluran tangan pemuda ganteng itu.

“Sep, Emak mah pulang aja ya, panas lama-lama berada di sini. Kabari Emak kalau Sopi sudah ditemukan.” Mak Onah melangkahkan kakinya lebar-lebar, bergegas meninggalkan kedai itu, diiringi tatapan bengong Pak Asep dan pandangan heran Aden juga Mak Otih.
“Maafin Emak saya, ya. Beliau lagi sakit gigi, jadinya agak sensitif begitu.” Pak Asep mencoba mencari alasan atas sikap Mak Onah.

Aden memandang heran ke wajah mantan guru pencak silatnya yang kelihatan tegang itu. Pak Asep menceritakan tentang kepergian Sopi dari rumah yang katanya mau minggat ke rumah Nenek, tetapi gadis itu tak diketahui ke mana rimbanya. Setelah pamit pada Mak Otih, mereka berdua pun berangkat menyusuri setiap sudut desa mencari keberadaan gadis cantik itu.
***
“Duh, Den, kita harus cari ke mana lagi ya? Belum terlihat tanda-tanda keberadaan Sopi. Kamu di mana atuh Geulis? Baik-baik aja kan di sana?” Pak Asep terlihat sangat cemas. Wajahnya membiaskan kelelahan. Namun, ia tepiskan rasa itu. Kuatir akan keadaan putrinya lebih besar dibandingkan apapun juga.

“Sabar, Pak, kita belum menyusuri seluruh ruas jalan desa ini. Udah Zuhur, Pak. Kita salat dulu di masjid itu yuk, sambil memanjatkan doa buat Neng Sopi juga.” Aden menunjuk sebuah mesjid besar yang terletak di ujung gang.

Pak Asep mengangguk lemah. Tidak berapa lama, mereka berdua sudah berbaur dengan orang-orang, khusyuk menunaikan salat Zuhur berjamaah di mesjid itu serta memanjatkan doa untuk Sopi.

“Den, kita istirahat sebentar di sini.” Pak Asep menenggak air mineral di dalam botol, kemudian ia menyodorkan satu botol lagi pada Aden. “Nih, minum dulu, Den.”

“Terima kasih, Pak. Oh, ya, boleh Aden tanya-tanya tentang Neng Geulis?” ucap Aden dengan nada ragu dan malu-malu.

“Tentu saja, biar lebih tahu tentang calon istrimu.” Pak Asep memandang wajah pemuda calon menantunya itu, yang raut wajahnya sedang tampak merah jambu itu.

Pipi Aden bersemu merah, hatinya berdesir aneh. “Pak, ngomong-ngomong sejak kapan Ibunya Neng Sopi meninggal?”

“Ibunya meninggal saat melahirkan dia. Makanya Bapak selalu berusaha membahagiakan dia, kasihan sejak kecil dia enggak merasakan kasih sayang seorang Ibu.” Netra Pak Asep berkaca-kaca. Sekelebat bayang wajah sang istri muncul di pelupuk matanya.

Aden manggut-manggut, “Lantas, Pak—maaf sebelumnya kalau Aden lancang, tetapi Aden penasaran sama dandanan juga gaya bicara Neng Geulis yang—maaf, terlihat aneh.”

“Hahaha, iya dia memang unik. Logat bicaranya dan dandanannya seperti itu sejak lulus kuliah jurusan sastra Inggris. Bapak juga enggak tahu dia dapat pengaruh dari mana.” Pak Asep tergelak membayangkan style dandanan dan gaya bicara putri semata wayangnya itu.
Oh, pantesan atuh si Eneng teh begitu. Sekali lagi Aden manggut-manggut.

“Makanya, Den, kalau memang kalian ditakdirkan berjodoh, Bapak titip Sopi ya. Selama ini Bapak belum maksimal membimbing dia, terutama dalam hal agamanya. Tolong, bimbing dia untuk lebih mengenal Islam.” Pak Asep menepuk-nepuk pundak Aden.

Aden mengangguk. “Pak, udah enggak capek kan? Kita lanjutkan mencari Neng Sopi yuk.”

Pak Asep mengangguk, kemudian dua laki-laki itu beranjak dari teras mesjid. Berdua mereka melangkah meninggalkan mesjid, melanjutkan pencarian.
***
Baca cerpen lainnya di sini:
[Link DISINI[URL=]link di sini[/URL]

Cinta Bersemi di Kedai Serabi
Diubah oleh suciasdhan 30-06-2020 09:33
lianasari993Avatar border
firdainayahAvatar border
novianalindaAvatar border
novianalinda dan 79 lainnya memberi reputasi
80
14.6K
634
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
suciasdhanAvatar border
TS
suciasdhan
#156
My Envious
Sahabat Selamanya

kaskus-image

Sumber gambar: Klik

Berkali-kali dering ponsel Dika berbunyi dengan nada agak panjang, pertanda ada panggilan masuk. Shereena merasa kesal mendengarnya. Bukan hanya kali ini saja hal ini terjadi. Berkali-kali, bahkan setiap dia dan kekasih tercintanya itu jalan berdua, selalu saja panggilan dari Roby, sahabat dekat kekasihnya itu muncul.

Kenapa sih dia selalu saja mengganggu? Ada saja alasan Roby untuk menelpon Dika. Ngajak main bareng lah, nitip beli sesuatu lah. Ah, kesal Shereena mendengarnya. Bagi Shereena sahabat kekasihnya itu telah memanfaatkan Dika dan tentu saja mengganggu acara ngedate mereka.
***
Sudah sejak pagi, Shereena berdandan rapi untuk menyambut kedatangan kekasih hatinya. Malam minggu ini rencananya akan mereka lewati bersama dengan menonton film di Blitz PVJ. Mereka janjian ketemuan pukul 02.00 siang. Untuk memastikan riasan wajahnya sudah rapi atau belum, Shereena kembali mematut dirinya di depan cermin. Suara notifikasi bernada pendek tanda pesan WhatsApp masuk, menghentikan kegiatan Shereena.

[Itu pasti dari Dika], pikirnya.

Dengan semangat, perempuan berambut panjang lurus, yang kini tengah dikuncir kuda itu meraih ponsel dari atas meja rias. Benar saja dugaan perempuan cantik itu. Dika mengiriminya sebuah chat lumayan panjang. Isi pesan itu seketika saja sukses merusak mood-nya.

[Sayang, maaf, sepertinya acara nonton kita dicancel, ya, hari ini. Soalnya, Roby barusan telepon. Dia minta diantar ke PMI. Maaf, Honey, acaranya mendadak, jangan marah, ya. Aku janji, besok aku pastikan, kita jadi nonton. Nggak akan ditunda lagi. I love you so much].

Shereena membanting ponsel di tangannya ke atas kasur. Betapa kesalnya perasaan dia. Lagi-lagi Roby, Roby, dan Roby. Lelaki jomlo itu yang selalu jadi pengganggu di setiap acara ngedate mereka. Bukan sekali ini saja Dika membatalkan janji temu mereka dan alasannya selalu saja karena satu sosok itu. Roby.

[Pokoknya, besok aku harus membicarakan hal ini ke Dika. Ini nggak bisa dibiarin terus-terusan begini. Lebih penting mana, sih, aku dan sahabatnya itu? Sebel, deh! Makan hati terus-menerus seperti ini, bisa-bisa badanku kurus kering], gumamnya geram. Perempuan itu mengusap kasar riasan wajahnya dengan tissue basah, lalu membuka tali pengikat rambut, hingga rambut ekor kudanya, kini tergerai berantakan. Penampilan Shereena sama hancurnya dengan perasaannya saat ini. Untuk ke sekian kalinya, gagal total sudah janji temunya dengan Dika. Emosinya telah naik mencapai ke ubun-ubun. Makan seblak pedas level super maksimal enak, kali, ya, buat pelampiasan. Perempuan itu mendengkus kesal, lalu ke luar kamar, menuju kedai seblak di pinggir jalan seberang gang rumahnya.
***

Esoknya, Shereena sudah tak merasa seantusias kemarin menantikan kedatangan kekasihnya. Mau datang syukur, nggak pun, tak peduli. Begitu kira-kira ungkapan hatinya. Pikiran dan hati Shereena masih kesal dengan kejadian ditundanya acara ketemuan kemarin. Dia berdandan seadanya saja. Ditambah lagi, di luar hujan turun semakin deras.  Waktu sudah menujukkan pukul 03.00, padahal, Dika berjanji akan menjemputnya paling lambat pukul 02.00. Shereena meyakini, kali ini Dika akan kembali menunda ngedate dengan menggunakan hujan deras sebagai alasannya.

[Dia tak akan datang lagi], gumamnya lirih sembari memandangi titik-titik air hujan yang menempel di jendela kamarnya.

Tepat pukul 03.30 terdengar bunyi ketukan pintu kamar Shereena diringi suara lembut Mama.

“Sayang, di luar ada Dika tuh."

“Iya Ma, bentar lagi aku keluar.”

Shereena tersenyum sinis. Hmmm, inilah saatnya dia meluapkan kekesalan tentang sahabat kekasihnya itu. Harus, dia harus membahasnya!

Ketika sudah sampai di ruang tamu, Shereena melihat kekasih tercintanya itu basah kuyup. Tangan kanan Dika menggenggam setangkai mawar pink, dan di tangan kirinya memegang sekotak cokelat.

[Ya, ampun, Dika. Dia memang selalu bisa meredam amarahku]. Shereena memandang iba kekasihnya.

"Maafin aku kemarin, ya, Sayang," ucap Dika sembari berlutut di hadapan Shereena.

Perempuan cantik itu menjadi tak tega meluapkan kekesalan hatinya. Emosi yang sejak kemarin-kemarin dipendamnya, menguap entah ke mana. Keromantisan yang ditunjukkan sang kekasih, membuat amarahnya menghilang, berganti dengan rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak. Shereena bergegas mengambil handuk dan membuatkan secangkir cokelat panas untuk kekasih hatinya itu.
***
Senin ini Shereena tak pergi kemana-mana. Selain pembagian raport di sekolahnya sudah selesai, pekerjaan administrasi guru pun sudah ia rampungkan sejak satu minggu yang lalu. Shereena libur mengajar sampai tanggal 11 Januari. Dika, sang kekasih tersayangnya barusan mengiriminya chat WhatsApp dan mengabarkan bahwa dia sedang sibuk mengerjakan tugas operator di sekolah tempat Dika mengajar. Dilanda rasa bosan, Shereena mulai membuka ponsel dan masuk ke akun facebooknya. Tak terasa, sudah 1 jam lamanya dia berselancar di facebook, tetapi, tak ada satu pun hal yang seru atau pun menarik perhatiannya selama dia mejelajahi laman salah satu jejaring sosial yang penggunanya bejibun di seantero dunia. Ketika dia hendak ke luar dari akun facebook-nya, tiba-tiba matanya tertuju pada menu bagian orang yang mungkin anda kenal. Dari sekian banyak profil yang muncul, nama akun facebook Dika Part II lah yang menerbitkan rasa penasarannya. Apalagi, saat melihat foto profil kekasihnya berdua dengan Roby, Shereena semakin merasa heran, seraya mengerutkan dahinya.
[Kenapa Dika nggak pernah cerita punya akun ini?].

Jemari lentiknya mulai menekan nama itu dan membuka akunnya. Shereena merasa sangat terkejut ketika membuka akun itu. Di wall akun itu lebih banyak lagi foto-foto Dika sedang berpose dengan Roby. Sejumlah tanya mulai berkecamuk dalam benaknya.

[Ada apa ini? Apa mereka menyembunyikan sesuatu?]

Terbayang di benak Shereena kedekatan Dika dengan Roby. Roby yang selalu lebih tahu tentang Dika dibanding dia. Roby yang selalu menelepon Dika dan mengganggu setiap kali dia dan kekasihnya bertemu. Shereena bergidik ngeri. Pikiran buruk mulai menyergap benaknya.

Apa mungkin kekasihnya dan Roby punya hubungan lain selain sekadar sahabat? Mengingat Roby sampai seusia ini belum punya kekasih. Terbayang juga Dika yang selalu perhatian terhadap Roby. Apa pun yang Roby suruh selalu Dika turuti. Kerap kali Dika malah lebih mendengarkan apa kata Roby dibanding kata-katanya dan Dika lebih sering mementingkan Roby daripada dirinya. Mendadak kepala Shereena terasa berputar memikirkan hal ini. Perempuan cantik itu berkali-kali menghirup dan mengembuskan napas, berusaha meredakan perasaan tak nyaman yang semakin menyelimutinya.

[Besok aku harus membicarakan hal ini ke Dika. Kamu harus kuat, Sher. Ingat, jangan gampang luluh oleh sikap romantisnya.]

Setelah ke luar dari akun facebook-nya, Shereena segera menelepon Dika.

“Dik, besok temui aku di Cafe langganan kita. Ada yang ingin aku tanyakan.”
***
Sudah sejak pukul 11.00 siang Shereena dan Dika berada di Wiki’s Cafe Braga. Mereka duduk berhadap-hadapan tanpa saling bicara. Perempuan itu sedari tadi hanya mengaduk-aduk minuman yang telah dipesannya dengan sedotan sambil memasang wajah serius, tanpa melihat ke arah Dika. Sementara, Dika sejak tadi mengamati kekasihnya yang hanya diam mematung hingga mengundang sejumlah tanya dalam benak lelaki itu.

"Ada apa, sih, Sayang? Kok, kayaknya serius banget? Apa yang mau dibicarakan? Soal acara lamaran aku ke keluargamu? Pasti‐lah, Sayang. 2021. Tunggu aja.” Suara Dika memecah keheningan di antara mereka, seraya memberi tambahan kedipan mata. Hal ini membuat Shereena bergidik, saat kembali terlintas di benaknya akun facebook rahasia antara Dika dan Roby yang tak sengaja dia temukan.

“Bukan masalah itu, Dik.”

Shereena mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang kulit berwarna cokelat berukuran kecil miliknya lalu menunjukkan akun facebook Dika yang dia temukan kemarin.

“Ini maksudnya apa Dik? Kenapa kamu nggak pernah cerita punya akun ini? Sebenernya kamu dan Roby itu hubungannya seperti apa, sih? Kenapa kamu lebih perhatian sama dia daripada sama aku? Kenapa di setiap kita ketemuan dia selalu mengganggu? Kenapa kamu selalu lebih mementingkan dia daripada aku? Kamu sering membatalkan ketemuan kita karena dia. Kamu selalu lebih mendengarkan kata-kata dia daripada aku. Jadi sebenernya lebih penting mana aku dan dia? Jangan-jangan kamu dan dia ....” Usai membombardir sang kekasih dengan luapan emosi yang telah lama dipendamnya, Shereena tak dapat lagi menahan tangis. Kedua pipi mulusnya kini telah banjir air mata.

Dengan tetap memperlihatkan sikap tenang, lelaki berambut model undercut dan bercambang tipis itu mengambil ponsel dari tangan kekasihnya, kemudian mulai melihat akun yang ditunjukkan Shereena.

“Sayang, mungkin itu Roby sendiri yang membuatnya sebagai tanda persahabatan aku dan dia." Dika meraih jemari Shereena dan menggenggamnya.

"Bukankah kita sudah lebih dari 3 tahun membina hubungan ini? Kamu, kan, orang yang paling tahu, aku ini seperti apa. Sayang, aku pasti jujur bicara padamu kalau ada apa-apa. Selama ini aku tak pernah menyembunyikan apapun darimu, bukan? Segala hal, apa pun itu, aku pasti cerita ke kamu." Jemari Dika mengusap lembut air mata Shereena.

Shereena menepis jemari Dika yang mendarat di pipinya. Perempuan itu masih belum bisa mengendalikan emosinya.

"Kamu bisa berpikir begitu! Bagaimana dengan perasaan Roby? Dalamnya hati orang, siapa yang bisa menyelami? Apalagi, dia belum punya pacar!"


Dika menghela napas berat. Kemudian kembali menggenggam jemari kekasihnya.

"Soal kedekatan aku dengan Roby, kami bersahabat sejak kecil. Keluarga kami akrab satu sama lain. Aku dan dia sudah seperti saudara. Sayang, kami masih lelaki normal dan akan selalu begitu."

Shereena menatap wajah Dika, memastikan kejujuran ucapan kekasihnya. Manik mata keduanya sekilas beradu. Perempuan cantik itu memalingkan pandangan. Sebelum ucapan Dika terbukti benar, Shereena bertekad tak akan semudah itu luluh. Namun, kali ini, dia membiarkan kedua jemarinya berada dalam genggaman lelaki itu.

"Maaf kalau aku memang sering mengabaikanmu karena kesibukanku dan maaf kalau aku selama ini tak memperhatikan kata hatimu juga keinginanmu. Sekali lagi maaf,  Sayang. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Bila memang persahabatan aku dan Roby membuatmu merasa tak nyaman, aku akan menjauhinya. Apapun akan aku lakukan, asal kamu bahagia, Sher."

Shereena bingung apakah ia harus senang atau sedih mendengar penuturan kekasihnya itu. Namun, perasaan tak enak seketika saja menyeruak. Dia telah menjelma menjadi perempuan yang egois karena sudah berniat membuat renggang sebuah hubungan persahabatan yang telah terjalin jauh sebelum dia menjadi kekasih Dika.

“Sayang. biar lebih meyakinkan, gimana kalau Roby aku suruh ke sini?”

Shereena hanya mengangguk lemah. Dalam hati, dia merasa sangat bersalah dan juga malu karena telah menuduh Dika yang bukan-bukan.

Tepat pukul 13.00 Roby tiba di Wiki’s Cafe. Dia menyalami dan menyapa Shereena dengan ramah, kemudian bersalaman erat dengan Dika disusul melakukan tos bersama.

“Hai, Bro, ada apa ini? Kok, kayaknya serius banget? Kalian, tuh, tega, ya. Jomlo seperti aku disuruh jadi saksi meet and greet sepasang kekasih. Membuat hati ini semakin meronta-ronta mendamba hadirnya bidadari surga.” Roby duduk di bangku, kemudian memandang ke arah Shereena yang sedang menekuri gelas minumannya. Lelaki berperawakan jangkung kurus itu berpaling kepada Dika, menuntut penjelasan.

“Gini, Bro, calon istriku tercinta ini ingin mendengar cerita langsung dari kamu tentang persahabatan kita dan ingin menanyakan soal akun ini.” Dika mendekatkan ponsel Shereena kepada Roby.

“Oooh tentang itu. Jadi begini Sher. Dulu, aku punya adik laki-laki. Kalau sampai sekarang masih ada, umurnya kira-kira sebesar pacarmu ini. Namun, sayangnya penyakit langka telah merenggut nyawa dia. Adikku hanya bertahan sampai usia 5 tahun. Aku sangat kehilangan dia, karena ketika masih hidup, dia satu-satunya teman bermainku. Saat bertemu dengan Dika untuk pertama kalinya, aku seperti melihat sosok adikku dalam diri dia. Kesamaan hobi, kesamaan profesi, dan banyak hal membuat aku merasa cocok bersahabat dengan Dika. Kami sudah sejak kecil bersahabat sampai kapan pun akan seperti itu."

Seorang pelayan berseragam ungu muda mendekati meja mereka dengan membawa nampan berisi segelas vanilla latte pesanan Roby, lalu menaruh gelas itu di atas meja. Roby menyeruputnya sedikit.

"Jadi, Sher, nyantai aja. Walaupun aku jomlo, tapi aku pria sejati, kok. Masih suka sama perempuan cantik. Aku minta maaf sama kamu kalau selama ini kehadiranku mengganggu hubungan kalian. Sunnguh aku nggak ada maksud seperti itu. Sekali lagi aku tegaskan, aku dan pacar kamu ini bener-bener bersahabat sebagai sesama lelaki normal, kok. Nggak ada apa-apanya." Roby kembali menyeruput minumannya, lalu mengamati ponsel yang tadi disodorkan Dika.

"Soal akun ini aku yang buat. Nggak ada maksud apa-apa cuma sebagai tanda persahabatan aja.”

Shereena menelan saliva. Dia menyeruput hot chocolate yang sejak tadi diabaikannya dan sudah mulai dingin untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Perempuan itu mulai menyusun kata-kata di benaknya dan berharap, lidahnya tak menjadi kelu untuk berucap.

“Maafin aku sudah menuduh yang bukan-bukan. Ini karena aku merasa diabaikan, aku jadi merasa kesal dan sempat membenci kehadiranmu di antara kami. Maaf, Rob, Dik. Aku nggak mau jadi manusia egois yang merusak persahabatan kalian.” Shereena kembali tersedu. Dika mengelus-elus lembut punggung perempuan terkasih, berusaha meredakan tangisnya.

“Ya sudah, semua sudah clear, kan? Jangan ada cry, cry, lagi, deh. Keep smile dan silakan lanjutkan ngedate-nya. Aku mau window shopping dulu ke BEC, siapa tahu bertemu jodoh." Roby beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah pergi.

“Rob! Janji, ya, setelah kami menikah, kalian tetap bersahabat dekat,” ucap Shereena tulus.

“Itu pasti,” ujar Roby, kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti oleh suara Shereena barusan.

Setelah Roby berlalu, Shereena meminta maaf kepada Dika seraya memeluk sang kekasih.

“Dik, maafin aku, sudah menuduhmu yang bukan-bukan.”

“Nggak apa-apa, Sayang. Aku juga minta maaf karena terlalu sering mengabaikanmu dan kurang memperhatikanmu. Wajar saja kalau kamu jadi uring-uringan. Aku janji, akan menjadi kekasih yang lebih baik lagi.”

Angin sejuk berembus di luar sana disertai rintik hujan yang perlahan-lahan mulai membasahi bumi, turut menemani dua hati yang tengah dipenuhi rasa cinta.


Baca cerpen lainnya: Klik
Diubah oleh suciasdhan 31-03-2021 22:56
081364246972
inaroses
ummuza
ummuza dan 19 lainnya memberi reputasi
20
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.