- Beranda
- Stories from the Heart
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
...
TS
reloaded0101
CEREBRO : KUMPULAN CERITA CINTA PAKAI OTAK
Judul thread ini ane ganti, sekarang tidak semua cerpennya mengisahkan cinta. Tetapi temanya lebih umum, ada detektif,sci-fi,horor,thriller,drama dan lain-lain yang tidak selalu melibatkan percintaan antar karakternya.
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
INDEX BARU:
CERITA 2020
AZAB ILMU PELET
MUDIK 2020
Terima kasih untuk Agan Gauq yang sudah membuatkan index cerita ini.
Index by Gauq:
INDEX
INDEX lanjutan
Cerita baru 2019:
KISAH-KISAH MANTAN DETEKTIF CILIK di postingan terakhir halaman terakhir
Spoiler for :
Quote:
INDEX
RUMAH SERIBU JENDELA DI POST INI
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
SETIA
DEAD OR ALIVE
MAKAN TUH CINTA
KALAU JODOH TAK LARI KEMANA
OUTLIER
MAKAN BATU
TA'ARUF
INDEX PART 3
INDEX PART 4-new
Langsung saja cerpen pertama
Apa yang akan kau lakukan ketika dia yang kaucinta meminta syarat berupa rumah dengan 1000 jendela sebelum menerima cintamu?
Spoiler for :
RUMAH SERIBU JENDELA
Leo merogoh saku belakang celana hitam barunya. Sebuah sisir kecil diambilnya dari kantong itu. Sambil melihat spion, ia merapikan kembali rambut yang sempat dipermainkan angin selama dalam perjalanan, maklum saja kaca pintu depan mobilnya rusak dan hanya bisa ditutup setengahnya saja. Setelah dirasa sudah rapi, Leo dan rambutnya keluar dari roda empatnya kemudian berjalan dengan jantung berdegup kencang menuju rumah nomor 2011 dan menekan belnya. Sang pembantu rumah keluar dan menyapanya
“Oh Mas Leo ”
“Riska-nyaada Bi?”
“Oh ada, sebentar saya panggilkan.”
Beberapa menit kemudian seorang wanita muda cantik berusia 20 tahunan awal keluar, mendapati Leo yang sedang menghirup teh celup panas buatan Bibi.
“Mau pergi ke pestanya siapa? Perasaan teman kita nggak ada yang ulang tahun atau nikah hari ini.”
Tanya Riska.
“Memang tidak ada.”
“Kalau nggak ke kondangan, mengapa pakai baju serapi ini? Sok formal banget. ”
“ Harus formal, kan mau melamar.”
“Ngelamar kerja?”
Leo menggeleng. Jantungnya berdegup makin kencang.
“Bukan.”
“Lalu melamar apa?”
“Kamu.”
Kata Leo sambil bersimpuh dan mengeluarkan sebuah kotak merah berisi cincin emas dengan sebuah berlian berukuran mini di tengahnya. Sementara itu Riska mundur beberapa langkah ke belakang.
“Aku? kita kan nggak pernah pacaran?”
“Tetapi kita sudah saling mengenal belasan tahun Ris. Aku tahu apa yang kamu suka, aku tahu apa yang kamu tidak suka, aku tahu bagaimana kamu selalu menghentakkan kaki kirimu ke tanah ketika mendengar kabar gembira,
aku tahu bagaimana kau selalu mencengkeram erat kertas tisu di tanganmu waktu kau sedang gugup, dan aku tahu aku mencintaimu. ”
“Tapi kamu kan nggak tahu apakah aku juga cinta kamu?
“Karena aku tidak tahu, bagaimana kalau kamu beritahukan padaku sekarang.”
“Mmm, gimana ya? Untuk urusan cinta, apalagi orientasinya nikah. Tentu aku maunya sama pria yang sungguh-sungguh.”
“Cintaku kepadamu sungguhan Ris, bukan bohongan atau tren musiman.”
“Sejak kapan lidah punya tulang?”
“Kau tidak percaya pada kata-kataku?”
“Aku butuh bukti Yo, bukan janji.”
“Baik, bukti seperti apa yang kauminta Ris?”
“Tidak ada yang mustahil untuk orang yang sungguh-sungguh. Demi cinta Shah Jehan mampu menciptakan Taj Mahal untuk istrinya.”
“Lalu apa yang kau inginkan agar mau menjadi istriku Ris?”
“Buatkan aku rumah dengan 1000 jendela.”
“Baik”
“Jika kau mampu menyelesaikannya dalam waktu 24 jam aku akan menerimamu tetapi jika tidak ya kita temenan saja ya Yo.”
“Buat rumah 1000 jendela dalam waktu 24 jam. Sudah itu saja?”
“Memangnya kamu bisa?”
“Akan kucoba semampuku.”
“Baik aku tunggu hasilnya besok. Good luck.”
Leo pun pergi dari halaman rumah itu dan menuju mobilnya sambil mengambil nafas panjang. Ia memacu kendaraannya dan pergi ke beberapa toko kelontong dan toko bangunan. Banyak hal yang dibelinya. Setelah selesai berbelanja, benda-benda itu dibungkus dalam beberapa kantong kresek dan kardus yang dijejalkan ke bagasi mobil.
Pulang ke rumah Ia langsung menuju ke halaman belakang yang luas dan masih berupa lahan kosong yang hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
Leo mengambil nafas panjang lalu menghelanya dan mulai bekerja. Ia menurunkan semua barang yang ia beli. Tak lama kemudian suara gaduh dari palu bertemu paku terdengar berulang-ulang hingga malam tiba.
Malam harinya halilintar menyambar, disusul hujan yang turun sederas-derasnya. Air membanjiri halaman belakang yang masih tetap kosong dan hanya dihuni oleh rimbun ilalang dan satu dua pohon nangka.
“Ris bisa mampir kerumah sekarang? ada sesuatu yang mau kuperlihatkan padamu.”
Kata Leo keesokan harinya lewat ponsel yang dijawab dengan gugup oleh Riska.
“I...iya.”
Dalam hati gadis itu berpikir, bagaimana ini? Apa Leo bisa menyelesaikan permintaan yang mustahil itu? Memang sih dia itu baik, cerdas dan tidak sombong tapi Riska tidak mencintainya. Ia memberikan syarat itu dengan tujuan agar Leo gagal dan mereka berdua bisa kembali happily everafter...meskipun hanya di friend zone saja.
Riska sampai di depan rumah Leo dan heran mendapati mobil ayahnya terparkir di halaman. Ketika masuk ke dalam ia mendapati ayahnya sednag bercakap-cakap di beranda bersama Leo.
“Kok Papi bisa ada di sini?”
“Aneh kamu ini Ris, Masak Papi nggak boleh sowan ke rumah calon suamimu?”
“Calon suami? Calon suami apa?”
“Kan kamu sendiri yang mengajukan syarat, kalau Nak Leo bisa membuat rumah yang memiliki 1000 jendela dalam waktu 24 jam, kau akan menikahinya?”
“Memangnya bisa?”
“Nak Leo tunjukkan!”
Leo masuk ke dalam dan mengambil sebuah benda yang ditutup taplak meja.
“Apaan nih?”
Tanya Riska dengan tanda tanya menggantung di atas kepalanya.
“Yang kau minta.”
Kata Leo sambil membuka taplak meja itu dan memperlihatkan sebuah rumah berukuran sedikit lebih besar dari telapak tangan yang terbuat dari ribuan tusuk gigi.
“Papi sudah hitung sendiri jendelanya ada 1000 pas.”
“Tapi ini kan kecil sekali.”
“Di syaratmu tidak disebutkan ukurannya harus besar.”
“Tapi ini...definisi rumah kan tempat tinggal, siapa yang bisa tinggal di rumah sekecil ini. Paling-paling juga semut.”
“Di syarat yang kamu ajukan tidak ada keterangan kalau harus rumah manusia. Rumah semut kan juga termasuk dalam kategori rumah.”
Riska serasa disambar geledek. Ia menyesal mengapa tidak jelas dan detail ketika meminta syarat itu kemarin.
“Papi say something dong, belain Riska?”
“Menurut Papi rumah buatan Nak leo ini sudah memenuhi syarat.”
“Jadi Papi setuju punya menantu seperti dia ini?”
“Tentu saja setuju, kalian sudah kenal dari kecil, Papi juga kenal Nak Leo dari kecil. dia juga cerdas dan pernah magang di kantor kita jadi tahu kultur organisasi kita kayak gimana. Nanti kan bisa bantuin kamu waktu gantiin Papi megang perusahaan.”
“Tidaaaaak!!!!”
Riska pun pingsan karena shock. Otak kanannya seolah mengejek, melakukan bullying bawah sadar terhadapnya sambil terus-menerus berkata.
“Makanya Ris, kalau minta sesuatu itu yang jelas.”
end
Diubah oleh reloaded0101 15-05-2020 14:17
indrag057 dan 37 lainnya memberi reputasi
34
190.7K
Kutip
1.1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
reloaded0101
#1131
AZAB ILMU PELET
Spoiler for :
Sebuah limousine meluncur di tengah terangnya malam. Kerlap-kerlip lampu kasino di kanan kiri jalanan Las Vegas terasa begitu mempesona bagi mereka yang baru pertama kali melihatnya. Hal ini berbeda dengan pria berjas putih yang duduk di dalam mobil itu. Sering wara-wiri di kota-kota besar dunia membuat pemandangan seperti itu terasa biasa saja tidak istimewa.
Pria itu meraih ponsel lapis emasnya lalu membalas pesan teks dari manajernya. Setelah itu ia menyalakan TV, acara infotainment. Tayangan itu sedang membicarakan….dirinya. DImulai dari pembukaan dari presenter kemudian dilanjutkan dengan komentar dari beberapa artis temasuk mantan-mantannya yang diwawancarai oleh stasiun tersebut.
Jennifer Lorens mengatakan
“Paijo? Always hungry for him.”
Emma Winston berkata
“He can make me feel so ‘leviosa’.”
Selanjutnya Prancis Halton
“He’s hot.”
DIsusul oleh Teller Sweet
“Among my exes….he’s the best.”
Dan sederet bintang-bintang terkenal lainnya. Semuanya memuji-muji betapa tampan dan seksinya Paijo. Siapa sebenarnya Paijo? Kita mundur ke lima belasan tahun lalu. Tepatnya di salah satu kawasan pedesaan.
Siang sepulang sekolah, anak-anak berseragam putih merah tampak berkerumun di sekeliling sepeda penjual es wawan. Salah satu dari mereka tiba-tiba berkata.
“Hari ini aku yang traktir.”
“Hore!!!!!”
“Jadi semuanya dapat es gratis nih Min?”
“He-em, kecuali….Paijo.”
“Hore!”
Semuanya bergembira kecuali Paijo yang terduduk lesu dengan bermandi peluh di dekat batu besar bawah pohon besar. Jampelajaran terakhir tadi adalah Pendidikan jasmani, setelah olahraga ia haus sekali dan ingin minum tetapi uangnya tidak cukup untuk membeli es.
“Min, mengapa Paijo nggak ditraktir sekalian?”
“Masak nggak tahu alasannya?”
“Karena dia…jelek?”
“Betul No.”
“Aku kamu traktir…..beararti aku nggak jelek dong.”
“Jelek sih, tapi nggak separah Paijo.”
“Paijo jelek….Paijo jelek….Paijo jelek.”
Mereka ganti mengerumuni Paijo yang hanya bisa menangis meratapi nasib.
Hari berlalu, Paijo pun tumbuh dewasa. Sepulang sekolah ia naik sepeda motor bareng temannya. Teman wanitanya itu bernama Poppy. Beda dengan teman-teman SD-nya Poppy sangat baik dan tidka memandangnya sebagai seorang yang buruk rupa.
“Kita lewat mana Pop?”
“Jalan Gajah saja.”
“Waduh, apa tidak bisa lewat jalan lain?”
“Ada sih lewat gang nangka tapi muter.”
“Nggak apa-apa deh muter.”
“Memangnya kenapa Jo?”
“Kata temanku hari ini di jalan besar akan ada razia.”
“Oh…”
Paijo menuju gang Nangka tetapi tiba-tiba motornya direm.
“Waduh razianya pindah kemari ternyata.”
Katanya kepada Poppy yang menarik nafas panjang ketika petugas menghampiri sepeda motor keduanya.
“Selamat siang tolong lepaskan helmnya.”
Kata petugas dengan tulisan Razia orang jelek di seragamnya. Paijo menurut dan sekali lagi iapun dibawa ke kantor. Tak lama kemudian ibunya datang menebus dirinya.
“Ibu jual kambing kita yang terakhir buat nebus kamu lagi.” Kata wanita setengah baya itu sambil terisak. Ia llau menyambung
“Kalau begini terus kita tidak punya apa-apa lagi Jo.”
“Tenang Mak, biar Jo yang cari kerja.”
Paijo-pun mencari kerja, surat-surat lamaran ia kirimkan tetapi semuanya ditolak karena dia tidak punya surat keterangan ganteng dari instansi kenegaraan. Kondisi keuangan keluarganya ambruk dan ibunya yang sakit-sakitan pun tak punya uang lagi untuk berobat. Wanita keluarganya satu-satunya itu akhirnya meninggal. Putus asa, Paijo merenung lalu tak lama kemudian sebuah solusi muncul di benaknya.
“Aku harus ganteng….paling ganteng.”
Jalan pintas ditempuhnya, ia pergi ke dukun berbekal hasil penjualan rumah. Sang dukun berkata
“Kalau mau ganteng operasi plastik saja.”
“Masak tidak bisa Mbah?”
“Ada sih cara lain, kamu tidak akan jadi ganteng tapi akan digilai banyak wanita.”
“Yang kaya juga Mbah?”
“Wanita kaya,miskin,cantik,jelek semuanya akan jatuh cinta padamu.”
“Wah mau Mbah. Tapi pasti syaratnya berat kan Mbah?”
Dukun tua itu mengangguk.
“Nggak apa-apa deh Mbah.”
“Selain syarat juga ada pantangan. Kamu tidak boleh makan daun kelor atau tertusuk bambu kuning.”
Semua itu seolah baru kemarin terjadi di ingatan Paijo. Masa-masa dimana dia bertapa di tempat-tempat angker,puasa non stop tujuh hari tujuh malam hingga mandi kembang dari air tujuh telaga serasa begitu nostalgic di benak pria muda berkharisma ini.
Iapun masih ingat dengan wanita pertama yang ia pacari.
“Poppy.”
“Eh Jo, silahkan masuk. Ada perlu apa nih?”
“Ada perlu sama Mama kamu.”
Ibu Poppy adalah direktris perusahaan tempat Jo pernah mengirim lamaran tetapi ditolak. Wanita itu pacar pertamanya. Lalu bagaimana dengan Poppy? Tentu saja diai yang kedua. Hubungan aneh itu tak berlangsung lama, setelah merasa cukup menguras harta ibu-anak ini, Paijo memutuskan memancing ikan yang lebih besar.
Peletnya mampu memikat ibu-ibu sosialita nusantara. Istri pejabat, pengusaha konglomerat hingga artis-artis terkenal yang wira-wiri di layar TV. Tua, muda hampir semua pernah dikencaninya, sekaligus diporotinya. HIngga suatu saat….
“Hollywood?”
“And I will be your manager.”
Itulah awal perkenalannya dengan Rick manajernya dan dunia acting. Tak tanggung-tanggung,Paijo akhirya main film di Amerika Serikat dan langsung box office. Pesona ilmu pengasihannya di layar lebar seperti magnet yang menarik penonton-penonton remaja putri ke bioskop.
“Oh God he’s sooooo cute.”
“Paijo Marry me!”
Seperti diceritakan di awal, si itik buruk rupa yang dulu sengsara kini tiada lagi, berganti dengan superstar papan atas internasional, Casanova era 4.0 idaman kaum hawa yang rich and famous. Sosok yang kemana-mana sellau naik tunggangan mewah lengkap dengan sopir dan pengawal pribadi.
“Be right there sweetie.” Katanya lalu menutup telepon. Tak lama kemudian limo berhenti di basement sebuah apartemen. Setelah naik lift khusus ke penthouse, sesosok cantik berambut pirang menyambutnya. Ia adalah Scarlet pacar eh salah korban pelet Jo yang terbaru.
“Tea?” Tanya Jo.
“You said you were homesick so I bought this from Indonesia.”
Paijo meminumnya,rasanya pahit,harum dan hangat.
“Damn…what tea is this?"
“Ke….ke…kerol or…kelor yeah kelor leaves tea.”
Paijo langsung menyemburkan minuman dalam mulutnya tetapi terlambat. Flashback percakapannya dengan Mbah dukun terngiang kembali.
“Jangan sampai kamu makan daun kelor.”
“Ilmu saya bisa hilang Mbah.”
“Bukan ilmumu tapi nyawamu.”
Paijo kejang-kejang diatas karpet. Mulutnya berbusa dan sepuluh menit kemudian ambulan datang membawanya ke rumah sakit. Ia dinyatakan meninggal dalam perjalanan akibat sesak nafas karena alergi.
Keesokan harinya, cemetery dipenuhi ribuan orang, kebanyakan gadis remaja dengan mata sembab. Scarlet tampak menangis dibalik kerudung hitam transparannya ketika empat pengusung peti mati tiba sambil menari. Tak lama kemudian peti itu diturunkan, diantara dua batu nisan bertuliskan
‘Here lies Paijo, the sexiest man on earth.’
Pria itu meraih ponsel lapis emasnya lalu membalas pesan teks dari manajernya. Setelah itu ia menyalakan TV, acara infotainment. Tayangan itu sedang membicarakan….dirinya. DImulai dari pembukaan dari presenter kemudian dilanjutkan dengan komentar dari beberapa artis temasuk mantan-mantannya yang diwawancarai oleh stasiun tersebut.
Jennifer Lorens mengatakan
“Paijo? Always hungry for him.”
Emma Winston berkata
“He can make me feel so ‘leviosa’.”
Selanjutnya Prancis Halton
“He’s hot.”
DIsusul oleh Teller Sweet
“Among my exes….he’s the best.”
Dan sederet bintang-bintang terkenal lainnya. Semuanya memuji-muji betapa tampan dan seksinya Paijo. Siapa sebenarnya Paijo? Kita mundur ke lima belasan tahun lalu. Tepatnya di salah satu kawasan pedesaan.
Siang sepulang sekolah, anak-anak berseragam putih merah tampak berkerumun di sekeliling sepeda penjual es wawan. Salah satu dari mereka tiba-tiba berkata.
“Hari ini aku yang traktir.”
“Hore!!!!!”
“Jadi semuanya dapat es gratis nih Min?”
“He-em, kecuali….Paijo.”
“Hore!”
Semuanya bergembira kecuali Paijo yang terduduk lesu dengan bermandi peluh di dekat batu besar bawah pohon besar. Jampelajaran terakhir tadi adalah Pendidikan jasmani, setelah olahraga ia haus sekali dan ingin minum tetapi uangnya tidak cukup untuk membeli es.
“Min, mengapa Paijo nggak ditraktir sekalian?”
“Masak nggak tahu alasannya?”
“Karena dia…jelek?”
“Betul No.”
“Aku kamu traktir…..beararti aku nggak jelek dong.”
“Jelek sih, tapi nggak separah Paijo.”
“Paijo jelek….Paijo jelek….Paijo jelek.”
Mereka ganti mengerumuni Paijo yang hanya bisa menangis meratapi nasib.
Hari berlalu, Paijo pun tumbuh dewasa. Sepulang sekolah ia naik sepeda motor bareng temannya. Teman wanitanya itu bernama Poppy. Beda dengan teman-teman SD-nya Poppy sangat baik dan tidka memandangnya sebagai seorang yang buruk rupa.
“Kita lewat mana Pop?”
“Jalan Gajah saja.”
“Waduh, apa tidak bisa lewat jalan lain?”
“Ada sih lewat gang nangka tapi muter.”
“Nggak apa-apa deh muter.”
“Memangnya kenapa Jo?”
“Kata temanku hari ini di jalan besar akan ada razia.”
“Oh…”
Paijo menuju gang Nangka tetapi tiba-tiba motornya direm.
“Waduh razianya pindah kemari ternyata.”
Katanya kepada Poppy yang menarik nafas panjang ketika petugas menghampiri sepeda motor keduanya.
“Selamat siang tolong lepaskan helmnya.”
Kata petugas dengan tulisan Razia orang jelek di seragamnya. Paijo menurut dan sekali lagi iapun dibawa ke kantor. Tak lama kemudian ibunya datang menebus dirinya.
“Ibu jual kambing kita yang terakhir buat nebus kamu lagi.” Kata wanita setengah baya itu sambil terisak. Ia llau menyambung
“Kalau begini terus kita tidak punya apa-apa lagi Jo.”
“Tenang Mak, biar Jo yang cari kerja.”
Paijo-pun mencari kerja, surat-surat lamaran ia kirimkan tetapi semuanya ditolak karena dia tidak punya surat keterangan ganteng dari instansi kenegaraan. Kondisi keuangan keluarganya ambruk dan ibunya yang sakit-sakitan pun tak punya uang lagi untuk berobat. Wanita keluarganya satu-satunya itu akhirnya meninggal. Putus asa, Paijo merenung lalu tak lama kemudian sebuah solusi muncul di benaknya.
“Aku harus ganteng….paling ganteng.”
Jalan pintas ditempuhnya, ia pergi ke dukun berbekal hasil penjualan rumah. Sang dukun berkata
“Kalau mau ganteng operasi plastik saja.”
“Masak tidak bisa Mbah?”
“Ada sih cara lain, kamu tidak akan jadi ganteng tapi akan digilai banyak wanita.”
“Yang kaya juga Mbah?”
“Wanita kaya,miskin,cantik,jelek semuanya akan jatuh cinta padamu.”
“Wah mau Mbah. Tapi pasti syaratnya berat kan Mbah?”
Dukun tua itu mengangguk.
“Nggak apa-apa deh Mbah.”
“Selain syarat juga ada pantangan. Kamu tidak boleh makan daun kelor atau tertusuk bambu kuning.”
Semua itu seolah baru kemarin terjadi di ingatan Paijo. Masa-masa dimana dia bertapa di tempat-tempat angker,puasa non stop tujuh hari tujuh malam hingga mandi kembang dari air tujuh telaga serasa begitu nostalgic di benak pria muda berkharisma ini.
Iapun masih ingat dengan wanita pertama yang ia pacari.
“Poppy.”
“Eh Jo, silahkan masuk. Ada perlu apa nih?”
“Ada perlu sama Mama kamu.”
Ibu Poppy adalah direktris perusahaan tempat Jo pernah mengirim lamaran tetapi ditolak. Wanita itu pacar pertamanya. Lalu bagaimana dengan Poppy? Tentu saja diai yang kedua. Hubungan aneh itu tak berlangsung lama, setelah merasa cukup menguras harta ibu-anak ini, Paijo memutuskan memancing ikan yang lebih besar.
Peletnya mampu memikat ibu-ibu sosialita nusantara. Istri pejabat, pengusaha konglomerat hingga artis-artis terkenal yang wira-wiri di layar TV. Tua, muda hampir semua pernah dikencaninya, sekaligus diporotinya. HIngga suatu saat….
“Hollywood?”
“And I will be your manager.”
Itulah awal perkenalannya dengan Rick manajernya dan dunia acting. Tak tanggung-tanggung,Paijo akhirya main film di Amerika Serikat dan langsung box office. Pesona ilmu pengasihannya di layar lebar seperti magnet yang menarik penonton-penonton remaja putri ke bioskop.
“Oh God he’s sooooo cute.”
“Paijo Marry me!”
Seperti diceritakan di awal, si itik buruk rupa yang dulu sengsara kini tiada lagi, berganti dengan superstar papan atas internasional, Casanova era 4.0 idaman kaum hawa yang rich and famous. Sosok yang kemana-mana sellau naik tunggangan mewah lengkap dengan sopir dan pengawal pribadi.
“Be right there sweetie.” Katanya lalu menutup telepon. Tak lama kemudian limo berhenti di basement sebuah apartemen. Setelah naik lift khusus ke penthouse, sesosok cantik berambut pirang menyambutnya. Ia adalah Scarlet pacar eh salah korban pelet Jo yang terbaru.
“Tea?” Tanya Jo.
“You said you were homesick so I bought this from Indonesia.”
Paijo meminumnya,rasanya pahit,harum dan hangat.
“Damn…what tea is this?"
“Ke….ke…kerol or…kelor yeah kelor leaves tea.”
Paijo langsung menyemburkan minuman dalam mulutnya tetapi terlambat. Flashback percakapannya dengan Mbah dukun terngiang kembali.
“Jangan sampai kamu makan daun kelor.”
“Ilmu saya bisa hilang Mbah.”
“Bukan ilmumu tapi nyawamu.”
Paijo kejang-kejang diatas karpet. Mulutnya berbusa dan sepuluh menit kemudian ambulan datang membawanya ke rumah sakit. Ia dinyatakan meninggal dalam perjalanan akibat sesak nafas karena alergi.
Keesokan harinya, cemetery dipenuhi ribuan orang, kebanyakan gadis remaja dengan mata sembab. Scarlet tampak menangis dibalik kerudung hitam transparannya ketika empat pengusung peti mati tiba sambil menari. Tak lama kemudian peti itu diturunkan, diantara dua batu nisan bertuliskan
‘Here lies Paijo, the sexiest man on earth.’
THE END
Diubah oleh reloaded0101 02-05-2020 03:26
sistany dan adhiecoolman memberi reputasi
2
Kutip
Balas