- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.3K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#152
Spoiler for Part 53:
Part 53
Suasana gelap menyelimuti ruangan yang saat ini aku tempati. Aku sedang menunggu seseorang dengan tangan yang penuh akibat membawa sebuah kue ulang tahun.
"Eh nat, itu bebynya udah dateng"
Viny berkata seperti itu dengan suara yang sangat pelan, tiba-tiba sebuah sinar yang berasal dari lampu mobil yang baru saja memasuki halaman menerobos masuk kedalam ruangan gelap yang sekarang aku tempati melalui jendela yang menghadap langsung kearah halaman depan.
Cekleeekkk......
Terdengar suara pintu yang baru saja terbuka.
"Lah, viny kemana ya?, viiiiinnn....."
Seseorang yang baru saja masuk terlihat agak sedikit bingung karena suasana gelap yang tidak biasanya tercipta ditempat ini.
Cekleeeekkk.....
Cahaya dari lampu yang baru saja menyala menggantikan suasana gelap yang sedari tadi menyelimuti ruangan ini.
"Happy birthday bebyyy!!!!"
Wajah beby terlihat shock setelah melihat aku dan viny yang sekarang berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah kue ulang tahun dan kado yang ada ditangan kami masing-masing.
Beby: "e e e ehhh, kok....."
Viny: "selamat ulang tahun beby!!!"
Aku menyodorkan kue ulang tahun yng sedari tadi berada di tanganku, sedangkan viny dengan sigap menyalakan lilin yang ada di atasnya dengan menggunakan korek api yang sudah kami siapkan.
"Iiiiiiiihh...., makasih vin, nat, aku kira kalian lupa"
Beby berkata seperti itu sambil menurunkan totebag yang dibawanya.
"Make a wish"
Viny berkata seperti itu sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Beby POV
Kalian tahu bagaimana perasaanku saat ini?, seneng!!!, seneeeng bangeeet!!!.
Aku kira mereka sudah lupa dengan hari ulang tahunku.
Eh, tapi kalo viny sih aku gak terlalu kaget, setiap tahun kami selalu bersama-sama merayakan ulang tahun kami, toh ulang tahun kami cuma beda 7 hari, wajar banget kalau dia inget.
Taaapiiiii..... di ulang tahunku kali ini, ada sesuatu yang lebih spesial, kalian pasti sudah paham dengan apa yang kumaksud.
Iyaaa.... nathaaa....
Natha.....
Salah satu orang yang sangat berharga untukku akhir-akhir ini, orang yang selalu aku tunggu-tunggu kabar dan kehadirannya.
Natha.....
laki-laki yang sudah 4 bulan terakhir mewarnai hari-hariku dengan kepolosan dan kekonyolannya.
Tapi.......
Yang harus kalian tahu....... mungkin.......... aku sudah mengenalnya jauh sebelum dia mengenalku.
Pertemuanku dengan natha di depan ruang asisten pagi itu.....
Bukan pertemuan kami yang pertama kali.
Yaaa... tidak ada namanya kebetulan, tanpa aku sadari..... apa yang terjadi hari ini adalah salah satu skenario yang tuhan buat dalam hidupku.
Buktinya, malam ini, dia ada disini dengan sebuah kue ulang tahun ditangannya, sudah banyak momen-momen yang kami lalui, dan..... aku ingin momen-momen itu terus berlanjut.
Aku memejamkan mataku, aku membuat sebuah permohonan sebelum meniup lilin yang berada di atas kue ulang tahunku kali ini.
Permohonanku kali ini sangat sederhana, sangaaaaat sederhana, aku harap......
Fyuuuuhhh.....
.
.
.
Suasana gelap menyelimuti ruangan yang saat ini aku tempati. Aku sedang menunggu seseorang dengan tangan yang penuh akibat membawa sebuah kue ulang tahun.
"Eh nat, itu bebynya udah dateng"
Viny berkata seperti itu dengan suara yang sangat pelan, tiba-tiba sebuah sinar yang berasal dari lampu mobil yang baru saja memasuki halaman menerobos masuk kedalam ruangan gelap yang sekarang aku tempati melalui jendela yang menghadap langsung kearah halaman depan.
Cekleeekkk......
Terdengar suara pintu yang baru saja terbuka.
"Lah, viny kemana ya?, viiiiinnn....."
Seseorang yang baru saja masuk terlihat agak sedikit bingung karena suasana gelap yang tidak biasanya tercipta ditempat ini.
Cekleeeekkk.....
Cahaya dari lampu yang baru saja menyala menggantikan suasana gelap yang sedari tadi menyelimuti ruangan ini.
"Happy birthday bebyyy!!!!"
Wajah beby terlihat shock setelah melihat aku dan viny yang sekarang berdiri tepat dihadapannya dengan sebuah kue ulang tahun dan kado yang ada ditangan kami masing-masing.
Beby: "e e e ehhh, kok....."
Viny: "selamat ulang tahun beby!!!"
Aku menyodorkan kue ulang tahun yng sedari tadi berada di tanganku, sedangkan viny dengan sigap menyalakan lilin yang ada di atasnya dengan menggunakan korek api yang sudah kami siapkan.
"Iiiiiiiihh...., makasih vin, nat, aku kira kalian lupa"
Beby berkata seperti itu sambil menurunkan totebag yang dibawanya.
"Make a wish"
Viny berkata seperti itu sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Beby POV
Kalian tahu bagaimana perasaanku saat ini?, seneng!!!, seneeeng bangeeet!!!.
Aku kira mereka sudah lupa dengan hari ulang tahunku.
Eh, tapi kalo viny sih aku gak terlalu kaget, setiap tahun kami selalu bersama-sama merayakan ulang tahun kami, toh ulang tahun kami cuma beda 7 hari, wajar banget kalau dia inget.
Taaapiiiii..... di ulang tahunku kali ini, ada sesuatu yang lebih spesial, kalian pasti sudah paham dengan apa yang kumaksud.
Iyaaa.... nathaaa....
Natha.....
Salah satu orang yang sangat berharga untukku akhir-akhir ini, orang yang selalu aku tunggu-tunggu kabar dan kehadirannya.
Natha.....
laki-laki yang sudah 4 bulan terakhir mewarnai hari-hariku dengan kepolosan dan kekonyolannya.
Tapi.......
Yang harus kalian tahu....... mungkin.......... aku sudah mengenalnya jauh sebelum dia mengenalku.
Pertemuanku dengan natha di depan ruang asisten pagi itu.....
Bukan pertemuan kami yang pertama kali.
Spoiler for Flashback:
Langkah kakiku terhenti ketika melihat seorang mahasiswa baru dengan atribut yang sama sekali tidak lengkap sedang berdiri tegap di tengah-tengah barisannya.
Mengingat posisiku sebagai salah satu anggota penegak disiplin untuk acara ospek mahasiswa baru tahun ini, aku memutuskan untuk menghampiri mahasiswa baru tersebut.
"Dek!!, atribut kamu mana?!, nametag?!, siapa yang suruh kamu bawa barang pakai tas?!"
Anak itu hanya menatapku sekilas dengan tatapan malasnya, tanpa berniat menjawab pertanyaanku anak itu mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sikap anak itu sontak membuat emosiku seketika naik, sombong sekali dia, apa dia tidak sadar dengan kesalahannya saat ini?. Tidak mungkin!!!, aturan yang berisi tentang atribut apa saja yang harus dibawa mahasiswa baru sudah diumumkan jauh-jauh hari sebelum kegiatan hari ini, sebagai mahasiswa sudah seharusnya dia memahami betapa pentingnya menaati aturan yang berlaku.
Apalagi saat ini dia bertingkah seolah-olah aku ini tidak sedang berbicara dengannya.
"Deeekk!!!, aku lagi ngomong sama kamu?"
Kepalanya kembali menoleh kearahku setelah aku membentaknya.
"Saya lupa"
Apa?, dia mengatakan hal itu sambil menatapku dengan wajah datarnya yang tidak berubah sedari tadi, seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali?, seolah-olah kata LUPA itu bisa membuatku memaklumi kesalahannya hari ini.
"Kenapa bisa lupa?!, kamu gak baca peraturan?!"
Kali ini matanya menatap mataku lekat-lekat, entahlah, setelah tatapan kami satu sama lain saling mengunci aku malah menjadi gugup sendiri.
"Enggak mbak"
Seketika perasaan gugupku hilang, emosiku kembali tersulut dengan jawaban anak baru yang saat ini sedang berdiri di hadapanku.
Sampai saat ini anak itu belum menunjukan rasa bersalahnya sama sekali, bahkan tidak ada 1 kata maafpun yang keluar dari mulutnya, raut wajahnya juga menunjukkan hal yang sama, sama sekali tidak menunjukkan ketakutan dan ketertarikan pada saat dia menjawab pertanyaanku.
"Kamu tau nggak??, apa pentingnya nametag?, kenapa hari ini kamu harus bawa keresek, bukan bawa tas?"
Huuuuhhhh....
Aku harus bisa mengontrol emosiku, aku tahu, maba-maba sok pintar seperti dia pasti akan sangat senang ketika berhasil membuat seniornya ini naik darah.
"Ya itu mbak, saya gak tau"
Huuuuhhhh....
Sabar beb.... Sabar.....
"Oke, aku kasih tau ya, nametag itu fungsinya supaya kamu sama temen-temen kamu bisa saling mengenal satu sama lain"
"Kalo kenapa kamu disuruh bawa barang-barang kamu pakai keresek, itu supaya gak ada kesenjangan diantara mahasiswa baru"
Aku coba menjelaskan apa pentingnya poin-poin yang tertulis diperaturan dengan intonasi sedang.
"Saya sama temen-temen yang lain punya mulut sama telinga kok mbak, kalo mau kenalan ya tinggal kenalan aja, gak perlu pake nametag nametagan"
"Dan alhamdulillah orang tua saya berkecukupan mbak, jadi bisa beliin saya tas, percuma saya susah-susah bawa barang-barang saya pakai keresek buat 3 hari kedepan"
"Toh, saya yakin, mbak kesini bawa tas kan?"
Dia membalik semua penjelasanku dengan menunjukkan wajah tengilnya, sekarang aku tidak mampu lagi mengontrol emosiku, akupun menarik kasar tangannya untuk mengikutiku, aku membawanya untuk menghampiri mahasiswa-mahasiswa baru lain yang melanggar peraturan, dia sama sekali tidak memberikan perlawanan, sehingga aku dapat menariknya dengan leluasa.
Karena emosi menguasai pikiranku, aku tidak lagi memperhatikan jalan yang sekarang kami lalui, tanpa sadar kakiku tersandung tali pembatas yang memang posisinya lebih tinggi beberapa cm dari lantai yang ada dibawahnya, sehingga aku jatuh tersungkur dengan lutut sebagai tumpuan.
Bruuukkk......
"Aaaawwww"
Sontak aku berteriak dengan suara yang cukup kencang sehingga memancing perhatian semua mahasiswa baru dan panitia lainnya.
"Weeyyyy!!!, apa maksud lu dorong-dorong dia?, gak terima lu kalo tadi ngingetin lu soal peraturan?, mau jadi jagoan lu di sini?"
"Sini lu!!, ikut kita"
Sekarang sudah ada 4 panitia laki-laki yang mulai mengerubungi anak itu, sedangkan salah satu panitia perempuan datang untuk membantuku berdiri.
Jujur sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku terjatuh bukan karena anak itu, ingin rasanya aku menjelaskan itu kepada teman-teman panitiaku yang lain, tapi itu sudah tidak mungkin, beberapa panita laki-laki sudah membawa anak itu ke suatu tempat yang sama-sekali aku tidak tahu.
.
.
.
"Kenapa sih beb?, kamu lemes banget kalo aku liat-liat?"
"Capek?, makanya, gak usah sok-sokan ikut-ikutan panitia ospek"
"Sok-sokan jadi penegak disiplin lagi, tapi cocok sih, muka kamu emang galak, hehehe"
Aku tidak menghiraukan ocehan viny yang sedari tadi menganggu telingaku, entah kenapa wajah songong anak itu masih memenuhi pikiranku sampai saat ini.
Kira-kira tadi dia diapain ya sama panitia yang lain?, dihukum?, apa ya hukumannya?, sampai dipukulin gak ya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saat ini terngiang-ngiang di kepalaku, jujur aku khawatir dengan nasib anak itu, mengingat tindakan perpeloncoan di kampusku memang masih ada sampai saat ini, yaa... meskipun tidak terang-terangan, dan sasarannya adalah mahasiswa baru yang mencari masalah dengan panitia.
Aku benar-benar merasa bersalah, pasti teman-teman panitiaku yang lain mengira bahwa dia mendorongku hingga terjatuh, sehingga mereka menganggap anak itu sudah melakukan perlawanan yang sangat berlebihan.
Padahal tidaaak!!, meskipun dia tidak membawa atribut lengkap dan menjawab pertanyaanku dengan gaya sengak, tapi aku rasa dia tidak pantas mendapat hukuman seperti apa yang aku bayangkan saat ini.
Ingin sekali aku meminta maaf kepada anak itu, akibat kecerobohanku dia mendapat hukuman yang seharusnya tidak dia dapatkan.
Tapi.... namanya saja aku tidak tahu, fakultas?, jurusan?, aku juga tidak tahu, dia saja tidak memakai nametagnya tadi siang.
Dan.... mulai besok acara ospek akan dilanjutkan di fakultas dan jurusan masing-masing, kesempatanku untuk kembali bertemu dengan anak itu sangat kecil, kecuali kalau ternyata dia mengambil jurusan yang sama denganku, mungkin kami masih bisa bertemu kembali.
.
.
.
Hmmmm......
Sudah 1 minggu berlalu sejak kejadian hari itu, dan selama 1 minggu ini aku tidak pernah lagi melihat anak itu, aku sudah bertanya kepada teman-temanku yang juga panitia ospek, tapi aku tidak mendapatkan informasi apa-apa dari mereka, aku juga sudah bertanya dengan salah satu temanku yang kemarin membawanya pergi, mereka juga tidak tahu, mengingat pada saat itu ada lumayan banyak mahasiswa baru yang mereka tindak.
"Beb"
"Beebb"
"Bebyyy!!!!"
Lamunan ku terhenti akibat mbendengar suara viny yang memanggil namaku.
Aku: "eehhh, kenapa vin?"
Viny: "isssh, aku panggil-panggil dari tadi juga"
Aku: "hehehe, sorry, kenapa?"
Viny: "uang aku 50 ribuan nih, aku bayarin kamu dulu aja, nanti kamu bayar ke aku, kasian masnya gak ada kembalian"
Aku kembali meletakkan dompet yang sudah kusiapkan keatas meja, aku memilih untuk mengotak-atik handphoneku sambil menunggu viny yang sedang melakukan transaksi pembayaran.
Saat sedang asyik dengan handphoneku, tiba-tiba viny berjalan cepat kearahku dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
"Ehhhh, beb, ayo buruan balik, pak eko udah masuk"
Sontak informasi dari viny membuatku panik, dengan gerakan cepat aku mengambil tas dan dompet yang berada di atas meja, tanpa pikir panjang aku langsung berjalan cepat untuk mengikuti viny yang sudah berjalan memasuki gerbang kampus terlebih dahulu.
.
.
.
"Viiin, kamu liat dompet aku nggak?"
Sekarang aku sedang sibuk mencari keberadaan dompetku yang hilang entah kemana, aku baru saja menyadarinya sekarang.
Aku benar-benar lupa kapan terakhir kali aku menggunakannya.
Iiiissshhhh....
Belum selesai masalah yang kemaren, sekarang udah muncul masalah baru aja.
Viny: "emang kapan terakhir kamu ngeluarin dompet?"
Aku: "aduuuhh...., gak tau vin, aku lupaaa..., kamu inget gak vin?"
Viny: "ckckckck, mana aku inget beb, kan dompet kamu"
Aku: "iiissshh, mana ada STNK mobil lagi disana"
Viny: "hahhh!!, serius beb?"
Aku: "iyaaa...., aduh, gimana yaa???"
Viny: "di kampus kali beb, tadi kamu ada ngeluarin dompet gak?"
Aku berpikir sejenak untuk mengingat-ngingat kapan terakhir kali aku menggunakannya.
Aku: "ooohhhh, di warung nasi goreng tadi viiiin!!!!, tadi kan kita buru-buru masuk kelas pak eko, tapi perasaan udah aku masukin kok"
Viny: "ketinggalan dong?"
Aku: "aduuhh..., gak tau vin, cek yuk kesana"
Viny: "aduh beb... beb..., udah tutup kalo jam 11 gini"
Aku: "iiiiihhhh...., ada-ada aja deh"
Viny: "yaudah, besok kita kesana lagi beb, tanya sama abangnya, siapa tau disimpenin"
Aku: "aaaarrrggghhh......"
.
.
.
Iiiisshhh...
Hari ini moodku benar-benar hancur, sampai sat ini aku belum tahu dimana keberadaan dompetku yang sudah hilang sejak kemaren malam.
Saat tadi pagi aku bertanya kepada abang nasi goreng tempat aku dan viny makan siang kemaren, ternyata si abang tidak tahu menahu dimana keberadaan dompetku.
"Yaudah beb, mending kamu bilang sama ibu kamu, habis ini kita ke kantor polisi buat urus surat kehilangan"
Viny mencoba menenangkanku yang sedang uring-uringan karena tidak berhasil menemukan dompetku.
Sekarang kami sedang duduk di kantin jurusanku sambil menikmati jus buah yang ada di hadapan kami.
Aku: "iiisshhh..., kamu enak bilang gitu vin, aku mau bayar ini pake apa, kartu atmku aja di dompet semua"
Viny: "nanti kamu pakai uang aku dulu aja, habis ini sekalian kita ke bank, bikin kartu atm baru ya"
Aku tidak menanggapi perkataan viny sama sekali, aku terlalu sibuk membayangkan omelan ibuku jika beliau tahu aku sedang kehilangan dompet.
"Beb, ada yang nyariin kamu nih"
Saat aku sedang sibuk merenungi nasib sialku, tiba-tiba salah satu temanku yang bernama natalia menghampiriku bersama seorang laki-laki.
Deeeggggg.......
Anak itu...., iya, laki-laki yang selama satu minggu ini memenuhi pikiranku, dia yang saat ini sedang berdiri di depan mejaku bersama natalia.
"Nah, ini kayaknya mas yang punya dompetnya, coba mas tanya aja"
Seharusnya saat ini aku tersenyum senang, ya.., dompetku sudah kembali, aku tidak perlu lagi takut diomeli sama ibu, tapi..... perasaan senang itu hilang begitu saja ketika aku melihat ada bekas luka lebam di sudut bibir anak itu, itu... itu pasti karena ulahku.
"Oh iya, beb, vin, aku tinggal dulu ya, ada kelas soalnya"
Nataliapun berlalu dari hadapan kami, tapi tidak dengan anak itu, dia masih berdiri di depan meja yang sekarang aku tempati bersama viny.
"Mbak, ini dompet mbak bukan, kalau saya liat dari KTM sama fotonya, kayaknya ini punya mbak"
Sekarang anak itu berbicara kepadaku, tapi.... entah kenapa aku hanya terdiam tanpa bisa menanggapi kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Eh, beb, kok diem aja sih, itu loh"
"Iya mas, ini dompet temen aku kok, ketemu dimana? "
Karena melihat aku tidak merespon anak itu sama sekali, viny berinisiatif menyambut dompet yang disodorkan olehnya.
"Di deket gerbang kampus mbak, eh, coba cek dulu mbak uangnya"
Viny menyerahkan dompetku yang saat ini dia pegang.
"Beb, ini loh, cek dulu"
Akupun mengambil dompet yang disodorkan oleh viny, lalu aku membukanya dan berpura-pura melihat isinya tanpa sama-sekali berniat untuk men cek sisa uang yang berada didompetku saat ini.
"Gak kurang kok"
Aku mengucapkannya sambil menundukkan wajahku, jujur aku masih tidak berani menatap matanya.
"Yaudah mbak, kalo gak ada yang kurang saya pulang dulu"
Hingga anak itu berpamitan kepada kami untuk pulang, aku masih belum berani untuk menatapnya dan mengajaknya berbicara lebih banyak, bahkan aku belum tahu namanya, fakultasnya, jurusannya.
"Iya mas, makasih banyak lo, kita udah pusing banget tadi nyarinya, kalo yang nemu dompet ini kemaren bukan mas, aku gak tau lagi deh gimana temen aku ini"
Anak itu tersenyum kearah kami, entahlah, kenapa sekarang aku malah bertambah gugup.
"Iya mbak, sama-sama, lain kali hati-hati, saya pulang dulu ya mbak"
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, anak itu langsung berlalu begitu saja dari hadapan kami.
Aku memandangi punggungnya yang saat ini sedang menjauh dengan perlahan dari hadapanku.
Entah kenapa saat ini aku malah ingin sekali untuk memanggilnya, aku ingin meminta maaf sekaligus berterimakasih kepadanya, dan jugaaa.... entah kenapa aku ingin sekali mengenalnya.
Huuuhh....
Sepertinya itu hanya bisa menjadi angan-angan, saat ini aku masih tidak punya cukup nyali untuk melakuknnya.
Tapi..... aku harap suatu hari nanti aku bisa bertemu lagi dengannya, bisa tahu namanya, dan.... bisa mengenalnya lebih jauh.
.
.
.
3 tahun kemudian
Aku: "kok kayaknya gak ada orang ya vin?"
Viny: "iyasih, tapi pintu depan kebuka"
Aku: "eh, kata devan kemaren kalo kita kesini dan gak ada orang coba langsung ke ruang asisten aja katanya sih pasti ada orang"
Viny: "mmm, ruang asisten dimana ya??"
Aku: "itu bukan sih vin?"
Aku berkata seperti itu sambil menunjuk pintu yang bertulisan assistant only.
Saat ini aku dan viny ingin menanyakan jadwal kegiatan di lab tempat aku dan viny akan melakukan penelitian selama 1 bulan kedepan
Suasana di tempat ini sekarang terlihat sangat sepi, tapi anehnya pintu depan dibiarkan terbuka begitu saja, aku dan viny juga sudah hampir 5 menit berdiri di depan pintu salah satu ruangan yang bertuliskan assistant only sambil sesekali mengetuknya.
Cekleeekk......
"Maaf mas, ganggu tidurnya, ak....."
Terlihat seorang laki-laki dengan wajah bantalnya muncul dari balik pintu.
"Maaf mbak, permisi sebentar"
Belum sempat viny menyelesaikan kalimatnya, laki-laki itu berlalu begitu saja dari hadapan kami.
Deeegg....
Apa dia mahasiswa baru yang 3 tahun lalu mendapat masalah karena kecerobohanku?.
Ahh, tidak mungkin.
Tapi..... wajahnya.....
Iya, wajahnya, aku masih ingat persis bagaimana detail wajahnya, dan.... laki-laki yang baru saja berlalu dari hadapanku dan viny tadi.....
Hmmmm...... tapi..... aku rasa aku harus memastikannya lagi setelah dia kembali.
Viny: "beb, kok bengong sih"
Beby: "e e ehh, i iya vin"
Suara viny yang memanggil namaku menghentikan lamunanku pagi ini.
Viny: "mending kita duduk dulu aja, kayaknya dia mau bersih-bersih dulu deh"
Beby: "a a ayo deh"
Aku dan viny memutuskan untuk duduk sambil menunggu laki-laki itu kembali.
Entah kenapa saat ini jantungku berdebar jauh lebih cepat dari biasanya.
"Maaf mbak, tadi bersih-bersih dulu"
Deeegggg.....
Sekarang laki-laki itu sudah kembali dan langsung mengambil tempat untuk duduk di hadapan kami.
Daaann.....
Sekarang aku yakin, laki-laki yang sedang berada di hadapanku sekarang adalah anak itu, iya... dia, akhirnyaa....
Jujur aku tidak menyangka, bahkan aku sudah hampir melupakan harapanku untuk kembali bertemu dengan anak itu, ya... meskipun sempat beberapa kali laki-laki yang sekarang berada di hadapanku ini melimtas begitu saja di pikiranku.
Tapi.... setelah 3 tahun lamanya, hari ini, pagi ini, aku kembali dipetemukan dengannya.
Kalian ingin tahu bagaimana perasaanku saat ini?.
Aku rasa lagu ini sangat cocok untuk menggambarkan perasaanku pagi ini, hahahaha.
Tidak ada alasan apapun,
Pada saat ku diperkenalkan
Aku bagaikan tersambar petir,
Cowok tipe idaman ku itu
Bagai di tarik ke tempat ini
Begitu cepat tanpa kusadari
Saat mata bertemu
Dada berdegup kencang
Di dalam hati ini
Tanpa sadar ku berteriak
BINGO! BINGO!
Akhirnya kita berjumpa lagi
BINGO! BINGO!
Tuk pertama kali akhirnya ku sadari
BINGO! BINGO!
Sampai saat ini tak menoleh
Untungnya Aku terus menunggu
Takdir pun berpihak padaku
Karena keajaiban ini
Ku ingin melompat kegirangan
Dan Ku bersyukur kepada Tuhan
Kebetulan itu sebenarnya
Skenario yang telah disiapkan,
Tanpa di ketahui oleh siapapun
Setiap kali diriku
Memikirkan dirimu,
Dadaku jadi sesak
Bernafaspun menjadi sulit.
HIT! HIT!
Sasaranpun kini telah terkunci!
HIT! HIT!
Kini hatiku telah di curi olehmu
HIT! HIT!
Ku punya firasat kan bertemu
Suatu saat, di suatu tempat dirimu sapuraisu
Mengingat posisiku sebagai salah satu anggota penegak disiplin untuk acara ospek mahasiswa baru tahun ini, aku memutuskan untuk menghampiri mahasiswa baru tersebut.
"Dek!!, atribut kamu mana?!, nametag?!, siapa yang suruh kamu bawa barang pakai tas?!"
Anak itu hanya menatapku sekilas dengan tatapan malasnya, tanpa berniat menjawab pertanyaanku anak itu mengalihkan pandangannya kearah lain.
Sikap anak itu sontak membuat emosiku seketika naik, sombong sekali dia, apa dia tidak sadar dengan kesalahannya saat ini?. Tidak mungkin!!!, aturan yang berisi tentang atribut apa saja yang harus dibawa mahasiswa baru sudah diumumkan jauh-jauh hari sebelum kegiatan hari ini, sebagai mahasiswa sudah seharusnya dia memahami betapa pentingnya menaati aturan yang berlaku.
Apalagi saat ini dia bertingkah seolah-olah aku ini tidak sedang berbicara dengannya.
"Deeekk!!!, aku lagi ngomong sama kamu?"
Kepalanya kembali menoleh kearahku setelah aku membentaknya.
"Saya lupa"
Apa?, dia mengatakan hal itu sambil menatapku dengan wajah datarnya yang tidak berubah sedari tadi, seolah-olah tidak merasa bersalah sama sekali?, seolah-olah kata LUPA itu bisa membuatku memaklumi kesalahannya hari ini.
"Kenapa bisa lupa?!, kamu gak baca peraturan?!"
Kali ini matanya menatap mataku lekat-lekat, entahlah, setelah tatapan kami satu sama lain saling mengunci aku malah menjadi gugup sendiri.
"Enggak mbak"
Seketika perasaan gugupku hilang, emosiku kembali tersulut dengan jawaban anak baru yang saat ini sedang berdiri di hadapanku.
Sampai saat ini anak itu belum menunjukan rasa bersalahnya sama sekali, bahkan tidak ada 1 kata maafpun yang keluar dari mulutnya, raut wajahnya juga menunjukkan hal yang sama, sama sekali tidak menunjukkan ketakutan dan ketertarikan pada saat dia menjawab pertanyaanku.
"Kamu tau nggak??, apa pentingnya nametag?, kenapa hari ini kamu harus bawa keresek, bukan bawa tas?"
Huuuuhhhh....
Aku harus bisa mengontrol emosiku, aku tahu, maba-maba sok pintar seperti dia pasti akan sangat senang ketika berhasil membuat seniornya ini naik darah.
"Ya itu mbak, saya gak tau"
Huuuuhhhh....
Sabar beb.... Sabar.....
"Oke, aku kasih tau ya, nametag itu fungsinya supaya kamu sama temen-temen kamu bisa saling mengenal satu sama lain"
"Kalo kenapa kamu disuruh bawa barang-barang kamu pakai keresek, itu supaya gak ada kesenjangan diantara mahasiswa baru"
Aku coba menjelaskan apa pentingnya poin-poin yang tertulis diperaturan dengan intonasi sedang.
"Saya sama temen-temen yang lain punya mulut sama telinga kok mbak, kalo mau kenalan ya tinggal kenalan aja, gak perlu pake nametag nametagan"
"Dan alhamdulillah orang tua saya berkecukupan mbak, jadi bisa beliin saya tas, percuma saya susah-susah bawa barang-barang saya pakai keresek buat 3 hari kedepan"
"Toh, saya yakin, mbak kesini bawa tas kan?"
Dia membalik semua penjelasanku dengan menunjukkan wajah tengilnya, sekarang aku tidak mampu lagi mengontrol emosiku, akupun menarik kasar tangannya untuk mengikutiku, aku membawanya untuk menghampiri mahasiswa-mahasiswa baru lain yang melanggar peraturan, dia sama sekali tidak memberikan perlawanan, sehingga aku dapat menariknya dengan leluasa.
Karena emosi menguasai pikiranku, aku tidak lagi memperhatikan jalan yang sekarang kami lalui, tanpa sadar kakiku tersandung tali pembatas yang memang posisinya lebih tinggi beberapa cm dari lantai yang ada dibawahnya, sehingga aku jatuh tersungkur dengan lutut sebagai tumpuan.
Bruuukkk......
"Aaaawwww"
Sontak aku berteriak dengan suara yang cukup kencang sehingga memancing perhatian semua mahasiswa baru dan panitia lainnya.
"Weeyyyy!!!, apa maksud lu dorong-dorong dia?, gak terima lu kalo tadi ngingetin lu soal peraturan?, mau jadi jagoan lu di sini?"
"Sini lu!!, ikut kita"
Sekarang sudah ada 4 panitia laki-laki yang mulai mengerubungi anak itu, sedangkan salah satu panitia perempuan datang untuk membantuku berdiri.
Jujur sekarang aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku terjatuh bukan karena anak itu, ingin rasanya aku menjelaskan itu kepada teman-teman panitiaku yang lain, tapi itu sudah tidak mungkin, beberapa panita laki-laki sudah membawa anak itu ke suatu tempat yang sama-sekali aku tidak tahu.
.
.
.
"Kenapa sih beb?, kamu lemes banget kalo aku liat-liat?"
"Capek?, makanya, gak usah sok-sokan ikut-ikutan panitia ospek"
"Sok-sokan jadi penegak disiplin lagi, tapi cocok sih, muka kamu emang galak, hehehe"
Aku tidak menghiraukan ocehan viny yang sedari tadi menganggu telingaku, entah kenapa wajah songong anak itu masih memenuhi pikiranku sampai saat ini.
Kira-kira tadi dia diapain ya sama panitia yang lain?, dihukum?, apa ya hukumannya?, sampai dipukulin gak ya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang saat ini terngiang-ngiang di kepalaku, jujur aku khawatir dengan nasib anak itu, mengingat tindakan perpeloncoan di kampusku memang masih ada sampai saat ini, yaa... meskipun tidak terang-terangan, dan sasarannya adalah mahasiswa baru yang mencari masalah dengan panitia.
Aku benar-benar merasa bersalah, pasti teman-teman panitiaku yang lain mengira bahwa dia mendorongku hingga terjatuh, sehingga mereka menganggap anak itu sudah melakukan perlawanan yang sangat berlebihan.
Padahal tidaaak!!, meskipun dia tidak membawa atribut lengkap dan menjawab pertanyaanku dengan gaya sengak, tapi aku rasa dia tidak pantas mendapat hukuman seperti apa yang aku bayangkan saat ini.
Ingin sekali aku meminta maaf kepada anak itu, akibat kecerobohanku dia mendapat hukuman yang seharusnya tidak dia dapatkan.
Tapi.... namanya saja aku tidak tahu, fakultas?, jurusan?, aku juga tidak tahu, dia saja tidak memakai nametagnya tadi siang.
Dan.... mulai besok acara ospek akan dilanjutkan di fakultas dan jurusan masing-masing, kesempatanku untuk kembali bertemu dengan anak itu sangat kecil, kecuali kalau ternyata dia mengambil jurusan yang sama denganku, mungkin kami masih bisa bertemu kembali.
.
.
.
Hmmmm......
Sudah 1 minggu berlalu sejak kejadian hari itu, dan selama 1 minggu ini aku tidak pernah lagi melihat anak itu, aku sudah bertanya kepada teman-temanku yang juga panitia ospek, tapi aku tidak mendapatkan informasi apa-apa dari mereka, aku juga sudah bertanya dengan salah satu temanku yang kemarin membawanya pergi, mereka juga tidak tahu, mengingat pada saat itu ada lumayan banyak mahasiswa baru yang mereka tindak.
"Beb"
"Beebb"
"Bebyyy!!!!"
Lamunan ku terhenti akibat mbendengar suara viny yang memanggil namaku.
Aku: "eehhh, kenapa vin?"
Viny: "isssh, aku panggil-panggil dari tadi juga"
Aku: "hehehe, sorry, kenapa?"
Viny: "uang aku 50 ribuan nih, aku bayarin kamu dulu aja, nanti kamu bayar ke aku, kasian masnya gak ada kembalian"
Aku kembali meletakkan dompet yang sudah kusiapkan keatas meja, aku memilih untuk mengotak-atik handphoneku sambil menunggu viny yang sedang melakukan transaksi pembayaran.
Saat sedang asyik dengan handphoneku, tiba-tiba viny berjalan cepat kearahku dengan langkah yang sedikit terburu-buru.
"Ehhhh, beb, ayo buruan balik, pak eko udah masuk"
Sontak informasi dari viny membuatku panik, dengan gerakan cepat aku mengambil tas dan dompet yang berada di atas meja, tanpa pikir panjang aku langsung berjalan cepat untuk mengikuti viny yang sudah berjalan memasuki gerbang kampus terlebih dahulu.
.
.
.
"Viiin, kamu liat dompet aku nggak?"
Sekarang aku sedang sibuk mencari keberadaan dompetku yang hilang entah kemana, aku baru saja menyadarinya sekarang.
Aku benar-benar lupa kapan terakhir kali aku menggunakannya.
Iiiissshhhh....
Belum selesai masalah yang kemaren, sekarang udah muncul masalah baru aja.
Viny: "emang kapan terakhir kamu ngeluarin dompet?"
Aku: "aduuuhh...., gak tau vin, aku lupaaa..., kamu inget gak vin?"
Viny: "ckckckck, mana aku inget beb, kan dompet kamu"
Aku: "iiissshh, mana ada STNK mobil lagi disana"
Viny: "hahhh!!, serius beb?"
Aku: "iyaaa...., aduh, gimana yaa???"
Viny: "di kampus kali beb, tadi kamu ada ngeluarin dompet gak?"
Aku berpikir sejenak untuk mengingat-ngingat kapan terakhir kali aku menggunakannya.
Aku: "ooohhhh, di warung nasi goreng tadi viiiin!!!!, tadi kan kita buru-buru masuk kelas pak eko, tapi perasaan udah aku masukin kok"
Viny: "ketinggalan dong?"
Aku: "aduuhh..., gak tau vin, cek yuk kesana"
Viny: "aduh beb... beb..., udah tutup kalo jam 11 gini"
Aku: "iiiiihhhh...., ada-ada aja deh"
Viny: "yaudah, besok kita kesana lagi beb, tanya sama abangnya, siapa tau disimpenin"
Aku: "aaaarrrggghhh......"
.
.
.
Iiiisshhh...
Hari ini moodku benar-benar hancur, sampai sat ini aku belum tahu dimana keberadaan dompetku yang sudah hilang sejak kemaren malam.
Saat tadi pagi aku bertanya kepada abang nasi goreng tempat aku dan viny makan siang kemaren, ternyata si abang tidak tahu menahu dimana keberadaan dompetku.
"Yaudah beb, mending kamu bilang sama ibu kamu, habis ini kita ke kantor polisi buat urus surat kehilangan"
Viny mencoba menenangkanku yang sedang uring-uringan karena tidak berhasil menemukan dompetku.
Sekarang kami sedang duduk di kantin jurusanku sambil menikmati jus buah yang ada di hadapan kami.
Aku: "iiisshhh..., kamu enak bilang gitu vin, aku mau bayar ini pake apa, kartu atmku aja di dompet semua"
Viny: "nanti kamu pakai uang aku dulu aja, habis ini sekalian kita ke bank, bikin kartu atm baru ya"
Aku tidak menanggapi perkataan viny sama sekali, aku terlalu sibuk membayangkan omelan ibuku jika beliau tahu aku sedang kehilangan dompet.
"Beb, ada yang nyariin kamu nih"
Saat aku sedang sibuk merenungi nasib sialku, tiba-tiba salah satu temanku yang bernama natalia menghampiriku bersama seorang laki-laki.
Deeeggggg.......
Anak itu...., iya, laki-laki yang selama satu minggu ini memenuhi pikiranku, dia yang saat ini sedang berdiri di depan mejaku bersama natalia.
"Nah, ini kayaknya mas yang punya dompetnya, coba mas tanya aja"
Seharusnya saat ini aku tersenyum senang, ya.., dompetku sudah kembali, aku tidak perlu lagi takut diomeli sama ibu, tapi..... perasaan senang itu hilang begitu saja ketika aku melihat ada bekas luka lebam di sudut bibir anak itu, itu... itu pasti karena ulahku.
"Oh iya, beb, vin, aku tinggal dulu ya, ada kelas soalnya"
Nataliapun berlalu dari hadapan kami, tapi tidak dengan anak itu, dia masih berdiri di depan meja yang sekarang aku tempati bersama viny.
"Mbak, ini dompet mbak bukan, kalau saya liat dari KTM sama fotonya, kayaknya ini punya mbak"
Sekarang anak itu berbicara kepadaku, tapi.... entah kenapa aku hanya terdiam tanpa bisa menanggapi kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Eh, beb, kok diem aja sih, itu loh"
"Iya mas, ini dompet temen aku kok, ketemu dimana? "
Karena melihat aku tidak merespon anak itu sama sekali, viny berinisiatif menyambut dompet yang disodorkan olehnya.
"Di deket gerbang kampus mbak, eh, coba cek dulu mbak uangnya"
Viny menyerahkan dompetku yang saat ini dia pegang.
"Beb, ini loh, cek dulu"
Akupun mengambil dompet yang disodorkan oleh viny, lalu aku membukanya dan berpura-pura melihat isinya tanpa sama-sekali berniat untuk men cek sisa uang yang berada didompetku saat ini.
"Gak kurang kok"
Aku mengucapkannya sambil menundukkan wajahku, jujur aku masih tidak berani menatap matanya.
"Yaudah mbak, kalo gak ada yang kurang saya pulang dulu"
Hingga anak itu berpamitan kepada kami untuk pulang, aku masih belum berani untuk menatapnya dan mengajaknya berbicara lebih banyak, bahkan aku belum tahu namanya, fakultasnya, jurusannya.
"Iya mas, makasih banyak lo, kita udah pusing banget tadi nyarinya, kalo yang nemu dompet ini kemaren bukan mas, aku gak tau lagi deh gimana temen aku ini"
Anak itu tersenyum kearah kami, entahlah, kenapa sekarang aku malah bertambah gugup.
"Iya mbak, sama-sama, lain kali hati-hati, saya pulang dulu ya mbak"
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, anak itu langsung berlalu begitu saja dari hadapan kami.
Aku memandangi punggungnya yang saat ini sedang menjauh dengan perlahan dari hadapanku.
Entah kenapa saat ini aku malah ingin sekali untuk memanggilnya, aku ingin meminta maaf sekaligus berterimakasih kepadanya, dan jugaaa.... entah kenapa aku ingin sekali mengenalnya.
Huuuhh....
Sepertinya itu hanya bisa menjadi angan-angan, saat ini aku masih tidak punya cukup nyali untuk melakuknnya.
Tapi..... aku harap suatu hari nanti aku bisa bertemu lagi dengannya, bisa tahu namanya, dan.... bisa mengenalnya lebih jauh.
.
.
.
3 tahun kemudian
Aku: "kok kayaknya gak ada orang ya vin?"
Viny: "iyasih, tapi pintu depan kebuka"
Aku: "eh, kata devan kemaren kalo kita kesini dan gak ada orang coba langsung ke ruang asisten aja katanya sih pasti ada orang"
Viny: "mmm, ruang asisten dimana ya??"
Aku: "itu bukan sih vin?"
Aku berkata seperti itu sambil menunjuk pintu yang bertulisan assistant only.
Saat ini aku dan viny ingin menanyakan jadwal kegiatan di lab tempat aku dan viny akan melakukan penelitian selama 1 bulan kedepan
Suasana di tempat ini sekarang terlihat sangat sepi, tapi anehnya pintu depan dibiarkan terbuka begitu saja, aku dan viny juga sudah hampir 5 menit berdiri di depan pintu salah satu ruangan yang bertuliskan assistant only sambil sesekali mengetuknya.
Cekleeekk......
"Maaf mas, ganggu tidurnya, ak....."
Terlihat seorang laki-laki dengan wajah bantalnya muncul dari balik pintu.
"Maaf mbak, permisi sebentar"
Belum sempat viny menyelesaikan kalimatnya, laki-laki itu berlalu begitu saja dari hadapan kami.
Deeegg....
Apa dia mahasiswa baru yang 3 tahun lalu mendapat masalah karena kecerobohanku?.
Ahh, tidak mungkin.
Tapi..... wajahnya.....
Iya, wajahnya, aku masih ingat persis bagaimana detail wajahnya, dan.... laki-laki yang baru saja berlalu dari hadapanku dan viny tadi.....
Hmmmm...... tapi..... aku rasa aku harus memastikannya lagi setelah dia kembali.
Viny: "beb, kok bengong sih"
Beby: "e e ehh, i iya vin"
Suara viny yang memanggil namaku menghentikan lamunanku pagi ini.
Viny: "mending kita duduk dulu aja, kayaknya dia mau bersih-bersih dulu deh"
Beby: "a a ayo deh"
Aku dan viny memutuskan untuk duduk sambil menunggu laki-laki itu kembali.
Entah kenapa saat ini jantungku berdebar jauh lebih cepat dari biasanya.
"Maaf mbak, tadi bersih-bersih dulu"
Deeegggg.....
Sekarang laki-laki itu sudah kembali dan langsung mengambil tempat untuk duduk di hadapan kami.
Daaann.....
Spoiler for Theme Song:
Sekarang aku yakin, laki-laki yang sedang berada di hadapanku sekarang adalah anak itu, iya... dia, akhirnyaa....
Jujur aku tidak menyangka, bahkan aku sudah hampir melupakan harapanku untuk kembali bertemu dengan anak itu, ya... meskipun sempat beberapa kali laki-laki yang sekarang berada di hadapanku ini melimtas begitu saja di pikiranku.
Tapi.... setelah 3 tahun lamanya, hari ini, pagi ini, aku kembali dipetemukan dengannya.
Kalian ingin tahu bagaimana perasaanku saat ini?.
Aku rasa lagu ini sangat cocok untuk menggambarkan perasaanku pagi ini, hahahaha.
Tidak ada alasan apapun,
Pada saat ku diperkenalkan
Aku bagaikan tersambar petir,
Cowok tipe idaman ku itu
Bagai di tarik ke tempat ini
Begitu cepat tanpa kusadari
Saat mata bertemu
Dada berdegup kencang
Di dalam hati ini
Tanpa sadar ku berteriak
BINGO! BINGO!
Akhirnya kita berjumpa lagi
BINGO! BINGO!
Tuk pertama kali akhirnya ku sadari
BINGO! BINGO!
Sampai saat ini tak menoleh
Untungnya Aku terus menunggu
Takdir pun berpihak padaku
Karena keajaiban ini
Ku ingin melompat kegirangan
Dan Ku bersyukur kepada Tuhan
Kebetulan itu sebenarnya
Skenario yang telah disiapkan,
Tanpa di ketahui oleh siapapun
Setiap kali diriku
Memikirkan dirimu,
Dadaku jadi sesak
Bernafaspun menjadi sulit.
HIT! HIT!
Sasaranpun kini telah terkunci!
HIT! HIT!
Kini hatiku telah di curi olehmu
HIT! HIT!
Ku punya firasat kan bertemu
Suatu saat, di suatu tempat dirimu sapuraisu
Yaaa... tidak ada namanya kebetulan, tanpa aku sadari..... apa yang terjadi hari ini adalah salah satu skenario yang tuhan buat dalam hidupku.
Buktinya, malam ini, dia ada disini dengan sebuah kue ulang tahun ditangannya, sudah banyak momen-momen yang kami lalui, dan..... aku ingin momen-momen itu terus berlanjut.
Aku memejamkan mataku, aku membuat sebuah permohonan sebelum meniup lilin yang berada di atas kue ulang tahunku kali ini.
Permohonanku kali ini sangat sederhana, sangaaaaat sederhana, aku harap......
Fyuuuuhhh.....
.
.
.
Spoiler for Multurasi Beby:
BTW MULTURASI BEBY BISA DILIAT PADA VIDEO DIATAS DETIK 0.39 - 0.41
WKWKWKWKWKWKWK
INGET GAN, CUMA MULTURASI



WKWKWKWKWKWKWK
INGET GAN, CUMA MULTURASI



Diubah oleh akmal162 02-05-2020 03:58
Herisyahrian dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas
