- Beranda
- Stories from the Heart
Sang Pemburu (Fiksi)
...
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.
Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC
. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.
Selamat menikmati.
[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC
. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.
Selamat menikmati.
[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.7K
115
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kawmdwarfa
#89
PART 37
"Bangs#t." Kenny memaki. Melihat itu lawannya terkekeh puas bisa kembali menegaskan dominasinya. Kalah dari orang yang besar mulut benar-benar memuakkan, tapi Kenny di saat yang sama juga memahami jika Udin Bandot mengimbangi mulut besarnya dengan kemampuan. Tidak hanya tangkas di atas arena, Udin Bandot juga memiliki tengkorak kepala yang lebih keras, dan itulah mengapa orang-orang di organisasi memberinya julukan Udin Bandot.
"Hey, Yo. Ayo naik."
Yohan tak menjawab apa-apa kala menerima tantangan itu. Samsak tinju itu ia tinggalkan dan kini ia beralih ke Udin Bandot di atas arena. Melawan Udin Bandot selalu sulit namun orang itu bukan petarung tanpa celah. Tidak ada yang benar-benar menghafal riwayat pertarungan mereka, namun keduanya telah saling mengalahkan, sebuah pencapaian yang belum bisa disamai Kenny.
Kenny dan Udin Bandot adalah dua orang yang paling dekat dengannya di organisasi saat ini. Meski pada awalnya mereka menganggap Yohan tak lebih dari seorang pengecut yang takkan berguna. Sikap itu didasari oleh ketiadaan Yohan ketika masa inisiasi, ketika mereka harus dihajar atau diminta melakukan hal-hal tak masuk akal lainnya demi membuktikan kepantasan mereka untuk bisa bergabung. Tapi kemudian mereka mendengar kabar jika Yohan sebenarnya telah diinisiasi secara terpisah oleh sosok yang bukan sembarang, dan kabarnya lagi inisiasi itu jauh lebih berat dari yang mereka alami.
***
Hari itu cukup cerah. Yohan, Kenny, serta Udin Bandot memutari kota dengan laju mobil yang lambat. Dari toko ke toko, kios ke kios. Lalu di sudut jalan mereka melihat ada sebuah lapak sepatu yang dijual dengan harga miring.
"Sepatunya, Pak. Murah."
Kenny turun dari mobil dan menghampiri pedagang itu. Tak berlama-lama Kenny pun mengambil sepatu yang ditawarkan si pedagang. Di dalam mobil Kenny langsung mengeluarkan sepatu dari dalam kotak, memeriksa bola kertas yang dijejalkan di dalamnya, menyerahkannya pada Yohan, sebelum Yohan ikut membaca sebuah informasi di dalamnya dan menyerahkannya pada Udin Bandot.
"Bagaimana?" Udin Bandot menanggapi situasi dari informasi di kertas itu.
"Kita tunggu saja pergerakannya."
"Kau masih belum yakin?"
"Tidak ada bedanya jika kita selesaikan ini sendiri."
"Kurasa kau benar."
Setelah memutuskan hal tersebut mereka melaju kembali. Yohan kemudian minta diturunkan di sebuah lampu merah dan dari sana Yohan berjalan sendiri memasuki gang-gang sempit dan terkadang bau pesing.
Yohan kini berada di sebuah kedai minum sederhana. Sederhana karena tidak ada alat-alat mahal untuk meracik minuman. Segala yang panas dihasilkan dari kompor gas dan panci aluminium, dan segala yang dingin dibuat dari es batu yang dipecahkan di dinding. Yohan tidak sering datang ke sana, memang ia memilih demikian karena si pemilik kedai, Eljas, tak pernah menganggap kehadirannya sebagai perwujudan rezeki melainkan sosok manusia tolol yang tak mengerti akan kemauan hidupnya.
Bocah ini, Rikson, menjadi yatim piatu setelah ayahnya meninggal menyusul sang ibu. Di kedai itu ia membantu Eljas mengerjakan apa saja, dan jika di rumah, barulah Eljas yang akan mengurusnya berikut ajak-ajak peliharaan alm Ayah Rikson yang biasa digunakan untuk berburu babi hutan di hutan perbatasan. Sebelumnya Rikson telah menyaksikan berkali-kali kematian pelan-pelan seekor babi hutan karena dikeroyok ajak. Tapi melihat bagaimana ajak-ajak itu mencabik-cabik seorang laki-laki babak belur merupakan kengerian tersendiri baginya. Ajak-ajaknya tak pernah melakukan hal semacam itu tapi Eljas mampu memerintahkan mereka karena Eljas juga telah merawat ajak-ajak itu untuk waktu yang cukup lama. Rikson pasrah jika dirinya harus turut mengurus seorang mayat, tapi entah mukjizat apa yang membuat orang itu, yang kini telah berdiri di hadapannya, tetap hidup.
"Bang Eljas. Orang itu datang lagi," kata Rikson. Ketika itu Eljas tengah membersihkan meja yang baru saja ditinggal pelanggan, dan perkataan Rikson membuatnya teralihkan sesaat namun tak menganggap itu sebagai sesuatu yang harus disikapi berlebihan.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Elias.
"Aku cuma mau minum."
"Kau bodoh? Ada banyak tempat di luar."
Yohan ingin berkata lagi akan tetapi mulutnya seperti tertahan. Eljas pun berlalu ke dalam dapur.
"Ya sudah, kau duduk di sana," kata Rikson menenangkan, "aku yang akan siapkan minum buatmu. Kau mau apa?"
"Kopi. Seperti biasa."
"Baiklah," kata Rikson. Sampai sekarang ia tak pernah mengetahui apa sebenarnya hubungan kedua orang itu. Hutang budi seperti apa yang membuat Yohan selalu ingin meraih simpati Eljas meski Eljas jelas-jelas hendak membunuhnya. Dan, separah apa dosa yang dilakukan Yohan sehingga Eljas tampak begitu muak ketika melihatnya.
Yohan menikmati minumannya. Di saat yang sama Eljas tak menolak kehadiran Yohan, namun juga tak menampakkan tanda-tanda bersahabat.
Entahlah, orang itu tak dipungkiri memang telah membuat hidupnya berubah. Jika saja saat itu Yohan tak secara bodoh membuntutinya ke gudang bekas, mungkin ia takkan pernah menyaksikan pembunuhan secara langsung. Tapi di sisi lain, jika Eljas saat itu tak muncul dan menghadapi kedua pengawal Mita, Yohan tentu takkan berada di sana saat ini.
"Tinggalkan kota ini. Pulanglah. Aku akan mengawalmu," kata Eljas beberapa minggu setelah ia menyelamatkannya. Kondisi Yohan juga sudah cukup pulih. Eljas sampaikan itu karena memang tak ada harapan bagi Yohan untuk kembali ke kota itu. Tidak setelah Yohan berbuat cukup jauh dengan mencoba menyakiti Mita, apalagi setelah Eljas membunuh kedua pengawal itu demi menyelamatkannya.
"Aku tidak akan pulang."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan bunuh Oscar."
"Hahaha."
"Aku serius. Aku tidak akan pulang."
"Cecunguk sepertimu bisa apa? Kukira kau tidak bisa lebih bodoh lagi."
"Bantu aku. Aku tahu kemampuanmu. Rob menyebutmu Sang Pemburu, kan?"
"Kau tak tahu apa-apa, Bocah. Aku serius. Pulanglah. Kalau kau berkeliaran lagi di kota itu kau pasti tidak akan selamat."
"Tidak. Aku akan tetap pada keputusanku."
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda. Aku mohon padamu. Bantu aku. Aku punya banyak uang."
"Dengar bocah kaya sialan. Aku tak tertarik dengan dendam cinta monyetmu."
Perkataan itu membuat emosi Yohan meledak. Rasanya seperti ia tak peduli pernah sebegitu takutnya dengan Eljas. Yohan kalap dan mengayunkan tinjunya. Dan tentu saja serangan itu hanya membuatnya berakhir dengan posisi leher terkunci, berontak namun sia-sia. Eljas melepaskannya dan cekikan bertenaga itu membuat nafas Yohan seperti hilang setengah.
"Bajingan kau! Pengecut! Kalau kau tidak mau membantuku, biar aku bergabung dengan mereka!"
Eljas tahu selain dengan meninggalkan kota itu, cara untuk selamat dari ancaman Oscar adalah menjadi anak buah Rob karena kedua organisasi itu terikat sebuah perjanjian, akan tetapi Eljas percaya perkataan itu bukan berasal dari hitung-hitungan yang cermat, melainkan darah muda yang erat dengan tindakan-tindakan bodoh. Eljas sempat tak yakin Yohan serius dengan perkataannya. Tapi Eljas yang akhirnya goyah dan dengan sigap ia menghalangi Yohan untuk tidak keluar dari ruangan itu.
"Kubilang kau harus pulang."
"Peduli setan dengan omonganmu. Pengecut!"
Eljas seketika geram dan melayangkan tinjunya. Yohan tersungkur dan sepertinya jelas jika ia akan membalaskan harga dirinya dengan tidak mendengarkan omongan Eljas. Yohan menerima semua pukulan itu tanpa perlawanan seperti halnya protes Mahatma Gandhi. Sebanyak apapun Eljas menghajarnya, pada akhirnya ia tetap berdiri untuk meninggalkan tempat itu namun untuk menuntaskan dendam.
***
Diubah oleh kawmdwarfa 21-11-2020 20:56
ariefdias memberi reputasi
1
Tutup