Kaskus

Story

fxckifiedAvatar border
TS
fxckified
You Made Me Love More
You Made Me Love More
Special thanks to agan @pandaibesi666for the cover emoticon-Kiss (S)


Quote:


Hallo semua suhu-suhu penghuni SFTH di forum terbesar di Indonesia ini. Sebelumnya, newbie meminta maaf jikalau sekiranya newbie lancang.

Setelah sekian lama menjadi silent reader, newbie beranikan diri untuk menuliskan cerita disini. Untuk nama karakter terkait dan tempat akan disamarkan. Kalau ada yang bertanya, ini real atau fiksi? Anggap saja fiksi, agar kehidupan newbie tidak digali.

Akan ada beberapa adegan 18+, mohon disikapi secara bijak oleh suhu-suhu disini. Dan juga, banyak dialog yang disempurnakan, karena newbie tidak mampu mengingat semua dialog secara persis.

Newbie juga akan mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan pengejaan yang baik namun tidak terlalu baku, agar tulisan newbie dapat mudah dibaca dan dimengerti oleh suhu-suhu semua disini. Newbie engga mau kalau sampai Ivan Lanin pensiun dini karena engga sengaja baca cerita newbie yang penulisannya berantakan.

Jika ada kesalahan dalam pengetikan, newbie memohon maaf, dikarenakan newbie hanya menggunakan smartphone untuk mengetik cerita ini. Mohon harap dimaklumi, because this is my very first attemp to write this kind of thing.

Untuk rules di thread ini, rules mengacu kepada rules di SFTH pada umumnya.

Biar keren kayak suhu-suhu disini, maka ini adalah beberapa jawaban untuk frequently asked questions (FAQ):

Quote:


So, without any further ado, grab a seat, and please enjoy the show, ladies and gentlemen.
Diubah oleh fxckified 21-04-2020 11:38
elbe94Avatar border
pulaukapokAvatar border
khodzimzzAvatar border
khodzimzz dan 60 lainnya memberi reputasi
61
21.6K
227
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
Tampilkan semua post
fxckifiedAvatar border
TS
fxckified
#111
18th Scene: Our Holiday? More Like Our Parents' Holiday
Mulai part ini, gue akan mengganti kata "bokap gue-nyokap gue" gue menjadi "papa-mama" ya. Terima kasih!

---

Petangnya, saat kami sedang menyiapkan pembakaran untuk makan malam, terdengar suara gerbang yang dibuka. Suara tersebut membuat Anya dan Agni berlarian ke depan, disusul oleh Om Dayat yang mengekor mereka untuk membantu membuka gerbang. Gue dan Papa hanya tertawa melihat tingkah Anya dan Agni, seraya menyusul mereka ke depan.

Terlihat ada 2 mobil memasuki halaman. Mobil yang biasa digunakan oleh Mama, dan mobil Om Ricky mengekor di belakangnya. Agni yang sempat terkejut karena tidak melihat mobil orangtuanya, akhirnya tersenyum lega saat melihat Om Alfi dan Tante Vera turun dari mobil mama. Agar efisien, katanya. Dan juga, agar ada yang bisa menyetir mobilnya mama. Maklum, perjalanan jauh. Gue dan Papa khawatir jika Mama yang menyetir.

Quote:


Akhirnya gue dan Om Dayat lah yang membakar ikan dan jagung, sementara para bapak-bapak mengobrol di ruang tengah, mungkin ingin beristirahat dulu sejenak setelah menempuh perjalanan. Sedangkan ibu-ibu beserta anak-anak perempuannya memasak beberapa menu tambahan di dapur.

Selesai makan malam yang diiringi oleh canda tawa kami semua, para orangtua melanjutkan mengobrol. Gue mengambil gitar dan menuju ke lantai atas agar suara gitarnya tidak mengganggu obrolan. Lalu gue mencoba menyanyikan beberapa lagu yang gue tau. Saat itu gue belum terlalu bisa bermain gitar, hanya bisa bermain sedikit lagu, itupun gue melihat ke majalah chord gitar yang gue beli seminggu sekali dan kebanyakan chordnya melenceng dari lagunya. emoticon-Hammer

Quote:


Gue menyetel salah satu lagu dari ponsel gue, dan gue kencangkan suara dari ponsel gue, agar suara fals gue tidak terlalu terdengar.

"Okay, I present this special song for someone special," ujar gue sambil memegang tangan Anya. Terlihat pipi Anya mulai bersemu merah.

Quote:


Anya terlihat tersenyum, pipinya merah merona, dan dia menenggelamkan wajahnya di bantal. Gue tersenyum melihatnya. Memang lucu pacar gue. Belum puas gue melihat wajahnya yang seperti itu, gue mendengar suara Papa memanggil gue.

Quote:


Gue melepas pegangan tangan gue dari Anya, dan beranjak mengambil gitar. Belum gue menginjak tangga, Anya menarik tangan gue dan mengecup bibir gue sekilas, lalu tersenyum. Lalu kami berdua turun ke bawah.

Quote:


Gue terpaksa menuruti perintah Papa, yang berakhir dengan celetukan-celetukan dari para orangtua kepada gue dan Anya. Akhirnya, sepanjang malam kami malah bernyanyian dengan diiringi gitar yang dimainkan bergantian oleh para bapak-bapak. Anya dan Agni tidak mengetahui kebanyakan lagu yang dinyanyikan karena kebanyakan lagu yang dinyanyikan adalah lagu lama. Namun gue yang selera musiknya tertular dari papa, masih tau sebagian besar lagu yang dinyanyikan, semacam Air Supply, Queen, Chicago, Bon Jovi, Deep Purple, MLTR, dan lainnya.

Menjelang jam 10 malam, gue pamit tidur kepada semuanya, dan diikuti oleh Anya dan Agni. Gue beranjak ke atas, sedangkan Anya dan Agni menuju kamar belakang. Para orangtua masih mengobrol dan bernyanyi. Mungkin mereka ingin bernostalgia.

Saat mau tertidur, ponsel gue berdering pertanda ada pesan singkat masuk. Gue mengambilnya dan membacanya.

Quote:


Gue hanya tersenyum membacanya, lalu gue membalasnya singkat.

Quote:


Gue mengambil handsfreedan membaringkan badan gue di tempat tidur yang sudah diangkat ke ruang tengah lantai atas, menyematkan handsfree tersebut pada telinga gue, dan memutar lagu hingga gue tertidur.

***

Pagi harinya, seperti halnya kemarin, gue dibangunkan oleh Anya dengan cubitan. Gue terbangun dan menatap wajahnya lama. Dan entah kenapa, gue merasakan rasa sayang gue kepada Anya bertambah besar pagi itu. Anya yang ditatap seperti itu oleh gue, lama-lama salah tingkah.

Quote:


Gue menegakkan badan gue. Anya bersiap untuk berdiri, namun gue menahannya, dan segera memeluknya. Mungkin Anya merasa aneh dengan sikap gue pagi itu.

Quote:


Kami turun ke bawah, dan melihat para orangtua sudah berada di meja makan. Om Dayat sudah pulang katanya, membawa mobil mama. Mama sudah menyiapkan isian roti favorit gue, telor orak arik buatan mama.

Quote:


Selesai sarapan, gue, Anya, dan Agni berjalan ke belakang villa. Menyusuri sawah, dan melewati jalan setapak di tengah kebun yang lebat. Pada awalnya, Anya dan Agni protes karena sudah berjalan jauh namun masih tidak mengetahui mau gue bawa ke mana. Namun, setelah mengetahui ke mana jalan setapak ini berujung, Anya dan Agni tersenyum sumringah saat melihat sebuah air terjun di ujung jalan setapak ini.

Quote:


Setelah berjalan di jalan setapak tanah itu, kami sampai di air terjun tersebut. Anya dan Agni segera melepas sendalnya dan berjalan ke air hingga kaki mereka terbenam sebatas betis. Tidak mau berenang karena tidak bawa baju ganti, katanya.

Air terjunnya tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitar 8 meter. Namun air yang dialirkannya cukup deras. Tidak banyak orang luar yang mengetahui adanya air terjun ini, sehingga kondisinya masih terjaga. Sampah yang bertebaran pun adalah sampah organik, seperti daun dan ranting.

Quote:


Anya mendatangi tempat gue duduk, melingkarkan tangannya di badan gue, dan mencium bibir gue. Raut wajahnya terlihat sumringah. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar.

Quote:


Menjelang siang, kami sudah kembali ke villa. Anya dan Agni heboh menceritakan pengalamannya ke para orangtua. Orangtua Anya dan Agni hanya bengong mendengarnya.

Quote:


Hari itu, kami menghabiskan waktu dengan berkumpul dan mengobrol-ngobrol, tidak lupa bernyanyi diiringi oleh suara gitar yang dipetik para bapak-bapak. Papa juga sempat keluar sebentar untuk membeli kaset dan mic, agar para orangtua bisa berkaraoke ria. Gue, Anya, dan Agni hanya memperhatikan mereka, dan sesekali tertawa melihatnya.

Liburan kali ini, nampaknya akan menjadi ajang liburan para orangtua.

***

Keesokan paginya, seperti biasa, gue dibangunkan oleh Anya. Bedanya, kali ini gue disuruh cepat-cepat bersiap-siap. Padahal, bapak-bapak masih memancing untuk makan siang nanti, dan ibu-ibu masih masak dan menyiapkan bumbu bakar ikan dan juga ayam, ternyata tadi pagi para ibu-ibu menyempatkan untuk ke pasar. Sempat terjadi perdebatan, apakah ikannya dibakar di lokasi air terjun, atau dibakar di villa. Akhirnya kami sepakat membawa ikan mentah dan dibakar di air terjun, agar masih terasa hangat saat dimakan. Tidak lupa membawa beberapa bungkus arang dan besi kecil untuk memanggang.

Singkatnya, kami sampai di air terjun tersebut dengan berjalan kaki. Pada saat perjalanan, kami sempatkan mengambil beberapa lembar daun pisang untuk alas makan kami. Bapak-bapak menyiapkan pembakaran, dan ibu-ibu beserta kami para bocah berendam di air terjun itu. Gue akhirnya meninggalkan rombongan ibu-ibu dan membantu bapak-bapak untuk membakar ikan.

Setelah makanan siap, kami memanggil ibu-ibu untuk makan siang. Ini bukan pertama kalinya gue makan di alam seperti ini, gue pernah beberapa kali ikut acara perkemahan. Namun terasa berbeda dengan hadirnya keluarga dan orang terdekat gue.

Menjelang sore, kami buru-buru membereskan barang-barang dan sampah bekas makan kami karena awan terlihat mendung. Sampai di villa, kami semua langsung masuk kamar masing-masing, kecuali gue. Gue mengambil gitar, lalu berjalan menuju balkon lantai atas.

Quote:


Sedikit intermezzo, mungkin readers di sini ada yang heran dengan Papa yang sering memberi gue wejangan semenjak gue masih bocah. Gue pernah menanyakan alasannya saat gue sudah beranjak dewasa. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak bisa memantau perkembangan gue karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan beliau untuk berjauhan dengan gue, dengan harapan gue mendengarnya dan gue bisa bersikap dewasa, dan juga bisa berpikir panjang dengan sendirinya meskipun tanpa didampingi beliau. Mungkin karena itu, beberapa teman gue nyaman untuk bercerita dan curhat ke gue, dan mereka mengatakan bahwa pola pikir gue cukup berbeda dengan pola pikir anak seumuran gue pada umumnya.

Quote:


Kami lanjut mengobrol di balkon tersebut hingga matahari terbenam yang diiringi oleh rintik hujan. Tidak lama kemudian, gue mengajak Anya untuk masuk karena udara sudah terasa dingin.

Sebelum turun, gue menarik Anya, memeluknya dan mencium bibirnya. Anya membalasnya. Gue merasakan, bukan nafsu yang membuat gue menciumnya. Entah apa itu, gue belum paham saat itu.

Quote:


Anya yang mendengarnya, tidak menjawab. Hanya tersenyum, lalu membenamkan wajahnya di dada gue seraya mengeratkan pelukannya, sedikit membuat gue kesulitan bernapas. []

Diubah oleh fxckified 29-04-2020 20:35
adityasatriaji
lengzhaiii
i4munited
i4munited dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.