- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.5K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#143
Spoiler for Part 49:
Part 49
"Piniiii.... kamu kok gak pernah gabung lagi sih sama kita"
Beby memamanggil viny yang sedari tadi hanya mondar mandir dari kamar ke dapur tanpa ada niat sekalipun menghampiri kami yang sedang duduk di ruang tamu.
Viny: "males jadi obat nyamuk beb"
Beby: "iiihhh, nggak kok, ayo sini, duduk sama kita"
Viny: "nggak deh"
Beby: "kamu ngambek ya sering aku tinggal jalan bareng natha???, ataaauuuu..... kamu cemburu ya liat natha sama aku terus??"
Mata viny seketika terbelalak setelah mendengar tuduhan tidak berdasar dari beby yang ditujukan kepadanya.
Jangankan viny, akupun berhasil dibuat terkejut dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut beby.
Vinypun berjalan kearah ruang tamu untuk menghampiri kami.
Pletaaaakkk......
Viny: "ngasal banget kalo ngomong"
Beby: "hehe, abiiis, akhir-akhir ini kamu ngehindar terus kalo natha lagi kesini"
Viny: "mana ada aku suka sama cowok kayak dia, males banget, banyak kok cowok ganteng yang deketin aku"
Beby: "emang vin, yang bilang natha ganteng siapa?"
Viny: "tau gitu masih aja kamu tempelin terus"
Beby: "yaudah, makanya, gabung dong sini sama kita"
Vinypun memilih untuk duduk di samping beby.
Viny: "yaudah, iyaa iyaa, aku gabung, lagian tumben banget kamu nyariin aku, biasanya ninggalin mulu"
Beby: "eleeuuhh, pini pudungan euuy, kan setiap aku habis jalan sama natha, aku selalu bawa sogokkan buat kamu"
Viny: "iya iyaa, perhitungan banget"
Beby: "iyalaaaah!!!"
Sambil berkata seperti itu beby beranjak dari duduknya, lalu berlalu dari hadapan kami dan berjalan menuju kamarnya.
Sepertinya beby ingin mengambil sesuatu.
Jujur aku merasa sangat canggung karena ditinggal oleh beby, sekrang, di ruangan ini hanya tersisa aku dan viny yang masih tetap duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Aku berusaha membuang pandanganku dari wajah viny, viny juga melakukan hal yang sama kepadaku, pandangan mata kami sempat bertemu beberapa kali, tapi lagi-lagi kami langsung mengalihkan pandangan mata kami kearah lain.
Yap... situasi seperti ini bisa terjadi akibat kejadian yang terjadi di ruangan ini beberapa hari yang lalu.
Viny marah kepadaku karena dia melihatku menemani shani menonton konser sehingga mengabaikan ajakan beby untuk kerumahnya malam itu.
Sedangkan aku marah kepada viny akibat tuduhan tidak berdasar yang dilontarkan oleh viny kepadaku.
"Nat, vin, aku pergi beli martabak manis dulu ya, kalian tunggu disini, akur-akur ya...."
Hadeeehhhh.... beeeeb... beeeeb...., pake ditinggal bareng viny segala lagi, gak gau ya kalo aku sama viny lagi berantem, huuuuhhhh...... untung sayang.
Aku dan viny hanya berucap iya kepada beby yang sedang berpamitan untuk pergi membeli martabak manis.
Bebypun membalikkan tubuhnya ke arah pintu keluar.
"Eeehhh, mbaakk, aku aja deh yang beli"
Yap, aku menawarkan diri untuk menggantikan beby yang akan pergi membeli martabak manis untuk menghindari situasi canggung yang pasti akan terjadi jika aku harus berduaan bersama viny di tempat ini.
Karena mendengar aku memanggilnya, beby menolehkan kepalanya kearahku.
"Gak usah nat, kamu kan baru sampe, aku aja"
Bebypun kembali berjalan menghampiri pintu keluar yang tinggal berjarak beberapa langkah lagi dari tempatnya berdiri saat ini.
Tiba-tiba dia kembali membalikkan tubuhnya kearah kami.
"Heeehhh!!!!, tapi kalian jangan macem-macem ya....."
Duukkkk....
Viny melemparkan satu kotak tisu kearah beby.
Viny: "enak aja, kamu kira aku apaan"
Beby: "hehe, becanda vin, aku keluar dulu yaaa..."
Akhirnya beby pun berjalan keluar untuk membeli martabak manis yang dijual tidak jauh dari rumahnya.
1 menit..... 2 menit...... 10 menit......
Keadaan masih tetap hening, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku dan viny.
Karena mungkin viny merasa canggung, diapun memilih untuk beranjak dari tempat duduknya.
Tapi..... sebelum dia benar-benar berlalu dari hadapanku, aku memutuskan untuk menahannya.
"Mbaaak......"
Viny yang awalnya sudah akan berjalan menuju kamarnya, menoleh kearahku setelah mendengar suaraku yang memanggilnya.
"Kenapa nat?"
Yap.... aku tidak boleh membiarkan masalah ini terus berlarut-larut tanpa ada kejelasan sama sekali.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menuntaskan masalah ini malam ini juga"
"A a a aku mau ngomong mbak"
Vinypun langsung membuang pandangannya dari wajahku, lalu dia memutuskan untuk kembali duduk di tempatnya semula.
"Ngomong apa?, masalah yang kemaren?, udah lah nat"
Viny masih berbicara kepadaku dengan nada yang datar.
Jujur nyaliku seketika hilang setelah mendengar tanggapan dari viny yang sama sekali tidak mengenakkan bagiku.
Tapiiiii..... sepertinya aku bisa memakai cara lain, hehehe.
Aku: "bukan mbak"
Viny: "terus?"
Aku: "aku mau jujur mbak"
Viny: "gak usah basa basi nat, mau ngomong apa?"
Aku: "sebenernya.... aku suka sama mbak"
Sontak ekspresi wajah viny langsung berubah, viny yang sebelumnya hanya memasang wajah datarnya, seketika langsung berubah, sekarang wajah viny seperti sesorang yang baru saja melihat sesosok kuntilanak.
"K k kamu ngomong apa sih nat?"
Hehehe, sepertinya aku berhasil menarik viny untuk masuk kedalam jebakanku.
Entahlah, padahal ini jebakan yang sangat klasik, bahkan awalnya aku sempat mengira cara ini tidak akan berhasil, tapi kenyataannya......
Aku: "masa harus aku ulangin sih mbak"
Viny: "e e e enngak nat, maaf, aku gak bisa"
Aku: "gak bisa apa?, kenapa?"
Viny: "k kamu gak bisa gitu nat, aku gak mau nyakitin beby"
Makin kesini, eksoresi wajah viny terlihat semakin bingung dan ketakutan.
"Wkwkwkwkwkwkwkwk"
Sontak tawaku pecah karena merasa berhasil mengerjai viny malam ini.
Viny yang baru saja sadar bahwa dia sedang dikerjai olehku, langsung bernajak dari duduknya, lalu menghampiriku, daaaannnn.......
Buuukkk.... Buuukkkkk..... Buuukkkk..... Buuukkkk..... Buuuukkk.... Buuukkkkk......
"Nathaaaaaa!!!!, gak lucuuuuuuuuuuu!!!!!"
Aku hanya tertawa sambil melindungi tubuhku agar tidak terkena pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh viny.
Yap.... Aku harap dengan ini, suasana bisa menjadi lebih cair, entah kenapa wajah datar viny sangat menyeramkan ketika dia sedang marah seperti tadi, aku rasa aku tidak akan sanggup untuk mengajaknya berbicara jika viny masih dalam kondisi seperti itu.
"Iiihhhh, ngeseliiiiiin!!!!!!!, hh.... hh..... hh....."
Viny terlihat ngos-ngosan setelah sedari tadi meluncurkan pukulan bertubi-tubi kearah tubuhku.
"Wkwkwkwkwk, udah udah mbak, duduk dulu, entar pingsan, udah ngos-ngosan gitu"
Viny hanya diam sambil menatapku dengan tatapan kesal.
Viny: "jangan ketawaaa!!!!"
Aku: "wkwkwk, iya tapi mbak du...."
Viny: "dieeeeemmmm!!!!"
Karena merasa sudah sangat lelah, vinypun kembali duduk ketempatnya semula.
"Ekhmmm ekhmmm, iya iya, udah kok, gak ketawa lagi"
Kini viny hanya menatapku dengan tatapan kesal, jelas kali ini berbeda dengan tatapan datar yang ditunjukkan oleh viny sebelumnya, jadi, sebelum aku kehilangan momen ini, aku putuskan untuk langsung menyampaikan maksudku yang sebenarnya kepada viny.
"Enggak mbak, yang tadi becanda"
"Sebenarnya aku mau minta maaf soal masalah yang kemaren"
Viny masih tidak merespon perkataanku, namun dia mau untuk menatap mataku kali ini.
"Aku mau langsung jujur aja mbak, mbak udah liat sendiri kan si shani, siapa sih yang gak suka liat cewek secantik dia"
"Kalo mbak tanya aku suka sama dia?, iya, jujur aku suka"
"Kalo mbak tanya aku seneng sama dia?, iya, aku seneng"
"Tapi ada satu hal yang harus mbak tau, secantik apapun shani, seseneng apapun aku kalo jalan sama dia, gak ada niatan dari aku sedikitpun untuk lebih memprioritaskan shani"
"Sebelum malem itu aku nonton sama dia, aku udah lebih dulu nge iyain ajakan dia mbak"
"Sorenya baru mbak beby nge chat aku, gak mungkin dong aku tiba-tiba batalin janjiku ke shani"
"Aku juga gak tau mbak beby sudah berkorban sebesar itu"
"Kemaren aku udah nolak ajakan dia supaya bisa nemenin mbak beby nonton, ya itu balik lagi, siapa yang udah janjian duluan"
"Dan kalo mbak nanya masalah gimana perasaan aku ke shani..., ya untuk sekarang gak lebih dari suka mbak"
"Tapi gak tau nanti, arrggghhhh.... ya gitu lah mbak, aku sendiri juga bingung"
Jujur aku bingug bagaimana harus meminta maaf kepada viny.
Menurutku cara satu-satunya yang bisa ku lakukan ya seperti sekarang, dengan mengatakan sejujur-jujurnya tentang apa yang menjadi sumber pertikaian kami kemaren.
Setelah aku sempat terdiam karena tidak dapat melanjutkan kata-kataku, tiba-tiba kedua sudut bibir viny membentuk seutas senyuman yang rasanya sudah lama sekali tidak kulihat.
Jujur aku rindu dengan senyuman viny, sudah berapa hari aku tidak melihat viny tersenyum kepadaku, entahlah, bagiku senyuman viny itu sangat menenangkan.
"Aku juga minta maaf nat"
"Gak seharusnya aku nuduh kamu yang enggak-enggak kayak kemaren"
"Jujur aku kebawa emosi, makanya aku gak mau dengerin penjelasan kamu kemaren"
"Makasih nat, kamu udah mau jujur sama aku"
"Tapi nat.... aku minta tolong, kamu harus terbuka juga sama beby, aku gak mau kalo beby tau tentang shani dari orang lain, aku yakin dia pasti sedih banget"
"Beby udah cerita, kemaren kalian ketemu kan waktu lagi makan di k*c, untung shani gak cerita semuanya nat ke dia"
"entah nat, aku gak tau sedeket apa kamu sama shani, seberapa sering kalian ketemu, apa aja yang udah kalian lakuin, aku juga gak punya hak buat ngatur-ngatur kamu"
"Tapi aku minta tolong nat, jangan sakitin beby, dia temen baik aku, dia udah banyak bantu aku, ya.... meskipun kadang-kadang kelakuannya kayak bocah, tapi dia tetep sahabat aku nat, aku juga bakal sedih kalau liat dia sedih"
Huuuhhhh....
Lega rasanya, akhirnya satu masalah yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku dapat kuselesaikan dengan cara baik-baik.
Aku: "jadi..... kita baikan kan mbak?"
Viny: "mmmmm, enggak deh, tadi kamu ngisengin aku"
Aku: "abis, mbak jutek banget sih dari kemaren-kemaren"
Viny: "ya kan gara-gara kamuuu!!!"
Aku: "eh, mbak, btw yang tadi aku serius lo"
Viny: "kamu mau aku ceburin ke kolam ikan di depan nat?"
Aku: "hehehe, ampun mbak"
Viny: "hihihi, impin mbik"
Keadaan sempat kembali hening.
"Jadi..... kita baikan ya????"
Cekleekk.....
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah luar.
"Huuuuhhhhh.... abang-abang yang jual martabak ngeselin banget"
Beby masuk kedalam rumah sambil uring-uringan dan memasang wajah kesalnya.
Viny: "kenapa sih bebb, baru dateng udah marah-marah"
Beby: "aku kan udah pesen duluan, tapi orang yang dateng habis aku malah jadi duluan pesenennya, pas aku tanya lagi ke abangnya, ternyata dia lupa sama pesenan aku"
"Wkwkwkwkwk"
Sontak aku dan viny tidak dapat menahan tawa setelah mendengar ceritaa yang keluar dari mulut beby.
Aku: "muka mbak ngeselin sih, jadi mas-mas martabaknya pengen ngerjain mbak"
Beby: "mana adaaa"
Aku: "iya mmbak cahaya lampu di sana pasti kena jidat mbak paling, makanya mas-mas martabaknya kesilauan, jadi kesusahan deh bikin martabaknya, jadi dia kesel deh"
Beby: "iiihhh, nathaaa....., malah bikin tambah bete aaahhhh"
Puukkk...
Beby menaruh martabak manis yang baru saja dia beli diatas meja ruang tamu.
Lalu, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung berjalan kearah kamar.
Viny: "bebbb, mau kemana????"
Beby: "tiduuuuurrrr, natha ngeselin"
Viny langsung melirik tajam kearahku.
Viny: "baruuuu aja tadi dibilangin, sekarang udah cari masalah lagi"
Aku: "hehehe"
Viny: "cepet, bujukin sana bebynya!!!!"
Aku: "iya iya, bentar ah, makan ini dulu"
Aku berkata seperti itu sambil membuka plastik didepanku yang berisi martabak manis.
Plaaaaakkk.......
Viny: "nathaaa!!!, urusin bebynya dulu!!!, baru makan!!!"
Aku: "bentar mbak... laper"
Viny: "nathaa!!!, cepeeettt!!!"
Aku: "e e eehhh, iya mbak, iyaa"
Akupun berlalu dari hadapan viny untuk menyusul beby yang sedang ngambek kedalam kamar.
Terlihat beby sedang memeluk guling sambil menutupi wajahnya.
Aku: "hehehe, mbaaak, katanya gak bakal nangis malem ini"
Beby: "mmmmhhhhh, keluaaaar!!!"
Aku: "e e eeeh, jangan teriak-teriak, entar kalo pak RT denger mbak dikira orang gila, mbak mau entar dipasung di ujung komplek sana?"
Buuuukkk.... Buuuukkk.... Buuuukkk....
Beby memukulku berkali-kali dengan guling yang ada ditangannya.
Beby: "kamu yang gilaaa!!!"
Aku: "tapi mbak mau aja tuh deket-deket aku, berarti kita sama-sama gila dongg..."
Beby: "kamu aja yang gila!!!"
Aku: "bodo amat, yang penting kamu gila juga, wleeeee"
Beby: "kamu!!!!, wleeeee"
Mungkin bercandaan kami sekarang terlihat seperti bercandaan anak kecil, tapi entah mengapa aku sangat menikmatinya, mungkin beby merasakan hal yang sama.
Yaaa.... meskipun setelah kalah dalam beradu argumen diapasti akan menangis sesenggukan seperti anak kecil, akhir-akhir ini melihat wajah beby yang sedang menangis malah menjadi hiburan tersendiri bagiku.
Wkwkwkwkwkwkwk
"Nathaaaaa...... Bebyyyyyy........, dieeemmmm!!!!!!, aku pusing denger kalian teriak-teriak"
.
.
.
"Piniiii.... kamu kok gak pernah gabung lagi sih sama kita"
Beby memamanggil viny yang sedari tadi hanya mondar mandir dari kamar ke dapur tanpa ada niat sekalipun menghampiri kami yang sedang duduk di ruang tamu.
Viny: "males jadi obat nyamuk beb"
Beby: "iiihhh, nggak kok, ayo sini, duduk sama kita"
Viny: "nggak deh"
Beby: "kamu ngambek ya sering aku tinggal jalan bareng natha???, ataaauuuu..... kamu cemburu ya liat natha sama aku terus??"
Mata viny seketika terbelalak setelah mendengar tuduhan tidak berdasar dari beby yang ditujukan kepadanya.
Jangankan viny, akupun berhasil dibuat terkejut dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut beby.
Vinypun berjalan kearah ruang tamu untuk menghampiri kami.
Pletaaaakkk......
Viny: "ngasal banget kalo ngomong"
Beby: "hehe, abiiis, akhir-akhir ini kamu ngehindar terus kalo natha lagi kesini"
Viny: "mana ada aku suka sama cowok kayak dia, males banget, banyak kok cowok ganteng yang deketin aku"
Beby: "emang vin, yang bilang natha ganteng siapa?"
Viny: "tau gitu masih aja kamu tempelin terus"
Beby: "yaudah, makanya, gabung dong sini sama kita"
Vinypun memilih untuk duduk di samping beby.
Viny: "yaudah, iyaa iyaa, aku gabung, lagian tumben banget kamu nyariin aku, biasanya ninggalin mulu"
Beby: "eleeuuhh, pini pudungan euuy, kan setiap aku habis jalan sama natha, aku selalu bawa sogokkan buat kamu"
Viny: "iya iyaa, perhitungan banget"
Beby: "iyalaaaah!!!"
Sambil berkata seperti itu beby beranjak dari duduknya, lalu berlalu dari hadapan kami dan berjalan menuju kamarnya.
Sepertinya beby ingin mengambil sesuatu.
Jujur aku merasa sangat canggung karena ditinggal oleh beby, sekrang, di ruangan ini hanya tersisa aku dan viny yang masih tetap duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Aku berusaha membuang pandanganku dari wajah viny, viny juga melakukan hal yang sama kepadaku, pandangan mata kami sempat bertemu beberapa kali, tapi lagi-lagi kami langsung mengalihkan pandangan mata kami kearah lain.
Yap... situasi seperti ini bisa terjadi akibat kejadian yang terjadi di ruangan ini beberapa hari yang lalu.
Viny marah kepadaku karena dia melihatku menemani shani menonton konser sehingga mengabaikan ajakan beby untuk kerumahnya malam itu.
Sedangkan aku marah kepada viny akibat tuduhan tidak berdasar yang dilontarkan oleh viny kepadaku.
"Nat, vin, aku pergi beli martabak manis dulu ya, kalian tunggu disini, akur-akur ya...."
Hadeeehhhh.... beeeeb... beeeeb...., pake ditinggal bareng viny segala lagi, gak gau ya kalo aku sama viny lagi berantem, huuuuhhhh...... untung sayang.
Aku dan viny hanya berucap iya kepada beby yang sedang berpamitan untuk pergi membeli martabak manis.
Bebypun membalikkan tubuhnya ke arah pintu keluar.
"Eeehhh, mbaakk, aku aja deh yang beli"
Yap, aku menawarkan diri untuk menggantikan beby yang akan pergi membeli martabak manis untuk menghindari situasi canggung yang pasti akan terjadi jika aku harus berduaan bersama viny di tempat ini.
Karena mendengar aku memanggilnya, beby menolehkan kepalanya kearahku.
"Gak usah nat, kamu kan baru sampe, aku aja"
Bebypun kembali berjalan menghampiri pintu keluar yang tinggal berjarak beberapa langkah lagi dari tempatnya berdiri saat ini.
Tiba-tiba dia kembali membalikkan tubuhnya kearah kami.
"Heeehhh!!!!, tapi kalian jangan macem-macem ya....."
Duukkkk....
Viny melemparkan satu kotak tisu kearah beby.
Viny: "enak aja, kamu kira aku apaan"
Beby: "hehe, becanda vin, aku keluar dulu yaaa..."
Akhirnya beby pun berjalan keluar untuk membeli martabak manis yang dijual tidak jauh dari rumahnya.
1 menit..... 2 menit...... 10 menit......
Keadaan masih tetap hening, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku dan viny.
Karena mungkin viny merasa canggung, diapun memilih untuk beranjak dari tempat duduknya.
Tapi..... sebelum dia benar-benar berlalu dari hadapanku, aku memutuskan untuk menahannya.
"Mbaaak......"
Viny yang awalnya sudah akan berjalan menuju kamarnya, menoleh kearahku setelah mendengar suaraku yang memanggilnya.
"Kenapa nat?"
Yap.... aku tidak boleh membiarkan masalah ini terus berlarut-larut tanpa ada kejelasan sama sekali.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk menuntaskan masalah ini malam ini juga"
"A a a aku mau ngomong mbak"
Vinypun langsung membuang pandangannya dari wajahku, lalu dia memutuskan untuk kembali duduk di tempatnya semula.
"Ngomong apa?, masalah yang kemaren?, udah lah nat"
Viny masih berbicara kepadaku dengan nada yang datar.
Jujur nyaliku seketika hilang setelah mendengar tanggapan dari viny yang sama sekali tidak mengenakkan bagiku.
Tapiiiii..... sepertinya aku bisa memakai cara lain, hehehe.
Aku: "bukan mbak"
Viny: "terus?"
Aku: "aku mau jujur mbak"
Viny: "gak usah basa basi nat, mau ngomong apa?"
Aku: "sebenernya.... aku suka sama mbak"
Sontak ekspresi wajah viny langsung berubah, viny yang sebelumnya hanya memasang wajah datarnya, seketika langsung berubah, sekarang wajah viny seperti sesorang yang baru saja melihat sesosok kuntilanak.
"K k kamu ngomong apa sih nat?"
Hehehe, sepertinya aku berhasil menarik viny untuk masuk kedalam jebakanku.
Entahlah, padahal ini jebakan yang sangat klasik, bahkan awalnya aku sempat mengira cara ini tidak akan berhasil, tapi kenyataannya......
Aku: "masa harus aku ulangin sih mbak"
Viny: "e e e enngak nat, maaf, aku gak bisa"
Aku: "gak bisa apa?, kenapa?"
Viny: "k kamu gak bisa gitu nat, aku gak mau nyakitin beby"
Makin kesini, eksoresi wajah viny terlihat semakin bingung dan ketakutan.
"Wkwkwkwkwkwkwkwk"
Sontak tawaku pecah karena merasa berhasil mengerjai viny malam ini.
Viny yang baru saja sadar bahwa dia sedang dikerjai olehku, langsung bernajak dari duduknya, lalu menghampiriku, daaaannnn.......
Buuukkk.... Buuukkkkk..... Buuukkkk..... Buuukkkk..... Buuuukkk.... Buuukkkkk......
"Nathaaaaaa!!!!, gak lucuuuuuuuuuuu!!!!!"
Aku hanya tertawa sambil melindungi tubuhku agar tidak terkena pukulan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh viny.
Yap.... Aku harap dengan ini, suasana bisa menjadi lebih cair, entah kenapa wajah datar viny sangat menyeramkan ketika dia sedang marah seperti tadi, aku rasa aku tidak akan sanggup untuk mengajaknya berbicara jika viny masih dalam kondisi seperti itu.
"Iiihhhh, ngeseliiiiiin!!!!!!!, hh.... hh..... hh....."
Viny terlihat ngos-ngosan setelah sedari tadi meluncurkan pukulan bertubi-tubi kearah tubuhku.
"Wkwkwkwkwk, udah udah mbak, duduk dulu, entar pingsan, udah ngos-ngosan gitu"
Viny hanya diam sambil menatapku dengan tatapan kesal.
Viny: "jangan ketawaaa!!!!"
Aku: "wkwkwk, iya tapi mbak du...."
Viny: "dieeeeemmmm!!!!"
Karena merasa sudah sangat lelah, vinypun kembali duduk ketempatnya semula.
"Ekhmmm ekhmmm, iya iya, udah kok, gak ketawa lagi"
Kini viny hanya menatapku dengan tatapan kesal, jelas kali ini berbeda dengan tatapan datar yang ditunjukkan oleh viny sebelumnya, jadi, sebelum aku kehilangan momen ini, aku putuskan untuk langsung menyampaikan maksudku yang sebenarnya kepada viny.
"Enggak mbak, yang tadi becanda"
"Sebenarnya aku mau minta maaf soal masalah yang kemaren"
Viny masih tidak merespon perkataanku, namun dia mau untuk menatap mataku kali ini.
"Aku mau langsung jujur aja mbak, mbak udah liat sendiri kan si shani, siapa sih yang gak suka liat cewek secantik dia"
"Kalo mbak tanya aku suka sama dia?, iya, jujur aku suka"
"Kalo mbak tanya aku seneng sama dia?, iya, aku seneng"
"Tapi ada satu hal yang harus mbak tau, secantik apapun shani, seseneng apapun aku kalo jalan sama dia, gak ada niatan dari aku sedikitpun untuk lebih memprioritaskan shani"
"Sebelum malem itu aku nonton sama dia, aku udah lebih dulu nge iyain ajakan dia mbak"
"Sorenya baru mbak beby nge chat aku, gak mungkin dong aku tiba-tiba batalin janjiku ke shani"
"Aku juga gak tau mbak beby sudah berkorban sebesar itu"
"Kemaren aku udah nolak ajakan dia supaya bisa nemenin mbak beby nonton, ya itu balik lagi, siapa yang udah janjian duluan"
"Dan kalo mbak nanya masalah gimana perasaan aku ke shani..., ya untuk sekarang gak lebih dari suka mbak"
"Tapi gak tau nanti, arrggghhhh.... ya gitu lah mbak, aku sendiri juga bingung"
Jujur aku bingug bagaimana harus meminta maaf kepada viny.
Menurutku cara satu-satunya yang bisa ku lakukan ya seperti sekarang, dengan mengatakan sejujur-jujurnya tentang apa yang menjadi sumber pertikaian kami kemaren.
Setelah aku sempat terdiam karena tidak dapat melanjutkan kata-kataku, tiba-tiba kedua sudut bibir viny membentuk seutas senyuman yang rasanya sudah lama sekali tidak kulihat.
Jujur aku rindu dengan senyuman viny, sudah berapa hari aku tidak melihat viny tersenyum kepadaku, entahlah, bagiku senyuman viny itu sangat menenangkan.
"Aku juga minta maaf nat"
"Gak seharusnya aku nuduh kamu yang enggak-enggak kayak kemaren"
"Jujur aku kebawa emosi, makanya aku gak mau dengerin penjelasan kamu kemaren"
"Makasih nat, kamu udah mau jujur sama aku"
"Tapi nat.... aku minta tolong, kamu harus terbuka juga sama beby, aku gak mau kalo beby tau tentang shani dari orang lain, aku yakin dia pasti sedih banget"
"Beby udah cerita, kemaren kalian ketemu kan waktu lagi makan di k*c, untung shani gak cerita semuanya nat ke dia"
"entah nat, aku gak tau sedeket apa kamu sama shani, seberapa sering kalian ketemu, apa aja yang udah kalian lakuin, aku juga gak punya hak buat ngatur-ngatur kamu"
"Tapi aku minta tolong nat, jangan sakitin beby, dia temen baik aku, dia udah banyak bantu aku, ya.... meskipun kadang-kadang kelakuannya kayak bocah, tapi dia tetep sahabat aku nat, aku juga bakal sedih kalau liat dia sedih"
Huuuhhhh....
Lega rasanya, akhirnya satu masalah yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku dapat kuselesaikan dengan cara baik-baik.
Aku: "jadi..... kita baikan kan mbak?"
Viny: "mmmmm, enggak deh, tadi kamu ngisengin aku"
Aku: "abis, mbak jutek banget sih dari kemaren-kemaren"
Viny: "ya kan gara-gara kamuuu!!!"
Aku: "eh, mbak, btw yang tadi aku serius lo"
Viny: "kamu mau aku ceburin ke kolam ikan di depan nat?"
Aku: "hehehe, ampun mbak"
Viny: "hihihi, impin mbik"
Keadaan sempat kembali hening.
"Jadi..... kita baikan ya????"
Cekleekk.....
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari arah luar.
"Huuuuhhhhh.... abang-abang yang jual martabak ngeselin banget"
Beby masuk kedalam rumah sambil uring-uringan dan memasang wajah kesalnya.
Viny: "kenapa sih bebb, baru dateng udah marah-marah"
Beby: "aku kan udah pesen duluan, tapi orang yang dateng habis aku malah jadi duluan pesenennya, pas aku tanya lagi ke abangnya, ternyata dia lupa sama pesenan aku"
"Wkwkwkwkwk"
Sontak aku dan viny tidak dapat menahan tawa setelah mendengar ceritaa yang keluar dari mulut beby.
Aku: "muka mbak ngeselin sih, jadi mas-mas martabaknya pengen ngerjain mbak"
Beby: "mana adaaa"
Aku: "iya mmbak cahaya lampu di sana pasti kena jidat mbak paling, makanya mas-mas martabaknya kesilauan, jadi kesusahan deh bikin martabaknya, jadi dia kesel deh"
Beby: "iiihhh, nathaaa....., malah bikin tambah bete aaahhhh"
Puukkk...
Beby menaruh martabak manis yang baru saja dia beli diatas meja ruang tamu.
Lalu, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia langsung berjalan kearah kamar.
Viny: "bebbb, mau kemana????"
Beby: "tiduuuuurrrr, natha ngeselin"
Viny langsung melirik tajam kearahku.
Viny: "baruuuu aja tadi dibilangin, sekarang udah cari masalah lagi"
Aku: "hehehe"
Viny: "cepet, bujukin sana bebynya!!!!"
Aku: "iya iya, bentar ah, makan ini dulu"
Aku berkata seperti itu sambil membuka plastik didepanku yang berisi martabak manis.
Plaaaaakkk.......
Viny: "nathaaa!!!, urusin bebynya dulu!!!, baru makan!!!"
Aku: "bentar mbak... laper"
Viny: "nathaa!!!, cepeeettt!!!"
Aku: "e e eehhh, iya mbak, iyaa"
Akupun berlalu dari hadapan viny untuk menyusul beby yang sedang ngambek kedalam kamar.
Terlihat beby sedang memeluk guling sambil menutupi wajahnya.
Aku: "hehehe, mbaaak, katanya gak bakal nangis malem ini"
Beby: "mmmmhhhhh, keluaaaar!!!"
Aku: "e e eeeh, jangan teriak-teriak, entar kalo pak RT denger mbak dikira orang gila, mbak mau entar dipasung di ujung komplek sana?"
Buuuukkk.... Buuuukkk.... Buuuukkk....
Beby memukulku berkali-kali dengan guling yang ada ditangannya.
Beby: "kamu yang gilaaa!!!"
Aku: "tapi mbak mau aja tuh deket-deket aku, berarti kita sama-sama gila dongg..."
Beby: "kamu aja yang gila!!!"
Aku: "bodo amat, yang penting kamu gila juga, wleeeee"
Beby: "kamu!!!!, wleeeee"
Mungkin bercandaan kami sekarang terlihat seperti bercandaan anak kecil, tapi entah mengapa aku sangat menikmatinya, mungkin beby merasakan hal yang sama.
Yaaa.... meskipun setelah kalah dalam beradu argumen diapasti akan menangis sesenggukan seperti anak kecil, akhir-akhir ini melihat wajah beby yang sedang menangis malah menjadi hiburan tersendiri bagiku.
Wkwkwkwkwkwkwk
"Nathaaaaa...... Bebyyyyyy........, dieeemmmm!!!!!!, aku pusing denger kalian teriak-teriak"
.
.
.
Herisyahrian dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas
Tutup
