Kaskus

Entertainment

Surobledhek746Avatar border
TS
Surobledhek746
Kalau Lapar Memang Tidak Enak, Berbagi Yuk!

Kalau Lapar Memang Tidak Enak, Berbagi Yuk!


Puasa, salah satu usaha menahan makan. Otomatis ada rasa lapar. Kekurangan karbohidrat memaksa kondisi tubuh jadi lemas. Berasa ingin makan.

Ternyata berasa ingin makan bukan hanya milik orang lapar. Pada kondisi di luar ramadan, sebagian besar kita jarang memikirkan rasa lapar, karena sebelum lapar datang, kita sudah mengisinya. Sarapan pagi sebelum berangkat bekerja atau aktifitas lainnya.

Setelah jam 10 pagi, sudah ada minuman dan makanan ringan berupa kue yang kita makan lagi. Lalu ketika siang, santap siang sudah tersaji. Tinggal dimakan, dan kenyang.

Pernahkah ketika itu terpikir bagaimana rasanya lapar? Bagi penderita maag akut, rasa lapar kadang datang tiba-tiba. Begitu saja datang, keringat dingin mengucur, badan lemas dan dada berdebar-debar. Sungguh sangat tak enak rasanya. Gw berkali-kali mengalami hal itu. Dan setelah diisi makanan tidak sekonyong-konyong rasa laparnya berkurang.

Biasanya beberapa saat dengan perut kenyang rasa lapar masih ada. Terpaksa merebahkan badan dan setelah terlelap baru perasaan lapar hilang. Badan berasa agak nyaman.

Kembali pada momen ramadan. Kita sepertinya tidak akan merasakan perasaan lapar yang sangat. Tak pernah terdengar ada orang yang puasa kemudian kelaparan dan terpaksa buka di tengah jalan karena keringat dingin seperti yang Gw rasakan tadi. Hanya lemas, dan haus.

Dari cerita di atas Gw hanya ingin membuka bagaimana rasanya lapar. Lapar bagi orang yang tidak puasa. Bukan lapar yang disengaja, dengan niat puasa. Tapi memang lapar karena tidak ada yang dimakan. Hanya ada yang diminum. Dan dengan minum lapar tidak akan hilang. Apalagi hanya air putih.

Mereka yang lapar saat ini di antara kita sangat banyak. Momen ramadan kali ini memberikan kesepatan kepada kita untuk sekedar mengingatkan bahwa di antara suapan makanan yang kita makan ada makanan orang miskin yang tak memiliki makanan. Tugas kita berbagi.

Di antaranya ada yang tak malu menadahkan tangan dan meminta. Tapi tak sedikit yang menahan lapar dengan berdiam diri. Malu jika meminta. Mereka inilah yang wajib kita bantu.

Ketika kita mengatakan bahwa meminta-minta adalah terlarang, haram. Sudahkah kita memberikab hak mereka dari makanan yang kita punya? Jika belum sempat atau lupa berarti kita telah berbuat aniaya.

Dengan memberikan makanan kepada tetangga yang membutuhkan tak akan membuat kita kelaparan. Malah akan dapat jaminan balasan bahwa makanan kit akan ditambah dan berkah.

Oleh karena itu mumpung masih ramadan, dimana kebaikan akan dibalas sepuluh kebaikan dan berlipat ganda. Sisihkan sedikit makanan yang kita masak hari ini untuk tetangga kita yang membutuhkan.

Jangan sampai hanya berbagi makanan dengan tetangga yang sama-sama kaya. Walau tidak salah. Tapi mungkin saja makanan yang kita berikan tidak akan dimakan dan terbuang sia-sia.

Demikianlah, jika laparmu terasa. Maka bagaimana orang miskin yang lapar bukan karena puasa. Tapi mereka lapar karena memang tak ada makanan yang akan dimakan.

Yuk berbagi, sekecil apa pun pemberian kita jika diberikan kepada yang membutuhkan makanan, pasti akan sangat berharga. Semoga.



Kalau Lapar Memang Tidak Enak, Berbagi Yuk!
4iinchAvatar border
CahayahalimahAvatar border
999999999Avatar border
999999999 dan 18 lainnya memberi reputasi
19
645
9
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread104.7KAnggota
Tampilkan semua post
Surobledhek746Avatar border
TS
Surobledhek746
#2
kaskus-image



Sedihnya! Stiker Keluarga Miskin

Ibarat jatuh tertimpa tangga. Tak ada orang yang dalam hidupnya ingin miskin. Kondisi turun temurun sebabkan orang menjadi miskin dan kaya. Jika si anak bisa memilih, pasti akan memilih jadi kaya.

Karena orang tua yang miskin menjadikan anak hanya mampu sekolah hingga SMA, tak sedikit yang harus berhenti sebelum SMA karena ekonomi keluarga.

Sementara kita ketahui, pendidkan identik dengan keterampilan peningkatan tarap hidup. Jika pendidikan rendah, sebagian besar anak akan menjadi miskin. Hanya orang-orang tua tertentu yang memaksakan diri menyekolahkan anaknya hingga je jenjang sarjana dalam kondisi kemiskinananya.

Lantas setelah masa lalu mereka memaksa menjadikan ada orang miskin, yang hidupnya pas-pasan. Kemudian untuk mendapatkan bantuan mereka harus mendapat label miskin di depan rumahnya. Bukankah semakin menjatuhkan harga dirinya. Si miskin memang tak bisa berkata apa-apa, selain menarik napas panjang. "Beginilah nasib orang miskin!"

Bukankah dengan meletakkan label miskin di depan rumah mereka kian menjadikannya menjadi miskin sesungguhnya. Bayangkan saja, setiap mau masuk rumah si tuan rumah akan membaca dan berkata, "Kita memang miskin." Alangkah menyedihkannya.

Berbeda halnya dengan mereka yang sebenarnya mampu, ternyata mssih suka disebut miskin. Hanya demi bantuan bersedia mengadaikan kehormatannya disebut sebgai si miskin.

Pemberian label dengan alasan apa pun tetap saja memberikan penurunan ferajat kemanusiaan sebagai orang miskin. Mereka merasa terhina. Bukankah menyebut si miskin dengan sebutan miskin menghinakan mereka?

Belum lagi pandangan tetangga di sekitarannya. Atau anak-anak sekolah yang di depan rumahnya ada label miskin. Alangkah malunya mereka ketika ada trman sekolah yang kebetulan lewat atau mampir ke rumahnya.

Ini bukan tentang bagaimana memberikan tanda bahwa di rumah tersebut ada orang miskin yang layak mendapat bantuan. Melainkan rasa kemabusiaan si miskin yang terkoyak-koyak dengan perasaan terluka.

Soal bagaimana memberikan tanda "label miskin" bukankah ketua RT sudah mendata, siapa di antara warganya yang miskin sehingga layak mendapat bantuan. Jadi tak perlu label miskin di sematkan pada rumah yang mendapat bantuan.

Kecuali jika si pemberi bantuan memang sengaja ingin menghinakan si miskin dengan sehina-hinanya. Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah barangkali ibaratnya. Kalau mau memberikan bantuan, berikan saja. Toh bantuan yang diberikan juga duit rakyat. Dan rajyat juga berhak mendapat santuanan oleh negara.

Seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar 45, pakir miskin dan anak yatim dipelihara oleh negara. Lalu mengapa pada mereka di sematkan label miskin di depan rumahnya.

Jadi demi menjaga harkat dan martabat si miskin, maka sebaiknya janganlah stiker miskin disematkan lagi para rumah peberima bantuan. Itu pun jika pemberi bantuan berkenan, dan menang niatnya ingin membantu. Namun jika niatnya ingin mempermalukan si miskin, silakan lakukan suka-suka. Toh, si miskin bisa apa. Paling juga sebentar-bentar menyeka air mata dan rasa malu tak terkira.

Miskin bukan pilihan, jadi janganlah mereka dihinakan. Terima kasih.



kaskus-image
kelayan00
Cahayahalimah
Cahayahalimah dan kelayan00 memberi reputasi
2
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.