- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.2K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#128
Spoiler for Part 44:
Part 44
"Mbak, maaf ya, aku tadi malem udah kerumah, tapi mbak udah tidur"
Sekarang aku sedang duduk di gazebo depan lab sambil menikmati sebatang rokok yang ada di tanganku.
Setelah aku pulang dari rumah beby, aku memilih untuk pulang ke kampus, karena kebetulan malam ini ada devan dan nabil yang akan bermalam disini.
Dan juga, aku memutuskan untuk mengirim pesan kepada beby untuk memberitahu bahwa aku tadi sempat mengunjunginya sekaligus meminya maaf.
"Nat, bagi rokok dong"
Akupun menyerahkan kotak rokokku kepada devan yang tiba-tiba muncul dihadapanku.
Devan: "Kenapa lu?, pusing banget kayaknya"
Aku: "kagak van, lagi capek aja, begadang mulu kita"
Devan: "korek nat"
Aku: "buset dah, modal paru-paru doang lu"
Devan: "hehehe"
Akupun menyerahkan korek api yang sedang kupegang kepada devan. Devanpun menyalakan rokoknya lalu mengambil tempat untuk duduk disampingku.
"Anjing, pada disini lu pada, gue kira kemana"
Nabil yang baru saja keluar dari lab, juga memilih untuk ikut bergabung dengan aku dan devan yang sedang duduk di gazebo depan lab.
Lalu dia mengeluarkan 1 kotak malboro dari kantong celana jeansnya.
Devan: "lu kenapa akhir-akhir ini beli malboro mulu bil"
Nabil: "gak tau, mulai seneng putihan gue"
Aku: "kok gue gak masuk ya kalo putihan"
Devan: "sama, gue juga"
Nabil: "lu harus rasain nendangnya putihan pas di tenggorokan"
Aku: "kalo gue malah batuk-batuk kalo ngerokok putihan"
Devan: "kalo gue bisa aja sih, tapi menurut gue kurang nendang aja di kepala"
Nabil: "iya sih van, tapi gak tau kenapa gue akhir-akhir ini eneg kalo ngerokok surya, manis banget"
Devan: "tapi kalo rokok-rokok kayak mild atau putihan mahal bil, cepet abis lagi"
Nabil: "yaaa... gimana ya, ada harga ada rasa sih van"
Aku: "yaaa intinya tergantung selera masing-masing sih"
Kamipun diam sejenak untuk menikmati rokok yang ada di tangan kami masing-masing.
Nabil: "eh nat, shani siapa?"
Devan: "hahh, shani?"
Nabil: "iya van, kemaren ada cewek yang nelfon natha, namanya shani"
Devan: "anjiingg!!!!, siapa tuh nat?"
Aku: "tai lah, ember banget lu bil"
Nabil: "hehehe"
Nabil hanya menanggapiku dengan kekehan kecil.
Devan: "woooyyy, anjing!!!, siapa shani nat??"
Aku: "temen van, barusan dikenalin sama si fandi"
Devan: "fandi temen lu yang kuliah di i*s itu?"
Aku: "iya van"
Devan: "ooohh, pas kemaren dia kesini??"
Aku: "iya van"
Devan: "ada fotonya gak??, liat dooongg!!"
Aku: "kagak kagak!!!, kepo banget lu"
Nabil: "ayolah nat, pelit banget lu ama temen"
Devan: "iya nat, ayo nat, mana fotonya"
Devan merengek sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.
"Iya iyaaa!!, bentar ah"
Akupun mengambil handphoneku yang berada di dalam saku celana jeansku, lalu membuka aplikasi chat untuk menunjukkan foto shani kepada devan dan nabil.
Devan: "wahhh, gilaa!!!, cakep banget nat"
Nabil: "anjing, gue gak nyangka ternyata secakep ini"
Akupun menarik kembali handphoneku dari tangan devan.
Aku: "udah udahh!!!"
Devan: "anjing, gila nih temen gue, sikat sih nat"
Nabil: "iya nat, kalo lu bisa macarin dia keren banget lu"
Aku tidak menanggapi perkataan devan dan nabil, aku menghisap rokokku dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
Devan: "eh, kalo lu sama shani, beby di kemanain?"
Nabil: "ama yang ini aja nat, kalo gue kenal ama shani, gue tinggalin dah tuh si gaby"
Devan: "yeeee, gue laporin gaby bari tau lu bil"
Nabil: "laporin aja, lagi bosen banget gue sama dia"
Devan: "yee, muka kayak monyet aja songong banget lu, masih untung ada yang mau ama lu"
Nabil: "lah, lu gak tau aja van, banyak yang ngejar-ngejar gue"
Devan: "ngayal aja lu"
Nabil: "daripada lu, gue tau veranda cakep, tapi percuma, lu aja digantungin mulu"
Devan: "heeh, kodok, udah, tunggu aja, gue pasti dapetin dia"
Nabil: "alesan lu gak ganti-ganti, basi, gitu aja terus ampe natha berhenti coli"
Aku hanya memperhatikan devan dan nabil yang sedari tadi sedang berdebat.
Devan: "hehh, nat, diem aja lu, kenapa sih"
Aku: "pusing liat lu berdua berantem anjing"
Devan: "hmmmm, gue tau nih, lu lagi bingung ya milih shani atau beby?"
Aku kembali menghisap rokokku dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Aku: "yaa... gimana ya, gak juga sih van"
Devan: "halahh, gak bisa boong lu nat, fix nih, lu bingung milih beby apa shani"
Aku: "ya kagak juga van, gue aja baru jalan 2 kali ama shani"
Devan: "milih beby lu berarti?"
Nabil: "waah, shani buat gue aja kalo gitu nat"
Aku: "yeee, enak di lu anjing!!!, ya kagak juga sih van"
Devan: "lah terus??"
Aku: "ya sama beby yang udah lumayan lama kenal aja gue masih bingung, apalagi sama shani, apalagi kalo harus milih"
Devan: "apasih yang lu bingungin?"
Aku: "mmmmm, banyak lah van, susah jelasinnya"
Nabil: "udah lah nat, pilih shani aja, percaya sama gue"
Devan: "dasar setan lu bil, dari tadi ngomporin orang mulu, orang lagi bingung juga"
Nabil: "lah, gue ngasih saran anjinggg, sewot aja lu van"
Devan: "udah nat, lu jalanin aja dulu, liat siapa entar yang bikin lu nyaman"
Nabil: "jelas shani lah!!, cakep begitu"
Pletaakk....
Devan: "yee, cakep doang yang lu tau"
Nabil: "yeee, suka-suka gue lah"
Aku: "udah udah, kenapa jadi lu pada yang pada berantem si?"
Nabil: "si monyet nih, gue ngasih saran aja sewot"
Devan: "saran lu gak bener bego"
.
.
.
"Mbak, maaf deh, aku kemaren ketiduran"
"Mbaaak..."
"Mbaaak..., udahan dong ngambeknya"
Semenjak aku sampai disini hingga sekarang, beby masih saja tidak mau berbicara, dia masih saja diam sambil menunjukkan wajah ngambeknya dan juga membuang pandangan dari wajahku.
Aku: "Mbak.... masa diem dieman gini sih"
Beby: "udah??, minta maaf doang??"
Akhirnya beby buka suara setelah sekian lama dia hanya diam tanpa memberikan tanggapan apapun.
Aku: "mbak mau apa deeh??, aku turutin kok"
Beby: "mikir lah!!!"
Setelah menatap wajahku sebentar, beby kembali membuang pandangannya dari wajahku.
Aku: "aku traktir k*c deh, malem ini juga, kita doang, berdua"
Beby: "makan doang??, nggak menarik!!!"
Aku: "aku beliin novel harrypotter lagi deh, yang jilid 2"
Tiba-tiba beby beranjak dari duduknya, lalu berjalan cepat kearah kamarnya.
Tidak sampai beberapa detik, beby sudah kembali ke ruang tamu dengan sebuah buku yang ada ditangannya.
Beby: "udah beliii!!"
Aku: "kita jalan-jalan deh?"
Beby: "kemana?"
Aku: "mbak maunya kemana?"
Beby: "mikiirr lah, gak mau usaha banget"
Aku: "mmmm, ke mall gimana?, kita nonton?"
Beby: "kalsik nat, males banget"
Aku agak sedikit frustasi setelah beby menolak beberapa opsi yang kutawarkan.
Aku: "aduh mbak, kemana dong???, malioboro, pasar malem?, kan udah pernah"
Beby: "ke pantai"
Aku: "hahh??, serius??, kan waktu itu udah pernah sama temen-temen?"
Beby: "emang ada aturannya kalo udah kepantai gakboleh lagi kesana?"
Aku: "y y yaa gak ada sih, yaudah deh, kita ke pantai, nanti aku ajak temen-temenku juga"
Beby: "berdua aja!!!!"
Aku: "huuuuuhhh..... yaudah deh, mau kapan mbak?"
Beby terlihat sedang berpikir untuk menjawab pertanyaanku.
"2 minggu lagi deh, habis aku sidang aja"
Aku agak sedikit terkejut ketika mendengar 2 minggu lagi beby akan melaksanakan sidang terakhir untuk menyelesaikan studinya.
Aku: "mbak udah mau sidang?, udah pasti?"
Beby: "udah daftar, jadwalnya belum keluar sih, tapi kayaknya 2 minggu lagi"
Aku: "wiih, lulus dong bentar lagi"
Beby: "iya, jangan sedih ya aku tinggal"
Sepertinya amarah beby sudah mulai mereda, wajah ngambeknya berganti dengan raut mengejek.
Aku: "idih, siapa yang sedih"
Beby: "huu.. ngaku aja udah"
Aku: "lah, maksa"
Beby: "sedih gak?!"
Aku: "enggak!!"
Beby: "kalo kamu gak ngaku aku ngambek lagi aja"
Beby kembali memasang wajah juteknya.
"Iyaaa iyaaa, aku sedih, kalo perlu aku nangis nih"
Aku memasang wajah sedih yang dibuat-buat didepan beby.
"Wkwkwkwkwk"
Tiba-tiba tawa beby pecah, dia mendorong wajahku dengan tangannya.
Beby: "jelek ah nat"
Aku: "katanya disuruh sedih"
Beby: "ya gak gitu jugaa, jelek tau"
Aku: "jelek jelek gini mbak suka kan"
Beby mendekatkan wajahnya kearahku, lalu memasang senyum jahilnya.
"Iyaa, aku suka kok"
Aku rasa aku salah menggoda beby terlebih dahulu.
Mulutku dibungkam oleh jawaban yang baru saja keluar dari mulut beby.
Ditambah lagi wajah beby yang sekarang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku dengan senyum jahilnya, seakan-akan menghipnotisku, sehingga rahangku terasa sangat sulit untuk digerakkan.
Huuuhhh.....
Apa beby serius dengan jawabannya?, apa dia seerius menyukaiku?.
Sejujurnya aku akan sangat bahagia jika beby serius dengan apa yang dikatakannya.
Meskipun sudah beberapa kali beby secara tidak langsung menyatakannya kepadaku, tapi aku selalu senang jika mendengar pernyataan itu keluar langsung dari mulut beby.
"Wkwkwkwkwkwkwk"
Tawa beby kembali pecah. Dia langsung mencubit pipiku kuat-kiat dengan kedua tangannya.
"Iiihhhh.... gemeshhhh"
Aku menarik tangan beby yang sekarang berada dipipiku.
Aku: "aduuhhh, sakit mbak....."
Beby: "makanya nat, gakusah sok sokan godain aku, digodain balik dikit aja langsung cengo kayak gitu"
Aku hanya menggaruk-garuk kepala belakangku yang sebenarnya tidak gatal karena terlalu gugup.
Aku: "awas ya mbak, aku bales ntar, sampe mbak nangis pokoknya"
Beby: "huuuu... coba aja, wleeeee"
Aku: "awas yaaa...."
Karena gemas, aku mendekatkan tubuhku kearah beby yang berada di seberangku, setelah itu dengan sigap tanganku menggapai perutnya, lalu aku menggerakkan jari-jariku untuk membuat beby merasa geli.
"Aaaaa..... Wkwkwkwkwk, ampun natt"
Sekarang posisi beby sudah tersudut sehingga tubuhnya menempel pada sofa yang sedang iya duduki.
Beby sesikit berteriak, lalu tertawa sambil memohon ampun kepadaku.
"Nathaaa, iihhhhh, wkwkwkwkwk, udahh"
Tangannya beberapa kali mencoba menangkap tanganku yang sedang asyik bermain-main di perutnya, namun usaha beby selalu gagal.
"Nathaaa, wkwkwkwk, pleasee, udahan"
Tubuhku agak sedikit terdorong kearah belakang keyika beby mencoba mendorong tubuhku, karena aku agak sedikit lengah, kakiku tersandung kaki meja yang berada tepat dibelakangku.
Karena merasa akan jatuh, reflek tanganku memegang erat pergelangan tangan beby, sehingga tubuh beby ikut tertarik kearahku.
Daaannn.........
Jeduuuuuukkkkk......
Jidatku terbentur jidat beby yang sekarang berada diatasku.
"Aaaaaawwww....."
Beby langsung beranjak dari tubuhku dengan terburu-buru.
"Aduuhh, gara-gara kamu nat, sakit nih"
Beby berkata seperti itu sambil megusap-ngusap jidatnya.
Aku: "Mbak kira jidatku gak sakit apa?"
Beby: "ya kamu sih, gak mau aku suruh udahan tadi"
Aku: "hadeeh, bentar lagi ketularan jenong nih"
Pletaaak......
.
.
.
"Mbak, maaf ya, aku tadi malem udah kerumah, tapi mbak udah tidur"
Sekarang aku sedang duduk di gazebo depan lab sambil menikmati sebatang rokok yang ada di tanganku.
Setelah aku pulang dari rumah beby, aku memilih untuk pulang ke kampus, karena kebetulan malam ini ada devan dan nabil yang akan bermalam disini.
Dan juga, aku memutuskan untuk mengirim pesan kepada beby untuk memberitahu bahwa aku tadi sempat mengunjunginya sekaligus meminya maaf.
"Nat, bagi rokok dong"
Akupun menyerahkan kotak rokokku kepada devan yang tiba-tiba muncul dihadapanku.
Devan: "Kenapa lu?, pusing banget kayaknya"
Aku: "kagak van, lagi capek aja, begadang mulu kita"
Devan: "korek nat"
Aku: "buset dah, modal paru-paru doang lu"
Devan: "hehehe"
Akupun menyerahkan korek api yang sedang kupegang kepada devan. Devanpun menyalakan rokoknya lalu mengambil tempat untuk duduk disampingku.
"Anjing, pada disini lu pada, gue kira kemana"
Nabil yang baru saja keluar dari lab, juga memilih untuk ikut bergabung dengan aku dan devan yang sedang duduk di gazebo depan lab.
Lalu dia mengeluarkan 1 kotak malboro dari kantong celana jeansnya.
Devan: "lu kenapa akhir-akhir ini beli malboro mulu bil"
Nabil: "gak tau, mulai seneng putihan gue"
Aku: "kok gue gak masuk ya kalo putihan"
Devan: "sama, gue juga"
Nabil: "lu harus rasain nendangnya putihan pas di tenggorokan"
Aku: "kalo gue malah batuk-batuk kalo ngerokok putihan"
Devan: "kalo gue bisa aja sih, tapi menurut gue kurang nendang aja di kepala"
Nabil: "iya sih van, tapi gak tau kenapa gue akhir-akhir ini eneg kalo ngerokok surya, manis banget"
Devan: "tapi kalo rokok-rokok kayak mild atau putihan mahal bil, cepet abis lagi"
Nabil: "yaaa... gimana ya, ada harga ada rasa sih van"
Aku: "yaaa intinya tergantung selera masing-masing sih"
Kamipun diam sejenak untuk menikmati rokok yang ada di tangan kami masing-masing.
Nabil: "eh nat, shani siapa?"
Devan: "hahh, shani?"
Nabil: "iya van, kemaren ada cewek yang nelfon natha, namanya shani"
Devan: "anjiingg!!!!, siapa tuh nat?"
Aku: "tai lah, ember banget lu bil"
Nabil: "hehehe"
Nabil hanya menanggapiku dengan kekehan kecil.
Devan: "woooyyy, anjing!!!, siapa shani nat??"
Aku: "temen van, barusan dikenalin sama si fandi"
Devan: "fandi temen lu yang kuliah di i*s itu?"
Aku: "iya van"
Devan: "ooohh, pas kemaren dia kesini??"
Aku: "iya van"
Devan: "ada fotonya gak??, liat dooongg!!"
Aku: "kagak kagak!!!, kepo banget lu"
Nabil: "ayolah nat, pelit banget lu ama temen"
Devan: "iya nat, ayo nat, mana fotonya"
Devan merengek sambil menggoncang-goncangkan tubuhku.
"Iya iyaaa!!, bentar ah"
Akupun mengambil handphoneku yang berada di dalam saku celana jeansku, lalu membuka aplikasi chat untuk menunjukkan foto shani kepada devan dan nabil.
Devan: "wahhh, gilaa!!!, cakep banget nat"
Nabil: "anjing, gue gak nyangka ternyata secakep ini"
Akupun menarik kembali handphoneku dari tangan devan.
Aku: "udah udahh!!!"
Devan: "anjing, gila nih temen gue, sikat sih nat"
Nabil: "iya nat, kalo lu bisa macarin dia keren banget lu"
Aku tidak menanggapi perkataan devan dan nabil, aku menghisap rokokku dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
Devan: "eh, kalo lu sama shani, beby di kemanain?"
Nabil: "ama yang ini aja nat, kalo gue kenal ama shani, gue tinggalin dah tuh si gaby"
Devan: "yeeee, gue laporin gaby bari tau lu bil"
Nabil: "laporin aja, lagi bosen banget gue sama dia"
Devan: "yee, muka kayak monyet aja songong banget lu, masih untung ada yang mau ama lu"
Nabil: "lah, lu gak tau aja van, banyak yang ngejar-ngejar gue"
Devan: "ngayal aja lu"
Nabil: "daripada lu, gue tau veranda cakep, tapi percuma, lu aja digantungin mulu"
Devan: "heeh, kodok, udah, tunggu aja, gue pasti dapetin dia"
Nabil: "alesan lu gak ganti-ganti, basi, gitu aja terus ampe natha berhenti coli"
Aku hanya memperhatikan devan dan nabil yang sedari tadi sedang berdebat.
Devan: "hehh, nat, diem aja lu, kenapa sih"
Aku: "pusing liat lu berdua berantem anjing"
Devan: "hmmmm, gue tau nih, lu lagi bingung ya milih shani atau beby?"
Aku kembali menghisap rokokku dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Aku: "yaa... gimana ya, gak juga sih van"
Devan: "halahh, gak bisa boong lu nat, fix nih, lu bingung milih beby apa shani"
Aku: "ya kagak juga van, gue aja baru jalan 2 kali ama shani"
Devan: "milih beby lu berarti?"
Nabil: "waah, shani buat gue aja kalo gitu nat"
Aku: "yeee, enak di lu anjing!!!, ya kagak juga sih van"
Devan: "lah terus??"
Aku: "ya sama beby yang udah lumayan lama kenal aja gue masih bingung, apalagi sama shani, apalagi kalo harus milih"
Devan: "apasih yang lu bingungin?"
Aku: "mmmmm, banyak lah van, susah jelasinnya"
Nabil: "udah lah nat, pilih shani aja, percaya sama gue"
Devan: "dasar setan lu bil, dari tadi ngomporin orang mulu, orang lagi bingung juga"
Nabil: "lah, gue ngasih saran anjinggg, sewot aja lu van"
Devan: "udah nat, lu jalanin aja dulu, liat siapa entar yang bikin lu nyaman"
Nabil: "jelas shani lah!!, cakep begitu"
Pletaakk....
Devan: "yee, cakep doang yang lu tau"
Nabil: "yeee, suka-suka gue lah"
Aku: "udah udah, kenapa jadi lu pada yang pada berantem si?"
Nabil: "si monyet nih, gue ngasih saran aja sewot"
Devan: "saran lu gak bener bego"
.
.
.
"Mbak, maaf deh, aku kemaren ketiduran"
"Mbaaak..."
"Mbaaak..., udahan dong ngambeknya"
Semenjak aku sampai disini hingga sekarang, beby masih saja tidak mau berbicara, dia masih saja diam sambil menunjukkan wajah ngambeknya dan juga membuang pandangan dari wajahku.
Aku: "Mbak.... masa diem dieman gini sih"
Beby: "udah??, minta maaf doang??"
Akhirnya beby buka suara setelah sekian lama dia hanya diam tanpa memberikan tanggapan apapun.
Aku: "mbak mau apa deeh??, aku turutin kok"
Beby: "mikir lah!!!"
Setelah menatap wajahku sebentar, beby kembali membuang pandangannya dari wajahku.
Aku: "aku traktir k*c deh, malem ini juga, kita doang, berdua"
Beby: "makan doang??, nggak menarik!!!"
Aku: "aku beliin novel harrypotter lagi deh, yang jilid 2"
Tiba-tiba beby beranjak dari duduknya, lalu berjalan cepat kearah kamarnya.
Tidak sampai beberapa detik, beby sudah kembali ke ruang tamu dengan sebuah buku yang ada ditangannya.
Beby: "udah beliii!!"
Aku: "kita jalan-jalan deh?"
Beby: "kemana?"
Aku: "mbak maunya kemana?"
Beby: "mikiirr lah, gak mau usaha banget"
Aku: "mmmm, ke mall gimana?, kita nonton?"
Beby: "kalsik nat, males banget"
Aku agak sedikit frustasi setelah beby menolak beberapa opsi yang kutawarkan.
Aku: "aduh mbak, kemana dong???, malioboro, pasar malem?, kan udah pernah"
Beby: "ke pantai"
Aku: "hahh??, serius??, kan waktu itu udah pernah sama temen-temen?"
Beby: "emang ada aturannya kalo udah kepantai gakboleh lagi kesana?"
Aku: "y y yaa gak ada sih, yaudah deh, kita ke pantai, nanti aku ajak temen-temenku juga"
Beby: "berdua aja!!!!"
Aku: "huuuuuhhh..... yaudah deh, mau kapan mbak?"
Beby terlihat sedang berpikir untuk menjawab pertanyaanku.
"2 minggu lagi deh, habis aku sidang aja"
Aku agak sedikit terkejut ketika mendengar 2 minggu lagi beby akan melaksanakan sidang terakhir untuk menyelesaikan studinya.
Aku: "mbak udah mau sidang?, udah pasti?"
Beby: "udah daftar, jadwalnya belum keluar sih, tapi kayaknya 2 minggu lagi"
Aku: "wiih, lulus dong bentar lagi"
Beby: "iya, jangan sedih ya aku tinggal"
Sepertinya amarah beby sudah mulai mereda, wajah ngambeknya berganti dengan raut mengejek.
Aku: "idih, siapa yang sedih"
Beby: "huu.. ngaku aja udah"
Aku: "lah, maksa"
Beby: "sedih gak?!"
Aku: "enggak!!"
Beby: "kalo kamu gak ngaku aku ngambek lagi aja"
Beby kembali memasang wajah juteknya.
"Iyaaa iyaaa, aku sedih, kalo perlu aku nangis nih"
Aku memasang wajah sedih yang dibuat-buat didepan beby.
"Wkwkwkwkwk"
Tiba-tiba tawa beby pecah, dia mendorong wajahku dengan tangannya.
Beby: "jelek ah nat"
Aku: "katanya disuruh sedih"
Beby: "ya gak gitu jugaa, jelek tau"
Aku: "jelek jelek gini mbak suka kan"
Beby mendekatkan wajahnya kearahku, lalu memasang senyum jahilnya.
"Iyaa, aku suka kok"
Aku rasa aku salah menggoda beby terlebih dahulu.
Mulutku dibungkam oleh jawaban yang baru saja keluar dari mulut beby.
Ditambah lagi wajah beby yang sekarang hanya berjarak beberapa senti dari wajahku dengan senyum jahilnya, seakan-akan menghipnotisku, sehingga rahangku terasa sangat sulit untuk digerakkan.
Huuuhhh.....
Apa beby serius dengan jawabannya?, apa dia seerius menyukaiku?.
Sejujurnya aku akan sangat bahagia jika beby serius dengan apa yang dikatakannya.
Meskipun sudah beberapa kali beby secara tidak langsung menyatakannya kepadaku, tapi aku selalu senang jika mendengar pernyataan itu keluar langsung dari mulut beby.
"Wkwkwkwkwkwkwk"
Tawa beby kembali pecah. Dia langsung mencubit pipiku kuat-kiat dengan kedua tangannya.
"Iiihhhh.... gemeshhhh"
Aku menarik tangan beby yang sekarang berada dipipiku.
Aku: "aduuhhh, sakit mbak....."
Beby: "makanya nat, gakusah sok sokan godain aku, digodain balik dikit aja langsung cengo kayak gitu"
Aku hanya menggaruk-garuk kepala belakangku yang sebenarnya tidak gatal karena terlalu gugup.
Aku: "awas ya mbak, aku bales ntar, sampe mbak nangis pokoknya"
Beby: "huuuu... coba aja, wleeeee"
Aku: "awas yaaa...."
Karena gemas, aku mendekatkan tubuhku kearah beby yang berada di seberangku, setelah itu dengan sigap tanganku menggapai perutnya, lalu aku menggerakkan jari-jariku untuk membuat beby merasa geli.
"Aaaaa..... Wkwkwkwkwk, ampun natt"
Sekarang posisi beby sudah tersudut sehingga tubuhnya menempel pada sofa yang sedang iya duduki.
Beby sesikit berteriak, lalu tertawa sambil memohon ampun kepadaku.
"Nathaaa, iihhhhh, wkwkwkwkwk, udahh"
Tangannya beberapa kali mencoba menangkap tanganku yang sedang asyik bermain-main di perutnya, namun usaha beby selalu gagal.
"Nathaaa, wkwkwkwk, pleasee, udahan"
Tubuhku agak sedikit terdorong kearah belakang keyika beby mencoba mendorong tubuhku, karena aku agak sedikit lengah, kakiku tersandung kaki meja yang berada tepat dibelakangku.
Karena merasa akan jatuh, reflek tanganku memegang erat pergelangan tangan beby, sehingga tubuh beby ikut tertarik kearahku.
Daaannn.........
Jeduuuuuukkkkk......
Jidatku terbentur jidat beby yang sekarang berada diatasku.
"Aaaaaawwww....."
Beby langsung beranjak dari tubuhku dengan terburu-buru.
"Aduuhh, gara-gara kamu nat, sakit nih"
Beby berkata seperti itu sambil megusap-ngusap jidatnya.
Aku: "Mbak kira jidatku gak sakit apa?"
Beby: "ya kamu sih, gak mau aku suruh udahan tadi"
Aku: "hadeeh, bentar lagi ketularan jenong nih"
Pletaaak......
.
.
.
Diubah oleh akmal162 26-04-2020 01:38
Herisyahrian dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas
