Kaskus

Story

cicimasniAvatar border
TS
cicimasni
Bab 44 : Recovery
Bab 44 : Recovery

🌸🌸🌸

Yang perlu di pulihkan itu bukan cuma kesehatan Arion dan Lily. Tapi juga mood seorang Azri Alvaro. Pria itu sudah seminggu ini ngambek, dia tidak pergi ke kantor, setuju membuat ketiga anak kembarnya bolos sekolah dan menemani Arion dan Lily belajar berjalan kembali (terapi).

Sementara si kembar menyemangati Arion. Lily di sudut sini sesekali melirik Varo yang masih tidak mau bicara dengannya. Pria itu merajuk lantaran Lily sengaja melarang semua orang memberi tahu nya bahwa ia dan Arion sudah sadar dari koma. Padahal pria itulah yang paling menanti-nantikan momen itu.

"Aku haus, bisa ambilin minum?." Pinta wanita itu.

Seseorang membuka air mineral botol, memasukkan pipet dalam diam dan menyodorkannya pada Lily.

"......" Itu mulut di monyongin kayak anak kecil aja Pak.

"Aku capek latihan jalannya. Pengen di dorong pakai kursi roda aja!. Pengen jalan-jalan di taman belakang Rumah Sakit."

"……."

"!!!!!!" Lily terkejut. Varo hanya langsung menggendongnya ala bridal style, mendudukkannya di kursi roda, meminta bodyguard untuk menjaga anak-anaknya lalu pergi.

Mereka akhirnya duduk di bangku taman yang sepi. Entah kenapa Lily merasa begitu familiar dengan pemandangan di sekitar mereka sekarang.

"Beneran nggak mau bicara nih!!. Nggak capek ngambeknya??. Aku 3 hari lagi udah boleh keluar Rumah Sakit loh. Pengen denger cerita tentang kamu dan anak-anak kembar kita."

"……."

"Aku juga ingin cerita panjang lebar soal tidur panjang ku."

"……"Varo melirik Lily sekilas namun tetap diam.

Lily memaksa Varo duduk di sampingnya. Menoleh ke segala arah dan setelah yakin keadaan sepi ia mencium pipi suaminya itu.

"....."

Varo terkejut sementara pipi pelaku bersemu merah. "Masih ngambek juga??."

"!!!!!"

Kali ini Lily mencium pipi Varo yang satunya dan juga mencium kening pria itu. "Aku…hanya menepati janjiku. Di mimpi panjang ku kamu….memintaku untuk…melakukan hal ini agar kamu nggak marah lagi."

Cuma segitu aja??.Varo tampak tak senang. Kenapa hanya di cium saja??. Kenapa dia di mimpi itu tidak menjanjikan yang lain yang lebih….

"Sebenarnya ada hal lain juga. Tapi berhubung kita di luar dan kamu masih ngambek jadi..!!!!

Ucapan Lily terhenti lantaran pria itu mencium bibirnya dalam lalu memeluk Lily erat. Varo tersenyum puas. "Sekarang....aku nggak ngambek lagi."

"………"

🌺🌺

Setelah dinyatakan benar-benar sehat. Lily dan Arion akhirnya keluar Rumah Sakit. Berbeda dengan Lily yang yang sudah bersikap seperti biasanya (seperti tidak terjadi apa-apa dan dia nggak pernah koma). Arion jadi lebih pendiam dan hanya tersenyum jika disapa.

Si kecil Arion sekarang sudah memiliki tubuh yang lebih tinggi namun kurus, dan ia sendiri bingung harus bersikap seperti apa. Arion hanya menurut saja ketika di seret kemana-mana oleh Andra, Reo dan Sena keliling rumah.

"Papa selalu tidur di kamar kak Rion kalau malam. Nggak pernah tidur di kamar papa sendiri. Kami kadang-kadang juga tidur di sini." Jelas Andra.

Arion tersenyum lalu mengelus kepala adiknya itu. Sayangnya selain Varo dan Lily, Arion tidak ingat apapun. Ia hanya merasa familiar dengan rumah itu dan orang-orang di sekitarnya.

Varo datang mengatakan kalau si kembar di panggil oleh mamanya untuk mencicipi masakan, dan 3 anak kecil itu dengan semangat berlari menuju dapur.

Sementara mereka pergi, Varo duduk di tempat tidur menatap Arion yang sibuk mengenali kamar itu.

"Dulu, kamar kamu penuh dengan boneka beruang karena kamu sangat menyukai boneka itu." Varo menyerahkan boneka beruang yang langsung di ingat Arion. Pooh, boneka beruang kesayangannya. Ia paling sering memeluk boneka itu ketika tidur.

"Juga boneka ini."

Arion mengambil boneka BJD yang mirip replika dirinya, little Rion. lalu ia juga duduk di tempat tidur.

"Tempat tidurnya besar." Ucap anak laki-laki itu. Varo langsung tersenyum.

"Iya, yang dulu udah terlalu kecil. Jadi papa ganti. Juga semua boneka beruangnya di pindahin ke kamar adik-adik kamu tadi pagi. Mereka bilang, karena kamu udah besar, biar boneka-bonekanya jadi teman main mereka juga. Nggak apa-apa kan?."

Arion mengangguk. Samar-samar ia ingat kamarnya yang dulu. Kamarnya sekarang sedikit berbeda. Tapi ia menyukainya.

Varo berjalan kearah lemari pakaian dan membukanya. Arion ikut berdiri dan memperhatikan Varo yang sedang mengambil piayama lucu motif beruang.

"Sekarang ini udah muat. Papa dulu beli baju kamu sampai usia kamu 10 tahun. Sayangnya pakaian kamu yang lain udah nggak muat, tapi untungnya adik-adik kamu bisa pakai juga. Nanti…kita beli baju kamu yang lain di mall sama-sama, biar kamu bisa pilih baju-baju kamu sendiri. Tapi, sebaiknya kita nggak usah bilang sama mama soal harganya, takut ujung-ujungnya nggak jadi beli."

Arion kembali mengangguk setuju.

Varo menghela nafas dalam. Ia mengelus kepala Arion lalu memeluk anak kecil itu. "Selamat datang kembali." Ucapnya sembari mencium kening Arion.

Anak kecil itu tersenyum. "Rion pulang pa."

Mereka berpelukan cukup lama. Varo mengatakan kalau butuh sesuatu Arion harus segera memanggil dirinya (Varo). Ia juga memberikan ponsel baru untuk Arion. Menunjukkan cara kerja ponsel itu juga cara kerja komputer di ruangan itu.

Lalu Varo menyuruh anaknya itu mandi dan setelahnya mereka akan makan malam bersama.

🌺🌺

Keluarga Lily sudah seminggu menginap di rumah. Sayangnya adik-adik Lily tidak bisa lama-lama libur kerja, jadi mereka segera pulang ke tempat tinggal mereka. Ibunda Lily sebenarnya juga mau menginap lebih lama, sayangnya adik Lily yang bungsu baru saja melahirkan dan tugas ibunda Lily lah yang mengasuh cucunya itu. Jadi setelah 3 hari menunda pulang (setelah yang lainnya pulang duluan), Ibunda Lily akhirnya pulang ke rumah anak bungsunya.

Sena, Andra dan Reo sudah tidak merengek meminta tidur bersama mama tersayang mereka lagi. Si kembar itu akhirnya mau tidur di kamar mereka setelah 10 hari tidur di kamar Varo dan Lily. Sedangkan Arion lebih suka tidur di kamarnya sendiri.

Seseorang beryuforia didalam hatinya. Lily hanya tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan Varo yang kini terus membuntutinya sejak anak-anak sudah kembali ke kamar masing-masing.

Pria itu memilihkan piyama lucu untuk Lily, piyama itu adalah piyama yang mereka pakai waktu mereka bulan madu dulu.

"Kamu kurusan ya??."Lily tiba-tiba menyadari tidak ada lagi abs kotak-kotak milik Varo. Berapa banyak suaminya ini kehilangan berat badan?.

Varo memeluk Lily dari belakang setelah istrinya itu berganti pakaian. "Bukan masakan kamu, jadi nggak nafsu makan."

"Tapi tadi habis 3 piring."

Varo tersenyum senang. "Udah lama nggak pernah makan enak. Masakan kamu emang yang paling juara." Pria itu mencium pipi Lily.

Keduanya akhirnya berbaring di tempat tidur. Varo masih dengan senangnya memeluk Lily.

"Ngomong-ngomong….bunda bilang, kamu sempat depresi dan nggak mau kerja, perusahaan kamu hampir bangkrut, itu…..

"Itu nanti aku ceritain. Sekarang kamu aja yang cerita masalah mimpi panjang mu yang bikin kamu nggak mau bangun itu."

Lily menggeleng. "Itu nanti bisa aku ceritain. Panjang soalnya. Coba kamu ceritain soal Sena yang kenapa jadi anak cewek tomboy gitu?, Atau Andra dan Reo yang nurut aja apa kata Sena, atau….bunda bilang kamu yang menamai mereka. Aku penasaran kamu dapat nama dari mana, mengingat dulu waktu bikin nama Rion kamu kan malas banget."

Giliran Varo yang menggeleng. "Kamu penasarannya soal anak-anak mulu. Udah dari kamu sadar, sampai sekarang kamu nanyain tentang mereka. Kamu bahkan baru sadar kalau aku kurusan. Kamu….nggak perhatian sama aku, kesel deh."

"Hahahaha. Kok kamu jadi sentimen gini sih. Lucu." Lily mengacak-acak rambut Varo, pria itu masih cemberut.

"Sena bilang, kalau kesal itu mesti diungkapin biar puas, jelas dan dapat respon langsung. Aku pikir ada benarnya juga. Nah…sekarang aku minta kamu tanggungjawab, kamu bikin aku jadi nggak bisa hidup tanpa kamu dan juga bikin aku merana sampai 7 tahun 1 bulan ini."

"Oke!. Gimana aku harus tanggungjawab??."

Varo mengambil bungkusan di dalam laci yang ia beli dari mini market 10 hari yang lalu. Isinya 10 kotak kondom.

"......"

"Aku….udah puasa 7 tahun 1 bulan."

"……."

"Kemarin-kemarin anak-anak selalu tidur dan bergantian memeluk mu. Membuat ku iri dan terpaksa numpang tidur di kamar Arion. Tapi Rion malah mengabaikan ku. Ia sibuk belajar dan membaca informasi di internet. Padahal aku sejak dulu selalu memimpikan bermain game online dengannya."

"……."

"Kamu juga sepertinya tidak menyadari kemalangan ku." Varo menatap Lily polos. Tatapan itu seolah menuntut pertanggungjawaban segera.

"Jadi…..??."

Varo tersenyum. "Dokter bilang sebaiknya kita menunda punya anak dan aku nggak boleh terlalu berlebihan melakukannya. Tapi….dia juga bilang boleh asal kamu setuju dan aku akan bersikap lembut."

Oke!!. Lily mengerti arah pembicaraan ini.

"Aku juga udah buat perjanjian sama anak-anak, kalau sekarang sampai 10 hari kedepan adalah giliran ku yang memelukmu saat tidur. Jadi…..aku harap kamu mengerti maksud ku."

"……Ada 10 kotak."

"Iya."

"Satu kotak isi 3."

"Mm."

"10 hari."

Varo membuka kotak pertama."Pilih sehari 3 kali dosis obat, atau…..3 ronde sekaligus malam hari, aku nurut aja."

What the……Sepertinya satu-satunya sifat yang nggak berubah dari Varo adalah sifat mesumnya. Dan Lily hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya.

Varo menatap Lily dengan mata cemerlang yang terlalu gembira. Ia benci sekaligus senang dengan senyum Varo itu.

"Terserah."

"……Apanya???."

Lily yakin kalau wajahnya sudah semerah tomat. "Terserah kamu."

"Oke!!!."

Dan suami mesumnya itu benar-benar membuat Lily tidak tidur sepanjang malam.

🌸🌸🌸

Bab selanjutnya :

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b24d44a11168e1
Diubah oleh cicimasni 25-04-2020 04:33
ZieYoAvatar border
jiyanqAvatar border
pearllyAvatar border
pearlly dan 4 lainnya memberi reputasi
5
792
0
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
cicimasniAvatar border
TS
cicimasni
#1
Bab 44 : Recovery
Bab 44 : Recovery

🌸🌸🌸

Yang perlu di pulihkan itu bukan cuma kesehatan Arion dan Lily. Tapi juga mood seorang Azri Alvaro. Pria itu sudah seminggu ini ngambek, dia tidak pergi ke kantor, setuju membuat ketiga anak kembarnya bolos sekolah dan menemani Arion dan Lily belajar berjalan kembali (terapi).

Sementara si kembar menyemangati Arion. Lily di sudut sini sesekali melirik Varo yang masih tidak mau bicara dengannya. Pria itu merajuk lantaran Lily sengaja melarang semua orang memberi tahu nya bahwa ia dan Arion sudah sadar dari koma. Padahal pria itulah yang paling menanti-nantikan momen itu.

"Aku haus, bisa ambilin minum?." Pinta wanita itu.

Seseorang membuka air mineral botol, memasukkan pipet dalam diam dan menyodorkannya pada Lily.

"......" Itu mulut di monyongin kayak anak kecil aja Pak.

"Aku capek latihan jalannya. Pengen di dorong pakai kursi roda aja!. Pengen jalan-jalan di taman belakang Rumah Sakit."

"……."

"!!!!!!" Lily terkejut. Varo hanya langsung menggendongnya ala bridal style, mendudukkannya di kursi roda, meminta bodyguard untuk menjaga anak-anaknya lalu pergi.

Mereka akhirnya duduk di bangku taman yang sepi. Entah kenapa Lily merasa begitu familiar dengan pemandangan di sekitar mereka sekarang.

"Beneran nggak mau bicara nih!!. Nggak capek ngambeknya??. Aku 3 hari lagi udah boleh keluar Rumah Sakit loh. Pengen denger cerita tentang kamu dan anak-anak kembar kita."

"……."

"Aku juga ingin cerita panjang lebar soal tidur panjang ku."

"……"Varo melirik Lily sekilas namun tetap diam.

Lily memaksa Varo duduk di sampingnya. Menoleh ke segala arah dan setelah yakin keadaan sepi ia mencium pipi suaminya itu.

"....."

Varo terkejut sementara pipi pelaku bersemu merah. "Masih ngambek juga??."

"!!!!!"

Kali ini Lily mencium pipi Varo yang satunya dan juga mencium kening pria itu. "Aku…hanya menepati janjiku. Di mimpi panjang ku kamu….memintaku untuk…melakukan hal ini agar kamu nggak marah lagi."

Cuma segitu aja??.Varo tampak tak senang. Kenapa hanya di cium saja??. Kenapa dia di mimpi itu tidak menjanjikan yang lain yang lebih….

"Sebenarnya ada hal lain juga. Tapi berhubung kita di luar dan kamu masih ngambek jadi..!!!!

Ucapan Lily terhenti lantaran pria itu mencium bibirnya dalam lalu memeluk Lily erat. Varo tersenyum puas. "Sekarang....aku nggak ngambek lagi."

"………"

🌺🌺

Setelah dinyatakan benar-benar sehat. Lily dan Arion akhirnya keluar Rumah Sakit. Berbeda dengan Lily yang yang sudah bersikap seperti biasanya (seperti tidak terjadi apa-apa dan dia nggak pernah koma). Arion jadi lebih pendiam dan hanya tersenyum jika disapa.

Si kecil Arion sekarang sudah memiliki tubuh yang lebih tinggi namun kurus, dan ia sendiri bingung harus bersikap seperti apa. Arion hanya menurut saja ketika di seret kemana-mana oleh Andra, Reo dan Sena keliling rumah.

"Papa selalu tidur di kamar kak Rion kalau malam. Nggak pernah tidur di kamar papa sendiri. Kami kadang-kadang juga tidur di sini." Jelas Andra.

Arion tersenyum lalu mengelus kepala adiknya itu. Sayangnya selain Varo dan Lily, Arion tidak ingat apapun. Ia hanya merasa familiar dengan rumah itu dan orang-orang di sekitarnya.

Varo datang mengatakan kalau si kembar di panggil oleh mamanya untuk mencicipi masakan, dan 3 anak kecil itu dengan semangat berlari menuju dapur.

Sementara mereka pergi, Varo duduk di tempat tidur menatap Arion yang sibuk mengenali kamar itu.

"Dulu, kamar kamu penuh dengan boneka beruang karena kamu sangat menyukai boneka itu." Varo menyerahkan boneka beruang yang langsung di ingat Arion. Pooh, boneka beruang kesayangannya. Ia paling sering memeluk boneka itu ketika tidur.

"Juga boneka ini."

Arion mengambil boneka BJD yang mirip replika dirinya, little Rion. lalu ia juga duduk di tempat tidur.

"Tempat tidurnya besar." Ucap anak laki-laki itu. Varo langsung tersenyum.

"Iya, yang dulu udah terlalu kecil. Jadi papa ganti. Juga semua boneka beruangnya di pindahin ke kamar adik-adik kamu tadi pagi. Mereka bilang, karena kamu udah besar, biar boneka-bonekanya jadi teman main mereka juga. Nggak apa-apa kan?."

Arion mengangguk. Samar-samar ia ingat kamarnya yang dulu. Kamarnya sekarang sedikit berbeda. Tapi ia menyukainya.

Varo berjalan kearah lemari pakaian dan membukanya. Arion ikut berdiri dan memperhatikan Varo yang sedang mengambil piayama lucu motif beruang.

"Sekarang ini udah muat. Papa dulu beli baju kamu sampai usia kamu 10 tahun. Sayangnya pakaian kamu yang lain udah nggak muat, tapi untungnya adik-adik kamu bisa pakai juga. Nanti…kita beli baju kamu yang lain di mall sama-sama, biar kamu bisa pilih baju-baju kamu sendiri. Tapi, sebaiknya kita nggak usah bilang sama mama soal harganya, takut ujung-ujungnya nggak jadi beli."

Arion kembali mengangguk setuju.

Varo menghela nafas dalam. Ia mengelus kepala Arion lalu memeluk anak kecil itu. "Selamat datang kembali." Ucapnya sembari mencium kening Arion.

Anak kecil itu tersenyum. "Rion pulang pa."

Mereka berpelukan cukup lama. Varo mengatakan kalau butuh sesuatu Arion harus segera memanggil dirinya (Varo). Ia juga memberikan ponsel baru untuk Arion. Menunjukkan cara kerja ponsel itu juga cara kerja komputer di ruangan itu.

Lalu Varo menyuruh anaknya itu mandi dan setelahnya mereka akan makan malam bersama.

🌺🌺

Keluarga Lily sudah seminggu menginap di rumah. Sayangnya adik-adik Lily tidak bisa lama-lama libur kerja, jadi mereka segera pulang ke tempat tinggal mereka. Ibunda Lily sebenarnya juga mau menginap lebih lama, sayangnya adik Lily yang bungsu baru saja melahirkan dan tugas ibunda Lily lah yang mengasuh cucunya itu. Jadi setelah 3 hari menunda pulang (setelah yang lainnya pulang duluan), Ibunda Lily akhirnya pulang ke rumah anak bungsunya.

Sena, Andra dan Reo sudah tidak merengek meminta tidur bersama mama tersayang mereka lagi. Si kembar itu akhirnya mau tidur di kamar mereka setelah 10 hari tidur di kamar Varo dan Lily. Sedangkan Arion lebih suka tidur di kamarnya sendiri.

Seseorang beryuforia didalam hatinya. Lily hanya tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan Varo yang kini terus membuntutinya sejak anak-anak sudah kembali ke kamar masing-masing.

Pria itu memilihkan piyama lucu untuk Lily, piyama itu adalah piyama yang mereka pakai waktu mereka bulan madu dulu.

"Kamu kurusan ya??."Lily tiba-tiba menyadari tidak ada lagi abs kotak-kotak milik Varo. Berapa banyak suaminya ini kehilangan berat badan?.

Varo memeluk Lily dari belakang setelah istrinya itu berganti pakaian. "Bukan masakan kamu, jadi nggak nafsu makan."

"Tapi tadi habis 3 piring."

Varo tersenyum senang. "Udah lama nggak pernah makan enak. Masakan kamu emang yang paling juara." Pria itu mencium pipi Lily.

Keduanya akhirnya berbaring di tempat tidur. Varo masih dengan senangnya memeluk Lily.

"Ngomong-ngomong….bunda bilang, kamu sempat depresi dan nggak mau kerja, perusahaan kamu hampir bangkrut, itu…..

"Itu nanti aku ceritain. Sekarang kamu aja yang cerita masalah mimpi panjang mu yang bikin kamu nggak mau bangun itu."

Lily menggeleng. "Itu nanti bisa aku ceritain. Panjang soalnya. Coba kamu ceritain soal Sena yang kenapa jadi anak cewek tomboy gitu?, Atau Andra dan Reo yang nurut aja apa kata Sena, atau….bunda bilang kamu yang menamai mereka. Aku penasaran kamu dapat nama dari mana, mengingat dulu waktu bikin nama Rion kamu kan malas banget."

Giliran Varo yang menggeleng. "Kamu penasarannya soal anak-anak mulu. Udah dari kamu sadar, sampai sekarang kamu nanyain tentang mereka. Kamu bahkan baru sadar kalau aku kurusan. Kamu….nggak perhatian sama aku, kesel deh."

"Hahahaha. Kok kamu jadi sentimen gini sih. Lucu." Lily mengacak-acak rambut Varo, pria itu masih cemberut.

"Sena bilang, kalau kesal itu mesti diungkapin biar puas, jelas dan dapat respon langsung. Aku pikir ada benarnya juga. Nah…sekarang aku minta kamu tanggungjawab, kamu bikin aku jadi nggak bisa hidup tanpa kamu dan juga bikin aku merana sampai 7 tahun 1 bulan ini."

"Oke!. Gimana aku harus tanggungjawab??."

Varo mengambil bungkusan di dalam laci yang ia beli dari mini market 10 hari yang lalu. Isinya 10 kotak kondom.

"......"

"Aku….udah puasa 7 tahun 1 bulan."

"……."

"Kemarin-kemarin anak-anak selalu tidur dan bergantian memeluk mu. Membuat ku iri dan terpaksa numpang tidur di kamar Arion. Tapi Rion malah mengabaikan ku. Ia sibuk belajar dan membaca informasi di internet. Padahal aku sejak dulu selalu memimpikan bermain game online dengannya."

"……."

"Kamu juga sepertinya tidak menyadari kemalangan ku." Varo menatap Lily polos. Tatapan itu seolah menuntut pertanggungjawaban segera.

"Jadi…..??."

Varo tersenyum. "Dokter bilang sebaiknya kita menunda punya anak dan aku nggak boleh terlalu berlebihan melakukannya. Tapi….dia juga bilang boleh asal kamu setuju dan aku akan bersikap lembut."

Oke!!. Lily mengerti arah pembicaraan ini.

"Aku juga udah buat perjanjian sama anak-anak, kalau sekarang sampai 10 hari kedepan adalah giliran ku yang memelukmu saat tidur. Jadi…..aku harap kamu mengerti maksud ku."

"……Ada 10 kotak."

"Iya."

"Satu kotak isi 3."

"Mm."

"10 hari."

Varo membuka kotak pertama."Pilih sehari 3 kali dosis obat, atau…..3 ronde sekaligus malam hari, aku nurut aja."

What the……Sepertinya satu-satunya sifat yang nggak berubah dari Varo adalah sifat mesumnya. Dan Lily hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya.

Varo menatap Lily dengan mata cemerlang yang terlalu gembira. Ia benci sekaligus senang dengan senyum Varo itu.

"Terserah."

"……Apanya???."

Lily yakin kalau wajahnya sudah semerah tomat. "Terserah kamu."

"Oke!!!."

Dan suami mesumnya itu benar-benar membuat Lily tidak tidur sepanjang malam.

🌸🌸🌸

Bab selanjutnya :

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...b24d44a11168e1
Diubah oleh cicimasni 25-04-2020 04:33
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.