- Beranda
- Stories from the Heart
Bab 38 : Dilema
...
TS
cicimasni
Bab 38 : Dilema
Bab 38 : Dilema
🌸🌸🌸
Arion sekarang sedang bersama Aciel, Azriel dan Luciel di cafetaria milik Lily. Ketiganya makan siang disana dan Arion menarik nafas dalam karena Lily lagi-lagi tidak menemaninya makan. Mamanya itu sekarang tidur di lantai 4 cafe.
"Rion nggak makan??, Ciel bertanya ketika melihat Arion tidak menyentuh makanannya.
"Lion pengen makan cama mama."
Luciel yang duduk di sebelas Arion mengelus pundak si kecil itu. "Tapi mama nya Rion lagi sakit. Nanti kalau sudah sembuh, bisa makan sama-sama."
Bukanya jadi semangat si kecil itu malah tambah murung.
Begitu di antar pulang dari cafetaria. Arion naik ke kamar Lily dan membuka pintu. Disana ia melihat mamanya tidur. Arion diam-diam melepaskan sepatunya dan naik ketempat tidur.
Lily bangun setengah jam kemudian dan mendapati Arion tidur sambil memegang tangannya. Ia memeluk si kecil itu dan kembali tidur.
Sore telah tiba ketika terdengar ribut dari lantai bawah. Lily dan Rion juga terbangun. Begitu mereka ke lantai bawah. Ibunda Lily dan yang lainnya sudah tiba di rumah.
"Eh cucu nenek udah bangun. Belum mandi kan, mau mandi sama nenek??." Tanya Ibunda Lily sambil menggendong Arion.
Si kecil itu menatap neneknya lalu berpaling kearah Lily. ".....Mau mandi cama mama aja."
Lily tersenyum dan akhirnya pergi memandikan Rion.
"Mama macih cakit ya??." Tanya si kecil itu ketika Lily mengganti bajunya.
Lily menggeleng.
Arion langsung tersenyum. "Jadi...mama bica makan lagi cama Lion kan-kan?."
"......."Lily hanya tersenyum.
"Dedek bayinya....nakal ya ma??," Arion kembali bertanya.
"Kenapa??."
Arion memasak wajah cemberut yang lucu. "Dedek bayinya bikin mama cakit, Lion nggak cuka. Lion nggak jadi aja mau dedek bayinya, bial minjem dedek bayi cama kak Ciel aja."
"......." Waduhh mesti jawab apa nih??
Lily mendudukkan Arion di pangkuannya. "Tapi...kalau dedek bayinya nangis gimana??, Dedeknya kan udah jauh-jauh datang, terus tidur di perut mama. Kalo disuruh pergi....nanti mama tambah sakit, papa juga sedih."
"......"
Lily mengelus kepala Arion. "Arion jadi kan mau sekolahnya??." Lily mengalihkan topik pembicaraan.
Arion mengangguk.
"Nanti waktu sekolah, mama sama papa nggak bisa ikut loh!. Rion makan, main sama belajarnya sama teman-teman. Nah mama cuma bisa jemput sama anterin Rion aja. Rion nya nggak pa-pa??."
Yang ditanya malah makin murung. "Mama kenapa nggak cekolah juga??."
"Karena Buk gurunya bilang, orang dewasa di suruh kerja aja. Biar anak kecil kayak Arion yang sekolah. Tapi...buk guru juga bilang, orang dewasa boleh main ke sekolah, jadi Rion jangan sedih yah."
"Mmm....oke." Meski sebenarnya masih tidak terima penjelasan Lily, Arion akhirnya tersenyum lalu meminta mamanya itu makan dengannya.
🌺🌺
"Mual muntahnya masih??." bunda Lily bertanya ketika memangku Arion. Si kecil itu tampak senang karena akhirnya mamanya tidak muntah-muntah lagi.
Meski tadinya ia sempat murung lagi karena tidak melihat Varo, tapi berkat Ciel dan yang lainnya, si kecil itu kembali ceria dan lupa rasa kangennya pada papanya itu.
Lily menggeleng, mual muntahnya sudah lumayan berkurang, namun wanita itu mulai merasakan pengen banyak makan terutama yang pedas.
"Ati-ati, entar anak kakak mirip cabe loh!, hahahaha." Candaan dari Dinda itu hanya membuat Lily tersenyum.
"Ngomong-ngomong....suami kemana nih???, istri lagi hamil muda gini kok ditinggal??."
"Dinda." Bunda Lily menepuk lengan anak keduanya itu. Ia tau kalau Dinda akan menggoda Lily lagi.
Dinda tersenyum dan melanjutkan aksinya. Kali ini suaminya yang sedang menyuapi anaknya yang jadi sasaran sindiran pedas wanita itu. "Dulu waktu Dinda hamil muda, ada yang ninggalin juga hampir tiap minggu, yang katanya seminar lah, pelatihan lah, eh nggak taunya jadi foto model bareng cewek, ceweknya gonta ganti lagi, cih!!!."
Yang di sindir tersenyum dan mengelus rambut istrinya itu. "Waktu itu mau akreditasi Rumah Sakit, dan....maklumin aja, orang ganteng banyak yang naksir, hahaha."
"......"
"......" Narsis juga nih orang.
Suami Dinda kembali menjelaskan, " Dia ngambek sampai nggak mau ketemu seharian, tapi malamnya dia malah nangis dan nelpon bilang kangen, hahaha. Padahal aku tidur di kamar sebelah. Kami akhirnya baikan setelah dia memaksaku memakan rujak super asam. Untunglah waktu dia bilang dia pengen makan rujak pas tengah malam itu, aku udah persiapan mangga mentah, bengkuang, jambu, dan nanas di dalam kulkas. Jadi waktu dia minta, aku tinggal buatin dan nggak perlu repot."
Dinda menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Jadi....waktu itu kamu nggak beli??."
Suaminya menggeleng. "Aku tarok di kulkas di lantai 2, kamu kan di kamar aja, jadi aku bikin di lantai atas, ma'af ya, bohong. Kalau nggak gitu....kamu nggak bisa makan rujak dan aku nggak bisa tidur."
Lalu sang suami mencium tangan sang istri di depan seorang istri muda yang kesepian. "Ugghh.....kok gerah ya??."
Kedua orang itu hanya tersenyum tanpa tau malu.
"Tapi ini beneran loh kak." Suami Dinda kali ini yang bicara. "Komunikasi itu penting, juga saling pengertian dan saling percaya. Aku sendiri ngerasain kalau kita berdua nggak sama-sama jujur dan mengerti situasi masing-masing, kita...mungkin udah lama bercerai."
"Dulu, pasiennya tambah banyak, ibu-ibu muda bawa anak tanpa bapak disampingnya, terus koas juga residen cantik yang magang di Rumah sakit, juga rekan kerja yang lainnya. Banyak banget yang ngedeketin dia, padahal udah pada tau kalau dia udah Sold out. Aku maksa dia buat pasang CCTV dan alat di ruangannya. Juga nyuruh dia ngidupin alat perekam kemanapun dia pergi. Biar aku bisa mantau, dia juga harus laporan tiap 1 jam." Dinda ikut menjelaskan masalahnya dulu.
Oh, wow.....
"Kamu juga banyak yang ngedeketin." Suami Dinda menatap istrinya itu sambil mengenang masa lalu. "Ipar sepupu yang selalu muncul numpang makan dirumah, dokter kandungan gila yang naksir sama ibu hamil, supir taksi sialan yang nekat minta nomor telpon karena kamu terlalu ramah, belum lagi apoteker muda yang magang di apotik kamu. Mengingat hal itu, sampai sekarang masih membuatku kesal. Apa mereka nggak tau kalau yang lagi hamil itu udah ada yang punya?, Menyebalkan!. Untung Rumah Sakit itu punya ayahku. Aku jadi bisa cuti 1 tahun, buat jagain kamu sampai lahiran."
"......."
Lily hanya mendengarkan sambil menahan senyum. Itu...bukannya kalian berdua terlalu cemburuan???
"Kamu udah nelpon suami kamu belum??. Tanya tadi yang duduk disebelahnya waktu di pesawat cewek apa cowok, cantik nggak??. Kalau dia bilang iya, berarti dia merhatiin tuh cewek, ati-ati...siapa tau mereka juga bertukar nomor ponsel dan malah menginap di hotel yang sama."
Mendengar perkataan Dinda, membuat Lily tersenyum dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Segitu kepo nya kamu dek....
Bunda Lily yang tadinya hanya mendengarkan pembicaraan itu, akhirnya ikut bicara. Ia menyuruh Lily menelpon suaminya dan bertanya apakah ia sudah sampai dan apakah sudah makan atau belum. Dinda dan suaminya menyeletuk, nitip salam dan bilang mereka ingin mengobrol dengannya.
Lily akhirnya menjauh dari ruang makan dan duduk sendiri di sofa ruang tamu untuk menelpon Varo. Tapi sayangnya sampai 5 kali ia menelpon, pria itu tidak mengangkat telpon darinya.
Sibuk kah??
Jam baru menunjukkan pukul 8, jadi tidak mungkin Varo sudah tidur, Lily ragu untuk menelpon pria itu lagi, karena takutnya pria itu malah sedang bekerja atau meeting bersama kliennya. Ia memutuskan untuk menelpon Varo lagi nanti.
Lily meraba perutnya yang mulai terlihat membesar, tapi belum tampak seperti ibu hamil. Ia menoleh kearah ruang makan dan ketika melihat yang lainnya tidak ada yang bakal muncul ke ruang tamu. Lily memutuskan untuk mengambil foto selfie dirinya dan bernarsis ria sendirian.
Ia bahkan mengirimkan foto-foto itu pada Varo dengan caption :
'Arion kangen kamu'
'Si kembar kangen kamu'
'Bunda dan yang lainya pengen ketemu dan ngobrol sama kamu'
'Aku.....
mungkin.....
sedikit....
merindukanmu.....
Selamat malam...
Lily dengan wajah yang sudah memerah dan perasaan malu meletakkan ponselnya diatas meja. Ia tidak berharap pria itu membalas semua pesan itu. Terutama tentang Lily yang merindukan pria itu. Wanita yang tiduran di sofa itu merasa..ia tiba-tiba saja ingin Varo berada di dekatnya.
Kenapa ngidam ku malah aneh begini sih!!
🌸🌸🌸
Bab selanjutnya :
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93185c0b01bc
🌸🌸🌸
Arion sekarang sedang bersama Aciel, Azriel dan Luciel di cafetaria milik Lily. Ketiganya makan siang disana dan Arion menarik nafas dalam karena Lily lagi-lagi tidak menemaninya makan. Mamanya itu sekarang tidur di lantai 4 cafe.
"Rion nggak makan??, Ciel bertanya ketika melihat Arion tidak menyentuh makanannya.
"Lion pengen makan cama mama."
Luciel yang duduk di sebelas Arion mengelus pundak si kecil itu. "Tapi mama nya Rion lagi sakit. Nanti kalau sudah sembuh, bisa makan sama-sama."
Bukanya jadi semangat si kecil itu malah tambah murung.
Begitu di antar pulang dari cafetaria. Arion naik ke kamar Lily dan membuka pintu. Disana ia melihat mamanya tidur. Arion diam-diam melepaskan sepatunya dan naik ketempat tidur.
Lily bangun setengah jam kemudian dan mendapati Arion tidur sambil memegang tangannya. Ia memeluk si kecil itu dan kembali tidur.
Sore telah tiba ketika terdengar ribut dari lantai bawah. Lily dan Rion juga terbangun. Begitu mereka ke lantai bawah. Ibunda Lily dan yang lainnya sudah tiba di rumah.
"Eh cucu nenek udah bangun. Belum mandi kan, mau mandi sama nenek??." Tanya Ibunda Lily sambil menggendong Arion.
Si kecil itu menatap neneknya lalu berpaling kearah Lily. ".....Mau mandi cama mama aja."
Lily tersenyum dan akhirnya pergi memandikan Rion.
"Mama macih cakit ya??." Tanya si kecil itu ketika Lily mengganti bajunya.
Lily menggeleng.
Arion langsung tersenyum. "Jadi...mama bica makan lagi cama Lion kan-kan?."
"......."Lily hanya tersenyum.
"Dedek bayinya....nakal ya ma??," Arion kembali bertanya.
"Kenapa??."
Arion memasak wajah cemberut yang lucu. "Dedek bayinya bikin mama cakit, Lion nggak cuka. Lion nggak jadi aja mau dedek bayinya, bial minjem dedek bayi cama kak Ciel aja."
"......." Waduhh mesti jawab apa nih??
Lily mendudukkan Arion di pangkuannya. "Tapi...kalau dedek bayinya nangis gimana??, Dedeknya kan udah jauh-jauh datang, terus tidur di perut mama. Kalo disuruh pergi....nanti mama tambah sakit, papa juga sedih."
"......"
Lily mengelus kepala Arion. "Arion jadi kan mau sekolahnya??." Lily mengalihkan topik pembicaraan.
Arion mengangguk.
"Nanti waktu sekolah, mama sama papa nggak bisa ikut loh!. Rion makan, main sama belajarnya sama teman-teman. Nah mama cuma bisa jemput sama anterin Rion aja. Rion nya nggak pa-pa??."
Yang ditanya malah makin murung. "Mama kenapa nggak cekolah juga??."
"Karena Buk gurunya bilang, orang dewasa di suruh kerja aja. Biar anak kecil kayak Arion yang sekolah. Tapi...buk guru juga bilang, orang dewasa boleh main ke sekolah, jadi Rion jangan sedih yah."
"Mmm....oke." Meski sebenarnya masih tidak terima penjelasan Lily, Arion akhirnya tersenyum lalu meminta mamanya itu makan dengannya.
🌺🌺
"Mual muntahnya masih??." bunda Lily bertanya ketika memangku Arion. Si kecil itu tampak senang karena akhirnya mamanya tidak muntah-muntah lagi.
Meski tadinya ia sempat murung lagi karena tidak melihat Varo, tapi berkat Ciel dan yang lainnya, si kecil itu kembali ceria dan lupa rasa kangennya pada papanya itu.
Lily menggeleng, mual muntahnya sudah lumayan berkurang, namun wanita itu mulai merasakan pengen banyak makan terutama yang pedas.
"Ati-ati, entar anak kakak mirip cabe loh!, hahahaha." Candaan dari Dinda itu hanya membuat Lily tersenyum.
"Ngomong-ngomong....suami kemana nih???, istri lagi hamil muda gini kok ditinggal??."
"Dinda." Bunda Lily menepuk lengan anak keduanya itu. Ia tau kalau Dinda akan menggoda Lily lagi.
Dinda tersenyum dan melanjutkan aksinya. Kali ini suaminya yang sedang menyuapi anaknya yang jadi sasaran sindiran pedas wanita itu. "Dulu waktu Dinda hamil muda, ada yang ninggalin juga hampir tiap minggu, yang katanya seminar lah, pelatihan lah, eh nggak taunya jadi foto model bareng cewek, ceweknya gonta ganti lagi, cih!!!."
Yang di sindir tersenyum dan mengelus rambut istrinya itu. "Waktu itu mau akreditasi Rumah Sakit, dan....maklumin aja, orang ganteng banyak yang naksir, hahaha."
"......"
"......" Narsis juga nih orang.
Suami Dinda kembali menjelaskan, " Dia ngambek sampai nggak mau ketemu seharian, tapi malamnya dia malah nangis dan nelpon bilang kangen, hahaha. Padahal aku tidur di kamar sebelah. Kami akhirnya baikan setelah dia memaksaku memakan rujak super asam. Untunglah waktu dia bilang dia pengen makan rujak pas tengah malam itu, aku udah persiapan mangga mentah, bengkuang, jambu, dan nanas di dalam kulkas. Jadi waktu dia minta, aku tinggal buatin dan nggak perlu repot."
Dinda menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Jadi....waktu itu kamu nggak beli??."
Suaminya menggeleng. "Aku tarok di kulkas di lantai 2, kamu kan di kamar aja, jadi aku bikin di lantai atas, ma'af ya, bohong. Kalau nggak gitu....kamu nggak bisa makan rujak dan aku nggak bisa tidur."
Lalu sang suami mencium tangan sang istri di depan seorang istri muda yang kesepian. "Ugghh.....kok gerah ya??."
Kedua orang itu hanya tersenyum tanpa tau malu.
"Tapi ini beneran loh kak." Suami Dinda kali ini yang bicara. "Komunikasi itu penting, juga saling pengertian dan saling percaya. Aku sendiri ngerasain kalau kita berdua nggak sama-sama jujur dan mengerti situasi masing-masing, kita...mungkin udah lama bercerai."
"Dulu, pasiennya tambah banyak, ibu-ibu muda bawa anak tanpa bapak disampingnya, terus koas juga residen cantik yang magang di Rumah sakit, juga rekan kerja yang lainnya. Banyak banget yang ngedeketin dia, padahal udah pada tau kalau dia udah Sold out. Aku maksa dia buat pasang CCTV dan alat di ruangannya. Juga nyuruh dia ngidupin alat perekam kemanapun dia pergi. Biar aku bisa mantau, dia juga harus laporan tiap 1 jam." Dinda ikut menjelaskan masalahnya dulu.
Oh, wow.....
"Kamu juga banyak yang ngedeketin." Suami Dinda menatap istrinya itu sambil mengenang masa lalu. "Ipar sepupu yang selalu muncul numpang makan dirumah, dokter kandungan gila yang naksir sama ibu hamil, supir taksi sialan yang nekat minta nomor telpon karena kamu terlalu ramah, belum lagi apoteker muda yang magang di apotik kamu. Mengingat hal itu, sampai sekarang masih membuatku kesal. Apa mereka nggak tau kalau yang lagi hamil itu udah ada yang punya?, Menyebalkan!. Untung Rumah Sakit itu punya ayahku. Aku jadi bisa cuti 1 tahun, buat jagain kamu sampai lahiran."
"......."
Lily hanya mendengarkan sambil menahan senyum. Itu...bukannya kalian berdua terlalu cemburuan???
"Kamu udah nelpon suami kamu belum??. Tanya tadi yang duduk disebelahnya waktu di pesawat cewek apa cowok, cantik nggak??. Kalau dia bilang iya, berarti dia merhatiin tuh cewek, ati-ati...siapa tau mereka juga bertukar nomor ponsel dan malah menginap di hotel yang sama."
Mendengar perkataan Dinda, membuat Lily tersenyum dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Segitu kepo nya kamu dek....
Bunda Lily yang tadinya hanya mendengarkan pembicaraan itu, akhirnya ikut bicara. Ia menyuruh Lily menelpon suaminya dan bertanya apakah ia sudah sampai dan apakah sudah makan atau belum. Dinda dan suaminya menyeletuk, nitip salam dan bilang mereka ingin mengobrol dengannya.
Lily akhirnya menjauh dari ruang makan dan duduk sendiri di sofa ruang tamu untuk menelpon Varo. Tapi sayangnya sampai 5 kali ia menelpon, pria itu tidak mengangkat telpon darinya.
Sibuk kah??
Jam baru menunjukkan pukul 8, jadi tidak mungkin Varo sudah tidur, Lily ragu untuk menelpon pria itu lagi, karena takutnya pria itu malah sedang bekerja atau meeting bersama kliennya. Ia memutuskan untuk menelpon Varo lagi nanti.
Lily meraba perutnya yang mulai terlihat membesar, tapi belum tampak seperti ibu hamil. Ia menoleh kearah ruang makan dan ketika melihat yang lainnya tidak ada yang bakal muncul ke ruang tamu. Lily memutuskan untuk mengambil foto selfie dirinya dan bernarsis ria sendirian.
Ia bahkan mengirimkan foto-foto itu pada Varo dengan caption :
'Arion kangen kamu'
'Si kembar kangen kamu'
'Bunda dan yang lainya pengen ketemu dan ngobrol sama kamu'
'Aku.....
mungkin.....
sedikit....
merindukanmu.....
Selamat malam...
Lily dengan wajah yang sudah memerah dan perasaan malu meletakkan ponselnya diatas meja. Ia tidak berharap pria itu membalas semua pesan itu. Terutama tentang Lily yang merindukan pria itu. Wanita yang tiduran di sofa itu merasa..ia tiba-tiba saja ingin Varo berada di dekatnya.
Kenapa ngidam ku malah aneh begini sih!!
🌸🌸🌸
Bab selanjutnya :
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93185c0b01bc
Diubah oleh cicimasni 23-04-2020 20:43
jiyanq dan 7 lainnya memberi reputasi
8
880
0
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
cicimasni
#1
Bab 38 : Dilema
Bab 38 : Dilema
🌸🌸🌸
Arion sekarang sedang bersama Aciel, Azriel dan Luciel di cafetaria milik Lily. Ketiganya makan siang disana dan Arion menarik nafas dalam karena Lily lagi-lagi tidak menemaninya makan. Mamanya itu sekarang tidur di lantai 4 cafe.
"Rion nggak makan??, Ciel bertanya ketika melihat Arion tidak menyentuh makanannya.
"Lion pengen makan cama mama."
Luciel yang duduk di sebelas Arion mengelus pundak si kecil itu. "Tapi mama nya Rion lagi sakit. Nanti kalau sudah sembuh, bisa makan sama-sama."
Bukanya jadi semangat si kecil itu malah tambah murung.
Begitu di antar pulang dari cafetaria. Arion naik ke kamar Lily dan membuka pintu. Disana ia melihat mamanya tidur. Arion diam-diam melepaskan sepatunya dan naik ketempat tidur.
Lily bangun setengah jam kemudian dan mendapati Arion tidur sambil memegang tangannya. Ia memeluk si kecil itu dan kembali tidur.
Sore telah tiba ketika terdengar ribut dari lantai bawah. Lily dan Rion juga terbangun. Begitu mereka ke lantai bawah. Ibunda Lily dan yang lainnya sudah tiba di rumah.
"Eh cucu nenek udah bangun. Belum mandi kan, mau mandi sama nenek??." Tanya Ibunda Lily sambil menggendong Arion.
Si kecil itu menatap neneknya lalu berpaling kearah Lily. ".....Mau mandi cama mama aja."
Lily tersenyum dan akhirnya pergi memandikan Rion.
"Mama macih cakit ya??." Tanya si kecil itu ketika Lily mengganti bajunya.
Lily menggeleng.
Arion langsung tersenyum. "Jadi...mama bica makan lagi cama Lion kan-kan?."
"......."Lily hanya tersenyum.
"Dedek bayinya....nakal ya ma??," Arion kembali bertanya.
"Kenapa??."
Arion memasak wajah cemberut yang lucu. "Dedek bayinya bikin mama cakit, Lion nggak cuka. Lion nggak jadi aja mau dedek bayinya, bial minjem dedek bayi cama kak Ciel aja."
"......." Waduhh mesti jawab apa nih??
Lily mendudukkan Arion di pangkuannya. "Tapi...kalau dedek bayinya nangis gimana??, Dedeknya kan udah jauh-jauh datang, terus tidur di perut mama. Kalo disuruh pergi....nanti mama tambah sakit, papa juga sedih."
"......"
Lily mengelus kepala Arion. "Arion jadi kan mau sekolahnya??." Lily mengalihkan topik pembicaraan.
Arion mengangguk.
"Nanti waktu sekolah, mama sama papa nggak bisa ikut loh!. Rion makan, main sama belajarnya sama teman-teman. Nah mama cuma bisa jemput sama anterin Rion aja. Rion nya nggak pa-pa??."
Yang ditanya malah makin murung. "Mama kenapa nggak cekolah juga??."
"Karena Buk gurunya bilang, orang dewasa di suruh kerja aja. Biar anak kecil kayak Arion yang sekolah. Tapi...buk guru juga bilang, orang dewasa boleh main ke sekolah, jadi Rion jangan sedih yah."
"Mmm....oke." Meski sebenarnya masih tidak terima penjelasan Lily, Arion akhirnya tersenyum lalu meminta mamanya itu makan dengannya.
🌺🌺
"Mual muntahnya masih??." bunda Lily bertanya ketika memangku Arion. Si kecil itu tampak senang karena akhirnya mamanya tidak muntah-muntah lagi.
Meski tadinya ia sempat murung lagi karena tidak melihat Varo, tapi berkat Ciel dan yang lainnya, si kecil itu kembali ceria dan lupa rasa kangennya pada papanya itu.
Lily menggeleng, mual muntahnya sudah lumayan berkurang, namun wanita itu mulai merasakan pengen banyak makan terutama yang pedas.
"Ati-ati, entar anak kakak mirip cabe loh!, hahahaha." Candaan dari Dinda itu hanya membuat Lily tersenyum.
"Ngomong-ngomong....suami kemana nih???, istri lagi hamil muda gini kok ditinggal??."
"Dinda." Bunda Lily menepuk lengan anak keduanya itu. Ia tau kalau Dinda akan menggoda Lily lagi.
Dinda tersenyum dan melanjutkan aksinya. Kali ini suaminya yang sedang menyuapi anaknya yang jadi sasaran sindiran pedas wanita itu. "Dulu waktu Dinda hamil muda, ada yang ninggalin juga hampir tiap minggu, yang katanya seminar lah, pelatihan lah, eh nggak taunya jadi foto model bareng cewek, ceweknya gonta ganti lagi, cih!!!."
Yang di sindir tersenyum dan mengelus rambut istrinya itu. "Waktu itu mau akreditasi Rumah Sakit, dan....maklumin aja, orang ganteng banyak yang naksir, hahaha."
"......"
"......" Narsis juga nih orang.
Suami Dinda kembali menjelaskan, " Dia ngambek sampai nggak mau ketemu seharian, tapi malamnya dia malah nangis dan nelpon bilang kangen, hahaha. Padahal aku tidur di kamar sebelah. Kami akhirnya baikan setelah dia memaksaku memakan rujak super asam. Untunglah waktu dia bilang dia pengen makan rujak pas tengah malam itu, aku udah persiapan mangga mentah, bengkuang, jambu, dan nanas di dalam kulkas. Jadi waktu dia minta, aku tinggal buatin dan nggak perlu repot."
Dinda menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Jadi....waktu itu kamu nggak beli??."
Suaminya menggeleng. "Aku tarok di kulkas di lantai 2, kamu kan di kamar aja, jadi aku bikin di lantai atas, ma'af ya, bohong. Kalau nggak gitu....kamu nggak bisa makan rujak dan aku nggak bisa tidur."
Lalu sang suami mencium tangan sang istri di depan seorang istri muda yang kesepian. "Ugghh.....kok gerah ya??."
Kedua orang itu hanya tersenyum tanpa tau malu.
"Tapi ini beneran loh kak." Suami Dinda kali ini yang bicara. "Komunikasi itu penting, juga saling pengertian dan saling percaya. Aku sendiri ngerasain kalau kita berdua nggak sama-sama jujur dan mengerti situasi masing-masing, kita...mungkin udah lama bercerai."
"Dulu, pasiennya tambah banyak, ibu-ibu muda bawa anak tanpa bapak disampingnya, terus koas juga residen cantik yang magang di Rumah sakit, juga rekan kerja yang lainnya. Banyak banget yang ngedeketin dia, padahal udah pada tau kalau dia udah Sold out. Aku maksa dia buat pasang CCTV dan alat di ruangannya. Juga nyuruh dia ngidupin alat perekam kemanapun dia pergi. Biar aku bisa mantau, dia juga harus laporan tiap 1 jam." Dinda ikut menjelaskan masalahnya dulu.
Oh, wow.....
"Kamu juga banyak yang ngedeketin." Suami Dinda menatap istrinya itu sambil mengenang masa lalu. "Ipar sepupu yang selalu muncul numpang makan dirumah, dokter kandungan gila yang naksir sama ibu hamil, supir taksi sialan yang nekat minta nomor telpon karena kamu terlalu ramah, belum lagi apoteker muda yang magang di apotik kamu. Mengingat hal itu, sampai sekarang masih membuatku kesal. Apa mereka nggak tau kalau yang lagi hamil itu udah ada yang punya?, Menyebalkan!. Untung Rumah Sakit itu punya ayahku. Aku jadi bisa cuti 1 tahun, buat jagain kamu sampai lahiran."
"......."
Lily hanya mendengarkan sambil menahan senyum. Itu...bukannya kalian berdua terlalu cemburuan???
"Kamu udah nelpon suami kamu belum??. Tanya tadi yang duduk disebelahnya waktu di pesawat cewek apa cowok, cantik nggak??. Kalau dia bilang iya, berarti dia merhatiin tuh cewek, ati-ati...siapa tau mereka juga bertukar nomor ponsel dan malah menginap di hotel yang sama."
Mendengar perkataan Dinda, membuat Lily tersenyum dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Segitu kepo nya kamu dek....
Bunda Lily yang tadinya hanya mendengarkan pembicaraan itu, akhirnya ikut bicara. Ia menyuruh Lily menelpon suaminya dan bertanya apakah ia sudah sampai dan apakah sudah makan atau belum. Dinda dan suaminya menyeletuk, nitip salam dan bilang mereka ingin mengobrol dengannya.
Lily akhirnya menjauh dari ruang makan dan duduk sendiri di sofa ruang tamu untuk menelpon Varo. Tapi sayangnya sampai 5 kali ia menelpon, pria itu tidak mengangkat telpon darinya.
Sibuk kah??
Jam baru menunjukkan pukul 8, jadi tidak mungkin Varo sudah tidur, Lily ragu untuk menelpon pria itu lagi, karena takutnya pria itu malah sedang bekerja atau meeting bersama kliennya. Ia memutuskan untuk menelpon Varo lagi nanti.
Lily meraba perutnya yang mulai terlihat membesar, tapi belum tampak seperti ibu hamil. Ia menoleh kearah ruang makan dan ketika melihat yang lainnya tidak ada yang bakal muncul ke ruang tamu. Lily memutuskan untuk mengambil foto selfie dirinya dan bernarsis ria sendirian.
Ia bahkan mengirimkan foto-foto itu pada Varo dengan caption :
'Arion kangen kamu'
'Si kembar kangen kamu'
'Bunda dan yang lainya pengen ketemu dan ngobrol sama kamu'
'Aku.....
mungkin.....
sedikit....
merindukanmu.....
Selamat malam...
Lily dengan wajah yang sudah memerah dan perasaan malu meletakkan ponselnya diatas meja. Ia tidak berharap pria itu membalas semua pesan itu. Terutama tentang Lily yang merindukan pria itu. Wanita yang tiduran di sofa itu merasa..ia tiba-tiba saja ingin Varo berada di dekatnya.
Kenapa ngidam ku malah aneh begini sih!!
🌸🌸🌸
Bab selanjutnya :
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93185c0b01bc
🌸🌸🌸
Arion sekarang sedang bersama Aciel, Azriel dan Luciel di cafetaria milik Lily. Ketiganya makan siang disana dan Arion menarik nafas dalam karena Lily lagi-lagi tidak menemaninya makan. Mamanya itu sekarang tidur di lantai 4 cafe.
"Rion nggak makan??, Ciel bertanya ketika melihat Arion tidak menyentuh makanannya.
"Lion pengen makan cama mama."
Luciel yang duduk di sebelas Arion mengelus pundak si kecil itu. "Tapi mama nya Rion lagi sakit. Nanti kalau sudah sembuh, bisa makan sama-sama."
Bukanya jadi semangat si kecil itu malah tambah murung.
Begitu di antar pulang dari cafetaria. Arion naik ke kamar Lily dan membuka pintu. Disana ia melihat mamanya tidur. Arion diam-diam melepaskan sepatunya dan naik ketempat tidur.
Lily bangun setengah jam kemudian dan mendapati Arion tidur sambil memegang tangannya. Ia memeluk si kecil itu dan kembali tidur.
Sore telah tiba ketika terdengar ribut dari lantai bawah. Lily dan Rion juga terbangun. Begitu mereka ke lantai bawah. Ibunda Lily dan yang lainnya sudah tiba di rumah.
"Eh cucu nenek udah bangun. Belum mandi kan, mau mandi sama nenek??." Tanya Ibunda Lily sambil menggendong Arion.
Si kecil itu menatap neneknya lalu berpaling kearah Lily. ".....Mau mandi cama mama aja."
Lily tersenyum dan akhirnya pergi memandikan Rion.
"Mama macih cakit ya??." Tanya si kecil itu ketika Lily mengganti bajunya.
Lily menggeleng.
Arion langsung tersenyum. "Jadi...mama bica makan lagi cama Lion kan-kan?."
"......."Lily hanya tersenyum.
"Dedek bayinya....nakal ya ma??," Arion kembali bertanya.
"Kenapa??."
Arion memasak wajah cemberut yang lucu. "Dedek bayinya bikin mama cakit, Lion nggak cuka. Lion nggak jadi aja mau dedek bayinya, bial minjem dedek bayi cama kak Ciel aja."
"......." Waduhh mesti jawab apa nih??
Lily mendudukkan Arion di pangkuannya. "Tapi...kalau dedek bayinya nangis gimana??, Dedeknya kan udah jauh-jauh datang, terus tidur di perut mama. Kalo disuruh pergi....nanti mama tambah sakit, papa juga sedih."
"......"
Lily mengelus kepala Arion. "Arion jadi kan mau sekolahnya??." Lily mengalihkan topik pembicaraan.
Arion mengangguk.
"Nanti waktu sekolah, mama sama papa nggak bisa ikut loh!. Rion makan, main sama belajarnya sama teman-teman. Nah mama cuma bisa jemput sama anterin Rion aja. Rion nya nggak pa-pa??."
Yang ditanya malah makin murung. "Mama kenapa nggak cekolah juga??."
"Karena Buk gurunya bilang, orang dewasa di suruh kerja aja. Biar anak kecil kayak Arion yang sekolah. Tapi...buk guru juga bilang, orang dewasa boleh main ke sekolah, jadi Rion jangan sedih yah."
"Mmm....oke." Meski sebenarnya masih tidak terima penjelasan Lily, Arion akhirnya tersenyum lalu meminta mamanya itu makan dengannya.
🌺🌺
"Mual muntahnya masih??." bunda Lily bertanya ketika memangku Arion. Si kecil itu tampak senang karena akhirnya mamanya tidak muntah-muntah lagi.
Meski tadinya ia sempat murung lagi karena tidak melihat Varo, tapi berkat Ciel dan yang lainnya, si kecil itu kembali ceria dan lupa rasa kangennya pada papanya itu.
Lily menggeleng, mual muntahnya sudah lumayan berkurang, namun wanita itu mulai merasakan pengen banyak makan terutama yang pedas.
"Ati-ati, entar anak kakak mirip cabe loh!, hahahaha." Candaan dari Dinda itu hanya membuat Lily tersenyum.
"Ngomong-ngomong....suami kemana nih???, istri lagi hamil muda gini kok ditinggal??."
"Dinda." Bunda Lily menepuk lengan anak keduanya itu. Ia tau kalau Dinda akan menggoda Lily lagi.
Dinda tersenyum dan melanjutkan aksinya. Kali ini suaminya yang sedang menyuapi anaknya yang jadi sasaran sindiran pedas wanita itu. "Dulu waktu Dinda hamil muda, ada yang ninggalin juga hampir tiap minggu, yang katanya seminar lah, pelatihan lah, eh nggak taunya jadi foto model bareng cewek, ceweknya gonta ganti lagi, cih!!!."
Yang di sindir tersenyum dan mengelus rambut istrinya itu. "Waktu itu mau akreditasi Rumah Sakit, dan....maklumin aja, orang ganteng banyak yang naksir, hahaha."
"......"
"......" Narsis juga nih orang.
Suami Dinda kembali menjelaskan, " Dia ngambek sampai nggak mau ketemu seharian, tapi malamnya dia malah nangis dan nelpon bilang kangen, hahaha. Padahal aku tidur di kamar sebelah. Kami akhirnya baikan setelah dia memaksaku memakan rujak super asam. Untunglah waktu dia bilang dia pengen makan rujak pas tengah malam itu, aku udah persiapan mangga mentah, bengkuang, jambu, dan nanas di dalam kulkas. Jadi waktu dia minta, aku tinggal buatin dan nggak perlu repot."
Dinda menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya. "Jadi....waktu itu kamu nggak beli??."
Suaminya menggeleng. "Aku tarok di kulkas di lantai 2, kamu kan di kamar aja, jadi aku bikin di lantai atas, ma'af ya, bohong. Kalau nggak gitu....kamu nggak bisa makan rujak dan aku nggak bisa tidur."
Lalu sang suami mencium tangan sang istri di depan seorang istri muda yang kesepian. "Ugghh.....kok gerah ya??."
Kedua orang itu hanya tersenyum tanpa tau malu.
"Tapi ini beneran loh kak." Suami Dinda kali ini yang bicara. "Komunikasi itu penting, juga saling pengertian dan saling percaya. Aku sendiri ngerasain kalau kita berdua nggak sama-sama jujur dan mengerti situasi masing-masing, kita...mungkin udah lama bercerai."
"Dulu, pasiennya tambah banyak, ibu-ibu muda bawa anak tanpa bapak disampingnya, terus koas juga residen cantik yang magang di Rumah sakit, juga rekan kerja yang lainnya. Banyak banget yang ngedeketin dia, padahal udah pada tau kalau dia udah Sold out. Aku maksa dia buat pasang CCTV dan alat di ruangannya. Juga nyuruh dia ngidupin alat perekam kemanapun dia pergi. Biar aku bisa mantau, dia juga harus laporan tiap 1 jam." Dinda ikut menjelaskan masalahnya dulu.
Oh, wow.....
"Kamu juga banyak yang ngedeketin." Suami Dinda menatap istrinya itu sambil mengenang masa lalu. "Ipar sepupu yang selalu muncul numpang makan dirumah, dokter kandungan gila yang naksir sama ibu hamil, supir taksi sialan yang nekat minta nomor telpon karena kamu terlalu ramah, belum lagi apoteker muda yang magang di apotik kamu. Mengingat hal itu, sampai sekarang masih membuatku kesal. Apa mereka nggak tau kalau yang lagi hamil itu udah ada yang punya?, Menyebalkan!. Untung Rumah Sakit itu punya ayahku. Aku jadi bisa cuti 1 tahun, buat jagain kamu sampai lahiran."
"......."
Lily hanya mendengarkan sambil menahan senyum. Itu...bukannya kalian berdua terlalu cemburuan???
"Kamu udah nelpon suami kamu belum??. Tanya tadi yang duduk disebelahnya waktu di pesawat cewek apa cowok, cantik nggak??. Kalau dia bilang iya, berarti dia merhatiin tuh cewek, ati-ati...siapa tau mereka juga bertukar nomor ponsel dan malah menginap di hotel yang sama."
Mendengar perkataan Dinda, membuat Lily tersenyum dan menggaruk pipinya yang tidak gatal. Segitu kepo nya kamu dek....
Bunda Lily yang tadinya hanya mendengarkan pembicaraan itu, akhirnya ikut bicara. Ia menyuruh Lily menelpon suaminya dan bertanya apakah ia sudah sampai dan apakah sudah makan atau belum. Dinda dan suaminya menyeletuk, nitip salam dan bilang mereka ingin mengobrol dengannya.
Lily akhirnya menjauh dari ruang makan dan duduk sendiri di sofa ruang tamu untuk menelpon Varo. Tapi sayangnya sampai 5 kali ia menelpon, pria itu tidak mengangkat telpon darinya.
Sibuk kah??
Jam baru menunjukkan pukul 8, jadi tidak mungkin Varo sudah tidur, Lily ragu untuk menelpon pria itu lagi, karena takutnya pria itu malah sedang bekerja atau meeting bersama kliennya. Ia memutuskan untuk menelpon Varo lagi nanti.
Lily meraba perutnya yang mulai terlihat membesar, tapi belum tampak seperti ibu hamil. Ia menoleh kearah ruang makan dan ketika melihat yang lainnya tidak ada yang bakal muncul ke ruang tamu. Lily memutuskan untuk mengambil foto selfie dirinya dan bernarsis ria sendirian.
Ia bahkan mengirimkan foto-foto itu pada Varo dengan caption :
'Arion kangen kamu'
'Si kembar kangen kamu'
'Bunda dan yang lainya pengen ketemu dan ngobrol sama kamu'
'Aku.....
mungkin.....
sedikit....
merindukanmu.....
Selamat malam...
Lily dengan wajah yang sudah memerah dan perasaan malu meletakkan ponselnya diatas meja. Ia tidak berharap pria itu membalas semua pesan itu. Terutama tentang Lily yang merindukan pria itu. Wanita yang tiduran di sofa itu merasa..ia tiba-tiba saja ingin Varo berada di dekatnya.
Kenapa ngidam ku malah aneh begini sih!!
🌸🌸🌸
Bab selanjutnya :
https://www.kaskus.co.id/show_post/5...7e93185c0b01bc
Diubah oleh cicimasni 23-04-2020 20:43
0