- Beranda
- Stories from the Heart
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
...
TS
beavermoon
AKU, KAMU, DAN LEMON : SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Setelah beberapa tahun memutuskan untuk beristirahat, akhirnya Beavermoon kembali untuk menyelesaikan apa yang seharusnya bisa diselesaikan lebih cepat.
Sedikit bercerita bahwa cerita ini adalah akhir dari serial Aku, Kamu, dan Lemon. Cerita ini tidak lagi mengisahkan tentang Bram, Widya, Dinda, dan yang lainnya. Cerita ini akan mengisahkan tentang sang penulis dari Aku, Kamu, dan Lemon setelah seri Buku Harian Airin berakhir. Bagaimana ia harus menjalani hidup setelah semuanya berakhir, bagaimana ia harus menyelesaikan dan menjelaskan semua cerita yang sudah ia tulis.
Lalu kenapa cerita ini masih menjadi bagian Aku, Kamu, dan Lemon jika sudah tidak ada lagi para tokoh utama dari cerita tersebut? Mungkin, apa yang dirasakan oleh sang penulis bisa menjadi penutup dari serial ini, dengan catatan telah mendapatkan izin dari beberapa orang yang "namanya" pernah tercantum di cerita sebelumnya.
Untuk kalian yang baru bergabung, mungkin bisa baca seri sebelumnya terlebih dahulu sebelum membaca seri terakhir ini.
AKU, KAMU, DAN LEMON
AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Dan bagi kalian yang sudah mengikuti dari seri pertama, selamat datang kembali. Semoga apa yang menjadi pertanyaan selama ini bisa terjawab, jika tidak terjawab maka lebih baik bertanya di kolom komentar. Satu info terakhir, seri ini akan update 3X dalam seminggu (Senin, Rabu, Jum'at) agar tidak terlalu lama. Enjoy!

Spoiler for Index:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7
Episode 8A
Episode 8B
Episode 9
Episode 10
Episode 11
Episode 12
Episode 13
Episode 14
Episode 15
Episode 16
Episode 17
Episode 18A
Episode 18B
Episode 19
Episode 20
Episode 21
Episode 22
Episode 23
Episode 24
Episode 25
Episode 26
Episode 27
Episode 28
Episode 29
Episode 30
Episode 31
Episode 32
Episode 33
Episode 34 (Finale)
Episode 35A (Extended)
Episode 35B (Extended)
Diubah oleh beavermoon 27-06-2020 18:27
i4munited dan 31 lainnya memberi reputasi
32
27.3K
Kutip
395
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#268
Spoiler for Episode 33:
"Maksudnya?" Tanyaku.
Renata memberikan handphoneku yang sedari tadi ku tinggalkan di meja, aku pun melihat ke arah handphoneku. Ada sebuah pesan masuk, hanya terlihat dari layar yang terkunci. Aku kembali menatap ke arah Renata, ia pun tersenyum kepadaku.
"Kamu kenapa ngga cerita sama aku?" Tanya Renata.
"Dia... bukan pacar aku." Jawabku pelan.
"Oh dia bukan pacar kamu?..." Renata mendekat kepadaku, "maaf ya tadi keliatan pas kamu ke kamar mandi, aku kira dia pacar kamu."
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian kami pun mulai memakan apa yang sudah terhidang di meja. Beberapa kali aku terdiam sambil memikirkan apa yang baru saja Renata katakan, rasanya aku semakin bersalah, entah kepada Renata, entah kepada Bulan.
Malam pun datang, Renata sudah memarkirkan mobilnya berderet dengan mobil-mobil yang lain. Kami pun keluar dari mobil dan berlalu menuju kamarnya, setibanya di kamar aku langsung menyalakan sebatang rokok dan duduk di sofa. Renata kembali dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya lalu ia kembali duduk di sampingku.
"Kamu kenapa?" Tanya Renata.
Aku menatapnya sambil menggelengkan kepala, lalu Renata tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku, "Kamu mau sampai kapan bohong? Adrian, aku kenal sama kamu..."
Tatapanku pun kosong.
"...Kamu kalau ada masalah jangan kamu pendam sendiri, kamu juga manusia biasa bukan manusia super. Bahkan sekelas Supermanpun butuh bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah, dia butuh Lois Lane buat jadi tempat cerita..."
Aku sempat tersenyum mendengarnya.
"...Jadi kamu kalau ada apa-apa coba cerita, ke Ferdi, Bella, temen-temen kamu di kedai, atau kalau kamu mau cerita ke aku pun nggapapa. Mungkin ngga semua orang bisa ngasih solusi, tapi seenggaknya kamu butuh orang buat denger keluh kesah kamu." Jelas Renata.
Ku matikan rokok di dalam asbak, ku hembuskan asap terakhir yang ada di dalam mulutku. Aku merebahkan tubuhku secara perlahan agar kepala Renata tidak terjatuh, hingga kami pun sama-sama berbaring bersampingan dengan kepala Renata masih bersandar di pundakku.
"Kamu pernah berada di persimpangan jalan? Kamu harus pilih salah satu jalan tersebut, dan kamu cuma punya satu kesempatan dan ngga bisa untuk balik arah." Kataku.
Aku dapat merasakan Renata menganggukkan kepalanya beberapa kali. Aku pun menghela nafas, "Aku lagi ada di persimpangan jalan itu, aku cuma punya satu kesempatan, dan aku ngga bisa balik arah. Dua jalan itu ngga bisa aku tebak, aku baru pertama kali lewat jalan itu. Dan sekali aku pilih satu jalan, aku ngga bisa balik lagi buat ke jalan yang lain."
"Aku pernah di posisi itu..." Renata mendekap tanganku, "dan rasanya bener-bener menyiksa, aku bener-bener dibuat bingung sampai kayak aku ngga tau mana yang bener. Butuh waktu untuk memilih jalan itu, dan akhirnya aku bisa milih salah satu jalan dari persimpangan itu."
"Gimana rasanya?" Tanyaku.
Renata menghela nafasnya, "Aku lega, kayak semua beban yang selama ini tersimpan bisa keluar begitu aja."
Aku menggenggam tangannya dengan tangan kiriku, "Pernah kamu menyesal atas pilihan itu?"
Renata nampak terdiam untuk beberapa saat, hingga aku dapat merasakan ia juga menggenggam tanganku namun lebih keras. Aku pun menatap ke arahnya, "Renata, kamu..."
"Aku..."
Ia berhasil memotong perkataanku. Air matanya dapat terlihat dengan jelas mengalir ke arah pipinya, "Aku selama ini cuma bisa berdo'a, semoga... apa yang aku pilih adalah yang terbaik buat aku. Bukan cuma buat aku, buat semua orang, dan juga buat kamu..."
Mataku terpaku menatap matanya.
"...Aku selalu berdo'a tentang kamu. Tiap malam sebelum aku tidur, aku selalu luangin waktu mendo'akan kamu..."
Perkataannya kembali terhenti. Renata pun terisak sesaat, nampaknya ia sudah tidak kuat untuk membendungnya lagi. Dengan cepat aku memeluknya, hingga akhirnya Renata pun menangis dengan leluasa. Aku dapat mendengar dengan jelas isakannya, seperti seseorang yang sudah memendam rasa sejak lama dan akhirnya kali ini ia bisa menumpahkan semuanya.
"...Aku pun pernah berdo'a semoga apa yang udah aku pilih ngga salah. Adrian, semoga kamu pun bahagia entah apa yang kamu pilih." Kata Renata.
Rembulan menggagahkan raganya dengan bentuk sempurna pada malam ini, dengan langit cerah yang menemaninya. Aku masih mendekap Renata, sesekali aku masih mendengarnya terisak. Aku masih mengusap kepalanya, berharap mereda isakannya.
Berhasil. Renata sudah terlelap dalam tidurnya, masih dalam dekapanku. Aku dapat mendengar nafasnya yang teratur, beriringan dengan tanganku yang mengusap kepalanya pelan. Aku kembali menatap kosong, berharap entah apa yang saat ini ku harapkan. Mungkin aku lupa tentang prinsip hidup yang selama ini aku pegang, win-win solution.
Kembali tersadar mengenai prinsip, beberapa tahun belakangan aku berjalan tanpa memegang prinsip tersebut. Aku berjalan tanpa ada pegangan, aku berjalan tanpa ada arahan, dan aku berjalan tanpa ada tujuan. Aku membiarkan keegoisanku membimbingku ke jalan yang lebih tidak aku ketahui, aku semakin tersesat, hilang arah, entah ke mana tujuanku. Mungkin masih ada yang bisa aku putuskan, akhir perjalananku.
*
Pipinya merah merona, tergambar dengan jelas bahwa ia malu. Rambut panjangnya pun menutupi sebagian wajahnya, namun masih terlihat bahwa ia tersenyum. Tubuhnya pun berputar, ia nampak menikmati kegiatan tarinya pada siang hari. Aku pun menyentuhnya, kemudian aku tersenyum entah kenapa. Aku seperti bisa merasakan kebahagiaan yang juga ia rasakan.
"Satire Seorang Penari." Kataku seorang diri.
Aku membaca tulisan berwarna hitam yang berada di pojok bawah kanan, sebuah judul yang dicantumkan pada lukisan ini. Aku sedang melihat lukisan yang ada di dalam kamarku, sebuah lukisan yang masih bersandar pada tembok, lukisan yang dibuat oleh Bulan beberapa minggu yang lalu.
"Kalau satire berarti..."
Aku kembali menatap ke arah lukisan tersebut. Apa yang aku lihat sebelumnya adalah apa yang pertama kali aku rasakan ketika melihat lukisan ini. Namun setelah aku mengetahui apa judul dari lukisan ini, semuanya bisa langsung berubah maknanya.
Pipinya yang merah bukanlah rona merah pertanda ia malu, ia kelelahan karena harus menari di atas terik matahari. Rambut yang menutupi sebagian wajahnya bukan ia menutupi senyumannya, guratan yang ada di dekat pipinya adalah luka yang membekas entah karena apa. Ironisnya, ia tetap menari. Sebuah kesan yang berbeda antara hanya melihat lukisan saja dengan melihat judul lalu memahami lukisan tersebut.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kamarku yang sudah beberapa hari ku tinggalkan. Setelah merapihkan kamarku, aku pun kembali pada kegiatanku seperti biasa. Setelah memastikan mesin Syailendra panas, aku mengemudikannya menuju kedai.
Kedai masih tetap sama, dengan pelanggan-pelangganya yang semakin hari semakin banyak, hiasan-hiasan yang akhirnya bisa secara satu persatu kami tampilkan, dan tetap dengan teman-temanku yang masih bekerja sesuai dengan hati mereka.
"Ngelamunin apa Mas?"
Aku tertangkap basah oleh Bella, aku menatapnya kemudian hanya senyuman yang bisa ku berikan untuk menjawab pertanyaannya. Ia pun ikut tersenyum, entah karena apa. Dan pada akhirnya, kami hanya saling melihat keadaan kedai ini dalam diam.
Waktu terus berjalan, tak peduli apa pun kejadian yang terjadi di belahan bumi ini. Waktu menutup telinganya, ia tidak memperdulikan keluhan orang-orang. Ia tetap berjalan maju, ia tidak mau mundur atau berhenti sesaat hanya karena orang-orang yang memelas kepadanya setiap saat. Rasanya, aku ingin melakukan sama seperti apa yang waktu lakukan, berjalan maju tanpa memperdulikan perkataan orang. Sayangnya, aku tidak bisa. Aku hanya manusia biasa, yang masih diberikan perasaan untuk mendengar cerita, menerima saran, atau pun kebalikannya.
Malam pun datang, entah sudah jam berapa aku tidak mau tau. Alunan musik terdengar, cukup untuk menutupi pembicaraan orang-orang. Gelas pun disajikan di hadapanku, terisi penuh oleh whiskey dan juga es batu. Satu tegukan kecil berhasil membakar tenggorokanku hingga aku harus memejamkan mata beberapa saat.
"Aku baru tau Mas Adrian juga minum, aku kira cuma Bang Ferdi aja." Kata Bella.
Aku tersenyum kepadanya, "Ngga sesering dulu sih, cuma masih minum aja. Dan sebenernya aku punya alasan lain selain cuma ngajakin kamu ke sini."
"Alasan lain?" Tanya Bella heran.
Aku mengangguk, "Kamu tau Renata kan?"
"Ka Renata?..." Bella mendekat ke arahku, "kenapa sama Ka Renata?"
"Aku... ketemu sama dia lagi."
Bella nampak terkejut mendengar apa yang baru saja aku katakan. Beberapa saat ia terdiam, "Jangan bilang kemarin Mas Adrian buru-buru keluar dari kedai..."
Aku mengangguk pelan dan berhasil membuat Bella menghentikan perkataannya. Kami sama-sama meminum minuman kami, kemudian Bella menyalakan rokoknya.
"Mas Adrian pasti mikir kan? Mas Adrian masih inget sama Ka Bulan kan? Atau selama ini Mas Adrian memperlakukan Ka Bulan sama kayak Ka Renata?"
Aku terdiam menatap ke dua mata Bella yang menatapku, hingga akhirnya aku pun tertunduk. Otakku nampak kosong, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Pandanganku kosong, hanya menatap ke arah lantai.
"Aku paham kenapa Mas Adrian waktu itu keluar dari kedai..."
Bella berhasil membuatku menegakkan kepalaku lagi.
"...Kembalinya Ka Renata, orang yang pernah bikin Mas Adrian berhasil menuju ke dunia yang ngga pernah Mas Adrian rasain. Aku paham, Mas Adrian sebegitu cintanya sama Ka Renata. Bahkan sampai Ka Renata pergi pun, aku tau kalau Mas Adrian akan tetep suka sama Ka Renata..."
Aku terdiam menatap Bella.
"...Tapi pernah ngga sih Mas Adrian mikirin perasaan Ka Bulan? Sedikit aja sebelum waktu itu keluar dari kedai? Atau jangan-jangan Mas Adrian mendadak buta, tuli, atau apapun sebutannya? Kenapa memulai sama Ka Bulan kalau ternyata Mas Adrian belum bisa mengakhiri sama Ka Renata? Aku yang cuma denger cerita ini aja pun kagetnya bukan main, aku ngga mau ngebayangin gimana Ka Bulan kalau tau semua ini..."
"..."
"...Jangan buat Ka Bulan sakit hanya karena Ka Renata. Jangan jadiin Ka Renata sebagai alasan untuk nyakitin Ka Bulan. Apa bedanya Mas Adrian sama orang yang berhasil bikin aku benci sama laki-laki sekarang? Ngga ada bedanya. Mas Adrian yang aku kenal bukan yang kayak gini, Mas Adrian yang aku kenal itu orang yang bisa ambil keputusan secara tegas." Jelas Bulan.
Aku masih terdiam sementara Bella memasukkan handphone ke dalam tas kecilnya. Ia pun berdiri di hadapanku, "Mas Adrian harus milih, atau semuanya akan semakin buruk."
Bella pun pergi keluar dari tempat ini. Ku ambil gelas milikku lalu aku kembali meminumnya, hingga hanya tersisa es batu di dalamnya. Benar apa yang dikatakan Bella, apa bedanya aku dan orang yang pernah ia ceritakan sekarang. Aku hanya akan membuat luka bagi orang lain, bahkan bisa saja membuat trauma berkepanjangan.
"Harus milih..."
Aku pun meninggalkan tempat ini. Ku kendarai Syailendra secepat mungkin agar aku lebih cepat tiba. Sampai, aku memarkirkan Syailendra di tempat biasa. Ku letakkan helm di spion lalu aku berjalan cepat untuk masuk ke dalam lift, ku tekan angka pada lift tersebut lalu pintu tertutup.
Pintu lift terbuka, aku berjalan masih dengan cepat. Tiba di depan pintu, aku tidak memasukkan kunci seperti yang biasa ku lakukan. Tok! Tok! Tok! Aku mengetuk pintu, tak lama kemudian Renata membuka pintunya. Ia sedikit terkejut mengetahui bahwa aku yang mengetuk pintu tersebut.
"Adrian, kok kamu ngga buka kunci sendiri? Kuncinya hilang?" Tanya Renata.
Aku hanya diam memandang ke arahnya.
"Adrian? Kamu kenapa?" Tanyanya lagi.
"Renata..."
"..."
"Seberapa sayang kamu dengan Tuhan-Mu?"
*
"Eh Bang Fer, aku kira siapa." Kata Bella.
Ferdi menutup pintu belakang lalu duduk di samping Bella. Beberapa saat mereka hanya saling diam satu sama lain, dan entah kenapa mereka bisa saling berpandangan secara bersamaan yang tentu saja membuat mereka salah tingkah.
"Bel..."
Bella pun melirik ke arah Ferdi, "Kenapa Bang Fer?"
"Kayaknya bener apa kata si Monster." Kata Ferdi.
"Mas Adrian?..." Bella menghadap Ferdi, "emang Mas Adrian bilang apa ke Bang Fer?"
"Aku terlalu sibuk nyari yang jauh, padahal selama ini ada yang jelas di depan mata tapi aku ngga sadar. Aku terlalu dibutakan entah karena apa sampai bisa-bisanya aku ngga sadar." Kata Ferdi.
"Maksudnya gimana sih Bang? Kok aku ngga ngerti ya." Kata Bella.
"Kok aku ngga bisa ya ngatur kata-kata kayak Adrian, setiap dia ngasih sesuatu pasti kata-katanya keren. Sekarang malah jadi bikin bingung semuanya." Kata Ferdi.
Bella tersenyum, "Yaudah Bang Fer ngga perlu ngikutin gayanya Mas Adrian, semua orang punya gayanya masing-masing."
"Yaudah aku cuma mau bilang..."
"..."
"Aku suka sama kamu."
***
Renata memberikan handphoneku yang sedari tadi ku tinggalkan di meja, aku pun melihat ke arah handphoneku. Ada sebuah pesan masuk, hanya terlihat dari layar yang terkunci. Aku kembali menatap ke arah Renata, ia pun tersenyum kepadaku.
"Kamu kenapa ngga cerita sama aku?" Tanya Renata.
"Dia... bukan pacar aku." Jawabku pelan.
"Oh dia bukan pacar kamu?..." Renata mendekat kepadaku, "maaf ya tadi keliatan pas kamu ke kamar mandi, aku kira dia pacar kamu."
Aku menganggukkan kepalaku, kemudian kami pun mulai memakan apa yang sudah terhidang di meja. Beberapa kali aku terdiam sambil memikirkan apa yang baru saja Renata katakan, rasanya aku semakin bersalah, entah kepada Renata, entah kepada Bulan.
Malam pun datang, Renata sudah memarkirkan mobilnya berderet dengan mobil-mobil yang lain. Kami pun keluar dari mobil dan berlalu menuju kamarnya, setibanya di kamar aku langsung menyalakan sebatang rokok dan duduk di sofa. Renata kembali dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya lalu ia kembali duduk di sampingku.
"Kamu kenapa?" Tanya Renata.
Aku menatapnya sambil menggelengkan kepala, lalu Renata tersenyum. Ia menyandarkan kepalanya di bahuku, "Kamu mau sampai kapan bohong? Adrian, aku kenal sama kamu..."
Tatapanku pun kosong.
"...Kamu kalau ada masalah jangan kamu pendam sendiri, kamu juga manusia biasa bukan manusia super. Bahkan sekelas Supermanpun butuh bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah, dia butuh Lois Lane buat jadi tempat cerita..."
Aku sempat tersenyum mendengarnya.
"...Jadi kamu kalau ada apa-apa coba cerita, ke Ferdi, Bella, temen-temen kamu di kedai, atau kalau kamu mau cerita ke aku pun nggapapa. Mungkin ngga semua orang bisa ngasih solusi, tapi seenggaknya kamu butuh orang buat denger keluh kesah kamu." Jelas Renata.
Ku matikan rokok di dalam asbak, ku hembuskan asap terakhir yang ada di dalam mulutku. Aku merebahkan tubuhku secara perlahan agar kepala Renata tidak terjatuh, hingga kami pun sama-sama berbaring bersampingan dengan kepala Renata masih bersandar di pundakku.
"Kamu pernah berada di persimpangan jalan? Kamu harus pilih salah satu jalan tersebut, dan kamu cuma punya satu kesempatan dan ngga bisa untuk balik arah." Kataku.
Aku dapat merasakan Renata menganggukkan kepalanya beberapa kali. Aku pun menghela nafas, "Aku lagi ada di persimpangan jalan itu, aku cuma punya satu kesempatan, dan aku ngga bisa balik arah. Dua jalan itu ngga bisa aku tebak, aku baru pertama kali lewat jalan itu. Dan sekali aku pilih satu jalan, aku ngga bisa balik lagi buat ke jalan yang lain."
"Aku pernah di posisi itu..." Renata mendekap tanganku, "dan rasanya bener-bener menyiksa, aku bener-bener dibuat bingung sampai kayak aku ngga tau mana yang bener. Butuh waktu untuk memilih jalan itu, dan akhirnya aku bisa milih salah satu jalan dari persimpangan itu."
"Gimana rasanya?" Tanyaku.
Renata menghela nafasnya, "Aku lega, kayak semua beban yang selama ini tersimpan bisa keluar begitu aja."
Aku menggenggam tangannya dengan tangan kiriku, "Pernah kamu menyesal atas pilihan itu?"
Renata nampak terdiam untuk beberapa saat, hingga aku dapat merasakan ia juga menggenggam tanganku namun lebih keras. Aku pun menatap ke arahnya, "Renata, kamu..."
"Aku..."
Ia berhasil memotong perkataanku. Air matanya dapat terlihat dengan jelas mengalir ke arah pipinya, "Aku selama ini cuma bisa berdo'a, semoga... apa yang aku pilih adalah yang terbaik buat aku. Bukan cuma buat aku, buat semua orang, dan juga buat kamu..."
Mataku terpaku menatap matanya.
"...Aku selalu berdo'a tentang kamu. Tiap malam sebelum aku tidur, aku selalu luangin waktu mendo'akan kamu..."
Perkataannya kembali terhenti. Renata pun terisak sesaat, nampaknya ia sudah tidak kuat untuk membendungnya lagi. Dengan cepat aku memeluknya, hingga akhirnya Renata pun menangis dengan leluasa. Aku dapat mendengar dengan jelas isakannya, seperti seseorang yang sudah memendam rasa sejak lama dan akhirnya kali ini ia bisa menumpahkan semuanya.
"...Aku pun pernah berdo'a semoga apa yang udah aku pilih ngga salah. Adrian, semoga kamu pun bahagia entah apa yang kamu pilih." Kata Renata.
Rembulan menggagahkan raganya dengan bentuk sempurna pada malam ini, dengan langit cerah yang menemaninya. Aku masih mendekap Renata, sesekali aku masih mendengarnya terisak. Aku masih mengusap kepalanya, berharap mereda isakannya.
Berhasil. Renata sudah terlelap dalam tidurnya, masih dalam dekapanku. Aku dapat mendengar nafasnya yang teratur, beriringan dengan tanganku yang mengusap kepalanya pelan. Aku kembali menatap kosong, berharap entah apa yang saat ini ku harapkan. Mungkin aku lupa tentang prinsip hidup yang selama ini aku pegang, win-win solution.
Kembali tersadar mengenai prinsip, beberapa tahun belakangan aku berjalan tanpa memegang prinsip tersebut. Aku berjalan tanpa ada pegangan, aku berjalan tanpa ada arahan, dan aku berjalan tanpa ada tujuan. Aku membiarkan keegoisanku membimbingku ke jalan yang lebih tidak aku ketahui, aku semakin tersesat, hilang arah, entah ke mana tujuanku. Mungkin masih ada yang bisa aku putuskan, akhir perjalananku.
*
Pipinya merah merona, tergambar dengan jelas bahwa ia malu. Rambut panjangnya pun menutupi sebagian wajahnya, namun masih terlihat bahwa ia tersenyum. Tubuhnya pun berputar, ia nampak menikmati kegiatan tarinya pada siang hari. Aku pun menyentuhnya, kemudian aku tersenyum entah kenapa. Aku seperti bisa merasakan kebahagiaan yang juga ia rasakan.
"Satire Seorang Penari." Kataku seorang diri.
Aku membaca tulisan berwarna hitam yang berada di pojok bawah kanan, sebuah judul yang dicantumkan pada lukisan ini. Aku sedang melihat lukisan yang ada di dalam kamarku, sebuah lukisan yang masih bersandar pada tembok, lukisan yang dibuat oleh Bulan beberapa minggu yang lalu.
"Kalau satire berarti..."
Aku kembali menatap ke arah lukisan tersebut. Apa yang aku lihat sebelumnya adalah apa yang pertama kali aku rasakan ketika melihat lukisan ini. Namun setelah aku mengetahui apa judul dari lukisan ini, semuanya bisa langsung berubah maknanya.
Pipinya yang merah bukanlah rona merah pertanda ia malu, ia kelelahan karena harus menari di atas terik matahari. Rambut yang menutupi sebagian wajahnya bukan ia menutupi senyumannya, guratan yang ada di dekat pipinya adalah luka yang membekas entah karena apa. Ironisnya, ia tetap menari. Sebuah kesan yang berbeda antara hanya melihat lukisan saja dengan melihat judul lalu memahami lukisan tersebut.
Aku pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan kamarku yang sudah beberapa hari ku tinggalkan. Setelah merapihkan kamarku, aku pun kembali pada kegiatanku seperti biasa. Setelah memastikan mesin Syailendra panas, aku mengemudikannya menuju kedai.
Kedai masih tetap sama, dengan pelanggan-pelangganya yang semakin hari semakin banyak, hiasan-hiasan yang akhirnya bisa secara satu persatu kami tampilkan, dan tetap dengan teman-temanku yang masih bekerja sesuai dengan hati mereka.
"Ngelamunin apa Mas?"
Aku tertangkap basah oleh Bella, aku menatapnya kemudian hanya senyuman yang bisa ku berikan untuk menjawab pertanyaannya. Ia pun ikut tersenyum, entah karena apa. Dan pada akhirnya, kami hanya saling melihat keadaan kedai ini dalam diam.
Waktu terus berjalan, tak peduli apa pun kejadian yang terjadi di belahan bumi ini. Waktu menutup telinganya, ia tidak memperdulikan keluhan orang-orang. Ia tetap berjalan maju, ia tidak mau mundur atau berhenti sesaat hanya karena orang-orang yang memelas kepadanya setiap saat. Rasanya, aku ingin melakukan sama seperti apa yang waktu lakukan, berjalan maju tanpa memperdulikan perkataan orang. Sayangnya, aku tidak bisa. Aku hanya manusia biasa, yang masih diberikan perasaan untuk mendengar cerita, menerima saran, atau pun kebalikannya.
Malam pun datang, entah sudah jam berapa aku tidak mau tau. Alunan musik terdengar, cukup untuk menutupi pembicaraan orang-orang. Gelas pun disajikan di hadapanku, terisi penuh oleh whiskey dan juga es batu. Satu tegukan kecil berhasil membakar tenggorokanku hingga aku harus memejamkan mata beberapa saat.
"Aku baru tau Mas Adrian juga minum, aku kira cuma Bang Ferdi aja." Kata Bella.
Aku tersenyum kepadanya, "Ngga sesering dulu sih, cuma masih minum aja. Dan sebenernya aku punya alasan lain selain cuma ngajakin kamu ke sini."
"Alasan lain?" Tanya Bella heran.
Aku mengangguk, "Kamu tau Renata kan?"
"Ka Renata?..." Bella mendekat ke arahku, "kenapa sama Ka Renata?"
"Aku... ketemu sama dia lagi."
Bella nampak terkejut mendengar apa yang baru saja aku katakan. Beberapa saat ia terdiam, "Jangan bilang kemarin Mas Adrian buru-buru keluar dari kedai..."
Aku mengangguk pelan dan berhasil membuat Bella menghentikan perkataannya. Kami sama-sama meminum minuman kami, kemudian Bella menyalakan rokoknya.
"Mas Adrian pasti mikir kan? Mas Adrian masih inget sama Ka Bulan kan? Atau selama ini Mas Adrian memperlakukan Ka Bulan sama kayak Ka Renata?"
Aku terdiam menatap ke dua mata Bella yang menatapku, hingga akhirnya aku pun tertunduk. Otakku nampak kosong, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Pandanganku kosong, hanya menatap ke arah lantai.
"Aku paham kenapa Mas Adrian waktu itu keluar dari kedai..."
Bella berhasil membuatku menegakkan kepalaku lagi.
"...Kembalinya Ka Renata, orang yang pernah bikin Mas Adrian berhasil menuju ke dunia yang ngga pernah Mas Adrian rasain. Aku paham, Mas Adrian sebegitu cintanya sama Ka Renata. Bahkan sampai Ka Renata pergi pun, aku tau kalau Mas Adrian akan tetep suka sama Ka Renata..."
Aku terdiam menatap Bella.
"...Tapi pernah ngga sih Mas Adrian mikirin perasaan Ka Bulan? Sedikit aja sebelum waktu itu keluar dari kedai? Atau jangan-jangan Mas Adrian mendadak buta, tuli, atau apapun sebutannya? Kenapa memulai sama Ka Bulan kalau ternyata Mas Adrian belum bisa mengakhiri sama Ka Renata? Aku yang cuma denger cerita ini aja pun kagetnya bukan main, aku ngga mau ngebayangin gimana Ka Bulan kalau tau semua ini..."
"..."
"...Jangan buat Ka Bulan sakit hanya karena Ka Renata. Jangan jadiin Ka Renata sebagai alasan untuk nyakitin Ka Bulan. Apa bedanya Mas Adrian sama orang yang berhasil bikin aku benci sama laki-laki sekarang? Ngga ada bedanya. Mas Adrian yang aku kenal bukan yang kayak gini, Mas Adrian yang aku kenal itu orang yang bisa ambil keputusan secara tegas." Jelas Bulan.
Aku masih terdiam sementara Bella memasukkan handphone ke dalam tas kecilnya. Ia pun berdiri di hadapanku, "Mas Adrian harus milih, atau semuanya akan semakin buruk."
Bella pun pergi keluar dari tempat ini. Ku ambil gelas milikku lalu aku kembali meminumnya, hingga hanya tersisa es batu di dalamnya. Benar apa yang dikatakan Bella, apa bedanya aku dan orang yang pernah ia ceritakan sekarang. Aku hanya akan membuat luka bagi orang lain, bahkan bisa saja membuat trauma berkepanjangan.
"Harus milih..."
Aku pun meninggalkan tempat ini. Ku kendarai Syailendra secepat mungkin agar aku lebih cepat tiba. Sampai, aku memarkirkan Syailendra di tempat biasa. Ku letakkan helm di spion lalu aku berjalan cepat untuk masuk ke dalam lift, ku tekan angka pada lift tersebut lalu pintu tertutup.
Pintu lift terbuka, aku berjalan masih dengan cepat. Tiba di depan pintu, aku tidak memasukkan kunci seperti yang biasa ku lakukan. Tok! Tok! Tok! Aku mengetuk pintu, tak lama kemudian Renata membuka pintunya. Ia sedikit terkejut mengetahui bahwa aku yang mengetuk pintu tersebut.
"Adrian, kok kamu ngga buka kunci sendiri? Kuncinya hilang?" Tanya Renata.
Aku hanya diam memandang ke arahnya.
"Adrian? Kamu kenapa?" Tanyanya lagi.
"Renata..."
"..."
"Seberapa sayang kamu dengan Tuhan-Mu?"
*
"Eh Bang Fer, aku kira siapa." Kata Bella.
Ferdi menutup pintu belakang lalu duduk di samping Bella. Beberapa saat mereka hanya saling diam satu sama lain, dan entah kenapa mereka bisa saling berpandangan secara bersamaan yang tentu saja membuat mereka salah tingkah.
"Bel..."
Bella pun melirik ke arah Ferdi, "Kenapa Bang Fer?"
"Kayaknya bener apa kata si Monster." Kata Ferdi.
"Mas Adrian?..." Bella menghadap Ferdi, "emang Mas Adrian bilang apa ke Bang Fer?"
"Aku terlalu sibuk nyari yang jauh, padahal selama ini ada yang jelas di depan mata tapi aku ngga sadar. Aku terlalu dibutakan entah karena apa sampai bisa-bisanya aku ngga sadar." Kata Ferdi.
"Maksudnya gimana sih Bang? Kok aku ngga ngerti ya." Kata Bella.
"Kok aku ngga bisa ya ngatur kata-kata kayak Adrian, setiap dia ngasih sesuatu pasti kata-katanya keren. Sekarang malah jadi bikin bingung semuanya." Kata Ferdi.
Bella tersenyum, "Yaudah Bang Fer ngga perlu ngikutin gayanya Mas Adrian, semua orang punya gayanya masing-masing."
"Yaudah aku cuma mau bilang..."
"..."
"Aku suka sama kamu."
***
oktavp dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas