- Beranda
- Stories from the Heart
Ikatan Polar
...
TS
akmal162
Ikatan Polar
Anggap saja cerita fiksi, selamat menikmati.






Spoiler for PENTING!!! :
Spoiler for Prolog:
Prolog
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Udara malam ibu kota terasa panas malam ini. Ditemani kepulan asap rokok dan sebotol teh kemasan, aku menikmati angin sepoi-sepoi yang terasa hangat. Rutinitas sebelum tidur yang selalu kulakukan hampir setiap hari.
Aku sangat menikmatinya. Angin yang melewati wajahku seakan mengajak ku ke masa lalu. Menerbangkan hati dan fikiranku ke kota itu, kota yang penuh kenangan. Tempat mencari jati diri, dan tempat yang mengajarkanku apa itu cinta sejati.
Momen-momen bersamanya, baik saat suka maupun duka, mulai berputar lagi di kepalaku. Bagaikan alat pemutar DVD, memori otak ku seakan menayangkan kembali, kisah cinta dan momen-momen yang dulu pernah kami lalui bersama.
Yaa, aku masih cinta dia, masih merindukannya, dan mungkin akan terus seperti itu selamanya.
Kegiatan menghayalku terhenti ketika mendengar teriakan seorang wanita dari dalam rumah. Dia berjalan menghampiriku yang sedang berada di rooftop.
X: "Nathaaa..., udahan dulu rokokannya, tidur, udah malem, besok kamu kerja kan"
Aku: "iya-iya"
Aku pun melempar rokok ku yang sisa 1/4 batang ke bawah, tepatnya halaman belakang rumahku.
X: "ihhhh, nathaa, kebiasaan ah"
Aku: "hehehehe, iya, iya, maaf"
Aku terkekeh melihat wajahnya yang terlihat lucu jika sedang marah, mulut yang manyun kedepan dan kedua pipinya yang digembungkan. Aku menghampirinya, lalu kukecup dahinya.
X: "jangan cium-cium!!!!!, bau rokookk, sikat gigi sana"
Aku: "aduuhhh, mager ahh"
Aku mulai menggodanya agar dia tambah kesal.
X: "yaudah, gakada jatah buat kamu malam ini"
Aku pun terkesiap ketika dia mengatakan itu sambil menyilangkan tangan didadanya.
Aku: "hehehehehe, ampuuunnnn, iya, abis ini aku sikat gigi nih, tapi bentar ah, rebahan dulu"
X: "gak ada bentar-bentar!!!"
Aku: "iya-iya"
Akupun berjalan gontai kekamar mandi. Selain takut jika tidak mendapat jatah malam ini, aku juga takut melihat matanya yang melotot seperti ingin keluar, hehe.
Setelah selesai menggosok gigi aku hampiri dirinya yang sudah terlelap di kasur. Aku mulai mengecup hidung, kemudian menuju bibir, lalu menuju leher untuk memulai permainan malam ini.
X: "ihhhh, nathaa, geli ah"
Aku: "ayoo, aku udah sikat gigi nihh"
Setelah mengucapkan itu, tanpa peduli protesnya terhadap perbuatan ku, aku melanjutkan kecupan ku dilehernya.
X: " Ihhh nathaa.., jangann sekarang, aku lagi dapetttt"
Akupun langsung lemas mendengar perkataannya.
Aku: "curang nihhhh, tadi nyuruh aku sikat gigi katanya mau ngasih jatah malem ini"
X: "biarinnn, lagian kalo kamu gak sikat gigi bau rokok, aku gak suka, wleeeee"
Aku: "awas kaamu yaaa"
Karena gemas, ku peluk tubuhnya, lalu ku gelitiki perutnya, sebagai pembalasan karena sudah membuat ku kesal.
X: "ahahahahaha, geli nathaa.., ampuuunn"
Aku tak menghiraukan permohonannya, tetap kulanjutkan kegiatanku menggelitiki perutnya.
Beberapa saat kemudian....
Karena sudah lelah aku pun menghentikan kegiatan ku. Nafas kami terengah-engah dengan sisa-sisa tawa yang keluar dari mulut kami, akupun membaringkan tubuhku disampingnya, kepalaku menoleh kearahnya, kemudian mata kami saling bertatapan.
Aku: "besok abis aku pulang kantor temenin aku ya"
X: "kemana??"
Aku: "nengokin dia"
Ada jeda sebelum dia menjawab.
X: "boleh, jam 4 ya berarti"
Aku: "iya, kan aku pulang kantor biasanya jam segitu"
X: "okeee, sebelum jam 4 besok aku udah siap-siap"
Kami kembali terdiam, dia mengubah posisi tidurnya, sehingga kami saling berhadapan.
Dia menatap mataku dalam-dalam, lalu tersenyum dan tangannya mulai mengelus kepalaku, lalu berkata.
X: "Dia pasti udah bahagia kok, sekarang tugas aku disini buat bikin kamu bahagia juga, kamu jangan sedih terus ya, supaya dia seneng bisa liat kamu bahagia"
Senyumannya terlihat sangat tulus. Aku pun mencoba membalas senyumnya, meskipun terasa getir dihatiku.
Aku: "iyaa sayang, makasih ya"
Aku: "yaudah yuk tidur, udah jam 12 nih"
X: "yaudah kamu duluan merem"
Aku: "kamu duluan lah"
X: "ihhh, kok aku?"
Aku: "mau tidur aja ribet bangett"
X: "kamu yang mulai"
Aku: "hadehhh, salah melulu aku perasaan"
X: "emang"
Aku: "udah ah, ayo tidur, malah berantem"
X: "yaudah, merem"
Aku: "iyaaa, ciniii, peyuuukk"
X: "ciniii"
Hahaha, kebiasaan konyol selalu kami lakukan sebelum tidur. Setelah beberapa menit mulai terdengar suara dengkuran halus, menandakan dia sudah mulai tertidur. Memandang wajahnya yang sedang terlelap merupakan hobi lain yang ku lakukan sebelum tidur. Aku sangat bersyukur memilikinya dan menjadi pendamping hidupnya, gadis cantik dengan rambut pendek sebahu dan smiling eyes nya yang selalu menjadi favoritku.
Aku pun mengeratkan pelukanku, lalu mulai terlelap, menuju alam mimpi bersamanya.
Spoiler for Index:
Index:
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
1. Prolog
2. Part 1 (Tawaran Dari Pak Danar)
3. Part 2 (Yang Ditunggu-tunggu?? Akhirnya Datang)
4. Part 3 (Perkenalan)
5. Part 4 (Malu-malu)
6. Part 5 (kerlingan Matanya)
7. Part 6 (Bertemu Viny)
8. Part 7 (Macan Betina)
9. Part 8 (Dia Marah? 1)
10. Part 9 (Dia Marah? 2)
11. Part 10 (Malam Mingguan?)
12. Part 11 (Malam Minggu yang Sempurna)
13. Part 12 (Ada Yang Salah?)
14. Part 13 (Frustasi)
15. Part 14 (Dia Kembali?)
16. Part 15 (Definisi Cinta?)
17. Part 16 (Kunjungan Teman Lama)
18. Part 17 (Tangisan Beby)
19. Part 18 (Ternyata Rasanya Sesakit Ini)
20. Part 19 (Dukungan)
21. Part 20 (Saran)
22. Part 21 (Berburu Hadiah)
23. Part 22 (The Power Of Kepepet)
24. Part 23 (Tentang Sakti)
25. Part 24 (Pricetag)
26. Part 25 (Heavy Rotation)
27. Part 25 [Bonus] (Beby...You Should Paint My Love)
28. Part 26 (Bolu Buatan Beby)
29. Part 27 (Aku Kira Hubungan Kita Istimewa)
30. Part 28 (Curhat)
31. Part 29 (Maaf)
32. Part 30 (Diskusi Bersama Viny)
33. Part 31 (Janji)
34. Part 32 (Main di Kos)
35. Part 33 (Main Beneran!!!)
36. Part 34 (Terimakasih Setan!!!)
37. Part 35 (Terimakasih Setan!!! 2)
38. Part 36 (latihan presentasi)
39. Part 37 (Munafik?)
40. Part 38 (Penjelasan?)
41. Part 39 (Berfilosofi Ala Pak Edi)
42. Part 40 (Bidadari itu bernama...)
43. Part 41 (Tumpah)
44. Part 42 (Konser)
45. Part 43 (Ketahuan)
46. Part 44 (Kejedot)
47. Part 45 (Bertemu Shani, Tapi........)
48. Part 46 (Hujan panas)
49. Part 47 (Rasa Bersalah)
50. Part 48 (Tentang Viny)
51. Part 49 (Berulah Lagi)
52. Part 50 (Calon Mertua?)
53. Part 51 (Baru tau)
54. Part 52 (Ketakutan)
55. Part 53 (BINGO!)
56. Part 54 (Jam Tangan)
57. Part 55 (Jujur)
58. Part 56 (Ngetawain Tai)
59. Part 57 (Pencinta Kopi Abal-Abal!!!)
60. Part 58 (Bocah Labil?)
61. Part 59 (Cari Tau!!!)
62. Part 60 (Candu dan Yakin)
63. Part 61 (Kelainan)
64. Part 62 (Kelain Hati?)
65. Part 63 (Kunjungan Shani)
66. Part 64 (Shani)
67. Part 65 (Dia Mau Pulang?)
68. Part 66 (Cinta Tidak Pernah Salah?)
69. Part 67 (Menanti)
70. Part 68 (Warmness On The Soul)
71. Part 69 (Ditinggal Pulang?)
72. Part 70 (Pengakuan)
73. Part 71 (Bukit Bintang)
74. Part 72 (Daftar S2)
75. Part 73 (Foto KTP)
76. Part 74 (Penolakan)
77. Part 75 (Flashdisk)
78. Part 76 (Revisi Laporan)
79. Part 77 (kakak?)
80. Part 78 (Anak Kecil)
81. Part 79 (Just Let It Flow)
82. Part 80 (Saling Percaya?)
83. Part 81 (Love You)
84. Part 82 (Tunggu Aku)
85. Part 83 (VideoCall)
86. Part 84 (Masih Ragu?)
87. Part 85 (Curhatan Viny)
88. Part 86 (Pak Rio)
89. Part 87 (Godaan?)
90. Part 88 (Bertemu)
91. Part 89 (Saling Percaya!)
92. Part 90 (Calon Mertua? 2)
93. Part 91 (Acara Wisuda yang Berakhir Galau)
94. Part 92 (Dibujuk)
95. Part 93 (Diyakinkan)
96. Part 94 (Teringat Kembali)
97. Part 95 (Hambatan)
Diubah oleh akmal162 22-07-2020 04:29
kkaze22 dan 70 lainnya memberi reputasi
67
33.5K
Kutip
452
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
akmal162
#111
Spoiler for Part 40:
Part 40
"Nat, kamu di jogja kan? , aku lagi di jogja nih, entar malem ke hotel biasa ya"
Kira-kira begitulah pesan yang dikirimkan oleh fandi kepadaku.
Fandi memberi kabar kepadaku bahwa sekarang dia sedang berada di jogja, aku cukup dibuat terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh fandi, biasanya jika ingin mengunjungi ku ke jogja dia selalu berkabar jauh-jauh hari.
Tanpa menunda-nunda aku memutuskan untuk langsung membalas pesan yang dikirimkan oleh fandi.
Aku: "tumben tiba-tiba fan?, yaudah entar malem aku kesana"
Fandi: "mau ketemu temen sekalian nat soalnya"
Aku: "sampai kapan fan di jogja"
Fandi: "besok sore udah balik surabaya aku nat"
Aku: "cepet banget fan"
Fandi: "besoka aku ada jadwal UTS nat"
Aku: "oh iya fan, kan katamu kamu ke jogja sekalian nemuin temen, temen yang mana lagi nih?"
Fandi: "temen tidur nat"
Aku: "wkwkwkwkwk, bunguul...."
Akupun menerima ajakan fandi untuk mengunjungi hotelnya nanti malam.
Oh iya, btw bunguk itu kalo di kalimantan, khususnya kalimantan selatan dan kalimantan timur maknanya kira-kira hampir sama dengan jancoook kalo di jawa.
"Natha, entar malem mau makan apa?"
Saat sedang asyik membalas pesan dari fandi, tiba-tiba beby bertanya sesuatu kepadaku seraya mengambil tempat untuk duduk di sampingku.
Aku: "hahh?, kenapa mbak?"
Beby: "hah hoh hah hoh, budeg ya kamu, mau makan malem apa?"
Arrggghhhh....., aku baru ingat kalau malam ini aku dan beby sudah ada janji untuk makan malam bersama.
Aku: "mmmm, maaf mbak, malem ini kayaknya kita gak bisa makan malem bareng deh mbak, temen aku dari surabaya ngajak ketemuan"
Beby: "temen kamu yang mana?"
Aku agak bingung menjawab pertanyaan beby kali ini. Masalahnya ketika terkahir kali aku pergi keluar dengan fandi beberapa bulan yang lalu berbuntut dengan kejadian yang menyebabkan terjadi pertengkaran yang cukup besar antara aku dan beby.
Yap, saat itu beby melihatku datang ke lab dalam keadaan mabok, dan dia mempermasalahkan hal itu.
Karena saat itu aku tidak terima, akhirnya terjadilah pertengkaran antara aku dan beby.
Aku: "itu mbak, temen aku SMA yang kuliah di surabaya"
Beby: "kok kamu gak pernah cerita?"
Huuhhh... syukur lah kalo beby tidak menyadarinya.
Aku: "masa apa-apa harus cerita sih mbak"
Beby: "iiisshh, cewek apa cowok?"
Aku: "cowok mbak, emang kenapa sih kalo cewek?"
Beby: "ya gakpapa"
Aku: "cieee...., cemburu ya kalo cewek"
Tiba-tiba beby menolehkan wajahnya ke arahku sambil memasang wajah sok ngambeknya.
Beby: "iya, kalo aku cemburu kenapa emang?"
Deeggg.........
Aku: "e e e eeeeh, mmmmm, y ya gakpapa sih mbak"
Jujur jawaban dari beby membuatku agak sedikit gugup.
Beby: "serius nat temenmu itu cowok?"
Aku: "iya mbak, nih, liat aja chatnya, ini ada juga foto profilnya, tuuhhh...!"
Sambil menjawab pertanyaan beby, aku juga menunjukan layar handphone ku untuk menunjukkan bahwa teman yang akan aku kunjungi nanti malam berjenis kelamin laki-laki.
Aku: "puas???"
Beby: "isshh, iya iyaa"
Akupun menarik kembali handphoneku setelah selesai menunjukkan isi obrolanku dengan fandi.
Beby: "sampai jam berapa?"
Aku: "gak tau sih mbak, biasanya kita nongkrong sampai pagi sih"
Beby: "yaaahh, gak kesini lagi dong??"
Aku: "iya mbak"
Beby: "kamu kan udah janji sama kalo mau makan malem bareng malem ini"
Aku: "maaf banget mbak, temen aku ngabarin tiba-tiba, aku juga gak enak, dia jauh-jauh dari surabaya buat datengin aku, besok dia udah pulang"
Beby: "yaaahhh, iya juga sih, yaudah deh"
Beby kembali memanyunkan bibirnya sambil menatap lurus kedepan.
Beby: "berangkat kapan?"
Aku: "habis maghrib mbak"
Beby tidak membalas kalimat terakhirku, dari raut wajahnya dia terlihat sedih.
Aku: "mbaak..., gak usah manyun gitu lah, besok deh aku kesini lagi, kita makan malem bareng, janjiii"
Beby kembali menolehkan wajahnya kearahku seraya menyodorkan jari kelingkingnya, tapi kali ini dengan raut wajah penuh harap.
Beby: "janji yaaa?"
Aku: "iya mbak janji, yaelah, gak percayaan banget sih"
Beby mendekatkan jari kelingkingnya kearahku, ooohh, aku baru paham apa maksudnya.
Akupun memutuskan untuk menyambut jari kelingkingnya dengan jari kelingkingu sehingga membuat raut wajah beby seketika berubah menjadi lebih cerah, dan hal itu membuatku menjadi gemas sendiri dengan tingkah lakunya, sehingga aku meletakkan tanganku di puncak kepala beby, lalu mengusapnya dengan lembut.
Beby: "yudah nat, ini kan udah mau maghrib, sholat ashar dulu kamu"
Selalu seperti ini, setiap aku berkunjung ke rumah beby, dia selalu mengingatkanku untuk beribadah, aku yang terbiasa tidak pernah sholat 5 waktu sejujurnya agak malas mengikuti instruksi dari beby.
Tapi karena tidak memiliki alasan kuat untuk menolak akupun memilih untuk melaksanakannya.
Jangan diikutin ya gan, sholat ya karena tuhan, jangan karena cewek, wkwkwkwkwkwk.
Huuuhhhh....., sebenarnya sudah banyak kode yang secara tidak langsung ditunjukkan oleh beby, seakan-akan selama ini beby selalu memberi lampu hijau kepadaku untuk menyampaikan perasaanku.
Tapi..... entah kenapa aku tidak bisa melakukan itu.
Jujur sampai sekarang masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, walaupun sebenarnya perasaan sayang yang kumiliki sudah sangat menggebu-gebu, dan setiap saat selalu seperti itu.
Apakah perasaan ini sudah menjadi cinta?, apakah perasaan ini sudah lebih dari sayang? , jawabannya masih sama seperti sebelumnya, aku tidak bisa menjawabnya, aku saja belum tau apa itu definisi cinta, bagaimana aku bisa men claim perasaan yang kumiliki sekarang adalah cinta?.
Yasudahlah, biarkanlah tetap seperti ini, nikmati saja momennya, seperti apa yang kuucapkan sebelumya.....
Let it flow.
.
.
.
Tok... Tok... Tok...
Sekarang aku sudah berada di depan kamar nomor 248, yap, kamar ini adalah kamar tempat fandi menginap malam ini.
Setelah kurang lebih 1 menit aku menunggu sambil mengetok pintu kamar hotel fandi, akhirnya fandipun membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkanku untuk langsung masuk kedalam.
Aku cukup dibuat terkejut saat aku baru saja memasuki kamar hotel tempat fandi menginap, ternyata sekarang fandi tidak sendirian, di dalam terlihat ada 2 orang wanita yang sedang duduk di sofa sambil berbicara satu sama lain.
Pada awalnya aku tidak bisa terlalu memperhatikan wajah kedua wanita itu karena mereka duduk membelakangiku dan fandi yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Nad, shan, ini natha, nat, nih, kenalin......"
Sontak mereka ber 2 langsung berdiri dan membalikkan badan karena mendengar nama mereka yang dipanggil oleh fandi.
"Nah, yang ini cewek ku nat, namanya nadia"
Wahh... fandi memang tidak pernah sembarangan jika sudah tentang urusan yang menyangkut wanita, perempuan yang sekarang ada dihadapanku ini terlihat sangat cantik dengan rambut panjang yang berwarna pirang, wajahnya yang kebule-bulean, dipadukan dengan kulit yang berwarna coklat manis, sehingga menambah kesan eksotis pada dirinya.
Jika dilihat dari bentuk wajahnya, sepertinya nadia ini blasteran antara indonesia dan eropa.
"Nadia"
Nadia menjulurkan tangannya kearahku untuk mengajakku berjabat tangan.
"Natha"
Akupun langsung menyambut tangan nadia untuk berjabat tangan.
"Nah, kalau ini yang sempet aku ceritain kemaren nat, namanya shani, temennya nadia"
Saat aku mengarahkan pandanganku kearah shani, lalu melihat wajah dan menatap matanya...........
Wooooowwwww......
Tubuh ideal dengan tinggi yang semampai, rambut panjangnya yang berwarna hitam legam, ditambah wajah oriental yang dibalut dengan kulit berwarna putih bersih, seaakan-akan menegaskan keanggunan dan kesempurnaan fisiknya.
Jika aku disuruh untuk mengilustrasikan bagaimana bentuk dari bidadari, maka aku tidak akan ragu bercerita tentang keindahan dan kesempurnaan fisik dari seorang shani.
Dan yang harus kalian tahu..... shani ini tipe gue banget, wkwkwkkwk.
Aku langsung menjulurkan tangan kearah shani dan memperkenalkan namaku.
"Natha"
Shanipun langsung menyambut tanganku seraya mempekenalkan dirinya.
"Shani"
Huuuhhhh, shani yang memperkenalkan namanya sambil membentuk raut senyum di wajahnya, berhasil membuat irama detak jantungku menjadi tidak karuan.
"Wooyyy, biasa aja dong nat, gakusah melongo gitu juga kali"
Akupun buru-buru menarik tanganku dari shani untuk melepas jabatan tangannya setelah mendengar fandi menegurku karena terlalu lama berjabat tangan dengan shani.
Fandi: "sorry shan, temen aku ini emang jarang banget liat cewek cantik, makanya kamu senyumin dikit aja langsung jadi cengo begitu"
Shani: "hihihi, santai fan, gakpapa kok"
Fandi: "yaudah, berangkat sekarang yuk"
Aku agak sedikit berbisik kepada fandi.
Aku: "emang kita mau kemana fan?"
Fandi: "tempat biasa nat?"
Aku: "gak kepagian?"
Fandi: "ya gakpapa nat, supaya kita enak aja ngobrolnya"
Aku: "yaudah deh, oh iya, kita berangkat naik apaan, kan ber 4 nih, masa bonceng 4?"
Fandi: "naik mobil cewek ku aja nat, motor mu tinggal sini aja"
Setelah berkata seperti itu fandipun langsung beranjak dari duduknya.
"Yaudah yuk nad, shan, berangkat sekarang kita"
Setelah fandi menginstruksikan kami untuk berangkat sekarang menuju diskotik yang biasa aku dan fandi kunjungi, kamipun langsung berjalan keluar hotel untuk menuju mobil nadia.
.
.
.
Dentuman musik yang tidak terlalu kencang dan bah alkohol yang semerbak menyambut kedatangan kami malam ini.
Setelah berjalan memasuki ruangan diskotik, akhirnya kami ber 4 sampai di salah satu meja.
Oh iya, sebelum sampai ditempat ini kami ber 4 menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu di restoran yang letaknya tidak jauh dari sini.
"Nat, gue sama nadia, duduk dipojok sana ya, lu sama shani disini aja, kalo mau pesen, pesen aja, santai, aku yang bayar"
Bisikkan yang keluar dari mulut devan sontak membuatku menjadi sangat terkejut, aku kira kami ber 4 akan duduk di 1 meja yang sama.
Setelah berkata seperti itu devanpun langsung merangkuk pundak nadia untuk berjalan menuju meja yang akan diduduki oleh mereka ber 2.
"E e e ehh, faannn, t tapiii...."
Devan, melepaskan rangkulannya dari nadia, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Udah nat, nikmatin aja, aku udah siapin kamar juga buat kamu, kalo kamu jago dan bisa ngerayu shani.....kali aja besok pagi kamu udah gak perjaka lagi"
Deeeggg.......
Setelah berkata seperti itu fandi kembali merangkul pundak nadia, lalu berjalan ke arah meja yang akan mereka tempati.
Setelah devan dan nadia berlalu, aku dan shani hanya saling pandang tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut kami.
Shani: "Duduk yuk"
Aku: "e e ehhh, iya, ayo"
Kami be 2 pun menarik kursi masing-masing yang letaknya saling berhadapan, lalu aku dan shani langsung mengambil tempat untuk duduk.
Aku hanya menundukkan kepalaku, jujur aku sangat gugup sekarang.
Sebelumnya, duduk berhadapan dengan wanita yang super cantik seperti shani hanya menjadi angan-angan bagiku.
"Kamu temen SMAnya fandi ya? "
Aku agak sedikit tersentak ketika shani melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku.
Aku: "e e e, iya"
Shani: "kamu kuliah dimana sih"
Aku: "itu, di u*n"
Shani: "ooohhh, semester berapa?"
Aku: "sekarang udah semester 6"
Shani: "jurusan apa?"
Aku: "kalo aku teknik perminyakan"
Keadaan sempat hening sejenak setelah aku menjawab pertanyaan terakhir dari shani.
Tapi karena tidak ingin membuat keadaan semakin canggung, aku memutuskan untuk bertanya menanyakan pertanyaan yang sama kepada shani.
Aku: "kalo kamu?"
Shani: "aku di *t*m*j*y*, jurusan ilkom, semester 4"
Aku: "ooohh, tinggal di jogja juga ya berarti?, nge kos atau ada rumah?"
Kali ini aku mulai bisa mengendalikan kegugupanku.
Shani: "aku nge kos nat, deket kampus ku kok, kalo kamu?"
Aku: "sama kok shan, aku ngekos juga, dijalan seturan raya sana"
Shani: "ooohhh, iya iya, aku tau kok"
Aku: "kalo kamu sendiri, kenpa bisa kenal sama fandi?"
Shani: "sebenarnya aku temennya nadia, 1 kos juga, kalo kenal fandi baru aja tadi sore, soalnya nadia ngajak aku buat nemenin dia hari ini"
Aku: "oooohhhh"
Aku mulai kehabisan pertanyaan dan topik pembicaraan, aku hanya menanggapi jawaban shani dengan ber oh ria sambil mengangguk-anggukan kepalaku.
Hal ini kembali membuat keadaan menjadi hening
"Permisi mas mbak, ini daftar menunya, kalau mau pesen bisa langsung tulis disini"
Untungnya waiters yang datang ke meja kami untuk mengantarkan daftar menu dapat sedikit membantuku saati ini dengan memecah keheningan antara aku dan shani yang sudah sedari tadi.
Shani: "kamu mesen apa nat?"
Aku: "kamu aja deh dulu shan"
Shani hanya mengangguk untuk menanggapi kaliamat terakhirku, lalu pandangannya beralih kedaftar menu yang baru saja diserahkan kearah kami, lalu menuliskan pesanannya pada kertas yang tadi diserahkan bersamaan dengan daftar menu.
"Aku udah nat, nih, kamu tulis gih"
Akupun mengambil daftar menu dan kertas yang disodorkan oleh shani.
Setelah aku melihat menu yang dipesan oleh shani, dia hanya memesan satu botol bir.
Itu menandakan malam ini shani tidak berniat untuk mabok, karena tidak enak jika aku harus mabok sendiri, akupun memutuskan untuk memesan 1 gelas jus untuk teman ngobrolku bersama shani malam ini.
Aku hanya memesan 1 gelas jus karena aku memang tidak suka minum bir, dan aku tidak mau mabok sendirian di meja ini.
Shani: "kamu gak minum nat?"
Aku: "enggak dulu deh"
Shani: "kamu emang gak minum ya?"
Aku: "sebenarnya bisa aja shan, tapi males aja kalo mabok sendirian"
Shani: "sebenarnya santai aja sih, aku gakpapa kok kalo kamu mau minum"
Aku: "enggak deh shan"
Shani: "kalo gak mau mabok, kenapa gak mesen bir aja?"
Aku: "kalo aku males aja shan, kalo emang gak mau mabok, mending sekalian gakusah minum alkohol, gak enak, enakan minum jus"
Shani: "wkwkwk, aneh-aneh aja kamu nat"
Kami berduapun tertawa bersama akibat jawaban yang keluar dari mulutku.
Aku: "oh iya, kamu asli mana shan?"
Shani: "aku asli solo sih nat, deket kok, tapi males doang kalo harus PP solo jogja tiap hari, jadi ngekos deh, kalo kamu?"
Aku: "kalo aku asli samarinda shan, sama kayak fandi"
Shani: "ooohh, iya iya, aku baru inget kalo kamu temen SMA nya fandi"
Lagi-lagi keadaan kembali menjadi hening setelah shani mengucapkan kalimat terakhirnya.
Shani: "wkwkwk, bener ya kata fandi, emang kamu gak pernah deket sama cewek nat, jadi keliatan gugup gitu"
Mendengar pernyataan dari shani sontak membuatku teringat dengan beby.
Aku: "hehe, deket mah pernah-pernah aja shan, tapi.... Kalo sama yang cantik banget kayak kamu gini aku belum pernah"
Anjing lah, ni mulut asal nyeplos aja, lagian kenapa aku tiba-tiba jadi berani ngomong kayak gitu ya, wkwkwkwkwk.
"huuuuu, basi ah gombalan mu nat, wkwkwk"
Sontak pernyataan dari shani membuatku menjadi kikuk sendiri, sontak tanganku reflek menggaruk ujung kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
Aku: "hehe, ya maap shan"
Shani: "wkwk, santai aja kali nat"
Obrolan kamipun berlanjut, banyak hal-hal yang kami bahas, mulai dari hobi, tempat liburan dan masih banyak lagi.
Malam ini aku merasa obrolanku dan shani tidak bisa terlalu lepas, maksudku obrolan kami malam ini masih belum terlalu intens.
yaa.... mungkin karena aku yang masih sedikit gugup, dan meskipun kadang-kadang shani melempar topik pembicaraan terlebih dahulu, aku rasa dia tidak sesupel beby dan viny.
Kurang supel yang kumaksud disini adalah, shani masih belum terlalu berani untuk mengajakku bercanda.
Berbeda dengan beby dan viny yang berani sekali menggodaku saat awal-awal perkenalan dan pertemuan kami.
Tapi ya namanya orang pasti beda-beda lah, tidak bisa disamakan.
Tapi ada 1 keunggulan yang dimilimi shani, shanj bisa diajak untuk berbicara hal-hal yang mungkin dianggap tabu oleh beby dan viny, malam ini kami sedikit banyak berdiskusi tentang night life.
Ya sebenarnya ini salahku juga, sebagai laki-laki harusnya aku harus lebih aktif mengajak shani berbicara dan bercanda, tapi.....aku tidak punya cukup pengalaman dan nyali untuk melakukan itu.
Intinya nathanya aja yang cacad anjiinggg, wkwkwkwkwk.
Tapi aku tetap menikmati obrolanku dengan shani malam ini, bukan karena topik pembicaraannya, tapi...... Wajah super cantik shani lah yang membuatku menikmati obrolan kami malam ini.
.
.
.
Sekarang kami sudah berada dihotel tempat fandi menginap, sekarang fandi dan nadia sudah dalam keadaan setengah mabok, sehingga aku memutuskan untuk mengambil alih kemudi mobil dari tangan fandi saat tadi kami pulang dari diskotik.
"Shan, nat, aku sama nadia mau berduaan dulu ya, kalian lanjutin ngobrol di kamar sebelah aja, nih kuncinya"
Dengan mata setengah sayu fandi mengucapkan kalimat terakhirnya sambil menyodorkan kartu yang merupakan kunci kamar yang sepertinya akan ditempati oleh shani saat fandi dan nadia akan memadu kasih malam ini.
Shanipun mengambil kartu yang disodorkan oleh fandi.
Setelah itu fandi dan nadia memilih untuk langsung masuk ke kamar mereka.
Shani: "ayo masuk nat"
Aku: "i i iya shan"
Shanipun membuka kunci kamarnya dan mempersilahkanku untuk masuk bersamanya kedalam.
Setelah kami berdua sudah ada didalam kamar shanipun langsung menutup kembali pintu kamar yang sekarang kami tempati.
"Duduk aja dulu nat, aku mau ke kamar dulu ganti baju"
Memang kamar yang aku dan shani tempati sekarang memiliki 2 ruangan yang berbeda, ada ruang tamu yang dilengkapi oleh sofa dan TV, dan ada kamar yang diperuntukkan untuk beristirahat.
Akupun memilih untuk langsung duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu shani mengganti pakaiannya.
Sekarang aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan setelah ini, apa malam ini aku harus tidur disini bersama shani?.
Tentu saja tidak!!!, aku bisa pamit pulang setelah ini, dan tidur dikosan.
"Huuuhhh, capek juga ya"
Sambil berkata seperti itu shani mengambil tempat untuk duduk disampingku.
Aku tidak membalas perkataan shani, aku bingung bagaimana harus meresponnya.
Begitu juga dengan shani, setelah duduk dia hanya diam sambil mengotak-atik handphonennya.
Aku: "shaan, aku pulang dulu yaa?"
Shani: "buru-buru banget nat"
Shani mengucapkan kalimat terakhirnya sambil menolehkan kepalanya dan menatap mataku.
Ya tuhaaaan.... cobaan macam apa ini, tatapan tajam mata shani sukses membuat irama detak janntungku berdetak sangat cepat.
Aku: "i i iya shan, emang kita mau ngapain lagi?"
Shani: "mmmmm, emang kamu gakmau ngajak aku ngapain gitu?"
Pertanyaan dari shani membuatku tambah gelagapan.
Aku: "e e e e enggak tau sih shan, m m makanya aku mau pulang aja"
Shani: "yakin?"
Shani mengucapkan kalimat terakhirnya sambil mengangkat kedua alisnya.
Huuhhhhh, tahan naaat, tahaaan.......
Aku: "y y yakin shan, aku pamit ya"
Perlakuan shani sekarang membuat nyaliku benar-benar ciut.
Buru-buru aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan kearah pintu keluar.
Tapiiiii...... tiba-tiba shani menahan tanganku.
.
.
.
"Nat, kamu di jogja kan? , aku lagi di jogja nih, entar malem ke hotel biasa ya"
Kira-kira begitulah pesan yang dikirimkan oleh fandi kepadaku.
Fandi memberi kabar kepadaku bahwa sekarang dia sedang berada di jogja, aku cukup dibuat terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh fandi, biasanya jika ingin mengunjungi ku ke jogja dia selalu berkabar jauh-jauh hari.
Tanpa menunda-nunda aku memutuskan untuk langsung membalas pesan yang dikirimkan oleh fandi.
Aku: "tumben tiba-tiba fan?, yaudah entar malem aku kesana"
Fandi: "mau ketemu temen sekalian nat soalnya"
Aku: "sampai kapan fan di jogja"
Fandi: "besok sore udah balik surabaya aku nat"
Aku: "cepet banget fan"
Fandi: "besoka aku ada jadwal UTS nat"
Aku: "oh iya fan, kan katamu kamu ke jogja sekalian nemuin temen, temen yang mana lagi nih?"
Fandi: "temen tidur nat"
Aku: "wkwkwkwkwk, bunguul...."
Akupun menerima ajakan fandi untuk mengunjungi hotelnya nanti malam.
Oh iya, btw bunguk itu kalo di kalimantan, khususnya kalimantan selatan dan kalimantan timur maknanya kira-kira hampir sama dengan jancoook kalo di jawa.
"Natha, entar malem mau makan apa?"
Saat sedang asyik membalas pesan dari fandi, tiba-tiba beby bertanya sesuatu kepadaku seraya mengambil tempat untuk duduk di sampingku.
Aku: "hahh?, kenapa mbak?"
Beby: "hah hoh hah hoh, budeg ya kamu, mau makan malem apa?"
Arrggghhhh....., aku baru ingat kalau malam ini aku dan beby sudah ada janji untuk makan malam bersama.
Aku: "mmmm, maaf mbak, malem ini kayaknya kita gak bisa makan malem bareng deh mbak, temen aku dari surabaya ngajak ketemuan"
Beby: "temen kamu yang mana?"
Aku agak bingung menjawab pertanyaan beby kali ini. Masalahnya ketika terkahir kali aku pergi keluar dengan fandi beberapa bulan yang lalu berbuntut dengan kejadian yang menyebabkan terjadi pertengkaran yang cukup besar antara aku dan beby.
Yap, saat itu beby melihatku datang ke lab dalam keadaan mabok, dan dia mempermasalahkan hal itu.
Karena saat itu aku tidak terima, akhirnya terjadilah pertengkaran antara aku dan beby.
Aku: "itu mbak, temen aku SMA yang kuliah di surabaya"
Beby: "kok kamu gak pernah cerita?"
Huuhhh... syukur lah kalo beby tidak menyadarinya.
Aku: "masa apa-apa harus cerita sih mbak"
Beby: "iiisshh, cewek apa cowok?"
Aku: "cowok mbak, emang kenapa sih kalo cewek?"
Beby: "ya gakpapa"
Aku: "cieee...., cemburu ya kalo cewek"
Tiba-tiba beby menolehkan wajahnya ke arahku sambil memasang wajah sok ngambeknya.
Beby: "iya, kalo aku cemburu kenapa emang?"
Deeggg.........
Aku: "e e e eeeeh, mmmmm, y ya gakpapa sih mbak"
Jujur jawaban dari beby membuatku agak sedikit gugup.
Beby: "serius nat temenmu itu cowok?"
Aku: "iya mbak, nih, liat aja chatnya, ini ada juga foto profilnya, tuuhhh...!"
Sambil menjawab pertanyaan beby, aku juga menunjukan layar handphone ku untuk menunjukkan bahwa teman yang akan aku kunjungi nanti malam berjenis kelamin laki-laki.
Aku: "puas???"
Beby: "isshh, iya iyaa"
Akupun menarik kembali handphoneku setelah selesai menunjukkan isi obrolanku dengan fandi.
Beby: "sampai jam berapa?"
Aku: "gak tau sih mbak, biasanya kita nongkrong sampai pagi sih"
Beby: "yaaahh, gak kesini lagi dong??"
Aku: "iya mbak"
Beby: "kamu kan udah janji sama kalo mau makan malem bareng malem ini"
Aku: "maaf banget mbak, temen aku ngabarin tiba-tiba, aku juga gak enak, dia jauh-jauh dari surabaya buat datengin aku, besok dia udah pulang"
Beby: "yaaahhh, iya juga sih, yaudah deh"
Beby kembali memanyunkan bibirnya sambil menatap lurus kedepan.
Beby: "berangkat kapan?"
Aku: "habis maghrib mbak"
Beby tidak membalas kalimat terakhirku, dari raut wajahnya dia terlihat sedih.
Aku: "mbaak..., gak usah manyun gitu lah, besok deh aku kesini lagi, kita makan malem bareng, janjiii"
Beby kembali menolehkan wajahnya kearahku seraya menyodorkan jari kelingkingnya, tapi kali ini dengan raut wajah penuh harap.
Beby: "janji yaaa?"
Aku: "iya mbak janji, yaelah, gak percayaan banget sih"
Beby mendekatkan jari kelingkingnya kearahku, ooohh, aku baru paham apa maksudnya.
Akupun memutuskan untuk menyambut jari kelingkingnya dengan jari kelingkingu sehingga membuat raut wajah beby seketika berubah menjadi lebih cerah, dan hal itu membuatku menjadi gemas sendiri dengan tingkah lakunya, sehingga aku meletakkan tanganku di puncak kepala beby, lalu mengusapnya dengan lembut.
Beby: "yudah nat, ini kan udah mau maghrib, sholat ashar dulu kamu"
Selalu seperti ini, setiap aku berkunjung ke rumah beby, dia selalu mengingatkanku untuk beribadah, aku yang terbiasa tidak pernah sholat 5 waktu sejujurnya agak malas mengikuti instruksi dari beby.
Tapi karena tidak memiliki alasan kuat untuk menolak akupun memilih untuk melaksanakannya.
Jangan diikutin ya gan, sholat ya karena tuhan, jangan karena cewek, wkwkwkwkwkwk.
Huuuhhhh....., sebenarnya sudah banyak kode yang secara tidak langsung ditunjukkan oleh beby, seakan-akan selama ini beby selalu memberi lampu hijau kepadaku untuk menyampaikan perasaanku.
Tapi..... entah kenapa aku tidak bisa melakukan itu.
Jujur sampai sekarang masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, walaupun sebenarnya perasaan sayang yang kumiliki sudah sangat menggebu-gebu, dan setiap saat selalu seperti itu.
Apakah perasaan ini sudah menjadi cinta?, apakah perasaan ini sudah lebih dari sayang? , jawabannya masih sama seperti sebelumnya, aku tidak bisa menjawabnya, aku saja belum tau apa itu definisi cinta, bagaimana aku bisa men claim perasaan yang kumiliki sekarang adalah cinta?.
Yasudahlah, biarkanlah tetap seperti ini, nikmati saja momennya, seperti apa yang kuucapkan sebelumya.....
Let it flow.
.
.
.
Tok... Tok... Tok...
Sekarang aku sudah berada di depan kamar nomor 248, yap, kamar ini adalah kamar tempat fandi menginap malam ini.
Setelah kurang lebih 1 menit aku menunggu sambil mengetok pintu kamar hotel fandi, akhirnya fandipun membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkanku untuk langsung masuk kedalam.
Aku cukup dibuat terkejut saat aku baru saja memasuki kamar hotel tempat fandi menginap, ternyata sekarang fandi tidak sendirian, di dalam terlihat ada 2 orang wanita yang sedang duduk di sofa sambil berbicara satu sama lain.
Pada awalnya aku tidak bisa terlalu memperhatikan wajah kedua wanita itu karena mereka duduk membelakangiku dan fandi yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Nad, shan, ini natha, nat, nih, kenalin......"
Sontak mereka ber 2 langsung berdiri dan membalikkan badan karena mendengar nama mereka yang dipanggil oleh fandi.
"Nah, yang ini cewek ku nat, namanya nadia"
Wahh... fandi memang tidak pernah sembarangan jika sudah tentang urusan yang menyangkut wanita, perempuan yang sekarang ada dihadapanku ini terlihat sangat cantik dengan rambut panjang yang berwarna pirang, wajahnya yang kebule-bulean, dipadukan dengan kulit yang berwarna coklat manis, sehingga menambah kesan eksotis pada dirinya.
Jika dilihat dari bentuk wajahnya, sepertinya nadia ini blasteran antara indonesia dan eropa.
"Nadia"
Nadia menjulurkan tangannya kearahku untuk mengajakku berjabat tangan.
"Natha"
Akupun langsung menyambut tangan nadia untuk berjabat tangan.
"Nah, kalau ini yang sempet aku ceritain kemaren nat, namanya shani, temennya nadia"
Saat aku mengarahkan pandanganku kearah shani, lalu melihat wajah dan menatap matanya...........
Wooooowwwww......
Tubuh ideal dengan tinggi yang semampai, rambut panjangnya yang berwarna hitam legam, ditambah wajah oriental yang dibalut dengan kulit berwarna putih bersih, seaakan-akan menegaskan keanggunan dan kesempurnaan fisiknya.
Jika aku disuruh untuk mengilustrasikan bagaimana bentuk dari bidadari, maka aku tidak akan ragu bercerita tentang keindahan dan kesempurnaan fisik dari seorang shani.
Dan yang harus kalian tahu..... shani ini tipe gue banget, wkwkwkkwk.
Aku langsung menjulurkan tangan kearah shani dan memperkenalkan namaku.
"Natha"
Shanipun langsung menyambut tanganku seraya mempekenalkan dirinya.
"Shani"
Huuuhhhh, shani yang memperkenalkan namanya sambil membentuk raut senyum di wajahnya, berhasil membuat irama detak jantungku menjadi tidak karuan.
"Wooyyy, biasa aja dong nat, gakusah melongo gitu juga kali"
Akupun buru-buru menarik tanganku dari shani untuk melepas jabatan tangannya setelah mendengar fandi menegurku karena terlalu lama berjabat tangan dengan shani.
Fandi: "sorry shan, temen aku ini emang jarang banget liat cewek cantik, makanya kamu senyumin dikit aja langsung jadi cengo begitu"
Shani: "hihihi, santai fan, gakpapa kok"
Fandi: "yaudah, berangkat sekarang yuk"
Aku agak sedikit berbisik kepada fandi.
Aku: "emang kita mau kemana fan?"
Fandi: "tempat biasa nat?"
Aku: "gak kepagian?"
Fandi: "ya gakpapa nat, supaya kita enak aja ngobrolnya"
Aku: "yaudah deh, oh iya, kita berangkat naik apaan, kan ber 4 nih, masa bonceng 4?"
Fandi: "naik mobil cewek ku aja nat, motor mu tinggal sini aja"
Setelah berkata seperti itu fandipun langsung beranjak dari duduknya.
"Yaudah yuk nad, shan, berangkat sekarang kita"
Setelah fandi menginstruksikan kami untuk berangkat sekarang menuju diskotik yang biasa aku dan fandi kunjungi, kamipun langsung berjalan keluar hotel untuk menuju mobil nadia.
.
.
.
Dentuman musik yang tidak terlalu kencang dan bah alkohol yang semerbak menyambut kedatangan kami malam ini.
Setelah berjalan memasuki ruangan diskotik, akhirnya kami ber 4 sampai di salah satu meja.
Oh iya, sebelum sampai ditempat ini kami ber 4 menyempatkan untuk makan malam terlebih dahulu di restoran yang letaknya tidak jauh dari sini.
"Nat, gue sama nadia, duduk dipojok sana ya, lu sama shani disini aja, kalo mau pesen, pesen aja, santai, aku yang bayar"
Bisikkan yang keluar dari mulut devan sontak membuatku menjadi sangat terkejut, aku kira kami ber 4 akan duduk di 1 meja yang sama.
Setelah berkata seperti itu devanpun langsung merangkuk pundak nadia untuk berjalan menuju meja yang akan diduduki oleh mereka ber 2.
"E e e ehh, faannn, t tapiii...."
Devan, melepaskan rangkulannya dari nadia, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku.
"Udah nat, nikmatin aja, aku udah siapin kamar juga buat kamu, kalo kamu jago dan bisa ngerayu shani.....kali aja besok pagi kamu udah gak perjaka lagi"
Deeeggg.......
Setelah berkata seperti itu fandi kembali merangkul pundak nadia, lalu berjalan ke arah meja yang akan mereka tempati.
Setelah devan dan nadia berlalu, aku dan shani hanya saling pandang tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut kami.
Shani: "Duduk yuk"
Aku: "e e ehhh, iya, ayo"
Kami be 2 pun menarik kursi masing-masing yang letaknya saling berhadapan, lalu aku dan shani langsung mengambil tempat untuk duduk.
Aku hanya menundukkan kepalaku, jujur aku sangat gugup sekarang.
Sebelumnya, duduk berhadapan dengan wanita yang super cantik seperti shani hanya menjadi angan-angan bagiku.
"Kamu temen SMAnya fandi ya? "
Aku agak sedikit tersentak ketika shani melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku.
Aku: "e e e, iya"
Shani: "kamu kuliah dimana sih"
Aku: "itu, di u*n"
Shani: "ooohhh, semester berapa?"
Aku: "sekarang udah semester 6"
Shani: "jurusan apa?"
Aku: "kalo aku teknik perminyakan"
Keadaan sempat hening sejenak setelah aku menjawab pertanyaan terakhir dari shani.
Tapi karena tidak ingin membuat keadaan semakin canggung, aku memutuskan untuk bertanya menanyakan pertanyaan yang sama kepada shani.
Aku: "kalo kamu?"
Shani: "aku di *t*m*j*y*, jurusan ilkom, semester 4"
Aku: "ooohh, tinggal di jogja juga ya berarti?, nge kos atau ada rumah?"
Kali ini aku mulai bisa mengendalikan kegugupanku.
Shani: "aku nge kos nat, deket kampus ku kok, kalo kamu?"
Aku: "sama kok shan, aku ngekos juga, dijalan seturan raya sana"
Shani: "ooohhh, iya iya, aku tau kok"
Aku: "kalo kamu sendiri, kenpa bisa kenal sama fandi?"
Shani: "sebenarnya aku temennya nadia, 1 kos juga, kalo kenal fandi baru aja tadi sore, soalnya nadia ngajak aku buat nemenin dia hari ini"
Aku: "oooohhhh"
Aku mulai kehabisan pertanyaan dan topik pembicaraan, aku hanya menanggapi jawaban shani dengan ber oh ria sambil mengangguk-anggukan kepalaku.
Hal ini kembali membuat keadaan menjadi hening
"Permisi mas mbak, ini daftar menunya, kalau mau pesen bisa langsung tulis disini"
Untungnya waiters yang datang ke meja kami untuk mengantarkan daftar menu dapat sedikit membantuku saati ini dengan memecah keheningan antara aku dan shani yang sudah sedari tadi.
Shani: "kamu mesen apa nat?"
Aku: "kamu aja deh dulu shan"
Shani hanya mengangguk untuk menanggapi kaliamat terakhirku, lalu pandangannya beralih kedaftar menu yang baru saja diserahkan kearah kami, lalu menuliskan pesanannya pada kertas yang tadi diserahkan bersamaan dengan daftar menu.
"Aku udah nat, nih, kamu tulis gih"
Akupun mengambil daftar menu dan kertas yang disodorkan oleh shani.
Setelah aku melihat menu yang dipesan oleh shani, dia hanya memesan satu botol bir.
Itu menandakan malam ini shani tidak berniat untuk mabok, karena tidak enak jika aku harus mabok sendiri, akupun memutuskan untuk memesan 1 gelas jus untuk teman ngobrolku bersama shani malam ini.
Aku hanya memesan 1 gelas jus karena aku memang tidak suka minum bir, dan aku tidak mau mabok sendirian di meja ini.
Shani: "kamu gak minum nat?"
Aku: "enggak dulu deh"
Shani: "kamu emang gak minum ya?"
Aku: "sebenarnya bisa aja shan, tapi males aja kalo mabok sendirian"
Shani: "sebenarnya santai aja sih, aku gakpapa kok kalo kamu mau minum"
Aku: "enggak deh shan"
Shani: "kalo gak mau mabok, kenapa gak mesen bir aja?"
Aku: "kalo aku males aja shan, kalo emang gak mau mabok, mending sekalian gakusah minum alkohol, gak enak, enakan minum jus"
Shani: "wkwkwk, aneh-aneh aja kamu nat"
Kami berduapun tertawa bersama akibat jawaban yang keluar dari mulutku.
Aku: "oh iya, kamu asli mana shan?"
Shani: "aku asli solo sih nat, deket kok, tapi males doang kalo harus PP solo jogja tiap hari, jadi ngekos deh, kalo kamu?"
Aku: "kalo aku asli samarinda shan, sama kayak fandi"
Shani: "ooohh, iya iya, aku baru inget kalo kamu temen SMA nya fandi"
Lagi-lagi keadaan kembali menjadi hening setelah shani mengucapkan kalimat terakhirnya.
Shani: "wkwkwk, bener ya kata fandi, emang kamu gak pernah deket sama cewek nat, jadi keliatan gugup gitu"
Mendengar pernyataan dari shani sontak membuatku teringat dengan beby.
Aku: "hehe, deket mah pernah-pernah aja shan, tapi.... Kalo sama yang cantik banget kayak kamu gini aku belum pernah"
Anjing lah, ni mulut asal nyeplos aja, lagian kenapa aku tiba-tiba jadi berani ngomong kayak gitu ya, wkwkwkwkwk.
"huuuuu, basi ah gombalan mu nat, wkwkwk"
Sontak pernyataan dari shani membuatku menjadi kikuk sendiri, sontak tanganku reflek menggaruk ujung kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
Aku: "hehe, ya maap shan"
Shani: "wkwk, santai aja kali nat"
Obrolan kamipun berlanjut, banyak hal-hal yang kami bahas, mulai dari hobi, tempat liburan dan masih banyak lagi.
Malam ini aku merasa obrolanku dan shani tidak bisa terlalu lepas, maksudku obrolan kami malam ini masih belum terlalu intens.
yaa.... mungkin karena aku yang masih sedikit gugup, dan meskipun kadang-kadang shani melempar topik pembicaraan terlebih dahulu, aku rasa dia tidak sesupel beby dan viny.
Kurang supel yang kumaksud disini adalah, shani masih belum terlalu berani untuk mengajakku bercanda.
Berbeda dengan beby dan viny yang berani sekali menggodaku saat awal-awal perkenalan dan pertemuan kami.
Tapi ya namanya orang pasti beda-beda lah, tidak bisa disamakan.
Tapi ada 1 keunggulan yang dimilimi shani, shanj bisa diajak untuk berbicara hal-hal yang mungkin dianggap tabu oleh beby dan viny, malam ini kami sedikit banyak berdiskusi tentang night life.
Ya sebenarnya ini salahku juga, sebagai laki-laki harusnya aku harus lebih aktif mengajak shani berbicara dan bercanda, tapi.....aku tidak punya cukup pengalaman dan nyali untuk melakukan itu.
Intinya nathanya aja yang cacad anjiinggg, wkwkwkwkwk.
Tapi aku tetap menikmati obrolanku dengan shani malam ini, bukan karena topik pembicaraannya, tapi...... Wajah super cantik shani lah yang membuatku menikmati obrolan kami malam ini.
.
.
.
Sekarang kami sudah berada dihotel tempat fandi menginap, sekarang fandi dan nadia sudah dalam keadaan setengah mabok, sehingga aku memutuskan untuk mengambil alih kemudi mobil dari tangan fandi saat tadi kami pulang dari diskotik.
"Shan, nat, aku sama nadia mau berduaan dulu ya, kalian lanjutin ngobrol di kamar sebelah aja, nih kuncinya"
Dengan mata setengah sayu fandi mengucapkan kalimat terakhirnya sambil menyodorkan kartu yang merupakan kunci kamar yang sepertinya akan ditempati oleh shani saat fandi dan nadia akan memadu kasih malam ini.
Shanipun mengambil kartu yang disodorkan oleh fandi.
Setelah itu fandi dan nadia memilih untuk langsung masuk ke kamar mereka.
Shani: "ayo masuk nat"
Aku: "i i iya shan"
Shanipun membuka kunci kamarnya dan mempersilahkanku untuk masuk bersamanya kedalam.
Setelah kami berdua sudah ada didalam kamar shanipun langsung menutup kembali pintu kamar yang sekarang kami tempati.
"Duduk aja dulu nat, aku mau ke kamar dulu ganti baju"
Memang kamar yang aku dan shani tempati sekarang memiliki 2 ruangan yang berbeda, ada ruang tamu yang dilengkapi oleh sofa dan TV, dan ada kamar yang diperuntukkan untuk beristirahat.
Akupun memilih untuk langsung duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu shani mengganti pakaiannya.
Sekarang aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan setelah ini, apa malam ini aku harus tidur disini bersama shani?.
Tentu saja tidak!!!, aku bisa pamit pulang setelah ini, dan tidur dikosan.
"Huuuhhh, capek juga ya"
Sambil berkata seperti itu shani mengambil tempat untuk duduk disampingku.
Aku tidak membalas perkataan shani, aku bingung bagaimana harus meresponnya.
Begitu juga dengan shani, setelah duduk dia hanya diam sambil mengotak-atik handphonennya.
Aku: "shaan, aku pulang dulu yaa?"
Shani: "buru-buru banget nat"
Shani mengucapkan kalimat terakhirnya sambil menolehkan kepalanya dan menatap mataku.
Ya tuhaaaan.... cobaan macam apa ini, tatapan tajam mata shani sukses membuat irama detak janntungku berdetak sangat cepat.
Aku: "i i iya shan, emang kita mau ngapain lagi?"
Shani: "mmmmm, emang kamu gakmau ngajak aku ngapain gitu?"
Pertanyaan dari shani membuatku tambah gelagapan.
Aku: "e e e e enggak tau sih shan, m m makanya aku mau pulang aja"
Shani: "yakin?"
Shani mengucapkan kalimat terakhirnya sambil mengangkat kedua alisnya.
Huuhhhhh, tahan naaat, tahaaan.......
Aku: "y y yakin shan, aku pamit ya"
Perlakuan shani sekarang membuat nyaliku benar-benar ciut.
Buru-buru aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan kearah pintu keluar.
Tapiiiii...... tiba-tiba shani menahan tanganku.
.
.
.
Diubah oleh akmal162 22-04-2020 20:30
Herisyahrian dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas
Tutup
