Kaskus

Story

fxckifiedAvatar border
TS
fxckified
You Made Me Love More
You Made Me Love More
Special thanks to agan @pandaibesi666for the cover emoticon-Kiss (S)


Quote:


Hallo semua suhu-suhu penghuni SFTH di forum terbesar di Indonesia ini. Sebelumnya, newbie meminta maaf jikalau sekiranya newbie lancang.

Setelah sekian lama menjadi silent reader, newbie beranikan diri untuk menuliskan cerita disini. Untuk nama karakter terkait dan tempat akan disamarkan. Kalau ada yang bertanya, ini real atau fiksi? Anggap saja fiksi, agar kehidupan newbie tidak digali.

Akan ada beberapa adegan 18+, mohon disikapi secara bijak oleh suhu-suhu disini. Dan juga, banyak dialog yang disempurnakan, karena newbie tidak mampu mengingat semua dialog secara persis.

Newbie juga akan mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan pengejaan yang baik namun tidak terlalu baku, agar tulisan newbie dapat mudah dibaca dan dimengerti oleh suhu-suhu semua disini. Newbie engga mau kalau sampai Ivan Lanin pensiun dini karena engga sengaja baca cerita newbie yang penulisannya berantakan.

Jika ada kesalahan dalam pengetikan, newbie memohon maaf, dikarenakan newbie hanya menggunakan smartphone untuk mengetik cerita ini. Mohon harap dimaklumi, because this is my very first attemp to write this kind of thing.

Untuk rules di thread ini, rules mengacu kepada rules di SFTH pada umumnya.

Biar keren kayak suhu-suhu disini, maka ini adalah beberapa jawaban untuk frequently asked questions (FAQ):

Quote:


So, without any further ado, grab a seat, and please enjoy the show, ladies and gentlemen.
Diubah oleh fxckified 21-04-2020 11:38
elbe94Avatar border
pulaukapokAvatar border
khodzimzzAvatar border
khodzimzz dan 60 lainnya memberi reputasi
61
21.6K
227
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread1Anggota
Tampilkan semua post
fxckifiedAvatar border
TS
fxckified
#91
15th Scene: Come Home
Quote:


Gue berdiri mematung, menghiraukan tarikannya. Namun, Anya memaksa gue untuk mengikutinya.

Quote:


Anya menggandeng gue menaiki tangga yang yang berbentuk spiral itu. Menurut gue, rumahnya terbilang mewah. Terlihat banyak hiasan berupa vas atau guci yang mungkinbernilai mahal bertebaran di rumahnya.

Terdapat 4 kamar utama, dan 1 kamar untuk asisten rumah tangga. Namun, tidak terlihat ada asisten rumah tangga di rumahnya. Saat gue bertanya, katanya keluarganya pernah menggunakan jasa asisten rumah tangga, namun tidak lama karena banyak terjadi kehilangan barang dan uang di rumahnya. Semenjak saat itu, mereka tidak lagi memperkerjakannya, dan orangtua Anya tidak lagi percaya terhadap jasa asisten rumah tangga.

Lalu gue dan Anya masuk ke kamarnya. Sebuah kamar yang cukup luas, mungkin sama luasnya dengan kamar gue, dengan dominasi warna putih yang memiliki gurat berwarna coklat muda tipis di dindingnya, sehingga guratannya terlihat semu. Untuk perabotannya, didominasi oleh aksen kayu. Bahkan lantai di kamarnya dilapis menggunakan lantai kayu.

Dengan dinding yang tinggi, mungkin sekitar 4 meter, dia memiliki kamar mezzanine. Terdapat space setinggi kurang lebih 2 meter di bawah tempat tidurnya yang berfungsi untuk walk in closet. Terdapat juga meja belajar, sofa, dan rak TV beserta TVnya dan DVD Player, dan sebuah konsol PlayStation 2, berhadapan dengan sofa tersebut.

Spoiler for Mezzanine:


Gue sangat menyukai bentuk kamarnya. Dan dengan aksen kayu yang klasik, membuat gue betah berada di kamarnya. Menurut gue, kamarnya lebih mirip kamar apartment 2 lantai dibandingkan kamar biasa.

Quote:


Lalu, Anya mendekat dan menarik gue untuk duduk di sofa, dan dia duduk di pangkuan gue. Lalu dia menaikkan dagu gue agar wajah gue menghadap ke wajahnya, dan kembali memagut bibir gue.

Quote:


Setelah beberapa saat, bahkan hampir membuat Anya tertidur karena gue terus mengelus rambutnya, gue mengajaknya untuk pulang ke rumah gue.

Quote:


Anya menunjuk ke salah satu sudut di wardrobenya. Gue berdiri dan mengambilnya, lalu gue mengulurkan tangan dan mengajak Anya untuk turun. Anya menggamit tangan gue, lalu kami berdua turun. Setelah mengunci semua pintu, kami berdua keluar dari rumah Anya untuk menuju rumah gue.

Malamnya, kami berkumpul di ruang tengah. Anya, Agni, dan juga keluarga gue. Terlihat bahwa kehadiran Anya membuat perbincangan di keluarga gue menjadi lebih hangat. Mungkin nyokap merasa punya anak perempuan, atau nenek yang merasa punya cucu lagi, atau tante gue yang merasa punya keponakan baru.

Nyokap mengambil album foto yang berisi foto-foto gue saat masih kecil, dan menunjukkannya kepada Anya. Anya terlihat keheranan saat melihat foto masa kecil gue.

Quote:


***

Keesokan harinya, di sekolah dilakukan penyerahan hadiah untuk para juara. Acara pekan olahraga telah selesai kemarin, dan besok ada pembagian rapot yang harus dihadiri oleh orangtua atau wakilnya. Gue, sebagai KM, menjadi perwakilan untuk mengambil hadiah juara 2 futsal. Not bad, sebagai pelecut semangat untuk teman-teman sekelas gue.

Yang gue tidak tahu adalah, ternyata ada penampilan dari cheerleader hari itu. Anya tidak mengatakan apapun mengenai hal ini. Gue dan teman-teman gue otomatis maju mendekat ke tepi lapangan. Tidak ada tujuan lain, selain untuk cuci mata.

Beberapa teman gue menggoda gue dengan mengatakan bahwa banyak mata murid laki-laki yang memandang ke arah Anya dan Agni. Memang gue lihat seperti itu, namun apa yang bisa gue lakukan. Wajar saja seperti itu, karena Anya dan teman-teman ekskulnya sedang tampil. Beberapa kali gue lihat, Anya melihat ke arah gue dan tersenyum manis.

Selesai Anya tampil, gue buru-buru beranjak ke kantin untuk membeli air mineral dan tissue. Lalu gue segera mencari Anya, yang ternyata sudah menunggu gue di sebelah Fanny dan Dhea. Gue tidak melihat ada Agni disitu.

Quote:


Gue mengambil tissue dan mulai mengelap keringatnya. Gue melihat Agni dan Eza berjalan ke arah kami, dan duduk di samping Anya.

Quote:


Acara sekolah hari itu sudah selesai, dan gue bersiap untuk pulang ke rumah. Saat di dalam angkot, Anya mengajak gue ke rumahnya, sambil menunggu orangtuanya pulang, katanya. Namun gue menolak, gue sudah terlalu banyak main minggu ini. Anya mengerti, dan akhirnya gue turun dari angkot, sedangkan Anya masih melanjutkan perjalanannya.

Saat di rumah, gue bergegas makan dan mandi. Siang hari itu matahari sedang lucu-lucunya. Setelah mandi, gue mengecek ponsel gue dan membaca pesan dari Anya yang mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai di rumah, dan ternyata orang tuanya sudah pulang. Gue menyuruhnya untuk istirahat, karena Anya habis tampil, pasti membuatnya sedikit lelah.

Gue pun membaringkan badan gue di tempat tidur setelah memutar lagu di komputer. Lalu, tanpa gue sadari, gue terlelap. Gue sedikit terbangun saat merasakan ada seseorang yang duduk di tempat tidur gue hingga menimbulkan lekukan di permukaannya. Lalu, seseorang tersebut mengelus rambut gue. Terasa permukaan tangannya yang agak kasar saat menyentuh kening gue. Gue langsung membuka mata gue, dan melihat wajah dari sosok tersebut.

Quote:


Gue sempat melihat jam dinding, terlihat pukul 21:30. Gue nimbrung obrolan bokap, nyokap, dan nenek. Tante gue sudah tidur terlebih dahulu.

Nyokap menceritakan semua hal yang gue alami. Baik saat gue di rumah sakit, tentang hubungan gue dengan Anya, tentang Agni yang sering menginap di rumah untuk menemani gue dan terkadang Anya ikut menginap, dan semua hal. Bokap hanya tertawa mendengarnya.

Quote:


Bokap pernah berkata, kalau mencari pacar itu harus yang pintar, masalah fisik nomer sekian. Agar bisa menjadi motivasi buat gue untuk menyamai, atau bahkan melewati tingkat kepintaran pacar gue.

Quote:


Tidak terasa kami mengobrol hingga menjelang tengah malam. Gue tidur duluan karena sudah mengantuk. Gue menuju ke kamar gue, dan mengambil ponsel gue yang sedang di charge, dan gue mengirim pesan singkat kepada Anya.

Quote:


Keesokan harinya, gue terbangun sedikit terlambat. Mungkin karena semalam baru bisa tertidur jam 2 dini hari. Gue buru-buru mengambil handuk, dan menuju kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap, gue beranjak ke bawah. Terlihat sudah ada nyokap gue di meja makan.

Quote:


Nyokap kembali memasak, dan tidak lama kemudian, bokap keluar dari kamarnya.

Quote:


Bokap gue memang mendorong gue agar bisa berbahasa asing. Dari kecil, gue sering dibelikan buku cerita atau novel ringan berbahasa Inggris.

Quote:


Tidak lama kemudian, kami bertiga berangkat ke sekolah untuk mengambil rapot. Parkiran sangat penuh, sehingga kami harus memarkirkan mobil di jalan depan sekolah. Satpam sekolah menyapa kami, dan kami membalas senyum. Gue menuntun orangtua gue menuju kelas gue.

Saat mau memasuki kelas, beberapa murid melihat ke arah orangtua gue. Mungkin karena masih terlihat cukup muda untuk seorang lelaki yang memiliki anak umur SMP. Umur bokap saat itu masih sekitar 35-an, mungkin sebaya dengan papanya Anya.

Quote:


Sekilas mengenai fisik bokap, tinggi badan ±180cm. Rambut, mata, hidung, dan bibir gue mirip dengan bokap. Bedanya, rahang bokap terlihat lebih tegas. Pada saat itu, bokap mencukur dan menyisakan brewoknya pendek. Tapi karena lebat, malah membuatnya terlihat lebih gagah. Dan juga, bokap menggunakan kacamata full frame, cocok dengan kontur wajahnya.

Quote:


Tidak lama kemudian, Anya dan Agni mendatangi gue. Mereka bertanya apakah bokap gue ikut, dan gue menganggukkan kepala.

Quote:


Tidak lama kemudian, orangtua gue keluar. Agni dan Anya segera salim kepada orangtua gue. Bokap tentunya kaget melihat Agni sekarang.

Quote:


Gue mengajak orangtua gue ke kantin, dan meminta agar Agni dan Anya menyusul ke sana saja. Orangtua gue mengatakan bahwa gue peringkat 4. Nilai-nilainya sudah cukup baik, tapi harus ditingkatkan lagi, kata mereka. Memang dari dulu orangtua gue tidak menuntut gue untuk meraih ranking yang bagus, yang penting adalah nilainya, bukan peringkatnya.

Tidak lama kemudian, Om Alfi datang ke kantin bersama Tante Vera (nyokapnya Agni). Sejenak kantin terasa seperti tempat reuni keluarga. Gue memesankan minuman untuk mereka semua. Kopi dan teh untuk orangtua, dan jus untuk gue, Agni, dan Anya yang belum datang.

Gue sedikit bertanya ke Agni perihal peringkat kelasnya. Ternyata Anya peringkat 1, dan Agni peringkat 3. Memang tidak salah gue mendapatkan pacar yang berotak encer seperti Anya.

Sekitar 5 menit kemudian, gue melihat Anya masuk ke kantin dengan kedua orangtuanya. Gue menyalami mereka. Dan pada saat papanya Anya melihat bokap, raut mukanya berubah.

Quote:


[]

Diubah oleh fxckified 25-04-2020 19:40
maccer4
beqichot
aaaaaisyah
aaaaaisyah dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.