Quote:
"Ya, kalah cepet. Soalnya, gue juga suka sama lu, Tam."
Gue terdiam mendengarnya.
Quote:
"Fan, lu jangan bercanda deh. Gue udah punya Anya. Lu juga punya cowok, Fan," ucap gue sambil mencoba melepaskan tangannya dari pinggang gue. Namun, Fanny menepis tangan gue dan malah mempererat lingkaran tangannya.
"Dan juga, lu sahabat gue, Fan. Apa itu kurang buat lu?" lanjut gue.
"Kurang, Tam! Gue pengennya lu jadi cowok gue! Gue pengen lu yang perhatiin gue! Gue pengen elu yang ngelakuin segala macem embel-embel orang pacaran sama gue! Gu—gue pengen... pengen..." Tangis Fanny langsung terpecah saat itu, tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.
Gue hanya diam mendengarnya. Gue menenangkannya dulu sambil menunggu tangisnya reda terlebih dahulu. Dan setelah beberapa saat, tangisnya mereda.
"Tam..." panggilnya.
"Ya, Fan?" jawab gue.
"Gu—gue... Maafin gue ya, Tam. Gue ngerasa gue egois banget barusan. Maafin gue. Gue cuma ma—"
"Fan, ga perlu minta maaf. Lu lagi emosional banget hari ini, gue paham. Tapi ya, balik lagi sama yang gue bilang tadi. Selama masih ada Anya, gue ga akan mungkin pacaran sama orang lain juga," potong gue.
"Ga apa-apa, Tam. Selama lu masih ada di deket gue, gue ga masalah, Tam," ujarnya lirih. Gue hanya tersenyum mendengarnya.
Setelah percakapan itu, kami berkutat dengan pikiran masing-masing. Silence decended upon us. Hingga setelah beberapa saat, Fanny memecah keheningan di antara kami.
"Tam..." ucapnya memanggil gue.
"Hm?" jawab gue singkat.
"I love you," ujarnya lirih.
"I love you too..." ucap gue menggantung, "as my best friend. At least, for now," lanjut gue.
"It's okay. It's enough for me. Asal lu ada di samping gue aja," balasnya.
"Are you sure? Because I know, it won't be enough for you," goda gue.
"No, I'm not sure, to be honest," jawabnya tertawa, dan gue ikut tertawa. Bahkan Fanny sendiri tidak yakin bahwa perasaan sayang gue ke dirinya sebagai sahabat akan cukup untuknya.
"Hahaha, see? Bahkan lu sendiri ga yakin dengan pernyataan lu," tawa gue.
"Lu tau? Kalo ada orang yang mengharapkan sebuah hubungan bilang 'aku bahagia kalo kamu bahagia', itu cuma klise. Gue tau, kalo orang itu sebenernya sakit hati," jawabnya.
"Iya, gue paham kok. Lagian, lu kan punya cowok, Fan. Kenapa ga coba lu perbaikin hubungan sama cowok lu?" saran gue.
"Ya namanya juga hati, Tam. Bisa aja gue pacaran sama dia, tapi hati gue bukan buat dia. Isi hati orang siapa yang tau sih? Dan kayaknya, gue juga mau putusin dia. Kalo misalkan elu yang jadi cowok gue, jangankan ciuman, lu minta lebih juga gue kasih, Tam. Ga akan mikir dua kali gue," jawabnya.
Wah, mancing nih anak, batin gue.
"Hus! Sembarangan aja lu ngomong. Lagian gue belum mau aneh-aneh, Fan. Ciuman aja gue udah deg-degan, gimana kalo sampe aneh-aneh, bisa keringet dingin terus pingsan gue, hahaha," gue tertawa gugup.
"Kalo belum mau, berarti nanti mau dong, Tam?" tanyanya dengan nada menggoda.
"Eh, maksudnya, ya nanti aja kalo udah waktunya," jawab gue semakin gugup.
"Kapan emang waktunya buat lu mau ngelakuin yang gitu-gitu, Tam?" tanyanya lagi.
"Ya nanti aja, pas udah nikah," jawab gue, kembali mencoba melepaskan pelukannya. Fanny yang masih menolak untuk melepaskannya, malah semakin mengeratkannya.
"Oh, gue kira sekarang-sekarang. Padahal kan cowok jarang yang nolak kalo dikasih, Tam," ujarnya.
"Emang tau dari mana lu kalo cowok jarang nolak?" tanya gue.
"Lah, cowok gue ga ditawarin aja udah minta, apa lagi kalo dikasih? Dan juga, lu pikir gue ga tau kelakuan anak-anak cowok di kelas gimana, haaa? Apa lagi temen sebangku lu, tuh. Gue laporin ke guru, mampus lu semua," ancamnya.
"Eh, jangan! Enak aja! Gue yang kena ntar, Fan! Gue kan KMnya!" jawab gue panik.
"Hehe, engga kok, tenang aja. Tapi... cium gue dulu," ujarnya.
"Ya udah, lu laporin aja deh kalo gitu," ucap gue pasrah.
"Hehehe, bercanda kok, Tama sayaaang," ujarnya sambil tertawa kecil. "Tam..." panggilnya lagi.
"Hm?"
"Lu jangan langgeng-langgeng ya sama kak Anya," ujarnya. Gue tertawa sambil menoyor kepalanya.
"Jahat lu mah, bukannya doain gue langgeng malah bilang gue jangan langgeng," jawab gue.
"Kan biar gue bisa jadi pacar lu, Tam," jawabnya singkat. Gue semakin tertawa.
"Pede amat lu, emang kalo misal gue putus sama Anya, gue jadi mau gitu jadi pacar lu?" tanya gue.
"Yaa gue lakuin aja kayak apa yang kak Anya lakuin ke elu, nanti juga luluh sendiri. Ngegandeng elu kemana-mana, manggil-manggil sayang, cium-ciumin bibir elu, padahal waktu elu kepergok ciuman itu belum jadian kan?" ujarnya. Gue tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Kocak lu ah, udah jangan mikir kejauhan. Semuanya juga udah ada garisnya. Kalo garisnya gue pacaran ama elu, ya nanti juga gue bakalan pacaran sama elu. Cuma ya selama masih ada Anya, ga akan lah gue selingkuh," jawab gue. Fanny hanya tertawa kecil.
Kami terdiam beberapa saat. Masing-masing otak kami berkutat dengan pikiran masing-masing. Fanny masih memeluk gue, dan gue masih berusaha melepaskannya. Namun Fanny selalu menepis tangan gue.
Quote:
"Tam, gue pulang yah?" tanyanya, setelah beberapa saat kami terdiam.
"Ya udah gih pulang, keburu sore entar. Eh, lu mau makan dulu ga?" Gue lupa menawarkan.
"Ga usah deh, masih kenyang gue," ujarnya.
"Oke deh. Ya udah, katanya mau pulang? Tapi kok masih meluk gini?" tanya gue sambil mencoba melepaskan tangannya yang masih melingkar si pinggang gue.
"Bentar dulu. Enak meluk lu, Tam. Pantesan kak Anya demen banget ya nempel-nempel sama elu," ucapnya. Gue hanya tertawa.
Kami terdiam kembali selama beberapa saat, tidak ada percakapan atau obrolan. Hingga akhirnya Fanny sedikit melonggarkan tangannya. Dia mengangkat kepalanya dari dada gue, dan mencium pipi gue.
Quote:
"Makasih banyak ya, Tam. Meskipun lu udah punya kak Anya, tapi gue masih boleh kan cerita-cerita sama elu?" tanyanya.
"Ya boleh aja sih, cuma ya jangan pake cium segala," jawab gue sedikit sewot.
"Hehe, abisnya lu diem aja. Kalo cowok gue mungkin udah ciumin gue dari kapan tau deh," ucapnya tertawa, dan kembali mengecup pipi gue.
"Ya gue kan bukan cowok lu, ga mungkin lah gue cium-cium elu," balas gue.
"Padahal gue ga akan nolak kalo lu cium gue, Tam," ujarnya sambil memajukan bibirnya ke arah gue, mungkin maksudnya mau menggoda agar gue mau menyambut bibirnya.
"Mukeee lu Faaan." Telapak tangan gue mendorong wajahnya menjauh. Fanny hanya terbahak karena perlakuan gue.
Setelahnya, Fanny bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Gue mengantarkan dia sampai gerbang luar. Sepanjang kami berjalan dari rumah induk ke depan, Fanny merangkul tangan gue. Gue mencoba untuk melepaskannya, namun gagal dan Fanny malah mempererat rangkulannya pada tangan gue.
***
Keesokan harinya, gue datang ke sekolah seperti kemarin, agak siang. Saat masuk ke kelas, gue melihat teman-teman gue yang mengikuti lomba futsal sudah bersiap-siap untuk berganti baju. Gue mengeluarkan roti dan susu untuk sarapan terlebih dahulu, karena gue tidak sempat untuk melakukan sarapan di rumah.
"Pagi, Tam!" sapa Fanny yang sudah datang lebih dulu.
"Oit, halo Fan!" senyum gue sambil melanjutkan sarapan.
"Gue udah putus Tam sama cowok gue, hahaha," ujarnya sambil tertawa.
"Seriusan lu Fan? Kok ga sedih sih?" tanya gue.
"Serius, Tam. Gue kepikiran apa yang elu bilang kemarin tentang dia. Dan pas gue putusin pun, dia nerima aja, ga ada sedihnya. Kayaknya omongan lu bener, Tam. Dia pengen enak doang. Gue malah lega jadinya abis putus sama dia," ujarnya tersenyum.
Lalu kami lanjut mengobrol. Selama kami mengobrol, Fanny bersikap seperti biasanya, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Fanny juga tidak membahasnya sama sekali.
Syukurlah, batin gue.
Setelah gue dan teman-teman gue bersiap, kami keluar kelas. Meskipun masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum dimulai, namun kami sudah menuju ke lapangan, dan duduk di selasar pinggiran lapangan. Kami akan bermain pertama, lalu setelah kami ada pertandingan lagi. Setelah itu ada perebutan juara ke-3, baru memasuki laga final. Sebenarnya kami tidak terlalu berharap untuk menjadi juara karena semua lawan kami sekarang memiliki skill di atas rata-rata, namun tidak ada salahnya untuk berusaha semaksimal mungkin, ya kan?
Saat menunggu pertandingan, gue melihat Anya dan Agni berjalan menuju ke arah gue. Sudah terlihat air mineral dan sebungkus tissue di tangan Anya. Gue tersenyum kepadanya, dan Anya melakukan hal yang sama.
Quote:
"Halo, kak Agni," sapa gue ke kak Agni.
"Halo, Tam! Gimana orang rumah, sehat semua kan?" tanya kak Agni.
"Alhamdulillah, sehat semua kok, kak," jawab gue.
"Tama ih, kok Agni doang yang disapa? Aku ga disapa?" timpal Anya sambil mencubit pelan tangan gue. Gue dan beberapa teman gue tertawa kecil mendengarnya.
"Kan tadi udah disenyumin, itu juga kan nyapa," jawab gue berkilah.
"Bedaaa! Ah tau ah, Tama mulai genit nih sama orang," rengeknya cemberut.
"Dih, nyapa sodara sendiri juga. Kecuali kalo aku sapa cewek ga jelas, baru namanya genit. Masa kamu cemburu aku sapa sodaraku sendiri?" balas gue.
"Hehe, iya iya bercanda kok. Nanti habis futsal langsung pulang?" tanyanya.
"Engga, mau jalan-jalan dulu sendirian sampe malem, biar kamu ga bisa main ke rumah," canda gue sambil tertawa pelan.
"Aah Tama ih, jahat!" rengeknya lagi sambil memukul lengan gue. "Aku pengen maiiin!" lanjutnya sambil menarik-narik baju olahraga gue.
"Ehh, iya iya bercanda, udah bajunya jangan ditarik-tarik, melar entar," ucap gue. Teman-teman gue yang melihat perdebatan tidak penting ini hanya tertawa.
"Kak Agni ikut jadinya?" tanya gue ke Agni.
"Ikut dong, mau nginep lagi gue, mau nemenin lu biar ada temen," jawab Agni.
"Alah, alesan aja. Bilang aja mau pacaran lama-lama. Mau nginep biar bisa pulang malem kan dari rumahnya Eza? Ga akan gue kasih pintu kalo sore belum pulang. Gue laporin ah ke Om Alfi (bokapnya Agni) lu mau pacaran sampe malem," ujar gue. Agni terlihat salah tingkah.
"Eh eh eh, ga gitu ya! Enak aja lu, sore juga gue udah ke rumah lu lagi. Lagian ga mungkin lu ga bukain pintu, gue kan bisa ngekor nenek sama tante. Wlee," jawabnya.
"Ni, lu mau nginep di rumah Tama? Gue ikut dong, sendirian gue di rumah, bokap nyokap tadi pagi pergi, baru balik besok malem," timpal Anya.
"Ya gue sih ayo aja, tapi kan nginepnya di rumah Tama? Lu izinnya ke pacar lu, bukan ke gue. Gue kan tamu juga, Nya. Hahaha," jawab Agni.
"Tam, boleh ya aku nginep lagi? Kan ada Agni," rengeknya lagi sambil menarik-narik lengan gue.
"Ga boleh ah, aku takut diapa-apain sama kamu pas lagi tidur," canda gue.
"Iya, aku mau bekep muka kamu pake bantal pas tidur. Nyebelin banget sih jadi orang," ujarnya sewot.
"Oh, jadi aku nyebelin nih? Ya udah, ga boleh nginep berarti," canda gue lagi, menggodanya.
"Eh, engga ih bercanda. Pacarku baik kok, baik bangeeet uuh gantengnya pacarkuuu," ucapnya sambil mencubit pipi gue. Gue dan Agni tertawa melihatnya.
"Ya udah, kamu izin dulu aja coba ke orangtua kamu, tar aku coba bilang juga ke orang rumah kalo kamu sendirian di rumah, siapa tau dibolehin," jawab gue. Anya segera mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi orangtuanya, dan sedikit menjauh dari kami.
10 menit berlalu, Anya kembali duduk di sebelah gue. Wajahnya sumringah, terlihat dari senyum yang mengembang di wajahnya. Gue sudah tau apa jawaban dari orangtuanya.
Quote:
"Udah, ga usah bilang apa jawabannya. Keliatan kok dari muka kamu," ujar gue sebelum dia berbicara, "lagian kan belum tentu jadi, aku belum bilang ke orang rumah," lanjut gue.
"Udah kok barusan, aku sekalian minta izin ke mama kamu. Boleh katanya. Mama kamu sekalian bilang, katanya pulangnya agak malem, mau survey tempat dulu, mau buka cabang katanya," timpalnya. Gue hanya mengangguk dan menghela napas.
Kelas gue bersiap-siap untuk bermain. Tim inti kelas gue hadir semua saat ini, sehingga gue tidak perlu bermain. Gue hanya perlu bersiap jika ada pemain yang meminta untuk diganti.
Pertandingan dimulai. Di babak pertama, tim kelas gue tertinggal 2-1 dari lawan. Di awal babak ke-dua, tim kelas gue berhasil membalikkan keadaan. Gue masuk menggantikan salah satu teman gue, dan turut menyumbang satu gol. Seperti kemarin, Anya heboh teriak-teriak yang membuat gue menjadi pusat perhatian. Pertandingan selesai, kami berhasil menang dengan skor 5-2. Kelas kami melaju ke babak final.
Quote:
"Nya, kamu jangan teriak-teriak gitu dong. Aku malu diliatin sama semuanya," ujar gue kepada Anya setelah pertandingan berakhir.
"Bodo amat, biar ga ada yang deketin kamu. Biar orang-orang tau, kamu udah punya pacar. Jadi ga ada yang genit sama kamu," jawabnya sewot.
"Yee, ga perlu gitu juga orang-orang udah pada tau kali. Orang tiap hari kita kemana-mana berdua mulu. Malah dari sebelum kita jadian juga, orang-orang nyangkanya kita udah jadian, sampe ada yang mukul aku hahaha," ujar gue.
"Biarin ah, biar orang-orang tambah yakin kalo kamu pacarku," ucapnya sambil tersenyum genit. Gue mencubit hidungnya.
Singkatnya, kami kembali bermain di final. Namun sayang, kelas kami menelan kekalahan dengan skor tipis, 4-3. Lawan kami adalah kelas 3-F, dimana pemain inti tim futsal angkatan mereka kebanyakan diambil dari kelas tersebut.
Setelah bermain, gue memberikan sepatah-dua patah kata kepada teman-teman gue. Intinya, berterimakasih kepada mereka atas kerja kerasnya. Dan dengan latihan yang lebih baik, pasti kami bisa mendapatkan juara tahun depannya. Akhirnya teman-teman gue tersenyum. Meskipun dalam hati gue, gue tidak bisa menerima kekalahan ini karena memang disebabkan oleh beberapa blunder yang kami lakukan. Dan menurut gue pribadi,
second place means the first loser.
Gue pulang bersama teman-teman rumah gue, ditambah Anya dan Agni. Gue pulang ke rumah, diikuti oleh Anya dan Agni. Tidak lupa kami memesan makanan terlebih dahulu untuk makan siang, karena kami tidak sempat makan di sekolah. Lalu kami masuk ke rumah, masih diikuti oleh Anya dan Agni. Gue naik ke kamar gue, mereka masih mengekor gue. Kok gue tiba-tiba punya 2 buntut ya?
Quote:
"Lu berdua kok ngekor gue melulu sih?" tanya gue keheranan.
"Aku mau tidur, ngantuk. Ga tau tuh Agni mau ngapain," jawab Anya.
"Gue mau naro barang doang, bentar lagi mau ke rumahnya Eza. Lu berdua jangan kebablasan ya. Awas aja, gue laporin entar," ujar Agni.
"Mau ah, makanya lu cepet-cepet cabut sana, udah ga sabar nih gue," canda gue sambil tertawa.
Blugg, Anya melemparkan bantal ke kepala gue. Bantal tersebut diambil oleh Agni, dan Agni mulai menganiaya gue.
Quote:
"Tama mesum ih! Gak sukaaa! Agni lu jangan pergi ah, gue takut, suruh Eza yang ke sini aja," ujar Anya sambil tertawa dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Tau nih! Awas aja lu ngapa-ngapain Anya, gue sembelih lu! Ga boong gue!" ucap Agni sambil masih memukulkan bantal ke gue.
"Udah ah jangan dipukul terus. Gue mah ga akan ngapa-ngapain Anya, gue malah takutnya dia yang ngapa-ngapain gue, kemarin gue lagi ganti baju aja diintipin," jawab gue sambil mengambil bantal yang dipakai Agni agar Agni berhenti memukul gue.
"Iya sih, emang gue yang mau ngapa-ngapain Tama. Mau gue rebus si Tama biar otaknya mendidih jadi ga mesum lagi," ujar Anya.
"Ya udah, gue mau ganti baju dulu. Mau ketemu pacar gue. Minggir lu." Agni mendorong badan gue yang berdiri di depan lemari, lalu berjalan ke kamar mandi.
"Eh Tam, aku kan ga bawa baju. Nanti anterin aku ke rumah ya sebentar? Ngambil baju doang," ucap Anya ke gue.
"Kenapa ga pake bajunya kak Agni aja? Kan bajunya banyak disini," tanya gue.
"Kan daleman juga harus ganti, Tamaa. Masa mau pake yang Agni juga. Mana muaaat," jawabnya.
"Oh iya ya, kak Agni mah tepos ya? Hahaha!" tanya gue seraya tertawa lebar. "Ya udah kalo gitu, kita ke rumah kamu nanti aja habis makan."
Mendadak, Anya berdiri dan berjalan ke arah pintu kamar, lalu menguncinya. Lalu, Anya berteriak, "Agniii! Lu dibilang tepos sama Tama!" teriak Anya kepada Agni yang masih berada di kamar mandi, "pintunya udah gue kunci, dia ga bisa kabur!" lanjut Anya.
Mendengar hal tersebut, gue hanya memohon dan memelas agar dibukakan pintu maaf, sekaligus pintu kamar gue. Namun, harapan gue tidak sesuai kenyataan. Agni keluar dari kamar mandi.
Quote:
"Lu bilang gue apa, Tam?!!" ujar Agni sambil mendekati gue. Gue yang tersudut di kamar, lari ke arah tempat tidur dan menutup seluruh badan gue menggunakan selimut.
"Kak, ampun kak," ujar gue lemah dari balik selimut.
"Lu bilang gue apa tadi?!" tanyanya kembali.
"Ampuuun," ucap gue memelas.
Selimut yang menutupi badan gue ditarik oleh Agni dan Anya. Anya memegang kaki gue, Agni menduduki badan gue. Dan mereka mulai menggelitik sekujur badan gue, sampai gue lemas dan ngos-ngosan.
Quote:
"Tam, ayo anterin aku ke rumaaah!" rengek Anya.
"Gak! Pulang sendiri sana! Aku capek. Lemes! Huh!" jawab gue sebal.
"Kamu bilang apa, Tam? Minta digelitikin lagi?" ancamnya.
Gue mendadak berdiri dari tempat tidur, lalu gue menyuruh Anya dan Agni untuk turun karena gue mau mengganti baju, dan juga makanan pasti sudah diantarkan. Setelah mereka berdua turun, gue mengganti baju gue, gue turun ke lantai bawah.
Gue melihat mereka sudah lebih dulu mengambil makanan. Gue menyusul mereka ke ruang makan. Setelah makan, kami duduk sejenak di ruang tengah untuk mengistirahatkan perut kami, sambil menonton tv, entah acara apa gue sudah lupa.
Beberapa saat kemudian, kami semua bersiap-siap. Dan setelah pamit ke nenek dan tante yang sedang berada di restoran, gue mengantarkan Agni terlebih dahulu ke rumahnya Eza. Setelah itu, gue dan Anya kembali ke pinggir jalan untuk menunggu angkot yang melewati rumah Anya.
Ini pertama kalinya gue berkunjung ke rumah Anya. Luas rumahnya hampir sama dengan luas rumah induk gue, namun dinding rumah Anya lebih tinggi. Terdapat halaman di depannya, dan sebuah kolam renang yang terdapat di halaman belakang. Rumahnya sangat asri dan nyaman, membuat siapapun betah untuk berlama-lama di rumahnya.
Sambil Anya membereskan bajunya, gue menuju halaman belakang dan bersantai di tepi kolam renang sambil mencelupkan kaki hingga betis gue di kolam itu. Siang hari yang panas seperti ini, sepertinya enak untuk berenang.
Sedang asik melamun, tiba-tiba ada yang memeluk gue dari belakang.
Quote:
"Tam, kamu mau berenang?" tanya Anya yang melihat gue sedang memperhatikan kolam renang.
"Ga usah deh, aku ga bawa baju ganti kan, lain kali aja," ucap gue. Anya tersenyum mendengarnya.
"Janji yah? Berarti nanti kamu harus main ke sini lagi. Lagian, sombong banget sih ga pernah main. Mama nyuruh kamu ke sini melulu tau," ujarnya.
"Hehe, iya nanti deh ya. Bentar lagi kan libur tuh, nanti aku main kesini deh kalo aku engga ke mana-mana," ujar gue, "eh, kamu liburan nanti mau ke mana?" lanjut gue bertanya.
"Belum tau, papa sama mama kan sibuk. Akhir tahun selalu sibuk, jarang banget kosong," ujarnya sedih.
"Udah jangan sedih, nanti kalau aku ga ke mana-mana, aku temenin kamu ya," ujar gue tersenyum.
Anya ikut tersenyum, dan berpindah ke pangkuan gue. Gue reflek memeluknya agar Anya tidak tercebur ke kolam. Di pangkuan gue, Anya merapikan poni gue. Matanya melihat ke arah mata gue, lalu ke bibir gue, dan kembali ke mata gue, bergantian. Perlahan dia memajukan wajahnya, dan yah, tau kan apa yang terjadi?
Setelah sekitar 5 menit Anya duduk di pangkuan gue, gue mulai merasa pegal. Lalu, Anya berdiri dan mengajak gue masuk sambil membawa minuman yang ternyata sudah dia buat dari tadi. Minuman tersebut dia taruh di meja, dan dia menarik gue.
Quote:
"Mau ke mana ini, Nya?" tanya gue, seiring kami menaiki tangga.
"Ke kamar aku," jawabnya sambil mengedipkan matanya genit.
[]