Kaskus

Story

fxckifiedAvatar border
TS
fxckified
You Made Me Love More
You Made Me Love More
Special thanks to agan @pandaibesi666for the cover emoticon-Kiss (S)


Quote:


Hallo semua suhu-suhu penghuni SFTH di forum terbesar di Indonesia ini. Sebelumnya, newbie meminta maaf jikalau sekiranya newbie lancang.

Setelah sekian lama menjadi silent reader, newbie beranikan diri untuk menuliskan cerita disini. Untuk nama karakter terkait dan tempat akan disamarkan. Kalau ada yang bertanya, ini real atau fiksi? Anggap saja fiksi, agar kehidupan newbie tidak digali.

Akan ada beberapa adegan 18+, mohon disikapi secara bijak oleh suhu-suhu disini. Dan juga, banyak dialog yang disempurnakan, karena newbie tidak mampu mengingat semua dialog secara persis.

Newbie juga akan mencoba sebisa mungkin untuk menggunakan pengejaan yang baik namun tidak terlalu baku, agar tulisan newbie dapat mudah dibaca dan dimengerti oleh suhu-suhu semua disini. Newbie engga mau kalau sampai Ivan Lanin pensiun dini karena engga sengaja baca cerita newbie yang penulisannya berantakan.

Jika ada kesalahan dalam pengetikan, newbie memohon maaf, dikarenakan newbie hanya menggunakan smartphone untuk mengetik cerita ini. Mohon harap dimaklumi, because this is my very first attemp to write this kind of thing.

Untuk rules di thread ini, rules mengacu kepada rules di SFTH pada umumnya.

Biar keren kayak suhu-suhu disini, maka ini adalah beberapa jawaban untuk frequently asked questions (FAQ):

Quote:


So, without any further ado, grab a seat, and please enjoy the show, ladies and gentlemen.
Diubah oleh fxckified 21-04-2020 11:38
elbe94Avatar border
pulaukapokAvatar border
khodzimzzAvatar border
khodzimzz dan 60 lainnya memberi reputasi
61
21.6K
227
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
fxckifiedAvatar border
TS
fxckified
#80
14th Scene: Her Confession
Quote:


Gue terdiam mendengarnya.

Quote:


Kami terdiam beberapa saat. Masing-masing otak kami berkutat dengan pikiran masing-masing. Fanny masih memeluk gue, dan gue masih berusaha melepaskannya. Namun Fanny selalu menepis tangan gue.

Quote:


Kami terdiam kembali selama beberapa saat, tidak ada percakapan atau obrolan. Hingga akhirnya Fanny sedikit melonggarkan tangannya. Dia mengangkat kepalanya dari dada gue, dan mencium pipi gue.

Quote:


Setelahnya, Fanny bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya. Gue mengantarkan dia sampai gerbang luar. Sepanjang kami berjalan dari rumah induk ke depan, Fanny merangkul tangan gue. Gue mencoba untuk melepaskannya, namun gagal dan Fanny malah mempererat rangkulannya pada tangan gue.

***

Keesokan harinya, gue datang ke sekolah seperti kemarin, agak siang. Saat masuk ke kelas, gue melihat teman-teman gue yang mengikuti lomba futsal sudah bersiap-siap untuk berganti baju. Gue mengeluarkan roti dan susu untuk sarapan terlebih dahulu, karena gue tidak sempat untuk melakukan sarapan di rumah.

"Pagi, Tam!" sapa Fanny yang sudah datang lebih dulu.

"Oit, halo Fan!" senyum gue sambil melanjutkan sarapan.

"Gue udah putus Tam sama cowok gue, hahaha," ujarnya sambil tertawa.

"Seriusan lu Fan? Kok ga sedih sih?" tanya gue.

"Serius, Tam. Gue kepikiran apa yang elu bilang kemarin tentang dia. Dan pas gue putusin pun, dia nerima aja, ga ada sedihnya. Kayaknya omongan lu bener, Tam. Dia pengen enak doang. Gue malah lega jadinya abis putus sama dia," ujarnya tersenyum.

Lalu kami lanjut mengobrol. Selama kami mengobrol, Fanny bersikap seperti biasanya, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Fanny juga tidak membahasnya sama sekali. Syukurlah, batin gue.

Setelah gue dan teman-teman gue bersiap, kami keluar kelas. Meskipun masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum dimulai, namun kami sudah menuju ke lapangan, dan duduk di selasar pinggiran lapangan. Kami akan bermain pertama, lalu setelah kami ada pertandingan lagi. Setelah itu ada perebutan juara ke-3, baru memasuki laga final. Sebenarnya kami tidak terlalu berharap untuk menjadi juara karena semua lawan kami sekarang memiliki skill di atas rata-rata, namun tidak ada salahnya untuk berusaha semaksimal mungkin, ya kan?

Saat menunggu pertandingan, gue melihat Anya dan Agni berjalan menuju ke arah gue. Sudah terlihat air mineral dan sebungkus tissue di tangan Anya. Gue tersenyum kepadanya, dan Anya melakukan hal yang sama.

Quote:


10 menit berlalu, Anya kembali duduk di sebelah gue. Wajahnya sumringah, terlihat dari senyum yang mengembang di wajahnya. Gue sudah tau apa jawaban dari orangtuanya.

Quote:


Kelas gue bersiap-siap untuk bermain. Tim inti kelas gue hadir semua saat ini, sehingga gue tidak perlu bermain. Gue hanya perlu bersiap jika ada pemain yang meminta untuk diganti.

Pertandingan dimulai. Di babak pertama, tim kelas gue tertinggal 2-1 dari lawan. Di awal babak ke-dua, tim kelas gue berhasil membalikkan keadaan. Gue masuk menggantikan salah satu teman gue, dan turut menyumbang satu gol. Seperti kemarin, Anya heboh teriak-teriak yang membuat gue menjadi pusat perhatian. Pertandingan selesai, kami berhasil menang dengan skor 5-2. Kelas kami melaju ke babak final.

Quote:


Singkatnya, kami kembali bermain di final. Namun sayang, kelas kami menelan kekalahan dengan skor tipis, 4-3. Lawan kami adalah kelas 3-F, dimana pemain inti tim futsal angkatan mereka kebanyakan diambil dari kelas tersebut.

Setelah bermain, gue memberikan sepatah-dua patah kata kepada teman-teman gue. Intinya, berterimakasih kepada mereka atas kerja kerasnya. Dan dengan latihan yang lebih baik, pasti kami bisa mendapatkan juara tahun depannya. Akhirnya teman-teman gue tersenyum. Meskipun dalam hati gue, gue tidak bisa menerima kekalahan ini karena memang disebabkan oleh beberapa blunder yang kami lakukan. Dan menurut gue pribadi, second place means the first loser.

Gue pulang bersama teman-teman rumah gue, ditambah Anya dan Agni. Gue pulang ke rumah, diikuti oleh Anya dan Agni. Tidak lupa kami memesan makanan terlebih dahulu untuk makan siang, karena kami tidak sempat makan di sekolah. Lalu kami masuk ke rumah, masih diikuti oleh Anya dan Agni. Gue naik ke kamar gue, mereka masih mengekor gue. Kok gue tiba-tiba punya 2 buntut ya?

Quote:


Blugg, Anya melemparkan bantal ke kepala gue. Bantal tersebut diambil oleh Agni, dan Agni mulai menganiaya gue.

Quote:


Mendengar hal tersebut, gue hanya memohon dan memelas agar dibukakan pintu maaf, sekaligus pintu kamar gue. Namun, harapan gue tidak sesuai kenyataan. Agni keluar dari kamar mandi.

Quote:


Selimut yang menutupi badan gue ditarik oleh Agni dan Anya. Anya memegang kaki gue, Agni menduduki badan gue. Dan mereka mulai menggelitik sekujur badan gue, sampai gue lemas dan ngos-ngosan.

Quote:


Gue mendadak berdiri dari tempat tidur, lalu gue menyuruh Anya dan Agni untuk turun karena gue mau mengganti baju, dan juga makanan pasti sudah diantarkan. Setelah mereka berdua turun, gue mengganti baju gue, gue turun ke lantai bawah.

Gue melihat mereka sudah lebih dulu mengambil makanan. Gue menyusul mereka ke ruang makan. Setelah makan, kami duduk sejenak di ruang tengah untuk mengistirahatkan perut kami, sambil menonton tv, entah acara apa gue sudah lupa.

Beberapa saat kemudian, kami semua bersiap-siap. Dan setelah pamit ke nenek dan tante yang sedang berada di restoran, gue mengantarkan Agni terlebih dahulu ke rumahnya Eza. Setelah itu, gue dan Anya kembali ke pinggir jalan untuk menunggu angkot yang melewati rumah Anya.

Ini pertama kalinya gue berkunjung ke rumah Anya. Luas rumahnya hampir sama dengan luas rumah induk gue, namun dinding rumah Anya lebih tinggi. Terdapat halaman di depannya, dan sebuah kolam renang yang terdapat di halaman belakang. Rumahnya sangat asri dan nyaman, membuat siapapun betah untuk berlama-lama di rumahnya.

Sambil Anya membereskan bajunya, gue menuju halaman belakang dan bersantai di tepi kolam renang sambil mencelupkan kaki hingga betis gue di kolam itu. Siang hari yang panas seperti ini, sepertinya enak untuk berenang.

Sedang asik melamun, tiba-tiba ada yang memeluk gue dari belakang.

Quote:


Anya ikut tersenyum, dan berpindah ke pangkuan gue. Gue reflek memeluknya agar Anya tidak tercebur ke kolam. Di pangkuan gue, Anya merapikan poni gue. Matanya melihat ke arah mata gue, lalu ke bibir gue, dan kembali ke mata gue, bergantian. Perlahan dia memajukan wajahnya, dan yah, tau kan apa yang terjadi?

Setelah sekitar 5 menit Anya duduk di pangkuan gue, gue mulai merasa pegal. Lalu, Anya berdiri dan mengajak gue masuk sambil membawa minuman yang ternyata sudah dia buat dari tadi. Minuman tersebut dia taruh di meja, dan dia menarik gue.

Quote:


[]

Diubah oleh fxckified 21-04-2020 20:29
lengzhaiii
adityasatriaji
Arsana277
Arsana277 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.